<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wartajazz.com &#187; Profile</title>
	<atom:link href="http://www.wartajazz.com/category/profile/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wartajazz.com</link>
	<description>The Ultimate Jazz Source for Indonesian Jazz Lovers - Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz di Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 01:41:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>ERIC LEGNINI</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/profile/2011/06/12/eric-legnini/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=eric-legnini</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/profile/2011/06/12/eric-legnini/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jun 2011 21:18:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Setiawan Basuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Eric Legnini mengawali karirnya di pertengahan 90an dengan menjadi pianis dikelompok kwartet pimpinan Stefano Di Battista. Permainannya yang terbuka dengan gaya yang khas jazz, phrasing yang kaya, sensual dan mampu mengawinkan dengan melodi dan vokal, menjadikannya pasangan sempurna dan berharga bagi sang alto saksofonis. Dengan bekal swing dan hardbop pianis kelahiran Belgia 20 Pebruari 1970 [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://www.wartajazz.com/news/2011/06/04/eric-legnini-trio-indonesian-tour-2011/' rel='bookmark' title='Eric Legnini Trio Indonesian Tour 2011'>Eric Legnini Trio Indonesian Tour 2011</a> <small>Para pecinta Jazz Indonesia bersiaplah menikmati sajian jazz Eric Legnini...</small></li>
<li><a href='http://www.wartajazz.com/news/2011/06/05/serambi-jazz-juni-2011-berformat-mini-festival/' rel='bookmark' title='Serambi Jazz Juni 2011 berformat mini festival'>Serambi Jazz Juni 2011 berformat mini festival</a> <small>Selama dua Hari penggemar Jazz Indonesia berkesempatan menyaksikan Benny Likumahuwa...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Eric Legnini mengawali karirnya di pertengahan 90an dengan menjadi pianis  dikelompok kwartet pimpinan Stefano Di Battista.</p>
<p>Permainannya yang terbuka dengan gaya yang khas jazz, phrasing yang kaya,  sensual dan mampu mengawinkan dengan melodi dan vokal, menjadikannya pasangan  sempurna dan berharga bagi sang alto saksofonis.</p>
<p>Dengan bekal swing dan hardbop pianis kelahiran Belgia 20 Pebruari 1970 ini  tak butuh waktu lama untuk diperhitungkan di dunia jazz internasional.</p>
<p>Tahun 1990, Eric mendapat kepercayaan mengajar jazz piano di the Brussels Royal Conservatory of Music. Di tahun yang sama ia juga sempat masuk dalam film feature yang dibuat Belgian TV, yang menceritakan kehidupannya di Belgia dan Amerika Serikat.</p>
<p>Tahun 1994, <strong>Eric </strong>membuat sebuah komposisi untuk soundtrack  &#8220;Ombres et Lumières&#8221; sebuah film yang disutradarai Samy Brunet. .</p>
<p>Album pertamanya Essentials di release oleh label Igloo, Selepas itu Eric  memutuskan belajar di Amerika Serikat, saat itu usianya 18 tahun. Tinggal di New  York sekitar 2 tahun membuatnya tertarik pada kehidupan kosmopolis. Ia lantas  tertarik pada hal lain seperti rap dengan artis seperti Public Enemy dan  Ice-T.</p>
<p>Disela-sela waktunya, ia sempat pula mengambil beberapa kursus di Long Island  University bersama Richie Beirach.</p>
<p>Sebagai musisi jazz ia album yang dirilisnya antara lain Essentiels (Igloo),  Natural Balance (Jazz Club),<strong> </strong>Rhythm Sphere (Igloo),<strong> </strong>Antraigues (Quetzal), Miss Soul (Label Bleu) dan Big Boogaloo(Label  Bleu).</p>
<p>Sepanjang karirnya ia telah bekerjasama dengan sejumlah musisi kenamaan  seperti Flavio Boltro, Stefano Di Battista, Laurent Cugny, Eric Lelann, André  Ceccarelli dan lainnya.</p>
<p>Eric Legnini yang kini memiliki formasi Eric Legnini Trio mengajak dua  rekannya Franck Agulhon (drums) dan Mathias Allamane (bass). Mereka sempat tampil di <a href="../ticket/index.html" class="broken_link">Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival  2007</a> dan baru-baru ini tampil dalam dua kesempatan di CCF Bandung dan Goethe Institut Jakarta dalam rangka Serambi Jazz sekaligus Printemp Francaise atau Musim semi Perancis.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fprofile%2F2011%2F06%2F12%2Feric-legnini%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://www.wartajazz.com/news/2011/06/04/eric-legnini-trio-indonesian-tour-2011/' rel='bookmark' title='Eric Legnini Trio Indonesian Tour 2011'>Eric Legnini Trio Indonesian Tour 2011</a> <small>Para pecinta Jazz Indonesia bersiaplah menikmati sajian jazz Eric Legnini...</small></li>
<li><a href='http://www.wartajazz.com/news/2011/06/05/serambi-jazz-juni-2011-berformat-mini-festival/' rel='bookmark' title='Serambi Jazz Juni 2011 berformat mini festival'>Serambi Jazz Juni 2011 berformat mini festival</a> <small>Selama dua Hari penggemar Jazz Indonesia berkesempatan menyaksikan Benny Likumahuwa...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/profile/2011/06/12/eric-legnini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Michael Paulo</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/profile/2011/05/09/michael-paulo/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=michael-paulo</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/profile/2011/05/09/michael-paulo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 07:47:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Setiawan Basuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profile]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Paulo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=13326</guid>
		<description><![CDATA[Barangkali ia adalah saxophonist yang paling sering bertandang ke Indonesia setidaknya delapan tahun terakhir. Pria dengan pengalaman hampir dua puluh tahun dalam dunia pop, soul dan contemporary jazz atau lazimnya kita mengenal sebagai smooth-jazz. 

Related posts:<ol>
<li><a href='http://www.wartajazz.com/news/2011/05/08/kolaborasi-once-dan-michael-paulo-di-economics-jazz-ugm/' rel='bookmark' title='Kolaborasi Once dan Michael Paulo di &#8220;Economics Jazz&#8221; UGM'>Kolaborasi Once dan Michael Paulo di &#8220;Economics Jazz&#8221; UGM</a> <small>Sebuah kolaborasi unik bakal ditampilkan dalam konser jazz internasional BNI-Economics...</small></li>
<li><a href='http://www.wartajazz.com/news/2011/04/16/ugm-gelar-konser-jazz-internasional/' rel='bookmark' title='BNI-UGM Economic Jazz 2011 &#8211; kini berlabel Konser Jazz Internasional'>BNI-UGM Economic Jazz 2011 &#8211; kini berlabel Konser Jazz Internasional</a> <small>Untuk pertama kalinya, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Barangkali ia adalah saxophonist yang paling sering bertandang ke Indonesia setidaknya delapan tahun terakhir. Pria dengan pengalaman hampir dua puluh tahun dalam dunia pop, soul dan contemporary jazz atau lazimnya kita mengenal sebagai smooth-jazz.</p>
<p>Sebagian anda yang mungkin belum akrab dengan namanya, tak perlu khawatir dengan kualitasnya. Ia adalah saxophonist yang dipercaya oleh vokalis top Al Jarreau &#8211; selain juga mengiringi sejumlah penyanyi atau artis lain sebut saja James Ingram, trumpeter nomor wahid Rick Braun dan gitaris Peter White, vokalis Oleta Adams, Kenny Loggins, Patti Austin sampai musisi seperti Jeffrey Osborne, Jeff Lorber, David Benoit, Carl Anderson, Bobby Caldwell,  Johnny Mathis dan banyak lagi lainnya.</p>
<p>Paulo yang dibesarkan dilingkungan keluarga musisi &#8211; ayahnya seorang pianis, sang ibu adalah penyanyi serta saudaranya memainkan instrumen &#8211; meski agak telat mempelajari saxophone, ketika ia berusia 15 tahun &#8211; merupakan pemain horn pertama di band sekolahnya.</p>
<p>Ia memilih jalan hidup yang lebih menantang dengan bergabung bersama band  pop/rock Kalapana yang cukup populer di Jepang. Pada fase inilah ia merekam sebuah solo album dibawah Trio records yang kemudian membawanya pada sebuah kesempatan bekerjasama dengan pianist legendaris Herbie Hancock.</p>
<p>Paulo bertemu produser Robert Kraft yang membantunya mendapatkan kontrak dengan MCA Records. Album One Passion yang dirilis masuk dalam Top Ten hit dalam tanggal lagu Contemporary Jazz/NAC. Album Fusebox (1999) yang dilepas oleh GRP Records memasukkan namanya dalam Top 20 on Billboard&#8217;s Contemporary Jazz chart.</p>
<p>Sejak 1994 Paulo memutuskan mendirikan label miliknya sendiri bernama Noteworthy Records dan merilis album solo keempatnya lewat proyek Save the Children yang disusul My Heart and Soul (1996). Mudah diduga, album yang bercorak slamming funk dan  dreamy balladry ini juga masuk dalam top ten Smooth Jazz.</p>
<p>Sebuah kisah cinta yang berlanjut dengan Midnight Passion &#8211; gambaran dimana jejak karir Paulo terefleksi. Mengikuti selepasnya sebuah album Holiday Recording Sax for Christmas yang diganjar penghargaan “Hawaiian Grammy” Hoku Award untuk kategori Best Jazz CD of the Year.</p>
<p>Proyek Paulo tak terbatas pada hal diatas. Ia juag bekerjasama dan tampil dengan  Honolulu Symphony dan Asian American Symphonies. Ia juga terlibat dalam The Temecula Wine and Music Festival &#8211; yang memasuki tahun ke tujuh, diselenggarakan tanggal 30 April 2011 lalu &#8211; dan merupakan salah satu acara penting yang melibatkan banyak nama dalam dunia Smooth Jazz dan R&amp;B. Ia juga masih menjadi musical host untuk  Dolphin Days Music Festival di Hawaii, yang merupakan bagian dari acara amal bersama Shriners Hospital for Children.</p>
<p>Reputasi Michael Paulo mungkin menjadi salah satu alasan pula ia kerap di undang di acara Java Jazz Festival besutan Peter Gontha &#8211; bahkan terakhir mendapat kepercayaan sebagai Artist In Residence. Ia kerap pula menghibur Sultan of Brunei dan keluarga Kerajaan Thailand. Michael juga cukup populer di Jepang dan sudah sering bekerjasama bersama musisi negeri matahari terbit ini, sebut saja Namie Amuro, Eikichi Yazawa, Anrie, Mari Ijima, Globe dan lainnya.</p>
<p>Michael Paulo berkomentar, &#8220;Music is always going to evolve, and it&#8217;s up to the artist to respond gracefully to the changes. We don&#8217;t know what the music will sound like years from now, but no matter what, it will be based on what the people in the audience feel.&#8221;</p>
<p>STOP PRESS<br />
<a href="http://www.wartajazz.com/news/2011/05/08/kolaborasi-once-dan-michael-paulo-di-economics-jazz-ugm/"> Michael Paulo akan tampil dalam Economic Jazz UGM di Yogyakarta tanggal 14 Mei 2011</a></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fprofile%2F2011%2F05%2F09%2Fmichael-paulo%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://www.wartajazz.com/news/2011/05/08/kolaborasi-once-dan-michael-paulo-di-economics-jazz-ugm/' rel='bookmark' title='Kolaborasi Once dan Michael Paulo di &#8220;Economics Jazz&#8221; UGM'>Kolaborasi Once dan Michael Paulo di &#8220;Economics Jazz&#8221; UGM</a> <small>Sebuah kolaborasi unik bakal ditampilkan dalam konser jazz internasional BNI-Economics...</small></li>
<li><a href='http://www.wartajazz.com/news/2011/04/16/ugm-gelar-konser-jazz-internasional/' rel='bookmark' title='BNI-UGM Economic Jazz 2011 &#8211; kini berlabel Konser Jazz Internasional'>BNI-UGM Economic Jazz 2011 &#8211; kini berlabel Konser Jazz Internasional</a> <small>Untuk pertama kalinya, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/profile/2011/05/09/michael-paulo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ari Roland &#8211; Menghias malam jazz New York</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/profile/2011/02/11/ari-roland-menghias-malam-jazz-new-york/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ari-roland-menghias-malam-jazz-new-york</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/profile/2011/02/11/ari-roland-menghias-malam-jazz-new-york/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 23:45:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Niken Kinanti Suryanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=12612</guid>
		<description><![CDATA[Bassist Ari Roland mungkin perlu istirahat. Ia tampil dalam pertunjukan larut malam di kiblat musik Jazz, New York selama lima tahun tanpa henti. Ia telah mentranslasi suara kolektif dari para pemain bop dengan teknik Arco. 
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12617" class="wp-caption alignright" style="width: 510px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2011/02/ari-roland-quartet.jpg"><img class="size-full wp-image-12617" title="Ari Roland Quartet" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2011/02/ari-roland-quartet.jpg" alt="Ari Roland Quartet" width="500" height="333" /></a><p class="wp-caption-text">Ari Roland Quartet</p></div>
<p>Bassist  Ari Roland mungkin perlu istirahat. Ia tampil dalam  pertunjukan larut malam di kiblat musik Jazz, New York selama lima tahun  tanpa henti. Ia telah mentranslasi suara kolektif dari para pemain bop  dengan teknik Arco. Membungkuk diatas bahu double-bassnya, Roland  menggunakan bow untuk berimprovisasi laksana para peniup horn semiquaver  atau 16th notes, kadang pada tempo yang sangat tinggi.</p>
<p>&#8220;Saya akan mencoba bermain lebih banyak sebagaimana Charlie Parker  melakukannya,&#8221; kata Roland dalam sebuah wawancara di Greenwich Village.</p>
<p>Titik balik terjadi pada tahun 1999 selama Roland berlibur di Eropa. Ia menghabiskan 6 minggu yang kebanyakan dihabiskan di Hongaria dan Romania. Ketika berkeliling, Roland mendengarkan kaset rekaman musisi bop favoritnya di Sony Walkman. Musisi-musisi favoritnya antara lain saksofonis tenor <strong>Lester Young, </strong>salah satu suara yang paling orisinil dalam sejarah jazz. Dia menyadari bahwa rekaman Young setelah tahun 1945 menandingi kecerdasan Parker, hanya tanpa kecepatan cahaya. Dengan not-not yang relatif, Young dapat menciptakan pernyataan yang menyedihkan pada tempo pelan dan sedang. Roland berkesimpulan bahwa suasana hati Young, daripada tekniknya, memengaruhi isi solonya.</p>
<p>“Itu semua merupakan not kedelapan (dan) hampir tidak ada permainan yang lebih banyak,” kata Roland. “Itu terdengar dengan jelas. Namun itu bukan merupakan momen yang penting. Saya merasa saya dapat memainkan bagian-bagian yang lebih pendek, dan jika saya menempatkannya pada tempat yang tepat dan membuatnya menyenangkan, saya bisa memainkan serumit yang saya inginkan. Sebagian dari diri saya, sampai pada titik tertentu, merasa bahwa Anda harus dapat bermain serumit, se-menyenangkan, dan se-menantang yang Anda bisa setiap menit. Jika Anda hanya memainkan apa yang Anda rasakan, semua pengetahuan, teknik, dan yang lainnya akan hilang begitu saja.”</p>
<p>Basis Rufus Reid tak hanya menghargai potongan-potongan <em>arco</em> milik Roland, tetapi juga menghargai kemampuannya untuk memainkan ansambel tanpa menghiraukan siapapun yang sedang berada di panggung. “Ia tidak terlalu membutuhkan pianis atau gitaris atau dramer untuk membuatnya terjadi. Ia begitu cermat,” kata Reid, seorang mantan direktur program mata kuliah jazz dan pertunjukan William Paterson University. “Dan hal tersebut sungguh merupakan apa yang harus seorang basis lakukan. Ia akan terdengar begitu baik jika (musisi lain) tidak bermain.”.</p>
<p>Roland, 37 tahun, merupakan seorang dari sebuah kelompok kecil musisi yang telah mengangkat nama musik bop di New York. Roland secara rutin tampil bersama pianis Sacha Perry dan saksofonis Chris Byars dan Zaid Nasser. Roland belajar dengan pianis Barry Harris ketika mereka masih remaja, dan menambah pengalaman kepada para musisi ahli yang tidak diragukan lagi keahliannya, seperti pianis Frank Hewitt, saksofonis Charles Davis, Lou Donaldson, dan Clarence ‘C’ Sharpe, dan para dramer Leroy Williams, Vernell Fournier, dan Jimmy Lovelace. Kelompok jazz kecil di Greenwich Village meninggalkan penampilan terbaik untuk musik mereka, namun kini tempat pertunjukan di kota seperti Harris’ Jazz Cultural Theater di Chelsea dan University of the Streets di East Village menjadi hal yang juga penting.</p>
<p>Roland menuntut ilmu di Juilliard School selama masa SMA dan kuliahnya, dan saat itu ia belajar dengan Homer Mensch. Roland dikeluarkan dari Juilliard pada tahun 1991 untuk melakukan tur dengan vokalis Betty Carter dan Harry Connick Jr., dan pada tahun 1992 mengeluarkan debut rekamannya pada album Carter yang berjudul ‘It’s Not About the Melody’. Sejak tahun 2004, Roland telah merilis lebih dari selusin album dari label Small records, termasuk dua album yang berjudul <em>Sketches from a Bassist’s Album</em> (2006) dan <em>And So I Lived in Old New York</em> (2007); album Roland berikutnya dirilis pada musim semi ini.</p>
<p>Bass Roland merefleksikan ketertarikannya pada era musik bop: ia menggunakan senar yang terbuat dari usus hewan pada 1930s Juzek, dan bermain tanpa menggunakan amplifier. Ia memprediksi suatu kelahiran kembali musik bop, menyatakan bahwa akan ada gelombang bakat dari seluruh dunia: seorang pianis dari Armenia, dramer dari Austin, dan sebagainya. “Saya merasa jika kita tetap menjaga kebersamaan, tetap positif, dan tetap tekun,” kata Roland, “maka kita akan memiliki sebuah era emas kecil. Saya tidak pernah berpikir bahwa ada banyak anak muda yang menggilai musik yang amat kita cintai.”.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fprofile%2F2011%2F02%2F11%2Fari-roland-menghias-malam-jazz-new-york%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/profile/2011/02/11/ari-roland-menghias-malam-jazz-new-york/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Charlie Haden, “Risk your Life for Every Note &#8230; “</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/festival/2011/02/09/charlie-haden-%e2%80%9crisk-your-life-for-every-note-%e2%80%9c/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=charlie-haden-%25e2%2580%259crisk-your-life-for-every-note-%25e2%2580%259c</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/festival/2011/02/09/charlie-haden-%e2%80%9crisk-your-life-for-every-note-%e2%80%9c/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 17:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ceto Mundiarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=12592</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah totalitas dalam berkarya sudah dibuktikan Charlie Haden sejak lebih dari 50 tahun lalu tanpa diragukan lagi serta puluhan penghargaan pun sudah ada dikantongnya.  Pastinya, kalau mengamati para pemain bass dalam kancah musik jazz, Charlie Haden mempunyai karakter yang mencolok, khas dan tiada duanya.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12593" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2011/02/Charlie-Haden1.jpg"><img class="size-medium wp-image-12593" title="Charlie Haden1" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2011/02/Charlie-Haden1-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a><p class="wp-caption-text">source: vervemusicgroup</p></div>
<p>Sebuah tip untuk para musisi muda dari bassis jazz legendaris Charlie Haden, tentang bagaimana filosofi dalam bermain musik.  “Saya mendidik mereka untuk bermain dalam level kebebasan, keindahan, bermain seolah mempertaruhkan seluruh hidupnya dalam setiap nadanya.  Bagai tampil berada di depan. Saya selalu menanamkan mereka agar menjadi orang yang berhasil”, ungkapnya dalam sebuah wawancara bersama majalah Downbeat.</p>
<p>Charlie Haden, orang kelahiran Shenandoah 1937 ini sangat berperan dalam memperkaya peta jazz modern bersama saxophonis <strong>Ornette Coleman</strong> di era akhir dekade 1960an. Tidak itu saja, dia juga memberikan semangat baru dalam perkembangan dunia bass dalam musik jazz. Bagaimana dia menjadi <em>timekeeper</em> tulen. Dengan karakter suara bassnya yang beresonansi gelap dan warna yang membumi , dia mampu meliuk-liukan, membentangkan denyut dalam renik-renik suara nada-nada rendah yang akhirnya bisa memutarbalikkan sebuah kelaziman dan patokan menjadi relatif dan lentur. Dalam bahasa yang sering diucapkan para musisi, “mainnya sudah out”. Hebatnya lagi, dia tidak pernah lupa perannya sebagai seorang bassis.</p>
<p>Haden tumbuh di lingkungan keluarga pecinta musik sehingga dalam waktu yang masih sangat muda sudah mencoba untuk menjadi musisi profesional, meski sebagai penyanyi. Karena terkena folio yang menyerang tenggorokannya, kariernya sebagai penyanyi menjadi terhambat.  Haden melirik ke instrumen bass milik saudaranya dan mulai tertarik dengan musik jazz. Bicara tentang tradisi keluarga musikal ini tetap dipertahankan Haden sampai sekarang. Terbukti bersama putra-putrinya menggarap album “Family and Friends: Rambling Boy” (2008) dengan menggarap musik bluegrass dan Americana.  Album ini bahkan masuk nominasi Grammy Award.</p>
<p>Selepas tahun 1957, Haden pindah ke Los Angeles dan bergabung dengan pianis Elmo Hope, Hampton Hawes, Paul Bley dan saxophonis Art Pepper. Bagaikan terlempar dengan ketapel, karier Haden semakin melesat ketika bergabung dengan Ornette Coleman. Bersama quartet salah seorang pelopor style free jazz tersebut, peran Haden sebagai seorang bassis mampu menyesuiakan dengan konsep Harmolodic dari Coleman di mana dalam hal ini peran bass bisa tampil mandiri tanpa tergantung dengan instrumen lain. Sebuah kesempatan yang memang sebelumnya telah diimpikan oleh Haden sendiri.  “<em>I know before I met Coleman, sometimes I would have a feeling when it came time for the bass solo not to play on the chord changes. Sometimes I want to play on the feeling on the piece</em>”, ungkap Charlie Haden dalam booklet album milik Ornette Coleman “Beauty is A Rare Thing” (Atlantic, 1994). Sebuah album box set koleksi lengkap Ornette Coleman Quartet klasik 1959 – 1961. Kerja samanya bersama Ornette Coleman sampai sekarang juga masih tetap berlanjut.</p>
<div id="attachment_12594" class="wp-caption alignright" style="width: 217px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2011/02/Charlie-Haden2.jpg"><img class="size-medium wp-image-12594" title="HADEN, CHARLIE" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2011/02/Charlie-Haden2-207x300.jpg" alt="" width="207" height="362" /></a><p class="wp-caption-text">source: sbccfilmreviews</p></div>
<p>Selepas dari Quartet tersebut, Charlie Haden banyak terlibat dalam beberapa proyek musik para eksponen free jazz di era 1960an seperti Don Cherry (sahabatnya sejak bersama Ornette Coleman), John Coltrane, Archie Shepp atau pun Roswell Rudd. Selain itu sejak tahun 1967, Haden bergabung dengan Keith Jarrett trio bersama drumer Paul Motian dan beberapa tahun berikutnya bertambah saxophonis Dewey Redman. Formasi ini dikenal sebagai “American Quartet”nya Keith Jarrett dan bertahan sampai tahun 1977. Tiga puluh tiga tahun berikutnya, keluar album duet reuni yang penuh kehangatan antara Jarrett dan Haden “Jasmine” (ECM, 2010).</p>
<p>Kesempatan solo karier bagi Haden sendiri muncul ketika membentuk orkestra bersama komposer/pianis Carla Bley, Liberation Music Orchestra pada tahun 1969 sekaligus mengeluarkan album dengan judul yang sama dengan nama orkestra tersebut.  Orkes yang luar biasa ini syarat dengan eksplorasi free jazz dalam bentuk big band serta menjadi ekspresi politis Haden melalui musik tentang kolonialisasi di era modern.  Dengan beberapa pergantian personil, LMO kembali hadir dalam album “The Ballad of the Fallen” (ECM, 1982), “Dream Keeper” (Blue Note, 1990), “The Montreal Tapes” (Verve, 1994) dan “Not in Our Name” (Verve, 2005). Album terakhir tersebut sebagai ungkapan protes Haden terhadap kebijakan luar negeri George W Bush dalam penyerangan ke Afganistan dan Irak.</p>
<p>Tahun 1976, Haden sempat bereuni  bersama sahabat-sahabat lamanya, Don Cherry, Dewey Redman dan Ed Blackwell dengan membentuk Old and New Dreams yang sempat mengeluarkan beberapa album juga. Selain itu, Charlie Haden tampil dalam ratusan album para tokoh jazz lainnya dari Joe Henderson, Chet Baker, Jan Garbarek, Pat Metheny, Michael Brecker, Elvis Costello, Ringo Starr dan masih banyak lagi. “<em>I’m in Heaven &#8230;</em> “, ucapan tersebut diulang-ulang Haden ketika mendapat kesempatan tampil bersama lagi dengan sahabat-sahabat lamanya ketika konsernya di Montreal Jazz Festival tahun 1989 selama beberapa malam. Kesempatan itu diabadikan dalam serial “The Montreal Tapes” oleh label Verve dan ECM</p>
<p>Ada satu formasi yang sampai saat ini terus bertahan dan mempunyai ciri khusus yaitu Charlie Haden Quartet West.  Haden bersama Ernie Watts (saxophone), Alan Broadbent (piano) dan Biily Higgins atau Larance Marable (drum) pada tahun 1986 sepakat untuk membentuk Quartet West yang memang didedikasikan dengan menampilakan koleksi-koleksi jazz standard dan pop di masa lalu. Mereka tampil dengan improvisasi melodi yang indah, lirikal dan mudah dinikmati dengan tetap menonjolkan daya improvisasi yang kuat. Dengan beberapa kali pergantian pemain namun tetap mempertahankan pemain inti bersama Watts, Quartet West sampai sekarang sudah menghasilkan sedikitnya 10 album. Terakhir, di awal 2011 ini keluar album “Sophisticated Ladies” dengan menghadirkan beberapa vokalis jazz terkenal Norah Jones, Melody Gardot, Diana Krall maupun Renee Fleming.</p>
<p>Sebuah totalitas dalam berkarya sudah dibuktikan Charlie Haden sejak lebih dari 50 tahun lalu tanpa diragukan lagi serta puluhan penghargaan pun sudah ada dikantongnya. Termasuk Grammy Award yang menunjuk album duet cantiknya bersama Pat Metheny “Beyond The Missouri Sky” (Verve, 1994) dan “Nocturne” (Verve, 2001).  Pastinya, kalau mengamati para pemain bass dalam kancah musik jazz, Charlie Haden mempunyai karakter yang mencolok, khas dan tiada duanya.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Ffestival%2F2011%2F02%2F09%2Fcharlie-haden-%25e2%2580%259crisk-your-life-for-every-note-%25e2%2580%259c%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/festival/2011/02/09/charlie-haden-%e2%80%9crisk-your-life-for-every-note-%e2%80%9c/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Martin Jacobsen – Saxophonis</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/profile/2010/11/02/martin-jacobsen-saxophonis/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=martin-jacobsen-saxophonis</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/profile/2010/11/02/martin-jacobsen-saxophonis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 14:53:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Setiawan Basuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profile]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Jacobsen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=11880</guid>
		<description><![CDATA[Lahir di Kopenhagen, Denmark, Martin mulai memainkan tenor saxophone dalam usia yang relatif telat, sekitar 19 tahun didorong oleh ekspresi bermusik setelah mendengarkan jazz sekitar setahun terutama Miles Davis group bersama John Coltrane dari era 1950-an. Ia bakal tampil di Black Cat Senayan Jakarta.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lahir di Kopenhagen, Denmark, Martin mulai memainkan tenor saxophone dalam usia yang relatif telat, sekitar 19 tahun didorong oleh ekspresi bermusik setelah mendengarkan jazz sekitar setahun terutama Miles Davis group bersama John Coltrane dari era 1950-an.</p>
<p>Ia menerima beberapa pelajaran dari tenorist Tomas Franck, namun kebanyakan ia belajar sendiri.<em> &#8220;It isn&#8217;t always the best way to learn because you can make mistakes, do things wrong and then you have to waste time correcting bad technique. But also, doing it the hard way, you can make discoveries. You definitely find out what is really important&#8221;, ujarnya.<br />
</em></p>
<p>Sepanjang 1990-an, Martin bekerja sama dengan sejumlah musisi jazz muda berbakat dari Kopenhagen dan terdengar bermain bersama Bust&#8217;n Bloopers Big Band termasuk Bob Mintzer dan mendirikan quartet bersama guitarist <strong>Jacob Fischer </strong>tahun 1993.</p>
<p>Pada 1995, ia mendapat saran dari saxophonist Bob Rockwell agar ia pindah ke New York atau Paris. Martin rupanya terdampar dikota &#8220;Paree&#8221; dan sejak saat itu ia memiliki kesempatan tampil dan bermain bersama Doug Raney, Bobby Durham, David Sanborn, Gil Goldstein, Rick Hollander, Jesse van Ruller, James Genus, Gene Lake, Ricky Peterson, Richard Patterson, Niels-Henning Ørsted Pedersen, Antonio Farao, Alain Jean-Marie, Patrick Villanueva, Greg Burk dan dan banyak lainnya baik dalam CD, show di televisi maupun konser.</p>
<p>Martin Jacobsen kini tinggal di Paris, namun kesibukannya membawanya keliling Europa dan luar negeri. Sejumlah negara yang sudah disambanginya antara lain Italy, Inggris, Portugal, Jerman, Macedonia, Albania, Skotlandia, Korea Selatan, Mozambique, Swiss, Spanyol, Hungaria, Belanda, Kanada dan Lebanon dan tentu saja Denmark.</p>
<p>Selain banyak terlibat dipelbagai proyek dalam posisi sideman atau leader, Martin Jacobsen juga bermain bersama David Sanborn dan bannya. Mereka tampil di berbagai festival jazz kenamaan di Eropa seperti North Sea Jazz, Montreux Jazz Festival, Berliner Festspielhaus, New Morning di Paris, Barbican Hall di London dan lainnya, memainkan musik dari album Sanborn yang dirilis dibawah Decca Records, &#8220;Here &amp; Gone&#8221;.</p>
<p>Martin dijadwalkan tampil di Black Cat Senayan Jakarta pada 14 November 2010 bersama Trio-nya.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fprofile%2F2010%2F11%2F02%2Fmartin-jacobsen-saxophonis%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/profile/2010/11/02/martin-jacobsen-saxophonis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Giancarlo Maurino Djanian</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/profile/2010/10/28/giancarlo-maurino-djanian/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=giancarlo-maurino-djanian</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/profile/2010/10/28/giancarlo-maurino-djanian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Oct 2010 07:56:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Setiawan Basuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=11837</guid>
		<description><![CDATA[Ia adalah seorang peniup saxophone tapi bisa pula memainkan berbagai instrumen lainnya. Komposer dan arranger ini lahir di Kuwaitdan tinggal di Saudi Arabia hingga usia 8 tahun sebelum pindah ke Italia. Ayahnya dari Itali sedang sang ibu dari Armenia.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ia adalah seorang peniup saxophone tapi bisa pula memainkan berbagai instrumen lainnya. Komposer dan arranger ini lahir di Kuwaitdan tinggal di Saudi Arabia hingga usia 8 tahun sebelum pindah ke Italia. Ayahnya dari Itali sedang sang ibu dari Armenia.</p>
<p>Awalnya ia belajar piano lalu pindah ke flute dan saxophone (soprano, alto dan tenor).  Di era 70-an ia telah berpartisipasi dalam sejumlah acara jazz penting seperti Umbria Jazz, Ravenna Jazz, Pescara Jazz, bekerjasama dengan beberapa musisi seperti  Enrico Pierannunzi, Enrico Rava, Phil Woods, Don Cherry, Maurizio Giammarco, Danilo Rea, Rita Marcotulli, Giovanni Tommaso. Pada tahun 1976 ia rekaman bersama Charles Mingus untuk soundtrack film &#8220;Todo modo&#8221;.</p>
<p>Sebagai peniup saxophone yang digemari, ia kerap diminta rekaman dengan sejumlah maestro sebut saja Armando Trovajoli, Piero Piccioni, Ennio Morricone, Riz Ortolani, Pino Donaggio dan lainnya. Ia juga menjadi tamu dibeberapa album musisi pop seperti Gianni Morandi, Renato Zero, Di Capri.</p>
<p>Ia tak membatasi pada satu jenis musik, tapi mengeksplorasi banyak genre lain karena keinginan untuk mencari sound yang baru. Mulai dari 1994 ia muncul diberbagai konser maupun televisi bersamaElza Soares dan Roberto Taufic.</p>
<p>Ia juga tampil dalam format duo dan quartet bersama Dick Halligan yang tak lain adalah co-founder of  Blood, Sweat &amp; Tears &#8211; seorang pemenang grammy awards. Dua CD yang sudah direkamnya akan segera dipublikasikan “Untold” bersama  pianis Rita Marcotulli dan “ Um abraço no Jobim” bersama Roberto Taufic, Edu Hebling dan drummer Roberto Rossi.</p>
<p>Saat ini ia sedang merencanakan workshop dibidang Music-Nature-Body yang terletak di Jervis ski lodge berlokasi di atas  Val Pellice, Italia.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fprofile%2F2010%2F10%2F28%2Fgiancarlo-maurino-djanian%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/profile/2010/10/28/giancarlo-maurino-djanian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panca Tan Matra tampilkan Toninho Horta dan Dwiki Dharmawan di Bali</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/profile/2010/10/26/panca-tan-matra-tampilkan-toninho-horta-dan-dwiki-dharmawan-di-bali/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=panca-tan-matra-tampilkan-toninho-horta-dan-dwiki-dharmawan-di-bali</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/profile/2010/10/26/panca-tan-matra-tampilkan-toninho-horta-dan-dwiki-dharmawan-di-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 13:46:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Setiawan Basuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profile]]></category>
		<category><![CDATA[Barry Likumahuwa]]></category>
		<category><![CDATA[demas narawangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Dira J. Sugandhi]]></category>
		<category><![CDATA[dwiki dharmawan]]></category>
		<category><![CDATA[I Nyoman Sura]]></category>
		<category><![CDATA[ivan nestorman]]></category>
		<category><![CDATA[Nyoman Windha]]></category>
		<category><![CDATA[Toninho Horta]]></category>
		<category><![CDATA[Warih Wisatsana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=11838</guid>
		<description><![CDATA[Panca Tan Matra ada kolaborasi kreatif menggabungkan Suara, Rupa dan Kata. Digelar di Museum Rudana Ubud Bali menghadirkan Dwiki Dharmawan, Nyoman Windha, I Nyoman Sura, Warih Wisatsana, plus Toninho Horta dari Brazil.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak banyak publikasi yang disebarluaskan mengenai acara ini. Memang waktu persiapannya pun terbilang singkat. Acara yang digelar di Museum Rudana Ubud Bali, Rabu 13 Oktober 2010 ini tapi tetap digarap serius. Tak kurang sejumlah artis berkolaborasi kreatif menggabungkan Suara, Rupa dan Kata dalam konser bertajuk <strong>Panca Tan Matra</strong>.</p>
<div id="attachment_11877" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/10/bali-toninho-horta-dwiki-rudana.jpg"><img class="size-full wp-image-11877" title="Putu Rudana, Toninho Horta dan Dwiki Dharmawan saat menandatangani Prasasti" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/10/bali-toninho-horta-dwiki-rudana.jpg" alt="Putu Rudana, Toninho Horta dan Dwiki Dharmawan saat menandatangani Prasasti" width="450" height="301" /></a><p class="wp-caption-text">Putu Rudana, Toninho Horta dan Dwiki Dharmawan saat menandatangani Prasasti</p></div>
<p><strong>Putu Supadma Rudana</strong>, direktur museum memaparkan bahwa konser tersebut digagas karena kesadaran bahwa belakangan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan negara Indonesia sedikit terlupakan akibat banyaknya benih-benih perpecahan yang timbul karena sejumlah kepentingan, ketegangan mayoritas versus minoritas, prasangka dan praduga yang berujung pada kesalahpahaman tak berkesudahan.</p>
<p>Diundanglah <strong>Dwiki Dharmawan</strong>, pianis pentolan Krakatau dan penggagas World Peace Orchestra bersama <strong>Nyoman Windha</strong>, musisi asal Bali yang merintis <em>JES (Jegog dan Semar Penggulingan) Gamelan Fusion</em> yang mengkolaborasikan jegog dengan instrumen musik modern. Diajak pula <strong>I Nyoman Sura</strong>, penari sekaligus koreografer yang kini menjadi pengajar di Institut Seni Indonesia, Denpasar. Bergabung <strong>Warih Wisatsana</strong>, penyair yang pernah meraih Bung Hatta Award dan sejumlah penghargaan lain. Kolaborasi diatas dipercantik dengan hadirnya <em>Brazillian Guitarist Ambassador</em>, <strong>Toninho Horta </strong>yang tiba sehari sebelumnya dari sebuah pertunjukan di Jepang.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penampilan Dwiki Dharmawan turut dibackup sejumlah musisi berbakat negeri ini. Diantaranya <strong>Demas Narawangsa </strong>(drums), <strong>Barry Likumahuwa </strong>(bass), <strong>Ivan Nestorman </strong>(vokal) dan <strong>Dira J. Sugandhi </strong>(vokal) serta <strong>Rio Sidik </strong>(trumpet). <strong>Philippe Ciminato</strong>, perkusionis asal Perancis yang sedang bertandang ke Bali turut melengkapi <em>line-up </em>ini. Meski tanpa latihan permainan mereka membuat tepuk tangan tak pernah berhenti seusai mereka memainkan komposisi-demi-komposisi.</p>
<div id="attachment_11876" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/10/bali-toninho-horta.jpg"><img class="size-full wp-image-11876" title="Toninho Horta saat tampil di Panca Tan Matra" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/10/bali-toninho-horta.jpg" alt="Toninho Horta saat tampil di Panca Tan Matra" width="450" height="301" /></a><p class="wp-caption-text">Toninho Horta saat tampil di Panca Tan Matra</p></div>
<p>Toninho Horta yang belum pernah bertemu dengan Dwiki Dharmawan sebelumnya pun merasa gembira dengan line-up yang disodorkan oleh panitia. Terbukti line-up ini pula yang ditampilkan di 3rd Asean Jazz Festival dua hari setelah pertunjukan Panca Tan Matra.</p>
<p>Mereka membawakan sejumlah lagu antara lain<em> Spirit of Peace, Benggong, Lamalera </em>yang diambil dari album terakhir Dwiki Dharmawan WPO. Sementara saat tampil bersama Toninho Horta, mereka tampil membawakan beberapa lagu standard seperti<em> Mas Que Nada</em>. Lagu <em>Aquelas Coisas Todas</em> dan <em>For my Children </em>menjadi penutup konser yang berlangsung sekitar satu setengah jam tersebut.</p>
<p>Seusai acara, Toninho Horta, Dwiki Dharmawan dan Putu Supadma Rudana menandatangani Prasasti berupa sebuah batu besar yang berada tepat dibagian depan Museum Rudana, sehingga jika anda berkesempatan mampir ke museum yang terletak di Ubud ini anda akan melihat prasasti tersebut.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fprofile%2F2010%2F10%2F26%2Fpanca-tan-matra-tampilkan-toninho-horta-dan-dwiki-dharmawan-di-bali%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/profile/2010/10/26/panca-tan-matra-tampilkan-toninho-horta-dan-dwiki-dharmawan-di-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manu Codjia</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/profile/2010/10/23/manu-codjia/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=manu-codjia</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/profile/2010/10/23/manu-codjia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Oct 2010 03:30:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Setiawan Basuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=11823</guid>
		<description><![CDATA[Manu Codjia lahir 25 25, 1975 di Chaumont. Ia dikenalkan pada musik khususnya instrumen piano oleh sang nenek. Waktu berusia 10 tahun ia belajar di gitar klasik selama dua tahun, dan ditempat ini ia menemukan jazz lewat sang guru Francis Arnold. 
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11826" class="wp-caption alignright" style="width: 360px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/10/manu-codja.jpg"><img class="size-full wp-image-11826" title="Manu Codja" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/10/manu-codja.jpg" alt="Manu Codja" width="350" height="443" /></a><p class="wp-caption-text">Manu Codja</p></div>
<p>Manu Codjia lahir 25 25, 1975 di Chaumont. Ia dikenalkan pada musik khususnya instrumen piano oleh sang nenek. Waktu berusia 10 tahun ia belajar di gitar klasik selama dua tahun, dan ditempat ini ia menemukan jazz lewat sang guru Francis Arnold.</p>
<p>Kepergiannya ke Paris saat berusia 18 tahun menandai era baru karir musiknya. Setahun setelah belajar di CIM, ia mendapatkan kelas jazz di Paris Conservatoire dengan para pengajar seperti François Jeanneau Jean-François Jenny-Clark, Hervé Sellin, Daniel Humair and François Théberge. Dalam tahun-tahun tersebut ia berkawan baik dengan sejumlah murid seperti Christophe Monniot, Matthew Donarier, Georgi Kornazov Johan Renard, Thomas Grimmonprez Joe Quitzke, Linley Marthe, Emil Spanier, Jerome Rake.</p>
<p>Ia merampungkan studinya pada akhir 1998 dan meraih peringkat pertama. Ia juga memenangkan penghargaan Jazz Soloist Competition tahun 99 dan aktif bersama sejumlah grup seperti  Mathieu Donarier Trio, the Spice Bones dan Georgi Kornazov 5tet, Dr. Knock and Alerta billion in 2001.</p>
<p>Banyak artis kemudian meminta keikut sertaannya dalam penampilan mereka. Beragam konser dan tour keliling membawanya dari Eropa hingga Amerika Serikat, melewati Iran, Afrika Selatan sampai Mexico. Ia pun berkesempatan tampil dengan Louis Sclavis, Pat Metheny, Michel Portal, Aldo Romano, Tony Malaby, Anthony Cox, Marc Ducret, David Linx, Bruno Chevillon, Adam Nusbaum, Miroslav Vitous. Pengalaman panggung ini memberikan kekayaan pada penampilannya yang mampu menggabungkan Jazz dengan ragam pengaruh musik lain seperti rock, blues, electro dan reggae).</p>
<p>Kemampuannya sebagai seorang side-man yang baik akhirnya terakumulasi dalam pengalaman pertamanya sebagai leader dimana ia membuat album perdana &#8220;Songlines&#8221; tahun 2006 dibawah label Bee Jazz bersama Daniel Humair dan Francois Moutin.</p>
<p>Rekam jejaknya bisa ditemukan pula dalam sejumlah album antara lain:</p>
<ul>
<li> Christian Lete 4tet Cinque Terre &#8211; CHARLOTTE RECORDS 2001</li>
<li>Erik Truffaz &#8220;Mantis&#8221; &#8211; BLUE NOTE 2001</li>
<li>Georgi Kornazov 5tet &#8220;Staro Vreme&#8221; &#8211; YOLK 2000</li>
<li>Spice Bones &#8211; THE Licheri Monio</li>
<li>Mania &#8220;Princess Fragile&#8221; &#8211; What&#8217;s New Doctor</li>
<li>Daniel Humair 2002</li>
<li>Baby Boom &#8211; Sketch Dr Knock &#8211; Chief Inspector Durand d&#8217;Avril 2003</li>
<li>&#8220;Latex Minibus&#8221; 2003</li>
<li>Erik Truffaz &#8211; &#8220;Salwa&#8221;-Blue Note</li>
<li>Georgi Kornazov &#8220;Essence de Rose&#8221; Crystal Records 2004</li>
<li>Henri Texier (v) drunk &#8220;- Label Bleu</li>
<li>Matthew Donarier Trio Optic Topic</li>
<li>&#8220;Yolk-2004 Durand d&#8217;Avril&#8221;</li>
<li>Norma Plaster &#8220;2006 Erik Truffaz&#8221;</li>
<li>Face to Face Blue Note 2006</li>
<li>Wallemme Christophe &#8220;Namaste&#8221; Bee Jazz 2006</li>
<li>Henri Texier Strada Sextet &#8220;Water Alert&#8221; Blue Label 2006</li>
<li>MonioMania &#8220;2&#8243; BMC 2006</li>
<li>Manu Codjia &#8220;Songlines&#8221; Bee Jazz 2007</li>
</ul>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fprofile%2F2010%2F10%2F23%2Fmanu-codjia%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/profile/2010/10/23/manu-codjia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Chris &#8216;Bugshot&#8217; Strik</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/profile/2010/05/14/chris-bugshot-strik/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=chris-bugshot-strik</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/profile/2010/05/14/chris-bugshot-strik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 01:27:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Setiawan Basuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10636</guid>
		<description><![CDATA[Chris 'Bugshot' Strik lahir di Breda 1967 dari keluarga musisi. Ia mulai memainkan akordeon saat berusia 6 tahun, tapi tak lama ia beralih ke instrumen drum. Di usia belia ia telah berlatih serius.
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10667" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/05/chris-bugshot-strik.jpg"><img class="size-full wp-image-10667" title="Chris 'Bugshot' Strik saat tampil di Miri Jazz Festival 2010" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/05/chris-bugshot-strik.jpg" alt="Chris 'Bugshot' Strik saat tampil di Miri Jazz Festival 2010" width="500" height="336" /></a><p class="wp-caption-text">Chris &#39;Bugshot&#39; Strik saat tampil di Miri Jazz Festival 2010</p></div>
<p>Chris &#8216;Bugshot&#8217; Strik lahir di Breda 1967 dari keluarga musisi. Ia mulai memainkan akordeon saat berusia 6 tahun, tapi tak lama ia beralih ke instrumen drum. Di usia belia ia telah berlatih serius.</p>
<p>Tahun 1986 ia belajar di Conservatory di Utrecht dan lulus dengan nilai sangat memuaskan pada tahun 1992/1993. Ia belajar drum dari David Weiss dan Gerhard Jeltes, namun mengikuti berbagai kelas lain seperti harmoni, piano dan sejarah. Dalam kesempatannya belajar ditempat ini, ia bertemu dan menggali ilmu dari musisi besar seperti Miroslav Vitous dan Georgie Fame. Ia pun bermain dengan Metropole Orchestra dari Hilversum.</p>
<p>Chris pernah bermain dengan Dee Dee Bridgewater kurang lebih enam tahun selain tampil pula bersama sejumlah band lain termasuk diantaranya Buzz bros band, Fernando Lewis, Rob van Bavel 3, Amina Figarova. Daftar itu akan lebih panjang lagi jika kita menyebut sejumlah nama seperti Hein van de gein, Deborah Brown, Kenny Wheeler, Harvey Wainapple, Dmitri Matheny, Bill Solley, Kim Prevost, Rita Marcotully, HughHopper, Glenn Miller orchestra, Antonie Kamerling dan Jackie Rijan.</p>
<p>Proyek lain yang ia kerjakan adalah Chris Strik New Orleans Xperience dengan lineup Chris Strik (drums), Mete Erker (saxophone), Udo Pannekeet (bass), Rob van Bavel (Piano), Nico Schepers (Trumpet), Fernando Lewis (Guitar/vocals).</p>
<p>Rekam jejaknya juga terlihat dari konser atau rekaman bersama Gary Willis, Pino Palladino, Niels Henning Pederson, Bobby Mallach, Randy Brecker, Rick Margitza, Seamus Blake, Jack van Poll, Denise Jannah, David Sanchez,Harold Danko, Ferdinand Povel, Piet Noordijk,Paul van Kemenade, Rob van Bavel, Bert van den Brink, John Ruocco, Hans Dulfer, Sonia Rogers,Marjorie Barnes, Deborah Carter, Wendell Morrison, Belmondo brothers,Toon Roos, Jarmo Hoogendijk, Ack van Rooijen, Ben van Dungen, Jesse van Rulle, Michiel Borstlap, Rob van Kreefeld, Trijntje Oosterhuis, Karin Bloemen, John Ewbank, Tony Hadley, Jocelyn Brown, Eddie Connard, Leonardo Amuedo, Frits landsbergen, Eef Albers, Lois Lane, New cool collective, Nippy Noya dan lain-lain.</p>
<p>Pria bertubuh besar cukup kerap bertandang ke Indonesia. WartaJazz.com bertemu dengannya di Miri Jazz Festival 2010. &#8216;Bugshot&#8217; kini mengajar di Nieuwe Veste di Breda.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Fprofile%2F2010%2F05%2F14%2Fchris-bugshot-strik%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/profile/2010/05/14/chris-bugshot-strik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soulbop Band Live: Sebuah Band Bertabur Bintang</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/festival/2010/03/07/soulbop-band-live-sebuah-band-bertabur-bintang/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=soulbop-band-live-sebuah-band-bertabur-bintang</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/festival/2010/03/07/soulbop-band-live-sebuah-band-bertabur-bintang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 17:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ceto Mundiarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10041</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya kelompok ini sudah dibentuk sejak 2005 dengan konsep menampilkan banyak bintang;  Bill Evans (saxophone) dan Randy Brecker (trumpet) serta drummer Steve Smith, gitaris Hiram Bullock, bassis Victor Bailey dan pianis Dave Kikoski. Gaya musik all-star band ini mencakup spektrum yang luas, dari funk ke straight ahead. 
No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Soul-Bop-Bill-Evans-Randy-Brecker-03.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-10064" title="Soul Bop - Bill Evans &amp; Randy Brecker 03" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Soul-Bop-Bill-Evans-Randy-Brecker-03.jpg" alt="" width="300" height="197" /></a>Axis Java Jazz Festival 2010 banyak menjanjikan nilai plus untuk para pecinta musik jazz di tanah air. Bertaburan bintang jazz dari negeri kita sendiri maupun dari kancah internasional. Dari manca negara salah satunya adalah Soulbop Band Live. Kelompok ini sudah dibentuk sejak 2005 dengan konsep menampilkan banyak bintang;  <strong>Bill </strong><strong>Evans</strong> (saxophone) dan <strong>Randy Brecker</strong> (trumpet) serta drummer <strong>Steve Smith</strong>, gitaris <strong>Hiram Bullock</strong>, bassis <strong>Victor Bailey</strong> dan pianis <strong>Dave Kikoski</strong>. Gaya musik all-star band ini mencakup spektrum yang luas, dari funk ke straight ahead. Bill Evans menyebutkan band ini laku keras, ada banyak permintaan memanggungkan Soulbop. Tetapi karena kesibukan masing-masing personil kadang sulit untuk memenuhinya.</p>
<p>Maka jangan lewatkan &#8220;Soulbop Special Edition&#8221; di festival ini, sebuah ansambel musik yang menampilkan Bill Evans, Randy Brecker, <strong>Rodney Holmes</strong> (drum), <strong>Darryl Jones</strong> (bass) serta aksi dua gitaris <strong>Steve Lukather</strong> dan <strong>Robben Ford</strong>.  <em>What? </em>Tentu sayang sekali kalau kita mengabaikan nama-nama tersebut begitu saja. Masing-masing mempunyai kekuatan dan karisma yang mapan. Berikut ulasan singkat mengenai para pendukung Soulbop Band Live kali ini.</p>
<p><strong>Bill Evans</strong></p>
<p>Bill Evans mulai bermain piano sebelum beralih ke tenor sax.  Di usia 22 tahun Evans direkrut memperkuat band kembalinya<strong> Miles Davis</strong> di awal 1980an. Bersama legenda Miles Davis ia merekam 6 album serta tur dunia dalam kurun waktu 4 tahun. Berikutnya adalah era Evans bersama <strong>John McLaughlin</strong> dan <strong>Mahavishnu Orchestra</strong>. Selama 3 tahun ia melakukan tur dan merekam 3 CD.</p>
<p>Sebagai artis solo, Nominator Grammy ini telah  merekam banyak gaya yang berbeda selama bertahun-tahun karir bermusiknya. Ia melampaui batas-batas jazz tradisional, masuk ke wilayah hip-hop, fusion, reggae, musik Brasil dan menghentak dalam irama funk. Petualangan Evans makin liar saat ia mengerjakan ”Soulgrass”, sebuah campuran jazz, funk dan akar musik American styles di tahun 2005. Kolaborasi yang ia lakukan saat sesi ”Soulgrass”; bersama legenda banjo <strong>Bela Fleck, Sam Bush</strong> (mandolin), <strong>Stuart Duncan</strong> (biola), <strong>Jerry Douglas</strong> (dobro) dan <strong>Pat Bergeson</strong> (gitar akustik &amp; harmonika) serta bassis <strong>Bela Fleck </strong><strong>&amp; The </strong><strong>Flecktones</strong> band, <strong>Victor Wooten, Vinnie Colaiuta</strong> (drum), <strong>Mark Egan</strong> (electric bass), <strong>Bruce Hornsby, Clifford Carter dan Dave Kikoski</strong> (keyboard), <strong>David Charles</strong> (perkusi) dan <strong>John Scofield</strong> pada gitar, merupakan salah satu momen penting karir Evans. Album &#8220;The Other Side of Something&#8221; yang dirilis akhir 2007 merupakan inspirasi terbaru Evans mesubtraksi jazz dan bluegrass dengan penambahan tunes Celtic dan Irlandia. Di album itu saksofonis ini-pun ikut menjadi vokalis.</p>
<p><strong>Robben Ford</strong></p>
<p>Namanya tak bisa lepas dari kelahiran fusi kontemporer <strong>Yellowjackets</strong> pada 1977. <strong>Robben Ford</strong> memang terbilang versatil menggenapi seksi gitar formasi aneka aliran tanpa mengkompromikan akar <em>blues</em>-nya. Akar yang menjadi refleksi dengaran 60-an semisal <strong>Aretha Franklin</strong> dan <strong>Otis Redding</strong>, pada usia belasan. Jadi, entah itu di belakang tur <strong>George Harrison</strong>, band <strong>Joni Mitchell</strong>, awal perselingkuhan jazz ajakan <strong>Tom Scott</strong> di <strong>LA Express</strong> (1974), maupun <strong>Miles Davis</strong> (koleksi Montreux, 1986), Ford meramu pukau lima nada tanpa kehabisan kombinasi kreatif. Cap moderen bahwa blues adalah gitaris elektrik (<em>rock</em>) yang sekaligus (sebagai komplemen <em>call-and-response</em>) menyanyi pun disandangnya. Robben Ford belia (pra-Miles Davis, 1972 – 1976) dapat kita nikmati dalam kompilasi “Anthology: The Early Years”. Di 2009, ia merilis “Soul On Ten” yang menunjukkan bahwa tidak nampak tanda-tanda Ford gaek mulai pensiun dari sorot pentas blues-jazz. Rekaman ini merangkum arransemen ulang nomer klasiknya di antara materi segar seolah menjawab taktis pertanyaan, “Apakah blues menjemukan?”</p>
<p><strong>Steve Lukather</strong></p>
<p>Tidak salah lagi, dia adalah salah satu leader dari group pop rock terkemuka <strong>Toto</strong>. Keberadaannya di dunia musik kelompok ini sudah tidak diragukan lagi.  Di awal 1980an, Toto sudah mendominasi beberapa peringkat tanggal lagu seperti Billboard Chart atau pun MTV. Gitarisnya adalah Steve Lukather.</p>
<p>Di samping kesibukannya bersama Toto, musisi kelahiran 21 Oktober 1957 ini mempunyai banyak agenda bermusik dengan berbagai musisi, dari <strong>Elton John, Michael Jackson, Joni Mitchell, Chicago</strong> sampai <strong>Herb Alpert</strong>. Bahkan bisa dikatakan salah satu gitaris paling sibuk di kawasan Pantai Barat AS.</p>
<p>Termasuk ketika berada dalam ruang musik jazz, Steve Lukather sering dikaitkan dengan kerja samanya bersama gitaris supergroup <strong>Fourplay</strong>, Larry Carlton dalam proyek “No Substitutions: Live In Osaka” (2001). Album ini berhasil meraih Grammy Award. Sukses formasi ini, mereka kembali mengeluarkan album “Santamental” (2003). Selain itu, Lukather juga sempat membuat beberapa album solo. Antara lain “Lukather” (1989), “Candyman” (1994) dan “Luke” (1997)</p>
<p><strong>Darryl Jones</strong></p>
<p>Berbicara tentang Darryl Jones, pembetot <em>electric bass</em> ini, kita tidak bisa lepas dari nama-nama besar dalam dunia musik, baik jazz, blues, pop maupun rock. Namanya masuk ke dalam catatan para musisi sekelas <strong>Miles Davis, Herbie Hancock, Sting, Joe Cocker, John Scofield, Roben Ford, Mike Stern</strong> dan tentu saja supergroup <strong>The Rolling Stones</strong>. Bahkan Darryl juga terlibat dalam tour para musisi besar seperti <strong>Eric Clapton, Madona, Peter Gabriel</strong> dan masih banyak lagi. Meskipun selama ini dia hanya sebagai session player dalam sebuah group, tapi perannya cukup besar, permainannya sangat mewarnai rekaman-rekaman dari Miles Davis dan Rolling Stones, bahkan sampai saat ini Darryl masih mendukung beberapa album terakhir dan tour keliling dunia dari The Rolling Stones.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.wartajazz.com%2Ffestival%2F2010%2F03%2F07%2Fsoulbop-band-live-sebuah-band-bertabur-bintang%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/festival/2010/03/07/soulbop-band-live-sebuah-band-bertabur-bintang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

