 |
|
|
DEWA BUDJANA - NUSA DAMAI
Chico&Ira Productions
Komposisi:
1. Bermain
2. Kromatik lagi
3. Bunag yang Hilang
4. Lalu Lintas
5. 9 Januari
6. Ruang Dialisis
7. Medley: Wanita/Trenggono
8. Katmandu
9. Twang Twang Twang
10. Nusa Damai
Musisi :
Dewa Budjana : akustik & elektrik gitar, sitar, banjo, soproano
gitar, synth gitar
Arie Ayunir: drum, gong, perkusi, tamborin
Bintang Indrianto: bass
Indra Lesmana: piano
Riza Arshad: akordion
Jero Ketut Sideman: kidung
Nyak Ina 'Ubit' Raseuki: voice
Taufan Gunarso: drum

Beli album ini
Nusa Damai milik Dewa Budjana diluncurkan ditengah kelesuan
album jazz maupun solo gitar dari musisi Indonesia. Kemapanan yang dikecap
sebagai gitaris band papan atas Gigi, Java Jazz maupun Trakebah
ternyata tidak membuat Budjana kehilangan kegelisahan - yang notabene
membedakan antara seniman dan tukang. Ibarat lukisan, album Nusa Damai
cukup berhasil menampilkan identitas bermusik Budjana didalam sapuan
yang fleksibel. Hasilnya tidak terlalu ngepop bagi penggemar jazz, dan
tidak terlalu berat bagi penikmat pop. Dibuka dengan "Bermain" yang memberi
nuansa masa kecil. Komposisi ini kesannya ingin mencampuradukkan warna
folk, kontemporer dan semi jazz yang menggambarkan perjalanan dari suatu
penjelajahan musik yang diakhiri dengan raungan gitar yang nge-rock.
Permainan drum Arie Ayunir pada "Kromatik Lagi" patut dicermati
karena banyak memberi pilihan ketukan dan bunyi perkusi yang bervariatif.
Permainan Arie kelihatannya gak terpengaruh Joey Baron minimal
pada lagu diatas. Komposisi terutama "Ruang Dialitis" seakan ingin menunjukkan
asal kelahiran Budajan yang merupakan warna etnis dari pulau dewata.
Tidak sedikit musisi Indonesia sebelumnya yang mengeksplorasi warna etnis
Bali diantaranya Guruh-Gypsi pada tahun 70-an yang cukup sukses
bahkan sampai sekarang albumnya masih diburu orang. Bahkan pnejelajahan
kreatif yang pernah dilakukan oleh tokoh minimalis dunia seperti Philip
Grass dan Collin MacPhee pada tahun 70-an yang mengambil etnis
Bali tidak hanya sebagai idiomatik tetapi juga secara teknis cukup mendapat
pengakuan dari dunia musik internasional.
Alunan nada yang diiringi kidung dialek bali oleh neneknya sendiri, Jero
Ketut Sideman terlihat memantapkan jati diri Gitaris ini sebagai oran
gyang mau nguri-uri budaya sendiri. Pada lagu ini menggunakan double drumer
yaitu Arie Ayunir dan Taufan Goenarso. Tanpa mengurangi
penghargaan musikalitas Budjana, masih terlihat gaya dari Pat
Metheny pada beberapa lagu seperti Bunga Yang Hilang dan Lalu
Lintas yang sah-sah saja karena gitaris ini cukup banyak mengadopsi
permainan dari si Pat Metheny itu. Kekompakan duet Budjana dan
Indra Lesmana bisa disimak pada Bunga yang Hilang. Permainan
Bintang Indrianto(bass) sangat menonjol terutama pada lagu Lalu
Lintas. Lagu ini sebenarnya layak untuk dijadikan unggulan hanya sayan
gsuara distoris gitar yang agak berlebihan membuat kenyamanan mendengar
agak terganggu. Atau mungkin Budjana menggunakan efek suara distorsi
untuk menggambarkan suasana lalu lintas yang ruwet. Apakah album ini akan
menjadi trend dalam jangakauan musik Indonesia atau hanya numpang lewat
saja, who knows? (Arko/WJ).
STOP PRESS:
Jika anda tertarik untuk memiliki album ini, WartaJazz dapat membantu
anda. Silahkan klik disini untuk informasi
lebih lanjut.
Link terkait:
Beli
album ini
Beli
album Dewa Budjana yang lain
Kembali ke Index Resensi
Kembali ke Halaman Depan
|
|
 |