Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "Benny Likumahuwa"

Locafore digelar 23-25 September 2011 di Kota Baru Parahyangan

Tags: , , , , , ,


Sebuah acara yang menggabungkan seni, desain dan jazz festival akan digelar pada tanggal 23-25 September 2011 di Bale Pare, Kota Baru Parahyangan Bandung dan tidak dipungut biaya. Acara ini sebenarnya memasuki tahun penyelenggaraan kedua, namun namanya mengalami perubahan meski tetap diadakan ditempat yang sama.

Dalam tiga hari jazz festival, akan ditampilkan musisi-musisi jazz terbaik Indonesia seperti LLW, Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, Syaharani, Bubi Chen, Dira Sugandi, Benny Likumahuwa, Shadow Puppets, Sandy Winarta,  The Jongens dan lain-lain.

Pada hari Jumat, 23 September 2011 acara akan dimulai pada pukul 14.30 dengan menampilkan kelompok Starlite yang disusul dengan Newcitylife, Sister Duke. Usai adzan magrib acara akan dilanjutkan dengan menampilkan Maya Hasan The Sound of Light, Jubing Kristianto dan Lala Suwages.

Pada hari Sabtu, 24 September 2011 akan dibuka oleh Hemiola yang dilanjut dengan The Tripp, 4Sixteenth, Julian Abraham Marantika dan The Jongens. Usai adzan magrib The Musical Troops, Margie Segers, Andien dan Benny Likumahuwa serta LLW (Indra Lesmana, Barry Likumahuwa dan Sandy Winarta) akan menghangatkan suasana Malam Minggu.

Dihari ketiga Minggu, 25 September 2011 akan tampil IMDI Ensemble, Shadow Puppets Quartet, ESQI:EF Syaharani & Queenifireworks, Ade Irawan, Dira Sugandi, Bubi Chen dan Maliq & D’essentials.

Anda yang membutuhkan jadwal lengkap kegiatan selama tiga hari silakan mengklik link berikut ini.
Jadwal acara hari Jumat, Sabtu dan Minggu.

AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011: One Lovely Nation

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Axis Java Jazz Festival 2011

Axis Java Jazz Festival 2011

Remarkable Indonesia

Sebuah penyataan yang selalu ada di tag line AXIS Jakarta International Java Jazz Festival selama dua tahun terakhir ini. Bila pada 2010, tag line berbunyi “Jazzin’ Up Remarkable Indonesia”, maka di AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011 yang diselenggarakan pada tanggal 4, 5, 6 Maret 2011 di JIExpo Kemayoran, menggunakan tag line “Remarkable Indonesia, Harmony Under One Nation”. Salah satu hal yang menyebabkan Indonesia ‘remarkable’ adalah karena di negara yang bahkan jauh dari tanah kelahiran musik jazz, negara yang selama bertahun-tahun tidak terlalu dianggap di hingar bingar kiprah musik dunia (termasuk jazz), bisa menyelenggarakan sebuah festival jazz yang menjadi salah satu festival jazz terbaik dan terbesar di dunia. Beberapa musik ternama dunia menyebut Jakarta (Indonesia) telah menjelma jadi pusat jazz dunia, sejajar dengan New Orleans, New York, Chicago, yang telah lama dikenal sebagai pusat kehidupan jazz.

Remarkable Indonesia dalam jelmaannya sebagai destinasi musisi jazz bukan hanya merupakan kebanggaan, namun sekaligus menjadi tantangan buat industri musik, dan khususnya bagi musisi jazz Indonesia. AXIS Jakarta International Java Jazz Festival telah menjadi salah satu terbesar, setelah itu harus meningkat menjadi tempat pencinta jazz dari seluruh dunia dapat menyaksikan kehebatan musisi jazz Indonesia, sejajar dengan musisi internasional. Sehingga yang mendapat predikat ‘remarkable’ bukan hanya festivalnya, tapi juga musisinya, dan Indonesia secara keseluruhan.

Harmony Under One Nation

Musisi, penonton, manajer, artists’ agents, event organizer, penata panggung, sound engineer, penata lampu, penata artistik, jurnalis, pekerja booth, sales promotion girl, dan siapapun yang hadir di JIExpo Kemayoran pada tanggal 4, 5, 6 Maret 2011 untuk AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011 merupakan saudara sebangsa, bangsa yang mencintai musik (jazz).

Dengan perannya masing-masing secara bersama-sama membentuk keselarasan agar AXIS Jakarta International Java Jazz Festival sukses terselenggara, menjadi kegembiraan, dan meninggalkan kesan akan sebuah harmoni yang dirajut oleh musik jazz. Kesan inilah yang menjadi pesan yang ingin disebarkan ke seluruh dunia, “In a remarkable country like Indonesia, Jazz brings harmony under one nation”.

Mari Sebarkan Pesan Harmoni Berbangsa

Bila Java Festival Production (JFP), AXIS, BNI, Garuda Indonesia dan First Media membuat program penjualan karcis secara istimewa, serta program promosi dengan hadiah tiket menonton AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011, dan ada yang sudah dimulai sejak bulan Desember 2010, itu karena pihak penyelenggara dan sponsor ingin agar masyarakat mendapat kesempatan menonton penampilan musisi Indonesia dan internasional.

JFP mengundang musisi Indonesia, baik yang senior, sedang mencapai puncak karirnya, maupun yang baru merintis karir untuk menunjukan kehebatannya di depan pencintanya.

Nama seperti Benny Likumahuwa, Maliq ‘n D’Essentials, Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, Andien, Shadow Puppets, Notturno, Dira Sugandi, Dwiki Dharmawan, Simak Dialog, Fraya, Ade Irawan, Indonesia Nu Progressive, Idang Rasjidi,  Tohpati Bertiga, Indra Lesmana-Barry Likumahuwa-Sandy Winarta (LLW), GIGI Big Band, Chamber Jazz (Iwan Hasan, Andien, Enggar, Merry Kasiman), Jopie Item, Oele Pattiselanno, Nial Djuliarso, The Husbands & Wives feat. Endah N Rhesa, RAN, dan Nikita Dompas akan hadir memberikan yang terbaik di hadapan pengunjung AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011. Johanes Radianto, Dhani Syah, Elfa Zulham dan Sri Hanuraga yang baru menyelesaikan studi musiknya di Belanda juga bakal hadir. Magenta Orchestra pun akan tampil bersama George Benson dalam gelaran Special Show bertajuk “George Benson’s Tribute to Nat King Cole with Magenta Orchestra”.

Para artis berbagi waktu di 16 panggung, dengan musisi internasional, seperti George Benson, Santana, Corrine Bailey Rae, George Duke, Kenny Loggins, Charlie Haden, Joey DeFrancesco, grup Fourplay, Sondre Lerche, Rhoda Scott, Jamie Lidell, Kamal Musallam, Ernie Watts, Steve Smith, grup Acoustic Alchemy, Ed Motta, Jose James, Brian Culbertson, Kai Eckhart, grup Juan de Carlos Afro-Cuban All Stars, Maurice Brown, Roy Hargrove, Roberta Gambarini, grup Rasmus Faber & RaFa Orchestra, Vinny Valentino, dan Robert Glasper.

Diharapkan, lebih dari 100 ribu orang yang hadir di AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011 dapat menjadi agen komunikasi dalam menyebarkan pesan bahwa dunia akan lebih indah dalam sebuah harmoni bersatunya berbagai latar belakang, pandangan, budaya, dalam suatu hamparan rajutan musik jazz.

Pengen dapat daftar lengkap para musisi yang manggung berdasarkan hari mereka tampil?, simak disini jadwal lengkapnya.

Sunday Jazz Festival @ Segarra Beach Club: Ngejazz, Pesta, dan Belanja.

Tags: , , ,


Minggu malam (5/12), kawasan Timur Pantai Karnaval, Ancol tampak ramai. Jelas terlihat waktu memasuki areal parkir yang dipadati kendaraan para pengunjung Sunday Jazz Festival di Segarra Beach Club. Acara yang dipromotori oleh Magicworx Entertainment dan bekerjasama dengan LA Menthol Lights tersebut ingin menyajikan sebuah festival jazz yang berbeda, sembari mengusung tema “A blend of jazzing, partying and shopping.” Maka dari itu dipilihlah lokasi sebuah klab pantai serta mengundang beberapa DJ terkemuka sebagai “mandor denyut” pun dipastikan banyak clubbers dan party-goers turut memenuhi venue beratap langit dan beralas rumput.

Terdapat dua buah panggung, yaitu SquareMRKT yang berseberangan dengan pintu masuk, bersama dengan aneka gerai belanja, serta panggung utama yang menghadap ke arah pantai, berlawanan dengan panggung Square MRKT. Meskipun didera hujan yang membuat genangan air di beberapa titik dan lapangan rumput di panggung utama menjadi becek, namun tak menyurutkan minat pengunjung yang antusias untuk menyaksikan artis pujaan mereka.

Pertunjukan yang niatnya dimulai pukul dua siang, ternyata baru dimulai jam lima sore. Penonton sabar menunggu hingga tampilnya Sandhy Sondoro sekitar pukul setengah sembilan. Malam itu ia mengenakan kacamata hitam, dan membawa pasukan sebelas orang, di antaranya tampak Nikita Dompas dan Aria Janapria (gitar) serta Ali Akbar (kibor) siap untuk mengiringi. Sandhy unjuk kebolehan dengan vokalnya yang prima, berkarakter soul dan sesekali melengking tajam, namun dengan tonalitas yang cukup terjaga. Berdetak kencang lewat irama soul, funk, juga sedikit reggae. Musik bergaya gospel turut disajikan Sandhy waktu ia menyanyikan lagu dari Ray Charles, “my granddaddy,” ujarnya. Audiens terlihat familier dengan lagu-lagu Sandhy, mereka ikut bernyanyi dalam tembang “Malam Biru” dan “Superstar”.

Jeda antar penampil di panggung utama diisi lewat hentakan musik oleh para DJ, meriah suasana pesta dikawal oleh nama-nama semisal Anton Wirjono (Future10), DJ Aay (Dragonfly) dan Discogusto (DJ Rocca, DJ Jazzy Broyz dan DJ Carlos Juno). Begitu besar volume suara musik elektronik hingga deru ombak dan desir angin sama sekali tak terdengar.

Pengisi panggung utama selanjutnya adalah Barry Likumahuwa Project (BLP), band anak muda terdiri atas Barry Likumahuwa (bas elektrik), Henry Budidharma (gitar), Donny Joesran (keyboard), Matthew Sayersz (vokal), Dennis Junio (sax) dan Jonas Wang (drum). Keenamnya menyajikan geliat funk, fusion, r&b, sampai latin, dengan beat yang mengentak. Tidak puas dengan penonton yang masih adem-ayem, Barry memprovokasi dengan berujar, “goyang dong, di pantai nih!”, teriaknya dan audiens pun menurut ajakan itu. BLP juga mengundang ayah Barry, Benny Likumahuwa yang terlihat memakai topi bertuliskan “The Rollies”. Walaupun usianya sudah lanjut, ia masih sanggup beratraksi tak kalah hebohnya dengan BLP. Benny tampil dengan instrumen flute dan trombone. Seperti konser-konser BLP di tempat lain, malam itu lagu yang dibawakan antara lain “My Prayer/Jazz Crime”, “Aku dan Hadirmu”, serta tembang pamungkas “Mati Saja”.

Pengunjung pun dapat memuaskan hasrat belanja dengan mendatangi gerai-gerai pada areal SquareMRKT. Produk dagangannya mulai dari pakaian jadi, aksesoris clubbing, pernak-pernik bernuansa etnik, hingga aneka makanan siap saji.

Matt Bianco @ Sunday Jazz Festival, Segarra

Matt Bianco @ Sunday Jazz Festival, Segarra

Aksi yang telah dinanti oleh segenap hadirin Sunday Jazz Festival adalah Matt Bianco, sebuah grup asal Inggris yang populer pada era 1980/90-an. Mereka tercatat pernah dua kali manggung ditanah air, tahun 1995 dan 2009. Formasi mereka malam itu adalah duo Mark (2 M) yaitu Mark Reilly (vokal utama) dan Mark Fisher (kibor) serta personil lainnya yang total berjumlah sepuluh orang – tiga vokalis, gitar, bas elektrik, kibor, saksofon tenor, trumpet, drum, dan perkusi. Musik yang ditampilkan berbasis irama latin, seputar bossa nova, samba, juga sedikit swing. Setelah sound check yang cukup alot, untunglah band tersebut sukses menggoyang penonton lewat lagu-lagu hit, semisal “Sunshine Day”, “Lost in You”, dan “HiFi Bossanova”. Tanpa komando, audiens memenuhi panggung utama serta berjoget ikut irama, dan pada barisan depan tampak beberapa penggemar setia Matt Bianco yang berusia 35 tahun keatas, mereka sangat hafal dengan nomor-nomor yang dimainkan, sekaligus bernostalgia. Luput dari jadwal yang dilansir panitia, penampilan Matt Bianco barulah usai setelah pergantian hari, jam menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Setelah Matt Bianco, artis yang dijadwalkan manggung adalah The Groove (Reunion) dan Maliq & D’Essentials.

Satu hal yang cukup mengganggu jalannya acara adalah tata suara yang tidak mumpuni, volume besar namun sangat timpang. Pada frekuensi rendah terasa sesak di dada, sedangkan pada frekuensi tinggi terdengar menusuk di telinga. Dalam beberapa sesi, misalkan saat tampilnya Matt Bianco, suara Mark Reilly “tenggelam” dan tidak terdengar jelas. Beberapa personil nampak melirik  dan berisyarat ke arah kiri panggung, tempat penataan suara untuk meminta penyesuaian, padahal pertunjukan sedang berlangsung. Pemandangan semacam itu memberi kesan bahwa sound check yang menyita banyak waktu tak ada gunanya. Bagaimanapun, acara malam itu terbilang ramai dan meriah, dan semoga untuk kali berikutnya pihak panitia akan lebih baik lagi dalam persiapan dan pelaksanaan.

Sunday Jazz Festival di gelar di Segarra Beach Club Ancol

Tags: , , , , ,


Jazz semakin diterima oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan dan usia. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya peminat berbagai festival musik jazz yang semakin marak di selenggarakan di tanah air.

Dengan tema “Jazzin’, Partying and Shopping”, Magicworx Entertainment yang bekerjasama dengan LA Menthol Lights mempersembahkan Sunday Jazz Festival yang digelar di Segarra Beach Club, Pantai Carnaval Ancol hari Minggu 5 Desember 2010 sebagai bentuk partisipasi dan wujud apresiasi musisi dan masyarakat di bidang musik, khususnya jazz, yang dikemas dengan dinamis dan penuh improvisasi.

Pertunjukan akan menampilkan grup jazz legendaris dunia asal Inggris: “MATT BIANCO”. Grup yang terkenal di era tahun 80-an dengan hits “Don’t Blame It On That Girl” ini sedang dalam rangkaian tur keliling dunianya dan dipastikan kehadiran nya dengan formasi lengkap termasuk “2 M” (Mark Reilly dan Mark Fisher).

Selain Matt Bianco, pertunjukan juga didukung oleh musisi2 ternama tanah air yaitu Maliq & D’Essentials, Sandhy Sondoro, Barry Likumahuwa Project (BLP) feat: Benny Likumahuwa, The Groove, RAN dan masih banyak lagi. Salah satu bagian utama konsep Sunday Jazz Festival adalah juga menjadi ‘unforgettable party”, dimana para pengunjung selain menikmati musik yang disuguhkan, juga dapat menikmati suasana pesta yang seru di tepi pantai, sepanjang malam, diselingi oleh alunan music dari Disc Jockey terbaik Jakarta, yaitu: Anton Wirjono (Future10), DJ Aay (Dragonfly) dan Discogusto (DJ Rocca, DJ Jazzy Broyz dan DJ Carlos Juno).

Bagi anda, para ‘shopaholic’, tidak perlu khawatir karena di acara ini panitia menyediakan surga kecil bagi anda pecinta belanja. ‘squareMRKT’ menyediakan berbagai macam ‘the most wanted item’ dan ‘trendy apparel’ bagi wanita dan pria maupun unisex, seperti: Coconut Island, Debra Zebra dan lain-lain, semuanya hanya ada di ‘squareMRKT’ termasuk merchandise Jazz dari WartaJazz.com

Harga tiket masuk untuk Pre Sale A Rp.125,000,- (18 Oct – 31 oct) dan Pre Sale B Rp.150,000,- (1 Nov – 28 Nov) sementara pada hari H atau On The Spot Rp.200,000,-. Anda yang tertarik silakan menghubungi 021-33621744 / Fax: 021-51400847

ï»ż3rd Asean Jazz Festival kembali digelar

Tags: , , , , , , , , , ,


Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia kembali menggelar 3rd Asean Jazz Festival di Pulau Batam, Jumat-Sabtu 15-16 Oktober 2010 mulai pukul 19.00 bertempat di Harbour Bay Batam.
Acara yang tidak dipungut biaya selama dua hari ini akan dimeriahkan sejumlah artis dari Indonesia seperti Krakatau, Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra, Syaharani, Barry Likumahuwa Project feat Benny Likumahuwa, simakDialog (Riza Arshad & Tohpati dkk), Pra Budi Dharma, Dira J. Sugandi, Ivan Nestorman, Agam Hamzah, Rio Sidik, Gerry Herb, Demas Narawangsa, Bandanaira feat Irsa Destiwi & Lea Simanjuntak plus dua band dari Batam, Mangrove dan Cheppy N Friends.

Sejumlah artis mewakili negara masing-masing yaitu Bassgroove (Malaysia), Natasha Patamapongs (Thailand), Eugene Ang (Singapore) dan Luisa SantaMaria (Philippines).
3rd Asean Jazz Festival juga dimeriahkan dengan penampilan spesial dari Brazilian Jazz Ambassador, gitaris Toninho Horta untuk tampil selama dua hari berturut-turut.
***
Acara Asean Jazz Festival yang diadakan di Batam dimaksudkan sebagai agenda tahunan untuk menarik minat wisatawan dari mancanegara khususnya Singapura dan Malaysia. Letaknya yang strategis diharapkan menjadi pendongkrak kunjungan lintas batas atau cross border visitor.
3rd ASEAN Jazz Festival kali ini diadakan di kawasan bisnis terpadu sekaligus pelabuhan Ferry dari dan ke Singapura – yang dapat ditempuh sekitar 45 menit – Harbour Bay Batam. Penonton akan diberikan suasana festival yang berbeda karena terletak ditepi laut dan pemandangan cantik lampu-lampu kapal pada malam hari.
Dalam acara 3rd Asean Jazz Festival tahun ini panitia melakukan kombinasi antara Jazz sebagai Hiburan, Edukasi dan Appresiasi, oleh karenanya susunan penampil mencerminkan tiga hal tersebut.
Pada bagian akhir Festival di hari kedua, akan ada “Jam Session” sebagai tradisi Jazz yang tetap dipertahankan dan merupakan kesempatan bagi para musisi muda untuk berbagi panggung atau “share stage” dengan legenda musik dunia Toninho Horta.
Akan ada pula kolaborasi ASEAN Jazz Band yang menjadi perekat hubungan antar musisi di negara-negara Asia Tenggara.
Acara ini terselenggara berkat kerjasama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia yang didukung oleh Visit Batam, Batam Tourism Board, Harbour Bay, WartaJazz, Sing FM Batam dan KEI FM Batam.

2nd Jazz @ Fort Rotterdam 2010: Ketika Jazz dan Etnik (Kembali) Bersua

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Acara jazz tahunan dipentaskan lagi di Makassar pada tanggal 31 Juli dan 1 Agustus lalu. Tema yang diusung tak berbeda dengan tahun sebelumnya, pihak panitia One Note Entertainment memberi tajuk “When Jazz Meets Ethnics” dengan misi untuk mengembangkan kekayaan musik tradisi setempat melalui jazz sebagai medium. Disamping itu, agenda lainnya adalah mempromosikan potensi wisata Makassar dan sekitarnya kepada publik internasional, seperti penuturan ketua panitia Jazz @ Fort Rotterdam (JFR) 2010 Hendra Sinadia yang juga mendapat dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Makassar serta Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dihadiri Sapta Nirwandar selaku Direktur.

Sapta Nirwandar, Dwiki Dharmawan dan Hendra Sinadia beserta panitia

Sapta Nirwandar, Dwiki Dharmawan dan Hendra Sinadia beserta panitia

Sejalan dengan pelaksanaan JFR 2010, Kemenbudpar turut berupaya untuk mensosialisaikan program Vote Komodo kepada masyarakat Makassar. Tentunya hal tersebut dilakukan untuk menyikapi lolosnya Taman Nasional Komodo sebagai salah satu dari 28 finalis untuk melanjutkan ke tahap akhir kampanye setelah menyisihkan 440 nomine lainnya dari 220 negara. New7Wonders Foundation menetapkan tanggal 11 November 2011 sebagai batas akhir pemungutan suara. Pengunjung JFR 2010 dapat memberikan suaranya pada gerai online voting yang tersedia selama acara berjalan dan terhubung langsung dengan situs www.new7wonders.com. Setelah voting, mereka langsung mendapatkan cinderamata berupa pin “Vote Komodo” sebagai tanda partisipasi.

Hari Pertama, Sabtu 31 Juli 2010

JFR 2010 baru dimulai sekitar pukul enam sore waktu setempat, ditandai dengan penampilan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Hasanuddin dilanjutkan Pakarena N Jazz serta atraksi tarian tradisional khas Makassar. Kepala Dinas Kebudayaan  dan Pariwisata Makassar, Rosmayani Madjid, diamanatkan untuk memukul gendang membuka jalannya festival.

Hari telah berganti malam, dan kini tiba saatnya band lokal Rizcky & The Strangers untuk tampil.  Beranggotakan lima personil dengan Rizcky Pradhana de Keizer sebagai vokalis utama sekaligus basis, band ini cukup bertenaga membawakan lagu-lagu bernuansa funk maupun fusion. Tembang “Good Times, Bad Times” milik Edie Brickell, “I Don’t Want to Miss a Thing” dari Aerosmith serta komposisi instrumental “Nightfall” mereka sajikan. Pengunjung JFR yang mayoritas anak muda nampak terkesima dengan vokal dan permainan bas Rizcky, terutama ketika “All At Sea” dari Jamie Cullum dinyanyikan.

Terdapat dua buah panggung pada acara ini. Sebuah terletak persis berhadapan dengan pintu masuk, dan satu lagi ditempatkan sekitar 50 meter ke dalam areal Fort Rotterdam sebagai panggung utama. Selepas Rizcky, penampil berikutnya adalah PSM Universitas Hasanuddin berjumlah delapan orang, dua pria dan enam wanita. Mereka mencoba untuk membawakan lagu tradisional populer seperti “Anging Mammiri” dan lagu pop dalam negeri serta mancanegara melalui harmonisasi vokal.

PSM Universitas Hasanuddin di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

PSM Universitas Hasanuddin di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Kemudian penonton berbondong-bondong ke panggung utama untuk menyaksikan band lokal lainnya, Groundstroke yang menghajar audiens dengan sajian jazz-rock sarat distorsi. Susana memanas tatkala ketiga personil melaju kencang lewat solo instrumen gitar, bas, dan drum secara bergantian. Menarik ketika band ini memainkan “Spain” karya Chick Corea yang sound gitarnya justru mengarah ke heavy metal.

Selanjutnya adalah pendingin suasana dengan tampilnya band D’Exclusive lewat lagu-lagu yang sebetulnya masuk kategori Top 40 semisal “She Will Be Loved” besutan Maroon 5, tampak sesuai dengan profil band ini yang personilnya masih remaja.

Balawan di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Balawan di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Salah satu bintang tamu di hari pertama adalah I Wayan Balawan yang begitu memesona lewat permainan gitar setang ganda lengkap dengan teknik two-handed tapping andalannya. Malam itu adalah konser perdana Balawan di tanah Makassar, ia tampil bersama Ketut Tarmadi (bas) dan Dion Subiakto (drum) yang tergabung menjadi Balawan Trio. Mereka mengusung musik yang energik bergaya campuran jazz, fusion, rock, hingga etnik. Tak hanya Balawan seorang, Ketut dan Dion pun menampilkan atraksi solo penuh greget. Grup ini sangat menghibur audiens sewaktu Balawan menyanyikan nomor “What a Wonderful World” dengan serakan khas Louis Armstrong. Irama reggae menutup penampilan Balawan sembari ia melagukan “Waiting in Vain” milik Bob Marley secara ekspresif.

Mercy Dumais di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Mercy Dumais di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Denyut bossa nova dan samba terdengar meriah waktu Zarro mulai angkat suara. Penampilannya waktu itu diramaikan pula lewat suguhan Capoeira (kesenian khas Afro-Brazilian memadukan unsur bela diri, tarian, dan musik) yang sinkron dengan irama Zarro. Atmosfer semakin hangat terasa ketika vokal Mercy Dumais memenuhi ruang dengar audiens dengan interpretasi bossa yang mumpuni, khusunya selagi ia membawakan “Anging Mammiri” dan “Tristeza”. Sedang berulang tahun, ketua panitia Hendra Sinadia diminta naik ke atas panggung dan akhirnya ia menyanyikan “Girl From Ipanema”. Lumayan.

Zarro di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Zarro di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Penampil terakhir untuk hari pertama JFR adalah sebuah kelompok musik visioner, seperempat abad usia, Krakatau namanya.  Dengan line up terkini yaitu Dwiki Dharmawan (keyboards, synthesizer), Pra Budhi Dharma (bas), Adhe Rudyana (kendang), Yoyon Dharsono (tarompet, rebab, suling), Zainal Arifin (gamelan, perkusi), Gerry Herb (drum), dan Nyak Ina Raseuki alias Ubiet (vokal), grup tersebut mewarnai JFR 2010 lewat garapan musik yang mengawinkan eksotika bunyi-bunyian tradisional dengan elemen jazz modern. Irama rampak world beat meriah terdengar sedari awal penampilan mereka, vokal Ubiet yang singular menjadi sebuah fenomena waktu ia ambil bagian dalam lagu “Bunga Tembaga”, “Spirit of Peace”, maupun “Rhythm of Reformation”.

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Aksen pertunjukan adalah sewaktu Krakatau mengundang dua personil La’ Biri yang memainkan instrumen tradisional gambus makassar dan pui-pui (bentuknya seperti terompet berukuran kecil). Seluruh perhatian terpusat ketika terjadi “duel” tarompet dan pui-pui secara insidental, atraksi dialogis-improvisasional yang ditampilkan keduanya membuat penonton maupun penghuni panggung berdecak kagum sekaligus tergelak. Tidak ketinggalan, aksi duet maut Adhe dan Zainal menyuguhkan pukulan-pukulan kanonik di atas selaput tamborin. Segar, cerdas, dan menghibur.

Yoyon Dharsono memainkan Tarompet berinteraksi dengan instrumen Pui-Pui

Yoyon Dharsono memainkan Tarompet berinteraksi dengan instrumen Pui-Pui

2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010 siap digelar di Makassar

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010

2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010

Sebagai bagian komitmen untuk turut mengembangkan khasanah musik jazz di tanah air serta mendukung promosi pariwisata Indonesia, One Note Entertainment (unit dari PT. One Note Indonesia) akan menggelar “2nd Annual Jazz @Fort Rotterdam(JFR)” tanggal 31 Juli – 1 Agustus 2010 bertempat di Benteng Fort Rotterdam, Makassar. JFR direncanakan untuk menjadi acara festival jazz tahunan yang memberikan tawaran baru penyelenggaraan festival jazz di Indonesia.

JFR kali ini masih menggunakan 2 panggung yang akan diisi oleh pendukung acara secara bergantian. Ada sekitar 8 grup jazz dari luar Makassar yang diundang untuk hadir di JFR 2010, yaitu Krakatau Band, Barry Likumahuwa Project feat. Benny Likumahuwa, Oele Pattiselanno Trio, Idang Rasjidi & Friends with Cendy Luntungan, Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra feat. Dira & Ivan Nestorman, Nikita Dompas & His Fellow Musicians feat Andien, Zarro & Mercy serta Balawan Trio. Sementara grup band dari Makassar yang akan tampil yaitu La’Biri Band, Rizcky & the Strangers, Pakarena N Jazz, Dakochang Jazz Junior Band, Sky Project dll.

Guna mensosialisasikan keberadaan JFR, One Note telah melaksanakan beberapa rangkaian event baik di Makassar, Jakarta dan di mancanegara yaitu di Den Haag, Belanda. Sosialisasi JFR di Makassar pada tanggal 25 Februari 2010 di Hotel Clarion di meriahkan oleh grup 3 Dunia yang terdiri dari Idang Rasjidi-Fariz RM-Eddy Syahroni.

Selanjutnya One Note menggelar “Indro Hardjodikoro Feels Free Concert” di Erasmus Huis, Jakarta dengan menampilkan Indro Hardjodikoro Trio, Tohpati dan Oele Pattiselanno.

Setelah itu, promosi JFR dilaksanakan di ajang Tong Tong Fair 2010 di Den Haag, Belanda pada tanggal 21 Mei 2010 dengan menampilkan Tohpati – Ethnomission. Kegiatan di Belanda tersebut didukung oleh Direktorat Jenderal Pemasaran Kemenbudpar dalam rangka Visit Indonesia.

Pihak panitia mengharapkan sekitar 2,500 penonton bakal menghadiri perlehatan jazz terbesar di pulau Sulawesi ini. Harga tiket dipatok sebesar Rp. 100,000/ harian dan Rp. 180.000 untuk terusan (2 hari). Pembukaan JFR 2010 akan dilaksanakan tanggal 31 Juli 2010 pkl. 16:00 dengan menampilkan atraksi kesenian tradisional dan juga bakal dimeriahkan oleh Paduan Suara Mahasiswa Universitas Hasanuddin, Makassar. JFR akan berlangsung pukul 17:00 – hingga selesai.

Pelaksanaan JFR 2010 juga merupakan salah satu event yang turut mempromosikan Taman Nasional Komodo sebagai “New 7 Wonders”. Program ini didukung oleh pihak Direktorat Jenderal Pemasaran Kemenbudpar yang akan menampilkan Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra yang menggarap nomor khusus dengan menampilkan Ivan Nestorman dan Dira. Selain itu JFR 2010 didukung pula oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam rangka mempromosikan Visit Sulsel 2012 dan Pemerintah Kota Makassar dalam rangka Visit Makassar 2011. JFR 2010 juga didukung oleh Ikatan Keluarga Alumni Netherland (Ikaned).

Barry (Likumahuwa) Menggila di Putaran Kedua – Pra-Bekasi Jazz Festival 2010!

Tags: ,


Barry Likumahuwa

Barry Likumahuwa

“Gokil man, ini orang makanannya apa ya, bisa kayak gitu main bassnya?”, ujar seorang penonton meluapkan takjub atas manuver basis pentolan Barry Likumahuwa Project (BLP) malam itu. Penonton merangkap panitia tadi hanyalah salah satu dari ratusan pasang mata yang tersihir oleh ampuhnya performa BLP.

Acara tersebut adalah yang kedua dari empat rangkaian pre-event Bekasi Jazz Festival (BJF) 2010 pada tanggal 25 dan 26 September mendatang. Pihak penyelenggara memang menjadwalkan BLP sebagai bintang tamu di perhelatan bertajuk “Jazz on the Pool”, berlokasi di Teratai Swimming Pool, Hotel Horison Bekasi, Sabtu (5/6/2010). Uniknya, acara itu benar-benar berakhir pada hampir jam 11 malam, padahal menurut jadwal tertulis pukul 15.00 – 21.00 WIB. Hujan adalah alibi utama panitia mengapa panggung baru mulai on jam 6 sore, mundur selama 3 jam dari patokan waktu yang ditetapkan. Hal ini menyebabkan banyak pihak, terutama pengisi acara, mengeluh. Tapi untunglah segala keluhan itu terobati oleh hadirnya BLP dengan penampilan yang atraktif, enerjik, penuh spontanitas, dan pastinya menghibur.

Minat publik Bekasi terhadap jazz cukup besar, terlihat dari banyaknya pengunjung yang membanjiri venue, dan sebagian besar adalah kalangan remaja dengan beragam polahnya. Acara dibuka oleh penampilan Y2K Power Percussion, ansambel perkusi beranggotakan siswa/siswi sekolah musik Y2K Bekasi yang relatif masih belia. Mereka menyajikan musik instrumental dengan irama rampak lewat pukulan-pukulan bertenaga yang cukup menghangatkan suasana. Suguhan berikutnya datang dari band-band lolos audisi seperti D’GAV & Friends, Gum Gum Fruit, Confeito, The Soulmezation serta Galaxi Fussion yang rata-rata membawakan lagu pop beraransemen jazzy, atau lagu jazz easy listening dan sepertinya cocok dengan preferensi remaja penikmat jazz di Indonesia yang cenderung tak mau ambil pusing dengan genre jazz lainnya yang seringkali dicap sebagai “jazz berat”.

Barry Likumahuwa & Benny Likumahuwa

Barry Likumahuwa & Benny Likumahuwa

Performer lainnya adalah Y2K Sweet Voices, grup vokal yang digagas oleh Yoyok CR selaku ketua panitia BJF 2010. Terdiri dari enam pria dan lima wanita, kelompok ini melipur dengan lagu “No More Blues”, versi bahasa Inggris dari “Chega de Saudade”. Walikota Bekasi, Mochtar Mohamad, yang hadir malam itu turut menyumbang satu buah lagu, “Buka Hatimu” dari Armada Band diiringi oleh grup rock dengan personil empat wanita berbusana pinky, Delilah sembari memasarkan album perdana mereka. Pada hari yang sama, kota Bekasi meraih prestasi dengan mendapatkan piala Adipura. Salah satu highlight pertunjukan adalah ketika audiens dikejutkan dengan atraksi bocah berusia 7 tahun yang berdomisili di Bogor, Nathan Gulo lewat gebukan drumnya yang dahsyat namun kontras dengan profilnya yang menggemaskan.

Barry Likumahuwa

Barry Likumahuwa

Tak dapat dipungkiri bahwa magnet acara “Jazz on the Pool” adalah BLP, dengan Barry Likumahuwa selaku basis dan komandan. Alasan mengapa band ini begitu digandrungi oleh kalangan muda ialah kemasan yang menarik, terwujud melalui melodi catchy, beat funky, lirik yang menggambarkan kisah cinta remaja secara representatif, serta musikalitas antar personil yang sangat mumpuni. Di samping itu, kepiawaian Barry untuk memberikan ilustrasi naratif atas lagu yang dibawakan juga patut dipuji, dengan gaya santai dan candaan segar membuat penggemarnya langsung jatuh hati. “Sekarang gue mau undang ke atas panggung, seorang musisi jazz senior Indonesia dan gue biasa makan satu meja bareng dia. So guys, please welcome, Benny Likumahuwa!”, ucap Barry memanggil ayahnya untuk jam session bersama BLP. Bersenjatakan trombone sebagai instrumen andalannya, Benny tak sedikitpun canggung untuk melancarkan aksinya yang memikat. Sebagian besar penonton sepertinya sudah sangat akrab dengan lagu-lagu BLP, terdengar mereka kompak menyanyikan lirik ketika sang vokalis, Matthew Sayersz mulai angkat suara pada tembang “Saat Kau Milikku”, “Aku & Hadirmu”, serta “Mati Saja”. Suasana semakin memanas waktu Nathan Gulo dan Benny Likumahuwa kembali naik ke atas panggung, bersama BLP mengusung “Chameleon” milik Herbie Hancock, sarat dengan irama funk yang menghentak.

Secara keseluruhan, acara malam itu cukup memuaskan. Tiket yang terjual habis dan maraknya aksi band-band yang tampil lewat olah kreatifitas yang afiat, dapat menjadi indikasi bahwa kota Bekasi tidak ketinggalan dalam kancah jazz di tanah air. Salah satu hal yang mengganggu adalah soal tata suara, terasa timpang dan menusuk tajam di telinga serta mengurangi kenyamanan auditori. Semoga pada putaran ketiga Juli mendatang (Yovie Widianto Fusion Band dan Idang Rasjidi Hip Hop sebagai bintang tamu), panitia lebih kapabel untuk mempersiapkan segala aspek. Maju terus jazz Indonesia!

Sambut Dies Natalis ke 60, UGM Jazz undang Indra Lesmana, Budjana dan sederet bintang Jazz Indonesia

Tags: , , , , , , , , ,


UGM Mandiri Jazz 2009 - Tampilkan Java Jazz dll

UGM Mandiri Jazz 2009 - Tampilkan Java Jazz dll

Menyambut Dies Natalis ke 60, UGM Jazz Digelar Dua Kali Setahun!

Tahun ini benar-benar menjadi tahun extravaganza jazz bagi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Betapa tidak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, konser tahunan UGM Jazz tahun ini digelar sampai dua kali, sehingga menjadi event semesteran. Sesudah sukses menggelar UGM Jazz pada 23 Mei 2009 silam—yang antara lain menampilkan Balawan, Ireng & Kiboud Maulana serta Maylaffayza—kali ini UGM masih menyisakan satu lagi konser jazz untuk memuncaki perayaan hari jadinya yang ke-60, yang jatuh pada 19 Desember 2009.

Inilah konser jazz ke-12 UGM Jazz. Bila konser ini juga mendapat sambutan besar sebagaimana konser-konser sebelumnya, sangat mungkin tradisi menyelenggarakan konser jazz akbar semesteran akan dilanjutkan tahun depan. Kalau ini terjadi, maka UGM boleh mencatatkan diri sebagai satu-satunya kampus yang paling getol menggelar jazz dengan frekuensi setahun tersering.

Konser yang disponsori Bank Mandiri ini diberi nama UGM-Mandiri Jazz 2009 ini akan digelar pada Selasa, 15 Desember 2009, di Grha Sabha Pramana, Kampus UGM, Bulaksumur, Yogyakarta. Selain sebagai puncak peringatan Dies Natalis, konser ini juga dimaksudkan sebagai kelanjutan dari konser-konser UGM Jazz sebelumnya yang selalu mencatat sukses besar. UGM Jazz selalu mampu menyedot 4.000 penonton (sesuai kapasitas Grha Sabha Pramana), dan bahkan mempunyai tradisi tiket terjual habis (sold out) sejak beberapa hari sebelum hari ”H”.

Untuk mengejar target sold out secepat mungkin, kali ini panitia tidak tanggung-tanggung menghadirkan kembali grup jazz super yang sudah lama vakum, yakni Java Jazz. Tampaknya, strategi panitia memilih Java Jazz sangat jitu. Karena Java Jazz adalah grup besar yang pernah amat berjaya pada paruh pertama dasawarsa 1990-an, sebelum kemudian para anggotanya sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Dedengkot grup ini adalah ”bocah ajaib” yang amat bertalenta sejak berusia bocah, yakni Indra Lesmana. Dalam dua bulan terakhir ini, ia berinisiatif membangkitkan kembali grup besar ini melalui latihan secara intens. Sebelum manggung di Yogyakarta, Java Jazz lebih dulu direncanakan melakukan re-launching dengan menerbitkan album terbarunya, pada Kamis, 10 Desember 2009, di Jakarta. Karena itu, event akbar UGM-Mandiri Jazz 2009—yang kini kian mantap eksistensinya dalam peta dan agenda jazz di tanah air—akan dijadikan momentum penting kebangkitan kembali Java Jazz.

Setelah meninggalnya peniup sax andal almarhum Embong Rahardjo, Java Jazz mengalami sedikit perubahan formasi, menjadi: Indra Lesmana (keyboards, grand piano), Dewa Budjana (guitar), Gilang Ramadhan (drums), Donny Suhendra (guitar), dan Ananda Mates (bass). Semua personalnya adalah talenta-talenta jazz terbaik di negeri ini. Di UGM-Mandiri Jazz, grup Java Jazz akan tampil di babak kedua. Yang juga menarik, sebelum Java Jazz tampil, Syaharani akan mengawali penampilan kembali grup super ini. Java Jazz direncanakan membawakan kombinasi antara lagu-lagu lama (hit mereka yang paling dikenang adalah Bulan Di Atas Asia) serta sejumlah lagu baru.

Selain grup Java Jazz, konser UGM-Mandiri Jazz 2009 juga akan menampilkan generasi jazz baru yang tengah naik daun, yakni Barry Likumahuwa Project. Barry adalah pemain bass yang bertalenta tinggi, yang musiknya dapat disambut baik oleh para penonton muda usia. Penampilan kelompok ini akan dibantu oleh ayahanda Barry, yaitu musisi senior serba bisa yang akan meniup trombone, yakni Benny Likumahuwa. Selain memainkan nomor-nomor instrumental, kelompok ini juga akan mendampingi penyanyi jenis R & B, Ello, yang diantaranya akan melantunkan lagu andalannya, Pergi Untuk Kembali, ciptaan ayahandanya, Minggus Tahitoe. Selain Ello, penyanyi senior Bertha juga akan meramaikan konser besar yang formatnya menyerupai ”semi festival” ini.

Pihak UGM juga secara khusus mengundang Farhan dan Sarah Sechan untuk memandu perhelatan yang diperkirakan bakal menghebohkan Yogyakarta ini. Para pecandu jazz bisa mereservasi tiketnya di WartaJazz.com Jogja dengan menghubungi telepon 0274-512561 atau 0812-2701719 atau email ke info@wartajazz.net

Tiket sengaja disediakan bervariasi, mulai Rp 25 ribu, Rp 40 ribu, Rp 75 ribu, Rp 150 ribu dan Rp 200 ribu, untuk mengakomodasi semua lapisan komunitas UGM Jazz, yang dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan soliditas dan loyalitas yang tinggi, yang dibuktikan dengan selalu sold out-nya pesta jazz terbesar dan paling konsisten di luar Jakarta ini.

Jazz for West Java, bentuk kepedulian musisi jazz Indonesia pada gempa Jawa Barat

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,


logo jazz for westjavaTak pernah ada yang berharap musibah datang, termasuk para korban gempa  berkekuatan 7.3 skala Richter di Jawa Barat yang getarannya terasa mulai dari Jakarta hingga Bali.

Berangkat dari kepedulian para insan Jazz Indonesia, maka akan digelar konser Jazz for West Java sebagai wujud dari nyata kegiatan untuk menggalang dana, mengumpulkan donasi guna membantu saudara-saudara kita yang mengalami musibah gempa di Jawa Barat.

Kegiatan ini merupakan persembahan dan hasil kerjasama Dewan Kesenian Jakarta, Simpay Wargi Urang, WartaJazz.com, Palang Merah Indonesia dan Farabi Music.

“Insya Allah seperti halnya kepedulian kita pada korban Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta, kali ini kita menggelar konser amal untuk para korban gempa Jawa Barat”, demikian diungkapkan Dwiki Dharmawan pengagas acara saat melakukan pertemuan koordinasi panitia konser Jazz for West Java bersama Adang Daradjatun dari Simpay Wargi Urang, Muhammad Thoriq dari Palang Merah Indonesia, Agus Setiawan Basuni dari WartaJazz.com, Gideon Momongan dari Indiejazz Inc.

poster westjava web

Acara akan digelar pada hari Minggu, 13 September 2009 mulai pukul 19.00 wib hingga 23.00 wib bertempat di Graha Bakti Budaya – Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikin Raya 73 Jakarta Pusat. Anda yang tertarik menonton dan beramal, undangan sebesar IDR 100.000,- dapat diperoleh dengan menghubungi salah satu nomor telepon berikut:

DKJ 021-39899634 / 3162780 Ranti
Farabi Music 021-7226270 / 7224407 Dina
WartaJazz.com 021-8310769 Dewi
PMI 021-32084400 Indah / Winda
Simpay Wargi Urang 3100551 Yane

Para musisi jazz Indnesia yang berkenan hadir hingga berita ini diturunkan antara lain Benny Likumahuwa, Krakatau, B3, Rio Febrian, Dwiki Dharmawan, Fariz RM, Maya Hasan, Tompi, Idang Rasjidi, Andien, Budjana-Tohpati, World Peace Orchestra, Agam Hamzah,Adi Darmawan, Kulkul, Donny  Suhendra, Riza Arshad, Bintang Indrianto, Arief Setiadi, Yance Manusama, Tere, ES.QI.EF,Totong Wisaksono, Gerry Herb, Audiensi Band, Otti Jamalus Quartet, Clorophyl D’next Generation, Tompi, Yeppi Romero, Erik Sondhy, Barry Likumahuwa Project, Jilly Likumahuwa,Mahagenta, Oppie Andaresta, Bram,Aldhi,Gerald Trio, Notturno, Rio Moreno, SOL Project, Vodka, Ryo The Malay.
Farhan dan Denny P-Project akan bertindak selaku MC atau pembawa acara.

Selain itu panitia juga merilis merchandise khusus edisi Jazz for West Java dengan harga sebesar IDR 100.000,- (seratus ribu rupiah) dan tersedia dalam ukuran XXS, S, M, L, XL, 3L dan 4L. Anda bisa mengontak info@wartajazz.net untuk pembelian merchandise Jazz for West Java ini.

Jazz for West Java-031 - Maroon

Jazz for West Java-031 - Maroon

westjava-031 - white

Jazz for West Java-031 - white

westjava-031 - black

Jazz for West Java-031 - black


I can’t stand to sing the same song the same way two nights in succession. If you can, then it ain’t music, it’s close order drill, or exercise or yodeling or something, not music. — Billie Holiday


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<