Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "Aksan Sjuman"

Monita Tahalea – Dream, Hope & Faith

Tags: , , , ,


Album: Dream, Hope & Faith
Label : Inline Music/Demajors, 2010

1. Kisah Yang Indah
2. Ingatlah
3. Over the Rainbow
4. I Love You
5. Senja
6. God Bless the Child
7. Hope
8. Di Batas Mimpi

Monita - Dream, Hope & Faith

Monita - Dream, Hope & Faith

Biduan remaja bernama lengkap Monita Angelica Maharani Tahalea (Monita Tahalea, Monita, Momon) memang dikenal publik lewat kiprahnya dalam ajang Indonesian Idol kedua, sekitar lima tahun lalu. Waktu itu vokalnya sudah menunjukkan karakter jazzy, meskipun masih terasa nanggung dan gamang. Contohnya pada daur-ulang lagu “Keliru” milik Ruth Sahanaya dalam album Seri Cinta oleh Finalis Indonesian Idol 2 (Sony Indonesia, 2005). Entah kebetulan atau bukan, kala itu adalah Indra Lesmana selaku juri – sekarang menjadi produser dan penata musik album debut Monita bertajuk Dream, Hope & Faith. Pada album ini kentara bahwa Monita semakin dewasa mengolah vokal, dan beruntung ia mendapat dukungan musisi-musisi berpengalaman sehingga dirinya mampu tampil maksimal.

Hal pertama yang menarik adalah pada kemasan fisik album ini, bentuknya mirip sebuah undangan berhias senyum siput Monita. Bookletnya seukuran kertas A3 terlipat enam sama sisi, tercantum lengkap informasi dan lirik seluruh lagu yang total berjumlah delapan. Peran Indra Lesmana patut diacungi jempol, garapan musik di album ini terasa halus serta pas dengan suara Monita yang manis dan menyejukkan. Monita turut ambil bagian menulis lirik, simak pada trek pembuka “Kisah Yang Indah”, juga “Senja”, dan “Hope”. Dewa Budjana menyumbang permainan gitar akustik dalam nomor berirama catchy, “Ingatlah” sedangkan Aksan Sjuman memukul drum dengan santai pada tembang “I Love You” dan lagu pertama.

Penggemar jazz bolehlah menyimak interpretasi naratif pada komposisi “Over the Rainbow” karangan Harold Arlen/ E.G. Harburg serta “God Bless the Child”, besutan Arthur Herzog, Jr. dan Billie Holiday, salah satu figur panutan Monita. Meskipun kedua lagu tersebut sering dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi, namun Monita berhasil memberi sentuhan personal. Bait demi bait mengalun lembut penuh makna. Terima kasih untuk jentikan gitar Oele Pattiselanno yang juga ikut “bernyanyi” liris.

Dream, Hope & Faith adalah langkah awal yang cukup baik untuk Monita, ia bernyanyi sesuai kapasitasnya, tanpa perlu “gimnastik vokal” ataupun scat singing asal-asalan yang sering ditemui pada banyak penyanyi jazz(?) dalam negeri – dalam bahasa gaul: lebay. Lewat album ini, keindahan justru ditunjukkan dalam kesederhanaan. Manis!

Musisi pendukung

Indra Lesmana (kibor, programming)
Oele Pattiselanno, Dewa Budjana, Bernie (gitar)
Donny Sundjoyo (kontrabas)
Aksan Sjuman (drum)
Eki Puradireja (lirik untuk lagu “Di Batas Mimpi”)

Andien – Kirana

Tags: , , ,


Album : Kirana
Label  : Platinum Records, 2010

She’s moving on!

01. Moving On
02. Gemilang
03. Keraguan
04. Pulang
05. Cerita Kita
06. Kirana
07. Kusadari
08. Salahku
09. Bimbi
10. Cinta

Trek bonus:
Moving On (Radio Mix)

Andien - Kirana

Andien - Kirana

Setengah dasawarsa berselang sejak rilisnya album terdahulu, Gemintang (2005), kini Andien hadir kembali dengan penuh energi dalam Kirana. Banyak pihak, terutama penggemar Andien yang menunggu atau bahkan “memaksa” supaya album ini segera diluncurkan. Penantian itu terbayar lunas dan setelah mendengarkan lagu demi lagu yang mudah dicerna dalam Kirana, segmen pendengar Andien nampaknya akan meluas. Dipercaya sebagai produser adalah Nikita Dompas dan Rifka Rahman, keduanya juga berperan selaku aransir untuk keseluruhan lagu. Hasilnya cukup memuaskan, terjalin keseimbangan antara vokal Andien dengan musik pengiringnya sehingga nyaman didengar.

Mengawali sepuluh trek pada album ini, adalah lagu pembuka “Moving On” yang bergairah, liriknya mengajak untuk terus melangkah, dalam balutan irama gospel. Andien pun turut “sumbang syair” di lagu “Pulang” yang mengalun santai, “Cerita Kita” (bersama Abenk Soulvibe), dan tembang “Cinta” yang bernuansa chill out, diselingi tiupan flugelhorn dan muted trumpet oleh Ian Ingram.

Disertakan pula tiga lagu “daur-ulang” dari era 1970/80-an; “Bimbi” gubahan Titiek Puspa, “Gemilang” (diciptakan Dwiki Dharmawan, dipopulerkan oleh Trie Utami), serta “Keraguan”, salah satu landmark vokal khas Trie Utami. “Bimbi” digarap dalam format big band sintetis (menggunakan horn programming oleh Rifka Rachman), terasa agak timpang dengan permainan rancak Aksan Sjuman dan hembusan trumpet Indra Artie Dauna. Seandainya seksi tiup pada lagu ini adalah instrumen betulan, akan dahsyat jadinya (dengan catatan, pemainnya harus mumpuni). Tembang “Keraguan” bernuansa retro, tak jauh berbeda dengan versi aslinya. Sedangkan “Gemilang” aransemennya minimalis, cukup dengan petikan gitar, jentikan jari, dan gesekan cello untuk mengiringi vokal Andien.

Album ini lumayan menghibur, pilihan lagu dan garapan musiknya cukup variatif, artinya pendengar awam tak perlu gentar untuk dapat berapresiasi. Selamat buat Andien dan tim suksesnya, semoga untuk karya mendatang tak harus menunggu lima tahun lagi.

Personil

Andien: vokal
Nikita Dompas: gitar akustik & elektrik, vokal latar
Rifka Rahman: programming, perkusi, Fender Rhodes, vokal latar

Indra Lesmana: synthesizer
Harry Anggoman: piano akustik, Hammond Organ

Indra Artie Dauna: trumpet
Ian Ingram: trumpet, flugelhorn
Dimawan Krisnowo Adji: cello
Donny Sundjoyo: kontrabas
Barry Likumahuwa: bas elektrik
Bonar Abraham: bas elektrik
Ali Akbar: piano akustik, Hammond Organ, Fender Rhodes
Rayendra Sunito: drum
Aksan Sjuman: drum
Sandy Winarta: drum
The Cross: koor

Ratusan Simpatisan FPI Merazia GoetheHaus!

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Laporan Dari Serambi Jazz Edisi Agustus 2010 – Mery Kasiman Project.

Judul di atas tercetus gara-gara Deny Sakrie berulah pada Serambi Jazz malam Jumat lalu (12/8). Berdinas sebagai MC, ia menjuluki hadirin dengan sebutan FPI (Front Penikmat Improvisasi – red.) yang kontan membuat penonton terpingkal. Alih-alih melakukan penggeledahan secara rambang dan destruktif, FPI imbangan malam itu “merazia” dengan cara berbeda; duduk manis, mengangguk-angguk ikuti irama, serta bertepuk tangan seusai tiap lagu dimainkan. Adalah Mery Kasiman beserta belasan kroni tergabung dalam Mery Kasiman Project yang berperan selaku pengisi acara.

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Sudah sepatutnya publik jazz tanah air mencintai Mery. Bagaimana tidak, pianis-komposer-arranger jebolan Program Master Institut Musik Daya ini punya talenta luar biasa dalam urusan musik. Terlebih, wanita kelahiran Jakarta 28 tahun silam tersebut berani untuk menyambung kiprah pada ranah big band, yang di Indonesia jarang tersentuh bahkan oleh kaum adam sekalipun. Selain itu, Mery juga menuangkan bakatnya di teritori musik film, dengan menjadi copyist dan orkestrator bersama Aksan dan Titi Sjuman.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Konser malam itu terbagi menjadi dua sesi tanpa jeda, dengan repertoar lima komposisi orisinil Mery pada bagian pertama kemudian berlanjut empat aransemen buah musik John Coltrane dan Thelonious Monk. Regu yang dikomandani Mery merupakan konstelasi musikus-musikus berbakat tanah air, untuk seksi tiup ia menggandeng Harmoniadi dan Wisnu Fajar (trumpet), Enggar Widodo dan Widiyekso (trombone), Boyke Priyo Utomo (saksofon tenor, flute), Arief Setiadi (saksofon tenor), dan Eugen Bounty (saksofon alto, klarinet). Sementara pada rhythm section tampak Ali Akbar Sugiri (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Sandy Winarta (drum). Sesi kedua dimeriahkan oleh Riza Arshad (piano, akordeon), Barry Likumahuwa (bas elektrik), dan Dewa Budjana (gitar).  Mungkin inilah alasan mengapa ruangan GoetheHaus begitu sesak, kursi terisi penuh dan bahkan beberapa harus berdiri memenuhi anak tangga pada kedua sisi gedung. Faktor lainnya adalah pertunjukan tersebut gratis adanya.

Acara dimulai dengan komposisi “Floating” lewat introduksi denting piano Ali Akbar memberi kesan sejuk sebelum hembusan tema oleh klarinet memecah ambang kesunyian. Dihiasi pula solo kontrabas mengambil alih kerenggangan harmoni brass section yang mengalun lembut. Arief Setiadi menampilkan aksi solo pada nomor kedua, “Down By The River” yang ditimpali permainan flute Boyke. Sepintas, gaya komposisi Mery mengingatkan kepada garapan musik Amina Figarova yang naratif. Selanjutnya adalah “Waterfall”, komposisi ini memberi ruang lebar bagi Ali Akbar untuk menunjukkan kelincahan jemarinya dan untuk itu tepukan tangan spontan dari audiens dihadiahkan sewaktu ia memikat dengan frase-frase atraktif. Aksentuasi cepat one-two, one-two, one-two-three dalam sukat 7/8 dituangkan Mery pada “The Chat” yang cukup membuat para personil syak wasangka pada awalnya, terutama di seksi tiup. Penonton yang jeli pasti dapat merasakan kegamaman tersebut. Sesi pertama ditutup lewat “Lilac and Brown”, di nomor ini Mery menempatkan instrumen gitar dan trombone sebagai penggagas tema.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Gitaris lintas genre Dewa Budjana meramaikan babak kedua yang dibuka dengan “Moment’s Notice” dari John Coltrane berdetak dalam nuansa bebop. Pada nomor ini Budjana tampil kalem, tidak terlihat adanya aksi penarik perhatian, ia bermain santai saja bersama Arief dan Eugen yang juga diberi jatah solo. Namun Budjana justru menunjukkan daya pikatnya di komposisi Thelonious Monk yang beraroma mellow, “Monk’s Mood”. Melalui gitar birunya, ia membius penonton dengan pengolahan nada-nada manis penuh penjiwaan, didukung oleh goresan keindahan lewat bunyi sayu akordeon Riza Arshad. Atmosfer ruangan menghangat ketika basis idola remaja, Barry Likumahuwa naik ke atas panggung bertukar posisi dengan Indrawan. Saat itu juga Riza menanggalkan akordeon untuk duduk bermain piano pada “Monk’s Dream”. Nomor ini mengayun oleh cabikan bas Barry, audiens terhibur dengan pengolahan tema jenaka baik olehnya maupun Riza, keduanya terlihat berdialog seru sembari melempar senyum.

Repertoar terakhir adalah mahakarya John Coltrane, “Giant Steps” dengan segala kerumitannya dan kentara aransemen Mery yang menghindari resiko dengan tempo lebih lambat dari versi aslinya (260 BPM – beats per minute; konon membuat pianis Tommy Flanagan agak kelimpungan pada sesi rekaman tahun 1959). Setelah penantian cukup lama, akhirnya penabuh drum muda berbakat Sandy Winarta beraksi solo juga, pukulannya sungguh dahsyat – tegas, presisi, dan dinamis. Kecakapan teknis dan jam terbang ekstensif adalah alas an mengapa ia begitu mumpuni lewat selaput plastik, lempeng logam, dan tongkat pemukulnya itu. Barry kembali mencuri perhatian tatkala merepet dengan gila sewaktu giliran solo, performanya sangat mendebarkan!

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Tadinya konser tersebut akan berakhir seusai “Giant Steps”, namun berkat provokasi cerdik Denny Sakrie dan respon pemirsa yang seolah belum puas, mau tidak mau bonus berupa encore diberikan pula. Setelah rembuk alot antar pemain, akhirnya Mery yang awalnya ragu-ragu setuju untuk bermain piano, ditemani akordeon Riza, bas Barry, dan gitar Robert. Mereka tampil lewat “Stella By Starlight” karya Victor Young dengan nuansa serenade. Uniknya, Mery malah terlihat lebih menikmati permainan pianonya ketimbang saat ia menjadi kondakter semenjak permulaan acara. Beberapa birama musik mengalun, tiba-tiba sayup terdengar ketukan drum namun anehnya dimainkan oleh saksofonis Arief Setiadi. Buah keisengan itu justru semakin menambah semarak hingga acara benar-benar selesai.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Pagelaran berdurasi sekurangnya dua jam itu sangat berkesan, ekspresi takjub dan rasa puas tergambar jelas pada raut wajah para audiens setelah acara berakhir. Proyek Mery Kasiman tampaknya ditanggapi baik dan merupakan langkah awal positif untuk ekspansi cetak birunya ini. Secara teknik komposisi maupun aransemen sesungguhnya Mery telah memadai secara akademis, semoga di masa depan ia makin kreatif mengolah aspek non-akademis dan kekinian dengan gayanya yang distingtif. Sejumput catatan ditujukan kepada seksi tiup; entah karena pimpinan ansambel yang malu-malu dan kurang gamblang atau minimnya kesigapan pemain, jelasnya ketimpangan tersebut agak mengganggu kenikmatan estetis yang mestinya dapat tercapai bila rangkaian not di atas kertas dimainkan dengan baik.

Bagaimanapun, acara malam itu memuaskan, impresif, serta layak mendapat pujian. Sangat dinanti penampilan Mery Kasiman Project berikutnya. Salut!

Riza Arshad Trioscapes bakal hadir di Komunitas Salihara

Tags: , , ,


Trioscapes adalah sebuah trio yang dibentuk oleh Riza Arshad (pianis, komposer dan pimpinan grup musik jazz progresif simakDialog) bersama pemain bass Yance Manusama, (musisi senior jazz Indonesia, anggota Funk Section), dan pemain drum serta orkestrator Aksan Sjuman – yang belakangan banyak berkecimpung dalam penggarapan musik film.

Format trio adalah format standar yang cukup digandrungi dalam musik jazz. Trioscapes yang berformat trio menjangkarkan musiknya pada musik jazz yang dipengaruhi rock di awal 1970-an (Miles Davis, Herbie Hancock, Chick Corea, dan eksperimentalis/ekspresionis Frank Zappa), yang dalam pergerakan waktu telah memperkaya musik jazz dan menjadikannya bukan sekadar jenis musik melainkan sebuah gaya hidup.

Subtle funk adalah warna dasar dari jenis musik Trioscapes, meski dalam berbagai kesempatan warna musiknya melebar ke pelbagai jenis lain tanpa melepas elemen improvisasi dalam berbagai nuansa atau mood-nya.

Konser Jazz Bulanan oleh Trioscapes ini akan diselenggarakan di Teater Salihara, Jl. Salihara Pasar Minggu (dekat Universitas Nasional) Jakarta Selatan, Sabtu 5 Juni 2010, jam 20:00 WIB. Tiket seharga Rp 50.000,- (dan Rp 25.000,- khusus untuk pelajar/mahasiswa) dapat dipesan melalui 021-789-1202, 0817-077-1913, 0857-193-111-50, 0812-8184-5500, 021-9974-5934, dita@salihara.org, atau secara on-line melalui www.salihara.org.

Trioscapes telah merilis dua buah album yang dapat dipesan atau dibeli via WartaJazz.com Store. Ayo dukung terus musik Jazz Indonesia dengan membeli karya-karya musisi negeri sendiri!.

Donny Suhendra merilis Disini Ada Kehidupan versi compact-disc

Tags: , , , , , , ,


donny-suhendraDonny Suhendra, adalah gitar, lagu-lagu “gitar”nya yang kaya. Khas, seringkali dengan topinya di atas panggung. Selain, ekspresinya saat memainkan gitarnya.

Satu ketika, seorang Dewa Budjana-pun mengakui Donny Suhendra adalah salah satu gitaris idolanya, yang begitu membuatnya ingin sekali berkenalan dan mengajak ngobrol.

Sementara Tohpati mengatakan, kebanggaannya ketika ia diajak Donny Suhendra bermain bareng dengan Donny Suhendra dan Oele Pattiselanno. Keduanya suhu, keduanya gitaris favorit, keduanya pendekar gitar. Tentu saja, ia girang bukan main ketika kedua “senioren”nya itu mengajaknya bermain bersama dalam formasi, OTD (Oele-Tohpati-Donny Suhendra).

Donny telah menjalani karir musiknya sejak akhir 1970-an. Ia tercatat pernah bergabung ataupun ikut mendirikan pelbagai kelompok musik (jazz dan fusion) di Bandung seperti G’Brill, Harry Roesli-DKSB, d’Marszyo sampai masuk Elfa’s Music Studio. Lalu juga BOM, selain Square Band.

donny-suhendra-disini-ada-kehidupanNamanya lantas mencuat keatas setelah ia tampil bersama Krakatau. Satu nama kelompok musik fenomenal di tahun 1980-an, yang seolah menjadi grup musik fusion terdepan selepas merajai ajang kontes band bergengsi (waktu itu, di era 80-an), Light Music Contest 1985.

Kemudian iapun tercatat masuk formasi, Indra Lesmana Quartet. Lantas masuk Indra Lesmana Java Jazz, Adegan. Ia ikut mendirikan kelompok Big City Blues. Masuk pula dalam formasi trio bersama Yance Manusama dan Gilang Ramadhan bernama, Dongilyan. Tercatat ia juga terlibat dalam kelompok musik Gilang Ramadhan NERA, selain mendukung Syaharani Queenfireworks.

Tak pelak serangkaian perjalanan karir musiknya nan panjang, telah menempatkannya sebagai salah satu gitaris jazz (dan blues) terbaik yang dimiliki negeri ini. Ia menjadi makin “lengkap” dalam karir musiknya, setelah iapun menciptakan berbagai-bagai karya lagu.

Di tahun 2000, solo album perdananya, Di sini ada Kehidupan, dirilis dalam versi Kaset oleh Chico & Ira Production. Saat itu, album tersebut, dianggap sebagai salah satu album solo dari musisi yang paling awal dan yang terbaik.
Sekian waktu kemudian, Donny Suhendra yang lulus dari ITB jurusan Desain ini, berupaya dalam melanjutkan karir musiknya, dengan menghasilkan album musik berikutnya. Namun memang segenap rencananya tersebut, menemui berbagai macam kendala.

Akhirnya, rintangan demi rintangan tersebut, menciptakan ilhan kepadanya. Kenapa tidak merilis kembali solo album perdananya, namun dalam versi compact-disc. Hal ini juga lantaran banyak penggemarnya, dan terutama para gitaris, menanyakan solo album perdananya tersebut.

“Sudah 6-7 tahun kemudian, kok makin banyak saja yang menanyakan, bagaimana bisa membeli album saya yang pertama itu. Kebanyakan memang menanyakan, keluarin ga versi CD nya,”cerita Donny. Dan akhirnya, iapun bersepakat dengan indiejazzINDONESIA, sebuah perekam independen. Ada bentuk visi dan misi yang sejalan, dan dengan mimpi2 yang sama,itu alasan Donny kenapa akhirnya iapun menjalin kerjasama dengan indiejazzINDONESIA.
Bersama indiejazzINDONESIA, Donny kemudian menuntaskan versi CD dari debut albumnya tersebut. Dilakukan pula, remastered yang kembali ditangani oleh sahabatnya, Indra Lesmana.

Dan versi repackage dari album tersebut, juga memuat satu lagu baru, bertitel ‘Aku adalah Aku’. Donny “menemukan” seorang penyanyi muda bertalenta, Hans Bartel namanya. Hans itu, terang Donny, didapatnya dari informasi teman-teman musisi. Setelah saya ketemu dan mencoba suaranya, “Saat itu juga saya kayak kontak tuh dalam hati saya, ini nih yang saya cari..,” jelas Donny lagi.

Album Di sini ada Kehidupan berupa repackage dalam bentuk hanya CD tersebut, dirilis secara resmi mulai Minggu kedua Februari 2009 ini dengan harga jual Rp 40.000,- (empat puluh ribu rupiah).

Proses akhir untuk mempersiapkan album repackage ini, menyita waktu hampir 3 bulan lamanya. “Ini album yang sebagian besar instrumental, memuat karya-karya lagu saya sendiri, yang berangkat dari perjalanan hidup saya..”
Donny tidak menampik bila disebut, album ini bernuansa spiritual. “Bukan musik yang Islami ya, bukan ke arah itu. Tapi lagu-lagunya memang semacam potret dari apa-apa yang saya alami, saya lewati, saya rasakan sepanjang kehidupan saya. Ini juga mensyukuri atas segenap nikmat berkahNYA yang saya dan keluarga saya rasakan dan alami selama ini.”

Album ini didukung oleh para sahabat-sahabat musisi seperti Gilang Ramadhan, Pra Budhi Dharma, Syaharani, dr.Iwang Gumiwang, Indro Hardjodikoro, Aksan Sjuman, juga Indra Lesmana. Nama terakhir, juga bertindak sebagai sound-engineer untuk proses mixing dan mastering album ini.

Musiknya Jazz? Donny hanya senyum dan berkata, biarlah semua pendengar musik saja yang bisa menyatakan musik saya ini jazz atau rock atau blues atau apapun. “Saya memainkan musik yang ingin saya mainkan. Semuanya mengalir begitu saja, tanpa saya berpikir-pikir, ini jazz atau blues atau apapun.”

Di sini ada Kehidupan rasanya adalah sebuah produk musik yang harus dimiliki oleh para penggemar musik, terutama para penggemar musik jazz. Donny mungkin saja bisa terdengar seperti Pat Metheny, Scott Henderson, Larry Coryell misalnya. Tapi kalau kita menikmati lagi, lebih mendalam, permainan gitarnya maka kita akan dapat menemukan kekhasan dalam bentuk sajian permainan gitarnya.

Ia menyatakan, tidak berminat meniru siapapun. “Saya dengarkan semua gitaris, dari berbagai aliran musik. Saya seperti berguru dengan hasil-hasil rekaman mereka, dan mereka semua adalah para pendekar-pendekar gitar dunia. Dan pastinya saya, kalau meniru mereka, jauhlah dan nggak mungkin bisa menyamai mereka.”

Harapan Donny, publik penggemar musik akan dapat menerima dengan tangan terbuka, sajian albumnya ini. Semoga yang mendengarkan musiknya bisa menenangkan hati mereka masing-masing….

Anda yang tertarik membeli, dapat menghubungi sales@wartajazz.net atau telpon ke 021-8310769.


It’s the group sound that’s important, even when you’re playing a solo. You not only have to know your own instrument, you must know the others and how to back them up at all times. That’s jazz. — Oscar Peterson


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<