Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Kategori | News

Tags : ,

Konser tengah tahun Salamander Big Band di Bandung

Posted on 14 June 2009 by Agus Setiawan Basuni

Dalam sejarah republik ini tak banyak grup big band bertahan. Pertama barangkali karena mengumpulkan sekian banyak orang dengan beragam instrumen sudah merupakan pekerjaan tersendiri, belum lagi karena ini big band, berbeda dengan kelompok kecil berformat trio atau quartet apalagi duet. Kedua, ada pandangan stereotip bahwa big band pada umumnya membawakan karya ‘usang’ tahun 30-an saat genre ini berjaya.

Meski tak berusaha menjawab berbagai pernyataan atau pertanyaan diatas, Devy Ferdianto, konduktor Salamander Big Band yang memiliki home-base di kota kembang Bandung mengatakan, “[meski] pemahaman beberapa media menganggap kita cuman swing band yang bawa repertoire tahun 30an, padahal gak juga, kita cuma mau menekankan bahwa big band sekontemporer apapun tetep mesti ada pakem”, ujarnya lewat jendela chat Facebook.

Poster Salamander Mid Year Concert 2009

Poster Salamander Mid Year Concert 2009

Ya, mesti ada pakem maksudnya tetap berakar pada sejarah bagaimana jazz atau big band bermula, agar tak menjadi salah kaprah – namun ada upaya menggarap unsur kekinian misalnya dengan lagu Tokecang yang dibuat dengan nuansa kontemporer bersama drummer Gilang Ramadhan di tahun 2007 silam. “kami dibilang konservatif tapi sebenarnya kami banyak membawakan reportoire big band modern”, tambah Devy lagi.

Namun lepas dari apapun pandangan publik, Devy dan Salamander Big Band-nya akan menggarap sebuah konser tengah tahun dengan tajuk Salamander Big Band  – Mid Year Concert hasil kerjasamanya dengan BP Bumi Sangkuriang dan Radio Mara serta didukung WartaJazz.com

Acara tanpa tiket masuk alias gratis ini akan digelar Rabu, 17 Juni 2009 mulai pukul 19.00 waktu Bandung dan sekitarnya.

***

Siapa saja yang akan tampil dibawah bendera Salamander Big Band?. Berikut ini daftar lengkapnya.

Saxophones:
Alfred Dicky Dixon Ampouw (alto), Joseph Sinaga (alto), Zein Arfah (tenor), Boyke (tenor), Erik Novriansyah Chandra (tenor), Bonny Buntoro (baritone)

Trumpetes:
Brury Effendy, Oki Dirgualam, Andri Hadiyono, Issa Tennan Raharjo, Budi Agus Siswanto, Julianus Andreas

Trombones:
Andriyanto Haryanto, Agus Suherman, Azis, Arief Budhyana

Rhythm:
Astri Rosalin, Rika Andriyani (Piano/Keyboard/Accordeon)
Edward Prasetya (Guitar)
Rudy Zulkarnaen (Contra Bass)
Ari Firman (Elektrik Bass)
Augustinus (Drums)
Henky Supardjan (Drums)

Vocals:
Nenden Syintawati (Vocal)
Imelda Rosalin (Vocal)
Gail Satiawaki (Vocal)

Devy Ferdianto (Conductor)

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Artikel ini diposting oleh:

- yang telah menulis 1085 artikel pada wartajazz.com.

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Kontak penulis

Leave a Reply


Jazz is not background music. You must concentrate upon it in order to get the most of it. You must absorb most of it. The harmonies within the music can relax, soothe, relax, and uplift the mind when you concentrate upon and absorb it. Jazz music stimulates the minds and uplifts the souls of those who play it was well as of those who listen to immerse themselves in it. As the mind is stimulated and the soul uplifted, this is eventually reflected in the body. — Horace Silver


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<