Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Kategori | Java Jazz Festival, News

Brian Lynch Unsung Heroes: Mengenal Yang Terlewatkan

Posted on 16 March 2010 by Arif Kusbandono

Brian Lynch (photo by Arief Sukardono/WJ)

Pemenang Grammy Award untuk produksi latin “Simpatico” (dalam kolaborasi bersama Eddie Palmieri), Brian Lynch, memboyong quintet jazz moderennya New York untuk proyek “Unsung Heroes”. Sebuah rekaman yang dikerjakannya untuk rilis di bawah labelnya sendiri Hollistic Musicworks. Quintet tributal ini bermaksud memperkenalkan secara lebih luas pemain trumpet dan komponis luar biasa yang nyaris tak terdeteksi radar jazz. Label yang mencatut kata holistik inipun tergolong unik dengan merekam versi play along (semacam minus one yang biasa digunakan untuk berlatih tanpa band lengkap) untuk aplikasi populer seperti Garage Band, Logic, dan Sonar; dilengkapi studi kasus; hingga merekam video aneka angle yang dimaksudkan untuk DVD interaktif.

Pada Axis Java Jazz Festival 2010, Lynch memperkenalkan pemain terompet yang aktif di tahun 1940-an hingga sekarang lewat karya mereka maupun nomer dedikasi yang diinspirasikan mereka. Karya-karya menakjubkan tersebut umumnya belum pernah direkam dan diedarkan. Dibuka dengan “Terra Firma Irma” karya Joe Gordon, Lynch kemudian memperkenalkan Tommy Turrentine lewat “It Could Be”. Orang mungkin lebih kenal saksofonis Stanley Turrentine, adiknya. Tommy yang diketahui hanya merilis satu album atas namanya sendiri sebelum pensiun di 1960-an adalah mentor bagi Lynch.

Nomer original yang dimainkan kemudian adalah “Further Arrivals” dengan introduksi kepala yang tajam vertikal,

Brian Lynch Unsung Heroes (photo by Arief Sukardono/WJ)

namun selebihnya adalah groove yang bertahan sebagi pondasi improvisasi modal yang panjang. Ritme tekun tersebut diwujudkan oleh bassis berbakat David Wong dan drummer Pete Van Nostrand. Di atasnya secara bergantian dalam suasana jammin ada pemain alto Donald Harrison berduet, bertukar baris-baris kreatif dengan pemain tenor Alex Hoffman. Secara umum trio peniup di panggung Lynch cukup bergema menyuarakan komposisi-komposisi harmonis yang cocok untuk ensambel mutipieces umumnya big band. Swing “Big Red” (Tommy Turrentine) pun dieksekusi mantap lengkap dengan aksen-aksen tiupan keras-lemah yang hidup. Seksi piano quintet ini diperkuat sahabat lama Lynch, Rob Schneiderman, yang juga tercatat sebagai profesor matematika di Lehman College, NY.

Menjelang akhir pertunjukkan “’Nother Never” yang diinspirasikan Louis Smith meluncur di jalur cepat bebop yang menaikkan lagi kondisi klimaks penonton. Akhirnya mereka mengakhiri perjalanan mengenal mereka yang “nyaris terlupakan” itu dengan ringannya sebuah samba, dedikasi bagi peniup terompet lainnya, Claudio Roditi.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Artikel ini diposting oleh:

- yang telah menulis 89 artikel pada wartajazz.com.

Profile+

Kontak penulis

Leave a Reply


It’s like a language. You learn the alphabet, which are the scales. You learn sentences, which are the chords. And then you talk extemporaneously with the horn. It’s a wonderful thing to speak extemporaneously, which is something I’ve never gotten the hang of. But musically I love to talk just off the top of my head. And that’s what jazz music is all about. — Stan Getz


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<