<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wartajazz.com &#187; Review</title>
	<atom:link href="http://www.wartajazz.com/category/review/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wartajazz.com</link>
	<description>The Ultimate Jazz Source for Indonesian Jazz Lovers - Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz di Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 19:05:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Inner Beauty bersama David Murray</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/12/inner-beauty-bersama-david-murray/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=inner-beauty-bersama-david-murray</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/12/inner-beauty-bersama-david-murray/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 18:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ceto Mundiarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10156</guid>
		<description><![CDATA[Mereka berempat mampu menyuguhkan tontonan jazz berbobot tanpa membuat dahi penonton berkerut. Aura David Murray memang mampu menembus batas-batas ras, budaya, politik dan geografis. Sebuah kesempatan yang langka terjadi dalam ajang pertunjukan musik jazz di Indonesia.    


]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10178" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-160.jpg"><img class="size-medium wp-image-10178" title="David Murray BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-160" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-160-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">David Murray</p></div>
<p>Inner beauty, sebuah konsep qualifikasi untuk menggambarkan aspek-aspek positif dari sesuatu yang non-fisik. Wikipedia menyebut kualitas tersebut meliputi <em>kindness, sensitivity, tenderness or compassion, creativity and intelligence</em>. Gambaran abstrak kualitas tersebut kalau dibandingkan dengan penampilan David Murray bersama Black Saint Quartet di AXIS Java Jazz Festival 2010 terasa melekat menjadi satu dalam aura Murray.</p>
<p>Kreatif dan pintar, kesan mendalam setelah mengamati lika-liku perjalanan karier David Murray sejak akhir dasawarsa 1970an sampai saat ini. Murray mencoba untuk memompa spirit jazz sebagai satu kesatuan yang utuh ke dalam para musisi generasi kontemporer. Kelembutan, meski sering bercumbu dengan tradisi free jazz namun masih menyisakan banyak ruang untuk bermain lembut, vibrato, dalam tiupannya  bak seorang saxophonis di era Swing. Sensitif, di beberapa tahun terakhir ini juga, Murray lebih detail dan sensitif terhadap cara memperlakukan saxophone. Pribadi yang baik, sebatas pengetahuan penulis, orangnya low profile, tegas dan terbuka. Di hari ketiga, Murray sempat memberi salam kepada penonton dengan bahasa Arab yang cukup fasih.</p>
<div id="attachment_10173" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-199.jpg"><img class="size-medium wp-image-10173" title="David Murray BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-199" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-199-300x199.jpg" alt="Hamid Drake &amp; David Murray" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Hamid Drake &amp; David Murray</p></div>
<p>Tampil 2 kali selama perhelatan musik terbesar di Asia ini dengan dukungan formasi Black Saint Quartet yang terdiri dari para musisi dari Chicago <strong>Lafayette Gilchrist</strong> (piano), <strong>Jaribu Sahid</strong> (bass) dan <strong>Hamid Drake</strong> (drum). Black Saint adalah sebuah label jazz dari Milan Itali yang didirikan oleh Giovanni Bonandrini di tahun 1977 yang berfokus kepada para musisi jazz kreatif dan <em>sophisticated</em>. Sedangkan beberapa album unggulan Murray sendiri ada di bawah label tersebut dari 1978 sampai 1993.  Sayang label yang berisi para musisi free jazz generasi lebih modern tersebut saat ini telah bangkrut dan dibeli oleh label yang sama-sama dari Itali, CamJazz. Nama Black Saint Quartet sendiri muncul dalam album &#8220;Sacred Ground&#8221; (2007) yang terdiri dari Lafayette Gilchrist (piano), <strong>Ray Drummond</strong> (bas), <strong>Andrew Cyrille</strong> (drum) dan vokalis tamu <strong>Cassandra Wilson</strong>.</p>
<div id="attachment_10174" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-240.jpg"><img class="size-medium wp-image-10174" title="David Murray BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-240" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-240-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Hamid Drake</p></div>
<p>Agak berbeda dengan masa paruh pertama karier Murray yang energik, meledak-ledak, liar, garang dan <em>atonal</em>. Sekarang ini lebih banyak fokusnya kepada masalah komposisional, kembali ke roots seperti bebop dan hardbop serta kelembutan dan keharmonisan simetris. Kalau ada kesan-kesan outside dalam permainannya semuanya dalam bingkai <em>controled freedom</em>. Termasuk ketika Murray memainkan bas klarinet yang mengingatkan kita kepada musisi jazz legendaris <strong>Eric Dolphy</strong>. Sebaliknya, justru yang tertangkap adalah kedewasaan Murray dalam bermusik.  Terlebih, penjiwaan dari sound setiap nada yang keluar dari saxophonenya begitu luar biasa. Bahkan bisa memunculkan bayangan sebuah sejarah musik jazz dan sosial masyarakat <em>Afro-American</em>.</p>
<div id="attachment_10181" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-1231.jpg"><img class="size-medium wp-image-10181" title="David Murray BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-123" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-1231-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Lafayette Gilchrist</p></div>
<p>David Murray menampilkan beberapa komposisi standar maupun orisinalnya seperti &#8216;Waltz Again&#8217;, &#8216;Wagoo Pagoo&#8217;</p>
<div id="attachment_10180" class="wp-caption alignright" style="width: 209px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-031a1.jpg"><img class="size-medium wp-image-10180" title="David Murray BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-031a" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-031a1-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Jaribu Shahid</p></div>
<p>(dibuat sebagai respon slogan kampanye Presiden Amerika Serikat <strong>Barack Obama</strong>, Yes We Can), &#8216;Giant Step&#8217; (ditampilkannya dengan pendekatan yang unik dan bersahaja), &#8216;In A Sentimental Mood&#8217; dan beberapa komposisi lainnya. Para musisi pendukungnya bermain secara proporsional, meski Gilchrist dan Drake sering mencuri perhatian penonton. Pendekatan gaya permainan Gilchrist yang perkusif ini mengingatkan kita kepada beberapa pianis yang dulu sering bermain bersama Murray seperti <strong>Don Pullen</strong> dan <strong>D.D. Jackson</strong>. Sementara drummer Drake juga tampil lain kali ini.  Kalau biasanya kita menyimak permainannya yang abstrak dan komplek ketika membantu saxophonis free improvisation legendaris dari Jerman <strong>Peter Brotzmann</strong> atau free jazzer Chicago generasi terakhir <strong>Ken Vandermark</strong>, Drake kali ini justru tampil dengan lebih simpatis dan komunikatif dengan penonton. Sedangkan cabikan bas Sahid begitu kuatnya dalam menjaga tempo seluruh permainan.</p>
<p>Alhasil, mereka berempat mampu menyuguhkan tontonan jazz berbobot tanpa membuat dahi penonton berkerut. Aura David Murray memang mampu menembus batas-batas ras, budaya, politik dan geografis. Sebuah kesempatan yang langka terjadi dalam ajang pertunjukan musik jazz di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/12/inner-beauty-bersama-david-murray/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Denyut Jazz Straight Ahead Tiada Henti, Christian McBride and His Insiders Rock!</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/09/denyut-jazz-straight-ahead-tiada-henti-christian-mcbride-and-his-insiders-rock/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=denyut-jazz-straight-ahead-tiada-henti-christian-mcbride-and-his-insiders-rock</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/09/denyut-jazz-straight-ahead-tiada-henti-christian-mcbride-and-his-insiders-rock/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 18:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thomas Anggoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10157</guid>
		<description><![CDATA[Di usia yang belum genap 40 tahun, Christian McBride memikul tanggung jawab besar di atas pundaknya. Sebagai seorang musisi, segala peran dilakoninya tanpa gentar, baik menjadi leader maupun sideman session player merangkap arranger dan produser pada tiap proyek yang ia kerjakan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10160" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Christian-MCBride-Insight-Straight-JJF2010-6Maret-AJI-095.jpg"><img class="size-medium wp-image-10160" title="Christian MCBride Insight Straight-JJF2010-6Maret-AJI-095" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Christian-MCBride-Insight-Straight-JJF2010-6Maret-AJI-095-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Christian McBride</p></div>
<p>Menjadi satu pengalaman yang tak terlupakan, ketika memiliki kesempatan untuk menyaksikan langsung penampilan basis kelas dunia, Christian McBride. Pembetot bas gundul ini memang sibuk tak kepalang tanggung, untunglah salah satunya adalah manggung di acara tahunan AXIS Jakarta International Java Jazz Festival yang merupakan kunjungan perdananya ke Indonesia. Sesuai jadwal yang dilansir panitia, Chris bersama Inside Straight ditempatkan pada hari kedua, Sabtu (6/3/2010) pukul 18.45 di <em>C1 LG</em><em> </em>Mobile <em>Hall. </em>Susunan rapi tempat duduk dan pendingin ruangan yang berfungsi maksimal membuat venue terasa nyaman petang itu. Acara dimulai tepat waktu, persis sesuai jadwal, dibuka lewat sambutan singkat MC seorang wanita muda ketika ia berkata, “Ladies and gentlemen, please welcome, Christian McBride and The Inside Straight!”, sontak dibalas riuh tepuk tangan penonton yang mulai memenuhi aula berkapasitas 3000-an orang tersebut.</p>
<p>Tanpa basa-basi, Kelima penampil langsung menggertak dengan &#8216;Brother Mister&#8217;, tema utama ditampilkan secara unisono lewat instrumen vibrafon dan saksofon alto dengan introduksi bas, drum, dan <em>blocking chord</em> piano yang sepintas mirip dengan riff &#8216;Watermelon Man&#8217; <strong>Herbie Hancock</strong>. Komposisi pembuka yang relatif santai dan <em>catchy</em> kemudian disambung dengan &#8216;Theme for Kareem&#8217; dari mendiang <strong>Freddie Hubbard</strong>,<em> </em>bertempo lebih cepat dan otomatis membuat suasana menghangat. Atmosfer ruangan itu terasa memanas selepas lagu kedua, ketika sang <em>frontman</em> memberikan responnya kepada audiens, “Jakarta is nothing but SOUL!”, gombalnya di atas panggung yang segera ditingkahi meriah oleh antusiasme penonton. Kemudian satu-persatu personil dikenalkan oleh Chris, ada <strong>Steve Wilson</strong> (saksofon alto), <strong>Warren Wolf, Jr.</strong> (vibrafon), <strong>Peter Martin</strong> (piano), dan drummer murah senyum, <strong>Ulysses Owens, Jr</strong>. Repertoar yang dibawakan malam itu sebagian besar terambil dari album terbaru Chris, &#8220;Kind of Brown&#8221;. Formasi personil The Inside Straight pada  AXIS Java Jazz Festival sedikit berbeda dengan album, <strong>Chris Reed</strong> dan <strong>Carl Allen</strong> di seksi piano dan drum.</p>
<p>Sebuah komposisi cantik nan lembut, &#8216;Starbeam&#8217;, membius pengunjung melalui pendaran melodi-melodi manis yang kembali disajikan Steve dan Warren lewat peleburan <em>tone colour</em> saksofon dan vibrafon, terdengar sangat menyejukkan. Menjelang akhir lagu, Chris memberikan sedikit sentuhan solo dengan cabikan kontrabasnya. Nuansa <em>bluesy</em> terbersit ketika kwintet ini membawakan “Used ‘Ta Could”, seperti dijelaskan Chris mengenai judul komposisinya itu, “Di negara kami, Amerika, ini adalah sebuah ungkapan <em>slang</em> yang saya sendiri juga tidak tahu persis artinya, jadi nikmati saja”, ujarnya terkekeh. Memang, persepsi musikal tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, setidaknya itulah apa yang ingin mereka sampaikan lewat musiknya.</p>
<p>Kecanggihan Christian McBride atas instrumen besarnya itu sungguh tercetus ketika ia memainkan sebuah nomor</p>
<div id="attachment_10161" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Christian-MCBride-Insight-Straight-JJF2010-6Maret-AJI-322.jpg"><img class="size-medium wp-image-10161" title="Christian MCBride Insight Straight-JJF2010-6Maret-AJI-322" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Christian-MCBride-Insight-Straight-JJF2010-6Maret-AJI-322-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Christian McBride and Inside Straight</p></div>
<p>ballad, &#8216;Sophisticated Lady&#8217;, yang lahir dari goresan pena raksasa jazz, Duke Ellington. Lagu yang tidak akan ditemukan dalam album &#8220;Kind of Brown&#8221; ini menjadi salah satu <em>highlight</em> konser malam itu. Ditampilkan secara trio (kontrabas, piano, drum), Chris tampil sangat meyakinkan, virtuositas dipamerkan tanpa pretensi, penonton hanya bisa berdecak kagum sembari menggelengkan kepala. Dengan sabar dan penuh penghayatan, jalinan kalimat musik dalam karya tersohor ini semakin indah terucap melalui sayatan <em>bow</em> kontrabas Chris. Tidak percuma ia membawa <em>bow </em>(penggesek) yang malam itu seolah menjadi senjata pamungkasnya. Ada gunanya juga, ketika ia dengan tekun mempelajari kontrabas klasik – lebih menekankan kepada teknik <em>arco </em>(gesekan) ketimbang <em>pizzicato </em>(petikan) – di Juilliard School, New York, pada masa remajanya, yang membentuk versatilitas permainannya hingga kini.</p>
<p>Kegilaan aksi Christian McBride dan The Inside Straight mencapai “titik didih” pada nomor penutup “Stick &amp; Move”, kuat dengan gaya hard bop di dalamnya. Hentakan sinkopasi ritmis pada <em>rhythm section</em> sebagai aksen tema-tema pendek di permulaan lagu, menjadi daya tarik komposisi garapan sang basis karismatik ini. Ibarat pertandingan tinju, pukulan <em>jab</em>, <em>hook</em>, dan <em>uppercut</em> menghantam silih berganti, berpadu dengan <em>foot work</em> yang luar biasa lincah untuk menghindari serangan balasan, membuat lawan kelimpungan. Penjelasan Chris tentang lagu terakhir ini, “If you’re into boxing, then you must have known what it’s all about,” celotehnya. “Stick &amp; Move” menuntut kecepatan, kecermatan, dan ketepatan masing-masing penampil dalam berimprovisasi. Terlihat dengan jelas betapa gesit Warren Wolf, Jr. mengeksekusi bilah-bilah logam vibrafonnya. Bahkan, sesekali lempengan besi itu keluar dari jalurnya setelah dihajar bertubi-tubi oleh mallet Warren, entah karena ia terlalu bersemangat atau memang alatnya yang kurang siap. Setelah vibrafonis, pianis, dan saksofonis tampil solo, mereka bertiga akhirnya menyingkir ke samping panggung, sorotan kini diarahkan kepada Chris dan Ulysses. Pertarungan antara kontrabas dan drumset tak terhindarkan lagi. Atensi penonton mutlak terpusat pada gelagat keduanya, ketika mereka bergantian menampilkan atraksi memukau instrumennya masing-masing. Ulysses, drummer muda berbakat itu terlihat sangat enerjik, tanpa lelah ia melancarkan pukulan-pukulan bombastis untuk mengimbangi “provokasi” kenakalan jemari gemuk Chris diatas fingerboard kontrabasnya. Penggebuk drum asal Jacksonville, Florida ini baru saja merasakan manisnya penghargaan Grammy, dimana ia menjadi <em>sideman</em> <strong>Kurt Elling</strong> pada album &#8220;Dedicated To You: Kurt Elling Sings The Music Of Coltrane And Hartman&#8221;, yang dinyatakan sebagai peraih piala untuk kategori album vokal jazz terbaik. Aksi Chris dan Ulysses lebih mirip seperti sesi tanya-jawab yang saling berbalas secara kanonik. Seusai pertarungan dahsyat yang dimenangkan oleh keduanya, ketiga musisi lainnya kembali ke posisi masing-masing menyusul Chris dan Ulysses dan kelimanya kembali memainkan tema utama “Stick &amp; Move” seraya mengakhiri konser malam itu dengan gemilang.</p>
<p>Di usia yang belum genap 40 tahun, Christian McBride memikul tanggung jawab besar di atas pundaknya. Sebagai seorang musisi, segala peran dilakoninya tanpa gentar, baik menjadi <em>leader</em> maupun <em>sideman session player</em> merangkap <em>arranger</em> dan produser pada tiap proyek yang ia kerjakan. Sederet nama besar menaruh kepercayaan padanya, sebut saja Freddie Hubbard, <strong>McCoy Tyner, Diana Krall, Chick Corea, Ray Brown, </strong>hingga <strong>Sting, Kathleen Battle</strong>, sampai raja soul <strong>James Brown</strong>. Dengan preferensi musikal yang sangat luas, ia membawa misi penting: mengekspos musik jazz kepada generasi muda, selaras dengan posisinya sebagai wakil direksi pada The Jazz Museum di Harlem.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/09/denyut-jazz-straight-ahead-tiada-henti-christian-mcbride-and-his-insiders-rock/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Brian Lynch &amp; The Latin Jazz Quintet &#8211; Bye-Ya Further Arrivals</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/06/brian-lynch-the-latin-jazz-quintet-bye-ya-further-arrivals/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=brian-lynch-the-latin-jazz-quintet-bye-ya-further-arrivals</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/06/brian-lynch-the-latin-jazz-quintet-bye-ya-further-arrivals/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 10:35:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erson</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10125</guid>
		<description><![CDATA[Suara trumpet yang melengking tinggi dengan tempo cepat dan nada-nada yang rumit dan cenderung berisik adalah bayangan yang kita dapatkan setiap kali akan mendengarkan sebuah album latin jazz. Tapi bayangan semacam itu seperti terbantahkan ketika mendengarkan Album terbaru milik seorang pemain Trumpet Brian Lynch]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/brianlynch-bye-ya.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-10126" title="brianlynch bye ya" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/brianlynch-bye-ya-300x263.jpg" alt="" width="300" height="263" /></a>Suara trumpet yang melengking tinggi dengan tempo cepat dan nada-nada yang rumit dan cenderung berisik adalah bayangan yang kita dapatkan setiap kali akan mendengarkan sebuah album latin jazz. Tapi bayangan semacam itu seperti terbantahkan ketika mendengarkan Album terbaru milik seorang pemain Trumpet ‘Brian Lynch’ di album terbarunya <strong>Brian Lynch &amp; The Latin Jazz Quintet &#8211; Bye-Ya Further Arrivals</strong> <strong>. </strong>Brian Lynch seolah bermain dengan perspektif yang berbeda tentang latin jazz di album terbarunya ini.</p>
<p>Brian Lynch tampil bermain dengan format quintet dengan formasi <strong>Randal Corsen</strong> (piano), <strong>Mick Paauwe</strong> (bass), <strong>Jens Kerkhof</strong> (perkusi) dan <strong>Enrique Firpi</strong> (drum) dengan 8 komposisi baru.</p>
<p>Secara keseluruhan baik lagu maupun aransemen yang ada di album ini memberikan pengalaman baru dalam latin jazz, bermain latin jazz dengan sederhana dengan aransemen quintet yang cukup modern. Sementara suara permainan trumpet yang melengking tinggi, tempo cepat dan nada-naa rumit yang menjadi ciri latin jazz digantikan oleh gaya bermain ‘Brian Lynch’ yang cukup sederhana. Tidak mengumbar nada-nada tinggi tetapi tetap mampu membawa suatu nuansa latin yang sangat jelas di album ini.</p>
<p>Di album ini seringkali nuansa latin tidak dihadirkan oleh quintet ini secara utuh tapi diahadirkan oleh salah satu atau beberapa instrument di quintet ini, seperti di lagu pembuka album ini “Further Arivals”  quintet ini bermain dengan gaya yang  modern, sementara pianis ‘Randal Corsen’  membalut lagu ini dengan ritme montuno sehingga menghasilkan suatu nuansa latin yang cukup kentara, hal semacam itu juga terjadi di lagu berjudul “Mellotone” ketika quintet ini bermain dengan corak latin yang sangat kuat justru kemudian ‘Brian Lynch’ bersolo dengan sederhana dengan tone yang lembut, jauh dari kesan pemain trumpet latin jazz,. tetapi justru permannya yang sederhana ni yang kemudian membuat lagu ini menjadi berbeda dan menarik untuk dinikmati.</p>
<p>Salah satu hal yang menarik di album ini adalah, tidak semua lagu dalam album ini berformat quintet, “Tranqulidad” dimainkan dalam format quartet tanpa Brian Lynch. Di lagu ini lagi-lagi ritme montuno yang dihadirkan oleh Randal Corsen di akhir lagu membuat nuansa latin lagu ini terasa sangat kental.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/06/brian-lynch-the-latin-jazz-quintet-bye-ya-further-arrivals/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Joe Zawinul &amp; The Zawinul Syndycate &#8220;75&#8243;</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/02/13/joe-zawinul-the-zawinul-syndycate-75/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=joe-zawinul-the-zawinul-syndycate-75</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/02/13/joe-zawinul-the-zawinul-syndycate-75/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 05:21:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erson</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=9930</guid>
		<description><![CDATA[Kesan pertama setelah selesai mendengarkan album Joe Zawinul &#038; The Zawinul Syndicate adalah “luar biasa”. Di ulang tahunnya yang ke 75 Joe Zawinul masih mampu mempertunjukkan permainnya yang energik dan memukau.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9934" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/02/zawinul75th.jpg"><img class="size-full wp-image-9934" title="zawinul75th" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/02/zawinul75th.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Joe Zawinul &amp; The Zawinul Syndycate &quot;75&quot;</p></div>
<p>Joe Zawinul &amp; The Zawinul Syndycate &#8220;75&#8243;<br />
Heads Up Records</p>
<p>Track<br />
1 Introduction to Orient Express         3:10<br />
2 Orient Express         10:07<br />
3 Madagascar         10:00<br />
4 Scarlet Woman         6:55<br />
5 Zansa II         6:39<br />
6 Cafe Andalusia         8:52<br />
7 Fast City Two Lines         12:37<br />
8 Clario         5:45<br />
9 Badia Boogie Woogie Waltz         10:16<br />
10 Happy Birthday         1:39<br />
11 In a Silent Way         14:20<br />
12 Hymn         3:30</p>
<p>Kesan pertama setelah selesai mendengarkan album Joe Zawinul &amp; The Zawinul Syndicate adalah “luar biasa”. Di ulang tahunnya yang ke 75 Joe Zawinul masih mampu mempertunjukkan permainnya yang energik dan memukau dalam sebuah konser live, penampilan Zawinul ini benar-benar tidak menunjukkan kondisi fisik Zawinul yang sebenarnya cukup lemah akibat penyakit kanker kulit yang dideritanya.</p>
<p>Bersama The dengan musisi-musisi yang berasal dari berbagai negar yang berbeda seperti <strong>Sabine Kabongo</strong> (vocals, percussion/Kongo), <strong>Alegre Correa</strong> (vocals, berimbau), <strong>Linley Marthe</strong> (bass/Mauritus), <strong>Paco Sery</strong> (drums, kalimba, vocals/Pantai Gading), <strong>Jorge Bezerra</strong> (Perkusi,Vokal/Brazil), <strong>Aziz Sahmaoui</strong> (Perkusi, Vokal/Maroko) <strong>Wayne Shorter</strong> saxophone (CD2 track 5).</p>
<p>Di dalam album ini terdapat 12 lagu dimana 11 diantaranya merupakan karya Joe Zawinul. Album ini juga seolah menjadi sebuah rangkuman perjalanan musik Joe Zawinul selama ini, Ada &#8216;In A Sillent Way&#8217; dari era ketika Zawinul bermain bersama <strong>Miles Davis</strong>, ada juga beberapa karya Zawinul ketika bersama <strong>Weather Report</strong> seperti &#8216;Boogie Woogie Waltz&#8217;, &#8216;Scarlet Woman&#8217;, &#8216;Madagascar&#8217; hingga karya Zawinul setelah bubarnya Weather Report seperti &#8216;Orient Express&#8217;, &#8216;Zanza&#8217; dan &#8216;Café Andalusia&#8217;.</p>
<p>Secara total album ini memberikan suatu warna yang berbeda terhadap karya-karya Zawinul,  semua lagu di album ini diaramsemen ulang dengan warna dan nuansa baru, pada &#8220;Orient Express&#8221; yang ada tampil sebagai pembuka di CD pertama album ini , Zawinul seolah menumpahkan semua skillnya di &#8220;Orient Express&#8221; ini ditambah permain bass asal Mauritus Linley Marthe memberikan sentuhan funk di lagu ini. Sentuhan vokal Aziz Sahmaoui pada lagu ini juga menambahkan kesan world fusion walaupun secara keseluruhan terasa lebih kental pengaruh jazz rock yang dihadirkan oleh Zawinul daripada nuansa world fusionnya.</p>
<p>&#8216;Scarlet Woman&#8217; dari Album milik Weather Report &#8220;Mysterious Traveler&#8221; juga tampil dengan aransemen baru, dimaninkan tempo yang cepat dan dan dibalut sentuhan funk bassis Linley Marthe yang memberikan suatu nuansa berbeda pada lagu  ini walaupun pengaruh <strong>Jaco Pastorius</strong> dalam permainan Linley Marthe masih terasa kental.</p>
<p>Salah satu lagu yang juga sangat menarik di album ini  adalah &#8216;In A Silent Way&#8217;. Menjadi sangat menarik karena di dalam duet Shorter dan Zawinul ini bermain sangat impresif  dan intens. Ketika menyimak lagu ini kita seolah-olah diajak untuk mengikuti sebuah pembicaraan yang menarik antara Shorter dan Zawinul dalam sebuah karya musik.</p>
<p>Secara total album ini  tetap menarik perhatian walaupun kadang-kadang Zawinul bermain agak monoton pada beberapa buah lagu seperti pada &#8216;Orient Express&#8217; dan &#8216;Madagascar&#8217;. Aransemen baru memberikan rasa yang berbeda terhadap karya-karya Zawinul, walaupun rasa Weather Report dalam album ini masih kental dan satu hal yang perlu diingat, dalam album ini Zawinul bermain dalam kondisi yang bisa dikatakan “sekarat” tapi tetap mampu memberikan permainan yang menarik tanpa menunjukkan kondisi fisiknya yang sebenarnya.</p>
<table cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>Reply</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/02/13/joe-zawinul-the-zawinul-syndycate-75/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bubi Chen &#8211; The Many Colours of Bubi Chen</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/02/02/bubi-chen-the-many-colours-of-bubi-chen/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=bubi-chen-the-many-colours-of-bubi-chen</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/02/02/bubi-chen-the-many-colours-of-bubi-chen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 16:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=9788</guid>
		<description><![CDATA[Dengan kondisi tubuh yang renta dan kian rentan, pianis jazz legendaris Bubi Chen masih tetap memperlihatkan semangat yang tinggi dalam menggumuli musik jazz. The Many Colours of Bubi Chen adalah album terbarunya bersama Oele Pattiselanno, Yance Manusama, Arief Setiadi...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul Album      : The Many Colours of Bubi Chen<br />
Artist                  : Bubi Chen<br />
Label                  :  Platinum Record<br />
Tahun Rilis        : 2009</p>
<p>Tracklist<br />
01. On Broadway<br />
02. Who&#8217;s Holding Donna Know<br />
03. When You Say Nothing At All feat.Eka Deli<br />
04. Soldiers of Fortune<br />
05. Stairway to Heaven<br />
06. Dust in the Wind<br />
07. Logical Song feat.Eka Deli<br />
08. Holiday<br />
09. Gentle Rain<br />
10. Make It With You<br />
11. Sweet Home Alabama<br />
12. I Can&#8217;t Tell You Why</p>
<p>Dengan kondisi tubuh yang renta dan kian rentan, pianis jazz legendaris <strong>Bubi Chen </strong>masih tetap memperlihatkan semangat yang tinggi dalam menggumuli musik jazz. Bubi Chen tetap kukuh dalam konsistensi bermusik. Mungkin Bubi Chen termasuk legenda hidup jazz Indonesia yang masih tetap produktif merilis album. Ini hal luar biasa yang setidaknya bias menjadi inspirasi bagi pemusik Indonesia yang memilih jazz sebagai jatidiri musiknya.</p>
<p>Didukung oleh pemusik jazz lintas generasi seperti <strong>Oele Pattiselanno</strong> (gitar), <strong>Yance Manusama </strong>(bass), <strong>Arief Setiadi </strong>(saxophone), <strong>Otti Jamalus </strong>(piano,vokal), <strong>Sandy Winarta </strong>(drums) <strong> Phillipe Ciminato </strong>(perkusi) dan <strong>Eka Deli </strong>(vokal), Bubi Chen menghasilkan album jazz bertajuk “The Many Colours Of Bubi Chen”.</p>
<p>Album ini memang ingin mendeskripsikan penjelajahan Bubi Chen terhadap berbagai genre musik yang kemudian di <em>makeover</em> ke dalam format jazz. Kelumrahan semacam ini memang mengingatkan kita pada gaya Eumir Deodato, Dave Grusin, Ahmad Jamal maupun Joe Sample di dekade 70-an maupun 80-an yang mengupayakan interpretasi jazz rock terhadap berbagai komposisi dari pelbagai genre.</p>
<p>Notasi asli baik dalam bentuk introduksi, tema dan <em>interlude </em>memang masih dipertahankan oleh Bubi Chen. Bubi terlihat mengimbuh dalam harmonisasi dan akord yang terasa beratmosfer jazz. Jelas Bubi Chen tak mau menggiring pendengarnya jauh dari notasi asli. Yang mungkin terasa beda adalah aransemen <em>rhythm section </em>yang bermuara pada aksentuasi funk, Latin dan Brazillian music serta sesekali idiom rock.</p>
<p>Dibuka dengan “On Broadway”, komposisi karya Leiber, Mann, Stoller dan Weill yang dipopulerkan the Drifters kemudian diremake oleh George Benson di tahun 1977. Seperti biasa Bubi memainkannya dengan latar jazz yang khas. Karya bossanova Luiz Bonfa di tahun 968 “Gentle Rain” juga merupakan karya standar yang  begitu akrab ditelinga penikmat jazz. Mungkin publik sudah menganggapnya sebagai bentuk kelaziman. Tapi ketika Bubi tiba-tiba menyeruak dalam “Sweet Home Alabama”  dari kelompok Lynyrd Skynyrd yang bernuansa southern rock, terasa sebuah <em>surprising. Riffing </em>gitar rock berubah lewat harmoni petikan gitar  Oele Pattiselanno dan imbuhan bass Yance Manusama yang berkonotasi jazz. Ini  memang menarik, setidaknya disepanjang diskografi Bubi Chen selama ini rasanya baru di album ini menjejal beberapa repertoar <em>classic rock </em>mulai dari “Stairway To Heaven” (Led Zeppelin), ”Soldiers Of Fortune” (Deep Purple), ”Logical Song” (Supertramp), ”Dust In The Wind” (Kansas) dan “Holiday” (Scorpions). Bubi juga menyuguhkan baju baru untuk lagu-lagu soft rock seperti “Make It With You” (Bread) dan “I Can’t Tell You Why” (The Eagles) termasuk lagu-lagu pop seperti “Who’s Holding Donna Now” (DeBarge)   hingga “When You Say Nothing At All” (Westlife).</p>
<p>Pendukung music album ini pun terasa banyak memberikan semacam <em>chemistry </em>yang tepat bagi pemusik jazz sekaliber Bubi Chen. Simak aksentuasi perkusi yang diimbuh Phillipe Ciminato. Termasuk begitu padunya landasan rhythm section yang diajukan drummer muda Sandy Winarta dan susupan bass yang dimainkan Yance Manusaama. Dalam aroma jazz rock yang terasa cukup mendominasi album Bubi Chen ini, peran Yance Manusama dengan gaya jazz funknya merupakan kontribusi yang sempurna dan sepadan.</p>
<p>Setelah menyimak album ini rasanya kita pun mahfum bahwa aransemen adalah busana yang membungkus tubuh notasi atau melodi. Artinya, apapun notasi lagunya, akan berubah citarasanya setelah diberi busana aransemen yang berbeda. Lagu pop hingga rock yang dimainkan Bubi Chen justru terasa kental nuansa jazznya setelah diberi busana jazz.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/02/02/bubi-chen-the-many-colours-of-bubi-chen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spirit &#8211; Spirit</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/01/25/spirit-spirit/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=spirit-spirit</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/01/25/spirit-spirit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 03:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Denny Sakrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=9723</guid>
		<description><![CDATA[Spirit Band yang pernah menjadi finalis “Light Music Contest 1986” merupakan gagasan Eramono Soekaryo, bersama Didiek SSS, Dewa Budjana, Ilyas Muhadji, Djudju Hartono dan Daddy Sufiyadi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9728" class="wp-caption alignright" style="width: 190px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/01/spirit-spirit.jpg"><img class="size-full wp-image-9728" title="spirit-spirit" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/01/spirit-spirit.jpg" alt="Spirit - Spirit" width="180" height="281" /></a><p class="wp-caption-text">Spirit - Spirit</p></div>
<p>Judul Album  : Spirit<br />
Artis: Spirit<br />
Label: Team Record<br />
Tahun Rilis    : 1988</p>
<p>Tracklist<br />
01 Bayang Bayang Semu<br />
02 Nada Nada Asmara<br />
03 Elisa (Instrumental)<br />
04 Asa Pasti<br />
05 Motor Cade<br />
06 Tawa<br />
07 New Funk (Instrumental)<br />
08 Langkah Pertama<br />
09 Lobby (Instrumental)<br />
10 Ilusi (Kau Ini Siapa)</p>
<p>Era paruh hingga akhir 80-an music jazz fusion masih diminati banyak orang. Band band jebolan Light Music Contest maupun Band Explosion seperti Krakatau, Emerald hingga Spirit cenderung mengabadikan karya karya mereka dalam bentuk rekaman. Ini sudah pasti merupakan langkah bijak, karena menjadi semacam jejak sejarah dalam industri music negeri ini setidaknya untuk khazanah musik jazz yang tidak sebesar riak gelombang musik arus besar seperti pop.</p>
<p>Spirit Band yang pernah menjadi finalis “Light Music Contest 1986” merupakan gagasan <strong>Eramono Soekaryo</strong>, pemusik yang sebelumnya pernah mengenyam pendidikan musik formal di Berklee Music of College Boston Amerika Serikat. Saat itu Spirit Band telah mengalami beberapa kali bongkar pasang pemain.Adapun yang ikut mendukung di album ini yaitu Eramono Soekaryo (keyboards), <strong>Didiek SSS</strong> (flute dan saxophone), <strong>Dewa Budjana </strong>(gitar), <strong>Ilyas Muhadji </strong>(bass), <strong>Djudju Hartono </strong>(keyboards,programming) dan <strong>Daddy Sufiyadi </strong>(drums).</p>
<p>Selain itu Spirit masih didukung oleh penampilan sederet penyanyi antara lain <strong>Komala Ayu</strong>, almarhum <strong>Vickie Vendi </strong>dan <strong>Helmie Indrakesumah </strong>dari Chaseiro dan Hydro Band.</p>
<p>Sajian fusion yang dihadirkan Spirit terbentang antara funk, rhythm and blues serta sedikit polesan musik pop. Jika mendengar lagu “Motor Cade” yang dinyanyikan Helmie Indrakesumah maka kita pun mahfum jika Spirit tengah berada dibawah pengaruh Level 42. Simak cara bernyanyi Helmie termasuk tentunya teknik <em>slapping bass </em>yang dimainkan Ilyas Muhaji dengan ciri funk seperti yang dilakukan oleh Mark King.</p>
<p>Komala Ayu dengan vocal bernuansa jazzy memang merupakan daya tarik album ini terutama jika menyimak lagu bertajuk “Bayang Bayang Semu” yang menjadi track pembuka album ini.</p>
<p>Pada lagu “Tawa”,Spirit seperti tengah larut dibawah pengaruh  kelompok Toto. Pola fusion yang beraksentuasi funk pun  diperlihatkan Spirit pada karya instrumental bertajuk “New Funk”.</p>
<p>Jika anda penikmat music fusion, seyogyanyalah album ini menjadi arsip anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/01/25/spirit-spirit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noor Bersaudara &#8211; Noor Bersaudara</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/01/17/noor-bersaudara-noor-bersaudara/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=noor-bersaudara-noor-bersaudara</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/01/17/noor-bersaudara-noor-bersaudara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 02:58:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Setiawan Basuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Noor Bersaudara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=9695</guid>
		<description><![CDATA[Noor Bersaudara yang terdiri atas Nana Noor, Ida Noor dan Yanti Noor mungkin merupakan kelompok vokal dengan keunikan harmoni vokal yang belum ada tandingannya di negeri ini. Di album ini ada Indra Lesmana yang waktu itu baru berusia 11 tahun.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/01/noor-bersaudara.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-9696" title="Noor Bersaudara" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/01/noor-bersaudara.jpg" alt="Noor Bersaudara" width="300" height="300" /></a>Judul  Album: Noor Bersaudara<br />
Artis: Noor Bersaudara<br />
Label: Hidayat Audio<br />
Tahun Rilis: 1977</p>
<p>Tracklist<br />
1. Kesepian<br />
2. Surat Undangan<br />
3. Kabur<br />
4. Kuberjanji<br />
5. Nasib Tambangan<br />
6. Kenyataan<br />
7. Telah Berlalu<br />
8. Sabda Alam<br />
9. Dari Hati Ke hati<br />
10. Kisah Diantara Remaja<br />
11. Makna Cinta<br />
12. Harapan Nan Gersang</p>
<p>Noor Bersaudara yang terdiri atas <strong>Nana Noor, Ida Noor </strong>dan <strong>Yanti Noor</strong> mungkin merupakan kelompok vokal dengan keunikan harmoni vokal yang belum ada tandingannya di negeri ini. Timbre vokal ketiga wanita yang saling berbeda ini saling memadu. Keunikan lain adalah apabila mereka kerap melakukan sebuah <em>cannon</em>, sebuah teknik nyanyi yang saling susul menyusul.</p>
<p>Dibawah arahan Jack Lesmana, Noor Bersaudara akhirnya muncul sebagai kelompok vokal beratmosfer jazz yang kuat. Pengaruh gaya The Pointer Sisters, Sergio Mendes Brasil ’66 maupun Manhattan Transfer memang terasa kuat dalam penampilan vocal Noor Bersaudara.</p>
<p>Simak lagu “Kuberjanji” karya Ismail Marzuki yang dibawakan dalam tempo waltz. Disini gaya <em>cannon </em>diperlihatkan dengan ligat oleh ketiga wanita ini. Nuansa kesepian yang mencekam pun dihadirkan Noor Bersaudara pada lagu karya A.Riyanto “Kesepian” yang dipopulerkan Tetty Kadi pada tahun 1975  .</p>
<p>Beruntunglah Noor Bersauadara yang dikawal ketat oleh <strong>Jack Lesmana</strong>. Sederet pemusik jazz terbaik Indonesia bahu membahu mengiringi Noor Bersaudara seperti <strong>Benny Likumahuwa </strong>(alto saxophone), <strong>Wiharto </strong>(Tenor saxophone), <strong>Perry Pattiselanno </strong>(bass), <strong>Karim Suweileh </strong>(drums), <strong>Abadi Soesman </strong>(keyboard), <strong>Alex Faraknimela </strong>(keyboards) serta <strong>Indra Lesmana </strong>yang waktu itu baru berusia 11 tahun.</p>
<p>Di album ini Indra Lesmana bahkan diberi kesempatan memainkan karyanya “Kabur” dalam bentuk instrumental. Talenta luar biasa Indra Lesmana memang telah terendus di zaman ini.</p>
<p>Noor Bersaudara menutup album ini lewat lagu karya mereka sendiri yang pernah dibawakan pada album perdana mereka pada tahun 1975 “Harapan Nan Gersang”.</p>
<p>Jika ingin menyimak gaya kelompok vokal jazz yang bernas dan sarat harmoni, maka saya anjurkan untuk mendengarkan album kedua Noor Bersaudara ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/01/17/noor-bersaudara-noor-bersaudara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Margie Segers &#8211; Jazz</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/01/15/margie-segers-jazz/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=margie-segers-jazz</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/01/15/margie-segers-jazz/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 01:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Denny Sakrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[margie segers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=9690</guid>
		<description><![CDATA[Margie Segers adalah salah satu penyanyi yang mampu menafsirkan jazz dengan atmosfer yang pas. Menyimak album ini kita seolah tengah berada di sebuah pub atau kafe. Menikmati sajian jazz pop dengan menyeruput secangkir kopi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9691" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/01/margie-segers-jazz.jpg"><img class="size-full wp-image-9691" title="Margie Segers - Jazz" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/01/margie-segers-jazz.jpg" alt="Margie Segers - Jazz" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Margie Segers - Jazz</p></div>
<p>Judul Album    : Jazz<br />
Artis                  : Margie Segers<br />
Label                : Granada Record<br />
Tahun               : 1982</p>
<p>Tracklist</p>
<p>1. Kerinduan<br />
2. Citra<br />
3. Semua Bisa Bilang<br />
4. Tabah Selalu<br />
5. Kesepian<br />
6. Layu Sebelum Berkembang<br />
7. Medley Lembe Lembe Panggayo<br />
8. Hanya Untukmu<br />
9. Sehari Semalam<br />
10. Kelopak Cinta<br />
11. Simfoni Yang Indah<br />
12. Mimpi</p>
<p>Margie Segers adalah salah satu penyanyi yang mampu menafsirkan jazz dengan atmosfer yang pas. Berbekal ketrampilan menyenandungkan nada-nada blues, setidaknya merupakan modal utama Margie Segers dalam menyajikan suguhan jazz.</p>
<p>Catatan lain tentang Margie adalah kearifannya dalam melakukan maneuver improvisasi. Margie selalu tampak bisa mengendalikan diri dalam berimprovisasi. Dia tak terjebak dalam gaya improvisasi yang berlebihan yang terkadang membuat pendengar merasa terganggu.</p>
<p>Begitupula dalam berekspresi, Margie rasanya berada dideretan terdepan dalam upaya menghidupkan atmosfer lagu. Tak berlebih jika kita menyematkan pujian bahwa Margie mampu menghidupkan kata per kata yang disenandungkannya.</p>
<p>Album yang musiknya digarap oleh<strong> Ireng Maulana</strong> ini justeru beranjak dari upaya menginterpretasikan sederet khazanah musik pop Indonesia dari era 60-an, 70-an dan 80-an. Ada 3 karya pop A. Riyanto yang dinyanyikan Margie di album ini yakni “Layu Sebelum Berkembang”, ”Kesepian” dan “Hanya Untukmu”. Rasa jazzy pada akhirnya memang mencuat dari mulut Margie yang diiringi sederet pemusik terpilih seperti Ireng Maulana (gitar), <strong>Udin Zach </strong>(saxophone),<strong> Dullah Suweileh</strong> (perkusi), <strong>Benny Mustapha van diest </strong>(drums) maupun <strong>Pramono </strong>(trombone).</p>
<p>Ke-12 lagu yang termaktub di album ini dikemas dalam berbagai ragam beat. Ada Bossanova, samba termasuk dixieland yang segar. Lagu “Mimpi” karya Donny Gagola dan Theodore KS yang aslinya berbasis gaya pop country diubah oleh Ireng Maulana dalam gaya Dixieland.</p>
<p>Menyimak album ini kita seolah tengah berada di sebuah pub atau kafe. Menikmati sajian jazz pop dengan menyeruput secangkir kopi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/01/15/margie-segers-jazz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emerald &#8211; Karapan Sapi</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/01/14/emerald-karapan-sapi/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=emerald-karapan-sapi</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/01/14/emerald-karapan-sapi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 01:24:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Denny Sakrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=9686</guid>
		<description><![CDATA[Emerald Band adalah band fusion yang dibentuk dua bersaudara Iwang Noorsaid (keyboard) dan Inang Noorsaid (drums) bersama Roediyanto Wasito (bass) serta Morgan Sigarlaki (gitar elektrik). Diajang “Light Music Contest”, mereka menjadi juara pertama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9688" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/01/emerald-karapan-sapi.jpg"><img class="size-full wp-image-9688" title="Emerald Karapan Sapi" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/01/emerald-karapan-sapi.jpg" alt="Emerald Karapan Sapi" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Emerald Karapan Sapi</p></div>
<p>Judul Album:  Karapan Sapi<br />
Artis: Emerald<br />
Label: Art Record<br />
Tahun Rilis: 1989</p>
<p>Tracklist<br />
1. Pasti Dapat<br />
2. Kini<br />
3. The Job<br />
4. Seventh Sky<br />
5. Kecapi<br />
6. Cerita Kita<br />
7. Ronggeng<br />
8. Altimeter<br />
9. Canda Ria<br />
10. Karapan Sapi</p>
<p>Emerald Band adalah band fusion yang dibentuk dua bersaudara <strong>Iwang Noorsaid</strong> (keyboard) dan <strong>Inang Noorsaid </strong>(drums) bersama <strong>Roediyanto Wasito </strong>(bass) serta <strong>Morgan Sigarlaki </strong>(gitar elektrik). Terbentuk tahun 1986 untuk ikut dalam lomba band yang setiap tahun diadakan oleh sebuah perusahaan alat music dari Jepang dengan nama “Light Music Contest”. Emerald berhasil menjadi juara pertama. Dan ketika ajang lomba ini berganti nama menjadi “Band Explosion”, Emerald yang berubah formasi dengan masuk drummer <strong>Cendi Luntungan </strong>kembali menjadi juara 1 di tahun 1988.</p>
<p>Bahkan kuartet yang banyak terpengaruh dengan warna fusion ala Casiopea dan Uzeb ini mewakili Indonesia ke Band Explosion International yang berlangsung di Budokan Hall Tokyo Jepang. Saat itu Emerald membawakan komposisi yang disusupi elemen etnik Madura dengan judul “Karapan Sapi”.</p>
<p>Memadukan fusion dengan elemen etnik ini mungkin yang menjadi daya tarik musik Emerald ketika berlaga di Jepang.</p>
<p>Pada saat Emerald akan menggarap album kedua, band yang kemudian berubah lagi formasinya dengan masuknya <strong>Ricky Johannes</strong> (vokal) serta <strong>Yayang</strong> (drums) ini terlihat banyak menawarkan tema fusion yang berbalur aroma etnikal. Selain pada komposisi “Karapan Sapi”, nuansa etnik Indonesia terasa pada lagu bertajuk “Kecapi” maupun “Ronggeng”. Unsur etnik memang tak diberi porsi yang dominan dalam struktur komposisi yang banyak ditulis oleh Iwang Noorsaid. Aroma <em>rhythm section </em>tetap bernuansa jazz rock yang memperlihatkan riuhnya bunyi keyboard, gitar elektrik dan bass beraksentuasi funk. Namun dalam beberapa bagian notasi terkesan ingin mengedepankan sebuah dialek yang etnikal.</p>
<p>Komposisi seperti “The Job” ataupun “Seventh Sky” terasa kuat pengaruh band band fusion Amerika maupun Jepang yang banyak merilis album di era 80-an. Ketrampilan Iwan Noorsaid sebagai pemain keyboards sangat terwakili pada komposisi bertajuk “Altimeter”.</p>
<p>Sayangnya pola permainan gitar Morgan Sigarlaki terasa kurang berkembang. Peran Morgan seperti tertutup oleh kemegahan bunyi-bunyian keyboard Iwang Noorsaid maupun aksentuasi bass yang dimainkan Roediyanto.</p>
<p>Album “Karapan Sapi” ini memang terasa lebih cair dan mengalir. Terlebih lagi ketika Ricky Johannes menyusupkan atmosfer pop dalam lagu bertajuk “Pasti Dapat”, ”Kini” dan “Canda Ria”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/01/14/emerald-karapan-sapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tamam Hoesein &#8211; Es Lilin</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/01/11/tamam-hoesein-es-lilin/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=tamam-hoesein-es-lilin</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/01/11/tamam-hoesein-es-lilin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 00:42:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Denny Sakrie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=9651</guid>
		<description><![CDATA[Badroet Tamam Hosein adalah jagoan electone asal Surabaya pada decade 70-an. Saat itu Tamam Hosein berada dibawah naungan Yamaha Music Foundation, perusahaan instrument yang besar di Jepang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/01/tamam-hoessein-es-lilin.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-9654" title="tamam-hoessein-es-lilin" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/01/tamam-hoessein-es-lilin.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Artis               : Tamam Hoesein<br />
Judul Album  : Es Lilin<br />
Label              : PT Nusantik<br />
Tahun Rilis    : 1977</p>
<p>Track List</p>
<p>Kaset list Muka A<br />
1. Love<br />
2. Holiday<br />
3. Lady Down<br />
4. Long Long Time<br />
5. Happiness<br />
6. Until It&#8217;s Time For You To Go<br />
7. Junk</p>
<p>Muka B<br />
1. Es Lilin<br />
2. Get It From E Five<br />
3. Touch Me In The Morning<br />
4. Night in White Satin</p>
<p>Badroet Tamam Hosein adalah jagoan electone asal Surabaya pada decade 70-an. Saat itu Tamam Hosein berada dibawah naungan Yamaha Music Foundation, perusahaan instrument yang besar di Jepang.</p>
<p>Tapi pada album bertajuk “Es Lilin” ini,Tamam Hoesin tidak tampil sendiri memencet perangkat electone. Melainkan membentuk sebuah combo yang terdiri atas <strong>Johny Swadie</strong> (drums), <strong>Eddy </strong>(gitar), <strong>Andy </strong>(bass) serta almarhum <strong>Embong Rahardjo </strong>yang memainkan flute dan saxophone. Diperkuat pula oleh penyanyi bernama <strong>Christie</strong>.</p>
<p>Warna jazz yang ditampilkan Tamam dalam album solonya ini berkisar sekitar Brazillian Music seperti bossanova dan samba hingga yang memperlihatkan agresivitas bertensi tinggi : jazz rock.</p>
<p>Patut diakui bhawa Tamam memiliki kemampuan tinggi dalam menafsirkan jazz yang cenderung mengarah ke pola fusion. Improvisasinya terasa genial. Kadang lembut, terkadang pula meletup letup.</p>
<p>Kehadiran Embong Rahardjo baik ketika meniup saxophone dan flute terasa mengimbangi dominasi keyboard yang dituangkan Tamam dalam permukaan arransemennya.</p>
<p>Progresi akord dan harmoni, merupakan elemen yang ditempatkan pada proporsi yang selazimnya. Meski terkadang pola permainan Tamam Hosein kadang terkesan seperti mengada-ada.</p>
<p>Lagu “Touch Me In The Morning”nya Diana Ross diimbuh arransemen yang beratmosfer tropical. Beat samba menyeruak dari <em>pattern drumming </em>yang dimainkan Johnny.</p>
<p>Lagu “Night In White Satin” milik kelompok The Moody Blues bahkan disusupi aura musik blues. Ini terlihat jelas ketika tengah memasuki bagian <em>chorus</em>.</p>
<p>Di muka A kaset “Es Lilin” ini Tamam tampaknya ingin menginterpretasikan sederet lagu lagu pop seperti lagu “Until It’s For You To Go” yang pernah dipopulerkan Elvis Presley hingga  sebuah ballad milik Lynsey DePaul bertajuk “Love”. Semuanya dinyanyikan oleh Christie dengan warna suara yang cenderung <em>mediocre </em>sebetulnya.</p>
<p>Namun pada bagian B kaset ini Tamam Hosein seolah ingin memperlihatkan jatidiri kemapuan musik yang dimilikinya. Tamam bermain cukup <em>complicated </em>disini.</p>
<p>Simak saja komposisi seperti “Get It From E Five” maupun lagu folklore Jawa Barat “Es Lilin”. Dalam solo synthesizers, Tamam Hoesein kerap menghasilkan bunyi-bunyian yang condong glissando.</p>
<p>Sebuah pencapaian yang pantas dicatat dalam glossary musik jazz di Indonesia di masa lalu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/01/11/tamam-hoesein-es-lilin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
