<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wartajazz.com &#187; Clinic</title>
	<atom:link href="http://www.wartajazz.com/category/education/clinic/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wartajazz.com</link>
	<description>The Ultimate Jazz Source for Indonesian Jazz Lovers - Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz di Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 01:41:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Klinik Musik Prasanna: Rāga di Dalam Jazz</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/festival/2009/03/06/klinik-musik-prasanna-raga-di-dalam-jazz/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=klinik-musik-prasanna-raga-di-dalam-jazz</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/festival/2009/03/06/klinik-musik-prasanna-raga-di-dalam-jazz/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 14:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arif Kusbandono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Clinic]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=6685</guid>
		<description><![CDATA[<strong>Prasanna</strong> ingin menjadi dirinya sendiri dengan tidak memperumit caranya. Ia menemukan cara mudah yang paling natural untuk menjadi unik, yaitu kembali ke akar Karnatik-nya (musik India Selatan). Musik India adalah praktek ketaatan dan disiplin keras. Fusi ini adalah satu lagi edisi <em>East meet West</em>  yang sukses menemukan jalannya.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Prasanna</strong> ingin menjadi dirinya sendiri dengan tidak memperumit caranya. Ia menemukan cara mudah yang paling natural untuk menjadi unik, yaitu kembali ke akar Karnatik-nya (musik India Selatan). Menjadi bukan Pat Metheny, bukan John Scofield, tapi tanpa berumit-rumit tidaklah semudah yang disebutkannya. Musik India adalah praktek ketaatan dan disiplin keras. Bayangkan saja, sebuah <em>rāga</em> dapat mengandung scale yang berbeda cara mendaki (<em>aaroha</em>) dan menurunnya (<em>avroha</em>). Ia memperdengarkan contoh <em>scale</em> yang jika dimainkan ke arah nada lebih tinggi berjumlah lima nada, sementara jika dimainkan ke arah nada lebih rendah terdiri dari tujuh nada. Musisi seolah-olah berdosa jika sengaja/tidak sengaja menambahi yang lima jadi enam.</p>
<p>Contoh disiplin lainnya (disiplin-disiplin ini analog dengan musik klasik Eropa) terdengar dari ketepatan jumlah ayun <em>legato</em>. Sepotong kata dari sebuah lagu klasik India diambilnya sebagai contoh; tiga silabel dinyanyikan tepat dalam tiga gerakan bibir dengan nada yang mengayun di sekitar tiga nada tersebut jika ditotal berjumlah tujuh. Pada instrumen gitar ini diadaptasi sebagai tepat tiga petik/<em>stroke</em> digunakan untuk tujuh nada. Mengenai hunbungan nyanyian dengan instrumen musik seperti halnya contoh tadi, pengajaran musik India klasik (khususnya India Selatan) memang lewat vokal, bahkan untuk alat ritmik tabla.</p>
<p><strong><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2009/03/prasanna.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-6689" title="prasanna" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2009/03/prasanna.jpg" alt="prasanna" width="300" height="200" /></a></strong></p>
<p>Di awal perkenalan, Prasanna mempertunjukkan salah satu dari 72 <em>rāga</em> dalam musik Karnatik dalam <em>tuning</em> gitar yang seluruhnya hanya ada nada E dan B. Ia bermain sembari secara konsisten memetik sebuah nada dalam posisi <em>open string</em>; terdengar seperti <em>drone</em> pemain sitar latar dalam posisi leher sitar tegak. Seolah memainkan sitar, Prasanna mengayun nada menggunakan teknik <em>slide</em> yang dilakukan secara cepat sehingga intonasinya jelas dan tepat. Secara visual jarak <em>slide</em>-nya cukup jauh (lagi-lagi seperti sitar) dan ia pun berusaha menggunakan <em>up stroke</em> (arah memetik yang tidak umum)  untuk menjiwai <em>rāga</em> klasik.</p>
<p>Untuk contoh-contoh berikutnya ia kembali ke <em>tuning</em> standar dan bergerak ke wilayah jazz. Secara kebetulan karib lamanya bereuni di Java Jazz kali ini, yaitu <strong>Rubens De La Corte</strong> (gitaris Sao Paulo, Brazil, rombongan Eliane Elias). Rubens mengiringi “The Girl From Ipanema” yang diisi Prasanna dengan improvisasi <em>bebop</em>, <em>blues</em>, maupun <em>rāga</em>. Memang warna <em>rāga</em> sangat kuat, apalagi saat bermain di luar tempo, sebab disiplin tetap diterapkan sehingga melodi Karnatik tetap dapat dikenali. Namun, ia melekat tanpa menjadi tempelan asing. Suntikan <em>rāga</em> menjadi sesuatu yang segar (kontemporer).  Sebuah contoh fusi menarik kembali ia peragakan berikutnya dengan menabrakkan funk dengan “permainan tabla” dari mulutnya. Maksud tabrakan di sini adalah keduanya sering berada dalam tempo berbeda, <em>strumming</em> gitar funk pada empat hitungan, sedangkan tabla pada lima hitungan. Di bagian akhir, nomer <em>modal</em> Coltrane dengan dua kord, “Impression”, memberi lanskap lebih luas bagi eksplorasi Prasanna; satu lagi edisi <em>East meet West</em> yang sukses menemukan jalannya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Prasanna telah mengemas konsep bermusiknya lewat DVD pelajaran &#8220;Ragamorphism&#8221; yang juga bisa diperoleh selama Axis Java Jazz Festival berlangsung.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Ffestival%2F2009%2F03%2F06%2Fklinik-musik-prasanna-raga-di-dalam-jazz%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/festival/2009/03/06/klinik-musik-prasanna-raga-di-dalam-jazz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengen tambah ilmu? ikutan workshop di Axis Java Jazz Festival 2009</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/news/2009/03/03/pengen-tambah-ilmu-ikutan-workshop-di-axis-java-jazz-festival-2009/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pengen-tambah-ilmu-ikutan-workshop-di-axis-java-jazz-festival-2009</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/news/2009/03/03/pengen-tambah-ilmu-ikutan-workshop-di-axis-java-jazz-festival-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 15:38:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Setiawan Basuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Clinic]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=6673</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah sisi lain dari penyelenggaraan Axis Java Jazz Festival adalah kesempatan untuk belajar, tak hanya dari menonton penampilan bintang-bintang diatas pentas, namun bisa ngobrol lebih dekat dan bertanya-jawab seputar dunia musik jazz dan hal-hal yang terkait dengannya.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah sisi lain dari penyelenggaraan Axis Java Jazz Festival adalah kesempatan untuk belajar, tak hanya dari menonton penampilan bintang-bintang diatas pentas, namun bisa ngobrol lebih dekat dan bertanya-jawab seputar dunia musik jazz dan hal-hal yang terkait dengannya.</p>
<p>Mereka yang pernah memberikan sesi workshop sebelumnya antara lain Balawan, Michael Paulo, Gregg Adams, Daniel Martina, Maya Hasan, Doug Cameron, Frank McComb, Steve Thornton, David Benoit, Lenny Castro, John Hondorp, Vinny Valentino dan Adam Klipple.</p>
<p>Tahun ini, panitia telah membuat beberapa skedul untuk workshop yang diadakan di ruang Kakatua Room, JCC. Adapun jadwal lengkapnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>Jumat, 6 Maret 2009</p>
<ul>
<li> Digital Music Workshop</li>
<li>Guitar Clinic <strong>Prasanna</strong></li>
<li>Music Clinic (TBA)</li>
</ul>
<p>Sabtu, 7 Maret 2009</p>
<ul>
<li>Digital Music Workshop</li>
<li><strong>Richie Flolers </strong>Percussion Clinic</li>
<li>Music Clinic <strong>Simon Philips</strong></li>
</ul>
<p>Minggu, 8 Maret 2009</p>
<ul>
<li>Digital Music Workshop</li>
<li><strong>David Gardfield</strong> Music Clinic</li>
<li>Indian Percussion<strong> Karthik mani</strong></li>
</ul>
<p>Peserta tidak dipungut biaya tambahan. Anda hanya cukup masuk dengan tiket Daily Pass dan segera menuju ruang Kakatua Room. Jarak antar workshop atau klinik sekitar 2jam-an. So, masukkan klinik ini dalam jadwal anda di Axis Java Jazz Festival 2009.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fnews%2F2009%2F03%2F03%2Fpengen-tambah-ilmu-ikutan-workshop-di-axis-java-jazz-festival-2009%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/news/2009/03/03/pengen-tambah-ilmu-ikutan-workshop-di-axis-java-jazz-festival-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review Klinik Gitar bersama George Hess (USA) di Farabi Music Jakarta</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/news/2008/07/11/hello-world-2/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=hello-world-2</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/news/2008/07/11/hello-world-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 05:41:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhany</dc:creator>
				<category><![CDATA[Clinic]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[George Hess]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wartajazz.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Hari Sabtu tanggal 28 Juni lalu, Lembaga Pendidikan Musik Farabi cabang Cempaka Mas Jakarta kedatangan tamu dari Amerika Serikat. Dia adalah George Hess, gitaris sekaligus komposer dan pengajar di berbagai lembaga musik di Asia dan Amerika. Dalam kesempatan ini, Hess memberikan klinik tentang musik jazz sekaligus metode tentang bagaimana cara menyederhanakannya. Acara ini dibuat dengan [...]
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Sabtu tanggal 28 Juni lalu, Lembaga Pendidikan Musik Farabi cabang Cempaka Mas Jakarta kedatangan tamu dari Amerika Serikat. Dia adalah George Hess, gitaris sekaligus komposer dan pengajar di berbagai lembaga musik di Asia dan Amerika. Dalam kesempatan ini, Hess memberikan klinik tentang musik jazz sekaligus metode tentang bagaimana cara menyederhanakannya.</p>
<p>Acara ini dibuat dengan suasana santai. Bertempat di salah satu ruang kelas, pengunjung yang berjumlah sekitar 50 orang duduk di lantai, menghadap stage kecil tempat George Hess berdiri. Disana, Hess sudah siap dengan papan tulis dan gitar Gibson-nya.</p>
<p>Pukul 3 sore, seperti yang telah dijadwalkan, Dwiki Darmawan membuka pidato singkat di depan murid-murid Farabi dari berbagai cabang di Jakarta. Tak lupa, dia mengajak pengunjung untuk bertanya dan menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari tamu mereka, yang tak lain adalah seorang musisi jazz bergelar doktor.</p>
<p>George Hess membuka sesi klinik dengan membawakan sebuah komposisi bersama gitaris jazz Indonesia, Agam Hamzah. Selanjutnya, Hess yang merupakan pengajar di Yong Siew Toh, Singapura, berbagi ilmu tentang teori-teori; kord; dan scale yang dikatakannya sebagai pelajaran dasar musik jazz. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Hess menyampaikan materi yang diberi tema Keeping It Simple. Menurutnya, muatan-muatan jazz seringkali terlihat rumit. Padahal, semuanya bisa disederhanakan menjadi sesuatu yang lebih esensial dari sekedar aplikasi teori.</p>
<p>Dalam penjelasannya, Hess menekankan 4 scale yang dibutuhkan untuk menunjang permainan solo. Mereka adalah major blues, melodic minor, diminished, dan whole tone. Hess mengaku, sebagai gitaris, dia tidak pernah melatih banyak scale selain keempat scale ini. Menurutnya, keempat scale ini memiliki cakupan yang luas, cukup untuk memenuhi kebutuhan permainan solo. Selain itu, Hess juga memaparkan tentang unsur-unsur tonic; dominant; dan sub-dominant yang selalu ada pada setiap progresi korddalam setiap lagu jazz standar.</p>
<p>Setelah itu, klinik dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan jam session dengan dua orang volunteer dari pengunjung. Hess sempat memuji permainan kedua volunteer yang menurutnya memiliki kemampuan phrasing yang baik. Menjelang akhir sesi, George Hess berkolaborasi dengan Agam Hamzah (gitar akustik) dan Saat (seruling), membawakan komposisi bernuansa minor yang banyak mengeksplorasi suara seruling.</p>
<p>Bagi George Hess, klinik ini sangat menarik. Dia sangat senang ketika penonton yang sebagian besar ialah murid-murid Farabi terlihat antusias mendengarkan penjelasannya. Hess tidak hanya memaparkan musik jazz dari segi teknis, tetapi juga filosofis. Mengenai hal ini, dia mengaku banyak belajar tentang filosofi bermusik dari musisi jazz Johnny Smith. Hess menekankan, jangan pernah ingin menjadi orang lain dalam bermusik. Kembangkanlah kemampuan, ambil ilmu sebanyak-banyaknya dari orang lain, dan jadilah dirimu sendiri. “Just play your own licks”, katanya.</p>
<p>Secara umum, apa yang disampaikan Hess adalah hasil pengalaman bermusiknya selama kurang lebih 30 tahun bersama beberapa nama besar seperti Ryo Kawasaki, Jim Nabors, The Osmonds, David Liebman, Bob Berg, Adam Nussbaum, Randy Brecker, Frank Mantooth, Conrad Herwig, Rufus Reid, dan lain sebagainya. Selain itu, Michael Gibbs; John Damian; dan Bret Willmott adalah tiga orang yang berjasa ketika Hess menyelesaikan studinya di Berklee College of Music, sebelum dia mengambil studi doktoralnya tentang jazz pedagogy dan composition di University of Northern Colorado.</p>
<p>Saat dimintai pendapatnya tentang musisi Indonesia, Hess mengatakan, “They’re outstanding”. Dia mengomentari salah seorang pianis cilik asal Bandung yang menurutnya sangat luar biasa. “She is thirteen, and she &#8230; she incredible”, katanya. Hess juga menambahkan, yang terpenting selanjutnya ialah bagaimana para musisi jazz Indonesia bisa tampil sebanyak-banyaknya di depan publik untuk menarik minat dan apresiasi masyarakat terhadap musik jazz. Festival jazz berskala internasional adalah salah satu caranya.</p>
<p>Secara keseluruhan, klinik yang berdurasi sekitar 2,5 jam itu meninggalkan kesan bagi pengunjung yang sebagian besar adalah para musisi muda. Setelah klinik berakhir, banyak diantara pengunjung yang langsung meminta tanda tangan dan foto bersama. Selain itu, ada pula beberapa orang yang masih mendiskusikan materi-materi yang diajarkan Hess. Sepertinya klinik ini benar-benar menjadi sarana bagi pengunjung untuk mengembangkan kemampuan bermusik sekaligus memperkaya wawasan dan pengetahuan musik jazz secara umum.</p>
<p>George Hess, salah satu master jazz kelas dunia telah berhasil membuat lebih banyak orang mencintai musik jazz.</p>
<p>Bravo musik jazz Indonesia!!!</p>
<p>Kontributor: Ahmad Dhany Nugraha &#8211; Mahasiswa FISIP UI dan Gitaris grup Diafragma</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fnews%2F2008%2F07%2F11%2Fhello-world-2%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/news/2008/07/11/hello-world-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

