Posted on 26 October 2010
Tags: Barry Likumahuwa, demas narawangsa, Dira J. Sugandhi, dwiki dharmawan, I Nyoman Sura, ivan nestorman, Nyoman Windha, Toninho Horta, Warih Wisatsana
Tak banyak publikasi yang disebarluaskan mengenai acara ini. Memang waktu persiapannya pun terbilang singkat. Acara yang digelar di Museum Rudana Ubud Bali, Rabu 13 Oktober 2010 ini tapi tetap digarap serius. Tak kurang sejumlah artis berkolaborasi kreatif menggabungkan Suara, Rupa dan Kata dalam konser bertajuk Panca Tan Matra.

Putu Rudana, Toninho Horta dan Dwiki Dharmawan saat menandatangani Prasasti
Putu Supadma Rudana, direktur museum memaparkan bahwa konser tersebut digagas karena kesadaran bahwa belakangan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan negara Indonesia sedikit terlupakan akibat banyaknya benih-benih perpecahan yang timbul karena sejumlah kepentingan, ketegangan mayoritas versus minoritas, prasangka dan praduga yang berujung pada kesalahpahaman tak berkesudahan.
Diundanglah Dwiki Dharmawan, pianis pentolan Krakatau dan penggagas World Peace Orchestra bersama Nyoman Windha, musisi asal Bali yang merintis JES (Jegog dan Semar Penggulingan) Gamelan Fusion yang mengkolaborasikan jegog dengan instrumen musik modern. Diajak pula I Nyoman Sura, penari sekaligus koreografer yang kini menjadi pengajar di Institut Seni Indonesia, Denpasar. Bergabung Warih Wisatsana, penyair yang pernah meraih Bung Hatta Award dan sejumlah penghargaan lain. Kolaborasi diatas dipercantik dengan hadirnya Brazillian Guitarist Ambassador, Toninho Horta yang tiba sehari sebelumnya dari sebuah pertunjukan di Jepang.
***
Penampilan Dwiki Dharmawan turut dibackup sejumlah musisi berbakat negeri ini. Diantaranya Demas Narawangsa (drums), Barry Likumahuwa (bass), Ivan Nestorman (vokal) dan Dira J. Sugandhi (vokal) serta Rio Sidik (trumpet). Philippe Ciminato, perkusionis asal Perancis yang sedang bertandang ke Bali turut melengkapi line-up ini. Meski tanpa latihan permainan mereka membuat tepuk tangan tak pernah berhenti seusai mereka memainkan komposisi-demi-komposisi.

Toninho Horta saat tampil di Panca Tan Matra
Toninho Horta yang belum pernah bertemu dengan Dwiki Dharmawan sebelumnya pun merasa gembira dengan line-up yang disodorkan oleh panitia. Terbukti line-up ini pula yang ditampilkan di 3rd Asean Jazz Festival dua hari setelah pertunjukan Panca Tan Matra.
Mereka membawakan sejumlah lagu antara lain Spirit of Peace, Benggong, Lamalera yang diambil dari album terakhir Dwiki Dharmawan WPO. Sementara saat tampil bersama Toninho Horta, mereka tampil membawakan beberapa lagu standard seperti Mas Que Nada. Lagu Aquelas Coisas Todas dan For my Children menjadi penutup konser yang berlangsung sekitar satu setengah jam tersebut.
Seusai acara, Toninho Horta, Dwiki Dharmawan dan Putu Supadma Rudana menandatangani Prasasti berupa sebuah batu besar yang berada tepat dibagian depan Museum Rudana, sehingga jika anda berkesempatan mampir ke museum yang terletak di Ubud ini anda akan melihat prasasti tersebut.
Posted on 19 August 2010
Tags: demas narawangsa, Diki Suwarjiki, Endang Ramdan, indro hardjodikoro, Lestari, tohpati

- Tohpati Ethnomission – Save The Planet
Semenjak album simakDialog – Patahan dan Demi Masa dirilis oleh Moonjune Records yang berbasis di New York, Amerika Serikat maka sepertinya jalan terbuka mulus bagi kelompok lain seperti Tohpati Ethnomission. Walaupun Tohpati sebenarnya bukan “orang lain” karena ia juga adalah gitaris simakDialog – kelompok yang digagasnya bersama Riza Arshad.
Leonardo Pavkovic sang pemilik label yang pernah ditemui oleh WartaJazz beberapa tahun silam mengirimkan rilisan MoonJune seraya membubuhkan keterangan bahwa album Tohpati Ethnomission – Save the Planet versi mereka berbeda.
Sepintas jika anda mengamati covernya memang tidak ada perbedaan dengan yang didistribusikan oleh demajors untuk pasar Indonesia. Namun kalau ditelaah lebih dalam dari susunan lagu, terlihat perbedaannya. Begitupula gambar pada cakram padatnya yang memperlihatkan siluet hutan – berkesesuaian dengan titelnya Save the Planet.
Berikut ini daftar track yang termuat dalam album Tohpati Ethnomission – Save The Planet rilisan MoonJune Records:
1. Selamatkan Bumi (Save The Planet) 9:07
2. Bedhaya Ketawang (Sacred Dance) 8:31
3. Drama 1:47
4. Ethno Funk 8:38
5. Gegunungan (Gateway Of Life) 2:56
6. Hutan Hujan (Rain Forest) 8:42
7. Biarkan Burung Bernyanyi (Let The Birds Sing) 7:27
8. Inspirasi Baru (New Inspiration) 4:13
9. Perang Tanding (Battle Between Good & Evil) 8:16
10. Pesta Rakyat (Festive People) 5:10
11. Amarah (Anger) 2:34
Lagu bertitel Amarah merupakan track yang berbeda dalam album ini. Tembang East West pada rilisan Indonesia tidak disertakan. Diakui oleh Bontot alias Tohpati saat dihubungi WartaJazz Sabtu malam (21/08) bahwa lagu East West memang dirasakan paling ‘ringan’ jika dibandingkan dengan komposisi lain dan Leonardo sepertinya juga mengamini hal itu.
Tohpati Ethnomission terdiri dari gitaris Tohpati, bassis Indro Hardjodikoro, Demas Narawangsa (drums), Endang Ramdan (kendang), Diki Suwarjiki (suling). Penyanyi pada Bedhaya Ketawang adalah Lestari.
Jika kita menelaah album ini maka akan mendapati sejumlah pengaruh mulai dari Terje Rypdal, John McLaughlin, Robert Fripp sampai King Crimson. Album ini dibandrol $14 untuk pasar US/Canada (FREE shipping) dan $16 untuk negara lainnya (termasuk Indonesia). Harga tersebut sudah termasuk ongkos kirim.
Diluar musiknya hanya satu hal menurut Redaksi agak kurang yaitu tidak adanya liner notes yang menjelaskan lebih jauh tentang Tohpati Ethnomission dan musiknya. Terkecuali kalau anda membaca disitus MoonJune. “Dia pengennya simpel aja”, ujar Tohpati menjelaskan.
So anda mengaku penggemar Tohpati tulen?. Sepertinya harus mengoleksi pula rekaman ini!.
Posted on 05 June 2010
Tags: demas narawangsa, indro hardjodikoro, tohpati

Indro Hardjodikoro - Feels Free
Nama Indro Hardjodikoro adalah sebuah nama yang cukup dikenal di dunia musik tanah air sebagai seorang bassis papan atas negeri ini. Sebagai yang cukup lama malang melintang di Industri musik tanah air ini Indro kerap sekali terlibat di album milik musisisi di Indonesia selain itu indro juga pernah terlibat dengan Halmahera yang bernuansa fusion dan simakDialog, sebuah band Jazz dengan nuansa etnis yang cukup kental.
Setelah sekian lama sebagai section player bagi musisisi-musisi lain akhirnya dengan dibantu Demas Narawangsa (drums), Lal Intje Makkah (keyboard), Irfan Chasmala (keyboards) juga Tohpati (guitar) dan Oele Pattiselanno (guitar)oleh di awal tahun ini Indro meluncurkan album perdananya yang bertajuk âFeels Freâ.
Album âFeels Freeâ ini menghadirkan sepuluh lagu dalam format instrumental yang semuanya ditulis oleh Indro Hardjodikoro. Di Album perdananya ini ia memunculkan nuansa fusion yang cukup kental baik pada lagu yang berirama rancak maupun beberapa buah tembang bernuansa ballad di album ini. Titik awal sebagai lagu pembuka di album ini tampil menghentak seolah memberikan tanda titik awal pada album ini, pada lagu pembuka ini Indro hadir dengan nuansa fusion 80-90an yang cukup kental. Di lagu ini dialog terjadi antara Demas dan Indro yang cukup menarik. Selain pada lagu titik awal nuansa fusion bertempo cepat juga dihadirkan Indro di beberapa buah lagu di album ini sepert âI like Surpriseâ, âGreenlandâ, âPsycopathâ dan âLost Cityâ dan âDrum & Bassâ, di lagu ini terjadi semacam dialog yang cukup intens antara Indro dan Demas yang kadang-kadang terasa rumit karena ketika keduanya bermain secara tutti dalam lagu ini, tapi lagu ini tetap terasa ringan dan asik untuk dinikmati.
Indro juga menyuguhkan beberapa buah lagu berirama ballad di album ini, My Angels, Feels Free, Menyapa pagiku dan Senja.
Pada lagu âMy Angelsâ, Feels Free Indro tampil bersama dengan Tohpati dengan nuansa yang manis begitu pula ketika berduat dengan gitaris dari generasi yang berbeda âOele Patiselanoâ dalam lagu âSenjaâ dan âMenyapa Pagikuâ keduanya tampil dengan nada-nada yang manis untuk dindengar. Suatu kesan yang timbul ketika selesai mendengarkan lagu tersebut terasa sekali ingatan kita diajak untuk tertuju pada album Metheny-Haden âMissoury Skyâ
Posted on 25 February 2009
Tags: adi darmawan, agam hamzah, demas narawangsa, donny suhendra, goethe, gusti hendy, kristian, ligro, serambi jazz
Ligro Trio dan Donny Suhendra beserta Projectnya akan tampil di sebuah acara yang diberi tajuk Serambi Jazz. Ligro Trio adalah kelompok yang mengusung jazz rock terdiri dari Gusti Hendy (pemain drum yang juga bermain untuk band pop GIGI), Adi Dharmawan (bass), Agam Hamzah (guitar). Sedang pemain gitar Donny Suhendra akan hadir bersama Demas Narawangsa (drum), Kristian Dharma (bass), dan menampilkan seorang pemain keyboard yang lama bermain bersamanya di kelompok lawas d’Marszyo Bandung, Samuel A.Budiono. Donny Suhendra Project juga akan menampilkan potensi seorang vokalis baru, Hans Bartell. Kedua grup akan menampilkan komposisi-komposisi dari album baru mereka, repacked “Disini Ada Kehidupan” dan “Dictionary I” Ligro.
Serambi Jazz adalah sebuah serial konser jazz digagas oleh pianis dan komposer Riza Arshad berserta Goethe Institut Jakarta. Kegiatan ini merupakan usaha untuk menciptakan ruang yang terkontrol agar musik jazz dapat lebih masuk ke ruang publik. Akses ini menjembatani para pelaku, penikmat dan hubungan keduanya di dalam satu wadah yang terkonsentrasi agar daya serap terhadap musik jazz dan perkembangannya dapat berjalan dengan baik.
Negara Jerman sebagai salah satu negara di Eropa di mana jazz lama digauli, tumbuh dan berkembang dengan mengasimilasi akar budaya musik. Sehingga muncul istilah musik ECM â yang berasal dari sebuah perusahaan rekaman musik – yang melahirkan generasi musisi baru dan besar sumbangsihnya pada perkembangan musik jazz di Eropa dan dunia. Hal demikian terjadi juga di Indonesia, dimana musik ini dikenal dan berkembang melalui pergaulan antar generasi musisi. Meski belum banyak, tapi kesadaran untuk melakukan asimilasi itu mulai dikenal dan tumbuh.
Indonesia dan Jerman mempunyai pertalian sejarah musik jazz sejak pertengahan 1960-an. Saat itu kritikus jazz Jerman Joachim Berendt bertandang ke Jakarta dan bertemu dengan Sujoso Karsono, pemilik perusahaan rekaman Irama. Berendt lalu diperkenalkan dengan Jack Lesmana dan Bubi Chen. Sebelumnya Berendt telah mendengar nama kedua dedengkot jazz tersebut melalui Tony Scott, peniup klarinet jazz Amerika Serikat yang pernah berkunjung ke Indonesia.
Joachim Berendt tertarik melihat musikalitas pemusik jazz Indonesia dan mengusulkan kelompok Indonesia All Stars tampil di Berlin Jazz Festival. Bahkan kelompok Indonesian All Stars yang didukung Jack Lesmana (gitar), Maryono (seruling,saxophone), Bubi Chen (piano,zither), Yopie Chen (bass) dan Benny Mustafa van Diest (drums) serta Tony Scott (klarinet) membuat rekaman di Saba Studio pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967. Album Tony Scott with The Indonesia All Stars tersebut lalu diberi judul “Djanger Bali”.
Keutamaan progam Serambi Jazz adalah memelihara ketrampilan dan kreativitas musisinya â agar dapat berkembang dan memberikan suguhan kreasi yang dapat dipetik manfaatnya oleh masyarakat. Idealnya, musisi dapat mengolah musik jazz menjadi sebuah identitas. Melalui hubungan yang ada dengan rekan musisi Jerman â Serambi jazz menjadi ajang dan sarana berbagi disamping menggali lagi pengalaman dan hubungan yang pernah dimulai pada masa lalu, akan membuka harapan dan tekad untuk saling menghargai, menjaga, belajar dan bekerjasama.
Serial pertama Serambi Jazz akan diselenggatakan pada hari Kamis 26 Februari, 2009 pukul 7:30pm – 10:00pm di GoetheHaus, Jl.Sam Ratulangi 9-15 Jakarta. Tiket masuk sebesar IDR 25.000 dapat dipesan dengan Devi 08158811760 Email: info@jakarta.goethe.org