Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "dewa budjana"

Dewa Budjana – Dawai in Paradise

Tags:


Usai Ravi Shankar mengorkestrasi “Benares Ghat“, ia bernarasi bahwa itu adalah pemandangan dari atas perahu yang berayun mengarungi sungai, semua sedih dan bahagia terlihat di sana, sungai yang saban sore jadi bagian masa kecilnya. “Mainkan seperti menitiknya madu manis,” ia memberi perumpamaan pada pemain tabla di tengah-tengah adegan pembuatan musik berelemen folk (tak murni India klasik) itu. “Gangga” adalah kembaran narasi Shankar, bisa jadi lebih religius, dan Dewa Budjana membaginya sebagai pembuka “Dawai in Paradise”. Gema akustik dawai yang disambut lengking qawwali Vinod Ganglani lagu ini masih segar diangkat lagu tema film “Eat, Pray, Love” dengan nama besar Nusret Fateh Ali Khan dan Eddie Vedder melantunkannya. Lembut di latar, Sophia Latjuba seolah bertamu lagi ke rekaman formasi awal “Bulan di (Atas) Asia” (yang melibatkan pula Budjana). Perpaduan begini menjadikannya karya spiritual yang menanggalkan kesan sakral dan jadi lebih inklusif.

Dawai in Paradise

Dawai in Paradise

“Masa Kecil” yang menyusul berikutnya mengingatkan akan sebaris permainan shamisenNikki Iku” album terdahulu (Samsara, 2003). Baris pendek yang dicuplik jadi warna lagu keseluruhan. Senandung bocah-bocah yang cepat menyerap melodi sederhana lagu yang serupa dolanan ini tak hilang sahaja di atas pola sulit Ronald Sristisnto yang ditemani Rishanda Singgih. Secara umum trek-trek di bawahnya adalah semacam alternate take album-album terdahulu, tetapi ada yang benar-benar rekaman segar karena trio asli Budjana bersama Arie Ayunir dan Bintang Indriyanto hanya muncul di “Kunang Kunang”.

Nomer kontemplasi seperti halnya “Lonely” tetap dimunculkan, kali ini dalam karya baru “Dawaiku”. Jika dulu gitar Budjana tampil kaya pilihan voicing harmonik berduetkan suling “Bang” Saat Syah, maka sekarang giliran jazzer gaek Howard Levy mengimbangi dengan harmonika di atas latar gitar yang terdengar menggunakan manipulasi e-bow. Dan bagian yang ditunggu itupun datang, Levy meluncurkan lekuk harmonika di atas pergantian bridge dalam kontras yang memikat.

Dalam album ini bisa dibilang Sandy Winarta dan Shadu Rasjidi-lah penghubung geometri trio Budjana yang baru. Shadu pantas mendapat sorotan karena di rilis inilah kita bisa menyimak bakat muda ini secara utuh: membabat seksi depan “Lalu Lintas” lalu mundur ke latar “Malacca Bay” menjaga urutan rapat ritme 5/4 dan bagian swing. Pada nomer belakangan tersebut juga muncul pianis Ade Irawan yang garang mengawali nyala flamenco intro, bersolo ikut logika kontur bebop dengan selipan lirikal yang bikin merinding, sebuah catatan khusus kemunculannya dalam rekaman kontemporer.

Untuk sesi rekaman Amerika selain Peter Erskine yang sudah sangat dikenal ciri phrasing-nya dan telah muncul sejak album “Samsara”, patut disimak drummer Ernie Adams yang piawai memain-mainkan pantulan empuk dalam “Rerad Rerod“. Dua musisi asing lain yang namanya sudah kita lihat pula pada album terdahulu adalah pemain bass Reggie Hamilton dan Dave Carpenter. Memang ada kesan album ini tidak banyak menyajikan suguhan yang baru. Mungkin saran terbaik bagi yang sudah pernah memiliki empat album sebelumnya, ini adalah saatnya revisit dan menyimak nyawa baru tiap lagu, suatu yang lumrah jika bicara jazz.

Daftar Lagu “Dawai in Paradise” (DeMajors, 2011):
1. Gangga
2. Masa Kecil
3. Dawaiku
4. Kromatik Lagi
5. Backhome
6. Malacca Bay
7. Kunang Kunang
8. Lalu Lintas
9. Caka 1922
10. Rerad Rerod
11. On The Way Home

Monita Tahalea – Dream, Hope & Faith

Tags: , , , ,


Album: Dream, Hope & Faith
Label : Inline Music/Demajors, 2010

1. Kisah Yang Indah
2. Ingatlah
3. Over the Rainbow
4. I Love You
5. Senja
6. God Bless the Child
7. Hope
8. Di Batas Mimpi

Monita - Dream, Hope & Faith

Monita - Dream, Hope & Faith

Biduan remaja bernama lengkap Monita Angelica Maharani Tahalea (Monita Tahalea, Monita, Momon) memang dikenal publik lewat kiprahnya dalam ajang Indonesian Idol kedua, sekitar lima tahun lalu. Waktu itu vokalnya sudah menunjukkan karakter jazzy, meskipun masih terasa nanggung dan gamang. Contohnya pada daur-ulang lagu “Keliru” milik Ruth Sahanaya dalam album Seri Cinta oleh Finalis Indonesian Idol 2 (Sony Indonesia, 2005). Entah kebetulan atau bukan, kala itu adalah Indra Lesmana selaku juri – sekarang menjadi produser dan penata musik album debut Monita bertajuk Dream, Hope & Faith. Pada album ini kentara bahwa Monita semakin dewasa mengolah vokal, dan beruntung ia mendapat dukungan musisi-musisi berpengalaman sehingga dirinya mampu tampil maksimal.

Hal pertama yang menarik adalah pada kemasan fisik album ini, bentuknya mirip sebuah undangan berhias senyum siput Monita. Bookletnya seukuran kertas A3 terlipat enam sama sisi, tercantum lengkap informasi dan lirik seluruh lagu yang total berjumlah delapan. Peran Indra Lesmana patut diacungi jempol, garapan musik di album ini terasa halus serta pas dengan suara Monita yang manis dan menyejukkan. Monita turut ambil bagian menulis lirik, simak pada trek pembuka “Kisah Yang Indah”, juga “Senja”, dan “Hope”. Dewa Budjana menyumbang permainan gitar akustik dalam nomor berirama catchy, “Ingatlah” sedangkan Aksan Sjuman memukul drum dengan santai pada tembang “I Love You” dan lagu pertama.

Penggemar jazz bolehlah menyimak interpretasi naratif pada komposisi “Over the Rainbow” karangan Harold Arlen/ E.G. Harburg serta “God Bless the Child”, besutan Arthur Herzog, Jr. dan Billie Holiday, salah satu figur panutan Monita. Meskipun kedua lagu tersebut sering dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi, namun Monita berhasil memberi sentuhan personal. Bait demi bait mengalun lembut penuh makna. Terima kasih untuk jentikan gitar Oele Pattiselanno yang juga ikut “bernyanyi” liris.

Dream, Hope & Faith adalah langkah awal yang cukup baik untuk Monita, ia bernyanyi sesuai kapasitasnya, tanpa perlu “gimnastik vokal” ataupun scat singing asal-asalan yang sering ditemui pada banyak penyanyi jazz(?) dalam negeri – dalam bahasa gaul: lebay. Lewat album ini, keindahan justru ditunjukkan dalam kesederhanaan. Manis!

Musisi pendukung

Indra Lesmana (kibor, programming)
Oele Pattiselanno, Dewa Budjana, Bernie (gitar)
Donny Sundjoyo (kontrabas)
Aksan Sjuman (drum)
Eki Puradireja (lirik untuk lagu “Di Batas Mimpi”)

Ratusan Simpatisan FPI Merazia GoetheHaus!

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Laporan Dari Serambi Jazz Edisi Agustus 2010 – Mery Kasiman Project.

Judul di atas tercetus gara-gara Deny Sakrie berulah pada Serambi Jazz malam Jumat lalu (12/8). Berdinas sebagai MC, ia menjuluki hadirin dengan sebutan FPI (Front Penikmat Improvisasi – red.) yang kontan membuat penonton terpingkal. Alih-alih melakukan penggeledahan secara rambang dan destruktif, FPI imbangan malam itu “merazia” dengan cara berbeda; duduk manis, mengangguk-angguk ikuti irama, serta bertepuk tangan seusai tiap lagu dimainkan. Adalah Mery Kasiman beserta belasan kroni tergabung dalam Mery Kasiman Project yang berperan selaku pengisi acara.

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Sudah sepatutnya publik jazz tanah air mencintai Mery. Bagaimana tidak, pianis-komposer-arranger jebolan Program Master Institut Musik Daya ini punya talenta luar biasa dalam urusan musik. Terlebih, wanita kelahiran Jakarta 28 tahun silam tersebut berani untuk menyambung kiprah pada ranah big band, yang di Indonesia jarang tersentuh bahkan oleh kaum adam sekalipun. Selain itu, Mery juga menuangkan bakatnya di teritori musik film, dengan menjadi copyist dan orkestrator bersama Aksan dan Titi Sjuman.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Konser malam itu terbagi menjadi dua sesi tanpa jeda, dengan repertoar lima komposisi orisinil Mery pada bagian pertama kemudian berlanjut empat aransemen buah musik John Coltrane dan Thelonious Monk. Regu yang dikomandani Mery merupakan konstelasi musikus-musikus berbakat tanah air, untuk seksi tiup ia menggandeng Harmoniadi dan Wisnu Fajar (trumpet), Enggar Widodo dan Widiyekso (trombone), Boyke Priyo Utomo (saksofon tenor, flute), Arief Setiadi (saksofon tenor), dan Eugen Bounty (saksofon alto, klarinet). Sementara pada rhythm section tampak Ali Akbar Sugiri (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Sandy Winarta (drum). Sesi kedua dimeriahkan oleh Riza Arshad (piano, akordeon), Barry Likumahuwa (bas elektrik), dan Dewa Budjana (gitar).  Mungkin inilah alasan mengapa ruangan GoetheHaus begitu sesak, kursi terisi penuh dan bahkan beberapa harus berdiri memenuhi anak tangga pada kedua sisi gedung. Faktor lainnya adalah pertunjukan tersebut gratis adanya.

Acara dimulai dengan komposisi “Floating” lewat introduksi denting piano Ali Akbar memberi kesan sejuk sebelum hembusan tema oleh klarinet memecah ambang kesunyian. Dihiasi pula solo kontrabas mengambil alih kerenggangan harmoni brass section yang mengalun lembut. Arief Setiadi menampilkan aksi solo pada nomor kedua, “Down By The River” yang ditimpali permainan flute Boyke. Sepintas, gaya komposisi Mery mengingatkan kepada garapan musik Amina Figarova yang naratif. Selanjutnya adalah “Waterfall”, komposisi ini memberi ruang lebar bagi Ali Akbar untuk menunjukkan kelincahan jemarinya dan untuk itu tepukan tangan spontan dari audiens dihadiahkan sewaktu ia memikat dengan frase-frase atraktif. Aksentuasi cepat one-two, one-two, one-two-three dalam sukat 7/8 dituangkan Mery pada “The Chat” yang cukup membuat para personil syak wasangka pada awalnya, terutama di seksi tiup. Penonton yang jeli pasti dapat merasakan kegamaman tersebut. Sesi pertama ditutup lewat “Lilac and Brown”, di nomor ini Mery menempatkan instrumen gitar dan trombone sebagai penggagas tema.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Gitaris lintas genre Dewa Budjana meramaikan babak kedua yang dibuka dengan “Moment’s Notice” dari John Coltrane berdetak dalam nuansa bebop. Pada nomor ini Budjana tampil kalem, tidak terlihat adanya aksi penarik perhatian, ia bermain santai saja bersama Arief dan Eugen yang juga diberi jatah solo. Namun Budjana justru menunjukkan daya pikatnya di komposisi Thelonious Monk yang beraroma mellow, “Monk’s Mood”. Melalui gitar birunya, ia membius penonton dengan pengolahan nada-nada manis penuh penjiwaan, didukung oleh goresan keindahan lewat bunyi sayu akordeon Riza Arshad. Atmosfer ruangan menghangat ketika basis idola remaja, Barry Likumahuwa naik ke atas panggung bertukar posisi dengan Indrawan. Saat itu juga Riza menanggalkan akordeon untuk duduk bermain piano pada “Monk’s Dream”. Nomor ini mengayun oleh cabikan bas Barry, audiens terhibur dengan pengolahan tema jenaka baik olehnya maupun Riza, keduanya terlihat berdialog seru sembari melempar senyum.

Repertoar terakhir adalah mahakarya John Coltrane, “Giant Steps” dengan segala kerumitannya dan kentara aransemen Mery yang menghindari resiko dengan tempo lebih lambat dari versi aslinya (260 BPM – beats per minute; konon membuat pianis Tommy Flanagan agak kelimpungan pada sesi rekaman tahun 1959). Setelah penantian cukup lama, akhirnya penabuh drum muda berbakat Sandy Winarta beraksi solo juga, pukulannya sungguh dahsyat – tegas, presisi, dan dinamis. Kecakapan teknis dan jam terbang ekstensif adalah alas an mengapa ia begitu mumpuni lewat selaput plastik, lempeng logam, dan tongkat pemukulnya itu. Barry kembali mencuri perhatian tatkala merepet dengan gila sewaktu giliran solo, performanya sangat mendebarkan!

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Tadinya konser tersebut akan berakhir seusai “Giant Steps”, namun berkat provokasi cerdik Denny Sakrie dan respon pemirsa yang seolah belum puas, mau tidak mau bonus berupa encore diberikan pula. Setelah rembuk alot antar pemain, akhirnya Mery yang awalnya ragu-ragu setuju untuk bermain piano, ditemani akordeon Riza, bas Barry, dan gitar Robert. Mereka tampil lewat “Stella By Starlight” karya Victor Young dengan nuansa serenade. Uniknya, Mery malah terlihat lebih menikmati permainan pianonya ketimbang saat ia menjadi kondakter semenjak permulaan acara. Beberapa birama musik mengalun, tiba-tiba sayup terdengar ketukan drum namun anehnya dimainkan oleh saksofonis Arief Setiadi. Buah keisengan itu justru semakin menambah semarak hingga acara benar-benar selesai.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Pagelaran berdurasi sekurangnya dua jam itu sangat berkesan, ekspresi takjub dan rasa puas tergambar jelas pada raut wajah para audiens setelah acara berakhir. Proyek Mery Kasiman tampaknya ditanggapi baik dan merupakan langkah awal positif untuk ekspansi cetak birunya ini. Secara teknik komposisi maupun aransemen sesungguhnya Mery telah memadai secara akademis, semoga di masa depan ia makin kreatif mengolah aspek non-akademis dan kekinian dengan gayanya yang distingtif. Sejumput catatan ditujukan kepada seksi tiup; entah karena pimpinan ansambel yang malu-malu dan kurang gamblang atau minimnya kesigapan pemain, jelasnya ketimpangan tersebut agak mengganggu kenikmatan estetis yang mestinya dapat tercapai bila rangkaian not di atas kertas dimainkan dengan baik.

Bagaimanapun, acara malam itu memuaskan, impresif, serta layak mendapat pujian. Sangat dinanti penampilan Mery Kasiman Project berikutnya. Salut!

Serambi Jazz bersama Mery Kasiman feat Dewa Budjana, Barry Likumahuwa

Tags: , , , ,


Program Serambi Jazz edisi Agustus 2010 hanya menghadirkan satu penampil. Dia adalah Mery Kasiman. Proyek musik yang digagasnya menghadirkan beberapa musisi tamu, di antaranya gitaris Dewa Budjana, bassis Barry Likumahuwa, saksofonis Arief Setiadi dan pianis Riza Arshad.

Selain adalah seorang pianis yang baik, Mery Kasiman juga berbakat sebagai penata musik sekaligus pengarah musik yang akan besar namanya di masa datang. Kejelian Mery membuat musik terdengar beda adalah segi lain kemampuannya.

Melalui instrumentasi dan tehnik aransemen yang ia terapkan terdengar bunyi dengan format yang berbeda yang juga dapat menonjolkan keindahan komposisi itu sendiri.

Di Serambi Jazz, peraih gelar master dari Institut Musik Daya Indonesia ini menampilkan eksplorasi pada musik jazz dan komposisi sendiri dengan format big band yang tidak umum. Selain brass, woodwind pun akan lebih ditonjolkan. Mery ingin membuat klarinet dan flute lebih dominan daripada saksofon. Mery juga mengaransemen karya-karya Thelonious Monk dan John Coltrane yang menurutnya sangat banyak tapi jarang dimainkan.

Anda dapat menyaksikan bahwa Mery Kasiman memiliki visi atas karyanya. Apa yang telah dilakukan memberi nilai tambah dan warna di antara rekan seprofesinya. Ia akan melengkapi deretan penata dan pengarah musik negeri ini.

Catat tanggalnya, 12 Agustus 2010 mulai 19.30 WIB bertempat di GoetheHaus Jalan Sam Ratulangi No. 9-15
Menteng, Jakarta Pusat. Gratis, tempat terbatas, untuk reservasi & informasi hubungi +62 21 23550208 Ext. 147 & 157

***

Riza Arshad adalah komposer dan pianist senior yang sudah tidak asing lagi bagi dunia jazz Indonesia. Riza adalah musisi yang sangat peduli dengan regenerasi musik jazz di Indonesia. Riza Arshad memotori grup simakDialog, Trioscapes dan W/H/A/T. Ia juga seorang pengajar masterclass jazz di Institut Musik Indonesia (IMI), sebuah institusi musik kontemporer di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2001.

I Dewa Gede Budjana adalah satu gitaris negeri ini yang memiliki sound gitar signatured. Minat musik Budjana yang sangat kaya dan beragam ditunjukkan melalui kiprahnya di banyak kelompok dan rekaman album. Salah satunya adalah kelompok Indra Lesmana Java Jazz. Album solo salah seorang pendiri kelompok GIGI ini merupakan peleburan musik jazz, pop, serta world music yang ia akui sebagai hasil meditasi dan perenungan musik dalam perjalanan panjang bertemu takdirnya.

Elseos Jeberani Emanuel Likumahuwa atau lebih dikenal dengan nama Barry Likumahuwa bisa jadi telah menjadi pemain bass negeri ini yang diperhitungkan eksistensinya. Profil pemain bass muda yang ditampilkan jujur apa adanya serta betotan bassnya yang bermain di wilayah funk menjadi senjata untuk mencairkan anggapan bahwa adalah jazz musik ekslusif orang tua dan sulit untuk dinikmati.

Husein Arief Setiadi adalah multi instrumentalist sebenarnya. Kelahiran Bandung, 5 Desember 1959 memulai karir musik profesional lewat grup musik Wachdach di Bandung sebagai pemain keyboard. Namun kini ia lebih dikenal publik sebagai pemain saksofon yang handal. Dengan instrumen tiup itu ia menoreh jejak di banyak panggung dan rekaman. Arief merilis album pertama, berjudul JazzySax, setelah terlebih dahulu berkolaborasi dengan bassist Bintang Indrianto dalam rekaman JazzyBass dan JazzyDuet. Kerja sama mereka berlanjut di trio Philosophy, yang melibatkan Gerry Herb pada posisi drummer. Terakhir Arief hadir lewat album Little Russel, yang mendedah performanya melalui beberapa instrumen tiup dengan konsep minimalis.

JavaJazz Joy Joy Joy kini tersedia di WartaJazz

Tags: , , , , , , ,


javajazz-joyjoyjoy
Cover album JavaJazz – Joy Joy Joy

Buat anda yang menanti kehadiran Java Jazz selama kurang lebih 11 tahun, kini dapat memuaskan diri dengan album terbaru “Joy Joy Joy” yang dipaket dalam dua buat keping CD sekaligus.

Formasi Java Jazz sepeninggal almarhum Embong Rahardjo dalam album bersampul cantik ini – sebuah gambar dari lukisan karya pelukis asal Jogjakarta, Erica Hestu Wahyuni – adalah Indra Lesmana (keyboards, grand piano), Dewa Budjana (guitar), Gilang Ramadhan (drums), Donny Suhendra (guitar), dan Ananda Mates (bass).

CD yang diproduksi oleh Inline Music dan dipatok dengan harga jual IDR 100.000,- sudah dapat dipesan lewat WartaJazz CD Store.

Tinggal kirimkan Nama Lengkap dan Alamat pengiriman beserta nomor handphone ke email sales@wartajazz.net dengan Subject Pembelian CD JavaJazz – Joy Joy Joy, atau dapat pula mengisi form yang tersedia dibagian bawah halaman ini.

***

Di album Java Jazz terbaru ini, Indra dan kawan-kawan menjanjikan nostalgia bagi para diehard JavaJazz dengan sekaligus menyuntikkan kesegaran lewat cita suara baru. CD pertama memuat semua materi baru sementara CD kedua memuat karya-karya lama yang menjadi jembatan bagi penggemar baru yang mungkin belum sempat berkenalanan dengan JavaJazz.

Meski tanpa sang saxophonis, “Embong masih bersama JavaJazz dalam spirit,” ungkap Indra. Posisi Dewa Budjana memang tidak dimaksudkan sebagai pengganti, namun setidaknya permainan membangun nafas baru.

Album ini direkam di Inline Studio Jakarta (2009) dan Kantong Studio (1998) terkecuali lagu Crystal Sky yang direkam live oleh Larry Mah at Mad Hatter Studio, Los Angeles (1991). Penulis Jazz kawakan, wartawan Kompas Frans Sartono, menulis linear notesnya.

CD yang pertama berisikan 6 buah lagu hasil rekaman terbaru dari JavaJazz yakni : Exit Permit, Border Line, I Wish, Joy Joy, Joy, Going Home ( dedicated to Embong Rahardjo ) dan Java!s Weather ( dedicated to Joe Zawinul ). CD yang kedua berisikan 6 buah lagu yang merupakan kumpulan beberapa rekaman yang pernah beredar sebelumnya yakni : The Seeker, Lembah, Bulan Di Atas Asia, Violation, Drama, Crystal Sky.

javajazz-joyjoyjoy-insideYang menarik dalam booklet yang disertakan dalam packaging yang agak berbeda dengan cd-cd jazz Indonesia yang kebanyakan dirilis dipasaran, masing-masing personil mengomentari satu sama lain, sehingga setidaknya para penggemar JavaJazz dapat mengetahui apa yang ada dibenak masing-masing personil.

***

Cara Pemesanan Merchandise Wartajazz.com

  1. Kirimkan pesanan anda lewat email ke sales@wartajazz.net dengan subject “Pembelian CD JavaJazz – Joy Joy Joy”
  2. Jangan lupa menyertakan Nama Lengkap dan Alamat pengiriman barang.
  3. Untuk Biaya pengirimanJakarta & Depok dikenakan biaya kirim Rp. 15.000,-,
    Pulau Jawa Rp 25.000
    Pulau Kalimantan Rp 35.000
    Kota lain mohon konfirmasi dengan Redaksi.
  4. Pembayaran dapat dilakukan transfer via ATM BCA ke rekening 627-006-3339 a.n Agus SB atau menggunakan internet Banking KlikBCA.com

    atau dapat pula menggunakan form pemesanan berikut:

Konser tunggal Java Jazz (Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Dewa Budjana, Mates dan Donny Suhendra)

Tags: , , , ,


Konser Tunggal Java Jazz di Jakarta

Konser Tunggal Java Jazz di Jakarta

Supergrup di ranah Jazz Indonesia, Java Jazz yang terdiri dari Indra Lesmana (keyboards, grand piano), Dewa Budjana (guitar), Gilang Ramadhan (drums), Donny Suhendra (guitar), dan Ananda Mates (bass) akan memuaskan dahaga para penggemar setianya dalam sebuah konser tunggal yang digelar di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Kamis 10  Desember 2009 mulai pukul 19.30 wib.

Kelompok yang vakum setelah merilis album kedua Sabda Prana (1998) dan album perdana yang terdiri dari double-kaset Bulan di Asia (1994) dijadwalkan merilis pula album mereka yang sudah selesai dikerjakan distudio rekaman milik Indra Lesmana.

Harga tanda masuk (HTM) ditetapkan sebesar IDR 150.000,- untuk VIP dan IDR 100.000,- untuk Balkon. Anda yang tertarik sudah dapat memesannya di WartaJazz.com Jakarta dengan menghubungi telepon 021-8310769 atau email info@wartajazz.net dengan subject “Pembelian Tiket Solo Concert Java Jazz”.

***

Java Jazz adalah grup besar yang pernah amat berjaya pada paruh pertama dasawarsa 1990-an, sebelum kemudian para anggotanya sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Boleh dibilang setelah era 90-an, pentas jazz Indonesia belum memiliki grup fusion yang setara dengan Java Jazz yang memiliki alm Embong Rahardjo sebagai salah satu ciri khas dengan permainan flutenya.

Dalam konser tunggal ini akan dirilis album berjudul “Joy, Joy, Joy” dimana posisi Embong digantikan oleh gitaris Dewa Budjana.

Indra Lesmana sendiri telah merilis sejumlah karya antara lain Reborn, Kayon maupun album Kembali Satu yang baru saja dirilis sebulan yang lalu dan digarap bersama para finalis ajang lomba Indonesian Idol. Sementara Dewa Budjana selain aktif bersama grup Gigi juga membentuk Trisum bersama gitaris Tohpati selain bermain solo dan sesekali tampil menjadi tamu bersama musisi lain. Donny Suhendra merilis album solo dan kerap tampil bersama Syaharani dengan ESQI:EFnya. Gilang Ramadhan aktif dalam formasi Kayon dan sempat merilis album bersama Indra Lesmana dan Pra Budi Dharma.

Saksikan pula penampilan Java Jazz di UGM Jazz 2009

Sambut Dies Natalis ke 60, UGM Jazz undang Indra Lesmana, Budjana dan sederet bintang Jazz Indonesia

Tags: , , , , , , , , ,


UGM Mandiri Jazz 2009 - Tampilkan Java Jazz dll

UGM Mandiri Jazz 2009 - Tampilkan Java Jazz dll

Menyambut Dies Natalis ke 60, UGM Jazz Digelar Dua Kali Setahun!

Tahun ini benar-benar menjadi tahun extravaganza jazz bagi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Betapa tidak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, konser tahunan UGM Jazz tahun ini digelar sampai dua kali, sehingga menjadi event semesteran. Sesudah sukses menggelar UGM Jazz pada 23 Mei 2009 silam—yang antara lain menampilkan Balawan, Ireng & Kiboud Maulana serta Maylaffayza—kali ini UGM masih menyisakan satu lagi konser jazz untuk memuncaki perayaan hari jadinya yang ke-60, yang jatuh pada 19 Desember 2009.

Inilah konser jazz ke-12 UGM Jazz. Bila konser ini juga mendapat sambutan besar sebagaimana konser-konser sebelumnya, sangat mungkin tradisi menyelenggarakan konser jazz akbar semesteran akan dilanjutkan tahun depan. Kalau ini terjadi, maka UGM boleh mencatatkan diri sebagai satu-satunya kampus yang paling getol menggelar jazz dengan frekuensi setahun tersering.

Konser yang disponsori Bank Mandiri ini diberi nama UGM-Mandiri Jazz 2009 ini akan digelar pada Selasa, 15 Desember 2009, di Grha Sabha Pramana, Kampus UGM, Bulaksumur, Yogyakarta. Selain sebagai puncak peringatan Dies Natalis, konser ini juga dimaksudkan sebagai kelanjutan dari konser-konser UGM Jazz sebelumnya yang selalu mencatat sukses besar. UGM Jazz selalu mampu menyedot 4.000 penonton (sesuai kapasitas Grha Sabha Pramana), dan bahkan mempunyai tradisi tiket terjual habis (sold out) sejak beberapa hari sebelum hari ”H”.

Untuk mengejar target sold out secepat mungkin, kali ini panitia tidak tanggung-tanggung menghadirkan kembali grup jazz super yang sudah lama vakum, yakni Java Jazz. Tampaknya, strategi panitia memilih Java Jazz sangat jitu. Karena Java Jazz adalah grup besar yang pernah amat berjaya pada paruh pertama dasawarsa 1990-an, sebelum kemudian para anggotanya sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Dedengkot grup ini adalah ”bocah ajaib” yang amat bertalenta sejak berusia bocah, yakni Indra Lesmana. Dalam dua bulan terakhir ini, ia berinisiatif membangkitkan kembali grup besar ini melalui latihan secara intens. Sebelum manggung di Yogyakarta, Java Jazz lebih dulu direncanakan melakukan re-launching dengan menerbitkan album terbarunya, pada Kamis, 10 Desember 2009, di Jakarta. Karena itu, event akbar UGM-Mandiri Jazz 2009—yang kini kian mantap eksistensinya dalam peta dan agenda jazz di tanah air—akan dijadikan momentum penting kebangkitan kembali Java Jazz.

Setelah meninggalnya peniup sax andal almarhum Embong Rahardjo, Java Jazz mengalami sedikit perubahan formasi, menjadi: Indra Lesmana (keyboards, grand piano), Dewa Budjana (guitar), Gilang Ramadhan (drums), Donny Suhendra (guitar), dan Ananda Mates (bass). Semua personalnya adalah talenta-talenta jazz terbaik di negeri ini. Di UGM-Mandiri Jazz, grup Java Jazz akan tampil di babak kedua. Yang juga menarik, sebelum Java Jazz tampil, Syaharani akan mengawali penampilan kembali grup super ini. Java Jazz direncanakan membawakan kombinasi antara lagu-lagu lama (hit mereka yang paling dikenang adalah Bulan Di Atas Asia) serta sejumlah lagu baru.

Selain grup Java Jazz, konser UGM-Mandiri Jazz 2009 juga akan menampilkan generasi jazz baru yang tengah naik daun, yakni Barry Likumahuwa Project. Barry adalah pemain bass yang bertalenta tinggi, yang musiknya dapat disambut baik oleh para penonton muda usia. Penampilan kelompok ini akan dibantu oleh ayahanda Barry, yaitu musisi senior serba bisa yang akan meniup trombone, yakni Benny Likumahuwa. Selain memainkan nomor-nomor instrumental, kelompok ini juga akan mendampingi penyanyi jenis R & B, Ello, yang diantaranya akan melantunkan lagu andalannya, Pergi Untuk Kembali, ciptaan ayahandanya, Minggus Tahitoe. Selain Ello, penyanyi senior Bertha juga akan meramaikan konser besar yang formatnya menyerupai ”semi festival” ini.

Pihak UGM juga secara khusus mengundang Farhan dan Sarah Sechan untuk memandu perhelatan yang diperkirakan bakal menghebohkan Yogyakarta ini. Para pecandu jazz bisa mereservasi tiketnya di WartaJazz.com Jogja dengan menghubungi telepon 0274-512561 atau 0812-2701719 atau email ke info@wartajazz.net

Tiket sengaja disediakan bervariasi, mulai Rp 25 ribu, Rp 40 ribu, Rp 75 ribu, Rp 150 ribu dan Rp 200 ribu, untuk mengakomodasi semua lapisan komunitas UGM Jazz, yang dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan soliditas dan loyalitas yang tinggi, yang dibuktikan dengan selalu sold out-nya pesta jazz terbesar dan paling konsisten di luar Jakarta ini.

Dewa Budjana pastikan hadir di Ngayogjazz 2009

Tags: ,


Gitaris jazz kenamaan Dewa Budjana akhirnya memastikan diri hadir dalam Ngayogjazz 2009 yang digelar Jumat-Sabtu 20-21 November 2009 di Pasar Seni Gabusan Bantul Yogyakarta.

Kepastian kehadiran anggota band pop-rock kenamaan Gigi ini didapatkan setelah sempat tersiar kabar kalau Budjana kemungkinan batal bergabung dengan artis-artis jazz lain yang sudah mengkonfirmasi kehadirannya seperti Dwiki Dharmawan, Syaharani, Donny Suhendra, Bintang Indrianto dan lain-lain.

Tentu tidak mengherankan mengingat jadwal manggung maupun rekaman Budjana -demikian ia akrab disapa- cukup padat. Ia baru saja menyelesaikan rekaman bersama Java Jazz, kelompok yang kini digawangi Indra Lesmana, Donny Suhendra, Gilang Ramadhan, dan Mates.

Kehadiran konseptor kelompok Trisum di Yogyakarta dalam Ngayogjazz 2009 tahun ini menjadikan acara jazz festival dengan konsep memdekatkan jazz ke penonton ini makin semarak.

Selamat menikmati permainan gitar Budjana di Ngayogjazz 2009!.

Bentara Budaya Bali diresmikan dengan JegogJazz Project, Budjana dan Balawan

Tags: , , , ,


budjana-bentara-baliSebuah berita gembira untuk para penikmat seni khususnya musik Jazz. Bentara Budaya yang sudah hadir di Jakarta dan Yogyakarta kini hadir pula di Bali. Sebagai pembukaan bahkan dipersembahkan sajian khusus berupa JegogJazz Project bersama bintang tamu Dewa Budjana, Wayan Balawan dan Ayu Laksmi, vokalis Tropical Transit.

Acara peresmian dilakukan pada Rabu, 4 November 2009 pukul 19.00 wita bertempat di Jl. Prof IB Mantara 881 By Pass Ketewel, Gianyar Bali, demikian siaran pers yang diterima dari bagian humas KompasGramedia. Grand Opening Bentara Budaya Bali juga dirangkai dengan kegiatan Peresmian Pameran Festival Bambu.

***

Bentara Budaya menyediakan ruang bagi seni dan kesenian yang termarjinalkan atau non-mainstream. Di Bentara Budaya Jakarta misalnya, rutin diadakan konser jazz maupun world music. Bulan lalu misalnya, Krakatau merayakan ulang tahun ke-25 mereka dengan menggelar pertunjukan sekaligus pameran memorabilia. Bentara Budaya Yogyakarta kerap dipakai berbagai kegiatan termasuk pameran lukisan maupun karya seni lainnya.

Hadirnya wadah bagi para musisi menyalurkan atau mempersembahkan karya-karya mereka tentu saja harus kita apresiasi dan mesti dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan seni baik modern maupun tradisi.

***

JegogJazz Project yang disajikan di Grand Opening Bentara Budaya merupakan sebuah proyekyang dikerjakan Nanoq da Kansas, seniman musik asal Moding. ”Setiap malam, sejak mungkin lebih dari dua bulan, kami latihan dan bereksperimen memadukan jegog dengan jazz sebagai musik yang lebih dikenal,” ujarnya dalam wawancara dengan Kompas.

Mengingat keunikan musikalitas yang dihasilkan jegog, Nanoq mencari komposisi lagu yang memiliki kedekatan dengan suara gamelan. Ia misalnya menggarap lagu ”Every Breath You Take” dari The Police, yang secara musikal didominasi dentuman bas dari Sting. Budjana, Balawan, dan Ayu Laksmi akan membawakan lagu ”Tri Kaya Parisudha” ciptaan Ayu yang dimainkan dengan aransemen mengikuti musikalitas jegog.

Mudah-mudahan proyek ini tak terbatas hanya penampilan saja namun diikuti langkah melakukan rekaman agar jejaknya dapat dinikmati oleh pecinta musik Jazz Indonesia dan dunia.

Gitarku: Hidupku, Kekasihku – DVD Wajib Penggemar Dewa Budjana

Tags: , , ,


DVD Dewa Budjanda Gitarku: Hidupku, Kekasihku

DVD Dewa Budjana Gitarku: Hidupku, Kekasihku

Mencari suaka batin, sanctuary, adalah simpul tema-tema rilis solo Budjana. Jelma spiritual yang hadir dalam musik I Dewa Gede Budjana tak lepas dari Bali dan Hindu. Silabel sakral ”Om” kerap terlihat sebagai simbol yang tertoreh pada gitarnya. Judul ”Samsara” (2003) yang dipilihnya pun adalah daur kehidupan yang lekat dengan konsep reinkarnasi dan karma, dengan lahir dan mati sebagai bagiannya.

Duka meninggalnya sang ayah dituturkannya lewat ”Ruang Dialisis”. Di dalamnya ada ketidaksengajaan (yang bagaimanapun adalah campur Tangan-tangan Yang Maha), kidung neneknya, mendiang Jro Ketut Sidemen, yang direkam terpisah di Klungkung, pas ada di nada dasar yang sama dengan rekaman musiknya di Jakarta. Kidung itupun kemudian ternyata berkisah kematian.

Pengalaman duka itu dibawanya tampil dua tahun silam dalam konser tunggal pertamanya yang bertajuk ”Gitarku: Hidupku, Kekasihku” (GKJ, 7/12/’07). Cuplikan dokumenter Bali lama milik Miguel Covarrubias menjadi latar requiem yang menyayat jiwa. Potret kehidupan Bali bergaya noir itu semakin temaram dalam ”Ruang Dialisis”. Refleksi duka lainnya muncul lagi dalam ”Dancing Tears” (Home, 2005) yang berkisah Tsunami, chaos saat laut tidak bersahabat.

Daur hidup tak melulu duka, karyanya yang bhinneka juga mensiratkan suasana lainnya. Terinspirasi tarian Sanghyang Dedari, ”Dedariku” (Gitarku, 2000) mengalun kontemplatif dalam gema permainan gitar 12 senar diimbuhi permainan cantik paduan udu berbahan gerabah dalam idiom tabla dengan kendang Sunda yang ditabuh Jalu Pratidina. ”Dreamland” yang optimis dan suntikan berat funk dalam ”Lalu Lintas” (Nusa Damai, 1997) juga menjadi warna lain yang terdengar.

Konser ini juga merekam duetnya dengan pianis tamu Indra Lesmana. ”Wanita” milik Indra yang menjadi lagu tema film berjudul sama di tahun 1990 (dibintangi Meriam Bellina dan Mathias Muchus) dimedley dengan ”Bunga Yang Hilang”.

Tak lengkap pula jika koleksi gitarnya yang unik tidak dimainkan. Ada soprano nylon dalam ”Caka”, banjo (tetapi masih dalam konstruksi gitar) dalam ”Bermain” atau sitar elektrik (keluaran Coral) dalam ”Malacca Bay”. Konser ini memang dibarengi peluncuran buku yang membahas pula gitar-gitar koleksinya. Peluncuran silam tersebut kemudian disusul bundel spesial DVD dan CD di 2009 ini.


A great teacher is one who realizes that he himself is also a student and whose goal is not dictate the answers, but to stimulate his students creativity enough so that they go out and find the answers themselves. — Herbie Hancock


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<