<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wartajazz.com &#187; Opini Jazz</title>
	<atom:link href="http://www.wartajazz.com/category/opini-jazz/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wartajazz.com</link>
	<description>The Ultimate Jazz Source for Indonesian Jazz Lovers - Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz di Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 01:41:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sierra &#8211; Only One</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2011/09/27/sierra-only-one/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sierra-only-one</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2011/09/27/sierra-only-one/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 13:22:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lendyca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[Sierra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=14145</guid>
		<description><![CDATA[Amanda Sierra Soetedjo, seorang new comer dalam dunia jazz di tengah gempuran boysband/girlsband ataupun penyanyi pop wanita/pria, ia bagaikan setitik air yang menyejukkan di musim panas dengan musik jazz yang mungkin bisa dibilang peminatnya masih segmented.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_14397" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2011/09/sierra-only-one.jpg"><img class="size-medium wp-image-14397 " title="Sierra - Only One" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2011/09/sierra-only-one-300x300.jpg" alt="Sierra - Only One" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Sierra - Only One</p></div>
<p>Amanda Sierra Soetedjo, pertama kali mengenal nama ini dari sebuah rubrik di harian Jawa Pos dan entah kenapa langsung aja tertarik untuk mengenal lebih jauh. Seorang new comer dalam dunia jazz dimana hal tersebut sangat jarang didapatkan dalam blantika musik Indonesia belakangan ini. Di tengah gempuran boysband/girlsband ataupun penyanyi pop wanita/pria, kehadiran Sierra bagaikan setitik air yang menyejukkan di musim panas dengan musik jazz yang mungkin bisa dibilang peminatnya masih <em>segmented</em>.</p>
<p>Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa single pertamanya adalah the Only One yang merupakan lagu lama milik Adi Bing Slamet dari soundtrack film Merpati Tak Pernah Ingkar Janji di tahun 1986. Berhubung saya adalah penggemar lagu2 jadul, faktor ini pula yg membuat saya tertarik untuk membeli albumnya. Setelah hunting kesana kemari akhirnya dapat juga CDnya yg versi steelbook meskipun harganya cukup mahal but it&#8217;s worth it karena lagu2 di dalamnya adalah lagu2 recycle semua dan sebagian besar merupakan lagu favorit saya dari jaman SD, SMP, SMA sampai sekarang. Saya dengerin berulang2 dan akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah tulisan kecil mengenai opini saya tentang album ini.</p>
<p>Dibuka dengan lagu pertama yang sesuai dengan judul albumnya yaitu Only One. Lagu ini sudah sangat familiar di telinga saya dalam versi jadul Adi Bing Slamet yang slow dan sekarang dibawakan lagi dalam versi baru dengan sentuhan pop jazzy ceria menjadikan lagu ini jauh lebih berbeda dari versi originalnya ditambah lagi dengan video klipnya yang juga bernuansakan sederhana namun ceria. Pilihan yang pas untuk dijadikan opening song dalam album karena setelah mendengarkan lagu ini saya jadi penasaran untuk terus melanjutkan ke lagu berikutnya. Adapun alasan Sierra memilih Only One sebagai single pertamanya adalah karena lagu tersebut merupakan satu2nya lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi Indonesia dan selain itu juga tunes nya yang simple dan catchy untuk didengarkan.</p>
<p>Lagu kedua adalah Fallen, yang versi originalnya dibawakan oleh Lauren Wood di tahun 1989 untuk soundtrack film Pretty Woman. Setiap kali saya mendengarkan lagu ini, yang terbayangkan di benak saya adalah : alone in the private lounge, lampu remang2 dan secangkir hot capuccino/vanilla latte sambil melamun atau sitting alone in the balcony while watching the rain pouring down in the afternoon .. perfect! Lagu ini favorit saya dari keseluruhan lagu di album, tidak<br />
beda jauh dari versi aslinya hanya ditambah sedikit scatting lembut dari Sierra yang menjadikan lagu ini makin enak tedengar di kuping saya.</p>
<p>Next song is Lately, original version by Stevie Wonder dan pernah dibawakan ulang oleh Jodeci dan juga Salena Jones. Versi Sierra Mirip dengan versi Salena Jones, jazzy abis dengan sentuhan saxophone instrumental di tengah lagu dan sedikit mirip dengan lagu ke 4 yaitu Something, original version by the Beatles dan pernah juga dibawakan oleh Salena Jones. Something dengan Sierra menjadi jauh lebih jazzy dengan irama bossanova.</p>
<p>Lagu ke 5 adalah Save the Last Dance, versi awal lagu ini saya dengar dari the Blue Diamonds tetapi versi originalnya adalah milik Ben E King bersama dengan the Drifters di tahun 60an. Versi lain yang pernah mampir di kuping saya adalah milik Michael Buble, Paul Anka, Cliff Richard dan Dolly Parton. Masing2 membawakan lagu tersebut dalam versinya sendiri2. Versi Sierra dan Michael Buble hampir mirip dengan sedikit sentuhan irama samba/dance yang membuat lagu tersebut jadi terdengar lebih fresh dan enak untuk dipakai berdansa dan juga terdapat tambahan scatting di tengah2 lagu by Sierra herself.</p>
<p>Setelah berdansa dengan Save the Last Dance, di lagu berikutnya kita dibawa lagi ke dalam suasana mellow dengan Especially For You. Original version by Kylie Minogue and I grew up with this song as I have been a Kylie fan since I was 8 years old. Acoustic band dari Filipina, MYMP juga pernah merecycle lagu ini dalam versi acoustic dan kali ini dinyanyikan oleh Sierra, Especially For You menjadi pop jazzy dengan sentuhan solo gitar di tengah lagu. It&#8217;s a very nice tunes to<br />
listen as I have never heard anyone did a jazzy version for this song so this is new for me and I like it as very much as the original. Sebagai bonus, dalam album ini Sierra juga duet dengan penyanyi Filipina, Jed Madela yang mengingatkan saya dengan duet Kylie dan Jason menyanyikan lagu yang sama <img src='http://www.wartajazz.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Setelah Especially For You, kita disambut dengan You yang juga merupakan lagu lawas milik penyanyi Filipina, Basil Valdez. Tidak jauh berbeda dengan versi aslinya yang<br />
sudah berirama jazzy, hanya kali ini kuping kita disejukkan dengan suara lembut Sierra yang membawakannya dengan sedikit sentuhan bossanova dengan suara saxophone di opening dan tengah lagu. If you want to relax, then just listen to this song.</p>
<p>The 8th song is my least fave from this album which is Leaving On A Jet Plane. Pertama kali denger lagu ini versinya Chantal Kreviazuk dan versi aslinya dinyanyikan oleh John Denver. Entah kenapa, to be honest saya ngga pernah suka dengan lagu ini <img src='http://www.wartajazz.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  tapi setelah dinyanyikan Sierra jadi lumayan suka meskipun tetep kurang &#8220;mengena&#8221; di kuping saya. Lagu ini kontras dengan lagu selanjutnya yang juga merupakan fave saya yaitu Have I Told You Lately That I Love You. The 1st version I heard from Kenny Rogers and then Rod Stewart which both has a pop sound in this song but later I found out the original version sung by Van Morrison after I watched a movie &#8220;One Fine Day&#8221; which has this song as one of its soundtrack. Lagu ini romantis banget cocok buat mereka yang lagi pacaran :p Sierra sang this song in a beautifully way, ditambah dengan her soft and sultry voice saying this words on the opening song: &#8220;Baby there&#8217;s something I want to tell you, something that you always want to hear&#8221;. It&#8217;s a nice add that makes this different from the other version.</p>
<p>The last track is Jose Mari Chan&#8217;s song, Thank You Love. Dinyanyikan Sierra secara unplugged dengan iringan piano yang dominan. It&#8217;s indeed also a very romantic song, cocok buat mereka yang sedang jatuh cinta with a nice lyrics as well. Bagi saya cocok dijadiin lullaby sebelum tidur <img src='http://www.wartajazz.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Dan tepat dijadikan sebagai lagu penutup dalam album Only One<br />
with this specific lyric : &#8220;Thanks for choosing me from all the rest, though Im far from being the best. Most of all I want to thank you, love, for loving me&#8221;.  Entah kenapa feeling saya mengatakan lyric tersebut cocok diletakkan dibagian terakhir seakan sang empunya lagu ingin mengatakan thankyou kepada semua yang telah membeli albumnya, terimakasih sudah memilih dia dan mendengarkan lagu2nya meskipun album ini mungkin masih jauh dari sempurna and most of all she wanted to thank you to us for loving her and her music.</p>
<p>Overall, album ini bagus dan bisa didengerin buat para pecinta musik jazz maupun pop terutama bagi mereka para penikmat lagu jadul seperti saya, it&#8217;s a must have album <img src='http://www.wartajazz.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fopini-jazz%2F2011%2F09%2F27%2Fsierra-only-one%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2011/09/27/sierra-only-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Sesarengan” – Nge-jazz-in Tembang Jawa</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2011/01/18/sesarengan-nge-jazz-in-tembang-jawa/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sesarengan-nge-jazz-in-tembang-jawa</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2011/01/18/sesarengan-nge-jazz-in-tembang-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 07:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Wahdiono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Jazz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=12427</guid>
		<description><![CDATA[Album ini diluncurkan pada Sabtu (15/1) lalu di arena Ngayogjazz 2011, yang digelar di pelataran kediaman pelukis Joko Pekik di desa Sembungan, Kasihan, Bantul. Saya mendapatkannya di sana pula.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Album ini diluncurkan pada Sabtu (15/1) lalu di arena Ngayogjazz 2011, yang digelar di pelataran kediaman pelukis Joko Pekik di desa Sembungan, Kasihan, Bantul. Saya mendapatkannya di sana pula.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-12429" title="kjy-sesarengan-ngayogjazzc" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2011/01/kjy-sesarengan-ngayogjazzc.jpg" alt="" width="300" height="300" /></p>
<p>Ngayogjazz merupakan event tahunan yang selalu saya hadiri. Bukan hanya karena tontonan ini tak berbayar alias gratis, tapi juga lantaran keguyuban dan keunikan acaranya. Sejauh yang saya tahu, tak ada pergelaran musik jazz yang seguyub dan seunik Ngayogjazz. Pernah nggak nonton pentas jazz di tengah kenyamanan suasana desa, bahkan di pinggir kali? Begitulah ketika jazz “ditangani” oleh wong-wong Jogja. Ia menjadi unik; menjadi jauh dari kesan yang biasanya penuh dengan formalitas; menjadi ndagel, menjadi guyub.</p>
<p>Saya kira CD yang dikeluarkan Komunitas Jazz Yogyakarta (KJY) ini juga hasil dari keguyuban. Beberapa bulan sebelum Ngayogjazz 2011, niatan mengeluarkan album bertajuk “Sesarengan” sudah dilontarkan di acara pentas mingguan Jazz Mben Senèn (digelar setiap Senin malam di pelataran Bentara Budaya Yogya), yang disusul dengan upaya penggalangan dana dengan membuat/menjual sejumlah merchandise, seperti kaos, stiker dan gantungan kunci.</p>
<p>Ini merupakan album kedua yang diproduksi KJY. Album pertama yang dinamai Jazz Basuki Mawa Beya muncul saat Ngayogjazz 2009. O ya, Ngayogjazz tahun 2010, yang mestinya digelar pada bulan November dibatalkan karena peristiwa letusan Merapi, dan akhirnya baru bisa dilaksanakan akhir pekan lalu itu.</p>
<p>“Sesarengan” (bahasa Jawa) berarti bersama-sama atau kebersamaan dalam Bahasa Indonesia. Judul album tersebut memang mencerminkan semangat yang sudah mentradisi di kalangan orang-orang Ngayogyakarta, tentunya juga termasuk dalam menerbitkan CD jazz ini.</p>
<p>Yang menarik lagi, komposisi-komposisi yang disodorkan diambil dari sejumlah tembang Jawa, seperti Lesung Jumengglung, Cublak-cublak Suweng, Yen Ing Tawang Ono Lintang, dan sebagainya. Tentu saja tembang-tembang itu tidak dimainkan sebagaimana aslinya.</p>
<p>Rekan-rekan dari KJY mencoba menariknya dalam ranah jazz. Karena sifat jazz yang sangat terbuka, mereka pun mengolahnya dengan leluasa, dengan daya kreasi dan interpretasi masing-masing terhadap setiap tembang. Makanya, berbagai corak jazz bisa kita temukan dalam album yang berisi tujuh komposisi ini.</p>
<p>Pada Lesung Jumengglung, misalnya, corak swing mengawali komposisi, yang kemudian disusul dengan warna latin. Di tengah-tengah itu muncul warna-warna yang lebih etnik. Semua itu diolah sedemikian rupa sehingga muncul nada-nada yang enak dinikmati sambil menggoyang-goyangkan kaki. Goyangin badan juga boleh sih!</p>
<p>Kalau Anda suka atmosfer yang lebih mainstream, mungkin permainan Cublak-cublak Suweng bisa memuaskan selera. Lantaran para pemainnya tergolong muda, musik yang tercipta pun menjadi beraroma modern.</p>
<p>Lima lagu lainnya (Gambang Suling, OAE-Kerthi Buana, Yen Ing Tawang Ono Lintang, Menthok-menthok dan Lindri) sudah pasti punya corak yang berbeda satu sama lain. Nggak ada “rasa” yang sama dari ketujuh komposisi yang disuguhkan. Setiap tembang diinterpretasikan secara berbeda, dan unik.</p>
<p>Saya kira tembang-tembang Jawa itu bakal bisa dinikmati oleh kalangan yang lebih luas – bukan hanya oleh orang Jawa saja. Ya, karena tembang-tembang tersebut telah “diterjemahkan” dalam bahasa musik yang lebih universal.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fopini-jazz%2F2011%2F01%2F18%2Fsesarengan-nge-jazz-in-tembang-jawa%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2011/01/18/sesarengan-nge-jazz-in-tembang-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngayogjazz dan Momentum Perubahan</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2011/01/12/ngayogjazz-dan-momentum-perubahan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ngayogjazz-dan-momentum-perubahan</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2011/01/12/ngayogjazz-dan-momentum-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 14:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki Rahadianto M.Si</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Jazz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=12372</guid>
		<description><![CDATA[Dunia musik jazz Yogyakarta mengalami perubahan arah sejak 2007, momentum perubahan ditandai dengan diadakannya event  Ngayogjazz pertama yang digelar di padepokan seni Bagong Kussudiarjo. Apa saja bentuk perubahan yang terjadi dalam dunia musik jazz Jogja? 
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 		A:link { color: #0000ff } --><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2011/01/ngayogjazz-poster.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-12364" title="ngayogjazz-poster" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2011/01/ngayogjazz-poster.jpg" alt="" width="549" height="374" /></a>Dunia musik jazz Yogyakarta mengalami perubahan arah sejak 2007, momentum perubahan ditandai dengan diadakannya <em>event</em> Ngayogjazz pertama yang digelar di padepokan seni Bagong Kussudiarjo. Apa saja bentuk perubahan yang terjadi dalam dunia musik jazz Jogja? Sebelum membahas mengenai perubahan tersebut, terlebih dahulu kita lihat sekilas sejarah musik jazz Yogyakarta mulai tahun 2000.</p>
<p lang="nb-NO"><strong>Menengok ke Belakang : Jazz Gayeng dan Jogja Jazz Club</strong></p>
<p>Jas Merah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah! Itulah pesan presiden pertama Indonesia Soekarno bagi bangsa Indonesia, hal ini juga perlu direfleksikan dalam dunia musik jazz Yogyakarta sekarang ini.</p>
<p>Sebelum adanya Ngayogjazz dan juga komunitas Jazz Jogja dengan produknya yaitu jazz mben senen (pasca 2007), dalam <em>scene</em> jazz Jogja dikenal adanya komunitas ”formal dan terorganisir” pertama yang dibentuk pada tahun 2002 yaitu Jogja Jazz Club (JJC). Diprakarsai oleh para personel Tuti ’n friends dan juga wartajazz, komunitas ini merupakan kelanjutan dari festival jazz gayeng yang diadakan tahun 2001. Kegiatan komunitas dilakukan di restoran gadjah wong, mencakup jam session dan juga workshop (<span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="../">www.wartajazz.com</a></span></span>). Kegiatan komunitas jazz Jogja pada perkembangannya pindah ke berbagai tempat seperti Shaker, Backyard, Big Belly, D’Click dan sekarang di Bentara Budaya. Jogja Jazz Club kemudian juga mengalami fragmentasi menjadi beberapa komunitas seperti : komunitas Alldint ataupun komunitas Samirono.</p>
<p>Mengenai Jazz Gayeng, penyelenggaraan festival tersebut dapat dilihat sebagai puncak keberhasilan <strong>D’mood band </strong>(cikal bakal <strong>Tuti ’n friends band</strong>) dalam melakukan perlawanan terhadap dominasi fusion jazz Yogyakarta pada saat itu. Sebagaimana dijelaskan oleh Nugroho dalam bukunya <em>Menumbuhkan Ide-Ide Kritis</em> (2001), <em>scene </em>jazz saat itu terperangkap dalam Mcdonaldisasi, dimana fusion jazz yang <em>easy listening</em> merajalela. Dalam acara ini, Tuti ’n friends menjadi pengisi acara utama, repertoar yang dimainkan kebanyakan jazz ”standart” misalnya <em>: It Don’t Mean a Thing, How High the Moon </em>serta<em> Take the A Train</em> (<span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.youtube.com/">www.youtube.com</a></span></span>). Penyelenggaraan Jazz Gayeng I membuat Tuti ’n friends band dengan wacana jazz standart-nya menjadi pihak yang dominan (Rahadianto, 2010)</p>
<p>Keberhasilan Jazz Gayeng I dilanjutkan dengan diadakannya Jazz Gayeng II  tahun 2002, <span style="color: #000000;">Tuti ‘n friends saat itu bahkan berkolaborasi dengan Mike del Ferro (trio dari Belanda). Repertoar yang dibawakan pada Jazz Gayeng II masih berupa jazz standart (</span><span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.youtube.com/">www.youtube.com</a></span></span><span style="color: #000000;">). Festival Jazz Gayeng pada perkembangannya berlanjut hingga Jazz Gayeng V, namun kemudian mengalami kevakuman karena faktor internal maupun eksternal. </span></p>
<p lang="es-ES">
<p><span style="color: #000000;"><strong>Ngayogjazz 2007 sebagai Momentum Perubahan</strong></span><span style="color: #000000;"><strong> Jazz Yogyakarta </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong> </strong></span><span style="color: #000000;">Pasca diadakannya Ngayogjazz pertama, </span><span style="color: #000000;"><em>athmosphere</em></span><span style="color: #000000;"> jazz Yogyakarta banyak mengalami perubahan. Berbagai wacana mengenai perubahan ini telah dimulai sejak diadakan jam session di D’click Kotabaru. </span>Ada beberapa hal yang saya amati antara lain: agen yang berkuasa, segi <em>performances,</em> kreatifitas musisi hingga ”kemasan” yang membalut konstruksi wacana jazz Yogyakarta (Rahadianto, 2010). Dari berbagai perubahan tersebut, ada satu poin penting yang melandasi atau menjadi pengikat yaitu mulai masuknya unsur lokalitas dalam wacana jazz Yogyakarta.</p>
<p>Peran Djadug Ferianto dalam <em>scene</em> jazz Jogja tidak dapat dipungkiri, mengutip Bourdieu dalam <em>The Field of Cultural Production</em> (1993) habitus yang dibawa dari ranah tradisi perlahan mulai terinternalisasi. <em>Track record</em> Djadug melalui Kua Etnika, sebuah group musik yang menegosiasikan unsur global dengan lokal berperan sebagai <em>symbolic capital</em> untuk mengkonstruksikan wacana baru (<em>heterodoxa</em>). Selain Djadug, proses konstruksi wacana juga didukung oleh agen-agen lain yang mempunyai visi serupa.</p>
<p>Unsur lokal dapat dilihat dari diadakannya Ngayogjazz 2007 dan setelahnya yang mengeksplorasi desa sebagai ruang berkesenian, mengelaborasi pertunjukan seni tradisi dengan jazz hingga pembentukan ruang-ruang baru untuk mempromosikan produk ekonomi lokal. Pada Ngayogjazz 2009 misalnya, terjadi perpaduan menarik dimana musik jazz dimainkan dalam panggung jazz yang bernama Basiyo, Cokrowarsito, Condrolukito dan dibalut dalam sebuah acara yang diberi nama “Goro-Goro”. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai bentuk perlawanan bahwa jazz yang dianggap elite, modern dan <em>sophisticated </em>sebenarnya tidak berbeda dengan budaya lokal yang diciptakan oleh masyarakat dari lapisan <em>grassroots. </em></p>
<p>Unsur lokal dalam Ngayogjazz tidak berhenti hanya pada diadakannya festival namun berlanjut dengan diadakannya jam session “Jazz Mben Senen” di bentara budaya. Angkringan, lesehan serta panggung tujuh belasan akan Anda jumpai jika sempat menengok acara tersebut, selain itu pernah beberapa kali jazz dielaborasikan dengan dangdut ataupun musik tradisi.</p>
<p>Dari uraian singkat diatas, disimpulkan bahwa Ngayogjazz dapat dilihat sebagai momentum perubahan terutama mulai dimasukkannya unsur lokalitas dalam dunia jazz Yogyakarta. Dalam <em>terminology Berger</em> (2002), perubahan tersebut merupakan fenomena  “<em>Synthesis of the global universal culture with the particular indigenous culture”</em> atau dalam bahasa Khondker (2004) “<em>Globalization does not erase all differences</em>!”</p>
<p lang="es-ES">
<p><strong>Ngayogjazz 2011 : </strong><strong>Dapatkah Menjadi Momentum Perubahan bagi Yogyakarta? </strong></p>
<p><strong> </strong>Ngayogjazz 2011 dengan tema “ Mangan Ora Mangan Ngejazz” diharapkan dapat menyebarkan pesan mengenai solidaritas yang berbasis <em>gemeinschaft</em> dalam bahasa Ferdinand Tonnies. Solidaritas yang dimaksud bukan dalam kerangka pertukaran rasional bagi maksimalisasi kepentingan individu namun lebih ke maksimalisasi kepentingan rakyat banyak.</p>
<p>Dalam konteks Yogyakarta pasca bencana, rasa solidaritas berbasis <em>gemeinschaft</em> dari berbagai elemen diharapkan semakin menguat sehingga mampu menjadi <em>social capital</em> bagi kebangkitan Yogyakarta di masa mendatang. Solidaritas yang terbangun diharapkan tidak menggunakan logika “<em>Yen kowe nulung aku – gantian kowe tak tulung, yen ora yo aku wegah</em>” ala <em>homo economicus</em> namun lebih ke logika <em>homo socius</em> yang menyadari bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa masyarakatnya.</p>
<p lang="es-ES">Ngayogjazz 2011 sebagai sebuah gerakan budaya yang disaksikan <em>audiences</em> dari berbagai macam kelas sosial diharapkan dapat menjadi media penyampaian pesan akan pentingnya solidaritas sosial.</p>
<p lang="es-ES">
<p lang="es-ES"><strong>Referensi </strong></p>
<p>Berger, Peter l and Samuel Huntington (ed). <em>Many Globalizations : Cultural Diversity in the Contemporary World</em>. Oxford University Press. New York. 2002.</p>
<p>Bourdieu, Pierre. <em>The Field of Cultural production</em>. Polity Press. Cambridge. 1993.</p>
<p>Nugroho, Heru. <em>Menumbuhkan Ide-Ide Kritis</em>. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2003.</p>
<p lang="es-ES">
<p lang="es-ES"><strong>Jurnal</strong></p>
<p>Khondker, Habibul Haque. <em>Glocalization as Globalization : Evolution of a Sociological Concept. </em>Bangladesh e-Journal of Sociology, Vol. 1. No 2.July, 2004.</p>
<p lang="es-ES">
<p lang="es-ES"><strong>Tesis</strong></p>
<p>Rahadianto, Oki. <em>Dinamika Kekuasaan dalam Komunitas Jazz Yogyakarta 2002-2010.</em> Jurusan Sosiologi. Universitas Indonesia. 2010.</p>
<p lang="es-ES">
<p lang="es-ES"><strong>Website</strong></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="../">www.wartajazz.com</a></span></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.youtube.com/">www.youtube.com</a></span></span></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fopini-jazz%2F2011%2F01%2F12%2Fngayogjazz-dan-momentum-perubahan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2011/01/12/ngayogjazz-dan-momentum-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengantar Menuju Studi Komunitas Jazz di Indonesia</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/11/09/pengantar-menuju-studi-komunitas-jazz-di-indonesia/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pengantar-menuju-studi-komunitas-jazz-di-indonesia</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/11/09/pengantar-menuju-studi-komunitas-jazz-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 12:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki Rahadianto M.Si</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=11974</guid>
		<description><![CDATA[Produksi pengetahuan terdahulu mengenai komunitas jazz di Amerika masih diwarnai oleh diskriminasi rasial. Mirriam dan Womack (1960) menjelaskan bahwa ada berbagai alasan mengapa publik Amerika saat itu menolak eksistensi komunitas jazz
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/11/jazz-di-indonesia.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-11977" title="jazz-di-indonesia" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/11/jazz-di-indonesia.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Oleh <strong>Oki Rahadianto M.Si</strong></p>
<p>Produksi pengetahuan terdahulu mengenai komunitas jazz di Amerika masih diwarnai oleh diskriminasi rasial. Sebagai contoh, studi mengenai komunitas jazz yaitu <em>The Jazz Community</em> karya Mirriam dan Womack (1960) dan <em>Theory of Jazz Communities</em> karya Stebbins (1968) masih menggunakan teori labelling, komunitas jazz dianggap menyimpang dan terisolasi dari komunitas yang lain. Mirriam dan Womack (1960) menjelaskan bahwa ada berbagai alasan mengapa publik Amerika saat itu menolak eksistensi komunitas jazz antara lain: komunitas jazz identik dengan kejahatan, sifat buruk serta promiskuitas, anggapan bahwa musik jazz tidak berasal dari kultur pendidikan (dalam arti musik klasik) dan juga anggapan bahwa musik jazz ini akan menjadi ancaman bagi musik orang kulit putih.</p>
<p>Meskipun didominasi oleh reproduksi pengetahuan yang diskriminatif namun berbagai <em>counter</em> dilakukan, antara lain : <em>The Community that Gave Jazz to Chicago</em> karya Ted Vincent (1992) membahas mengenai peranan komunitas kulit hitam di Chicago bagi kesuksesan jazz era <em>roaring twenties</em>. Salah satu yang berperan adalah Jack Johnson seorang petinju kulit hitam yang ikut membangun <em>club</em> tempat dimainkannya musik jazz. Bahkan atas perannya bagi komunitas kulit hitam, Miles Davis (pioner fusion jazz) meluncurkan album “<em>A Tribute to Jack Johnson</em>” pada tahun 1971.</p>
<p>Buku-buku mengenai jazz yang lain lebih banyak menjelaskan bagaimana jazz merupakan percampuran antara berbagai budaya seperti Karibia, Afrika yang dibawa oleh budak-budak kemudian bercampur dengan budaya dari Eropa dan kemudian dalam perkembangannya menjadi blues, ragtime, dixie lalu kemudian muncullah “jazz”. Jazz kemudian mulai berkembang menjadi <em>style-style</em> yang berbeda, seperti swing, cool, bebop, hardbop, latin jazz, funk jazz dll. Varian-varian tersebut mempunyai narasi sendiri mengenai proses kemunculannya di Amerika (Wheaton, 1994; Meeder, 2008). Kebanyakan sejarah jazz yang ada hanya menceritakan versi resminya saja (Deveaux, 1991).</p>
<p>Lalu bagaimana reproduksi pengetahuan mengenai jazz di Indonesia? Studi-studi mengenai komunitas jazz di Indonesia masih jarang dilakukan, meskipun begitu terdapat berbagai studi dengan fokus yang berbeda. Wawancara yang dilakukan oleh wartajazz.com dengan Sudibyo Pr (2001) misalnya menjelaskan bahwa masuknya jazz di Indonesia dibawa oleh penjajah Belanda melalui piringan hitam dan banyak ditampilkan pada pesta-pesta elite kolonial. Musik jazz banyak dipertunjukkan di gedung <em>societet,</em> hanya kalangan tertentu saja yang dapat mengaksesnya. Seiring perjalanan waktu, jazz lebih berkembang di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar. Pasca kemerdekaan, musik jazz masih banyak diperdengarkan di tempat-tempat elite seperti café ataupun hotel berbintang.</p>
<p>Irawati dalam <em>Musik Jazz dan Dangdut dalam Analisa Stratifikasi</em> (1992), semakin meneguhkan jazz sebagai musik elite dimana menurutnya terdapat perbedaan antara konsumen musik jazz dengan dangdut, konsumen musik jazz lebih banyak dari golongan atas sedangkan dangdut sebaliknya. R.M Mulyadi dalam <em>Industri Musik Nasional (Pop, Rock, Jazz)</em> (1999) menjelaskan mengenai pengaruh rezim terhadap perkembangan musik nasional. Pada era orde baru, hanya ada satu acara jazz asuhan Jack Lesmana, TVRI tidak banyak membantu perkembangan musik jazz. Jazz lebih banyak dimainkan di hotel-hotel dan bar, pertunjukan musik jazz lebih banyak berupa ajang apresiasi sehingga tidak mendatangkan profit yang besar. Jazz mulai bergerak ke panggung besar pada era 80-an, dimana saat itu musisi jazz menggabungkan aliran jazz dengan rock (fusion). Fusion jazz yang pada waktu itu diwakili oleh Krakatau dan Karimata banyak memasukkan idiom gamelan dalam aransemennya, hal ini dijelaskan oleh Josias Adriaan dalam tesisnya <em>Penggabungan Idiom-Idiom Gamelan dalam Musik Jazz</em> (2007). Fenomena maraknya jazz fusion, dikritik oleh Heru Nugroho mengalami  Mcdonaldisasi Jazz di Indonesia (2001). Musik jazz di Indonesia mengalami standardisasi layaknya makanan dalam gerai cepat saji McDonald, jazz dikemas dalam rasa yang sama serta cenderung <em>easy listening</em>.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan diatas, diajukan pertanyaan lebih lanjut : lalu bagaimana studi-studi mengenai komunitas jazz di berbagai kota di Indonesia? Melihat pesatnya perkembangan komunitas-komunitas jazz di Indonesia akhir-akhir ini, menarik untuk dipelajari bagaimana “cerita-cerita” yang tercipta dari berbagai komunitas tersebut. Apakah terdapat “cerita-cerita” yang berbeda? Ataukah semua komunitas mempunyai “cerita-cerita” yang sama? Studi yang saya lakukan mengenai komunitas jazz Yogyakarta (2010) menunjukkan “cerita-cerita” yang berbeda, bagaimana dengan “cerita-cerita” yang terjadi dalam komunitas jazz di kota Anda?</p>
<p lang="it-IT">
<p lang="it-IT"><strong>Referensi </strong></p>
<p>Heru Nugroho. <em>Menumbuhkan Ide-Ide Kritis</em>. Pustaka pelajar. Yogya. 2001.</p>
<p>Meeder, Christopher. <em>Jazz : The Basics</em> . Routledge. New York. 2008.</p>
<p>Wheaton, Jack. <em>All That Jazz</em>. University of San Diego. Ardley House Publisher. New York. 1994.</p>
<p lang="en-US"><strong>Jurnal</strong></p>
<p>De Veaux, Scott. <em>Constructing The Jazz Tradition : Jazz Historiography</em>. Journal Black American Literature Forum, vol 25, St Louis University. 1991</p>
<p>Indera Ratna Irawati. <em>Musik Jazz dan Dangdut dalam Analisa Stratifikasi</em>. Jurnal Masyarakat Universitas Indonesia. Jakarta. 1992</p>
<p>Merriam, P Alan and Raymond Womack. <em>Jazz Community</em>. Social Forces Vol 38. University of North Carolina Press. 1960.</p>
<p>Stabbins, Robert. <em>The Theory of Jazz Community</em>. The Sociological Quaterly Vol.9. Blackwell Publishing. 1968.</p>
<p>Vincent, Ted. <em>The Community that Gave Jazz to Chicago</em>. Black Music Research Journal Vol.12, Center of Black Music Research. University of Illinois Press. 1992.</p>
<p lang="en-US"><strong>Tesis</strong></p>
<p>Josias T. Adriaan. <em>Penggabungan idiom-idiom Gamelan ke Dalam Musik Jazz</em>. Prodi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. 2007.</p>
<p>R. Muhammad Mulyadi. <em>Industri Musik Nasional (Pop, Rock dan Jazz).</em> Jurusan Sejarah. Universitas Indonesia.1999.</p>
<p>Oki Rahadianto Sutopo. <em>Dinamika Kekuasaan dalam Komunitas Jazz Yogyakarta 2002-2010.</em> Jurusan Sosiologi. Universitas Indonesia. 2010.</p>
<p><!-- Zone Tag : WartaJazz XL-Intext --><br />
<script type="text/javascript">// <![CDATA[
innity_pub = "043c3d7e489c69b48737cc0c92d0f3a2";
innity_zone = "13590";
innity_width = "**";
innity_height = "**";
innity_country = "ID";
// ]]&gt;</script><br />
<script src="http://cdn.innity.com/network.js" type="text/javascript"></script></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fopini-jazz%2F2010%2F11%2F09%2Fpengantar-menuju-studi-komunitas-jazz-di-indonesia%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/11/09/pengantar-menuju-studi-komunitas-jazz-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jazz: Media Perlawanan atau Eksistensi?</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/08/20/jazz-media-perlawanan-atau-eksistensi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=jazz-media-perlawanan-atau-eksistensi</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/08/20/jazz-media-perlawanan-atau-eksistensi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 08:15:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardi Kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Jazz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=11459</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara soal musik jazz, musik jenis ini di Indonesia akhir-akhir ini mulai menunjukkan geliatnya. Yang menarik, para penikmat musik jazz tersebut sebagian (besar) adalah anak-anak muda usia. Lalu apa yang perlu dikritisi?
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Ardi Kurniawan</p>
<p>Dalam sejarahnya, jazz adalah media perlawanan atas ketertindasan ras dan kelas sosial. Ras kulit hitam yang secara kelas sosial pada saat itu dianggap lebih rendah dibandingkan ras kulit putih melakukan perlawanan lewat media musik jazz. Sekian dekade kemudian, musik tersebut sudah tersebar ke berbagai negara, termasuk negara-negara yang sering disebut negara dunia ketiga.</p>
<p>Berbicara soal musik jazz, musik jenis ini di Indonesia akhir-akhir ini mulai menunjukkan geliatnya. Berbagai festival musik jazz yang menampilkan musisi dalam dan luar negeri diapresiasi oleh masyarakat. Yang menarik, para penikmat musik jazz tersebut sebagian (besar) adalah anak-anak muda usia. Dalam konteks sosiobudaya masyarakat di Indonesia, jazz dipahami sebagai musik kaum elite, kelas menengah ke atas, dan para intelektual. Hal ini dimaknai pula oleh anak muda yang berbondong-bondong tiba-tiba datang ke berbagai festival jazz yang digelar belakangan ini. Terlepas dari mereka benar-benar menikmati musiknya atau tidak, tentu perlu dilihat bahwa kegiatan menikmati festival jazz bagi anak muda bukan hanya sekedar ajang apresiasi seni. Namun, lebih dari itu, sebagai ajang eksistensi diri manusia homo Indonesianis kelas menengah yang rindu pengakuan atas eksistensi dirinya di masyarakat. Dalam sebuah pepatah mungkin akan dikatakan bahwa aku menonton jazz maka aku ada.</p>
<p>Tentu tidak ada yang salah dengan menikmati sebuah festival musik jazz, dan tidak dilarang juga menggunakan musik sebagai ajang eksistensi diri. Hanya saja yang perlu dikritisi disini adalah jangan sampai jazz hanya sekedar menjadi trend sesaat (walaupun tidak selamanya trend itu buruk). Para anak muda penikmat musik jazz tersebut tentu perlu diberikan juga pemahaman bahwa dalam sejarahnya yang panjang, jazz bukanlah milik kaum elite, namun milik kaum tertindas dan minoritas, dan musik tersebut digunakan sebagai media untuk melawan ketertindasan tersebut. Jangan sampai setelah sekian dekade, musik jazz justru digunakan sebagai alat menindas oleh kelas sosial yang ada di atas kepada kelas sosial di bawahnya. Jazz jangan sampai digunakan sebagai bukti bahwa mereka yang mampu menikmati dan mengapresiasi musik tersebut mengklasifikasikan dirinya serba lebih (berkelas) dari mereka yang secara sosial budaya ekonomi tidak mampu menikmati jazz. Jazz harus dikembalikan pemahamannya sebagai sebuah media pembebasan nonkekerasan dari ketertindasan.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fopini-jazz%2F2010%2F08%2F20%2Fjazz-media-perlawanan-atau-eksistensi%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/08/20/jazz-media-perlawanan-atau-eksistensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Christian McBride: Bassis Sejuta Sesi</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/03/06/christian-mcbride-bassis-sejuta-sesi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=christian-mcbride-bassis-sejuta-sesi</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/03/06/christian-mcbride-bassis-sejuta-sesi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 17:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ceto Mundiarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10035</guid>
		<description><![CDATA[Mekarnya perbincangan istilah Young Lion di kalangan kritikus dan pecinta jazz internasional di era 1990an salah satu penyebabnya adalah melihat kiprah Christian McBride ini. Majalah Rolling Stone menyebutnya sebagai “Hot Jazz Artist” di tahun 1992. Beragam bentuk penghargaan juga disematkan kepada bassis ini. Salah satunya adalah dari National Endowment for the Arts.


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/christian-mcbride-01.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-10036" title="christian mcbride 01" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/christian-mcbride-01-220x300.jpg" alt="" width="220" height="300" /></a>Tidak mengherankan kalau sebutan di atas lumayan pantas disandang oleh pemain bass serba bisa ini. Meski tidak sepenuhnya benar angka satu juta tersebut, hal ini sekedar untuk menggambarkan kesibukan dalam berkarya, baik dengan program-program musik pribadi maupun mendampingi ratusan musisi terkemuka dari berbagai genre musik, yang luar biasa. Sebutan tersebut juga bukanlah bermaksud menunjuknya dalam konotasi negatif. Semua dijalaninya dengan profesional dan memberikan kontribusi penting dalam ruang kebebasan berekspresi.</p>
<p>Serba bisa.  Kalau ada anggapan awal bahwa pemain bass akustik tidak bisa lari dengan baik ketika memegang bass berlistrik atau sebaliknya atau pun sang pemain harus memilih salah satunya, tidak bisa keduanya dalam tingkatan keahlian yang sama. Ternyata anggapan ini tidak berlaku lagi untuk bassis kelahiran 1972 ini. “Dia adalah monster bass”, kata keyboardis <strong>George Duke</strong>. Ketika sedang memeluk bass akustiknya, para penonton maupun pendengar masih dapat mendengar permainannya dengan jelas di tengah riuh rendah solo dari instrumen lain. Langkah nada-nada rendah yang berjalan dengan mantap, <em>sliding, slipping, slapping</em>, melodius dan bahkan untuk penggemar suara akustik, efek suara alami gerak tangan di atas senar tebal yang bersentuhan dengan fret kayu instrumen tersebut bisa disimak dengan nikmat.</p>
<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/christian-mcbride-02.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-10037" title="christian-mcbride 02" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/christian-mcbride-02-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" /></a>Di lain pihak, sebagai pemain bass listrik, pria asal Philadelphia ini mampu menempatkan dirinya sebagai <em>electric bassist</em> yang inovatif dan berani. Instrumen jenis ini justru adalah pegangan pertamanya sebelum bermain bass <em>betot</em>. Musik rock, pop, soul, funk bahkan hip-hop baginya bukan menjadi halangan. Selain itu, kecintaannya terhadap musik jazz dengan berbagai genrenya tidak bisa diragukan lagi. Tentu saja, bakatnya sebagai komposer juga layak dipertimbangkan. Usia muda adalah waktunya untuk menyerap dan mencerna beragam pengaruh yang hadir dalam kehidupan kontemporer. Sekilas kemampuan tersebut dapat disimak melalui konser beberapa malam di Tonic yang terdokumentasikan dalam sampul “Live At Tonic” (2006).</p>
<p>Dalam usai yang masih <em>kinyis-kinyis</em> di tahun 1989, Christian McBride sudah mempunyai percaya diri yang tinggi untuk bergandengan dengan para musisi terkemuka tanpa menyelesaikan studinya di sekolah musik bergengsi Julliard School.  Bergabung bersama musisi jazz terkemuka <strong>Bobby Watson,  Benny Golson, Freddie Hubbard, Benny Green </strong>dan rekan segenerasinya <strong>Roy Hargrove </strong>serta<strong> Joshua Redman</strong> adalah langkah awalnya. Di kemudian hari, sudah semakin sulit menghitung berapa banyak musisi jazz legendaris yang pernah tampil bersamanya, termasuk bassis jazz legendaris <strong>Ray Brown</strong> yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri. Sebut saja dari <strong>Joe Henderson, Sonny Rollins, Betty Carter, Milt Jackson, McCoy Tyner, Chick Corea, Pat Metheny</strong> dan masih banyak lagi termasuk salah satu saat yang mengesankan adalah ketika membantu vokalis pop terkemuka <strong>Sting</strong> dalam album “All This Time”.</p>
<p>Mekarnya perbincangan istilah <em>Young Lion</em> di kalangan kritikus dan pecinta jazz internasional di era 1990an salah satu penyebabnya adalah melihat kiprah Christian McBride ini. Majalah Rolling Stone menyebutnya sebagai “Hot Jazz Artist” di tahun 1992. Beragam bentuk penghargaan juga disematkan kepada bassis ini. Salah satunya adalah dari National Endowment for the Arts.</p>
<p>Sebelum lupa menuliskan, sejak tahun 1994 McBride sudah memimpin kelompoknya sendiri dan rekaman album solonya. “Gettin’ to it” (1995), “Number Two Express” (1996), “Fingerpainting” (1997),”A Family Affair” (1998), “Sci Fi” (2000), “The Philadelphia Experiment” (2001), “Vertical Vision” (2003), “Live at Tonic” (2006) dan terakhir “Kind of Brown” (2009). Semua albumnya tersebut mempunyai warna musik yang beragam.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fopini-jazz%2F2010%2F03%2F06%2Fchristian-mcbride-bassis-sejuta-sesi%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/03/06/christian-mcbride-bassis-sejuta-sesi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Barry Likumahuwa’s Style</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/03/05/barry-likumahuwa%e2%80%99s-style/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=barry-likumahuwa%25e2%2580%2599s-style</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/03/05/barry-likumahuwa%e2%80%99s-style/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 10:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dwi Ratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10098</guid>
		<description><![CDATA[Barry Likumahuwa, dengan style performance dalam bermain bass yang enerjik, kasual dan kualitas permainan yang juga berisi dan menarik, dipadukan dengan gaya musik fusion dan funk yang banyak disukai remaja, dan lirik manis berkisar kisah percintaan yang kerap mewarnai gaya hidup anak muda.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/barry-likumahuwa-project.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-10099" title="barry-likumahuwa-project" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/barry-likumahuwa-project.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Begitu besarnya peran <em>style performance</em>/<em>stage act</em> (gaya bermusik terutama dipanggung) seorang artis dalam memberikan pengaruh sebuah pertunjukan tentunya selain kualitas bermusik yang juga baik. Diluar negeri kita bisa melihat <strong>Jaco Pastorius</strong> dengan gaya penampilan santai dan simplenya entah pada komposisi apapun yang memberikan pengaruh besar khususnya anak muda untuk menyukai musik yang dimainkan dengan bass melalui <em>style</em> (gaya) yang dia usung. Diluar jazz, kita bisa melihat <strong>K</strong><strong>urt Cobain</strong> dengan <strong>Nirvana</strong>nya dan banyak contoh-contoh pengidolaan lainnya didalam dan diluar dunia musik.</p>
<p>Sama halnya dengan Barry Likumahuwa, dengan <em>style performance</em> dalam bermain bass yang enerjik, kasual dan kualitas permainan yang juga berisi dan menarik, dipadukan dengan gaya musik fusion dan funk yang banyak disukai remaja, dan lirik manis berkisar kisah percintaan yang kerap mewarnai gaya hidup anak muda. Lalu kesan komunikatif Barry kepada penonton di atas panggung, misalnya dengan menceritakan kisah dibalik sebuah lagu, lengkap menjadikan Barry <em>packaged</em> dengan mengusung <strong>Barry Likumahuwa</strong><strong> P</strong><strong>roject</strong> dalam suguhan yang siap untuk digemari dan diminati, khususnya anak muda disekitar usianya.</p>
<p>Seringkali juga ditemui sang ayah <strong>Benny Likumahuwa</strong> dalam sesi ‘featuring’, dengan memainkan trombone, saxophone ataupun flute mengiringi lagu Barry dengan sketsing masing-masing instrumen. Lalu Utha Likumahuwa pada posisi vokalis, dalam keadaan ini biasanya akan muncul kembali hits lama seperti ‘Entah dimana’ dan ‘Esok kan Masih Ada’.</p>
<p>Nama Barry memang kerap tak lepas dari kedua nama tersebut, namun jangan diragukan ketika bicara soal kualitas bermusik, karena ia juga mahir ketika mempraktekkan teknik-teknik bermain bass seperti teknik <em>tapping, slapp</em><em>ing</em><em>, chopp</em><em>ing</em><em> </em>dan lain-lain.</p>
<p>Kiprahnya pada dunia musik diawali dengan membantu berbagai macam proyek musikal seperti pada album <strong>Glenn Fredly</strong> ‘Selamat Pagi Dunia’ Repackaed 2004, ‘Parkdrive’ 2005, Glen Fredly ‘Cinta Silver’ 2005, ‘Bass Heroes’ 2006, Glenn Fredly ‘Terang’ Christmas album 2006, sebagai music director untuk “Tribute to Chris Kaihatu” Java Jazz Festival 2006, music director untuk ‘Tribute to Karimata’ Java Jazz Festival 2007, dan proyek lainnya. Terakhir tentunya debut albumnya berjudul ‘Goodspell’ 2008 dengan beberapa hits andalan diantaranya &#8216;Saat Kau  Milikku&#8217;, &#8216;Aku dan Hadirmu&#8217;, &#8216;My Prayers&#8217;, dan &#8216;Kuingin Mati Saja&#8217;.</p>
<p>Melalui bass, Barry seolah ingin menunjukkan eksistensi bass dalam sebuah band ketika memainkan musik, di mana fungsinya tidak hanya untuk menjaga rhythm melainkan menjadi melodi yang memimpin.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fopini-jazz%2F2010%2F03%2F05%2Fbarry-likumahuwa%25e2%2580%2599s-style%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/03/05/barry-likumahuwa%e2%80%99s-style/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>David Murray: Merangkum Sejarah Jazz</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/03/05/david-murray-merangkum-sejarah-jazz/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=david-murray-merangkum-sejarah-jazz</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/03/05/david-murray-merangkum-sejarah-jazz/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 17:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ceto Mundiarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10033</guid>
		<description><![CDATA[Dia mencoba untuk melihat kembali tradisi musik jazz di masa lalu dengan kacamata modernitas. Gerakan ini sangat kental dirasakan dengan kemunculan istilah neo-bop, neo klasik, neotradisional dan jazz post-modern sejak tahun 1980an.


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/david-muray.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-10039" title="david muray" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/david-muray-300x185.jpg" alt="" width="300" height="185" /></a>Di mata dan telinga para pecinta musik jazz di Indonesia, nama David Murray barangkali masih relatif minim dikenal sebagai saxophonis hebat sepanjang lebih dari 30 tahun ini. Orang akan lebih <em>ngeh</em> jika disebut nama <strong>David Sanborn</strong> atau almarhum <strong>Michael Brecker</strong> sebagai tokoh saxophonis jazz terkemuka di era paska 1970an.</p>
<p>Namun dibalik nama yang bagi kita mungkin masih “baru” tersebut, musisi kelahiran 19 Februari 1955 ini mempunyai segudang kontribusi yang besar dalam memberikan warna perjalanan musik jazz paska fusion. Lebih jauh lagi, musisi yang selain memainkan tenor saxophone yang juga ahli dalam bermain bass klarinet ini justru bermain lebih kritis lagi. Dia mencoba untuk melihat kembali tradisi musik jazz di masa lalu dengan kacamata modernitas. Gerakan ini sangat kental dirasakan dengan kemunculan istilah neo-bop, neo klasik, neotradisional dan jazz post-modern sejak tahun 1980an.</p>
<p><strong>John Coltrane</strong>, saxophonis yang selalu menjadi pusat perhatian banyak saxophonis jazz saat ini, bukanlah satu-satunya sumber inspirasi bagi David Murray. Dalam hal style khas permainannya, dia justru melihat lebih ke belakang lagi dengan semua peninggalan dari saxophonis legendaris seperti <strong>Ben Webster, Lester Young, Coleman Hawkins</strong> atau pun <strong>Paul Gonsalves</strong> yang sayang sekali kalau dipandang dengan sebelah mata. Dalam waktu bersamaan, dia juga sangat terinspirasi dari para saxophonis yang berkarakter lebih modern dan terbuka seperti <strong>Eric Dolphy, Albert Ayler</strong> dan <strong>Archie Shepp</strong>.</p>
<p>Dengan kata lain, Murray berusaha meleburkan batasan-batasan semu dalam genre musik jazz atau bahkan dengan jenis musik lain sembari menawarkan sebuah pandangan perjalanan musik jazz ke depan. Genre jazz seperti gaya New Orleans, swing, bebop, hardbop, free jazz bahkan soul, R&amp;B dan funk menjadi rancu berada di tangan David Murray. Selain mencari akar-akar jazz sendiri yang barangkali belum tersentuh, musik tradisi Afrika.</p>
<p>Sampai saat ini, sudah lebih dari 130 album diproduksi di bawah namanya. Aktif mulai pertengahan dekade 1970an, dengan banyak melibatkan diri ke dalam lingkungan <em>underground</em> musisi free jazz generasi kedua di New York yang muncul pada masa itu. Ada juga sebagian pihak yang menggambarkan lingkungan tersebut sebagai “loft generation”.  Lingkungan tersebut melahirkan musisi-musisi handal seperti <strong>Butch Morris, Arthur Blythe, Olu Dara, George Lewis, Henry Threadgill, Anthony Davis, Steve McCall, Fred Hopkins, Stanley Crouch </strong>dan masih banyak lagi.  “Ya, sebuah moment yang sangat menantang dalam karier saya. Ada satu dokumentasi penting berjudul “Wildflowers”, yang berisi para musisi hebat dalam generasi tersebut”, kata David Murray dalam sebuah kesempatan wawancara langsung via telepon bersama WartaJazz belum lama ini. Album yang ditunjuk adalah “Wildflowers: The New York Loft Sessions” (knitting Factory Works, 2000), koleksi 4 CD yang memuat para musisi free jazz “generasi kedua” di tahun 1976.</p>
<p>Memasuki  dekade 1980an, musik Murray lebih terkendali  dan ada sedikit lebih fokus kepada masalah komposisional.  Album-album Murray di masa ini banyak direkam di bawah label Black Saint dan DIW.  Limabelas tahun terakhir ini, Murray lebih banyak tinggal di Perancis dan mengembangkan perjalanan horison musikalnya dengan lebih banyak lagi menyentuh wilayah world music yang menjadi akar-akar budaya Afro Amerika.</p>
<p>Selain itu, perlu dicatat bahwa Murray juga adalah anggota inti dari sebuah kombo saxophone legendaris, <strong>World Saxophone Quartet</strong> bersama <strong>Julius Hemphill, Hamiet Bluiett </strong>dan <strong>Oliver Lake</strong>. Tidak ada lagi ruang musikal yang terbuka untuk berinteraksi atau bertukar ide dengan intens, mencakup berbagai gaya dan warna dalam musik jazz selain di formasi WSQ ini. Kelompok ini aktif dari tahun 1976 sampai sekarang dengan beberapa kali pergantian formasi setelah meninggalnya alto saxophonis flamboyan Julius Hemphill tahun 1995. “Formasi terakhir kami mengajak saxophonis muda berbakat <strong>James Carter</strong> dan melakukan beberapa konser keliling di Amerika dan Eropa bersama <strong>M’Boom</strong>, sebuah ensemble perkusi menarik yang dibentuk oleh drummer jazz legendaris <strong>Max Roach</strong>, baru-baru ini”, ujar David Murray.</p>
<p>Gaya khas style pribadinya sendiri berkesan gelap tetapi terasa sangat gagah, <em>powerful</em>, dalam, berbobot dan inten.  Dinamika improvisasi dan laju nadanya luar biasa. Tidak banyak saxophonis yang bisa melakukannya.  <em>Overblowing</em>, yang terkadang mencapai nada-nada yang tidak pernah dicapai oleh saxophonis tenor lainnya dan tidak terduga sebelumnya. Tidak ketinggalan, akar-akar spritual dan gospel  selalu menyertainya.</p>
<p>Adapun beberapa album pilihannya adalah “Flowers for Albert” (1976), “Ming” (1980), “Special Quartet” (1990), “Now Is Another Time” (2003) atau ketika bersama WSQ “Dances And Ballads” (1987). Sementara album terakhirnya adalah “The Devil Tried To Kill Me” (2009) dengan bintang tamu vokalis <strong>Taj Mahal</strong>. Album terakhir tersebut dikerjakan bersama <strong>The Gwo Ka Masters of Guadeloupe</strong>, sebuah formasi yang terinspirasi dari tradisi perkusi dan vokal diaspora Afrika di kawasan Karibia Amerika Tengah.  Di Java Jazz 2010, David Murray hadir dengan pendamping pianis muda berbakat <strong>Lafayette Gilchrist</strong> serta dua musisi segar dari lingkungan free jazz di Chicago, <strong>Jaribu Sahid</strong> (bass) dan <strong>Hamid Drake </strong>(drum). “Lafayette adalah pianis muda berbakat dan cerdas yang gaya permainannya mengingatkan saya kepada <strong>Thelonious Monk</strong> dan <strong>Don Pullen</strong>. Saya selalu menyukai para pianis, seperti yang pernah bermain bersama, <strong>Dave Burrell</strong> dan <strong>John Hicks</strong>. Mereka semua luar biasa”, kata Murray ketika mengapresiasi para pianis jazz.</p>
<p>“Penampilan di Jakarta dalam rangka AXIS Java Jazz Festival 2010 kali ini bagi saya adalah pertama kali dan sebuah kehormatan bisa menghibur para pecinta jazz di Indonesia. Di lain pihak, saya mengajak drummer luar biasa Hamid Drake untuk memperkaya warna musik saya”, jawaban Murray ketika ditanya kesan akan penampilannya di Indonesia.</p>
<p>Beberapa penghargaan yang pernah diperoleh antara lain Grammy Awards, Guggenheim Fellowship, Bird Awards, Danish Jazz Bar Prize dan Musician of the 80’s oleh Village Voice.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fopini-jazz%2F2010%2F03%2F05%2Fdavid-murray-merangkum-sejarah-jazz%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2010/03/05/david-murray-merangkum-sejarah-jazz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurasi Bandung World Jazz Festival 2009</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2009/11/26/kurasi-bandung-world-jazz-festival-2009/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kurasi-bandung-world-jazz-festival-2009</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2009/11/26/kurasi-bandung-world-jazz-festival-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 16:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Setiawan Basuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Jazz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=9223</guid>
		<description><![CDATA[Amerika menjadi tempat kelahiran aliran musik tersebut, akhir-akhir ini di dunia jazz ada pendapat atau klaim yang agak aksiomatis yaitu bahwa jazz saat ini tidak bertanah air.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2009/11/bdg-world-jazz-festival-09.jpg" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2009/11/bdg-world-jazz-festival-09.jpg" alt="" width="300" height="200" />Tidaklah berlebihan apabila saat ini jazz dikatakan sebagai aliran musik global, cukup flexible terhadap banyak situasi dan adaptif terhadap kemungkinan bunyi yang ada untuk bisa masuk kedalam lingkaran arus harmoni musik jazz. Jazz mengalami perjalanan secara organis dari Amerika ke berbagai belahan dunia, melalui mekanisme imigrasi dan emigrasi pula jazz mengalami pertukaran budaya melalui berbagai hal.</p>
<p>Amerika menjadi tempat kelahiran aliran musik tersebut, akhir-akhir ini di dunia jazz ada pendapat atau klaim yang agak aksiomatis yaitu bahwa jazz saat ini tidak bertanah air. Seandainya jazz adalah manusia maka dia telah menjadi stateless dan bukan lagi merupakan bagian dari sepotong sejarah. Dengan demikian jazz bukan lagi menjadi milik bangsa amerika. Amerika adalah hanya merupakan tempat lahir saja dimana selanjutnya jazz menjadi dinamis, saat ini tanah air jazz ada dimana-mana. Hal ini akan terus berlanjut karena musik terus mengalami revolusi dan evolusi.</p>
<p>Akan tetapi sebagai sebuah kenyataan sejarah dari perut jazz telah lahir aliran-aliran seperti: Rag time, tahun 1890-1915 dimana tahun-tahun tersebut merupakan jaman keemasan awal jazz lahir dengan birama 2/4 sebagai penanda musikalnya dan Scot Joplin menjadi orang paling penting untuk aliran ini. Berikutnya adalah Blues dimana vokal menjadi dominan karena ini awalnya merupakan afrikan folk music tahun 1890 awal kelahirannya dan mengkristal pada tahun 1910, bentuk yang paling terkenal adalah Memphis Blues pada tahun 1912, St Louis Blues 1914. Yang paling fenomenal adalah ketika album Besiie Smith terjual 1 juta copy. New Orleans Style lahir antara tahun 1900 hingga tahun 1917 disini terkenal dengan gaya dixiland, dengan musisi Ferdinand Jelly Roll Morton, Joseph king Oliver dll.</p>
<p>Swing merupakan perkembangan bentuk jazz berikutnya sekitar tahun 1920an masa keemasan aliran ini antara tahun 1935-1945. Dengan tokohnya Duke Ellington, Count Bassie, Benny Godman dengan sebutan The King of Swing. Be-bop merupakan perkembangan dari aliran jazz berikutnya, bebop merupakan bentuk pemberontakan kreatifitas pada improvisasi, penulisan aransemen dari bentuk swing. Bebop merupakan gaya yang sangat kompleks dari aliran sebelumnya dengan Charlie Parker sebagai tokoh utamanya. Pada tahun 1950 jazz mengalami banyak inovasi Coll Jazz adalah bentuk nyata dari inovasi tersebut, cool jazz merupakan lawan dari bentuk jazz sebelumnya. Laster Young, dan Stand Getz, Milles Davis, merupakan tokoh pada jaman ini.</p>
<p>Tahun 1960an muncul aliran free jazz dengan tokohnya yang paling terkenal yaitu Ornette Coleman dan John Coltrane. Free jazz banyak mengusung kebebasan gaya kompositoris dimana bentuk komposisi tidak terikat pada pakem jazz sebelumnya juga dalam hal improvisasi aliran ini banyak mengetengahkan improvisasi yang keluar dari kaidah baku improve. Jazz Rock barangkali merupakan aliran terakhir yang masuk kedalam jazz unsur hentakan musik rock dipadu dengan improvisasi jazz menjadi bagian paling dinamis pada gaya ini. Harbie Hancock, Miles Davies, Chick Corea, Joe Zawinul, Wayne Shorter merupakan orang yang paling giat mempopulerkan aliran ini. Jazz sebagai sebuah aliran ataupun gaya musikal telah pula mengalami sinkretisme dengan musik kontemporer, musik abad XX seperti tampak nyata pada karya-karya komponis besar seperti Stravinsky, Bella Bartok, Edgar Varese, Piere Boulez dll<br />
New World</p>
<p>Kurang lebih 2 abad yang lampau ketika seperangkat gamelan jawa di bawa ke perancis untuk sebuah expo, Debusy menyaksikan dengan seksama bagaimana gamelan itu dimainkan. Dia begitu terperangah dan kagum akan kekayaan harmoni dari gamelan tersebut, Debusy berpendapat, inilah musik sebenarnya, musik yang ia idam-idamkan harmony yang ia cita-citakan. Itulah musik sebuah dunia yang penuh misteri, kekaguman debusy tersebut paling tidak membuka cakrawala baru bagaimana musik (gamelan) tersebut telah memberikan pencerahan baru bagi dunia penciptaan musik di eropah. Cikal bakal bahwa dunia makin tak berbatas sebenarnya sudah dirasakan oleh Debusy, artinya ketika dia melihat gamelan dimainkan dia merasakan katarsis yang lain. Dia merasa ada di wilayah itu, gamelan menjadi wakil pikiran dan perasaan Debusy, sebenarnya inilah harmony yang ia idam idamkan.Bahasa bunyi yang dihasilkan gamelan sudah tidak lagi berbicara pada tataran teknis permainan belaka, ada semacam wilayah permainan yang sangat dalam yang tidak dapat ditemukan dimusik barat pada saat itu. Sayangnya perasaan itu hanya dimiliki oleh seorang Debusy, boleh jadi beliau lahir mendahului jamannya dengan kata lain ia terlalu cepat lahir.</p>
<p>Saat ini ketika semua serba mungkin, ketika teknologi berubah setiap saat, kemunculan hal-hal baru bukanlah sesuatu yang sulit. Informasi dengan mudah diakses. internet menjadi bagian keseharian, memiliki computer adalah kewajiban. Dunia menjadi tanpa batas, kejadian di belahan dunia yang lain dengan cepat diketahui oleh belahan lainnya. Kemajuan teknologi telah memudahkan seorang musisi untuk dapat menikmati, mengambil dan menggunakan semua persoalan musical yang terjadi pada musik di dunia yang lain untuk kemudian dipergunakan pada karya musiknya guna melahirkan sebuah karya musik (komposisi) baru. Akan tetapi persoalan kekaryaan tidak berhenti pada klepto harmony ataupun pemakaian simbol dan tanda-tanda musikal semata dari musik yang diambil. Ada semacam ketulusan sikap dan penjelajahan sangat dalam yang diperlukan untuk membangun sebuah citarasa musikal yang kemudian akan melahirkan sebuah komposisi baru.</p>
<p>Pengalaman dari Debusy diatas barangkali merupakan sepenggal contoh otentik bagaimana membangun atmosfer musical dari sebuah ketulusan sikap, dan wilayah musical yang paling memungkinkan untuk melakukan hal tersebut adalah genre musik jazz. Hal ini dikarenakan jazz merupakan aliran yang sangat flexsibel, terbuka dan adaptif. Sebagai sebuah aliran musik yang paling demokratis, jazz telah banyak mengalami perubahan,Jazz mengalami arus bolak-balik yang sangat kuat, apabila dahulu perhatian jazz tertuju pada Amerika sebagai kiblat jazz, maka saat ini bahkan sejak tahun 60an telah terjadi lintasan-lintasan kecil ketika orang/jazzer Amerika pergi keluar mencari bahan mentah baru untuk kemudian dikembangkan menjadi aliran baru, Asia menjadi tujuan musik timur ini menjadi magnet yang kuat, India, Tibet, Afganishtan, Bali menjadi padang perburuan Jazz.</p>
<p>Ravi Shankar, adalah contoh nyata dari perburuan tersebut, dimana Aldi Meola pernah menjadi lawan mainnya. Jango Reinhard gitaris dengan sentuhan gypsi dan saxophonis Norwegia Jan Garbareck adalah korban berikutnya dimana mereka dengan sukses memasukkan gaya musik tradisionil negaranya digunakan kedalam musik Jazz di Arus Jazz modern menjadi semakin semarak, orang luar menyerbu Amerika dengan segenap gaya jazz yang mengagetkan. Saat ini jazz bukan lagi refleksi sosial masyarakat kelas bawah, akan tetapi jazz telah berubah menjadi semacam forum demokrasi besar dimana setiap orang,setiap bangsa bebas menggaulinya Jazz menjadi semacam musik pembebasan, jazz menjadi semacam musik yang paling terbuka dan dinamis untuk sebuah dialog, instrumen menjadi alat dialog dalam jazz, peluang besar ini paling tidak telah ditangkap dengan jauh seperti oleh grup Krakatau dari Indonesia, Arto Moreira, Oumar Sousa,Tewa Novel dari Thailand, Krzystof Scieranski dari Polandia atau bahkan Subramanivan dari India mereka melakukan</p>
<p>Sinkretikme baru kedalam musik Jazz dengan mengawinkan harmoni musik tradisi masing-masing dengan harmoni jazz, keduanya tidak saling mengalahkan bahkan yang terjadi adalah munculnya bahasa musik yang unik sehingga lahirlah World Jazz. Dengan demikian jazz telah melahirkan sebuah dunia baru, dengan sebuah tatanan baru, tradisi baru .</p>
<p>Dengan mengusung tema A Voice Of the New World, Bandung World Jazz ingin mengajak musisi dan masyarakat pecinta musik untuk bersatu dalam satu kesamaan minat dan kepentingan membangun dunia tanpa batas dan sebuah peradaban baru.</p>
<p><strong>Oleh: Djaelani, Fasilitator musik di Jendela Ide, RMHR, Temasek Internasional School, Dosen Jurusan Musik UNPAS Bandung, Curator: Sabuga Jazz Fest 2008, Bandung World Jazz 2009.</strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fopini-jazz%2F2009%2F11%2F26%2Fkurasi-bandung-world-jazz-festival-2009%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2009/11/26/kurasi-bandung-world-jazz-festival-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jazz Goes To Campus  : Merawat Api Jazz</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2009/11/25/jazz-goes-to-campus-merawat-api-jazz/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=jazz-goes-to-campus-merawat-api-jazz</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2009/11/25/jazz-goes-to-campus-merawat-api-jazz/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 14:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Denny Sakrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Jazz Goes to Campus]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Jazz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=9092</guid>
		<description><![CDATA[Wow ! Saya cukup kaget ketika mengetahui bahwa penyelenggaraan ajang “Jazz Goes To Campus” yang tiap tahun digelar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia telah memasuki usia yang ke 32.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wow ! Saya cukup kaget ketika mengetahui bahwa penyelenggaraan ajang “Jazz Goes To Campus” yang tiap tahun digelar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia telah memasuki usia yang ke 32. Betapa tidak, sekelompok mahasiswa yang tujuan utamanya adalah menimba ilmu di kampus, toh masih bisa membagi konsentrasi dengan mengadakan sebuah kegiatan ekstra kulikuler yang tak gampang : mengadakan festival jazz. Dalam budaya pop, genre musik jazz memang agak sulit menembus selera massal. Dengan kompleksitas struktural musiknya yang cenderung eklektikal, jazz memang butuh tahap tertentu untuk memahaminya secara general. Setidaknya parameter inilah yang mungkin membuat jazz agak tersendat sendat dalam pola marketingnya. Dalam industri musik yang berkembang di Indonesia, jazz mungkin berada pada urutan kesekian dibanding jenis music lainnya yang lebih poppish dan populis.   Dengan setumpuk realita semacam itu, wajarlah jika kita mengangkat topi setinggi tingginya untuk civitas akademika Universitas Indonesia ini yang secara estafet dari generasi ke generasi untuk tetap memancangkan agenda jazz di pelataran kampus. Jelas ini merupakan sebuah stamina yang seolah tiada henti. Terus bergulir dan bergulir. Jazz Goes To Campus seolah sebuah kurikulum tak resmi yang menghias tembok kampus Univesitas Indonesia. Walaupun digagas oleh Fakultas Ekonomi, namun festival jazz ini memang menjadi milik kampus Universitas Indonesia.</p>
<p>Jazz Goes To Campus digagas oleh Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1978. Saat itu Candra Darusman dan rekan yang tengah terbuai jazz berupaya mewujudkan obsesi memainkan music jazz di suasana kampus. Di era itu musik jazz memang mendapat sedikit celah dalam industri musik pop. Walaupun celah itu tak menganga besar, namun memberi sedikit nuansa dalam industri  musik pop Indonesia. Beberapa album jazzy atau kerap diistilahkan sebagai pop jazz mulai terpampang di etalase music negeri ini. Jack Lesmana adalah sosok seniman jazz yang mulai menularkan benih-benihnya antara lain dengan merilis album “Api Asmara” yang dinyanyikan Rien Djamain pada tahun 1975. Ternyata upaya Jack Lesmana menuai sukses. Saat itu beberapa label rekaman mulai mengikuti jejak yang dirintis Hidayat Record, mulai dari Pramaqua, Atlantic Record hingga ke label raksasa seperti Remaco atau Purnama pun mulai memberanikan diri merilis album berlabel pop jazz atau jazzy. Seiring dengan terbukanya sedikit celah dalam industri musik untuk music jazz, bermunculan pula generasi baru jazz Indonesia seperti Elfa Secioria, Indra Lesmana hingga Candra Darusman. Sosok yang disebut terakhir malah menggelembungkan euphoria jazz di kampusnya sendiri,  Fakultas Ekonomi UI di Salemba. Candra Darusman dan kawan kawan memang tak bermuluk-muluk. Mereka hanya ingin mementaskan jazz di kampus. Dengan perangkat yang serba seadanya, mereka mulai menggelar jazz. Kegiatan ini ternyata men jadi sebuah kegiatan estafet yang terus dilakukan mahasiswa Ekonomi UI ini dari tahun ke tahun.</p>
<p>Jazz Goes To Campus bahkan dianggap sebaya dengan Festival Jazz Internasional tertua North Sea Jazz Festival yang berlangsung setiap tahun di Belanda. Para mahasiswa Ekonomi ini tampaknya memiliki konsistensi yang kukuh, disamping stamina yang luar biasa itu. Ketika sebuah ajang jazz bertaraf internasional dan dikelola secara professional JakJazz Festival sempat mati suri selama beberapa tahun, toh Jazz Goes To Campus tetap berkibar.</p>
<p>Memang tak sedikit yang mengkritik bahwa Jazz Goes To Campus hanyalah sebuah ajang tahunan yang terpaksa dipertahankan karena dianggap hanya mempertahabnkan sebuah ikon yang telah tercipta di balik tembok kampus UI. Tapi rasanya alangkah tak bijaksana kritikan tersebut, karena menurut saya ajang Jazz Goes To Campus ini memang merupakan semacam ajang penggodokan bagi para mahasiswa yang sesungguhnya tengah menuntut ilmu di kampus. Jazz Goes To Campus bisa jadi adalah kawah candradimuka bagi para mahasiswa yang dampaknya juga terasa bagi industri music di Indonesia, setidaknya untuk tetap menjaga keajegan konstelasi musik jazz itu sendiri.</p>
<p>Kritik lain yang mencuat bahwa ajang ini hanya sebatas hura-hura yang tidak memiliki gaung bagi musik jazz Indonesia. Bergerombolnya penonton di kampus Depok hanyalah sebuah arena hang out demi peningkatan status sosial bel;aka.  Saya pun merasa tudingan ini jelas tidak arif.   Meskipun sejujurnya hal-hal semacam itu memang terpampang jelas di depan mata kita saat berbaur dalam perhelatan tahunan itu.  Banyak penonton yang memilih untuk berbincang-bincang ketimbang menikmati komposisi jazz yang memiliki tingkat apresiasi yang relatif tinggi.  Namun di sisi lainnya, toh kepanitiaan temporer Jazz Goes To Campus tetap berupaya melakukan hal hal terpuji, semisal mengandakan Klinik Jazz yang menghadirkan beberapa pemusik jazz secara tutorial maupun awarding terhadap orang orang yang berjasa dalam mengembangkan dan mempertahankan jazz di Indonesia.  Stamina mereka , para mahasiswa ini,  jelas merupakan sumbu yang menjadi penghantar membaranya api jazz di negeri ini. Walaupun api jazz di negeri ini tak sebesar api jenis musik lainnya, namun toh jazz tetap menyala dan bersinar. Rasanya saying jika api itu padam.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fopini-jazz%2F2009%2F11%2F25%2Fjazz-goes-to-campus-merawat-api-jazz%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/opini-jazz/2009/11/25/jazz-goes-to-campus-merawat-api-jazz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

