Posted on 24 January 2010 by Agus Setiawan Basuni
Album ini adalah rilisan ketiga lewat Peak Records, milik dari kelompok The Rippingtons yang digawangi oleh Russ Freeman dan kini masuk dalam dekade ketiga sejak didirikan tahun 1986 silam. Personilnya yang acap kali berganti di album ini terdiri dari Russ Freeman (guitar, keyboards dan programming), Dave Karasony (drums), Bill Heller (piano), Ricardo ‘Rico’ Belled (Bass) dan Jeff Kashiwa (saxophone).
Sejak merilis Album The Rippingtons 20th Anniversary empat tahun lalu, mereka banyak menghabiskan waktu tour keliling yang di sebut Freeman sebagai “the longest and greatest 20th Anniversary tour in history,†sambil setengah bercanda. Dan rupanya daftar antrian yang menginginkan Rippingtons manggung lumayan panjang. Tak tanggung-tanggung, sekitar dua setengah tahun.
Modern Art membuat beberapa perbedaan antara lain hadirnya bassist baru Rico Belled – yang sempat tour bersama Tribute to Jazzmasters (feat. Gregg Karukas, Chris Standring, Shilts), Keiko Matsui dan Marc Antoine – dan kembalinya saxophonist Jeff Kashiwa – yang sempat digantikan oleh Eric Marienthal – dengan tiupan saxophone khas yang ditemui dialbum-album signature milik The Rippingtons.
Yang menarik album ini masuk dalam nominasi Grammy untuk “Best Instrumental Pop Album”!, so berhati-hati jika anda fans berat Rippingtons tapi masih ingin disebut penggemar Jazz.
***
Ada hal menarik seputar Russ Freeman. Selain ia memainkan lebih banyak akustik gitarnya dibanding album-album sebelumnya,pria bernama lengkap James Russel Freeman ini ternyata seorang pelukis landscape dan ilustrator dan penyuka Modern Art. “Saya datang dari keluarga berdarah seni dan melukis adalah sesuatu yang saya gandrungi sedari kecil”, ujarnya.

Formasi The Rippingtons terkini Russ Freeman, Dave Karasony, Bill Heller, Ricardo 'Rico' Belled dan Jeff Kashiwa.
Tentu tak setiap album dari Rippingtons terinspirasi langsung dari hobi Freeman namun secara kolektif ia menjadi semacam soundtrack ratusan ribu penggemarnya dilebih dari seperempat abad.
Jika kita menengok sejarahnya sejumlah nama besar didunia smooth jazz sebut saja saja Dave Koz, Kenny G dan David Benoit yang mendominasi era akhir 80an sempat bergabung dan sama-sama menelurkan hits seperti Kilimanjaro, Tourist in Paradise, Welcome to the St. James Club, Weekend In Monaco, Live in L.A., Sahara, Brave New World dan Live Across America.
Tertarik dengan album ini?. Universal Music Indonesia merilis cakram padat alias CDnya untuk pasar Indonesia, yang sudah barang tentu lebih murah ketimbang anda membeli edisi import-nya.
Agus Setiawan Basuni - yang telah menulis 805 artikel pada wartajazz.com.
Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.
I try to listen attentively to musical sounds around me. You can think of the sounds of daily life as being musical. So I try to absorb the intricacies of the sounds as I would if I were listening to a piece of music. I try to see the beauty in everything.
— Tom Harrell
Copyright ©1996-2010 WartaJazz.com. Hak Cipta dilindungi undang-undang. All right reserved.
Penggunaan materi website diperkenankan dengan izin tertulis dari WartaJazz.com. Pelanggaran atas hal ini dapat dituntut sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Wartajazz.com, Wartajazz PDF, JazzOnFrames, Jazz Indonesia, WorldMusicIndonesia.com, Asian Jazz Network, JazzKidz merupakan merk terdaftar dan bagian dari WartaJazz Media Network.

January 31st, 2010 at 6:41 am
Waduh…CD-nya sudah dijual dipasaran Indonesia ga ya?