![]() |
|
![]() |
||||
|
Pada hari pertama festival ini ada beberapa acara unggulan yang telah disusun oleh panitia baik musisi dari Indonesia sendiri maupun dari luar negeri. Antara lain tampilnya George Duke, Tania Maria, James Brown, simakDialog, Ruth Sahanaya, Glen Fredly dan Cherokee. Selain itu, masih ada puluhan kelompok/musisi yang tampil. Masih ada Lizz Wright, Laura Fygi, Tiempo Libre, Ligro Trio dan banyak penampil lagi. Selain konser, ada beberapa acara klinik musik yang cukup banyak peminatnya. Beberapa kontributor acara ini antara lain adalah Deodato, Jeff Lorber dan Bertha. Memang tidak harus ada acara seremonial pembukaan event jazz besar pada tahun ini, acara dimulai dengan sebuah workshop musik yang diisi oleh penulis, aransir, komposer terkemuka dari Brazil Eumir Deodato. Dalam kesempatan itu dia lebih banyak menceritakan kisah-kisah sepanjang karier musiknya dimana dia pernah tampil bersama Frank Sinatra, Stanley Clarke, George Duke, A.C. Jobim, Louis Bonfa, Milton Nascimento dan masih banyak lagi. Tidak ada pembicaraan secara teknis secara panjang lebar. Penampilan dari beberapa kelompok baru dimulai pada pukul 16.00 WIB. Dibuka dengan penampilan DJ Melting Pod yang tidak banyak mendapat perhatian para penonton. Hal ini kurang lebih juga dialami oleh para DJ yang tampil di acara ini. Penonton hanya keluar-masuk tempat pertunjukan DJ. Sebenarnya salah satu kecenderungan dalam industri musik jazz saat ini adalah memasukan turntable sebagai sebuah instrumen improvisasi itu sendiri. Barangkali bagi para penggemar musik jazz yang cenderung konservatif hal ini masih terasa mengganjal di hati. DJ Melting Pod sendiri tidak banyak menawarkan tontonan yang lebih atraktif dan bisa untuk menambah adrenalin para penonton. Diluar ruangan-ruangan tertutup pertunjukan digelar juga kelompok Deddy Luthan Dance Company bersama Adjie Rao dan mantan perkusionis The Rippingtons: Steve Reid. Justru penampilan mereka kali ini lebih banyak mendapatkan perhatian para penonton, karena selain tampil persis di depan pintu masuk utama. kelompok tari ini juga mengangkat tarian generasi baru yang mengambil akar dari tradisi tarian Aceh, digabungkan dengan permainan perkusi modern dengan Reid ikut bergabung di dalamnya. Terasa sekali ada keselarasan bunyi dan ritmik antara tarian tersebut dan permainan perkusi. Salah satu sebabnya adalah gerakan-gerakan tarian yang cukup energik dan dinamis. Belum diketahui apakah mereka sebelumnya sempat untuk latihan dahulu atau tidak.
Di lain venue, tampil juga sebuah kelompok fusion yang baru saja merelease album debutan yaitu Bali Lounge. Kelompok ini terdiri musisi multi nasional. Indonesia diwakili oleh Hari Toledo (bass) dan Tompi (vokal). Selain itu ada Rick Smith (gitar) dari Amerika, Bruno Le Flanchec (keyboard) dari Perancis, dan Louis Pragasam (drum) dari India. Mereka semua bersatu di Singapura. Kelompok ini membawa gaya fusion beserta vokalnya yang menyegarkan dan energik ke panggung. Spesial penampilan mereka dalam festival ini mereka mengundang seorang perkusionis tamu bernama Jack (Malaysia) yang sempat memukau para penonton. Lima komposisi orisinil mereka lantunkan yang semuanya diambil dari album baru mereka. Antara lain “Bali Mood” dan “Something's Wrong”. Sayang pertunjukan mereka masih terganggu oleh suara feedback yang sering muncul.
Kita juga menyaksikan eksebisi para pendatang baru di panggung Qualcomm dan panggung Matra untuk band-band pop yang berafiliasi pada spirit kebebasan jazz dalam gaya bermusiknya. Nama-nama Pentatones, JakTones, dan Tommorow People Ensemble dibaptis panitia sebagai para next generation. Sedang Cherookee, Co-P, View Point’s dan The Romero’s dimasukkan kedalam kategori kedua.
Berbicara mengenai funk dapat kita awali dari kata “funk” sendiri yang mengacu pada dandanan berlebih, aneka warna jreng, dan aksesoris yang lebih banyak dipakai pimp (mucikari); pimp sendiri arti slangnya kini adalah berdandan. Tentu jauh sebelum musik funk dinotasikan (oleh simbol tulisan) dan masih menjadi bagian budaya afro-amerika, ciri yang paling lazim adalah komando dari vokalis. Kita masih dapat melihat langsung dari aksi panggung “bapaknya” funk sendiri, James Brown. Akan kita dapati teriakan: “…to the bridge…” atau yang dipertunjukkan olehnya di Jakarta: “…back on…”; ‘…America…” yang dengan segera ditimpali anggota band lainnya. Kekayaan ritmik mewajibkan Brown membawa tiga gitaris yang bergantian mengocok gitar (strumming) gaya funk, dua basis, dan horn section. Selain nomer-nomer funk seperti “Living In America”, Brown sempat membawakan balada “Every Beat of My Heart”, memainkan Hammond-nya. Kesan dan auranya sangat terasa ketika Brown mulai dipanggil-panggil oleh mc-nya yang dikemas menjadi bagian dari pertunjukan di atas panggung itu sendiri (kesannya sangat terasa seperti sebuah penampilan opera musikal yang lazimnya diselenggarakan di Broadway New York) dan tentunya dari para penonton sendiri. Ketika ia muncul pun memang lain suasananya. Apalagi, mengingat dia adalah salah satu orang yang sangat mempengaruhi inspirasi Miles Davis untuk dalam proses penciptaan In A Silent Way maupun Bitcher Brew. Album-album tersebut adalah tonggak kemunculan fusion pada akhir 1960-an. Artinya, kalau tidak ada James Brown barangkali fusion pun tidak akan kita kenal pada saat ini. Gaya penampilannya dan musiknya sangat jujur, alami, tidak terkesan dibuat-buat dan orisinil. (*/Arif Kusbandono/Roullandi Siregar/Ceto Mundiarso/Kushindarto/Agus Setiawan B//WartaJazz.com)
|
|
|||||
| Copyright © 1996-2006 WartaJazz.com All right reserved Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net |
||||||