 |
|
|
WORKSHOP DAN KONSER AMINA FIGAROVA KWARTET PLUS DMITRI MATHENY

Masih dalam kegiatan JakArt@2001,
Amina Figarova Kwartet yang terdiri dari Amina Figarova(piano),
Bart Platteau(flutes), Wiro Mahieu(bass) dan Pieter Bast(drums)
plus flugerhornis asal Amerika Serikat, Dmitri Matheny mempersembahkan
penampilan terakhirnya di Jakarta, Selasa malam (19/06) setelah sebelumnya
sempat tampil di Pasar Seni Ancol, JAMZ, dan Gedung Kesenian Jakarta.
"Canal Street Blues", dan "Past in Present" merupakan nomor pembuka yang
disajikan kelompok asal Belanda ini. Atmosfer ruangan berkapasitas tempat
duduk 320 orang yang kerap dipakai untuk berbagai kegiatan kesenian ini
sontak menjadi hangat. Setelah dua nomor tersebut Bart Platteau memainkan
suling sebagai intro lagu "Sunrise in Kyoto", sebuah nomor yang
menggunakan suling khas jepang, Shakuhaci. Nomor "Sunrise
in Kyoto" ini merupakan nomor favorit pengunjung, buktinya banyak
sekali yang menanyakan apakah mereka bisa mendapatkanya CD-nya. Saat ini,
menurut Amina Figarova, proses pembuatan album terbaru - yang memuat
lagu "Sunrise in Kyoto'" tersebut - telah selesai dan direncanakan
akan dilempar ke pasaran sekitar bulan September mendatang.
Setelah tiga nomor diatas, Amina Figarova memperkenalkan anggota
bandnya satu persatu, sambil bercerita tentang lagu-lagu yang dimainkannya
diawal pertunjukan. Acara kemudian dilanjutkan dengan melakukan workshop
berupa tanya jawab pengunjung dan para personil pendukung Amina Figarova
Kwartet.
Cukup banyak pertanyaan yang mengemuka misalnya tentang bagaimana caranya
mengembangkan permainan solo ditengah pemain yang lain. Atau bagaimana
caranya mengembangkan teknik bermain yang baik menggunakan piano atau
alat musik lainnya. Dalam tanya jawab ini, sempat dilakukan jam session
Bart Platteau(flute) dengan Pieter Bast(drum). Pieter
Bast mencoba memberikan contoh bagaimana ia memainkan drum dengan
melakukan imitasi terhadap suara flute atau meniru suara flute, hasilnya
cukup maksimal. Penonton puk memberikan applause.
Permainan mereka kemudian dilanjutkan dengan Solo Piano dan Trio (drum,
bass dan piano) dalam dua buah nomor yang dipadu yaitu Waiting For dan
Night Train. Yang kemudian dirangkai dengan sebuah nomor dengan memainkan
lagu yang bertemakan kesedihan yaitu Sari atau Triste.
Akhirnya pertunjukan malam tersebut diakhiri dengan sebuah nomor perpaduan
antara musik Salsa dan Blues yaitu "Salsa Blues".
Demikianlah akhir pertunjukan dengan misi kebudayaan ini. Meski sempat
sedikit terganggu karena Amina Figarova tidak dapat mendengar suara
pianonya, sehingga bermain terlihat lebih teknis, pertunjukan tersebut
sukses dari segi pengunjung dan misi kegiatannya. Ketika dihubungi dalam
perjalanan menuju hotel tempat mereka menginap, Amina mengungkapkan terima
kasihnya atas sambutan luar biasa pada setiap penampilan mereka di Jakarta.
"Saya ingin kembali lagi secepatnya", pintanya. Semoga kita
bisa menyaksikan penampilannya diwaktu-waktu mendatang. (WJ)
Kembali ke Halaman Index News
Kembali ke Halaman Depan
|
|
 |