<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wartajazz.com</title>
	<atom:link href="http://www.wartajazz.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wartajazz.com</link>
	<description>The Ultimate Jazz Source for Indonesian Jazz Lovers - Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz di Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Mar 2010 14:45:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gugun Blues Shelter, My Place Got The Blues…!!!</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/ugun-blues-shelter-my-place-got-the-blues%e2%80%a6/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=ugun-blues-shelter-my-place-got-the-blues%25e2%2580%25a6</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/ugun-blues-shelter-my-place-got-the-blues%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 04:38:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ajie Wartono</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10201</guid>
		<description><![CDATA[Yang Cukup menarik di My Sunday Jazz kali ini Gugun Blues Shelter tampil dengan atraktif, komunikatif dan fisik yang prima, selama dua jam lebih mereka memberikan penampilnnya kepada publik Malang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10203" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/GBS-140310-MY-PLACE-0441.jpg"><img class="size-medium wp-image-10203" title="GBS-140310-MY PLACE-044" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/GBS-140310-MY-PLACE-0441-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Gugun Blues Shelter at My Place</p></div>
<p>“Gugun Blues Shelter”, sebuah kelompok blues yang hadir di Indonesia dan mampu mencuri perhatian penggemar musik blues di Tanah Air. Perpaduan antara Funk, Blues dan Fusion kedalam lagu-lagu yang mereka bawakan membuat corak musik mereka berbeda dan terasa segar untuk dinikmati. Pendapat bahwa musik blues selalu berkesan “tua” langsung ditepis dengan penampilan “Gugun Blues Shelter” yang selalu tampil energik dan penuh dengan semangat anak muda di setiap lagu yang dibawakannya.</p>
<p>Dengan format trio yang diawaki oleh Gugun (gitar), Bowie (drums) dan John &#8220;Jono&#8221; Armstrong ,seorang pemain bass asal Inggris yang akrab disapa Jono, Gugun tidak hanya mengibarkan musik blues di Tanah Air saja, beberapa ajang festival musik di Eropapun sempat mereka Sambangi.</p>
<p>Dengan Penampilan mereka yang Energik dan penuh dengan spirit muda, Gugun Blues Shelter  pada Minggu 14  Maret 2009, hadir menghentak My Sunday Jazz  di My Place, Malang. Tampil dengan mebawakan lagu-lagu karyanya sendiri dan beberapa buah koleksi dair “Jimy Hendrix”  dan &#8220;Steve Ray Vaughn&#8221;, “Gugun Blues Shelter” tampil cukup atraktif malam hari itu.</p>
<p>Dengan Membawakan lagu-lagu dari album-albumnya seperti ‘Soul On Fire’, Funk #1’, ‘Bermain Cinta’ dan Rusty Man serta beberapa lagu Blues milik Jimi Hendrix ‘Freedom’ dan ‘Vodoo Child’ sebagai penutup, Gugun Blues Shelter ampil mengguncang penonton yang memadati My Place malam hari itu. Yang Cukup menarik di My Sunday Jazz kali ini Gugun Blues Shelter tampil dengan atraktif, komunikatif dan fisik yang prima, selama dua jam lebih mereka memberikan penampilnnya kepada publik Malang. Penampilan mereka yang Energik dan bersemangat ditambah dengan stamina yang cukup baik membuat penonton semakin antusias dengan penampilan mereka. Selama dua jam lebih itu juaga penonton seolah hanyut kedalam alur pertunjukan yang Dimainkan oleh Gugun Blues Shelter dan selalu memberikan apresiasi yang besar setiap kali Gugun Blues Shelter Selesai Memainkan lagu.</p>
<p>Secara Keseluruhan malam itu Gugun Blues Shelter tampil dengan energik dan prima, penampilan dan gaya bermusik mereka yang “berbeda” mampu membuat penonton memberikan apresiasi yang besar pada pertunjukan ini. Satu hal lagi yang menarik adalah My Sunday Jazz yang kali ini terus menampilkan musisi-musisi yang selalu menarik untuk disimak</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/ugun-blues-shelter-my-place-got-the-blues%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guitar Affair Lukather-Ford! Edisi Spesial Soulbop</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/guitar-affair-lukather-ford-edisi-spesial-soulbop/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=guitar-affair-lukather-ford-edisi-spesial-soulbop</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/guitar-affair-lukather-ford-edisi-spesial-soulbop/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 03:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arif Kusbandono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10219</guid>
		<description><![CDATA[Garansi seru guitar-affair Steve Lukather lawan Robben Ford nyata terbukti di hari terakhir Axis Java Jazz Festival 2010. Panggung rock betul-betul jadi komplemen festival jazz yang tahun ini banyak menampilkan deretan grup berformat akustik, jazz klasik dengan profil pembetot upright bass.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10228" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/SoulBop-JJF2010-7Maret-AJI-243.jpg"><img class="size-medium wp-image-10228 " title="SoulBop-JJF2010-7Maret-AJI-243" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/SoulBop-JJF2010-7Maret-AJI-243-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Randy Brecker &amp; Bill Evans, founder of SoulBop</p></div>
<p>Garansi seru <em>guitar-affair</em> <strong>Steve Lukather</strong> lawan <strong>Robben Ford</strong> nyata terbukti di AXIS Hall hari terakhir Axis Java Jazz Festival 2010. Panggung rock betul-betul jadi komplemen festival jazz yang tahun ini banyak menampilkan deretan grup berformat akustik, jazz klasik dengan profil pembetot <em>upright bass</em>. Di atas panggung  ada desain legendaris telecaster Ford versus seri MusicMan Lukather berlawanan arah jarum jam. Kontras kedua <em>axes</em> (begitulah gitar dijuluki) tersebut adalah Ford yang meramu pukau lima nada tanpa kehabisan kombinasi kreatif, sementara Lukather  menunjukkan identitas gitar listriknya lewat manipulasi dinamik nada-nada panjang yang gemanya membius perasaan dengan memainkan ekspresi bender handle.</p>
<p>Bergantian dengan nomernya sendiri, meluncur vokal Ford untuk “There&#8217;ll Never Be Another You” (“Soul On Ten”,</p>
<div id="attachment_10229" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/SoulBop-JJF2010-7Maret-AJI-182.jpg"><img class="size-medium wp-image-10229" title="SoulBop-JJF2010-7Maret-AJI-182" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/SoulBop-JJF2010-7Maret-AJI-182-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Roben Ford</p></div>
<p>2009) dan vokal Lukather untuk “Never Walk Alone” (“Candyman”, 1994), masing-masing berlatar blues yang kontras, <em>city blues</em> dan rock. Ford memang terbilang versatil menggenapi seksi gitar formasi aneka aliran tanpa mengkompromikan akar <em>blues</em>-nya. Duel Ford dedengkot legenda Toto, Steve Lukather, juga kerap mewarnai proyek fusi jazz. Bersanding dengan gitaris lain juga tidak aneh bagi Lukather, ini bisa diwakili “Santamental” (2003) yang mendaftar nama-nama beken seperti Steve Vai, Eddie Van Halen, Mike Landau, Larry Carlton, dll.</p>
<p>Dua gitaris ini adalah edisi khusus grup <strong>Soulbop</strong> yang namanya bak stempel yang seketika berkas capnya dibaca, sudah <em>self-explanatory</em>. Profil duel Lukather-Ford  sebenarnya tidak jauh berjarak dari formasi rekaman pilihan motor Soulbop, <strong>Randy Brecker</strong> dan <strong>Bill Evans</strong>, yang jatuh pada Hiram Bullock (yang malah sering lompat ke solo garang seolah menjadi <em>heavy metal-bebop</em>). Brecker dan Evans membentuk</p>
<div id="attachment_10230" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/SoulBop-JJF2010-7Maret-AJI-137.jpg"><img class="size-medium wp-image-10230" title="SoulBop-JJF2010-7Maret-AJI-137" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/SoulBop-JJF2010-7Maret-AJI-137-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Steve Lukather</p></div>
<p>Soulbop saat saksofonis Bob Berg meninggal akibat kecelakaan di tengah-tengah rencana tur mereka di 2003. Umur kelompok ini ternyata tidak pendek, mereka kembali memperoleh kontrak di tahun 2004 untuk tur Eropa yang energinya kemudian terekam dalam album “Soulbop Band Live”. Dalam live edisi spesial ini, terompet Brecker kerap mengimposisi nomer-nomer soul dengan bebop, baik pada momen-momen pendek resolusi akhir lagu, maupun saat slot khusus improvisasi. Debut Brecker Brothers (kelompok lawas Randy dengan Michael Brecker),  “Some Skunk Funk” (1975), menambah panas aksi mereka yang saling bertukar baris-baris solo <em>up tempo</em>.</p>
<p>Apalagi yang lebih pas bagi koneksi alumni Miles Davis era elektrik ini selain pamungkas “Jean Pierre” dengan fitur basis <strong>Darryl Jones</strong> yang dibantu drummer <strong>Rodney Holmes</strong>. Kibordis Steve Weingart  pun ambil bagian pada giliran solo. Yang paling asyik adalah pilihan tema mayor Evans yang berpindah dari saksofon tenor ke sopran, berbenturan lembut dengan watak kuat nomer ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/guitar-affair-lukather-ford-edisi-spesial-soulbop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Filosofi Deep Song Kurt Rosenwinkel</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/filosofi-deep-song-kurt-rosenwinkel/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=filosofi-deep-song-kurt-rosenwinkel</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/filosofi-deep-song-kurt-rosenwinkel/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 03:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arif Kusbandono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10208</guid>
		<description><![CDATA[Pada intro "Reflections" penonton memperoleh kesempatan menyimak improvisasi harmoni Rosenwinkel bak pianis jazz menggiring mood sentimental. Nilai estetik deep sense yang menjadi semangat album “Deep Song” (Verve, 2005) dibaginya live di hari kedua Axis Java Jazz Festival 2010.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10241" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Kurt-Rosenwinkel-Standard-Trio-JJF2010-6Maret-AJI-125.jpg"><img class="size-medium wp-image-10241" title="Kurt Rosenwinkel Standard Trio-JJF2010-6Maret-AJI-125" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Kurt-Rosenwinkel-Standard-Trio-JJF2010-6Maret-AJI-125-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Kurt Rosenwinkel</p></div>
<p>Jejak para pemain tunggal <em>jazz-box</em> yang elegan meramu <em>chord-melody</em> masih melekat padanya. Akan tetapi, ada waktunya begitu perputaran cair solo mengalir lancar dari jemari <strong>Kurt Rosenwinkel</strong>, tebakan kita untuk melengkapi kalimat berikutnya akan gagal jika logika klasik yang dipakai. Anehnya simpul-simpul kejutan yang dibukanya satu per satu tetap logis dalam ukuran khalayak atau malah <em>common sense </em>baru berhasil disodorkannya tanpa penolakan. Di majalah Jazziz  ia pernah menjelaskan keinginannya untuk berada di persilangan Alan Holdsworth dengan Grant Green, namun tetap memainkan pendekatan kordal Keith Jarrett. Pianis yang disebut terakhir mempertahankan ruang harmoni bahkan saat solo. Dengan kontras, gitaris Holdsworth yang lebih melodi-sentrik pun tetap mampu melakukannya lewat untai legato khasnya, walaupun hanya satu not per satu waktu. Pada akhirnya manivestasi permainan gitar  Rosenwinkel terhadap pengaruh-pengaruh tadi adalah berusaha jujur terhadap intuisinya sendiri untuk melahirkan suaranya sendiri.</p>
<p>Standar Thelonious Monk “Reflections”  (judul albumnya di Wommusic, 2009) yang dibawakan trio Kurt Rosenwinkel</p>
<div id="attachment_10242" class="wp-caption alignright" style="width: 209px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Kurt-Rosenwinkel-Standard-Trio-JJF2010-6Maret-AJI-013.jpg"><img class="size-medium wp-image-10242" title="Kurt Rosenwinkel Standard Trio-JJF2010-6Maret-AJI-013" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Kurt-Rosenwinkel-Standard-Trio-JJF2010-6Maret-AJI-013-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Kurt Rosenwinkel Standard Trio</p></div>
<p>memuat preferensinya belakangan ini, buai emosi dalam balada kaya harmoni yang dibawakan trio standar. Pada intronya penonton memperoleh kesempatan menyimak improvisasi harmoni Rosenwinkel bak pianis jazz menggiring <em>mood</em> sentimental. Secara keseluruhan, nilai estetik <em>deep sense</em> yang menjadi semangat album “Deep Song” (Verve, 2005) dibaginya <em>live</em> di hari kedua Axis Java Jazz Festival 2010. Pada album tersebut ia memerankan pimpinan bagi senyawa gemintang pianis Brad Mehldau, saksofonis Joshua Redman, bassis Larry Grenadier, dan drummer Jeff Ballard. Nomer titelnya menjadi ilustrasi bahwa ia tidak keberatan memainkan <em>part</em> saja, lebih menitikberatkan aransemen, karena jazz tidak harus selalu bermakna improvisasi solo.</p>
<p>Yang menyusul kemudian di AXIS Hall adalah ayunan langkah  “Boplicity” dari tema melodi simpel “The Birth of The Cool”-nya Miles Davis. Karakter hangat gitarnya diimbuhi sedikit distorsi untuk “Like Sonny” (John Coltrane) yang mengantri di belakangnya. Trio ini kembali mengambil standar “When Sunny Gets Blue” dari  album Intuit (Criss Cross Jazz, 2009) yang masih dalam tempo medium diiringi permainan swing stik <em>brush</em>. <em>Sideman</em> untuk trio standar formasi Jakarta ini adalah pemain <em>bass upright</em> <strong>Matt Clohesy</strong> dan <em>drummer</em> <strong>Rodney Green</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/filosofi-deep-song-kurt-rosenwinkel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Brian Lynch Unsung Heroes: Mengenal Yang Terlewatkan</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/brian-lynch-unsung-heroes-mengenal-yang-terlewatkan/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=brian-lynch-unsung-heroes-mengenal-yang-terlewatkan</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/brian-lynch-unsung-heroes-mengenal-yang-terlewatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 03:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arif Kusbandono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10234</guid>
		<description><![CDATA[Brian Lynch memboyong quintet jazz moderennya New York untuk proyek “Unsung Heroes”. Quintet tributal ini bermaksud memperkenalkan secara lebih luas pemain trumpet dan komponis luar biasa yang nyaris tak terdeteksi radar jazz.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10238" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/JJF2010-BRIAN-LYNCH-AS-DSC_0324.jpg-kecil.jpg"><img class="size-medium wp-image-10238" title="JJF2010-BRIAN LYNCH-AS-DSC_0324.jpg - kecil" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/JJF2010-BRIAN-LYNCH-AS-DSC_0324.jpg-kecil-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Brian Lynch</p></div>
<p>Pemenang Grammy Award untuk produksi latin “Simpatico” (dalam kolaborasi bersama Eddie Palmieri), <strong>Brian Lynch</strong>, memboyong quintet jazz moderennya New York untuk proyek “Unsung Heroes”. Sebuah rekaman yang dikerjakannya untuk rilis di bawah labelnya sendiri Hollistic Musicworks. Quintet <em>tributal</em> ini bermaksud memperkenalkan secara lebih luas pemain trumpet dan komponis luar biasa yang nyaris tak terdeteksi radar jazz. Label yang mencatut kata holistik inipun tergolong unik dengan merekam versi <em>play along</em> (semacam <em>minus one </em>yang biasa digunakan untuk berlatih tanpa band lengkap) untuk aplikasi populer seperti Garage Band, Logic, dan Sonar; dilengkapi studi kasus; hingga merekam video aneka <em>angle </em>yang dimaksudkan untuk DVD interaktif.</p>
<p>Pada Axis Java Jazz Festival 2010, Lynch memperkenalkan pemain terompet yang aktif di tahun 1940-an hingga sekarang lewat karya mereka maupun nomer dedikasi yang diinspirasikan mereka. Karya-karya menakjubkan tersebut umumnya belum pernah direkam dan diedarkan. Dibuka dengan “Terra Firma Irma” karya Joe Gordon, Lynch kemudian memperkenalkan Tommy Turrentine lewat “It Could Be”. Orang mungkin lebih kenal saksofonis Stanley Turrentine, adiknya. Tommy yang diketahui hanya merilis satu album atas namanya sendiri sebelum pensiun di 1960-an adalah mentor bagi Lynch.</p>
<p>Nomer original yang dimainkan kemudian adalah “Further Arrivals” dengan introduksi kepala yang tajam vertikal,</p>
<div id="attachment_10239" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/JJF2010-BRIAN-LYNCH-AS-DSC_0320.jpg-kecil.jpg"><img class="size-medium wp-image-10239" title="JJF2010-BRIAN LYNCH-AS-DSC_0320.jpg - kecil" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/JJF2010-BRIAN-LYNCH-AS-DSC_0320.jpg-kecil-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Brian Lynch Unsung Heroes</p></div>
<p>namun selebihnya adalah <em>groove</em> yang bertahan sebagi pondasi improvisasi modal yang panjang. Ritme tekun tersebut diwujudkan oleh bassis berbakat <strong>David Wong</strong> dan drummer <strong>Pete Van Nostrand</strong>. Di atasnya secara bergantian dalam suasana jammin ada pemain alto <strong>Donald Harrison</strong> berduet, bertukar baris-baris kreatif dengan pemain tenor <strong>Alex Hoffman</strong>. Secara umum trio peniup di panggung Lynch cukup bergema menyuarakan komposisi-komposisi harmonis yang cocok untuk ensambel <em>mutipieces</em> umumnya <em>big band</em>.  Swing “Big Red” (Tommy Turrentine) pun dieksekusi mantap lengkap dengan aksen-aksen tiupan keras-lemah yang hidup. Seksi piano quintet ini diperkuat sahabat lama Lynch, <strong>Rob Schneiderman</strong>, yang juga tercatat sebagai profesor matematika di Lehman College, NY.</p>
<p>Menjelang akhir pertunjukkan “&#8217;Nother Never” yang diinspirasikan Louis Smith meluncur di jalur cepat bebop yang menaikkan lagi kondisi klimaks penonton. Akhirnya mereka mengakhiri perjalanan mengenal mereka yang “nyaris terlupakan” itu dengan ringannya sebuah samba, dedikasi bagi peniup terompet lainnya, Claudio Roditi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/16/brian-lynch-unsung-heroes-mengenal-yang-terlewatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menu Lengkap dari George Duke</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/15/menu-lengkap-dari-george-duke/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=menu-lengkap-dari-george-duke</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/15/menu-lengkap-dari-george-duke/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 19:18:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erson</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10191</guid>
		<description><![CDATA[Secara keseluruhan George Duke tampil dengan menarik malam itu, Musisi yang juga produser dan pencipta lagu ini tampil dengan membawakan lagu-lagu cukup variatif dan beragam mulai dari membawakan lagu-lagu hitsnya yang bernuansa pop, R&#038;B, hingga lagu jazz standard. Ditambah dengan pilihan nada yang easy listening pada saat bermain membuat pertunjukannya sayang untuk dilewatkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10193" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/George-Duke-Trio-JJF2010-6Maret-AJI-223.jpg"><img class="size-medium wp-image-10193" title="George Duke Trio-JJF2010-6Maret-AJI-223" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/George-Duke-Trio-JJF2010-6Maret-AJI-223-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">George Duke at Java Jazz Fesival 2010</p></div>
<p>George Duke adalah salah satu penampil di hari kedua AXIS Jakarta International Java Jazz Festival  2010 yang menarik untuk dinikmati. Tampil dengan format trio bersama <strong>Christian McBride</strong> (bass) dan <strong>Ron Bruner</strong> (drum). Pada pertunjuknnya malam itu George Duke bagaikan menyajikan satu set menu secara lengkap mulai dari pembuka hingga hidangan penutup di akhir pertunjukannya. Malam itu Duke tampil cukup variatif dan lengkap, mulai dari membawakan lagu-lagu hitsnya yang bercorak pop hingga beberapa buah lagu jazz standard.</p>
<p>George Duke membuka pertunjuknnya malam itu dengan beberapa buah lagu dari album-album hitsnya dan kemudian manyuguhkan menu lain berupa lagu-lagu standard kepada penonton yang memenuhi hall C1 JIEXPO Kemayoran. &#8216;In A Mellow Tone&#8217; salah satu nomor standard karya <strong>Duke Ellington</strong> yang dibawakan dengan tarikan vokal George Duke malam itu. Bergantian antara keyboard dan piano, George Duke tampil begitu fleksibel. Pilihan nada yang diambil ketika berimprovisasi pun cukup segar, ringan dan modern. Bahkan ketika membawakan lagu-lagu standard, dia tetap  mengambil pilihan nada yang mudah untuk dinikmati sehingga membuat penonton enggan beranjak dari tempatnya hingga pertunjukkan berakhir.</p>
<p>Sebagai hidangan penutup, George Duke menutupnya  dengan beberapa hidangan yang berasal dari album &#8220;Brazilian Love Affair&#8221; bersama seorang gitaris yang hadir di akhir pertunjukan. George Duke menutup pertunjukannya dengan membawakan &#8216;Brazilian Love Afair&#8217;. Lagu terakhir ini rupanya menjadi lagu yang ditunggu penonton pada malam hari itu. Lagu ini membuat penonton menjadi semakin antusias terhadap pertunjukan ini. Sayang sedikit gangguan sound sistem membuat pertunjukan ini sedikit kurang terasa nyaman. Seolah kurang puas dengan hidangan penutup, penonton yang berjubel memadati ruangan kembali meminta untuk membawakan hitsnya &#8216;Born To Love You&#8217; yang membuat penonton ikut bernyanyi di akhir pertunjukan malah hari itu.</p>
<p>Secara keseluruhan George Duke tampil dengan menarik malam itu, Musisi yang juga produser dan pencipta lagu ini tampil dengan membawakan lagu-lagu cukup variatif dan beragam mulai dari membawakan lagu-lagu hitsnya yang bernuansa pop, R&amp;B, hingga lagu jazz standard. Ditambah dengan pilihan nada yang easy listening pada saat bermain membuat pertunjukannya sayang untuk dilewatkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/15/menu-lengkap-dari-george-duke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jazz goes to Banua digelar di Banjarmasin</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/14/jazz-goes-to-banua-digelar-di-banjarmasin/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=jazz-goes-to-banua-digelar-di-banjarmasin</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/14/jazz-goes-to-banua-digelar-di-banjarmasin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 14:58:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Setiawan Basuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10185</guid>
		<description><![CDATA[Jazz Goes to Banua edisi 2 merupakan sequel dari event terdahulu. Kali ini menghadirkan Venche Manuhutu, Arief Setiadi, Imam Pras, Grace Sahertian, Budiono dan Teddy dari Bandung dan Jakarta. Acara digelar pada Minggu 14 Maret 2010 di Jorong Cafe &#038; Resto Banjarmasin.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/jazz-goes-tobanua2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-10187" title="jazz-goes-tobanua2" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/jazz-goes-tobanua2.jpg" alt="" width="350" height="467" /></a>&#8220;Jazz Goes to Banua II&#8221; merupakan sequel dari event terdahulu yang di selenggarakan pada 16 Agustus 2009 yang lalu yang kala itu menghadirkan sejumlah musisi seperti <strong>Imelda Rosalin, Shadu Rasjidi, Edy Syahroni, David Manuhutu </strong>dan <strong>Agus Takari.</strong></p>
<p>Konsep acaranya adalah memadukan music show, knowledge sharing (diskusi dan praktek), dan Jam session. Acara itu merupakan acara bertajuk Jazz pertama kali di Banjarmasin yang notabene asing dengan genre itu.</p>
<p>Adalah Drg Harmadji Kurniadi, Widaya Tiono, dan Iqbal yang melontarkan sekaligus mewujudkan impian bahwa Banjarmasin bisa jadi barometer musik Jazz di Kalimantan. Dana yang di kumpulkan dari para pecinta dan pemerhati Jazz di Banua (sebutan lain dari Banjarmasin) akhirnya mampu kami wujudkan menjadi sebuah event yang (menurut kami) spektakuler karena sama sekali tanpa ada tendensi komersial, 100% free charge, benar-benar diharapkan dapat membuat seluruh lapisan masyarakat mulai mengenal Jazz secara terbuka tanpa malu-malu atau bahkan underestimate.</p>
<p>Acara ini juga menjadi ajang bagi musisi Jazz di Banjarmasin yang sesungguhnya memiliki level permainan<br />
dan pengetahuan yang sangat baik dan sejajar dengan para musisi di daerah lain tapi tak pernah punya kesempatan untuk mengekspresikan sesuai kapasitas mereka.</p>
<p>Acara Jazz Goes to Banua edisi dua kali ini, masih dengan konsep yang sama &#8211; didukung secara moril dan materil<br />
dari lebih banyak pihak, Drg Harmadji Kurniadi (pemilik Purwacaraka Music Studio Banjarmasin), Widaya Tiono (pemilik Jorong Cafe, Jorong Entertainment, dan J-Radio 91,7 FM), Tubagus Tisna Suherman (Project<br />
Manager PT. Pama Persada Nusantara), Iqbal plus musisi Jazz Banua, kembali mendatangkan musisi-musisi berkelas nasional antara lain Imam Pras (Piano-mentor Imel Rosalin, Drg Harmadji, dan David  Manuhutu), Venche Manuhutu (Guitar-musisi senior pemilik Venche Music School  Bandung), Grace Sahertian (Vocal) dan Budiono (Drums) plus <strong>Teddy</strong> (Bass) dan <strong>Arief Setiadi </strong>(Sax).</p>
<p>Acara digelar pada hari Minggu 14 Maret 2010 jam 19.00 Wita s/d selesai bertempat di Jorong Cafe &amp; Resto Banjarmasin. Informasi lebih lanjut silakan menghubungi 0511-6102550</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/14/jazz-goes-to-banua-digelar-di-banjarmasin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inner Beauty bersama David Murray</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/12/inner-beauty-bersama-david-murray/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=inner-beauty-bersama-david-murray</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/12/inner-beauty-bersama-david-murray/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 18:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ceto Mundiarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10156</guid>
		<description><![CDATA[Mereka berempat mampu menyuguhkan tontonan jazz berbobot tanpa membuat dahi penonton berkerut. Aura David Murray memang mampu menembus batas-batas ras, budaya, politik dan geografis. Sebuah kesempatan yang langka terjadi dalam ajang pertunjukan musik jazz di Indonesia.    


]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10178" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-160.jpg"><img class="size-medium wp-image-10178" title="David Murray BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-160" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-160-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">David Murray</p></div>
<p>Inner beauty, sebuah konsep qualifikasi untuk menggambarkan aspek-aspek positif dari sesuatu yang non-fisik. Wikipedia menyebut kualitas tersebut meliputi <em>kindness, sensitivity, tenderness or compassion, creativity and intelligence</em>. Gambaran abstrak kualitas tersebut kalau dibandingkan dengan penampilan David Murray bersama Black Saint Quartet di AXIS Java Jazz Festival 2010 terasa melekat menjadi satu dalam aura Murray.</p>
<p>Kreatif dan pintar, kesan mendalam setelah mengamati lika-liku perjalanan karier David Murray sejak akhir dasawarsa 1970an sampai saat ini. Murray mencoba untuk memompa spirit jazz sebagai satu kesatuan yang utuh ke dalam para musisi generasi kontemporer. Kelembutan, meski sering bercumbu dengan tradisi free jazz namun masih menyisakan banyak ruang untuk bermain lembut, vibrato, dalam tiupannya  bak seorang saxophonis di era Swing. Sensitif, di beberapa tahun terakhir ini juga, Murray lebih detail dan sensitif terhadap cara memperlakukan saxophone. Pribadi yang baik, sebatas pengetahuan penulis, orangnya low profile, tegas dan terbuka. Di hari ketiga, Murray sempat memberi salam kepada penonton dengan bahasa Arab yang cukup fasih.</p>
<div id="attachment_10173" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-199.jpg"><img class="size-medium wp-image-10173" title="David Murray BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-199" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-199-300x199.jpg" alt="Hamid Drake &amp; David Murray" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Hamid Drake &amp; David Murray</p></div>
<p>Tampil 2 kali selama perhelatan musik terbesar di Asia ini dengan dukungan formasi Black Saint Quartet yang terdiri dari para musisi dari Chicago <strong>Lafayette Gilchrist</strong> (piano), <strong>Jaribu Sahid</strong> (bass) dan <strong>Hamid Drake</strong> (drum). Black Saint adalah sebuah label jazz dari Milan Itali yang didirikan oleh Giovanni Bonandrini di tahun 1977 yang berfokus kepada para musisi jazz kreatif dan <em>sophisticated</em>. Sedangkan beberapa album unggulan Murray sendiri ada di bawah label tersebut dari 1978 sampai 1993.  Sayang label yang berisi para musisi free jazz generasi lebih modern tersebut saat ini telah bangkrut dan dibeli oleh label yang sama-sama dari Itali, CamJazz. Nama Black Saint Quartet sendiri muncul dalam album &#8220;Sacred Ground&#8221; (2007) yang terdiri dari Lafayette Gilchrist (piano), <strong>Ray Drummond</strong> (bas), <strong>Andrew Cyrille</strong> (drum) dan vokalis tamu <strong>Cassandra Wilson</strong>.</p>
<div id="attachment_10174" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-240.jpg"><img class="size-medium wp-image-10174" title="David Murray BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-240" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-240-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Hamid Drake</p></div>
<p>Agak berbeda dengan masa paruh pertama karier Murray yang energik, meledak-ledak, liar, garang dan <em>atonal</em>. Sekarang ini lebih banyak fokusnya kepada masalah komposisional, kembali ke roots seperti bebop dan hardbop serta kelembutan dan keharmonisan simetris. Kalau ada kesan-kesan outside dalam permainannya semuanya dalam bingkai <em>controled freedom</em>. Termasuk ketika Murray memainkan bas klarinet yang mengingatkan kita kepada musisi jazz legendaris <strong>Eric Dolphy</strong>. Sebaliknya, justru yang tertangkap adalah kedewasaan Murray dalam bermusik.  Terlebih, penjiwaan dari sound setiap nada yang keluar dari saxophonenya begitu luar biasa. Bahkan bisa memunculkan bayangan sebuah sejarah musik jazz dan sosial masyarakat <em>Afro-American</em>.</p>
<div id="attachment_10181" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-1231.jpg"><img class="size-medium wp-image-10181" title="David Murray BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-123" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-1231-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Lafayette Gilchrist</p></div>
<p>David Murray menampilkan beberapa komposisi standar maupun orisinalnya seperti &#8216;Waltz Again&#8217;, &#8216;Wagoo Pagoo&#8217;</p>
<div id="attachment_10180" class="wp-caption alignright" style="width: 209px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-031a1.jpg"><img class="size-medium wp-image-10180" title="David Murray BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-031a" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/David-Murray-BSQ-JJF2010-5Maret-AJI-031a1-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Jaribu Shahid</p></div>
<p>(dibuat sebagai respon slogan kampanye Presiden Amerika Serikat <strong>Barack Obama</strong>, Yes We Can), &#8216;Giant Step&#8217; (ditampilkannya dengan pendekatan yang unik dan bersahaja), &#8216;In A Sentimental Mood&#8217; dan beberapa komposisi lainnya. Para musisi pendukungnya bermain secara proporsional, meski Gilchrist dan Drake sering mencuri perhatian penonton. Pendekatan gaya permainan Gilchrist yang perkusif ini mengingatkan kita kepada beberapa pianis yang dulu sering bermain bersama Murray seperti <strong>Don Pullen</strong> dan <strong>D.D. Jackson</strong>. Sementara drummer Drake juga tampil lain kali ini.  Kalau biasanya kita menyimak permainannya yang abstrak dan komplek ketika membantu saxophonis free improvisation legendaris dari Jerman <strong>Peter Brotzmann</strong> atau free jazzer Chicago generasi terakhir <strong>Ken Vandermark</strong>, Drake kali ini justru tampil dengan lebih simpatis dan komunikatif dengan penonton. Sedangkan cabikan bas Sahid begitu kuatnya dalam menjaga tempo seluruh permainan.</p>
<p>Alhasil, mereka berempat mampu menyuguhkan tontonan jazz berbobot tanpa membuat dahi penonton berkerut. Aura David Murray memang mampu menembus batas-batas ras, budaya, politik dan geografis. Sebuah kesempatan yang langka terjadi dalam ajang pertunjukan musik jazz di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/12/inner-beauty-bersama-david-murray/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bubi Chen, The Legend Of jazz Concert, featuring Ermy Kulit, Mates, Agam Hamzah, Rio Sidik, Sandy Winarta, Yoyo</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/09/bubi-chen-the-legend-of-jazz-concert-featuring-ermy-kulit-mates-agam-hamzah-rio-sidik-sandy-winarta-yoyo/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=bubi-chen-the-legend-of-jazz-concert-featuring-ermy-kulit-mates-agam-hamzah-rio-sidik-sandy-winarta-yoyo</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/09/bubi-chen-the-legend-of-jazz-concert-featuring-ermy-kulit-mates-agam-hamzah-rio-sidik-sandy-winarta-yoyo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 14:46:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ajie Wartono</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10165</guid>
		<description><![CDATA[Begitu juga virtuositasnya, mengingat Bubi Chen telah diakui secara internasional. Seperti Majalah musik Down Beat menempatkan Bubi Chen sebagai 10 besar pianis jazz dunia. Satu predikat yang belum pernah diberikan pada musisi jazz mana pun di Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10166" class="wp-caption alignleft" style="width: 218px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/jzheroes.jpg"><img class="size-medium wp-image-10166" title="jzheroes" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/jzheroes-208x300.jpg" alt="" width="208" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">The Legend Of Jazz Concert</p></div>
<p>Dia adalah ‘’the one and only’’ dalam sejarah jazz Indonesia, dalam rentang waktu sekian puluh tahun perjalanan musik negeri ini, sebagai seorang pianis jazz, <strong>Bubi Chen</strong> tiada banding. Dari sisi senioritas tak diragukan karena ia musisi jazz lebih dari tiga zaman. Begitu juga virtuositasnya, mengingat Bubi Chen telah diakui secara internasional. Seperti Majalah musik Down Beat menempatkan Bubi Chen sebagai 10 besar pianis jazz dunia. Satu predikat yang belum pernah diberikan pada musisi jazz mana pun di Indonesia. Bubi Chen adalah arek Suroboyo yang mencintai kotanya. Prestasinya yang telah mengangkat nama kota Surabaya dan juga Jawa Timur, bahkan Indonesia ke dunia internasional; menjadikan Bubi sangat layak untuk menerima penghargaan berupa Life Achivement Award dari Gubenur Jawa Timur, Soekarwo sebagai penghormatan dan penghargaan untuk seniman dengan pengabdian sepanjang hidup. Penganugerahan penghargaan itu akan dilaksanakan berbarengan dengan konser <strong>WISMILAK THE LEGEND OF JAZZ</strong> , <strong>Sabtu, 13 Maret 2010 di Gramedia Expo, Surabaya</strong> yang tampilkan performanya bersama para musisi jazz generasi berikutnya.</p>
<p>Konser jazz tersebut akan dimeriahkan dengan hadirnya para musisi jazz kenamaan seperti <strong>Ermy Kullit (vokal), Ananda Mates (bas), Sandy Winarta (drum), Rio Sidik (trumpet), Yoyok (saksofon), Agam Hamzah (gitar)</strong> serta penampilan para musisi yang tergabung dalam Surabaya Jazzers. Mereka adalah para musisi Surabaya yang pernah bergabung dengan Bubi Chen di tahun 80 dan 90 an. Di antaranya <strong>Totok Afiat, Iwan, Tri, FX Boy</strong> dan <strong>Corina</strong>. Serta beberapa musisi muda lainnya dari Surabaya, yang merupakan murid-murid dari Bubi Chen. WISMILAK THE LEGEND OF JAZZ diselenggarakan oleh <strong>Surabaya Jazz Lovers (SJL)</strong> yang bekerja sama dengan <strong>Semarang Jazz Lovers (SJL)</strong>. Ini adalah pentas jazz yang diharapkan dapat mempertemukan beberapa generasi musisi jazz di Indonesia hingga kini “Penganugerahan award bagi seorang Bubi Chen bukan yang kali pertama. Sebelumnya Bubi Chen pernah menerima penghargaan berupa Satya Lencana pengabdian seni dari Presiden Megawati Soekarno Putri (2004) dan penghargaan sebagai musisi jazz Living Legend dari Peter F. Gontha saat acara Java Jazz Festival (2005). ungkap Rita Noya, penggagas acara ini. Di usianya yang ke 72 (lahir di Surabaya, 9 Februari 1938), Bubi Chen tak pernah berhenti berkarya. Album Bubi Chen terbaru yang dirilis November 2009 lalu, adalah The Many Collors of Bubi Chen. Album ini dikerjakan bersama beberapa musisi jazz lintas generasi, diantaranya Oele Pattiselanno, Yance Manusama, Oty Jamalus, Arief Setyadi dan Sandy Winarta. Di album ini Bubi Chen memainkan lagu-lagu klasik rock tahun 87, 80-an, di antaranya “Soldier of Fortune” (Deep Purple), “Stairway to Heaven”(Led Zepellin),” Holiday” (Scorpion) atau “Dust In The Wind” (Kansas).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/09/bubi-chen-the-legend-of-jazz-concert-featuring-ermy-kulit-mates-agam-hamzah-rio-sidik-sandy-winarta-yoyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Denyut Jazz Straight Ahead Tiada Henti, Christian McBride and His Insiders Rock!</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/09/denyut-jazz-straight-ahead-tiada-henti-christian-mcbride-and-his-insiders-rock/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=denyut-jazz-straight-ahead-tiada-henti-christian-mcbride-and-his-insiders-rock</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/09/denyut-jazz-straight-ahead-tiada-henti-christian-mcbride-and-his-insiders-rock/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 18:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thomas Anggoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10157</guid>
		<description><![CDATA[Di usia yang belum genap 40 tahun, Christian McBride memikul tanggung jawab besar di atas pundaknya. Sebagai seorang musisi, segala peran dilakoninya tanpa gentar, baik menjadi leader maupun sideman session player merangkap arranger dan produser pada tiap proyek yang ia kerjakan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10160" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Christian-MCBride-Insight-Straight-JJF2010-6Maret-AJI-095.jpg"><img class="size-medium wp-image-10160" title="Christian MCBride Insight Straight-JJF2010-6Maret-AJI-095" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Christian-MCBride-Insight-Straight-JJF2010-6Maret-AJI-095-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Christian McBride</p></div>
<p>Menjadi satu pengalaman yang tak terlupakan, ketika memiliki kesempatan untuk menyaksikan langsung penampilan basis kelas dunia, Christian McBride. Pembetot bas gundul ini memang sibuk tak kepalang tanggung, untunglah salah satunya adalah manggung di acara tahunan AXIS Jakarta International Java Jazz Festival yang merupakan kunjungan perdananya ke Indonesia. Sesuai jadwal yang dilansir panitia, Chris bersama Inside Straight ditempatkan pada hari kedua, Sabtu (6/3/2010) pukul 18.45 di <em>C1 LG</em><em> </em>Mobile <em>Hall. </em>Susunan rapi tempat duduk dan pendingin ruangan yang berfungsi maksimal membuat venue terasa nyaman petang itu. Acara dimulai tepat waktu, persis sesuai jadwal, dibuka lewat sambutan singkat MC seorang wanita muda ketika ia berkata, “Ladies and gentlemen, please welcome, Christian McBride and The Inside Straight!”, sontak dibalas riuh tepuk tangan penonton yang mulai memenuhi aula berkapasitas 3000-an orang tersebut.</p>
<p>Tanpa basa-basi, Kelima penampil langsung menggertak dengan &#8216;Brother Mister&#8217;, tema utama ditampilkan secara unisono lewat instrumen vibrafon dan saksofon alto dengan introduksi bas, drum, dan <em>blocking chord</em> piano yang sepintas mirip dengan riff &#8216;Watermelon Man&#8217; <strong>Herbie Hancock</strong>. Komposisi pembuka yang relatif santai dan <em>catchy</em> kemudian disambung dengan &#8216;Theme for Kareem&#8217; dari mendiang <strong>Freddie Hubbard</strong>,<em> </em>bertempo lebih cepat dan otomatis membuat suasana menghangat. Atmosfer ruangan itu terasa memanas selepas lagu kedua, ketika sang <em>frontman</em> memberikan responnya kepada audiens, “Jakarta is nothing but SOUL!”, gombalnya di atas panggung yang segera ditingkahi meriah oleh antusiasme penonton. Kemudian satu-persatu personil dikenalkan oleh Chris, ada <strong>Steve Wilson</strong> (saksofon alto), <strong>Warren Wolf, Jr.</strong> (vibrafon), <strong>Peter Martin</strong> (piano), dan drummer murah senyum, <strong>Ulysses Owens, Jr</strong>. Repertoar yang dibawakan malam itu sebagian besar terambil dari album terbaru Chris, &#8220;Kind of Brown&#8221;. Formasi personil The Inside Straight pada  AXIS Java Jazz Festival sedikit berbeda dengan album, <strong>Chris Reed</strong> dan <strong>Carl Allen</strong> di seksi piano dan drum.</p>
<p>Sebuah komposisi cantik nan lembut, &#8216;Starbeam&#8217;, membius pengunjung melalui pendaran melodi-melodi manis yang kembali disajikan Steve dan Warren lewat peleburan <em>tone colour</em> saksofon dan vibrafon, terdengar sangat menyejukkan. Menjelang akhir lagu, Chris memberikan sedikit sentuhan solo dengan cabikan kontrabasnya. Nuansa <em>bluesy</em> terbersit ketika kwintet ini membawakan “Used ‘Ta Could”, seperti dijelaskan Chris mengenai judul komposisinya itu, “Di negara kami, Amerika, ini adalah sebuah ungkapan <em>slang</em> yang saya sendiri juga tidak tahu persis artinya, jadi nikmati saja”, ujarnya terkekeh. Memang, persepsi musikal tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, setidaknya itulah apa yang ingin mereka sampaikan lewat musiknya.</p>
<p>Kecanggihan Christian McBride atas instrumen besarnya itu sungguh tercetus ketika ia memainkan sebuah nomor</p>
<div id="attachment_10161" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Christian-MCBride-Insight-Straight-JJF2010-6Maret-AJI-322.jpg"><img class="size-medium wp-image-10161" title="Christian MCBride Insight Straight-JJF2010-6Maret-AJI-322" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Christian-MCBride-Insight-Straight-JJF2010-6Maret-AJI-322-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Christian McBride and Inside Straight</p></div>
<p>ballad, &#8216;Sophisticated Lady&#8217;, yang lahir dari goresan pena raksasa jazz, Duke Ellington. Lagu yang tidak akan ditemukan dalam album &#8220;Kind of Brown&#8221; ini menjadi salah satu <em>highlight</em> konser malam itu. Ditampilkan secara trio (kontrabas, piano, drum), Chris tampil sangat meyakinkan, virtuositas dipamerkan tanpa pretensi, penonton hanya bisa berdecak kagum sembari menggelengkan kepala. Dengan sabar dan penuh penghayatan, jalinan kalimat musik dalam karya tersohor ini semakin indah terucap melalui sayatan <em>bow</em> kontrabas Chris. Tidak percuma ia membawa <em>bow </em>(penggesek) yang malam itu seolah menjadi senjata pamungkasnya. Ada gunanya juga, ketika ia dengan tekun mempelajari kontrabas klasik – lebih menekankan kepada teknik <em>arco </em>(gesekan) ketimbang <em>pizzicato </em>(petikan) – di Juilliard School, New York, pada masa remajanya, yang membentuk versatilitas permainannya hingga kini.</p>
<p>Kegilaan aksi Christian McBride dan The Inside Straight mencapai “titik didih” pada nomor penutup “Stick &amp; Move”, kuat dengan gaya hard bop di dalamnya. Hentakan sinkopasi ritmis pada <em>rhythm section</em> sebagai aksen tema-tema pendek di permulaan lagu, menjadi daya tarik komposisi garapan sang basis karismatik ini. Ibarat pertandingan tinju, pukulan <em>jab</em>, <em>hook</em>, dan <em>uppercut</em> menghantam silih berganti, berpadu dengan <em>foot work</em> yang luar biasa lincah untuk menghindari serangan balasan, membuat lawan kelimpungan. Penjelasan Chris tentang lagu terakhir ini, “If you’re into boxing, then you must have known what it’s all about,” celotehnya. “Stick &amp; Move” menuntut kecepatan, kecermatan, dan ketepatan masing-masing penampil dalam berimprovisasi. Terlihat dengan jelas betapa gesit Warren Wolf, Jr. mengeksekusi bilah-bilah logam vibrafonnya. Bahkan, sesekali lempengan besi itu keluar dari jalurnya setelah dihajar bertubi-tubi oleh mallet Warren, entah karena ia terlalu bersemangat atau memang alatnya yang kurang siap. Setelah vibrafonis, pianis, dan saksofonis tampil solo, mereka bertiga akhirnya menyingkir ke samping panggung, sorotan kini diarahkan kepada Chris dan Ulysses. Pertarungan antara kontrabas dan drumset tak terhindarkan lagi. Atensi penonton mutlak terpusat pada gelagat keduanya, ketika mereka bergantian menampilkan atraksi memukau instrumennya masing-masing. Ulysses, drummer muda berbakat itu terlihat sangat enerjik, tanpa lelah ia melancarkan pukulan-pukulan bombastis untuk mengimbangi “provokasi” kenakalan jemari gemuk Chris diatas fingerboard kontrabasnya. Penggebuk drum asal Jacksonville, Florida ini baru saja merasakan manisnya penghargaan Grammy, dimana ia menjadi <em>sideman</em> <strong>Kurt Elling</strong> pada album &#8220;Dedicated To You: Kurt Elling Sings The Music Of Coltrane And Hartman&#8221;, yang dinyatakan sebagai peraih piala untuk kategori album vokal jazz terbaik. Aksi Chris dan Ulysses lebih mirip seperti sesi tanya-jawab yang saling berbalas secara kanonik. Seusai pertarungan dahsyat yang dimenangkan oleh keduanya, ketiga musisi lainnya kembali ke posisi masing-masing menyusul Chris dan Ulysses dan kelimanya kembali memainkan tema utama “Stick &amp; Move” seraya mengakhiri konser malam itu dengan gemilang.</p>
<p>Di usia yang belum genap 40 tahun, Christian McBride memikul tanggung jawab besar di atas pundaknya. Sebagai seorang musisi, segala peran dilakoninya tanpa gentar, baik menjadi <em>leader</em> maupun <em>sideman session player</em> merangkap <em>arranger</em> dan produser pada tiap proyek yang ia kerjakan. Sederet nama besar menaruh kepercayaan padanya, sebut saja Freddie Hubbard, <strong>McCoy Tyner, Diana Krall, Chick Corea, Ray Brown, </strong>hingga <strong>Sting, Kathleen Battle</strong>, sampai raja soul <strong>James Brown</strong>. Dengan preferensi musikal yang sangat luas, ia membawa misi penting: mengekspos musik jazz kepada generasi muda, selaras dengan posisinya sebagai wakil direksi pada The Jazz Museum di Harlem.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/09/denyut-jazz-straight-ahead-tiada-henti-christian-mcbride-and-his-insiders-rock/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indro Hardjodikoro Tampil dan Rilis &#8220;Feels Free&#8221; Di Axis Java Jazz Festival 2010</title>
		<link>http://www.wartajazz.com/2010/03/07/indro-hardjodikoro-tampil-dan-rilis-feels-free-di-axis-java-jazz-festival-2010/#utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=indro-hardjodikoro-tampil-dan-rilis-feels-free-di-axis-java-jazz-festival-2010</link>
		<comments>http://www.wartajazz.com/2010/03/07/indro-hardjodikoro-tampil-dan-rilis-feels-free-di-axis-java-jazz-festival-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 11:12:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arif Kusbandono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Java Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[New Release]]></category>
		<category><![CDATA[Indro Hardjodikoro Trio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wartajazz.com/?p=10136</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan session bassist Indro Hardjodikoro membesarkan grupnya sendiri yang berformat trio jazz rock. Formasi matangnya adalah jazz rock-dengan-kibor alih-alih distorsi gitar! Fusi efektif ini merilis album "Feels Free" pada Axis Java Jazz Festival 2010.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10142" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Indro-feels-free-small.jpg"><img class="size-full wp-image-10142" title="Indro Hardjodikoro - Feels Free" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2010/03/Indro-feels-free-small.jpg" alt="Cover Indro Hardjodikoro - Feels Free" width="240" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Indro Hardjodikoro - Feels Free</p></div>
<p>Belakangan <em>session bassist</em> <strong>Indro Hardjodikoro</strong> membesarkan grupnya sendiri yang berformat trio jazz rock. Formasi matangnya adalah jazz rock-dengan-kibor alih-alih distorsi gitar! Tribal Tech minus Scott Henderson (yang kemudian berarti dominannya warna elektronik kibordis Scott Kinsey) bisa jadi model jika harus mencomot ilustrasi dari masa keemasan genre itu. Inang Noorsaid sempat mengisi pos drum hingga pentas Fusion Trio Explosion lalu (TIM, 2009/02/18).</p>
<p>Namun, <em>prodigy</em> drum <strong>Demas Narawangsa</strong>-lah yang kini menggenapi geometri belia trio ini bersama <em>keytarist</em> <strong>Lal Intje Makkah</strong> (menyandang <em>hand keyboard</em>). Fusi efektif ini memberi bobot pada peran komposisional Indro, terencana, namun tetap menyiapkan slot improvisasi. Indro memilih tampil dengan karakter suara besi, lebih <em>bright</em> dengan tambahan <em>piezoeletric <em>pick-up</em></em> (biasanya untuk gitar akustik). Tanpa <em>slap</em>, ia bersenyawa dengan anggota trionya dalam soul-blues ”Psychopath”, maupun energi cadas ”Drum N Bass”. Balada solo ”My Angel”  yang memperdengarkan pengaruh gaya tutur-cerita Pat Metheny (mengeksplorasi gitar bariton) adalah tema yang diangkat pula oleh Indro-Trio.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kabar tersebut ternyata berlanjut dengan kabar baik, yaitu selesainya proses produksi album mereka &#8220;Feels Free&#8221;. Setelah ketatnya jadwal proses pascarekaman, Indro berhasil mengambil momentum penampilan di hari ke dua Axis Java Jazz Festival 2010 untuk sekaligus merilis rekaman ini. Khusus <em>live</em> ini (06/03/2010), trio ini tampil lebih garang dengan bantuan gitaris bersensibilitas <em>jazz rock</em>, <strong>Andre Dinuth</strong>, yang memang sudah pernah tampil dalam formasi rintisan trio ini. Selain yang telah disebutkan pada kilasan di atas, rekaman ini memuat penampilan bintang tamu gitaris senior <strong>Oele Pattiselano</strong> dan <em>partner in crime</em> <strong>Tohpati</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wartajazz.com/2010/03/07/indro-hardjodikoro-tampil-dan-rilis-feels-free-di-axis-java-jazz-festival-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
