WartaJazz.com :: Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz Indonesia
PATA JAVA Beli album jazz Indonesia
       
         
   



KABAR DARI SENAYAN: JAKARTA INTERNATIONAL JAVA JAZZ FESTIVAL 2005
Sabtu, 5 Maret 2005 (Hari kedua)

Di hari kedua, dimana bakat-bakat muda kembali unjuk tampil di panggung muka. Di Qualcomm hadir paduan suara Paragita U.I, Trio Janapria/Sanjaya/Sjuman, Dwanka, D’band, dan Bayu Wirawan band dengan tema yang dicanangkan panitia sebagai panggung acoustic sound.

Lain pula di panggung Matra, dimana tampil band-band dengan katagori jazz hifi; Jazzyphonic, kelompok bossas SALTA, Stereo Soul, New Breeze dan ditutup oleh band jawara jebolan café - T-Five.

Kelompok muda Jazzyphonic yang terdiri dari Dimas #1 yang memainkan bass, Randy (gitar), Aldhan (piano), Aldhi (drum), Dini dan Dika (vokal), serta brass section; Yaya (Flute & Oboe), Teguh (trumpet), Dimas #2 (sax), Bagus (trombone) selain membawakan komposisi jazz populer yang diaransemen dalam gaya mereka (Spain, Chicken, Just Two Of Us) juga dengan menarik menampilkan lagu karangan Bimbo, (Tuhan), lucu-lucuan di ost Bajaj Bajuri serta satu lagu sendiri yang berjudul Mariba.

Stereo Soul yang tampil kemudian juga masih mengcover lagu-lagu orang dalam pencarian gaya bermusik mereka. Put Me Down, I’ve Been, Roller Coaster, The Way, Sweet Music, Ain’rt Giving Up, Smother Escape, dan Sound of Music dibawakan oleh grup yang dikomandoi oleh drummer Juno bersama Amar (trumpet), Danny (piano), Andezz (bass), Adrian (gitar), Tyas (groove box), dan dua vokalis Reni dan Menu. Lepas dari tata sound yang tidak bisa disebut baik untuk dapat mengatasi keramaian crowd, kelompok ini berhasil mengajak groupies mereka duduk di depan panggung memberi semangat.

Begitu juga dengan New Breeze yang tampil sebelum T-Five. Meski grup alumni Jakarta Music festival (ingat lagu: Cinta yang Terbagi ?) yang baru saja tiga minggu merilis album perdananya ini tampil rapi membawakan lagu-lagu sendiri, tapi kekhasan mereka belumlah muncul. Kesan format top40 di lagu-lagunya – seperti Cinta Tak Pernah Salah – hits andalan kelompok yang digawangi oleh Armansyah & Ravi Gusman, Nino, Dexter, Icha, Armstrong Pitoi, Ardhi Sambalao, Gandhy Yudha – masih jelas terdengar.

Hal ini yang membedakan dengan apa yang ditampilkan oleh Trio Janapria/ Donny / Titi di panggung seberang. Penulis memberikan poin lebih pada hadirnya trio baru ini. Kelompok yang terdiri dari lulusan Hogeschool Voor de Kunston Utrecht, Belanda - Dion Janapria (akustik gitar) bersama dua siswa Institut Musik Daya; Donny Sanjaya (double bass) dan Titi Handayani Sjuman ini bermain dalam formasi akustik. Dua komposisi standard – Soo Miles High dan My One and Only Love – beserta empat lagu hasil tulisan Dion – Meet Fargo, One Way to Go, Utindertjc, In Beetween dimainkan dengan petikan gitar yang manis dan rhythm yang dinamis. Rancak dan dapat menjadi grup harapan yang ditunggu penampilannya di event-event berikut.

Kerapihan bermain dengan back ground pendidikan bermusik yang memadai juga dapat dilihat dari penampil berikutnya di panggung #1. Kelompok Dwanka yang mayoritas adalah siswa LPM Farabi ini menggubah lagu-lagu standard menjadi mudah dicerna. Summertime, Aqua De Bebber, Come With Me, You Don’t See Me, Masquenada menjadi songlist dari grup yang terdiri dari Andre (drum), Rieke (pianis yang juga menjadi personel Starlite), Arfan (gitar), Tendra (bass), Doni (sax) dan vokalis tambun Michael. Jika Dwanka terbentuk dengan diawali oleh pertemanan di sebuah lembaga pendidikan musik, beda halnya dengan band baru tapi lama yang tampil berikutnya.

D’Band adalah reinkarnasi band cilik TNT yang dimotori oleh tiga bersaudara Subiakto; Tia, Dion dan Sati Subiakto. Setelah lama hilang dari peredaran – khususnya kancah band – kehadiran D’Band dapt disebut merupakan momen spirit back to basic band keluarga tersebut. Dengan tambahan pemain gitar Lutfi dan bassist Puput, D’band menawarkan lagu-lagu bernuansa jazz rock di pentas JJF 2005 ini. Hits dari grup Toto - Georgy Porgy – membuka pertunjukan D’Band yang kemudian diikuti dengan beberapa repertoar tulisan mereka sendiri; Funky Music, Honesty, Arti Dunia & Kisah Aku (yang menampilkan vokal Sati), Pergi, Listen to This serta Welcome to The Rhythm setelah diselingi oleh atraksi solo drum Dion. Pertunjukan di panggung Qualcomm ditutup dengan tampilnya pianis ekspresif Bayu Wirawan beserta grupnya yang terdiri dari bassist Frankie, drummer Fari dan vokalis Andrea.

Trio hammond-gitar-drum dapat dinikmati penonton di Assembly 3 lewat grup milik Vinny Valentino. Di Jakarta ia tampil dengan grup Color Funk yang didukung Tony Cintron (drum) dan Adam Klipple (keyboard). Sayangnya, penampilan mereka lebih enak didengar saat workshop esok harinya dalam setelan tata suara yang lebih kecil, padahal jarang ada trio seperti ini didapati penonton Indonesia kalau bukan dari video. Wajarnya penampilan trio serupa, Klipple mengisikan bass dengan tangan kirinya. Hammond-nya adalah hasil sintesis komputer, sebagaimana diungkap, alasannya cukup sederhana, memangkas biaya. Ia bepergian cukup membawa laptop dan memakai instrumen yang disediakan panitia, tentu saja dengan begitu pedal kaki khas organ tersebut tidak dimainkan. Dari albumnya, “The Distance Between Two Lines”, dibawakan “Blues for A While” yang masih berbentuk blues 12 bar. Komposisi “Get It, Got It, Good” yang diciptakan Valentino untuk dibawakan George Benson juga dimainkan malam itu. Eksplorasi improvisasi gitar Valentino lebih fokus di scale, sebagai variasi ia menggandakan suara gitarnya dengan modul synthesizer. Pada festival ini kita dapat menemui gaya gitaris asing lain yang lebih dinamis dan cukup banyak menghabiskan fokus eksplorasinya pada karakter gitar itu sendiri lewat penampilan Allen Hinds.

Selain kegiatan di kedua panggung muka itu, beberapa panggung lainnya juga menampilkan musisi-musisi muda Indonesia lainnya. Seperti rekan-rekan mereka di depan, kelompok-kelompok ini juga telah berhasil mengemas jazz ke dalam bentuk yang lebih pop lengkap dengan sound masa kini turunan bermacam jenis musik. Sebut Maliq & d’essenstials dan seniornya Humania yang tampil di ruang MTV (Cendrawasih 2-3) dengan katagori Hit Hot & Cool Music.

Lepas dari permasalahan yang tak akan ada habis tentang apa musik yang mereka bawakan adalah jazz atau bukan, kedua kelompok diatas plus Ten2Five dan beberapa solois yang berkolaborasi dengan para musisi jazz - seperti Andien dan terutama Glenn Fredly,terbukti mampu menjala penonton dalam jumlah yang cukup banyak. Sorotan khusus dapat penulis berikan pada kembalinya Humania ke atas panggung. Setelah beberapa tahun non aktif, dua personel Humania, EQ Puradiredja dan Heru Singgih tampil membawakan lagu-lagu dari tiga album mereka dalam formasi band yang utuh. Interaksi, Sahabat Lama, Tanya Jawab, Cerdik Bijaksana, KYDS, Jelita, Untukmu, Babsa-basi, Essensi, Terserah, Lepas Kendali dan ditutup dengan Coba sekali Lagi secara maraton dibawakan EQ dan Heru dengan ditemani oleh Ali 'The Groove' Akbar, Andezz Sova, Rayendra, Phillipe, Nikita dan backing dari trio vokal Maliq d’essentials – Angga, Indah, Dimi. Kerinduan penggemar Humania sepertinya dapat dilampiaskan di malam kedua festival itu.

Tri Sum yang main di Merak 1 & 2(Femina Jazz Club) tidak lain adalah penjumlahan Budjana, Balawan, dan Bontot (Tohpati). Ruangan ini disesaki penonton berhubung mereka sudah tidak asing lagi. Lagu pertama yang dibawakan adalah “Cublek-cublek Suweng”. Segera menyusul nomer country “Gembala” dari Tohpati yang dibuka dengan permainan gitar klasik. Solonya pada gitar elektrik memanfaatkan bunyi banjo dari modul synth dan memang dibuat layaknya permainan cepat banjo musik country. Walau belum pernah direkam di dua albumnya yang edar di Indonesia, setidaknya permainan country ini pernah dipertunjukkan saat diberi kesempatan solo bersama Indro Hardjodikoro dan Eugene (klarinet) di konser Kris Dayanti. Setelah Tohpati turun, Budjana segera menyambung dengan “Januari”, ia yang mengaku menyukai free jazz memperlihatkan improvisasi bebasnya pada nomer ini. Masih sewarna dengan tema improvisasi sebelumnya, Budjana kembali mempertunjukkannya pada nomer “Lalu Lintas” (album Nusa Damai) yang di-meadley dengan “Mahabarata” (album Serampang Samba), saat bermain bertiga tersebut ia memainkan pula sitar elektrik yang telah lama diuliknya (banyak rekaman Indonesia yang memakai permainan sitar Budjana).

Satu hal yang barangkali lepas dari perhatian para pecinta musik jazz atau rekan-rekan reporter yang lain adalah tampilnya vokalis muda yang baru berusia 25 tahun Lizz Wright di ruang Assembly 1-2 (Indofood) . Vokalis yang memiliki album ”Salt” di bawah major label Verve ini sebenarnya telah banyak memperoleh penghargaan dalam blantika musik jazz atau pujian dari para kritikus jazz. Beberapa komposisi orisinilnya seperti ’Salt’, ’Open Your Eyes, You Can Fly’ yang nge-groove, ’Goodbye’ maupun ada beberapa komposisi standard disuguhkan kepada para penonton yang tidak sebanyak para penonton musisi-musisi yang lebih populer yang lain. Dalam hal stage act-nya pun dia berpenampilan menarik. Para musisi pengiringnya juga cukup responsif dengan semua ekspresi yang dilantunkan oleh Lizz Wright.

Penampilan yang sedikit berbeda di hari kedua dapat kita temui hadirnya Saharadja dan Jaque Mate di ruang Cendrawasih 3 (Panasonic) . Grup asal Bali Saharadja yang dimotori oleh duat suami istri Rio Sidik (trumpet & gitar) dan violinist Sally Jo berserta Gede Yudana (gitar di atas panggung akustik dan flamenco), Ajat Lesmana (digeridoo & perkusi), Barok Khan (banjo, tabla, sarod), Badut Widyanarko (fretless bass) menampilkan komposisi-komposisi dari dua album terakhir; One World dan Bali Smile yang berhasil mendekatkan konsep cross cultural music Saharadja dengan tema Global Beats di panggung itu.

Liputan hari kedua tentang kolaborasi musisi muda dengan penyanyi muda – khususnya yang benar menekuni jazz – akan kurang lengkap jika tidak menikamati sajian dari Elfa Singers bersama Macan festival Harvey Malaiholo, juga Iga Mawarni, Shakila dan Syaharani. Mereka tampil berurutan di dalam katagori Voices Unlimited. Shakila yang sekarang bermukim di Amerika, mayoritas menampilkan lagu-lagu cover seperti How High The Moon, At Last, Funny Valentine, My Romance, Ipanema, Though The Fire, Sweet Love, Crying serta dua lagu yang ditulis untuknya: Tentangmu dan Lukisan Pagi (album Tohpati #1). Format songlist tersebut juga ditawarkan oleh Iga Mawarni, Elfa Singers, dan Syaharani.

Untuk Rani, dapat dilihat beda dari sisi formasi band pendukungnya yang seperti diakuinya adalah sebuah komunitas ajang pergaulan dalam bermusik. Syaharani Queenfireworks Project – nama komunitas itu – terdiri dari drummer Eddy Syahroni, Adi Dharmawan (bass), Kevin Wahls (trumpet), duo gitaris Agam Hamzah dan Donny Suhendra serta Didit Outer DJ yang menangani program dan sytnthesizer menghibur pengunjung dengan membawakan Naima, Concelation No More, Bintang Buat Aku, Little Wings, Lebih Baik Tidak (Agam solo gitar dengan overtone di lagu ini), Autum Leaves, Oh, Mungkin Indah, Corcovado serta The Nearness Of You yang codanya diawali dengan looping. Pada umumnya penonton puas pada penampilan Syaharani malam itu, meski pada beberapa bagian Rani masih saja over semangat meneriakkan lirik lagunya.

Sebelum TriSum tampil, Otti Jamalus unjuk kebolehan. Sempat membingungkan karena dijadwal seharusnya mereka tampil belakangan, entah kenapa terjadi perubahan. (hampir seluruh acara berubah baik dari segi jam, tempat maupun urutan pertunjukannya -red). Otti sendiri memainkan piano dan sempat pula menyanyikan beberapa lagu. Ditemani sang suami, bassis Yance Manusama, Kevin Wahls (trumpet) dan Ari (gitar) dan drummer Jacky Pattiselanno. Penampilan kelompok ini cukup menarik dan secara umum sound system di Femina ini lebih baik ketimbang ruangan lainnya.

Tetsuo Sakurai (bass) yang mengaku telah 16 kali tampil di Indonesia (termasuk ketika bergabung dengan Casiopea, Jimsaku, ataupun untuk workshop/klinik) bermain laid back beserta grup yang dibawanya sekarang. Dengan begitu keseluruhan band yang terdengar lewat tata suara assembly 3 lebih santai untuk didengar (tidak berdentum-dentum), salah satu penampilan live band elektrik yang bagus di festival ini dari segi tata suara (tentunya didukung oleh wawasan pemain menyesuaikan dengan venue, baik komposisi, dinamika, maupun setelan alat). Tetsuo di antaranya membawakan “Punch” (Jaco Pastorius). Penontonya sendiri memang sebagian besar penggemar jazz rock ala Casiopea atau Jimsaku. Tetsuo cukup komunikatif dengan penonton. Ia menyapa 'Selamat Malam' dan mengucapkan 'Terima Kasih' usai memainkan lagu. Entah apakah karena sudah seringnya dia tampil dalam berbagai kesempatan di Indonesia atau memang cara bermain bass elektriknya menarik banyak orang, ketika dalam acara klinik musiknya pun penonton menjejali ruangan Nuri 1 & 2 itu yang secara khusus disediakan untuk klinik musik.

Penampilan Jaque Mate lain lagi. Kelompok muda kakak beradik Claproth ini mengusung musik blues dengan sangat ekspesif. Atraksi Skak Mat Rama menggaruk- memukul - menarik senar gitar, Arya menjelajahi tuts dan body keyboards dan Joshua menghajar habis drum benar-benar membuat penonton terbakar dan maju mendekat ke sisi panggung. Energi yang dikeluarkan oleh liarnya inprovisasi permainan Jaque Mate sejenak dapat melepaskan kepenatan menonton “selera musik jazz” yang hampir seragam di beberapa panggung. Bravo Jaque Mate!

Sementara itu di Plennari Hall, ribuan orang tumplek menyaksikan Incognito. Seorang penyanyi bertubuh besar 'Collibri' yang kemudian digandeng dengan Talkin Loud' memanaskan suasana dialam gedung berkapasitas 5000 orang penonton tersebut. Mereka yang hadir pada umumnya anak-anak muda yang cukup akrab dengan lagu-lagu incognito termasuk salah satu hits mereka 'Still Friends of Mine'. Sebelumnya antrian panjang sudah terjadi tatkala EWF sedang tampil. Acara yang molor sekitar satu setengah jam dari jadwal ini, ditambah dengan antrian panjang dari pintu kiri dan kanan. Sebagian besar sambil duduk dilantai. Boleh dikatakan mereka yang hadir kali ini sebagian wajah baru jika dibandingkan dengan penonton Incognito dalam shownya beberapa tahun silam. In jadi semacam ajang reuni bagi penggemar Incognito yang lagu-lagunya setiap hari menghiasi berbagai stasiun radio di tanah air.

(*/Arif Kusbandono/Roullandi Siregar/Ceto Mundiarso/Kushindarto/Agus Setiawan B//WartaJazz.com)

Link terkait:
KABAR DARI SENAYAN: JIJJF 2005 (bagian pertama)
KABAR DARI SENAYAN: JIJJF 2005 (bagian kedua)
KABAR DARI SENAYAN: JIJJF 2005 (bagian ketiga-habis)
Website Java Jazz Festival 2005




Kembali ke Halaman Index News
Kembali ke Halaman Depan


 

        Copyright © 1996-2006 WartaJazz.com All right reserved
Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com
Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net