.
WartaJazz.com :: Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz Indonesia
PATA JAVA Beli album jazz Indonesia
       
         
   



KABAR DARI SENAYAN: JAKARTA INTERNATIONAL JAVA JAZZ FESTIVAL 2005
Jumat, 4 Maret 2005 (Hari pertama)

Pada hari pertama festival ini ada beberapa acara unggulan yang telah disusun oleh panitia baik musisi dari Indonesia sendiri maupun dari luar negeri. Antara lain tampilnya George Duke, Tania Maria, James Brown, simakDialog, Ruth Sahanaya, Glen Fredly dan Cherokee. Selain itu, masih ada puluhan kelompok/musisi yang tampil. Masih ada Lizz Wright, Laura Fygi, Tiempo Libre, Ligro Trio dan banyak penampil lagi.

Selain konser, ada beberapa acara klinik musik yang cukup banyak peminatnya. Beberapa kontributor acara ini antara lain adalah Deodato, Jeff Lorber dan Bertha.

Memang tidak harus ada acara seremonial pembukaan event jazz besar pada tahun ini, acara dimulai dengan sebuah workshop musik yang diisi oleh penulis, aransir, komposer terkemuka dari Brazil Eumir Deodato. Dalam kesempatan itu dia lebih banyak menceritakan kisah-kisah sepanjang karier musiknya dimana dia pernah tampil bersama Frank Sinatra, Stanley Clarke, George Duke, A.C. Jobim, Louis Bonfa, Milton Nascimento dan masih banyak lagi. Tidak ada pembicaraan secara teknis secara panjang lebar.

Penampilan dari beberapa kelompok baru dimulai pada pukul 16.00 WIB. Dibuka dengan penampilan DJ Melting Pod yang tidak banyak mendapat perhatian para penonton. Hal ini kurang lebih juga dialami oleh para DJ yang tampil di acara ini. Penonton hanya keluar-masuk tempat pertunjukan DJ.

Sebenarnya salah satu kecenderungan dalam industri musik jazz saat ini adalah memasukan turntable sebagai sebuah instrumen improvisasi itu sendiri. Barangkali bagi para penggemar musik jazz yang cenderung konservatif hal ini masih terasa mengganjal di hati. DJ Melting Pod sendiri tidak banyak menawarkan tontonan yang lebih atraktif dan bisa untuk menambah adrenalin para penonton.

Diluar ruangan-ruangan tertutup pertunjukan digelar juga kelompok Deddy Luthan Dance Company bersama Adjie Rao dan mantan perkusionis The Rippingtons: Steve Reid. Justru penampilan mereka kali ini lebih banyak mendapatkan perhatian para penonton, karena selain tampil persis di depan pintu masuk utama. kelompok tari ini juga mengangkat tarian generasi baru yang mengambil akar dari tradisi tarian Aceh, digabungkan dengan permainan perkusi modern dengan Reid ikut bergabung di dalamnya. Terasa sekali ada keselarasan bunyi dan ritmik antara tarian tersebut dan permainan perkusi. Salah satu sebabnya adalah gerakan-gerakan tarian yang cukup energik dan dinamis. Belum diketahui apakah mereka sebelumnya sempat untuk latihan dahulu atau tidak.

Menjelang senja ada sebuah kelompok yang terdiri dari para bidadari jazz dari Taiwan yang bermain komposisi-komposisi standard. Kelompok ini bernama The Metamorphosis Jazztec. Mereka tampil dengan formasi saxophone, piano, drum dan bass; dan lebih memilih jalur "aman-aman saja" dalam bermain standard jazz, karakter permainanannya secara keseluruhan terasa cukup rapi.

Di lain venue, tampil juga sebuah kelompok fusion yang baru saja merelease album debutan yaitu Bali Lounge. Kelompok ini terdiri musisi multi nasional. Indonesia diwakili oleh Hari Toledo (bass) dan Tompi (vokal). Selain itu ada Rick Smith (gitar) dari Amerika, Bruno Le Flanchec (keyboard) dari Perancis, dan Louis Pragasam (drum) dari India. Mereka semua bersatu di Singapura. Kelompok ini membawa gaya fusion beserta vokalnya yang menyegarkan dan energik ke panggung. Spesial penampilan mereka dalam festival ini mereka mengundang seorang perkusionis tamu bernama Jack (Malaysia) yang sempat memukau para penonton. Lima komposisi orisinil mereka lantunkan yang semuanya diambil dari album baru mereka. Antara lain “Bali Mood” dan “Something's Wrong”. Sayang pertunjukan mereka masih terganggu oleh suara feedback yang sering muncul.

Ditempat lain Kasuari Lounge, acara dibuka dengan tampilnya sebuah trio yang terdiri dari Cendy Luntungan (drum), Adi Dharmawan (bass), dan Agam Hamzah (gitar) yang menamakan diri Ligro Trio. Masing-masing personil memperlihatkan keahliannya dalam berimprovisasi secara intens. Mereka lebih mengacu gaya kelompok-kelompok jazz rock pada umumnya. Agam sendiri sedikit-banyak terlihat terpengaruh John McLaughlin. Mereka sempat juga membawakan komposisi dari Miles Davis 'Jean Pierre'. Secara komposisional, Adi sebagai bassis juga pantas menjadi perhatian, ia sempat membuat komposisi sendiri yang dimainkan saat solo bass.

Kita juga menyaksikan eksebisi para pendatang baru di panggung Qualcomm dan panggung Matra untuk band-band pop yang berafiliasi pada spirit kebebasan jazz dalam gaya bermusiknya. Nama-nama Pentatones, JakTones, dan Tommorow People Ensemble dibaptis panitia sebagai para next generation. Sedang Cherookee, Co-P, View Point’s dan The Romero’s dimasukkan kedalam kategori kedua.

Penulis menyorot penampilan Pentatones yang mengikutsertakan tokoh senior jazz Indonesia; Benny Likumahuwa dan terutama kelompok Tomorrow People Ensemble yang berhasil mencuri perhatian crowd. Layaknya among tamu dalam sebuah pesta akbar, penampilan band masa depan itu berhasil menghantarkan para pengunjung yang baru datang ke dalam suasana jazz. Nuansa itu juga berhasil diserap pengunjung yang masih berkerumun di depan pintu masuk ketika Cherokee dan kemudian Co-P memainkan musik mereka di panggung seberang.Atraksi kedua band yang masing-masing sudah merilis satu rekaman itu terlihat semakin matang meski tidak diawaki oleh formasi album mereka. Sebut Co-P yang kembali dimotori oleh gitaris Dimas Soeryoputro, dengan semangat fusion menampilkan tiga lagu dari album perdana mereka; Fuzzy’s Fusion, Blue Lines, Cool Sunset diselingi dengan dua lagu yang rencananya akan dirilis dalam solo album Dimas; Relic Vision dan The Wonderer serta sebuah lagu baru belum berjudul yang ditulis bareng oleh formasi Co-P malam itu; Osmond pada keyboard, Erol (gitar), Taufan Siswadi (drum) dan Ricky (bass). Melihat atensi pengunjung pada grup-grup muda berbakat ini, rasanya sayang jika formasi tersebut hanya sebatas disiapkan untuk meramaikan festival malam itu tanpa ada kiprah kelanjutannya.

Pada malam harinya, salah satu acara yang ditunggu-tunggu sebagian besar penonton adalah tampilnya musisi terkemuka George Duke di Plenary Hall. Meskipun pertunjukannya sempat terlambat satu jam lebih dari jadwal yang telah direncanakan, naik-ke-panggungnya keyboardis yang pernah menjadi salah satu pendukung bandnya Frank Zappa ini, masih tetap disambut penonton dengan gegap gempita. Hal ini juga didukung oleh tata lampu dan suara yang relatif lebih megah dari pada di panggung-panggung yang lain. Dibuka dengan sebuah koleksi yang diambil dari album tahun 1990 "Stanley Clarke & George Duke 3" yang berjudul “Oh..Oh” dengan teriakan-teriakan George Duke sendiri dan diikuti dentuman bass elektrik yang menghentak-hentak. Denyut musiknya lebih menghentak lagi ketika Duke memainkan “Brazilian Love Affair”, sampai-sampai pada bagian pertengahan komposisi ini salah satu senar bass sempat putus dan langsung diganti. Komposisi tersebut diambil dari salah satu album pilihannya sekitar tahun 1979 dengan judul sama. Sebuah kesempatan yang langka juga muncul ketika Glen Fredly diajak George naik panggung untuk tampil bersama membawakan “Born To Love You”. Dari penampilannya malam tersebut, keyboardis yang sempat mempunyai peranan penting terhadap Miles Davis terutama pada masa-masa akhir hayat Miles Davis ini memainkan komposisinya yang populer dibawakan oleh Miles Davis, ‘Tutu” serta sebuah lagu yang sudah tidak asing lagi bagi remaja pada awal 1980-an: “Sweet Baby”. Sebagai pianis/keyboardis sedikit banyak terasa pengaruh Chick Corea maupun Herbie Hancock. Pada hari ketiga JJF 2005, George Duke sempat membuat antrian panjang para penggemar untuk membubuhkan tanda tangan aslinya di sampul CD atau pun di pakaian.

Berbicara mengenai funk dapat kita awali dari kata “funk” sendiri yang mengacu pada dandanan berlebih, aneka warna jreng, dan aksesoris yang lebih banyak dipakai pimp (mucikari); pimp sendiri arti slangnya kini adalah berdandan. Tentu jauh sebelum musik funk dinotasikan (oleh simbol tulisan) dan masih menjadi bagian budaya afro-amerika, ciri yang paling lazim adalah komando dari vokalis. Kita masih dapat melihat langsung dari aksi panggung “bapaknya” funk sendiri, James Brown. Akan kita dapati teriakan: “…to the bridge…” atau yang dipertunjukkan olehnya di Jakarta: “…back on…”; ‘…America…” yang dengan segera ditimpali anggota band lainnya. Kekayaan ritmik mewajibkan Brown membawa tiga gitaris yang bergantian mengocok gitar (strumming) gaya funk, dua basis, dan horn section. Selain nomer-nomer funk seperti “Living In America”, Brown sempat membawakan balada “Every Beat of My Heart”, memainkan Hammond-nya. Kesan dan auranya sangat terasa ketika Brown mulai dipanggil-panggil oleh mc-nya yang dikemas menjadi bagian dari pertunjukan di atas panggung itu sendiri (kesannya sangat terasa seperti sebuah penampilan opera musikal yang lazimnya diselenggarakan di Broadway New York) dan tentunya dari para penonton sendiri. Ketika ia muncul pun memang lain suasananya. Apalagi, mengingat dia adalah salah satu orang yang sangat mempengaruhi inspirasi Miles Davis untuk dalam proses penciptaan In A Silent Way maupun Bitcher Brew. Album-album tersebut adalah tonggak kemunculan fusion pada akhir 1960-an. Artinya, kalau tidak ada James Brown barangkali fusion pun tidak akan kita kenal pada saat ini. Gaya penampilannya dan musiknya sangat jujur, alami, tidak terkesan dibuat-buat dan orisinil.

(*/Arif Kusbandono/Roullandi Siregar/Ceto Mundiarso/Kushindarto/Agus Setiawan B//WartaJazz.com)


Link terkait:
KABAR DARI SENAYAN: JIJJF 2005 (bagian pertama)
KABAR DARI SENAYAN: JIJJF 2005 (bagian kedua)
KABAR DARI SENAYAN: JIJJF 2005 (bagian ketiga-habis)
Website Java Jazz Festival 2005



Kembali ke Halaman Index News
Kembali ke Halaman Depan

 

        Copyright © 1996-2006 WartaJazz.com All right reserved
Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com
Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net