WartaJazz.com :: Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz Indonesia
PATA JAVA Beli album jazz Indonesia
       
         
   



Dari Dji Sam Soe Super Premium Workshop Jazz untuk Media
FRANKY RADEN: "JAZZ ADALAH MUSIK RITUAL GATHERING"


Jak Jazz 2007Barangkali pandangan ini agak aneh diterima di Indonesia pada umumnya sekarang, di mana sebagian masyarakat masih mempunyai pandangan klise terhadap musik jazz yaitu jazz adalah musik orang - orang mapan, penuh dengan kegengsian, hedonis atau pun dengan setumpuk istilah yang justru dapat mengasingkan musik jazz dengan orisinalistasnya sendiri.

Ungkapan bahwa musik jazz itu adalah sebagai sarana ritual gathering atau social gathering ini diungkapakan oleh Etnomusikolog/Komposer, Associate Professor dari York University Toronto Kanada Franky Raden dalam kesempatan sesi pertama Media Workshop Jazz yang diselenggarakan oleh Dji Sam Soe Super Premium pada tanggal 29 Oktober 2007 kemarin di Black Cat Jazz, Plaza Senayan. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyongsong hadirnya pergelaran Dji Sam Soe Super Premium Jak Jazz Festival 2007 yang bertema Paint the Town Jazz.

Dalam kesempatan tersebut, hadir juga para pembicara lain yang dinilai ahli dalam bidangnya: Dwiki Dharmawan (musisi Indonesia), Frans Sartono (wartawan harian Kompas), Kushindarto (wartawan foto Wartajazz.com) serta dimoderatori oleh Agus Setiawan Basuni (Wartajazz.com). Di samping dihadiri oleh para pembicara tersebut, acara ini juga ikut dimeriahkan dengan kehadiran para musisi jazz muda Indro Hardjodikoro (bass), Edi Syakroni (drum) dan Arief Setiadi (tenor saxophone). Tidak ketinggalan pula, belasan wartawan dari berbagai media massa ikut hadir dalam acara yang dapat dikatakan langka ini. Atau barangkali malah kesempatan pertama kalinya diselenggarakan workshop media massa khususnya tentang peliputan musik jazz.

Selanjutnya Franky Raden menjelaskan Musik jazz pada dasaranya adalah unsur dari social gathering atau bahkan ritual gathering, jadi musik bukan yang sudah masuk klab atau yang sudah dikemas menjadi bisnis tontonan dan hiburan. Dia mencontohkan ada sebuah tempat di bagian selatan kota Chicago di Amerika Serikat, yang terbuka, tidak ada unsur bisnisnya, bisa jam sessions, rilek, affordable, dalam suasana panggungnya sempit. Dalam kesempatan ini, siapa pun menyuguhkan kemampuannya, baik para musisi jazz yang sudah terkemuka maupun masih dalam tahap belajar dengan bebas. Sebagian besar yang hadir biasanya adalah kaum Afro Amerika. Bahkan terkadang diselingi dengan acara ulang tahun seseorang yang dirayakan bersama-sama. Intinya, jazz tidak perlu ditakuti. Kita bisa menikmati jazz dengan serius maupun santai, tidak ada bedanya.

Dalam bahasan kaitan sejarah musik dan musik jazz pun pernyataan Franky Raden membuat para penggemar musik jazz sedikit bertambah bangga. Dia menyatakan, setelah perkembangan musik klasik berhenti sejak kurang lebih 100 tahun yang lalu, musik jazz menjadi salah satu bagian yang berpengaruh dari para komposer musik modern. Selain itu juga terjadi perkembangan yang dialogis antara musik kontemporer modern dengan jazz. Setelah kehadiran musik jazz, musik klasik menjadi reinvented. Bahkan dia mempunyai ide kalau kita mau belajar musik secara akademis, sebaiknya kita belajar musik jazz terdahulu. Sehingga bisa mengetahui unsur-unsur blues atau pun blue note.

Pada sesi kedua, Dwiki Dharmawan mengajak berdialog dengan peserta secara langsung dengan bermain piano dan diiringi oleh Arief Setiadi, Indro Hardjodikoro dan Edi Syakroni. Kesempatan pertama mereka memainkan contoh unsur swing dengan memainkan tembang 'Take The 'A' Train" karya Billy Strayhorn dan Duke Ellington. Demikian juga dengan contoh permainannya dalam memainkan tembang tradisional dari Kalimantan Selatan 'Paris Berantai', dengan ketukan yang sedikit lebih rumit 6/8. Dalam sela-sela permainan tersebut, Dwiki mencoba membuka pertanyaan dengan para peserta. setelah itu, peserta disuguhi dengan cuplikan dokumentasi audio visual konser Krakatau di Eropa pada tahun 2005.

Sesi berikutnya diisi oleh wartawan terkenal dari harian nasional Kompas yang sering kali berliau menulis tentang musik jazz, Frans Sartono. Dia mendorong para rekan wartawan untuk tidak perlu takut untuk menulis atau meliput tentang musik jazz. Jazz juga banyak mengandung berita. Jazz adalah obyek liputan, sama seperti liputannya lainnya. Jazz juga bisa dilihat dari berbagai sisi. Mulai dari karya, aspek kompositoris, sejarah, perkembangan, musisi, industri, bisnis maupun festival. Kalo belum akrab dengan musik jazz, diperlukan proses pengenalan. Akhirnya kita sedikit banyak dapat menggali meskipun secara sepintas.

Tips selanjutnya dari "Mr. Xar" ini adalah wartawan juga seyogyanya sedikit banyak mengikuti perkembangan musik jazz. Minimal yang terjadi di tanah air saat ini. Seperti yang baru saja diterbitkan album Pra/Indra/Gilang "Kayon". Dimana mereka mencoba mempertemukan gaya bebop dengan unsur musik etnis nusantara. Dan juga jelas dalam teknis paling dasar jurnalistik yaitu wawancara. Jangan malu bertanya, baik dengan para musisi, pihak-pihak yang mempunyai otoritas berkomentar tentang musik jazz atau bahkan dengan para penggemarnya. Jelas hal tersebut tidak melupakan aspek cover both side atau keseimbangan opini dalam mencari obyektifitas.

Sementara pada sesi dialog terakhir, Kushindarto atau yang lebih akrab disapa dengan nama Darto ini mencoba memaparkan pengalamannya menjadi seorang fotograper yang menyukai musik jazz. Dia berpendapat kalau musik jazz tidak saja dapat dinikmati secara auditif saja, namun juga dapat dinikmati secara visual. Hal ini juga tentunya sangat relevan hubungan antara fotografi dengan kegiatan jurnalistik.Sedangkan fungsi fotografi dalam dunia musik jazz itu pun tidak sedikit. Antara lain sebagai bagian dari dokumentasi, jati diri musisi dan visualisasi suatu acara jazz. Bagi wartawan, tentu hal ini diperlukan faktor pendukung yang bisa meliputi 2 hal: penguasaan teknis fotografis dan materi non teknis. Penguasan teknis fotografis seharusnya sudah menjadi standard para wartawan terutama yang bertugas sebagai fotograper. Sedangkan dari faktor non-teknis dapat berupa pemahaman, pengetahuan dan kalau perlu "kecintaannya" terhadap musik jazz. Kedua hal tersebut bisa dipadukan menjadi satu karya yang menawan dan estetis.Di akhir sesi Darto juga memberikan contoh-contoh foto yang diambil dari koleksi Wartajazz.com.

Acara ini ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dari pihak penyelenggara untuk para pembicara. Tidak lupa juga untuk para peserta dibagikan hadiah dengan menjawab beberapa pertanyaan mengenai irama/stlye apa yang dimainkan Dwiki bersama teman2nya. (*/Ceto Mundiarso/Wartajazz.com)

Kembali ke Halaman Index News
Kembali ke Halaman Depan

 

 

        Copyright © 1996-2007 WartaJazz.com All right reserved
Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com
Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net