![]() |
|
![]() |
||||
|
Untuk menyaksikan semua pertunjukan di sore hari itu pun terasa tidak mungkin. Penulis terlebih dahulu melihat penampilan seorang pianis senior dari Itali yang sudah membangun kariernya sebagai musisi sejak dekade 1960an, yaitu Franco D’Andrea. Pianis yang pernah bekerja di sebuah radio di Roma ini tampil dengan menggandeng formasi yang sepuluh tahun terakhir ini sering tampil bersama: Aldo Mella (bass), Zeno de Rossi (drum) dan Andrea “Ayace” Ayassot (alto & curved soprano saxophone). Melihat perkembangan awal style dari Franco D’Andrea memang tidak begitu mengherankan kalau mereka tampil di JJF 2008 cenderung membawakan komposisi-komposisi yang mempunyai harmoni terbuka dan bebas. Sehingga terdengar seperti free jazz, namun dengan struktur komposisi lebih tertata serta pengaruh dari era musik modern cukup kental dan masih terasa unsur swingnya. Hal tersebut terlihat dari penampilan Andrea sendiri yang membuka lebar-lebar harmoni chord dan tidak banyak memilih chord yang sifatnya mengikat musisi lainnya. Sementara Ayassot menampilkan melodi yang mengambang, abstrak dan improvisasinya sekilas terasa dingin namun sensitif seperti gaya khas dari Lee Konitz. Peran bas dan drum di sini adalah penting, terutama untuk memberikan jaminan ruang gerak bagi piano dan bass. Mereka menampilkan beberapa komposisi panjang. Unsur pengembangan komposisi terlihat dalam saat yang bersamaan dan spontanitas ketika mereka berada di atas panggung. Jelas dari sisi ini, komunikasi dan sensibilitas masing-masing musisi harus tetap dalam kondisi fit. Dari kursi penikmat, kalau belum terbiasa mendengarkan style musik yang mereka tampilkan, barangkali penampilan mereka terasa kurang menggigit, cenderung dingin dan membosankan. Meskipun kalau dari segi musikal, masing-masing musisi tentu sudah mempunyai bekal yang banyak untuk mampu melakukannya. *** JJF 2008 kali ini tersirat ada usaha untuk kembali mensosialisasikan salah satu kekayaan peninggalan tradisi musik jazz, yaitu big band. Terbukti ada lebih banyak big band yang tampil dari pada JJF tahun-tahun sebelumnya. Contohnya seperti kehadiran Kirana BB dari Jogja, Salamander BB diisi rekan-rekan dari Bandung, Jazzmint BB dari Jakarta, Galaxy BB yang mayoritas terdiri dari para ekspatriat Jepang di Indonesia, Hypersax pimpinan Oni tampil diiringi oleh big band juga dan Ron King BB dari Amerika Serikat. Perhatian terhadap formasi big band dari penonton dan penyelenggara pun dari tahun ke tahun sedikit meningkat. Seperti sengaja setting JJF 2008 kali ini dibuka dan ditutup oleh Kirana BB yang dipimpin oleh Agung Prasetyo. Salamander BB tampil dua kali. Jazzmint BB yang rasanya memang cukup menyegarkan. Semuanya yang seolah mengisyaratkan sebagai bibit-bibit baru penerus tradisi big band dari dalam negeri. Ron King BB yang tampil lebih dari tiga kali dalam kesempatan JJF 2008. Belum termasuk penampilannya di acara konfrensi press terakhir pada hari Selasa (4/3) dan Gala Dinner JJF 2008 yang digelar pada hari Kamis (6/3) malam. Rombongan Ron King ini terdiri dari 19 orang. Barangkali mereka mewakili sebuah big band yang diorganisir dengan baik dan professional. Dari musiknya sampai ke masalah penampilan fisik. Mengingat mengelola big band bukanlah hal yang mudah. Barangkali mereka dapat menjadi contoh standar untuk big band-big band dari Indonesia. Memang terasa sedikit lebih banyak unsur hiburannya dan aransemen dari pada spontanitasnya, namun mereka mempunyai dasar yang kuat untuk dijadikan awal pengembangan big band. Selain bermain trumpet, Ron King sendiri sudah mempunyai segudang pengalaman bermain dalam format big band ini. Termasuk pernah bergabung dalam big band terkemuka di Amerika Serikat, Bill Holman dan Clayton / Hamilton big band. Secara musikal, mereka memilih jalur aman dengan menampilkan beberapa koleksi standard yang lebih mengedepankan unsur swing yang kental dengan aransement yang cukup modern. Mereka menampilkan komposisi-komposisi dari George Gershwin, Billy Pierce, John Coltrane maupun Michael Brecker yang diaransir dengan rapi dan tertata bagus. Masing-masing bagian dapat terdengar dengan cukup jelas dan mendapat kesempatan untuk bersolo improvisasi secara memadai. Emosi sangat terkontrol. Secara pasti mereka sepertinya berhasil menghibur para penonton yang memenuhi ruang Assembly Hall 3. *** Dua di antaranya tampil di JJF 2008, yaitu Kazumi Watanabe dan Terumasa Hino. Kalau bisa ditambahkan juga adalah salah satu mantan personil, pemain bass dari Casiopea Tetsuo Sakurai. Sebagian besar kita ingat mereka adalah pemain fusion / jazz rock unggulan dari Jepang. Namun ada kejutan yang cukup mengagetkan. Mengingat sebelum pertunjukan dimulai persepsi penulis masih terbawa kembali kepada beberapa koleksi kaset yang ada di rumah bahwa Terumasa Hino adalah trumpeter fusion. Setelah mendapatkan tempat duduk yang cukup dekat dengan panggung, yang mengherankan penulis melihat setting alatnya adalah format akustik dengan dibantu Akira Ishi (piano), Hideaki Kanazawa (bass), Kazumaru Kawai (drum) dan Seiji Tada (saxophone). Mungkin ada perubahan orientasi dari Terumasa Hino selama ini. Karena sudah cukup lama tidak mendengar kabarnya. Ternyata tidak hanya itu, setelah Terumasa Hino tampil di panggung, nada pertama yang keluar terlihat garang dari pemain piano dan bassnya kemudian diikuti oleh instrument lainnya. Persepsi awal tadi menjadi bubar. Ternyata mereka justru bermain free jazz dengan cukup liar. Dikatakan liar di sini bukan dalam konotasi negative, namun semangat free jazz memang lebih panas dengan adanya improvisasi secara kolektif, overblowing pada instrument trumpet atau saxophone, bentuk komposisi yang seolah tidak simetris dan sebagainya. Meskipun demikian, mereka juga tidak terjebak ke dalam gaya free jazz seperti trend dekade 1960an semata-mata. Namun nilai-nilai tersebut dirajut dalam bentuk yang lebih baru dan kontemporer. Hampir semacam para musisi dari kalangan organisasi AACM (Association for Advance Creative Musicians) dari Chicago yang cenderung menjadi neo-klasik namun dengan sentuhan kultur Asia. Sekilas terdengar nada-nada pentatonis, nuansa meditatif dan juga penekanan kepada eksplorasi komposisi serta bunyi. Contohnya seperti meniup trumpet di mana moncongnya berada di dalam badan piano dan dipadukan dengan bunyi senar piano yang dipetik sehingga menghasilkan efek suara tertentu. Peran para musisi pendukung juga cukup menarik disimak. Terutama dengan pemain piano dan saxophonenya. Improvisasi pianonya cenderung ekspresif dan perkusif. Antara tangan kiri dan kanan mempunyai peran seimbang. Demikian juga dengan pemain saxophonenya yang mengingatkan kita seperti gaya Roscoe Mitchell dari Art ensemble Of Chicago. Kalau kita lihat style dari Terumasa Hino sendiri terdengar sedikit banyak ada pengaruh dari Freddie Hubbard atau Miles Davis. Hino ternyata memang serba bisa. Dia mampu beradaptasi dengan baik dalam beberapa style dari swing, bebop, free jazz atau fusion. Musisi kelahiran Tokyo 25 Oktober 1942 ini pernah menetap di Amerika Serikat dan sempat bermain bersama Gil Evans, Jackie McLean, Dave Liebman dan Elvin Jones. *** Menjelang tengah malam, pecinta musik jazz masih dihibur dengan berbagai pertunjukan menarik lainnya. Salah satunya adalah drummer terkenal Harvey Mason, salah satu personil dari smoothjazz supergroup Fourplay. Meski Harvey kali ini tidak tampil bersama rekan-rekannya dari Fourplay. Namun line up musisi yang akan tampil bersamanya sangatlah menarik bagi para pecinta jazz. Kali ini Harvey Mason tampil bersama Tony Monaco (organ) dan Pat Martino (gitar). Pat Martino, nama yang tidak asing lagi bagi para pecinta jazz. Dia adalah salah satu gitaris jazz handal angkatan 1960an yang sampai sekarang masih bertahan. Meski beberapa tahun lalu sempat menderita semacam penyakit kanker otak yang hampir merenggut nyawanya, Pat Martino masih mampu menghasilkan beberapa album yang bagus. Seperti “Think Tank” (2003) dan “Remember: A Tribute To Wes Montgomery” (2006). Keduanya dikeluarkan di bawah label Blue Note. Pertunjukannya dimulai dengan sebuah komposisi terkenal karya Wes Montgomery ‘Four On Six’. Dengan berdiri tegap di tengah panggung, penampilan Pat Martino masih bisa memukau para penonton dengan kalimat-kalimat improvisasinya yang panjang. Gaya permainannya sebenarnya cukup orisinil. Nada-nada yang keluar bersifat tegas dan artikulasinya bagus. Sepertinya juga dia lebih cocok bermain dalam komposisi-komposisi yang bertempo cepat dari pada balad. Terlihat ketika dia bermain balad, gitaris kelahiran Philadephia 25 Agustus 1944 ini lebih senang menggunakan ketukan double time. Komposisi kedua masih dari Wes Montgomery ‘West Coast Blues’ yang ditampilkan secara manis oleh Pat Martino. Justru yang terlihat keteteran atau kurang terbiasa dengan format standar organ trio (organ, gitar, drum) adalah leadernya sendiri, Harvey Mason. Dia tampil kurang sensitif dan terkesan agak kaku. Untungnya, dua orang lainnya tampil lebih maksimal. Secara keseluruhan, penampilan mereka cukup memikat. Terbukti para penonton secara kompak masih memberi penghormatan standing ovation dan memintanya untuk tampil kembali ke atas panggung setelah koleksi terakhir selesai (encore). Dari beberapa penonton yang sempat ditemui WJ merasa puas setelah bisa mendapatkan kesempatan langsung menyaksikan Pat Martino. Barangkali, bintangnya kali ini bukanlah Harvey Mason, tetapi malah Pat Martino. (*/Ceto Mundiarso/Wartajazz.com) Kembali ke Halaman Index News
|
|
|||||
| Copyright © 1996-2008 WartaJazz.com All right reserved Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net |
||||||