WartaJazz.com :: Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz Indonesia
       
         
   


PROFIL > INDONESIAN ALL STARS (IAS)

INDONESIAN ALL STARS (IAS) merupakan salah satu dokumen penting karya seni khususnya dalam sejarah pertumbuhan blantika musik jazz di Indonesia. Sebuah kelompok yang memainkan musik jazz dan para personilnya bisa dikatakan sebagai para pelopor musik jazz Indonesia termasuk seorang pemain alat tiup jazz berkelas internasional dari Amerika Serikat. Tidak itu saja, penampilan mereka juga mendapat perhatian dan pengakuan dunia internasional. IAS sudah muncul sejak pertengahan dekade 1960an. Dokumentasi ini ada setelah mereka tampil di Berlin Jazz Day (meskipun pada waktu itu sebagian besar dari mereka malah jatuh sakit namun pianisnya sempat ber-jam sessions bersama para musisi jazz internasional menurut salah seorang sumber) dan terekaman dalam rekaman di SABA studio recordings Jerman pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967. Hasil dari rekaman tersebut lahir sebuah album yang berjudul "Djanger Bali". Album ini kemudian dirilis kembali di awal-awal tahun 69 atau 70, ketika SABA diambil alih atau dikonsolidasikan dengan/oleh MPS/BASF. Sekarang kita mendapatkan album tersebut dikemas dalam sebuah rangkaian produk dari MPS "Jazz Meets World 2: Jazz Meets Asia".

Para pemain IAS antara lain adalah Bubi Chen (piano, siter & kecapi), Jack Lesmana (gitar), Maryono (tenor sax, flute & vokal), Yopi Chen (bass), Benny Mustafa (drum) serta seorang bintang tamu yang sudah akrab dengan mereka semua sebelumnya Tony Scott (klarinet). Selain dipercaya sebagai pianis Bubi Chen juga membawa siter dan kecapi untuk mengusung beberapa instrumen tradisional Indonesia yang barangkali untuk menunjukan identitas tempat asal selain juga untuk menunjukan kekayaan eksplorasi yang dapat dikembangkan musik jazz terhadap berbagai bentuk kebudayaan dari berbagai tempat di dunia ini dan kemampuan akan kelompok ini. Di samping itu, paling tidak hal ini adalah usaha mereka untuk memperkenalkan musik tradisional Indonesia yang dikawinkan dengan musik jazz jauh sebelum kelompok Krakatau yang kita kenal sekarang melakukan hal yang serupa.

Dalam album ini ada 5 komposisi yang terdiri dari 4 komposisi tradisional Indonesia dan 1 komposisi standard. Yaitu 'Djanger Bali', 'Gambang Suling', 'Ilir-Ilir', 'Burungkaka Tua' dan 'Summertime'. Berdasarkan keterangan dari Alfred D. Ticoalu, dalam rekaman aslinya terdapat satu track lagi yakni 'Mahlke' dimana soloisnya itu Jack dan Tony. Bagaimana sampai mereka memainkan lagu tersebut? Joachim Berendt, sang produser, ketika datang ke Indonesia membawa kaset Attila Zoller, hasil rekaman SABA. Didalamnya terdapat Mahlke, yang sebenarnya sound-track dari sebuah film Jerman yang berjudul "Katz und Maus," yang diangkat dari hasil karya tulis Gunter Grass. Setelah Jack mendengar lagu tersebut dia suka sekali akan-nya. Ketika IAS diboyong ke Jerman, mereka sudah bisa memainkan lagu itu secara baik dan akhirnya direkam sebagai salah satu lagu didalam album "Djanger Bali". Nampaknya ini dilakukan sebagai daya upaya untuk memancing orang-orang yang tidak atau kurang mengerti musik tradisional Indonesia, yang dikombinasi Jazz, untuk mengetahui kalau mereka-mereka ini bisa juga main straight ahead.

'Djanger Bali' terinspirasi dari tarian tradisional populer dari Bali 'Djanger' di mana improvisasi dan komposisinya merujuk kepada salah satu tangga nada musik klasik tradisional dari Bali dan Jawa. Sisipan bunyi gamelan dari Bali muncul di awal dan akhir komposisi ini yang di bagian tengahnya hanya dimunculkan kesan tersebut dengan suara gitar yang seolah-olah menjadi suara gong. Permainan kecapi Bubi Chen dan flute Maryono dalam 'Gambang Suling' menambah kesahduan nuansa Jawanya. 'Ilir-ilir' dinyanyikan oleh Maryono namun sepertinya tidak dengan penghayatan yang cukup. 'Summertime' menunjukan kemampuan IAS untuk menguasainya malahan dengan tangga nada Sunda. Menariknya secara global pada waktu itu gerak musik jazz sedang dalam masa semangat-semangatnya mencari pendekatan baru untuk mengembangkan interaksinya dengan jenis musik yang lain. Hal ini menjunjukan juga ide segar dan keberanian IAS yang tentunya didukung oleh dorongan dan visi akan perkembangan musik jazz di Indonesia khususnya. Sayangnya, kelompok ini pun tidak bertahan lama.

Semasa era Presiden Indonesia masih dipegang oleh Bung Karno, Tony Scott memang sempat tinggal di Indonesia untuk beberapa lama. Dalam kesempatan tersebut dia banyak berinteraksi dan bermain dengan para musisi jazz Indonesia pada waktu itu. Ada salah satu sumber menyebutkan bahwa dia sempat membuat masalah dengan Bung Karno ketika dia tampil di Istana Negara yang menyebabkan dia diperintahkan untuk segera meninggalkan Indonesia. Kemudian pada suatu saat Tony Scott bertemu dengan seorang penulis dan kritikus jazz terkemuka dari Jerman, Joachim E Berend di mana Scott sempat bercerita tentang IAS. Pada sekitar awal 1966, Berend berkunjung ke Indonesia dan bertemu mereka. Sebagai tindaklanjutnya pada tahun 1967 Berend memanggil mereka untuk tampil dan rekaman di Jerman. (*/WJ)

Kembali ke Index Profile
Kembali ke Halaman depan

 

 

        Copyright © 1996-2006 Warta Jazz.com All right reserved
Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini
tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com
Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net