Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "Boyke Priyo Utomo"

Ratusan Simpatisan FPI Merazia GoetheHaus!

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Laporan Dari Serambi Jazz Edisi Agustus 2010 – Mery Kasiman Project.

Judul di atas tercetus gara-gara Deny Sakrie berulah pada Serambi Jazz malam Jumat lalu (12/8). Berdinas sebagai MC, ia menjuluki hadirin dengan sebutan FPI (Front Penikmat Improvisasi – red.) yang kontan membuat penonton terpingkal. Alih-alih melakukan penggeledahan secara rambang dan destruktif, FPI imbangan malam itu “merazia” dengan cara berbeda; duduk manis, mengangguk-angguk ikuti irama, serta bertepuk tangan seusai tiap lagu dimainkan. Adalah Mery Kasiman beserta belasan kroni tergabung dalam Mery Kasiman Project yang berperan selaku pengisi acara.

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Sudah sepatutnya publik jazz tanah air mencintai Mery. Bagaimana tidak, pianis-komposer-arranger jebolan Program Master Institut Musik Daya ini punya talenta luar biasa dalam urusan musik. Terlebih, wanita kelahiran Jakarta 28 tahun silam tersebut berani untuk menyambung kiprah pada ranah big band, yang di Indonesia jarang tersentuh bahkan oleh kaum adam sekalipun. Selain itu, Mery juga menuangkan bakatnya di teritori musik film, dengan menjadi copyist dan orkestrator bersama Aksan dan Titi Sjuman.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Konser malam itu terbagi menjadi dua sesi tanpa jeda, dengan repertoar lima komposisi orisinil Mery pada bagian pertama kemudian berlanjut empat aransemen buah musik John Coltrane dan Thelonious Monk. Regu yang dikomandani Mery merupakan konstelasi musikus-musikus berbakat tanah air, untuk seksi tiup ia menggandeng Harmoniadi dan Wisnu Fajar (trumpet), Enggar Widodo dan Widiyekso (trombone), Boyke Priyo Utomo (saksofon tenor, flute), Arief Setiadi (saksofon tenor), dan Eugen Bounty (saksofon alto, klarinet). Sementara pada rhythm section tampak Ali Akbar Sugiri (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Sandy Winarta (drum). Sesi kedua dimeriahkan oleh Riza Arshad (piano, akordeon), Barry Likumahuwa (bas elektrik), dan Dewa Budjana (gitar).  Mungkin inilah alasan mengapa ruangan GoetheHaus begitu sesak, kursi terisi penuh dan bahkan beberapa harus berdiri memenuhi anak tangga pada kedua sisi gedung. Faktor lainnya adalah pertunjukan tersebut gratis adanya.

Acara dimulai dengan komposisi “Floating” lewat introduksi denting piano Ali Akbar memberi kesan sejuk sebelum hembusan tema oleh klarinet memecah ambang kesunyian. Dihiasi pula solo kontrabas mengambil alih kerenggangan harmoni brass section yang mengalun lembut. Arief Setiadi menampilkan aksi solo pada nomor kedua, “Down By The River” yang ditimpali permainan flute Boyke. Sepintas, gaya komposisi Mery mengingatkan kepada garapan musik Amina Figarova yang naratif. Selanjutnya adalah “Waterfall”, komposisi ini memberi ruang lebar bagi Ali Akbar untuk menunjukkan kelincahan jemarinya dan untuk itu tepukan tangan spontan dari audiens dihadiahkan sewaktu ia memikat dengan frase-frase atraktif. Aksentuasi cepat one-two, one-two, one-two-three dalam sukat 7/8 dituangkan Mery pada “The Chat” yang cukup membuat para personil syak wasangka pada awalnya, terutama di seksi tiup. Penonton yang jeli pasti dapat merasakan kegamaman tersebut. Sesi pertama ditutup lewat “Lilac and Brown”, di nomor ini Mery menempatkan instrumen gitar dan trombone sebagai penggagas tema.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Gitaris lintas genre Dewa Budjana meramaikan babak kedua yang dibuka dengan “Moment’s Notice” dari John Coltrane berdetak dalam nuansa bebop. Pada nomor ini Budjana tampil kalem, tidak terlihat adanya aksi penarik perhatian, ia bermain santai saja bersama Arief dan Eugen yang juga diberi jatah solo. Namun Budjana justru menunjukkan daya pikatnya di komposisi Thelonious Monk yang beraroma mellow, “Monk’s Mood”. Melalui gitar birunya, ia membius penonton dengan pengolahan nada-nada manis penuh penjiwaan, didukung oleh goresan keindahan lewat bunyi sayu akordeon Riza Arshad. Atmosfer ruangan menghangat ketika basis idola remaja, Barry Likumahuwa naik ke atas panggung bertukar posisi dengan Indrawan. Saat itu juga Riza menanggalkan akordeon untuk duduk bermain piano pada “Monk’s Dream”. Nomor ini mengayun oleh cabikan bas Barry, audiens terhibur dengan pengolahan tema jenaka baik olehnya maupun Riza, keduanya terlihat berdialog seru sembari melempar senyum.

Repertoar terakhir adalah mahakarya John Coltrane, “Giant Steps” dengan segala kerumitannya dan kentara aransemen Mery yang menghindari resiko dengan tempo lebih lambat dari versi aslinya (260 BPM – beats per minute; konon membuat pianis Tommy Flanagan agak kelimpungan pada sesi rekaman tahun 1959). Setelah penantian cukup lama, akhirnya penabuh drum muda berbakat Sandy Winarta beraksi solo juga, pukulannya sungguh dahsyat – tegas, presisi, dan dinamis. Kecakapan teknis dan jam terbang ekstensif adalah alas an mengapa ia begitu mumpuni lewat selaput plastik, lempeng logam, dan tongkat pemukulnya itu. Barry kembali mencuri perhatian tatkala merepet dengan gila sewaktu giliran solo, performanya sangat mendebarkan!

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Tadinya konser tersebut akan berakhir seusai “Giant Steps”, namun berkat provokasi cerdik Denny Sakrie dan respon pemirsa yang seolah belum puas, mau tidak mau bonus berupa encore diberikan pula. Setelah rembuk alot antar pemain, akhirnya Mery yang awalnya ragu-ragu setuju untuk bermain piano, ditemani akordeon Riza, bas Barry, dan gitar Robert. Mereka tampil lewat “Stella By Starlight” karya Victor Young dengan nuansa serenade. Uniknya, Mery malah terlihat lebih menikmati permainan pianonya ketimbang saat ia menjadi kondakter semenjak permulaan acara. Beberapa birama musik mengalun, tiba-tiba sayup terdengar ketukan drum namun anehnya dimainkan oleh saksofonis Arief Setiadi. Buah keisengan itu justru semakin menambah semarak hingga acara benar-benar selesai.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Pagelaran berdurasi sekurangnya dua jam itu sangat berkesan, ekspresi takjub dan rasa puas tergambar jelas pada raut wajah para audiens setelah acara berakhir. Proyek Mery Kasiman tampaknya ditanggapi baik dan merupakan langkah awal positif untuk ekspansi cetak birunya ini. Secara teknik komposisi maupun aransemen sesungguhnya Mery telah memadai secara akademis, semoga di masa depan ia makin kreatif mengolah aspek non-akademis dan kekinian dengan gayanya yang distingtif. Sejumput catatan ditujukan kepada seksi tiup; entah karena pimpinan ansambel yang malu-malu dan kurang gamblang atau minimnya kesigapan pemain, jelasnya ketimpangan tersebut agak mengganggu kenikmatan estetis yang mestinya dapat tercapai bila rangkaian not di atas kertas dimainkan dengan baik.

Bagaimanapun, acara malam itu memuaskan, impresif, serta layak mendapat pujian. Sangat dinanti penampilan Mery Kasiman Project berikutnya. Salut!

Friday Nite Jazz “Special Bandung Edition” malam ini di Margo Jazz

Tags: ,


Klab Jazz bekerjasama dengan Incream Production dan Margo City – Depok dan didukung WartaJazz.com akan menyelenggarakan Friday Nite Jazz “Special Bandung Edition” pada hari Jum’at 16 Oktober 2009 mulai Pkl. 19.00 – Selesai bertempat di Margo City, Jl. Margonda Raya, Depok.

Sejumlah grup jazz, fusion, dan groove asal kota Bandung antara lain BUY 3 GET 4, G / E /T, JAZZ FUTURE PROJECT, STEREOTITUDE dan WAITING LIST akan hadir.

Juga tampil proyek khusus dari Arifandi ‘Aru’ – drums, Boyke Priyo Utomo – tenor saxophone, David Manuhutu – piano
dan Rudy Zulkarnaen – bass acoustic.

***

Margo City memang memiliki komitmen pada Jazz. Sejumlah konser dengan bintang kenamaan seperti Luluk Purwanto pernah digelar. Belakangan kegiatan Friday Nite Jazz menjadi agenda mingguan yang rutin untuk mereka yang berdomisili di Depok khususnya Margonda yang dikelilingi beberapa kampus besar.

MARGO Friday Jazz yang digelar setiap Jumat malam (pukul 20.00 Wib-23.00 Wib) di Margo City Depok, sejak awal tahun 2009, juga ditayangkan di JAKTV.

Benny Likumahuwa, salah satu dedengkot jazz tanah air menjadi penggagas kegiatan di Margo City ini, bersama bidang penyelenggara dari Incream. “Kami buka tempat ini untuk para jazz lovers. Di sekitar Depok banyak kampus dan banyak sekali peminat jazz muda yang bermunculan. Tempat inilah jadi ajang pembelajaran mereka,” kata Benny beberapa waktu lalu.

Kunjungi stand WartaJazz di Kampoeng Jazz 2009

Tags: , ,


Buat anda yang tinggal di Bandung dan sekitarnya dan ingin mendapatkan merchandise WartaJazz ataupun album-album jazz Indonesia yang sulit anda temukan di toko-toko kaset biasa, maka catat acara berikut. Kampoeng Jazz 2009, digelar hari Minggu tanggal 31 Mei 2009 di Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoema Soemantri, Universitas Padjadjaran Jl. Dipatiukur no. 35 Bandung pada hari Minggu 31 Mei 2009 mulai pukul satu siang hingga jam dua belas malam.

kampoeng-jazz-2009

Poster Kampoeng Jazz 2009

Kampoeng Jazz 2009 akan diramaikan oleh banyak musisi jazz, diantaranya Soulvibe, Barry Likumahuwa Procect, Boyke Priyo Utomo Project, Sekapur Sirih, Sonny Akbar Wuartet, tritoones, chalk for cheese, tanpamana, dan javalava.

Kampoeng Jazz 2009 digelar akhir Mei

Tags: , ,


kampoeng-jazz-2009

Poster Kampoeng Jazz 2009

Berita bagus buat pecinta jazz di kota Bandung dan sekitarnya. Kampoeng Jazz 2009 akan digelar di Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoema Soemantri, Universitas Padjadjaran   Jl. Dipatiukur no. 35 Bandung pada hari Minggu 31 Mei 2009 mulai pukul satu siang hingga jam dua belas malam.

Kampoeng Jazz 2009 akan diramaikan oleh banyak musisi jazz, diantaranya Soulvibe, Barry Likumahuwa Procect, Boyke Priyo Utomo Project, Sekapur Sirih, Sonny Akbar Wuartet, tritoones, chalk for cheese, tanpamana, dan javalava.

Kampoeng Jazz adalah sebuah agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran yang memadukan unsur tradisional dan modern. Panitia juga menyiapkan bazaar dimana pengunjung dapat membeli merchandise, makanan, minuman, dan lain-lain.

Tahun ini panitia pagelaran musik bergenre jazz ini, mengambil tema “Live like Jazz”. Harga tiket masuk didteapkan sebesar dua puluh lima ribu rupiah dan dapat dibeli dengan menghubungi telpon (022)2533671 atau Gilang 0856-8519-702 dan Yupi 0852-2065-9077.

Selain musik jazz, kepedulian sosial terhadap masalah pendidikan juga menjadi dasar diselenggarakannya Kampoeng Jazz. Sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam melaksanakan perbaikan gedung-gedung Sekolah Dasar yang rusak di wilayah Kota Bandung, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran akan menyumbangkan sebagian besar keuntungan yang diperoleh melalui penjualan tiket Kampoeng Jazz untuk memberbaiki Gedung Sekolah Dasar yang bertempat di Warung Caringin RT 01/RW 04 Desa Rawa Bago, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, 40973.

Charlie Parker Night di Bandung

Tags: ,


birdSebuah acara menarik bertajuk Charlie Parker Night dengan tema “Membedah Sang Legenda dari Perspektif yang berbeda” digelar di Roger Cafe n Lounge, jl.juanda no 97 (depan RS Borromeus) Bandung pada hari Rabu, 22 April 2009 mulai pukul 19.00 wib.

Selain menggelar talkshow dengan narasumber Dwi Cahya Yuniman (Klabjazz Bandung) dan saxophonis Boyke Priyo Utomo, acara ini juga akan dimeriahkan dengan penampilan sejumlah grup asal kota kembang. Mereka antara lain Buys 3 Get 4, Sonny Akbar + Tesla Manaf dan Boyke Priyo Utomo project.

Informasi lebih lanjut mengenai acara ini dapat menghubungi Tommy di nomor telepon 0815-3297-6114.

***

Charlie ‘YardBird’ Parker merupakan seorang saxophonis legendaris dari era 1930-an hingga 1950-an yang namanya selalu disebut-sebut dalam sejarah jazz dunia. Pria kelahiran 29 Agustus 1920 di Kansas City ini mendapat julukan yardbird diawal karirnya, namun belakangan sering disebut Bird saja.

Karya-karyanya yang dikenal seperti “Anthropology,” “Ornithology,” “Scrapple from the Apple,” dan “Ko Ko,” selain beberapa nomor blues seperti “Now’s the Time” dan “Parker’s Mood”.

Pria yang pernah menjadi tukang cuci piring ini merupakan orang yang dianggap menjadi founder bebop selain menjadi semacam icon tentang konsepsi musisi jazz sebagai aktor intelektual. Gayanya yang khas merubah dunia jazz. Parker merilis lebih dari 30-an album.


Jazz is not background music. You must concentrate upon it in order to get the most of it. You must absorb most of it. The harmonies within the music can relax, soothe, relax, and uplift the mind when you concentrate upon and absorb it. Jazz music stimulates the minds and uplifts the souls of those who play it was well as of those who listen to immerse themselves in it. As the mind is stimulated and the soul uplifted, this is eventually reflected in the body. — Horace Silver


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<