Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "big band"

The King’s Singers & WDR Big Band – J.S. Bach: Christmas Oratorio

Tags: , , , ,


Album: J.S. Bach: Christmas Oratorio
Label: Signum Classics, 2010

Disc 1:
01. Chor. Jauchzet, frohlocket!
02. Rezitativ. Es begab sich aber zu der Zeit
03. Arie. Bereite dich, Zion
04. Rezitativ. Und sie gebar
05. Choral. Ach, mein herzliebes Jesulein!
06. Rezitativ. Und es waren Hirten
07. Rezitativ. Und der Engel sprach
08. Arie. Frohe Hirten, eilt, ach eilet
09. Rezitativ. Und das habt zum Zeichen
10. Arie. Schlafe, mein Liebster
11. Rezitativ. Und da der Engel von ihnen gen Himmel
12. Chor. Lasset uns nun gehen gen Bethlehem
13. Rezitativ. Und sie kamen eilend und funden beid
14. Arie. Schließe, mein Herz
15. Rezitativ. Und die Hirten kehrten wieder um
16. Choral. Seid froh dieweil
17. Chor. Herrscher des Himmels, erhöre das Lallen

Disc 2:
01. Chor. Fallt mit Danken, fallt mit Loben
02. Rezitativ. Und da acht Tage um waren
03. Rezitativ mit Choral Rezitativ. Wohlan! dein Name
04. Arie. Ich will nur dir zu Ehren leben
05. Rezitativ. Da Jesus geboren war
06. Chor mit Rezitativ. Wo ist der neugeborne König
07. Choral. Dein Glanz all Finsternis verzehrt
08. Arie. Erleucht auch meine finstre Sinnen
09. Rezitativ. Da das der König Herodes hörte
10. Rezitativ. Warum wollt ihr erschrecken?
11. Rezitativ. Und ließ versammlen alle Hohenpriester
12. Rezitativ. Du Falscher, suche nur den Herrn zu fallen
13. Arie. Nur ein Wink von seinen HĂ€nden
14. Rezitativ. Als sie nun den König gehöret hatten
15. Rezitativ. Und Gott befahl ihnen im Traum
16. Rezitativ. So geht! Genug
17. Rezitativ. Was will der Höllen Schrecken
18. Choral. Nun seid ihr wohl gerochen

The King’s Singers & WDR Big Band - J.S. Bach: Christmas Oratorio

The King’s Singers & WDR Big Band - J.S. Bach: Christmas Oratorio

The Christmas Oratorio, atau dalam bahasa asli Weihnachts-Oratorium (BWV 264), merupakan salah satu mahakarya era Barok, digubah oleh J.S. Bach di tahun 1734. Terdiri atas enam bagian, komposisi ini begitu panjang dan kompleks, pun kerap ditampilkan untuk memaknai perayaan Natal berdasarkan teks Kitab Suci.

Kalau  lazimnya oratorio tersebut dimainkan secara tradisi musik klasik, khususnya era Barok, lewat orkestra lengkap dan koor, maka di album ini pendekatan berbeda dilakukan oleh Bill Dobbins selaku kondakter dan pengaransir. Ia mengolah idiom-idiom jazz ke dalam oratorio ini, dengan tetap berpegang pada transkrip asli untuk seksi vokal. Proyek besar ini mengawinkan dua grup performer yang memiliki pencapaian artistik luhur; The King’s Singers dan Westdeutschen Rundfunks (WDR) Big Band.

Menariknya, fakta sejarah menunjukkan bahwa hubungan jazz dan musik Barok bertitik temu pada sebuah elemen penting, yaitu improvisasi. Hal itulah yang menjadi platform pada garapan album ini, sonoritas vokal para personil The King’s Singers berpadu dengan sound jazz Eropa milik WDR Big Band. Semua terkemas dalam keping ganda rekaman konser live pada Kölner Philharmonie.

Trek pertama “Jauchzet, frohlocket!” merupakan sebuah fanfare penuh energi, meliputi sinkopasi pula olah vokal kanonik. Selanjutnya adalah interaksi menarik dalam berbagai preferensi; vokal resitatif, kemeriahan big band, swing, hingga infusi irama jazz Latin. Simak goyangan “Lasset uns nun gehen gen Bethlehem” ataupun choral tanpa iringan pada “Seid froh dieweil” yang syahdu.

Solo flute alto dan trombon ekstensif warnai alunan “Fallt mit Danken, fallt mit Loben,” berlanjut ramainya tekstur musikal kontrapungtis dalam “Ich will nur dir zu Ehren leben.” Ayunan bossa kentara sekali pada “Erleucht auch meine finstre Sinnen” termasuk solo vokal (bas) bersama klarinet bas dan flugelhorn yang sensual. Dengarkan juga countertenor melagukan “Nur ein Wink von seinen HĂ€nden” berselang solo piano memikat.

Akhir pertunjukan ada di nomor “Nun seid ihr wohl gerochen” bergeliat samba, dengan selipan woodwind penuh intrik.Tampak pula aksen berupa atraksi tunggal drum menjelang birama konklusi.

Musisi

The King’s Singers:
David Hurley: countertenor
Timothy Wayne-Wright: countertenor
Paul Phoenix: tenor
Philip Lawson: bariton
Christopher Gabbitas: bariton
Stephen Connolly: bas

Westdeutschen Rundfunks (WDR) Big Band
Bill Dobbins: kondakter, arranger

Mahawaditra, Big Band-nya anak UI

Tags: ,


Liputan konser Big Band Mahawaditra, Auditorium RRI Jakarta, 15 Oktober 2011.

Penantian selama 11 tahun itu akhirnya terwujud, dengan digelarnya pagelaran bertajuk “Orkes Simfoni UI Mahawaditra Presents Big Band Concert 2011,” bertempat di Auditorium Gedung Radio Republik Indonesia, Jakarta, Sabtu malam lalu (15/10). Singkat cerita, big band ini terbentuk dari brass section (seksi tiup logam) Orkes Simfoni Universitas Indonesia – OSUI Mahawaditra. Sebagai bandleader merangkap pelatih pula kondakter ialah Irianto Suwondo yang kerap disapa “Mas Bagong.”

Big Band Mahawaditra

Big Band Mahawaditra

Dimulai lepas pukul setengah delapan malam, konser dibuka dengan kata sambutan Prof. Budi Susilo Soepandji selaku Pembina serta ketua Rifky Ferdiansyah. Sebelum menampilkan nomor-nomor bernuansa jazz, Big Band Mahawaditra membawakan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang dinyanyikan oleh segenap hadirin sambil berdiri. Berlanjut ”Bangun Pemudi – Pemuda” gubahan Alfred Simanjuntak, untuk menyambut peringatan hari Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober.

Kedua lagu tersebut dimainkan cukup baik, namun terasa kurang berenergi, mengingat lagu – lagu itu seharusnya mampu untuk membakar semangat. Masih ada kendala teknis para pemain yang membuat ramuan bunyi terasa timpang. Namun pada nomor ketiga “Ondel – Ondel” karangan Benyamin Sueb, kemeriahan mulai hadir berkat aransemen Singgih Sanjaya serta rampak irama kendang Imam Firmansyah yang membuat badan bergoyang.

The Professor Band

The Professor Band

Big Band Mahawaditra menyajikan pula “Looking Through the Eyes of Love,” juga “Ebony and Ivory” dari Paul McCartney. Makin seru ketika bintang tamu The Professor Band, sesuai namanya berisikan para guru besar UI yang hobi bermain musik. Denyut bossa nova dihadirkan lewat “Girl from Ipanema” dengan introduksi mengutip “O Pato” kemudian beralih samba atas lagu “Quando Quando.” Sajian lain adalah beat hip-hop pun R&B dalam “Price Tag.” Ada pula “Desafinado” milik Antonio Carlos Jobim, “Can’t Take My Eyes Off You,” serta lagu jazz standar “Autumn Leaves” yang kembali menyertakan tepukan kendang rancak. Konser berakhir jam sembilan malam.

Sebuah upaya yang patut diacungi jempol, untuk menampilkan sebuah big band yang terbilang jarang digarap di tanah air. Tetapi, namanya big band, pastilah tantangannya lebih besar dari pada band biasa. Untuk itu perlu perhatian dan energi ekstra supaya mendapat hasil optimal. Acara berlangsung tertib, namun agak terganggu oleh pemandu acara yang cenderung kaku dan kurang komunikatif. Semoga pada konser berikutnya akan lebih baik lagi dan semakin marak. Salut!

Christian McBride Big Band – The Good Feeling

Tags: ,


Album: The Good Feeling
Label: Mack Avenue Records, 2011

01. Shake ‘n Blake
02. Broadway
03. Brother Mister
04. When I Fall in Love
05. Science Fiction
06. The Shade of the Cedar Tree
07. The More I See You
08. I Should Care
09. A Taste of Honey
10. Bluesin’ in Alphabet City
11. In a Hurry

Christian McBride Big Band - The Good Feeling

Christian McBride Big Band - The Good Feeling

Salah satu kontrabasis tersibuk di dunia, Christian McBride, di antara banyak proyek sebagai sideman pun session player, kini menjelma seorang komandan untuk album perdana dirinya menjadi bandleader – The Good Feeling. Bermain kontrabas merangkap arranger pula kondakter atas Christian McBride Big Band, ia menyajikan sebelas trek bernafaskan straight-ahead dengan enam gubahan orisinil di dalamnya. Ini adalah impiannya sejak lama untuk memperbesar detil olahan musiknya lewat garapan big band.

Tidak melulu swing, Chris menampilkan versatilitas permainannya yang tak perlu diragukan lagi, berikut aransemen memikat jauh dari kesan monoton. Ia menyertakan pula kawan mainnya dalam format lebih kecil; saksofonis Steve Wilson dan Ron Blake, juga pemain trombon Steve Davis di antaranya.

Trek pembuka “Shake ‘n Blake” melaju dalam denyut swing, disertai solo saksofon, trombon, pun selipan melodi oleh kontrabas yang digarap secara ekstensif di nomor “Bluesin’ in Alphabet City.” Line groovy bernuansa soul dapat dirasakan pada “Brother Mister,” sedangkan Ron Blake menggila dalam riuhnya “The Shade of the Cedar Tree.”

Penyanyi Melissa Walker menghadiahkan suara lembutnya dalam lagu ballad “When I Fall in Love,” “The More I See You,” juga nomor bertempo agak cepat “A Taste of Honey.” Sebagai komposer, Chris unjuk kebolehan lewat trek berdurasi hampir dua belas menit, “Science Fiction.” Komposisi yang programatis, dengan metrik ritme fluktuatif terselip tendensi serialisme layaknya sebuah musik film.

Album ini dituntaskan oleh trek berkecepatan tinggi dan aksi kejar-kejaran, sesuai judulnya, “In a Hurry.” Laju bebop meliputi pertukaran solo trumpet, trombon, serta Chris yang mencuri perhatian waktu menggesek kontrabasnya. Drummer Ulysses Owens, Jr. tak mau ketinggalan, ia turut beraksi tunggal dengan pukulan maut sebelum diakhiri sesi tanya-jawab unison sebagai konklusi.

McB rocks!

Musisi

Christian McBride: kontrabas, kondakter

Steve Willson, Todd Bashore: saksofon alto, flute
Ron Blake, Todd Williams: saksofon sopran & tenor, flute
Loren Schoenberg: saksofon tenor (trek 2 & 8.)
Carl Maraghi: saksofon bariton, klarinet bas
Frank Greene, Freddie Hendrix, Nicholas Payton, Nabati Isles: trumpet
Steve Davis, Michael Dease, James Burton: trombon
Douglas Purviance: trombon bas

Xavier Davis: piano
Ulysses Owens, Jr.: drum
Melissa Walker: vokal

Saksikan Big Band Concert OSUI Mahawaditra 2011 di RRI

Tags:


Untuk kali perdana, Orkes Simfoni Universitas Indonesia (OSUI) mengadakan Big Band Concert yang menampilkan ensemble Brass dan Combo dari OSUI Mahawaditra sendiri. Konser ini sendiri merupakan konser yang sudah diimpikan selama 11 tahun oleh pelatih sekaligus conductor Brass OSUI Mahawaditra, Mas Irianto Suwondo, atau yang akrab disapa Mas Bagong.

Dalam konser ini, Big Band Mahawaditra akan membawakan lagu-lagu jazz yang cukup familiar seperti Autumn Leaves (Frank Sinatra), Ebony & Ivory (Paul McCartney), dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, Mahawaditra juga tidak melupakan unsur kebudayaan Indonesia sendiri, dengan membawakan juga lagu Ondel-Ondel yang penuh kejutan. Tidak lupa, dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober setelahnya, Big Band Mahawaditra juga akan membawakan lagu Bangun Pemudi Pemuda.

Selain penampilan dari Big Band Mahawaditra, pada konser ini juga akan tampil The Professor Band. The Professor Band merupakan band yang terdiri dari para professor UI yang memiliki kesamaan hobi, yaitu bermain musik, terutama musik jazz. Tidak hanya penampilan The Professor Band sendiri, nantinya The Professor Band akan berkolaborasi dengan mahasiswa UI yang tergabung dalam Big Band Mahawaditra tentunya.

Big Band Concert Mahawaditra ini akan diadakan pada hari Sabtu, 15 Oktober 2011 di Auditorium LPP Radio Republik Indonesia (RRI), Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 4-5 pukul 19.30. Untuk pemesanan tiket dapat menghubungi Mia (081381198657) atau Tamiya (085697993004).

Acara Big Band Concert Mahawaditra mengambil tempat di auditorium RRI  Jalan Medan Merdeka Barat No. 4-5
Hari Sabtu, 15 Oktober 2011 mulai : 19.30 WIB. Untuk informasi & pemesanan tiket silakan menghubungi Mia (081381198657) dan  Tamiya (085697993004).

Dieter Mack di 5th Anniversary Salamander Big Band 2011

Tags: , ,


Ulang tahun ke 3 Salamander Big Band di Bandung - photo by Kika Assaf

Untuk merayakan ulang tahun kelima Salamander, Goethe-Institut mengorganisir sebuah lokakarya dan dua konser serta mengundang seorang komposer Jerman Prof. Dieter Mack untuk bekerja sama dengan mereka. Margie Segers akan tampil sebagai vokalis tamu dalam kedua konser yang telah direncanakan.Acara ini adalah bagian dari inisiatif “Budaya dan Pengembangan” yang dimulai oleh Goethe-Institut pada 2009. Inisiatif ini bertujuan untuk menyediakan program-program yang memberikan kualifikasi profesional, mendukung pembentukan jejaring kerja dan menciptakan wadah sosial budaya di tingkat regional.

Salamander Big Band didirikan pada 17 September 2006 oleh beberapa musisi muda di Bandung. Mereka berlatih regular dan telah tampil di berbagai konser dan festival besar di Indonesia antara lain Java Jazz and Jakjazz. Salamander Big Band juga telah berkolaborasi dengan musisi-musisi senior Indonesia seperti Sam Bimbo, Gilang Ramadhan, Benny Likumahuwa, Trisno, Bertha dan Margie Segers.
Konser Ulang Tahun Kelima Salamander Big Band 2011 dengan Konduktor Dieter Mack akan diselenggarakan pada 21 September 2011, 19:30 WIB bertempat di BP Bumi Sangkuriang – Jl. Kiputih 12, Bandung dan 22 September 2011, 19:30 WIB bertempat di GoetheHaus Jl. Sam Ratulangi 9-15, Jakarta 10350.
Anda yang tertarik menonton bisa mendapatkan informasi dan reservasi dengan menghubungi nomor 081572930088 (Bandung) dan 021-23550208 ext. 116 & 147 (Jakarta).

Anat Cohen (& The Anzic Orchestra) – Noir

Tags: , , , ,


Album: Noir
Label: Anzic Records, 2007

01. La Comparsa
02. No Moon at All
03. Carnaval de SĂŁo Vicente
04. Do It
05. Cry Me a River
06. You Never Told Me That You Care
07. Medley: Samba de Orfeu/Struttin’ with Some Barbeque
08. Cry
09. BebĂȘ
10. IngĂȘnuo

Anat Cohen & The Anzic Orchestra - Noir

Anat Cohen & The Anzic Orchestra - Noir

Noir adalah bahasa Perancis untuk hitam, gelap, kelam, suram, dan apapun itu sebagai antonim “terang”. Dalam ranah perfilman, dikenal istilah film noir untuk menggambarkan suatu film yang muram, baik dari segi alur cerita maupun visualnya (sinematografi), terutama ditujukan kepada film-film Hollywood era 1940-60an dengan tema “kelam” semisal Citizen Kane (1941) dan D.O.A (1955). Namun tidak demikian halnya dengan album Noir milik klarinetis-saksofonis Anat Cohen ini, alih-alih menyajikan musik yang melulu suram dan depresif, ia bersama big band berlabel Anzic Orchestra justru tampil bercahaya dan cemerlang – dalam menafsirkan “gelap” (noir).

Di dalamnya, bisa disimak ragam acuan gaya musik; straight-ahead big band, swing, bebop, samba, klezmer, ataupun Afro-Cuban. Geliat album ini terasa pulen berkat dukungan pemain-pemain handal, pun aransemen memikat dari Oded Lev-Ari. Simaklah nomor pembuka “La Comparsa” gubahan komposer Kuba Ernesto Lecuona, penggunaan cello pada bagian introduksi terdengar seperti “Habanera” (dari opera Carmen, Georges Bizet) ataupun “Aria” (Bachianas Brasileiras No. 5, Heitor Villa-Lobos) kemudian tema indahnya ditiupkan Anat dengan klarinet. Seperti sebuah penggalan soundtrack film berlatar Kuba, melankolis namun sekaligus bergairah. Tak hanya klarinet, Anat juga sama hebatnya waktu menghembuskan saksofon tenor, nampak pada trek “No Moon At All”, ballad “You Never Told Me That You Care”, “Do It” yang penuh aksentuasi bebop, serta denyut samba dalam “BebĂȘ”.

Sebuah trek berjudul “Cry” kepunyaan crooner Johnnie Ray (1927-1990) turut dibawakan Anat lewat permainan saksofon alto, penuh kesan mellow dan nelangsa. Jika ingin hanyut dalam hembusan saksofon sopran, carilah trek medley “Samba de Orfeu/Struttin’ With Some Barbeque”, bergaya samba pada awalnya kemudian berubah menjadi gairah festival khas New Orleans. Interpretasi menarik dengan aransemen atraktif rhythm section dan solo klarinet terdapat di nomor standar “Cry Me a River” berlogat swing, serta “Carnaval de SĂŁo Vicente” dan penutup “IngĂȘnuo” yang agak melankolis, puncaknya adalah waktu terjadi interaksi antara klarinet, cello, trumpet, dan gitar. Album ini sungguh memesona!

Musisi pendukung:

Anat Cohen: clarinet, saksofon sopran/alto/tenor
Oded Lev-Ari: aransemen, konduktor
Ted Nash: saksofon sopran/alto, flute
Billy Drewes: saksofon tenor, klarinet
Scott Robinson: saksofon bariton, klarinet bas
Yuval Cohen: saksofon sopran (trek 7)
Avishai Cohen: trumpet, flugelhorn
Frank Greene: trumpet, flugelhorn
Tanya Darby: trumpet, flugelhorn
Deborah Weisz: trombon
Yonatan Voltzok: trombon
Guilherme Monteiro: gitar
Barak Mori: kontrabasas
Ali Jackson, Jr.: drum (trek 2,4,5,6,8)
Antonio Sanchez: drum (trek 1,3,7,10)
Duduka Da Fonseca: drum (trek 9), perkusi (trek 3&7)
ZĂ© MaurĂ­cio: perkusi
Erik Friedlander: cello
Robert Burkhart: cello
Greg Heffernan: cello

Konser tengah tahun Salamander Big Band di Bandung

Tags: ,


Dalam sejarah republik ini tak banyak grup big band bertahan. Pertama barangkali karena mengumpulkan sekian banyak orang dengan beragam instrumen sudah merupakan pekerjaan tersendiri, belum lagi karena ini big band, berbeda dengan kelompok kecil berformat trio atau quartet apalagi duet. Kedua, ada pandangan stereotip bahwa big band pada umumnya membawakan karya ‘usang’ tahun 30-an saat genre ini berjaya.

Meski tak berusaha menjawab berbagai pernyataan atau pertanyaan diatas, Devy Ferdianto, konduktor Salamander Big Band yang memiliki home-base di kota kembang Bandung mengatakan, “[meski] pemahaman beberapa media menganggap kita cuman swing band yang bawa repertoire tahun 30an, padahal gak juga, kita cuma mau menekankan bahwa big band sekontemporer apapun tetep mesti ada pakem”, ujarnya lewat jendela chat Facebook.

Poster Salamander Mid Year Concert 2009

Poster Salamander Mid Year Concert 2009

Ya, mesti ada pakem maksudnya tetap berakar pada sejarah bagaimana jazz atau big band bermula, agar tak menjadi salah kaprah – namun ada upaya menggarap unsur kekinian misalnya dengan lagu Tokecang yang dibuat dengan nuansa kontemporer bersama drummer Gilang Ramadhan di tahun 2007 silam. “kami dibilang konservatif tapi sebenarnya kami banyak membawakan reportoire big band modern”, tambah Devy lagi.

Namun lepas dari apapun pandangan publik, Devy dan Salamander Big Band-nya akan menggarap sebuah konser tengah tahun dengan tajuk Salamander Big Band  – Mid Year Concert hasil kerjasamanya dengan BP Bumi Sangkuriang dan Radio Mara serta didukung WartaJazz.com

Acara tanpa tiket masuk alias gratis ini akan digelar Rabu, 17 Juni 2009 mulai pukul 19.00 waktu Bandung dan sekitarnya.

***

Siapa saja yang akan tampil dibawah bendera Salamander Big Band?. Berikut ini daftar lengkapnya.

Saxophones:
Alfred Dicky Dixon Ampouw (alto), Joseph Sinaga (alto), Zein Arfah (tenor), Boyke (tenor), Erik Novriansyah Chandra (tenor), Bonny Buntoro (baritone)

Trumpetes:
Brury Effendy, Oki Dirgualam, Andri Hadiyono, Issa Tennan Raharjo, Budi Agus Siswanto, Julianus Andreas

Trombones:
Andriyanto Haryanto, Agus Suherman, Azis, Arief Budhyana

Rhythm:
Astri Rosalin, Rika Andriyani (Piano/Keyboard/Accordeon)
Edward Prasetya (Guitar)
Rudy Zulkarnaen (Contra Bass)
Ari Firman (Elektrik Bass)
Augustinus (Drums)
Henky Supardjan (Drums)

Vocals:
Nenden Syintawati (Vocal)
Imelda Rosalin (Vocal)
Gail Satiawaki (Vocal)

Devy Ferdianto (Conductor)


There are four qualities essential to a great jazzman. They are taste, courage, individuality, and irreverence. These are the qualities I want to retain in my music — Stan Getz


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<