Silakan mampir ke Booth WartaJazz B8-9 di Java Jazz Festival 2010 dan dapatkan doorprize menarik. Silakan klik halaman Merchandise

Tag Archive | "david manuhutu"

Bubi Chen, David Manuhutu, Tohpati, Sandhy Sondoro ada di Axis Java Jazz Festival 2010

Tags: , , , , , , , , ,


Axis Java Jazz Festival 2010

Axis Java Jazz Festival 2010

Bertambah lagi artis yang akan tampil di Axis Jakarta International Java Jazz Festival 2010. Kali ini dari negeri sendiri. Panitia telah mengumumkan sejumlah nama yang dipastikan tampil di ajang yang digelar selama tiga hari berturut-turut mulai 5 hingga 7 Maret 2010 di Jakarta International Expo Kemayoran.

Mereka yang telah terdaftar yaitu pianis Bubi Chen dan David Manuhutu, 21st Night, Gugun Blues Shelter, Indra Aryadi, Indro Hardjodikoro Trio, Jakarta Broadway Team, Sandhy Sondoro, Soulvibe dan Tohpati & Friends.

Tentu saja daftar diatas masih akan bertambah. Didaftar wish-list yang lumayan panjang terdapat sejumlah nama seperti Akordeon, Aksan Sjuman Quartet, Andien, Andre Hehanusa, Anggun, Balawan & Batuan Ethnic, Bambang Nugroho, Barry Likumahua Project, Benny Likumahuwa, Benny Mustafa Van Diest, Cindy Bernadette, Dira J. Sugandi, Ecoutez, Elfa’s Bossa’s, Esqi : Ef Feat Syaharani, Glenn Fredly Tribute to Broery Marantika, Humania, Java Jazz Band, Jazmint Big Band, Joy Marantika Trio, Kadek Rihardika & Glen Dauna Project, Maliq & D’Essentials, Nita Aartsen, Notturno, Oele Pattiselano, Opustre Soul Big Band, Pitoelas Bigband, RAN, Simak Dialog, Souleh & Soulehah, Tjut Nyak Deviana Daudsjah dan Yuri Mahatma (Bali).

Gelaran Axis Java Jazz Festival dengan tema Jazzin’Up Remarkable Indonesia ini sudah memastikan pula tiga konser special shows yaitu John Legend, Kenny ‘Babyface’ Edmonds dan The Manhattan Transfer yang memiliki tema khusus The Chick Corea Songbook.

Tiket pertunjukan kini tersedia pula lewat WartaJazz.com Ticket Box. Silakan kunjungi halaman berikut ini atau dapat pula menghubungi 021-8310769.

Ada Jazz Hujan di Bandung (Bagian I)

Tags: , , , , , , ,


Bulan Desember di Indonesia pada umumnya sudah memasuki musim penghujan. Kemudian mengapa menyelenggarakan festival jazz yang salah satu panggungnya berada di luar gedung Sabuga Bandung, General Coordinator dari festival Bandung World Jazz 2009, Andar Manik menjawab ketika acara preskon, “Kita sengaja mengadakan acara ini di bulan Desember karena hujan, jadinya jazz hujan”.

Andar Manik, Jailani, Marintan Sirait dan Reza

Andar Manik, Jailani, Marintan Sirait dan Reza

Untungnya ramalan Andar Manik tersebut sampi selesai acara tidak terbukti, sehingga acara yang diselenggarakan tanggal 3 – 4 Desember 2009 berlangsung cukup meriah. Selama dua hari tersebut, dari jam 13.30 sampai tepat tengah malam dengan breaktime sekitar satu setengah jam, penonton disuguhi oleh 34 group musik dengan berbagai warna.

Perkiraan daya tampung penonton sekitar 1500 orang dengan setting venue terdiri dari 3 panggung. Panggung pertama berada di sisi kiri luar gedung, panggung kedua berada di koridor tembusan pintu masuk utama gedung dan panggung ketiga ada di tribune (ruang utama) gudung Sabuga. Sementara di bagian tribune, satu panggung yang cukup luas dibagi menjadi 3 bagian, sayap kanan, kiri, dan tengah yang hanya dibedakan dengan tinggi rendah level. Panggung pertama dan kedua dipakai dari siang sampai menjelang Maghrib, selanjutnya pertunjukan berlangsung di panggung ketiga.

Mendekati waktu tergelincirnya matahari, stage 1 dan 2 sudah mulai kesibukannya dengan persiapan Castavaria dan Nita Aartsen. Castavaria tampil dengan mengetengahkan 3 bassist, ditambah seorang drummer, yang menghibur penonton melalui percakapan dalam nada-nada rendah dengan balutan irama jazz-rock dan funky yang menghentak-hentak. Sementara Nita Aartsen menghibur para penonton dengan koleksi-koleksi musik latin, rhumba dan bossa nova. Agak lain dengan penampilannya di album “All Nite Out”, Nita lebih banyak menunjukkan kebolehannya dalam memainkan keyboardnya yang cukup memikat. Sudah barang tentu, lagu-lagu wajib dari Amerika bagian Selatan muncul satu persatu. Seperti ‘Masquenada’ atau pun ‘Girl From Ipanema’. Tidak ketinggalan salah satu hit dari albumnya, ‘Let’s Dance’.  Dalam kesempatan ini Nita mengajak teman lama yang bernama Steve Wilson untuk tampil sebagai vokalis. Penampilannya cukup komunikatif dengan para penonton. Musisi lain yang mendukung Nita adalah Adi Prasodjo (perkusi) dan Harry Toledo (bass).

bdgworldjazz-09-001

Nita Aartsen, Steve Wilson, Harry Toledo dan Adi Prasodjo

Beranjak ke panggung outdoor, suasana gayeng dan meriah langsung memenuhi telinga ini. Bagaimana tidak, sebuah band dengan warna fusion menghentak-hentak dengan kerasnya dengan reriuhan suara saxophone, bass, gitar, keyboards dengan beberapa instrumen musik tradisional Jawa. Mereka adalah Prabumi, sebuah band kolaboratif pimpinan Agus Bing, yang juga seorang wartawan sebuah surat kabar di Jogja. Hanya saja, saking semangatnya, suara saron, kendang, djembe dan bonangnya justru tertutup dengan instrumen musik modern lainnya. Atau memang ada semacam kanonisasi musik yang barangkali menghasilkan efek tertentu. Mereka menampilkan tembang klasik “Prahu Layar” ataupun komposisi ciptaan sendiri “Transit”.  Selain itu, ada 4 Peniti dari Bandung yang sudah mempunyai penggemarnya tersendiri ini memeriahkan acara ini dengan tembang-tembang segar dengan memadukan banyak jenis musik. Zaki (vokal & gitar), Ammy (violin & gitar), Rudy Zulkarnaen (bass) dan Ary Aru (drum) membentuk kelompok ini karena sama-sama menyukai Pat Metheny.

Persentuhan antara musik jazz dan khasanah musik lokal dari Indonesia masih tetap menjadi daya tarik yang sexy. Seperti halnya yang dilakukan oleh group dari Jakarta Archipelago maupun Karinding Collaborative,  Saratuspersen. Mereka sama-sama memadukan improvisasi jazz dengan musik Sunda. Seperti yang diungkapkan Andar Manik bahwa “Cita rasa musik lokal bisa memasuki ranah improvisasi jazz”. Hasilnya memang menarik, sambil membayangkan berada di hamparan sawah hijau sambil mendengarkan kecapi Cianjuran dan liukan suara saxophone.

Saratuspersen asal Bandung

Saratuspersen asal Bandung

Adapun kelompok serupa dari luar negeri adalah Taal Tantra. Di Stage 3 tengah mereka tampil dengan 10 orang musisi dengan menampilkan beberapa corak musik India dari bagian Utara, Selatan, Barat dan Timur yang dikombinasikan dengan jenis musik lain seperti jazz, rock maupun reggae. Penampilan memang mereka terasa hidup dan berhasil menghibur penonton. Apa lagi dengan kehadiran seperti seorang fakir dalam memainkan alat perkusi dari India, plus dengan jogetannya yang lucu.

bdgworldjazz-09-005

Taal Tantra

Salah satu bintang benderang sore itu adalah Ligro, kumpulan 3 orang gila (bermusik) yang terdiri dari Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bass) dan Gusti Hendy (drum). “Komposisi-komposisi di dalamnya bercerita tentang pola-pola musik yang sangat tidak umum. Sesuatu yang tidak umum biasanya diluar kenormalan. Dan itu disebut gila,†papar Agam dalam sebuah perbincangan dengan wartajazz.com. Group ini juga mempunyai energi yang luar biasa. Gaya jazz rock memang kental, yang mengingatkan kita kepada Mahavishnu Orchestra dengan semburat warna musik Indianya. Akord gitar yang dimainkan pun terasa liar dan seperti dalam dunia paralel dan aneh. Apalagi dengan penampilan Hendy, yang juga drummernya Gigi, “double temponya mau merontokkan tembok China”, kata seorang penonton yang terkagum-kagum. Ketika bersama Gigi pun malah jarang terdengar seperti itu.  Mereka menampilkan komposisi-komposisi yang ada dalam album “Ligro Dictionary I” seperti ‘Blinker 1′, ‘Radio Active’, ‘Green Powder’ maupun ‘Orgil’.

Di hari pertama, kelompok yang tampil paling ngejazz adalah David Manuhutu dan Pigalle44. David merupakan salah satu aset masa depan musisi jazz dari Indonesia yang saat ini belum genap 20 tahun usianya. Putra dari Venche Manuhutu ini sudah mulus sekali dalam memainkan pianonya dalam tembang-tambang bebop yang strukturnya komplek tersebut.

bdgworldjazz-09-004

Pigalle 44

Setelah seharian kita dihujani dengan letupan jazz yang menghentak-hentak dan keras, menikmati Pigalle44 seolah kita menikmati kopi hangat di sore hari setelah seharian bekerja keras. Berdiri sejak 10 tahun lalu, Pigalle44 dimotori oleh dua gitaris Reiner Voet dan Jan Brouwer. Mereka menampilkan aksen musik gipsi dalam sajian jazz. Masih terasa sentuhan tradisional jazz seperti swing meski tidak sepenuhnya mengekor kepada para pendahulu. Kalau dilihat gaya permainannya sendiri adalah gabungan antara tradisional dan modern. Memang ada kalanya gipsi jazz tampil ekspresif, banyak nada yang keluar, bertempo cepat namun kemarin mereka menampilkan gipsi jazz yang cool dan impresif. Kedatangannya ke acara ini mereka dibantu oleh Hermine Deurloo (harmonika & sopran saxophone) dan Jet Stevens (bass).

Pertunjukan hari pertama ini juga dimeriahkan oleh lebih dari 50 anak yang tampil ke panggung dengan bermain perkusi. Mereka semua adalah anggota dari Jendela Ide. Sebuah organisasi yang concern terhadap kreasi anak-anak. “Jelas bahwa anak-anak kita saat ini adalah investasi kebudayaan kita di masa mendatang”, ujar Festival Coordinator Marintan Sirait.

bdgworldjazz-09-006

Jendela Ide Percussions

Sepertinya, hari pertama dari Bandung World Jazz Festival 2009 ini cukup memuaskan sekitar penonton. Meski soundsystem di Stage 2 kurang enak dinikmati. Mengingat panggung tersebut berada di dalam koridor yang mempunyai ruang relatif sempit.

Touch of 17 bersama David Manuhutu di CCF Bandung

Tags:


Musik jazz bisa ditampilkan dalam berbagai macam warna, format yang berbeda. Salah satu hal yang menarik adalah mengolah, mengaransemen komposisi/lagu menjadi bentuk akhir yang kita inginkan. Gagasan ini yang ingin disajikan dalam konser Touch of 17 – David Manuhutu yang akan digelar pada hari Rabu, 11 November 2009 di Jl. Purnawarman 32, CCF Bandung.

david-manuhutu-17

Touch of 17 - David Manuhutu

Sejumlah musisi dan penyanyi kenamaan asal bandung juga akan turut hadir antara lain Rudy Zulkarnaen (double bass), Arifandi (drums), Boyke P Utomo (saxophone), Imam Prass (keyboard), Lita Zen (vocal), Yonathan Godjali (piano) dan Brury Effendy (Trumpet).

David Manuhutu sebagai salah satu pianist jazz muda Indonesia (kini berusia 17 tahun), dalam konser ini menampilkan komposisi jazz dalam berbagai format, mulai dari solo, duet, trio, maupun small ensembler, Hal ini dilakukan agar didapat warna musik dan atmosfir yang bervariasi. Sekaligus sebagai salah satu cara untuk mengeksplorasi kemampuan dan bakat sang pianist sebagai anugerah Tuhan YME yang patut disyukuri.

***

Sekilas David Manuhutu

Terlahir dengan namaDavid Melchias Manuhutu di Bandung, 1 Juni 1992. Putra dari gitaris Venche Manuhutu ini sempat belajar piano klasik dengan Lani dan Steven Sulungan. Ia lantas belajar dengan Yahya dan Imam Prass. Nama yang terakhir ini merupakan pianis kondang asal kota Kembang.

David sempat mencicipi berbagai panggung jazz. Mulai dari Konser Tunggal “Jazz Future” di Bandung, Java Jazz Festival di Jakarta, “Jazz Break” di Bumi Sangkuriang, Bale Jazz di Jakarta sampai “Jazz Merah Putih” di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Ia pernah pula bermain dengan sejumlah musisi kenamaan baik Indonesia maupun mancanegara, sebut saja Lewis Pragasam (Malaysia), Logic (Australia), Oele Pattiselano, Jeffrey Tahalele, Arief Setiadi, Doni Sundjoyo & Titi Syuman, Nial Djuliarso dan lain-lain. David juga terpilih dalam pembentukan Group Musik Anak Muda Berbakat di Indonesia oleh Erwin Gutawa.

***

Komentar para musisi

Sedikit pendapat atau komentar dari pianis-pianis jazz senior Indonesia mengenai permainan piano jazz dari David Manuhutu ini.

* Imam Pras(yang juga adalah guru piano jazznya dan yang menjadi music director dari grup David Manuhutu Trio dengan niat dan dedikasi yang tinggi, telah memberikan sentuhan jazz yang kuat dalam karakter permainan voicing dan improvisasi David) : David mempunyai kelebihan dalam feel bermusik.
* Bubi Chen : David mempunyai sense of melody yang kuat bila dia berimprovisasi.
* Riza Arshad : Progress nya David cepat sekali. Dia telah melewati step proses belajar untuk anak-anak seumur dia. Menurut saya, David adalah seorang jazz musician.
* Indra Lesmana : Dari nada-nada yang dia hasilkan, saya berpendapat bahwa David mempunyai musikalitas yang tinggi dan dia sudah bermain jazz dengan bahasa yang benar.

Friday Nite Jazz “Special Bandung Edition” malam ini di Margo Jazz

Tags: ,


Klab Jazz bekerjasama dengan Incream Production dan Margo City – Depok dan didukung WartaJazz.com akan menyelenggarakan Friday Nite Jazz “Special Bandung Edition” pada hari Jum’at 16 Oktober 2009 mulai Pkl. 19.00 – Selesai bertempat di Margo City, Jl. Margonda Raya, Depok.

Sejumlah grup jazz, fusion, dan groove asal kota Bandung antara lain BUY 3 GET 4, G / E /T, JAZZ FUTURE PROJECT, STEREOTITUDE dan WAITING LIST akan hadir.

Juga tampil proyek khusus dari Arifandi ‘Aru’ – drums, Boyke Priyo Utomo – tenor saxophone, David Manuhutu – piano
dan Rudy Zulkarnaen – bass acoustic.

***

Margo City memang memiliki komitmen pada Jazz. Sejumlah konser dengan bintang kenamaan seperti Luluk Purwanto pernah digelar. Belakangan kegiatan Friday Nite Jazz menjadi agenda mingguan yang rutin untuk mereka yang berdomisili di Depok khususnya Margonda yang dikelilingi beberapa kampus besar.

MARGO Friday Jazz yang digelar setiap Jumat malam (pukul 20.00 Wib-23.00 Wib) di Margo City Depok, sejak awal tahun 2009, juga ditayangkan di JAKTV.

Benny Likumahuwa, salah satu dedengkot jazz tanah air menjadi penggagas kegiatan di Margo City ini, bersama bidang penyelenggara dari Incream. “Kami buka tempat ini untuk para jazz lovers. Di sekitar Depok banyak kampus dan banyak sekali peminat jazz muda yang bermunculan. Tempat inilah jadi ajang pembelajaran mereka,†kata Benny beberapa waktu lalu.

Persiapan Klab Jazz Bandung jelang Axis Java Jazz Festival 2009

Tags: , , , ,


kj-road-to-jj-2009-fb-flyerAxis Java Jazz Festival 2009 sudah didepan mata. Sejumlah grup akan tampil mewakili KlabJazz dari Bandung pada acara yang berlangsung tanggal 6 hingga 8 Maret 2009 nanti. Oleh karenanya grup-grup ini tampil pemanasan dalam acara “Pre Event” yang di gelar di dua tempat.

Pertama tanggal 1 Maret 2009 di Be Mall, Jl. Naripan no. 89 – Bandung mulai Pukul. 16.00 – 20.00 dengan menampilkan grup-grup jazz pop/groove dan jazz funk, Bayu+Tesla, Chalk For Cheese, La Belle, Oleo, Palm From Moddytunes dan. Sekapur Sirih

Sementara agenda kedua diadakan di Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang, Rabu 4 Maret 2009 mulai pukul 19.00 – 23.00 wib dalam acara bertajuk “Jazz Break Revival – March Session”. Grup yang akan tampil memiliki gaya lebih pada straight ahead, bebop dan akustik seperti Applepine, Buy 3 Get 4, Imelda Rosalin Quintet, Michelle Efferin Quartet, David Manuhutu Trio dan Tri’toones (yang tidak tampil di Java Jazz Festival).

Kedua acara diatas gratis untuk umum. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Dwi Cahya Yuniman, 08172388862 | 02291680396.

***

Klab Jazz Bandung adalah salah satu komunitas jazz teraktif di Indonesia. Banyak kegiatan rutin yang diselenggarakan diberbagai tempat.

Ads

Jazz is music made by and for people who have chosen to feel good in spite of conditions. — Johnny Griffin