![]() |
|
![]() |
||||
|
Sejak kurang lebih enam puluh tahun yang lalu, Frank Sinatra selalu saja memukau para pendengarnya. Baik penampilannya yang direkam dalam studio maupun ketika sedang berada di atas panggung. Sinatra mempunyai sensibility yang hebat tentang maksud dan isi sebuah lirik lagu. Didukung dengan suara merdu dan powerful ini tentunya juga memikat para penyanyi generasi setelahnya. Setelah itu, muncul banyak penerus yang begitu besar pengaruh darinya. Dalam bentuk yang lebih modern barangkali dipresentasikan oleh penyanyi jazz Mark Murphy. Mark Murphy sempat meramaikan “kekosongan” vokalis jazz baru dalam dekade 1970an ini juga mempunyai kemampuan yang hampir sama dengan Frank Sinatra. Perbedaannya, Murphy mempunyai lebih banyak lagi sumber inspirasi untuk mengembangkan cakrawala dalam wilayah vocal jazz dengan mengkolaberasikan naskah – naskah sastra dan puisi. Dalam dunia sastra tersebut, masih terbentang sebuah imajinasi dan kandungan sebuah teks yang sering tidak terduga sebelumnya. Meskipun sebenarnya vokalis Jon Hendricks lebih dahulu menggunakan pendekatan dan metode ini, namun totalitas Murphy lebih menonjol. Kini, di sebuah era di mana jumlah vokalis jazz tumbuh bak jamur di musim hujan, belum banyak para vokalis jazz yang berbagi peran seperti apa yang dilakukan oleh Mark Murphy sejak empat puluh tahun yang lalu. Kecuali vokalis jazz yang karya – karyanya sudah hadir di hadapan para pecinta musik jazz sejak lima belas tahun yang lalu, Kurt Elling. Usaha kolaberasi antara musik jazz dan sastra yang dilakukan oleh para vokalis jazz ini sekilas juga terjadi tarik menarik kekuatan antara keduanya. Di “era” Mark Murphy, unsur blues, swing dan spontanitas khas vokal jazz seolah dinomerduakan. Dia lebih menekankan aspek teknis vokal guna mendukung penghayatan dan warna lirik sebuah lagu. Hadirnya Kurt Elling ini seolah membantu melengkapi wilayah yang masih tertinggal tersebut. Selainitu, karakter vokalnya cenderung bulat, fleksibel, intonasinya jelas meskipun saat melakukan scat singing dengan tempo cepat dan berlekuk – lekuk. Sensibilitas, kekayaan warna dalam menampilkan sebuah lirik tembang, improvisasi, spontanitas atau pun gaya scat singing yang dimiliki musisi kelahiran Chicago 2 November 1967 ini memang memukau. Perlu diingat pula bahwa sense of blues yang ada dalam diri Kurt Elling juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Barangkali hal ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan musisi jazz dari Windy City tersebut. Jalan hidupnya sebelum menjadi seorang musisi jazz professional yang bervisi luas dan dalam ini sebenarnya pernah merencanakan kariernya di dunia akademis dalam bidang filsafat agama di University of Chicago for Divinity School. Namun aktifitas tersebut tidak menghambat Elling untuk tidak melirik ke dunia lain, karena sebelumnya sering mendengarkan koleksi – koleksi jazz seperti Dexter Gordon dan Herbie Hancock dari teman – temannya. Akhirnya sembari kuliah, Elling sering menyaksikan berbagai pertunjukan musik jazz di beberapa klab jazz pada malam harinya. Secara alami, akhirnya Elling sangat tertarik dengan musik jazz. Meskipun dia juga tidak sepenuhnya meninggalkan dunia akademis. Betty Carter, Joe Williams, Chet Baker, Sheila Jordan, Frank Sinatra, Al Jarreau, Ella Fitzgerald, Tony Bennett dan Eddie Jefferson semuanya mempengaruhi perkembangan dari gaya Elling. Termasuk Miles Davis dan Wayne Shorter. Namun yang mengajarinya bagaimana untuk menjadi musisi jazz yang hebat adalah lingkungan musisi jazz di Chicago sendiri seperti Von Freeman, Eddie Johnson dan Ed Peterson. Dia juga sangat bersyukur dapat berkenalan dan sharing pengetahuan bersama saxophonis Benny Golson, pianis Marian McPartland atau pun bassis legendaries Charlie Haden. Pada awalnya, Elling mengawali pertunjukannya di sekitar Chicago, terutama di sebuah klab jazz terkemuka dari Chicago, Green Mills. Sering kali dalam pertunjukkannya dia isi juga dengan pementasan drama atau pembacaan puisi – puisi karya Rainer Maria Rilke atau Jack Kerouac dengan iringan rhythm swing atau bebop. Tentunya hal ini juga tidak terlepas dari vokalis pujaannya, Mark Murphy. Kesempatan emasnya datang setelah Elling menandatangani kontraknya dengan label rekaman jazz legendaris Blue Note. Dia mulai mendapat perhatian dari media massa dan pecinta musik jazz setelah keluar album pertamanya “Close Your Eyes” pada tahun 1995. Perhatian tersebut tidak hanya untuk bakat atau keorisinilannya saja, namun juga termasuk untuk para musisi pengiringnya, pianis Laurence Hobgood dan drummer Paul Wertico (dia juga salah satu drummer dari Pat Metheny Group). Album keduanya, “Messenger”, keluar pada tahun 1996 dengan gayanya yang lebih garang dan berani lagi dalam eksplorasi vokal jazznya dibanding dengan album sebelumnya serta diikuti dengan tour yang melelahkan. Elling tidak hanya berhasil mendapatkan pujian dari banyak kritikus jazz, namun lebih dari itu dia sudah membuat para pecinta musik jazz mengangkat topinya. Album berikutnya keluar dengan judul “This Time It’s Love” pada tahun 1998. Album ini berisi beberapa komposisi balada yang bertema cinta. Album ini sendiri berhasil masuk nominasi Grammy Award dan berhasil mendapatkan penghargaan dari banyak majalah musik. Masih di bawah label Blue Note, Elling mengeluarkan beberapa album lagi. Rekaman konsernya di Green Mills didokumentasikan dalam album “Live In Chicago” (2000), “Flirting With Twilight” (2001). Barangkali album ini adalah album yang paling memuaskan. Kemudian “Man In The Air” (2003). Pada tahun 2006, dia pindah ke perusahaan rekaman yang saat ini cukup mendominasi rekaman – rekaman jazznya yaitu Concord Records. Setahun kemudian keluar album “Nightmoves” Lebih menggembirakan lagi, Kurt Elling selalu memandang ke depan. Dia mencoba untuk menyelaraskan antara feeling dan intelektual dapat berjalan seiring. Posisi ini penting untuk tidak terpaku kepada masa lalu. Dengan karya – karyanya, Kurt Elling berhasil memimpin barisannya sendiri. Secara lebih luas lagi, dia juga berhasil membawa tradisi vokal jazz maju selangkah. (*/Ceto Mundiarso/WartaJazz.com) Link terkait :
|
|
|||||
| Copyright © 1996-2004 WartaJazz.com All right reserved Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net |
||||||