Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "bali"

Balawan Gamelan Maestro Project di Gedung Kesenian Jakarta

Tags: , , ,


Gedung Kesenian Jakarta akan menghadirkan konser Balawan Gamelan Maestro Project pada tanggal Sabtu, 24 September  2011, pkl 20.00 WIB dengan harga tiket:   Rp 100.000,- & Rp 75.000,- (balkon).

Sebuah project yang menampilkan Maestro-maestro gamelan Bali agar lebih dikenal secara individual dimana Balawan berkolaborasi membuat komposisi bersama para Maestro Gamelan, yaitu I Made Subandi dan I Ketut Lanus sebagai pemegang alat Gangsa Rindik dan Kendang Percussion dengan didukung oleh I Wayan Balawan pada guitar dan synth, Ketut Tarmadi pada bass, I Nyoman Suarsana pada kendang dan suling, serta I Wayan Sudarsana pada Suling Cengceng dan Genggong.

Lagu yang akan dimainkan antara lain: Pangbe, Made Cenik, Ririmemeri, Kotekan, Bali Latino, Whats, Left Now in Our Land, dan Barat Birit.

Kegiatan konser ini merupakan bagian dari GEDUNG KESENIAN JAKARTA INTERNATIONAL FESTIVAL (GKJIF) 2011

***

Balawan adalah gitaris yang dikenal karena teknik tapping-nya. Ia telah merilis sejumlah album antara lain GloBALIism bersama Batuan Ethnic Fusion (1999- Chicoira), lalu Balawan Solo (2001-Acoustic Music Records Jerman), Magic Fingers (2006- SonyBMG Indonesia) dan See you soon (2009-Universal Music Indonesia). Album yang terakhir disebut dirilis dalam dua format sekaligus yaitu CD dan DVD yang isinya instruksi bagaimana cara bermain gitar ala-Balawan.

Bersama gitaris lain, Budjana dan Tohpati, Balawan sempat merilis pula DVD dan CD dibawah nama kelompok “Trisum” pada tahun 2006 dan 2007 dibawah label SonyBMG dan Five in One secara independen.

Kelebihan utama Balawan terletak pada kecepatan jemarinya memainkan gitar bak seorang pianis yang ‘memencet-mencet’ tuts. Dan tak hanya itu, penggemar berat Van Halen ini mengawinkan pola permainannya dengan musik gamelan Bali. Hasilnya adalah musik Jazz yang terdengar unik.

Pria kelahiran Gianyar Bali ini sempat menjelajahi berbagai panggung mulai dari Jerman, Norwegia, Jepang, Belanda, Hongkong, Amerika Serikat sampai Kanada. Bermain di festival jazz maupun blues.

***

Anda yang tertarik menonton dan membutuhkan informasi lebih lanjut silakan menghubungi Gedung Kesenian Jakarta, Roelly: 021 – 3441892, 96693433, sms:  0857 1591 1169 atau email: tiket@gedungkesenianjakarta.co.id

Gitarku: Hidupku, Kekasihku – DVD Wajib Penggemar Dewa Budjana

Tags: , , ,


DVD Dewa Budjanda Gitarku: Hidupku, Kekasihku

DVD Dewa Budjana Gitarku: Hidupku, Kekasihku

Mencari suaka batin, sanctuary, adalah simpul tema-tema rilis solo Budjana. Jelma spiritual yang hadir dalam musik I Dewa Gede Budjana tak lepas dari Bali dan Hindu. Silabel sakral ”Om” kerap terlihat sebagai simbol yang tertoreh pada gitarnya. Judul ”Samsara” (2003) yang dipilihnya pun adalah daur kehidupan yang lekat dengan konsep reinkarnasi dan karma, dengan lahir dan mati sebagai bagiannya.

Duka meninggalnya sang ayah dituturkannya lewat ”Ruang Dialisis”. Di dalamnya ada ketidaksengajaan (yang bagaimanapun adalah campur Tangan-tangan Yang Maha), kidung neneknya, mendiang Jro Ketut Sidemen, yang direkam terpisah di Klungkung, pas ada di nada dasar yang sama dengan rekaman musiknya di Jakarta. Kidung itupun kemudian ternyata berkisah kematian.

Pengalaman duka itu dibawanya tampil dua tahun silam dalam konser tunggal pertamanya yang bertajuk ”Gitarku: Hidupku, Kekasihku” (GKJ, 7/12/’07). Cuplikan dokumenter Bali lama milik Miguel Covarrubias menjadi latar requiem yang menyayat jiwa. Potret kehidupan Bali bergaya noir itu semakin temaram dalam ”Ruang Dialisis”. Refleksi duka lainnya muncul lagi dalam ”Dancing Tears” (Home, 2005) yang berkisah Tsunami, chaos saat laut tidak bersahabat.

Daur hidup tak melulu duka, karyanya yang bhinneka juga mensiratkan suasana lainnya. Terinspirasi tarian Sanghyang Dedari, ”Dedariku” (Gitarku, 2000) mengalun kontemplatif dalam gema permainan gitar 12 senar diimbuhi permainan cantik paduan udu berbahan gerabah dalam idiom tabla dengan kendang Sunda yang ditabuh Jalu Pratidina. ”Dreamland” yang optimis dan suntikan berat funk dalam ”Lalu Lintas” (Nusa Damai, 1997) juga menjadi warna lain yang terdengar.

Konser ini juga merekam duetnya dengan pianis tamu Indra Lesmana. ”Wanita” milik Indra yang menjadi lagu tema film berjudul sama di tahun 1990 (dibintangi Meriam Bellina dan Mathias Muchus) dimedley dengan ”Bunga Yang Hilang”.

Tak lengkap pula jika koleksi gitarnya yang unik tidak dimainkan. Ada soprano nylon dalam ”Caka”, banjo (tetapi masih dalam konstruksi gitar) dalam ”Bermain” atau sitar elektrik (keluaran Coral) dalam ”Malacca Bay”. Konser ini memang dibarengi peluncuran buku yang membahas pula gitar-gitar koleksinya. Peluncuran silam tersebut kemudian disusul bundel spesial DVD dan CD di 2009 ini.


As long as there is democracy, there will be people wanting to play jazz because nothing else will ever so perfectly capture the democratic process in sound. Jazz means working things out musically with other people. You have to listen to other musicians and play with them even if you don’t agree with what they’re playing. It teaches you the very opposite of racism and anti-Semitism. It teaches you that the world is big enough to accommodate us all. — Wynton Marsalis


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<