![]() |
|
![]() |
||||
|
“Pada konser kali ini, kita akan memberikan kesempatan kepada mas Purwanto untuk mempresentasikan karya-karyanya sekaligus men-jumeneng-kan kapasitas dan keberadaan mas Purwanto sebagai musikus juga komponis”, kata Djaduk Ferianto penggagas konser & jendralnya Kua Etnika. Konser yang bekerjasama dengan PKJ - Taman Izmail Marzuki Jakarta dan Taman Budaya Yogyakarta ini akan mengangkat Judul VERTIGONG (orang jawa main jazz). “Konser Musik Vertigong, adalah upaya untuk mengembangkan potensi kreatif yang ada di dalam Kua Etnika. Ini memperlihatkan kegelisahan kreatif saya & Kua Etnika, sekaligus upaya untuk terus melakukan pencarian atau eksplorasi musikalitas, agar kelompok ini terus bekembang”, kata Purwanto. “Dengan begitu, akan muncul energi baru, pola musikalitas yang baru, yang berangkat dari spirit yang dikembangkan oleh Kua Etnika selama ini, sekaligus mencari persentuhan-persentuhan baru yang lebih segar”, tambahnya Orang Jawa Main Jazz Dialog kreatif musikalitas itu akan mempertemukan intrumen dan semangat tradisi dengan intrumen dan semangat music modern, dalam hal ini jazz. Jazz ialah genre musik yang terbuka. Jazz menjadi menarik dan hidup, karena selalu bersedia untuk menerima elemen musik di luar dirinya. Itulah yang membuat teknikalitas permainan dalam jazz pun menjadi selalu menarik, sekaligus menantang. Beberapa komposisi yang dibikin Purwanto akan memperlihatkan persentuhan itu. Bagaimana spirit tradisi, dengan pakem musik yang mapan, akan ditafsir kembali dalam permainan jazz. Begitu juga sebaliknya, bagaimana improvisasi tekhnikalitas yang menjadi semangat jazz akan dipakai untuk menghidupkan dan menafsirkan komposisi-komposisi yang memakai element dasar musik tradisi, dalam hal ini Jawa. Tentu saja akan menarik menyaksikan bonang, misalnya, berdialog dengan flute atau bahkan gitar yang modern. “Konser Musik Vertigong pada akhirnya merupakan upaya kreatif seorang manusia Jawa dalam mengolah semangat modern yang telah menjadi bagian tak terpisahkan. Jazz adalah representasi dari semangat manusia modern ini. Bagaimana musik menjadi bagian ekspresi dan pencarian idenitas manusia, menjadi sejarah perkembangan jazz. Begitu pula bagaimana music menjadi identitas cultural, sangat terasa dalam sejarah pencapaian gamelan. Ketika keduanya bertemu, maka itu adalah sebuah bertemuan yang memperlihatkan upaya kreatif untuk mengembangkan diri dari identitas yang dimiliki. Karena identitas sesungguhnya terus berkembang. Meski dalam perkembangannya itu sering mengalami gegar budaya, suatu tubrukan yang mungkin membuat pusing dan pening, seperti orang yang kena vertigo” kata Butet Kartaredjasa pimpinan produksinya yang diamini Purwanto . Vertigong adalah upaya kreatif untuk menggambarkan itu melalui pertunjukan musik. Kembali ke Halaman Index News
|
|
|||||
| Copyright © 1996-2008 WartaJazz.com All right reserved Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net |
||||||