WartaJazz.com :: Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz Indonesia
PATA JAVA Beli album jazz Indonesia
       
         
   



Dari Pagelaran Jazz Di Kampus 2003 Yogyakarta
MELIHAT SEJARAH JAZZ MELALUI TRADISI BIG BAND

Big Band? Barangkali untuk sekarang ini merupakan bukan pilihan yang populer mengingat langkanya keberadaan kelompok-kelompok semacam ini di Indonesia serta adanya berbagai kesulitan ekonomi yang terus melanda negara kita. Lebih banyak hal yang perlu menjadi pertimbangan lebih matang untuk mengatur sebuah big band. Kalau dibandingkan dengan mengurus sebuah kelompok combo tentunya akan ada perbedaan jika dibanding dalam pengelolaan big band. Ada tantangan bagaimana caranya semua aspek dan kepentingan yang terlibat dalam big band ini dapat dikolaberasikan menjadi sebuah tim yang solid. Harmonisasi, penggarapan aransemen dan aspek-aspek musikal yang lainnya sampai masalah managemennya merupakan bagian dari berbagai masalah yang sering dihadapi oleh banyak pihak yang masih tetap mencoba untuk menghidupkan tradisi big band dalam musik jazz. Tidak kalah penting juga dapat memperluas aksesbilitas untuk dapat mengkomunikasikan kepada para penonton dan perlunya kerjasama dengan berbagai pihak sponsor.

Namun baru-baru ini ada pertunjukan big band yang berusaha untuk mengatasi berbagai hal seperti yang diungkapkan di atas. Minggu lalu pada hari Kamis 27 Maret 2003 di Gedung Purna Budaya Yogyakarta diselenggarakan acara Jazz Di Kampus yang menampilkan sebuah kelompok big band baru muncul dari Yogyakarta yang bernama The Kirana Big Band.

Big Band ini didukung oleh para musisi muda yang sebagian besar muncul dari Yogyakarta. Beberapa diantaranya bahkan sudah menginjak pada tingkat nasional. Bintang tamu dalam kesempatan malam itu adalah menampilkan trumpetis jazz unggulan nasional Rio Sidik yang datang dari Bali. Secara keseluruhan mereka antara lain pada seksi saxophone; Doni, Eugene, Pipin dan Dodo. Bagian trombone; Harun, Joko "dudud", Joko "Lemazh" dan Yohannes. Trumpet; Gatot, Rio, Taryadi dan Rudi. Bagian rhythm dimainkan oleh Yosias (piano), Agung (bass & tuba), Bagus "BJ" Jatmiko (drum & washboard), Yosi (perkusi) dan Tony (gitar & banjo). Sementara pada vokal adalah Tuti Ardhi dan ada penampilan yang meriah ketika sekitar 60 murid-murid dari SD Kanisius Danurejan ikut naik panggung membawakan 'When The Saints Go Marching In'.

Sebagai band pembuka acara ini diisi oleh Corner Band yang pada tahun lalu berhasil memenangkan piala sebagai kelompok terbaik dalam acara kompetisi jazz yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dalam rangka Jazz Goes To Campus 2002. Band ini terdiri dari Helmi (bass), Fanny (piano), Jacko (gitar), Tommy (alto sax), Pram (tenor sax), Arwin (drum) dan Yenni (vokal). Mereka membawakan 3 komposisi standard dengan cukup piawai. Band ini sebagai salah satu hasil dari hadirna Jogja Jazz Club.

Acara ini terselenggara atas partisipasi sebuah kelompok konglomerasi nasional MEDCO dan Fakultas Ekonomi UGM.

Tema yang diambil dalam acara tersebut adalah sejarah musik jazz. Tema ini diwujudkan dengan Kirana Big Band membawakan repertoir-repertoir yang mewakili dalam masing-masing genre perkembangan musik jazz dari Ragtime sampai sekarang.

Sayangnya dalam beberapa genre dan komposisi yang dimainkan hanya menggunakan formasi combo saja dan kurang "tajamnya" pilihan repertoir yang bisa untuk merepresentasikan eranya. Barangkali hal ini disebabkan karena kurangnya waktu dalam mempersiapkan aransemennya. Memang pada kenyataannya masa keemasan big band baru mulai ketika Swing menggelora, sedangkan pada era sebelumnya belum jelas jejak-jejaknya. Namun kekosongan ini diisi dengan menampilkan para solois muda yang berbakat seperti Doni, Dodo, Eugene, Rio dan Yohannes termasuk membuat ensemble tiup "dadakan" yang dapat membangkitkan gairah untuk dapat mengapresiasikan musik jazz lebih luas lagi. Hal positif yang lain adalah MC dapat menggunakan waktunya untuk menceritakan secara singkat sejarah musik jazz dari masa ke masa kepada para penonton serta dalam bagian akhir penampilan kelompok ini memainkan lagu 'Yogyakarta'-nya Kla Project dengan aranesemen jazz yang cantik.

Setelah menggebrak dengan 'Perdido' sebagai tembang pembuka ada semacam demo masa-masa awal musik jazz tradisional terutama pada masa-masa New Orleans dengan menggunakan tuba dan washboard dalam menampilkan 'When The Saints Go Marching In' dan 'Hello Dolly'. Peran brass section lebih digeber lagi ketika Kirana Big Band sudah memasuki era Swing dengan menampilkan 'All The Things You Are', 'Smile', 'Around The World', 'Undecided' dan 'Love for Sale'. Dalam 'Undecided' vokalnya terasa terseret-seret oleh gencarnya serangan brass section. Mulai era be-bop sampai free jazz formasi berganti dengan combo.

Penampilan pertama dibuka dengan mengetengahkan sebagai soloisnya adalah Eugene bermain alto sax dalam 'Blues For Alice' dan 'Stella By Starlight'. Cukup sulit memang memainkan repertoir be bop dengan nafas yang cepat. Pada era cool dan hard bop diwakili dengan komposisi 'Body & Soul' dengan menampilkan solois Dodo pada bariton saxophone, 'Blue In Green': Rio, 'Giant Step': Doni, 'Seven Steps To Heaven': Rio, Doni, Eugene dan Yohannes. Rupanya dalam kesempatan tersebut Rio memang menjadi bintang pertunjukan. Dia dapat mengeksplorasi timbre, kekuatan dan motif yang digunakannya ketika melakukan improvisasi baik dalam corak ballad maupun dalam tempo-tempo yang lebih dinamis lagi. Penampilan Doni yang bermain tenor sax dalam 'Giant Step' juga tidak mengecewakan meskipun komposisi tersebut terkenal sulitnya.

Ada hal yang menarik ketika mereka berlima membuat formasi ensemble tiup yang memainkan 'Freedom Jazz Dance' dan 'Pick Up The Pieces'. Walaupun masih dibantu perkusi sebagai penjaga tempo, mereka tampil percaya diri untuk bisa bermain dengan ketatnya interaksi di antara mereka dan saling mendukung satu sama lainnya sebagai sebuah bentuk formasi yang terpadu. Bahkan masih dengan personil yang kurang lebih sama mereka berencan akan tampil bersama di lebih banyak tempat lagi dan syukur-syukur bisa rekaman membuat album.

Pada bagian rhythm-nya pun secara keseluruhan sudah berfungsi dengan memadai. Penampilan Agung pada akustik bass dapat bermain dengan dinamis sekali. Gitarnya pun bisa tampil dengan pas dan manis lazimnya para pemain gitar dalam big band. Hal yang terasa perlu lebih aktif lagi di posisi piano. Drum dan perkusinya lebih sering menggambarkan kondisi dan gaya yang lebih modern dari pada gaya yang orisinil pada eranya masing-masing.

Kirana Big Band tampil lagi dengan membawakan 'Girl From Ipanema' dan pertunjukan ditutup dengan 'Hello Dolly' lagi. Dalam kesempatan terakhir tersebut para pemain alat tiupnya semua turun dari panggung untuk membaur dengan para penonton yang duduk lesehan di depan panggung. Hal ini ternyata membuat kesan mendalam untuk kurang lebih 1000 penonton yang hadir pada malam itu akan hasil dari keseluruhan acara Jazz Di Kampus. Secara umum memang di Indonesia masih jarang penampilan kelompok jazz dengan format big band ini sehingga dapat mengobati rasa ingin tahu masyarakat akan beberapa tradisi dari musik jazz dan bisa dijadikan alternatif bentuk hiburan melalui apresiasi terhadap musik jazz yang lebih luas lagi. Satu hal lagi yang membanggakan adalah tampilnya para musisi dari Yogyakarta yang tidak kalah mutunya dibandingkan dengan para musisi dari Jakarta. Sebagian besar dari mereka sebenarnya banyak yang terlibat dengan kelompok maupun musisi senior dan unggulan dari Jakarta namun nama-nama mereka tetap tidak diperhatikan. (Ceto/*/WJ)

Link terkait:
Dokumentasi kegiatan Jazz di Kampus 2003
DARI KOTA GUDEG - “JAZZ DI KAMPUS 2003”

Kembali ke Halaman Index News
Kembali ke Halaman Depan


 

        Copyright © 1996-2007 WartaJazz.com All right reserved
Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com
Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net