![]() |
|
![]() |
||||
|
Hari terakhir acara JJF 2005 diisi oleh beberapa line-up unggulan seperti Eric Benet, James Brown, Bubi Chen Quartet, Deodato, George Duke, Indra Lesmana Reborn, Jeff Lorber, Angie Stone dan masih banyak lagi penampil yang lain. Acara klinik musik pun tidak kalah ramai dihadiri oleh para pecinta musik jazz di mana pada hari ini diisi oleh George Duke, Vinny Valentino dan Gilang Ramadhan. Di Plenary Hall sebagai pembuka sejak pagi sampai pertengahan siang sudah diisi oleh beberapa kelompok Choir yang memainkan lagu-lagu gospel. Penyelenggara acara pun sepertinya mengerti juga bahwa hari minggu adalah hari keluarga. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa pengisi acaranya melibatkan anak-anak. Seperti tampilnya Children Choir pimpinan Elfa Secoria. Puluhan anak dibawa ke atas panggung untuk menyanyikan secara bersama-sama atau ada yang tampil solo menyanyikan komposisi-komposisi standard jazz yang populer maupun lagu pop yang diaransir jazzy. Penontonnya pun dapat dipastikan sebagian besar adalah para orangtua, saudara-saudara atau pun teman-temannya yang terlihat sangat bangga. Selain itu Elfas juga tampil bersama Pop & Jazz Singer Choir yang sempat menjadi pemenang diberbagai kejuaraan atau festival diluar negeri. Di Stage 1 Qualcomm pun tidak ketinggalan untuk menampilkan pianis cilik dari Bandung yang bernama Zefa. Suatu hal yang mengesankan adalah dia masih berusia kurang lebih 10 tahun - Zefa sendiri belajar piano sejak usia 6 tahun -red. Dalam penampilannya pun terlihat kalau Zefa sedikit banyak sudah mulai merasakan "sense of improvise" yang baik. Kalimat-kalimat improvisasi dan emosi yang dilantunkannya, untuk ukuran anak seusianya, sudah mulai terlacak bentuknya. Meskipun dia masih lebih banyak menggunakan pedal pianonya. Mereka masih menampilkan beberapa komposisi standard di antaranya yang berketukan ganjil: “Take Five”. Ia didukung musisi Bandung kakak beradik Rudi & Ari Aru (acoustic bass & drums) serta Rizky (gitar). Seusai pertunjukan dengan ceplas-ceplos ia mengatakan pada sejumlah media yang hadir, bahwa dia senang bisa tampil di JJF. Berikutnya Kulkul dengan penabuh drum cilik Demas, didukung oleh Didiet yang memainkan biola plus dukungan 4 orang musisi Bali. Mereka menyajikan nomor-nomor fusion yang berpadu dengan gamelan Bali. Sajian yang sedap - jika nantinya berujung pada rekaman, seperti yang kami diskusikan dengan sang Ayah yang ditemui usai pertunjukan Demas - akan menjadi salah satu bibit jazz Indonesia masa depan. Kemudian tampil pula Starlite yang keselurahan personelnya siswi-siswi LPM Farabi yaitu Alsa (Drum), Sheila (bass), Rieke (piano). Starlite sebelumnya juga sempat tampil di Zoom Resto and Lounge dalam Java Jazz Festival on the Move. Gitaris muda kelompok ini, Endah sempat pula membawakan lagu Autumn Leaves yang mendapat applaus cukup meriah dari para penonton. Aksi harapan masa depan ini kemudian dilanjutkan dengan ikut mentas para seniornya. Grup Bunglon membawakan kompilasi lagu-lagu dari tiga albumnya; Denganmu, Far Away, Kuingin, Jangan Lagi, Kau, Hei, Tetap Mencoba.
Kemudian menyusul kelompok Heaven on Earth yang terdiri dari para pengajar Chick’s Music; Tedjo Bayu Adjie (keyboard), Andree (gitar bass), Ossa Sungkar (drum) dan Acil (perkusi) membawakan komposisi standards; Spain, Take The A Train, My Soulmate, Smile & Laughter, The Chicken, Mi Uctimo Baile. Sepertinya mereka sudah sering tampil untuk membawakan komposisi-komposisi standard jazz dengan style be-bop. Mereka juga menawarkan beberapa komposisi mereka sendiri yang dikemas dengan cukup energik.
*** Di pojok lantai bawah (Kasuari Lounge) muncul Trumpetis perempuan dari Belanda yang sudah beberapa kali tampil di Indonesia, Saskia Laroo. Dia dibantu oleh keyboardis Warren Byrd yang berasal dari Hatford, AS dan 2 musisi muda lainnya tampil dengan menarik perhatian penonton dari tempat yang lainnya. Sebenarnya tidak banyak trumpetis dengan kelompoknya yang mengambil style jazz-rock ataupun campuran yang lain. Memang terasa secara konsep dan corak permainannya dia terpengaruh juga dari Miles Davis, terutama masa-masa "Electronic Miles". Seperti diungkapkannya sendiri di atas panggung ketika dia menampilkan cuplikan dari 'Concierto de Aranjuez' dan 'Shoot' garapan Davis dengan aransemen gayanya Saskia sendiri. Di samping itu sendiri, dia cukup orisinil dengan komposisi-komposisi miliknya yang dibawakan dengan berani dan up date dengan masanya. Sebagai contoh komposisinya yang berjudul "Jazz Party" yang termuat dalam album "Its like a Jazz" dan pernah dirilis di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Saskia sempat mengajak 2 orang penonton yang kebetulan mampu memainkan terompet untuk berimprovisasi sehingga membuat suasananya semakin meriah saja. (catatan redaksi: Kasuari Lounge biasanya tidak terlalu dipenuhi penonton, karena tempatnya yang agak 'tersembunyi' dari ruangan konser lainnya) Jika sebelum tampilan puncak, Anda sempat berjalan ke lounge Kasuari akan menyaksikan penampilan Sue & Friends yang nge-blues serta Bertha & Friends. Di JJF 2005 ini yang menarik dari performance Bertha adalah kolaborasinya dengan para musisi Bali. Sebut saja; para eks-Jiwa Band – Erick Sondhy (piano), Koko Harsoe (gitar), Ito Kurdi (bass), Rio Sidik (trumpet) plus Taufan Goenarso (drum) dan Eugene Bonty (sax) mengiringi Bertha melantunkan Au Privave setelah sebelumnya membawakan I’ll Catch You secara instrumental. Setelah jeda yang menampilkan beberapa murud Bertha – dimana terlihat satu bakat baru bernama Melli yang cukup lancar memainkan piano, saxophone dan bernyanyi – dengan pergantian seksi rhythm dihadirkan Eddy (drum) dan Eko Sumartono (bass) plus hadirnya permainan suling Bang Saat di satu lagu– berikutnya kembali formasi awal tampil menutup acara dengan lagu 1 is The Magic Number dan Sadano Sambay. Yang menarik dari tontonan Bertha, pertama ada pada sesi duel trumpet Rio dengan saxophone Eugene yang sesekali diimbuhi improvisasi vokal Bertha . Menarik dan menggoda untuk terus bertepuk tangan. Kedua, adalah naik pentasnya anak balita Bertha yang ikut menari dan menyanyi tanpa suara. Menari dan menggoda untuk terus tertawa. Gud Entertain, Bertha! *** Funky Thumb yang terdiri dari Yance Manusama (bass), Tompi (vokal), Rayendra (drum), Glen Dauna (keyboard), Lian Panggabean (gitar), Diaz (vokal), Arief Hussein Setiadi & Doni (saxophone) dan Kevin Walsh. (trumpet) ini rasanya sudah tidak asing lagi dengan publik para pecinta musik jazz terutama yang berada di Jakarta. Dengan mantap Funky Thumb mengundang massa di ruangan Assembly 3. Penampilan Bubi Chen adalam acara ini didampingi oleh teman-teman "Ambon-Surabaya"-nya. Antara lain Oele Pattiselanno (gitar), Jacky Pattiselanno (drum), dan Jeffrey Tahalele (bass). Mereka ini adalah sebagian dari Living Legend-nya Indonesia yang masih konsisten berada dalam jalur musik jazz sampai saat ini. Tidak banyak perubahan permainan yang ditampilkan Bubi Chen. Tetap pada keakuratan dan keseriusan dalam bermain jazz, baik ketika dia bermain keyboard ataupun grand piano. Diantara Assembly 1 dan Assembly 3 ada area XL Jazz Town, yang didekorasi sedemikian rupa sehingga bersuasana broadway lengkap dengan gadis-gadis cantik. Ada penyemir sepatu yang sambil menunggu bisa pula menikmati sajian jazz di stage kecil yang ditempatkan ditengah-tengah area cafe yang menjual berbagai penganan pengganjal perut. Sayang stagenya seringkali sepi, tak banyak penonton yang bercokol disini. Mungkin karena tidak tercantumnya para performer di ruangan ini sehingga kesannya lebih sepi ketimbang ruangan-ruangan lain yang disediakan panitia. Dipanggung ini Eric Benet sempat berduet dengan Ruth Sahanaya diiringi Michael Paulo (sax).
***
Kelompok Pada sendiri, yang kehadirannya di ajang festival musik jazz internasional ini mengundang spekulasi apakah kelompok tersebut akan tampil dengan membawakan irama jazz sempat menjadi perhatian para penonton maupun media massa. Namun setelah ditunggu dari lagu ke lagu yang mereka tampilkan, ternyata harapan penonton keliru. Meskipun penampilan mereka tetap bagus dengan lagu-lagu hit mereka yang menghibur banyak penonton ditambah lagunya Queen 'Crazy Little Things Called Love', namun - apa boleh buat - mereka memang bukan kelompok musik jazz. Seperti diakui oleh Fadli sendiri, "Kalau kami kurang nge-jazz, mohon maaf". *** Seperti sebuah tradisi dalam kegiatan jazz apapun, festival inipun menghadirkan jam-sessions. Namun sayang sekali, sepertinya kegiatan ini justru luput dari perhatian panitia dan penonton. Buktinya, MC yang ingin mengannounce musisi yang ingin berjam session justru tidak mengetahui siapa yang akan tampil. (Kebetulan WartaJazz.com berada di Femina Lounge pada saat itu dan sempat dimintai salah seorang panitia tentang nama musisi yang akan tampil-red).
Peter Gontha sebagai chairman JIJJF 2005 dalam sambutannya juga menyatakan bahwa ditahun-tahun mendatang, pada gilirannya nama-nama lain dalam sejarah jazz Indonesia akan mendapatkan giliran untuk memperoleh penghargaan serupa. Bubi Chen sendiri yang menerima penghargaatn tersebut terharu dan sempat berujar, "Semoga jazz tidak pernah tergilas musik-musik lain". *** Dari beberapa musisi jazz tangguh yang ditunggu-tunggu pada pecintanya salah satunya adalah penampilan Indra Lesmana Reborn dan Ireng Maulana All Stars - masing-masing ditempat berbeda - yang sepertinya dapat disebut sebagai puncak pertunjukan musisi lokal di eksebisi jazz ini. Indra Lesmana yang tampil dengan formasi Reborn-nya di Assembly 1, terdiri dari Riza Arsyad (akordion & synth), Idham Noorsaid (terompet), Nikita Dompas(gitar), Arief Setiadi(tenor saxophone), dr. Iwang Gumiwang (conga, jembe, electric percussions), Rejoz (conga, cymbals), Ananda Mates (akustik bass) dan Indra Lesmana sendiri bermain elektrik piano Fender Rhodes, keyboard dan minimoog serta penampil khusus – Hayunaji van grup progresif rock Discuss. Dibuka dengan sebuah komposisi medley dari Miles Davis 'ESP' dan 'Milestone'. Dalam kesempatan ini dr. Iwang-lah yang menjadi bintang meskipun yang lain juga ikut bersolo ria. Disusul dengan komposisi dari pianis jazz terkemuka McCoy Tyner dengan 'Passion Dance'. Puncaknya ada di sebuah komposisi milik John Coltrane yang semua kritikus jazz terkemuka dunia menyebutnya salah kalau seseorang mengaku sebagai pecinta jazz tulen belum mempunyai album ini, "A Love Supreme". Indra sendiri menyebutnya sebagai "bible / Qur'annya musik jazz". Eksplorasi aneka rupa sound minimoognya serta nuansa ambient cukup menonjol sehingga hal yang sama dirasakan Indra lagu ini sangat dalam makna spritualnya. Konsernya ditutup dengan komposisi 'Reborn' dengan menunjukan kebolehan masing-masing musisi untuk bersolo. Pengunjung keluar dengan puas dan sedikit pertanyaan kapan album Reborn kedua dapat selesai diproduksi. Boleh saja ditunggu, barang kali sebagian komposisi yang baru saja mereka mainkan tersebut muncul dalam album baru Reborn yang akan datang.
*** Seperti halnya hari pertama, tak ada acara seremonial untuk menutup festival di hari ketiga. Namun sebelum menutup pertunjukan Ireng Maulana sempat mengucapkan terima kasih dan berharap dapat bertemu kembali di tahun depan!. Semoga!. (*/Arif Kusbandono/Roullandi Siregar/Ceto Mundiarso/Kushindarto/Agus Setiawan B//WartaJazz.com)
|
|
|||||
| Copyright © 1996-2006 WartaJazz.com All right reserved Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net |
||||||