 |
|
|
PROFIL > DISCUS
Kelompok Discus menjadi thesis musik progresif Indonesia.
Reformasi tidak hanya melanda dunia politik Indonesia. Agaknya, para musisi
pun perlu bersikap reformis. Nampaknya Discus memelopori langkah ini.
Inovatif, itulah kata kunci yang tepat untuk menggambarkan kelompok Discus.
Seperti dalam Discus 1st - album perdana mereka - kental
sekali terasa usaha kreatif ber-eksperimen dengan pola-pola komposisi
yang lain dari yang lain. Memang,
bagaimanapun, akar pada nuansa-nuansa mainstreams seperti jazz, rock,
klasik, tidak bisa tidak, tetap ada. Yang membedakan sangat jelas adalah
kreatifitasnya untuk selalu inovatif, ketimbang sekadar duplikatif, dalam
menghadirkan struktur bermacam pola komposisi dari lagu ke lagu. Terdengar
unik dan asli!
Menarik untuk mengamati mengapa Discus berani tampil beda. "Menampilkan
pola-pola komposisi orisinil, justru karena kami melihat bahwa segmen
progresif boleh jadi adalah satu-satunya wilayah yang relatif amat sulit
untukmenegaskan sebuah identitas" kata Iwan Hasan, yang menjadi
motor kelompok Discus. "Apalagi mencari yang khas Indonesia", sambungnya.
Musik progresif itu sendiri, secara historis memang sulit dilepaskan dari
rock -yang di Indonesia sering diistilahkan art rock. Dalam website Kinesis
(sebuah label di Amerika yang mengkhususkan diri pada musik-musik
jenis ini), disebutkan aliran ini mulai berkembang sekitar akhir tahun
60-an atau awal 70-an, ketika batas-batas musik rock diperluas danmenjelajah
masuk ke dalam elemen-elemen genre lainnya seperti klasik dan jazz. Konsekuensinya,
usaha infusi dalam musik progresif, mau tak mau menuntu, selain virtousity
tinggi, juga wawasan luas para musisinya.
Disebutkan, John Lennon dkk dengan The Beatles-nya mulai menggagaskan
infusi elemen berbagai genres selain rock'n roll, dalam karya-karya mereka
akhir 60-an. Kemudian menyusul nama-nama besar di era 70-an seperti King
Crimson; Emerson; Lake & Palmer; Yes; Genesis; Gentle Giant; dan PFM
yangmeramu kompleksitas melodi, lirik serta rhythm dengan begitu imajinatifnya.
Dari kubu Jazz, Miles Davis melakukan ground-breaking melalui rekamannya
Bitches Brew. Langkah Davis pun diikuti berbagai kelompok
musik instrumental electronic jazz-rock fusion seperti Weather Report,
The Mahavisnu Orchestra and Return To Forever.
Iwan Hasan, agaknya, bakalan menjadi sebuah nama yang memberi warna khusus
dunia musik Indonesia sebentar lagi. Dalam Discus 1st, terlihat usaha
kerasnya menjejaki proses dialektika di antara polarisasi estetika Barat
dan Timur, dengan segudang masalahnya. Seperti ditulis
Franki Raden ketika Discus tampil pada JakJazz 97:
"Latar belakangnya sebagai komponis-gitaris yang menempuh pendidikan
formal di Amerika menjelaskan mengapa karya-karyanya tergarap secara akademis
dan sangat Inovatif. Formasi instrumentasinya menarik (biola, gitar, saxophone,
keyboard, drum, perkusi elektronik dan bas gitar), harmonisnya penuh dissonan,
struktur komposisinya kokoh, idiomnya progresif, kadang diselingi oleh
keelokan warna musik lokal" (Kompas, Des 97)
Di sisi lain, seperti diulas dalam kolom Harian Kompas seputar Pekan
Komponis IX di Gedung Kesenian Jakarta: "Dari khazanah tradisi musik
barat, muncul Iwan Hasan (31). Ini nama baru di kalangan
pemusik kontemporer di Indonesia, yang berkukuh pada disiplinnya dan tak
tergiur untuk berduyun memasuki wilayah musik tradisi entah bekalnya cukup
atau tidak" (Kompas 21 Maret 1998).
Kalau begitu, cukup optimis rasanya untuk mengatakan Discus sat ini siap
menjadi thesis yang menjawab apa itu musik progresif Indoesia sesungguhnya.
Persoalan selanjutnya adalah bagaimana kita mengapresiasi karya-karya
kita sendiri. Sekadar catatan, album Discus 1st telah beredar di pasaran
Eropa melalui Mellow Records - Sebuah perusahaan Italia. Dan, Paolo Rondelli,
International Business Affairs perusahaan tersebut meuji: "The Whole
album is excellent". (JHW/Mz/WJ)
Kembali ke Index Profile
Kembali ke Halaman depan
|
|
 |