Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "adi darmawan"

Trio LIGRO, tambah edan di album kedua!

Tags: , , , ,


Konser peluncuran “Dictionary 2” oleh Trio LIGRO, Rolling Stone Café Jakarta, 25 Januari 2012.

Saat yang dinanti akhirnya datang juga. Rabu (25/1) malam bertempat di Rolling Stone Café, album kedua LIGRO berjudul Dictionary 2 pun rilis. Berjarak sekitar tiga tahun dari perdana Dictionary 1 (Inline Music, 2008), LIGRO (dibaca terbalik menjadi “orgil” – orang gila – red.) tampil makin gila, makin energik. Pelakunya ialah Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bas), dan Gusti Hendy (drum).

Trio LIGRO saat beraksi di Rolling Stone Cafe Jakarta (25/1)

Trio LIGRO saat beraksi di Rolling Stone Cafe Jakarta (25/1)

Dimulai selepas pukul sembilan malam, dihadiri para wartawan, rekan musisi, dan penggemar, ketiganya langsung menggetarkan panggung lewat komposisi “Bliker 3” yang terambil dari album gres tersebut.

Agam Hamzah

Agam Hamzah

Introduksi berupa progresi disonan berformat MIDI menjadi pembuka, berlanjut sayatan gitar distorsif Agam. Aura kegilaan mulai terasa waktu Hendy melancarkan pukulan-pukulan maut, daya ledak pula akselerasi tinggi bak orang kesurupan. Atensi kemudian beralih kepada Adi, ia membaringkan basnya, lalu mulai bertingkah dengan ramuan bunyi “alami” atas lembaran seng, martil, dan, paku dengan gaya teatrikal.

Ada pula sesi tanya-jawab, memberi kesempatan audiens untuk bertanya langsung pada ketiga personil LIGRO. Seorang wartawan bertanya soal genre musik apa yang diusung LIGRO, kemudian ditanggapi Agam, “Kami hanya bermusik, tidak mematok suatu genre tertentu, dan kami bertiga punya latar belakang yang berbeda-beda, saya campuran Aceh dan Sunda, Adi asal Madura, dan Hendy dari Kalimantan, preferensi musik kami juga sangat lebar, jazz, musik klasik, rock, bahkan etnik. Jadi soal genre, biarlah pendengar sendiri yang mendefinisikan,” ujarnya.

Gusti Hendy

Gusti Hendy

Pertanyaan lain seputar pengaturan drum set Hendy, mengapa ia menggunakan gondang Batak untuk menggantikan tom-tom, Hendy memaparkan,”Setting drum seperti ini memang sengaja saya terapkan di LIGRO, yang tentu berbeda ketika saya tampil bersama grup lain. Saya memang memakai instrumen tradisi Batak, gondang, tapi saya tidak serta merta memainkan dalam tradisi Batak, karena saya bukan orang Batak, tapi orang Kalimantan, maka dari itu saya menggunakan pola ritme Kalimantan ke dalam permainan gondang, dan itu yang membuatnya unik. Selain itu, dengan setting ini saya lebih bisa menyatu dengan bas maupun gitar dalam komposisi LIGRO,” jelas Hendy.

Giliran Adi, ditanya perihal aksi edan serta nyeleneh tadi, ia berkisah, “Saya terinspirasi waktu dulu, ketika kuliah, sempat menyaksikan sebuah happening art, dengan menggunakan alat-alat musik non-konvensional, ternyata bunyi yang dihasilkan menarik sekali,” tuturnya. Ia berkelakar, “Kalau  di sini ada yang butuh tukang untuk perbaiki rumah, hubungi saya,” selorohnya disambut tawa penonton.

Adi Darmawan

Adi Darmawan

Hadir pula Dwiki Dharmawan yang juga memberi selamat, menurutnya LIGRO berani untuk tampil beda lewat konsep musiknya, serta dapat mengisnpirasi musisi Indonesia untuk go international. “Saya yakin mulai tahun ini LIGRO akan keliling dunia untuk mempromosikan musik mereka,” tutupnya.

Acara launching berakhir lewat gubahan berjudul “Stravinsky,” yang merupakan adaptasi dari “Les Cinq doigts” (The 5 Fingers) milik komposer Rusia Igor Stravinsky. Berciri ketukan janggal, harmoni disonan, serta idiom-idiom hard rock yang energik.

Kabar gembira lainnya adalah bahwa Dictionary 2 akan segera dirilis oleh label rekaman asal Amerika Serikat, MoonJune Records. Itu berarti LIGRO satu payung dengan sesama grup dari tanah air; simakDialog, Tohpati Bertiga, Tohpati Ethnomission, dan pendatang baru I Know You Well Miss Clara.

LIGRO - Dictionary 2

LIGRO - Dictionary 2

Selamat dan sukses  untuk LIGRO, semoga kian gila dalam berkreasi. Proficiat!

Anasir Jazz rock yang pekat di Mostly Jazz bersama Ligro

Tags: , , , ,


Mostly Jazz bersama Ligro (Agam Hamzah, Adi Darmawan, Gusti Hendy)

Mostly Jazz bersama Ligro (Agam Hamzah, Adi Darmawan, Gusti Hendy)

Perkembangan musik Jazz di tanah air dirasakan positif oleh trio yang sebenarnya berarti Orgil – Orang Gila –  ini, memberikan semangat optimis kepada Ligro untuk terus mengembangkan kreatifitasnya. Mereka tampil pertama kali di Concert Practice yang diselenggarakan oleh Indra Lesmana dan Aksan Syjman di Art Studio Pondok Pinang. Lalu di beberapa konser seperti konser bulanan di Institut Musik Daya Jakarta, tampil di Java Jazz International Jazz Festival 2005,2006,dan 2008, Bandung Jazz Festival, Festival progresif musik Yamaha, Konser musik progresif di Institut Musik Indonesia (IMI).

Sebuah album yang menampilkan anasir jazz rock dengan pekat telah dirilis. Rekaman yang bertajuk “Ligro Dictionary I” itu dipersembahkan oleh sebuah trio bernama Ligro. Group yang terbentuk pada tahun 2004 terdiri dari Agam Hamzah (electric/acoustic guitar), Adi Darmawan (electric bass), Gusti Hendy (drum). Mereka menyebut, tujuan dari dibentuknya trio ini adalah untuk memperkaya khazanah musik Jazz Indonesia dimana pada era yang sama telah terbentuk beberapa kelompok musik jazz kontemporer seperti ; Java Jazz, simakDialog, Discuss.

Dan Ligro siap memperkaya nuansa akhir pekan anda dengan tampil di Mostly Jazz yang digagas oleh Indra Lesmana dan sang istri Honhon Lesmana. Ligro tampil di hari Minggu, 24 April 2011 mulai jam delapan malam bertempat di Red&White Lounge, Jl. Kemang Raya 16 B Jakarta Selatan.

Anda yang ingin menonton hanya cukup merogoh kocek sebesar IDR 50.000 (lima puluh ribu rupiah) dan mendapatkan gratis minuman pertama.

Selain penampilan LIGRO, seperti biasa akan ada Jam Session yang dimulai sekitar pukul 10.30 dan akan dipimpin oleh saxophonis/vokalis Indra Aziz.

 

Jazz Kambang Iwak & Jazz Night di gelar di Palembang

Tags: , , ,


Palembang Jazz Community dan Radio Trijaya 87.6 FM Palembang kembali mengadakan event pertemuan rutin untuk musisi dan pecinta jazz di Palembang. Acara berlangsung selama 2 hari di tempat yang berbeda.

Untuk hari pertama akan dilaksanakan pada hari Kamis, 21 April 2011 di Kambang Iwak sehingga diberi nama JAZZ KAMBANG IWAK, kambang iwak sendiri adalah boleh dibilang miniatur pusat kota Palembang yang biasa untuk tempat anak muda mangkal. Dengan Setting panggung di tengah-tengah taman dikelilingi danau buatan.

Beberapa grup musik dari palembang akan tampil diantaranya Celeste Voice, Acoustic Blend, Arlodjie dan The Swet Girl. Sedangkan sebagai guest akan tampil BEBEN JAZZ dari Komunitas Jazz Kemayoran, Beben akan ditemani Ratna Sari Juwita, Alnair Oesman, Donny Prasetyo dan Taufan Oktofebio.

Sedangkan untuk Jumat, 22 April 2011 acara kami beri label JAZZ NIGHT dan akan berlangsung di PIM-Palembang Indah Mall Lantai 1. Untuk hari ke-2 ini grup yang akan tampil adalah D’I ,Tobeseino dan Purwacaraka Music School Palembang.

Untuk bintang tamunya akan tampil DONNY & PARA SAHABAT BERMUSIK, adapun personilnya adalah Donny Suhendra, Ivan Nestorman, Adi Darmawan dan Adityo Wibowo. Selain live perfomance dari musisi-musisi jazz palembang dan bintang tamu, acara seperti biasa juga akan diselingi clinic musik dan jam session. Untuk clinic musik terbuka untuk siapapun .Semua acara diatas berlangsung gratis tanpa dipungut biaya apapun baik peserta maupun penonton.

” Kami masih ingin terus sosialisasi jazz dengan mengundang musisi-musisi jazz jakarta untuk memotivasi musisi dan pecinta jazz lokal Palembang ” ini dikatakan oleh Ketua Palembang Jazz Community Zaenal Hanani.

Sementara itu Adji dari Trijaya Palembang mengatakan bahwa selama ini Radio Trijaya Palembang terus selalu peduli terhadap event-event yang diadakan Palembang Jazz Community dan selalu mendukung.

Acara ini dapat terselenggara berkat dukungan dari Bank Sumsel Babel yang membantu menyediakan soud system dan alat band lengkap. Selain itu juga dukungan dari PIM-Palembang Indah Mall yang selama ini sudah identik bahwa kalo acara jazz di Mall pasti ada di PIM yang setia menyediakan tempatnya dan tentu saja WartaJazz.com

Masih terbuka kesempatan untuk grup band lokal palembang untuk tampil.  Segera daftar dan dapatkan info lengkap dengan menghubungi 0711 8409898 / 0818296859

Rafly WaSaja hadirkan Konser Musik Jazz Etnik (Aceh-Melayu) di Salihara

Tags: , , , , ,


Grup musik RaflyWaSAJA terbentuk pada awal Juli 2010, sebagai pengembangan ide bermusik yang tercetus setahun sebelumnya, dari pertemuan dan obrolan ringan antara Rafly (vokal) dengan Agam Hamzah (gitar) dan Adi Darmawan (bass).

Rafly WASAJA

Rafly WASAJA

Akhirnya – dengan tambahan dua personil lain: Jalu G Pratidina (perkusi) dan Saat Syah (suling) – mereka sepakat mendirikian grup musik bernama RaflyWaSAJA, yang mengusung tema religi dan balada, dengan corak jazz etnik (Aceh-Melayu).

Dalam kurun waktu tiga bulan RaflyWaSAJA sudah menghasilkan sepuluh lagu, antara lain “Perahu”, “Shalawat”, “Kalimah Taibah”, “Entah/Hom”, dan “Haro Hara Kiamat” – yang akan ditampilkan dalam konsernya di Teater Salihara kali ini.

Saksikan penampilan kelompok musik RaflyWaSAJA pada hari Jumat, 04 Februari 2011 mulai pukul 20:30 WIB bertempat di Teater Salihara dengan HTM Rp 50.000,-  untuk umum dan Mahasiswa/Pelajar Rp 25.000,- (tempat terbatas).

Reservasi tiket silakan menghubungi nomor telepon berikut 021-789-1202, 0817-077-1913 atau 0857-193-111-50.

***

Meski bukan penampilan pertama di Salihara, Rafly yang telah merilis album Kande – Meukondre (dirilis oleh Musikita label milik Dwiki Dharmawan), ini memang kerap menggarap area religi. Ia pernah tampil bersama Dwiki di Salihara tahun 2008, dengan pertunjukan bertema “Teumeumeung” – mengusung pola komunikasi musikal dengan kolaborasi musik tradisi lokal yang dipadukan dengan irama jazz berbalut idiom kidung pujian pada sang Khalik.

Dwiki & Fariz RM – Jazz debur ombak di Pantai Parai Bangka

Tags: , , , , , , , ,


Musik Jazz punya sejarah yang panjang. Meski ‘jazz’ diimpor dari benua Amerika, kini ia bermetamorfosa. Jazz menemukan persinggahan barunya, menyapa mereka yang tinggal di gunung hingga di tepi pantai.

Pantai Parai yang terletak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menjadi saksi digelarnya Jazz On The Beach pada 12 Juni 2010 lalu. Sejumlah musisi Jazz seperti Dwiki Dharmawan (keyboard), Gerry Herb (drums), Adi Darmawan (bass), Zainal ‘Ipin’ Arifin (perkusi), Agam Hamzah (gitar), Didit (violin) plus penyanyi kenamaan Fariz RM turut ambil bagian. Plus tiga penyanyi Iwan Abdie, Hani Firiawan dan Ita Purnamasari turut pula memeriahkan.

Dwiki Dharmawan menjelaskan Jazz on the Beach

Dwiki Dharmawan menjelaskan Jazz on the Beach

Keindahan tepi pantai dengan debur ombaknya menjadi latar musik Jazz yang awal pertunjukannya sempat dikejutkan oleh hujan, namun tak menyurutkan para pendukung acara maupun penonton untuk menikmati musik yang sangat dinamis ini.

Zainal Arifin dan Rampak Gendang dari Bangka

Zainal Arifin dan Rampak Gendang dari Bangka

Dwiki Dharmawan membuka pertunjukan dengan Spirit of Peace, nomor yang diambil dari albumnya World Peace Orchestra, dengan mempersilakan kelompok perkusi asal pulau Bangka yang terdiri dari anak-anak muda menyapa penonton yang sebagian besar berasal dari Jakarta dengan tetabuhan perkusi bersama Jembe yang dimaikan ‘Ipin’.

Dalam konferensi pers yang digelar beberapa jam sebelumnya Dwiki Dharmawan menjelaskan bahwa kolaborasi ini dilakukan dengan Rampak Gendang dari Pulau Bangka karena yang paling mudah dilakukan ketimbang misalnya menggabungkannya dengan musik Zapin Melayu. “Kita tidak bisa sembarangan berkolaborasi. Saya tak ingin musik tradisi hanya menjadi tempelan dengan sekedar ada, lagipula ada perpedaan scale music”, ujar keyboardis yang baru saja tampil di Rusia ini.

Preskon Jazz on the Beach, Parai Beach Resort Bangka

Preskon Jazz on the Beach, Parai Beach Resort Bangka

Meski demikian sebuah lagu melayu Seroja dilantunkan oleh Iwan Abdie – vokalis Bali Lounge – dihadapan penonton yang tetap setia di kursi mereka sementara gerimis tak kunjung berhenti. Iwan sempat menyanyikan lagu milik Grover Washington Jr, Just the Two of Us.

Iwan Abdie

Iwan Abdie

Sementara Hani Firiawan membawakan tiga nomor yaitu Sweetest Taboo, True Colours dan sebuah nomor duetnya bersama Iwan yaitu That’s What Friends Are For.

Hani Firiawan didampingi Dwiki Dharmawan, Adi Darmawan, Didit dan Gerry Herb

Hani Firiawan didampingi Dwiki Dharmawan, Adi Darmawan, Didit dan Gerry Herb

Pertunjukan Jazz on The Beach juga dimeriahkan oleh Ita Purnamasari yang membawakan lagu Nada Kasih berduet dengan Fariz RM. Penyanyi yang dikenal luas lewat ‘Penari Ular’-nya ini menyanyikan lagu milik Air Supply – Making Love Out of Nothing At All sambil memainkan keyboard. “Yang ini bukan lagu jazz ya, tapi gak apa-apa kan?”, ujar penyanyi bertahi lalat ini.

Ita Purnamasari & Fariz RM

Ita Purnamasari & Fariz RM

Meskipun pertunjukan malam itu sejatinya adalah milik Dwiki Dharmawan dengan semi-WPO lineup, tapi terselip pula kejutan dengan penampilan Trio “Ligro” minus Gusti Hendi tentu saja. Gerry Herb yang juga punya jam terbang lumayan lama di dunia musik pop/rock mengawal Adi Darmawan yang bersenandung bak BollyJazz alias Bollywood dan Jazz. Seorang kawan berkelakar, “wah bhiksu kita lagi beraksi”.

Adi Darmawan

Adi Darmawan

Tentu saja pertunjukan yang paling ditunggu-tunggu adalah lantunan vokal Fariz RM dengan ‘Barcelona’-nya. Fathul Bahri dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Bupati Bangka Yusroni Yazid dan putri Pariwisata Indonesia 2009 Andara Riyani Ayundini bertepuk tangan.

Fariz RM saat membawakan Barcelona

Fariz RM saat membawakan Barcelona

Sebagai penutup kembali Dwiki dan kawan-kawan berkolaborasi dengan Rampak Gendang membawakan nomor Rintak Rebana. Nomor perkusif yang menjadi klimaks pertunjukan malam itu.

***

Dalam perjalanan dari Cengkareng Jakarta, penulis duduk bersebelahan tamu yang memang khusus datang berlibur ke Parai Beach Resort – tempat acara diselenggarakan – bersama keluarga. Rupanya meski acara ini masih digarap dalam waktu lumayan singkat, gaungnya tersebar cukup luas. Tak heran, sebab ada nama Johny Sugiarto – Praktisi Pariwisata yang memiliki visi. Ia rupanya sudah mengantisipasi dan memberikan sinyal bahwa Jazz on the Beach akan dikembangkan lebih besar berskala festival tahun depan.

Tak hanya acara, penerbangan langsung dari Singapura – sebagai syarat membuka diri pada pelancong internasional juga dijadwalkan akan segera dibuka tahun ini. Hadirnya pengunjung dari berbagai tempat akan memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat di Pulau Bangka, khususnya pelaku industri pariwisata.

Dukungan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata mulai dan Dinas Pariwisata Bangka Belitung diharapkan menjadi semangat untuk penyelenggaraan acara berskala lebih besar ditahun mendatang.

Ada Jazz Hujan di Bandung (Bagian I)

Tags: , , , , , , ,


Bulan Desember di Indonesia pada umumnya sudah memasuki musim penghujan. Kemudian mengapa menyelenggarakan festival jazz yang salah satu panggungnya berada di luar gedung Sabuga Bandung, General Coordinator dari festival Bandung World Jazz 2009, Andar Manik menjawab ketika acara preskon, “Kita sengaja mengadakan acara ini di bulan Desember karena hujan, jadinya jazz hujan”.

Andar Manik, Jailani, Marintan Sirait dan Reza

Andar Manik, Jailani, Marintan Sirait dan Reza

Untungnya ramalan Andar Manik tersebut sampi selesai acara tidak terbukti, sehingga acara yang diselenggarakan tanggal 3 – 4 Desember 2009 berlangsung cukup meriah. Selama dua hari tersebut, dari jam 13.30 sampai tepat tengah malam dengan breaktime sekitar satu setengah jam, penonton disuguhi oleh 34 group musik dengan berbagai warna.

Perkiraan daya tampung penonton sekitar 1500 orang dengan setting venue terdiri dari 3 panggung. Panggung pertama berada di sisi kiri luar gedung, panggung kedua berada di koridor tembusan pintu masuk utama gedung dan panggung ketiga ada di tribune (ruang utama) gudung Sabuga. Sementara di bagian tribune, satu panggung yang cukup luas dibagi menjadi 3 bagian, sayap kanan, kiri, dan tengah yang hanya dibedakan dengan tinggi rendah level. Panggung pertama dan kedua dipakai dari siang sampai menjelang Maghrib, selanjutnya pertunjukan berlangsung di panggung ketiga.

Mendekati waktu tergelincirnya matahari, stage 1 dan 2 sudah mulai kesibukannya dengan persiapan Castavaria dan Nita Aartsen. Castavaria tampil dengan mengetengahkan 3 bassist, ditambah seorang drummer, yang menghibur penonton melalui percakapan dalam nada-nada rendah dengan balutan irama jazz-rock dan funky yang menghentak-hentak. Sementara Nita Aartsen menghibur para penonton dengan koleksi-koleksi musik latin, rhumba dan bossa nova. Agak lain dengan penampilannya di album “All Nite Out”, Nita lebih banyak menunjukkan kebolehannya dalam memainkan keyboardnya yang cukup memikat. Sudah barang tentu, lagu-lagu wajib dari Amerika bagian Selatan muncul satu persatu. Seperti ‘Masquenada’ atau pun ‘Girl From Ipanema’. Tidak ketinggalan salah satu hit dari albumnya, ‘Let’s Dance’.  Dalam kesempatan ini Nita mengajak teman lama yang bernama Steve Wilson untuk tampil sebagai vokalis. Penampilannya cukup komunikatif dengan para penonton. Musisi lain yang mendukung Nita adalah Adi Prasodjo (perkusi) dan Harry Toledo (bass).

bdgworldjazz-09-001

Nita Aartsen, Steve Wilson, Harry Toledo dan Adi Prasodjo

Beranjak ke panggung outdoor, suasana gayeng dan meriah langsung memenuhi telinga ini. Bagaimana tidak, sebuah band dengan warna fusion menghentak-hentak dengan kerasnya dengan reriuhan suara saxophone, bass, gitar, keyboards dengan beberapa instrumen musik tradisional Jawa. Mereka adalah Prabumi, sebuah band kolaboratif pimpinan Agus Bing, yang juga seorang wartawan sebuah surat kabar di Jogja. Hanya saja, saking semangatnya, suara saron, kendang, djembe dan bonangnya justru tertutup dengan instrumen musik modern lainnya. Atau memang ada semacam kanonisasi musik yang barangkali menghasilkan efek tertentu. Mereka menampilkan tembang klasik “Prahu Layar” ataupun komposisi ciptaan sendiri “Transit”.  Selain itu, ada 4 Peniti dari Bandung yang sudah mempunyai penggemarnya tersendiri ini memeriahkan acara ini dengan tembang-tembang segar dengan memadukan banyak jenis musik. Zaki (vokal & gitar), Ammy (violin & gitar), Rudy Zulkarnaen (bass) dan Ary Aru (drum) membentuk kelompok ini karena sama-sama menyukai Pat Metheny.

Persentuhan antara musik jazz dan khasanah musik lokal dari Indonesia masih tetap menjadi daya tarik yang sexy. Seperti halnya yang dilakukan oleh group dari Jakarta Archipelago maupun Karinding Collaborative,  Saratuspersen. Mereka sama-sama memadukan improvisasi jazz dengan musik Sunda. Seperti yang diungkapkan Andar Manik bahwa “Cita rasa musik lokal bisa memasuki ranah improvisasi jazz”. Hasilnya memang menarik, sambil membayangkan berada di hamparan sawah hijau sambil mendengarkan kecapi Cianjuran dan liukan suara saxophone.

Saratuspersen asal Bandung

Saratuspersen asal Bandung

Adapun kelompok serupa dari luar negeri adalah Taal Tantra. Di Stage 3 tengah mereka tampil dengan 10 orang musisi dengan menampilkan beberapa corak musik India dari bagian Utara, Selatan, Barat dan Timur yang dikombinasikan dengan jenis musik lain seperti jazz, rock maupun reggae. Penampilan memang mereka terasa hidup dan berhasil menghibur penonton. Apa lagi dengan kehadiran seperti seorang fakir dalam memainkan alat perkusi dari India, plus dengan jogetannya yang lucu.

bdgworldjazz-09-005

Taal Tantra

Salah satu bintang benderang sore itu adalah Ligro, kumpulan 3 orang gila (bermusik) yang terdiri dari Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bass) dan Gusti Hendy (drum). “Komposisi-komposisi di dalamnya bercerita tentang pola-pola musik yang sangat tidak umum. Sesuatu yang tidak umum biasanya diluar kenormalan. Dan itu disebut gila,” papar Agam dalam sebuah perbincangan dengan wartajazz.com. Group ini juga mempunyai energi yang luar biasa. Gaya jazz rock memang kental, yang mengingatkan kita kepada Mahavishnu Orchestra dengan semburat warna musik Indianya. Akord gitar yang dimainkan pun terasa liar dan seperti dalam dunia paralel dan aneh. Apalagi dengan penampilan Hendy, yang juga drummernya Gigi, “double temponya mau merontokkan tembok China”, kata seorang penonton yang terkagum-kagum. Ketika bersama Gigi pun malah jarang terdengar seperti itu.  Mereka menampilkan komposisi-komposisi yang ada dalam album “Ligro Dictionary I” seperti ‘Blinker 1′, ‘Radio Active’, ‘Green Powder’ maupun ‘Orgil’.

Di hari pertama, kelompok yang tampil paling ngejazz adalah David Manuhutu dan Pigalle44. David merupakan salah satu aset masa depan musisi jazz dari Indonesia yang saat ini belum genap 20 tahun usianya. Putra dari Venche Manuhutu ini sudah mulus sekali dalam memainkan pianonya dalam tembang-tambang bebop yang strukturnya komplek tersebut.

bdgworldjazz-09-004

Pigalle 44

Setelah seharian kita dihujani dengan letupan jazz yang menghentak-hentak dan keras, menikmati Pigalle44 seolah kita menikmati kopi hangat di sore hari setelah seharian bekerja keras. Berdiri sejak 10 tahun lalu, Pigalle44 dimotori oleh dua gitaris Reiner Voet dan Jan Brouwer. Mereka menampilkan aksen musik gipsi dalam sajian jazz. Masih terasa sentuhan tradisional jazz seperti swing meski tidak sepenuhnya mengekor kepada para pendahulu. Kalau dilihat gaya permainannya sendiri adalah gabungan antara tradisional dan modern. Memang ada kalanya gipsi jazz tampil ekspresif, banyak nada yang keluar, bertempo cepat namun kemarin mereka menampilkan gipsi jazz yang cool dan impresif. Kedatangannya ke acara ini mereka dibantu oleh Hermine Deurloo (harmonika & sopran saxophone) dan Jet Stevens (bass).

Pertunjukan hari pertama ini juga dimeriahkan oleh lebih dari 50 anak yang tampil ke panggung dengan bermain perkusi. Mereka semua adalah anggota dari Jendela Ide. Sebuah organisasi yang concern terhadap kreasi anak-anak. “Jelas bahwa anak-anak kita saat ini adalah investasi kebudayaan kita di masa mendatang”, ujar Festival Coordinator Marintan Sirait.

bdgworldjazz-09-006

Jendela Ide Percussions

Sepertinya, hari pertama dari Bandung World Jazz Festival 2009 ini cukup memuaskan sekitar penonton. Meski soundsystem di Stage 2 kurang enak dinikmati. Mengingat panggung tersebut berada di dalam koridor yang mempunyai ruang relatif sempit.

Serambi Jazz hadirkan Ligro Trio dan Donny Suhendra Quartet

Tags: , , , , , , , ,


Ligro Trio dan Donny Suhendra beserta Projectnya akan tampil di sebuah acara yang diberi tajuk Serambi Jazz. Ligro Trio adalah kelompok yang mengusung jazz rock terdiri dari Gusti Hendy (pemain drum yang juga bermain untuk band pop GIGI), Adi Dharmawan (bass), Agam Hamzah (guitar). Sedang pemain gitar Donny Suhendra akan hadir bersama Demas Narawangsa (drum), Kristian Dharma (bass), dan menampilkan seorang pemain keyboard yang lama bermain bersamanya di kelompok lawas d’Marszyo Bandung, Samuel A.Budiono. Donny Suhendra Project juga akan menampilkan potensi seorang vokalis baru, Hans Bartell. Kedua grup akan menampilkan komposisi-komposisi dari album baru mereka, repacked “Disini Ada Kehidupan” dan “Dictionary I” Ligro.

Serambi Jazz adalah sebuah serial konser jazz digagas oleh pianis dan komposer Riza Arshad berserta Goethe Institut Jakarta. Kegiatan ini merupakan usaha untuk menciptakan ruang yang terkontrol agar musik jazz dapat lebih masuk ke ruang publik. Akses ini menjembatani para pelaku, penikmat dan hubungan keduanya di dalam satu wadah yang terkonsentrasi agar daya serap terhadap musik jazz dan perkembangannya dapat berjalan dengan baik.

Negara Jerman sebagai salah satu negara di Eropa di mana jazz lama digauli, tumbuh dan berkembang dengan mengasimilasi akar budaya musik. Sehingga muncul istilah musik ECM – yang berasal dari sebuah perusahaan rekaman musik – yang melahirkan generasi musisi baru dan besar sumbangsihnya pada perkembangan musik jazz di Eropa dan dunia. Hal demikian terjadi juga di Indonesia, dimana musik ini dikenal dan berkembang melalui pergaulan antar generasi musisi. Meski belum banyak, tapi kesadaran untuk melakukan asimilasi itu mulai dikenal dan tumbuh.

Indonesia dan Jerman mempunyai pertalian sejarah musik jazz sejak pertengahan 1960-an. Saat itu kritikus jazz Jerman Joachim Berendt bertandang ke Jakarta dan bertemu dengan Sujoso Karsono, pemilik perusahaan rekaman Irama. Berendt lalu diperkenalkan dengan Jack Lesmana dan Bubi Chen. Sebelumnya Berendt telah mendengar nama kedua dedengkot jazz tersebut melalui Tony Scott, peniup klarinet jazz Amerika Serikat yang pernah berkunjung ke Indonesia.

Joachim Berendt tertarik melihat musikalitas pemusik jazz Indonesia dan mengusulkan kelompok Indonesia All Stars tampil di Berlin Jazz Festival. Bahkan kelompok Indonesian All Stars yang didukung Jack Lesmana (gitar), Maryono (seruling,saxophone), Bubi Chen (piano,zither), Yopie Chen (bass) dan Benny Mustafa van Diest (drums) serta Tony Scott (klarinet) membuat rekaman di Saba Studio pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967. Album Tony Scott with The Indonesia All Stars tersebut lalu diberi judul “Djanger Bali”.

Keutamaan progam Serambi Jazz adalah memelihara ketrampilan dan kreativitas musisinya – agar dapat berkembang dan memberikan suguhan kreasi yang dapat dipetik manfaatnya oleh masyarakat. Idealnya, musisi dapat mengolah musik jazz menjadi sebuah identitas. Melalui hubungan yang ada dengan rekan musisi Jerman – Serambi jazz menjadi ajang dan sarana berbagi disamping menggali lagi pengalaman dan hubungan yang pernah dimulai pada masa lalu, akan membuka harapan dan tekad untuk saling menghargai, menjaga, belajar dan bekerjasama.

Serial pertama Serambi Jazz akan diselenggatakan pada hari Kamis 26 Februari, 2009 pukul 7:30pm – 10:00pm di GoetheHaus, Jl.Sam Ratulangi 9-15 Jakarta. Tiket masuk sebesar IDR 25.000 dapat dipesan dengan Devi 08158811760 Email: info@jakarta.goethe.org


There are four qualities essential to a great jazzman. They are taste, courage, individuality, and irreverence. These are the qualities I want to retain in my music — Stan Getz


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<