Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "Dira.J.Sugandi"

Yuk nonton Kampoeng Jazz akhir April 2011

Tags: ,


Kampoeng Jazz 2011

Kampoeng Jazz 2011

Makin ramai saja acara Jazz di Indonesia. Setelah kehadiran Incognito pada tanggal 29 April, menyusul keesokan harinya akan digelar Kampoeng Jazz tepatnya Sabtu, 30 April 2011 bertempat di Kampus Universitas Padjadjaran Jl. Dipatiukur 35 Bandung.

Panitia menjual tiket dengan harga Presale sebesar IDR 120.000,- dan jika anda membeli pada hari H atau ditempat pertunjukan sebesar IDR 150.000,-. Jika anda perlu info lebih lanjut soal tiket silakan hubungi Andrew 085715799880 (Bandung) atau Bagus  08174848555.

Sejumlah performer yang disiapkan antara lain Dira J. Sugandi, Yovie Widianto Fusion (YWF), ESQI:EF atau yang dikenal sebagai Syaharani dan Queenfireworksnya, Tesla Manaf featuring Mahagotra Ganesha.

Turut memeriahkan acara ini bintang tamu internasional yaitu band pop indie Tahiti 80 (Perancis), penyanyi Sabrina asal Philipina yang akan berduet dengan Calvin Jeremy.

Sementara dari hasil audisi Kampoeng Jazz 2011 Band terdapat sejumlah pemenang yang akan tampil yaitu Road Stone, Stereotitude, KPH ALL Star dan Soul Of Magnolia.

Akan bertindak selaku MC: Eddi Brokoli & Melanie Subono.

***

Tahun ini adalah kali ke-empat diselenggarakannya Kampoeng Jazz. Kini mereka mengambil tema Jazzolution “where music impact society” yang dimaksudkan sebagai Sound Act berupa aksi sosial yang memerangi kemiskinan dan mengedepankan pendidikan bagi anak-anak. “Bentuk nyatanya adalah panitia akan bekerjasama dengan Dompet Dhuafa, keuntungan dari kegiatan ini akan disumbangkan”, demikian Bagus Wicaksono Ruswandi – staf publikasi Kampoeng Jazz 2011 menerangkan.

Menyoal line-up tahun ini, Bagus lebih lanjut menjelaskan, “Walaupun tidak semua artis beraliran jazz, namun output musik merekalh yang akan menyesuaikan dengan kebutuhan pasar dari Kampoeng Jazz ini”.

Penyelenggaraan Kampoeng Jazz pertama pada tahun 2008, berlanjut ke 2009 dan 2010 yang mengambil tema “Live like Jazz”. Tahun ini panitia menargetkan sekitar 6500an tiket akan terjual.

Penyelenggaraan Kampoeng Jazz di kampus Universitas Padjadjaran oleh BEM Fakultas Hukum Unpad ini menambah panjang daftar acara jazz berskala festival di Kampus. Seperti mungkin anda sudah mahfum, Jazz Goes to Campus kerap digelar saban November di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok. Lalu UGM Jazz yang juga kerap diadakan di Yogyakarta. Diantara itu sesekali ITB mengadakan konser Jazz pula.

Satu hal yang pasti agen perubahan – demikian sebutan untuk mahasiswa – memang menjadi salah satu eksponen dalam menyebarluaskan musik jazz di Indonesia.

Selamat kepada Kampoeng Jazz dan selamat menonton untuk anda sekalian!.

BNI-UGM Economic Jazz 2011 – kini berlabel Konser Jazz Internasional

Tags: , , , , , ,


UGM Jazz - Michael Paulo

UGM Jazz - Michael Paulo

Untuk pertama kalinya, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (FEB-UGM) akan menyelenggarakan konser jazz, yang kali ini berskala internasional, bertajuk BNI-Economics Jazz 2011. Bagi FEB-UGM, ini merupakan konser jazz ke-15, setelah tahun lalu sukses menggelar dua kali konser di bulan Mei dan September 2010. Konser yang disponsori oleh Bank Negara Indonesia (BNI) kali ini akan berlangsung pada Sabtu, 14 Mei 2011, di Grand Pacific Ballroom, Jalan Magelang, Yogyakarta.

“Kami sebenarnya sudah lama menginginkan konser jazz yang mengundang musisi internasional, tapi baru kali ini kesampaian. Beberapa konser sebelumnya memang melibatkan musisi jazz asing, namun sifatnya hanya ‘comotan’, karena yang bersangkutan kebetulan sedang berada di Indonesia. Tapi kali ini, musisinya secara eksklusif kami undang dan datangkan langsung dari Amerika Serikat. Kami berterima kasih sekali pada Pak Peter F. Gontha yang membantu mengenalkan saya dan melobi saxophonist Michael Paulo, sehingga bisa didatangkan ke Yogyakarta,” kata Ketua dan Produser Eksekutif Economics Jazz, A. Tony Prasetiantono, yang juga dosen senior UGM dan pengamat ekonomi nasional.

Konser kali ini memang istimewa. Michael Paulo, peniup sax dari California, Amerika Serikat—yang oleh para pengamat diklasifikasikan sebagai musisi jazz crossover, atau jazz yang amat bersentuhan dengan pop—akan hadir bersama grupnya. Mereka terdiri dari Freddie Washington (bass), Kimo Cornwell (keyboards), Fred Schreuders (gitar), dan Land Richards (drum). Michael dan rombongan akan terbang langsung dari Los Angeles pada 11 Mei 2011, dan tiba di Yogyakarta 12 Mei 2011.

Michael Paulo dikenal sebagai salah satu artis jazz GRP (Grusin-Rosen Production), perusahaan rekaman yang didirikan Dave Grusin dan Larry Rosen, yang khusus menerbitkan CD jazz dan fusion, terutama pada dasawarsa 1990-an. Michael berdarah Hawaii, kedua orang tuanya adalah musisi. Bapaknya seorang pianis, dan ibunya penyanyi. Namun dia termasuk terlambat mengenal saxophone, di usia 15 tahun.

Ia pindah ke California pada 1981, dan kemudian bergabung dengan band pengiring Al Jarreau. Ia kemudian membuat berbagai rekaman jazz-pop seperti One Passion (di bawah label MCA, 1989), dan selanjutnya album Fusebox (1990), Save the Children (1993), My Heart and Soul (1996), Midnight Passion (1999), Sax for Christmas (2000), Best of Michael Paulo (2001), dan Beautiful (2005). Di Indonesia, juga terbit album kompilasi lagu-lagu terbaiknya dengan judul Michael Paulo (2008).

Michael Paulo banyak berkolaborasi dengan penyanyi dan musisi papan atas, seperti Al Jarreau, Patti Austin, David Benoit, Jeffrey Osborne, Jeff Lorber, dan Johnny Mathis. Michael adalah satu-satunya artis yang tampil tujuh tahun berturut-turut di Java Jazz International Festival di Jakarta, sejak 2005. Dalam konser di Yogyakarta, Michael juga akan berduet dengan penyanyi Indonesia yang sedang naik daun, Dira J. Sugandi. Dira yang pernah berkolaborasi dengan Incognito, baru saja merilis album barunya, Something About the Girl (2011).

Michael Paulo dan grupnya akan tampil 90 menit di Economics Jazz 2011. Sebelumnya, akan tampil musisi pop Fariz RM yang akan berkolaborasi dengan Barry Likumahuwa Project. Lagu-lagu lama Fariz yang sudah jadi legenda seperti Sakura, Barcelona, Nada Kasih, Hasrat dan Cita, akan diaransemen ulang dengan rasa jazz oleh Barry Likumahuwa. Sajian unik kerjasama musisi dua generasi ini pernah sukses besar tatkala tampil di panggung utama Java Jazz Festival, Maret 2011 silam. Gedung penuh sesak, dipadati oleh 10.000 penonton.

Seperti konser-konser jazz yang diselenggarakan UGM sebelumnya, Tony Prasetiantono yakin bakal mengalami soldout lagi. Tahun lalu, tiket sudah habis terjual dua minggu sebelum pertunjukan. “Jika konser jazz internasional ini sukses, maka tahun depan kami akan mengundang David Benoit. Sesudah itu, akan makin banyak lagi artis jazz fusion yang akan kami hadirkan di Yogya, seperti Dave Koz, Dave Valentin, dan Lee Ritenour,” janjinya.

Jongens Jazz 4Tet tampil di Just Jazz Surabaya

Tags: , , ,


Jongens Jazz 4Tet - Just Jazz

Jongens Jazz 4Tet - Just Jazz

Kota Surabaya akan kedatangan tamu dari ‘jauh’ pada hari Kamis 17 Maret 2011, dengan kehadiran Jongens Jazz 4Tet dalam acara Just Jazz yg digelar di Matchbox Too, Coffee and Friends di Jalan Jawa 33 Surabaya. Coaching Clinic di Matchbox akan digelar mulai pukul 15.00 – 17.00 wib.

Sebuah klinik dengan nara sumber para personil Jongens Jazz 4Tet – para musisi muda Jazz Indonesia yang baru saja kembali dari pendidikan mereka di negara kincir angin, Belanda.

Jongens Jazz 4Tet sendiri baru terbentuk Januari 2011, dengan empat musisi yang berdomisili di Jakarta. Tiga orang anggota Jongens – yang artinya dalam bahasa Belanda, berarti Young atau muda -  Dhani Syah (piano), Zulhamsyah (drums), Johanes Radianto (gitar) bertemu dan belajar di konservatori yang sama. Seorang lagi Donny Sundjojo (acoustic bass) merupakan musisi jebolan Institut Musik Daya, Jakarta.

Jongens Jazz 4Tet telah menjajal apnggung Java Jazz Festival 2011. Keempat musisi muda ini memainkan jazz bergenre bop yang kental nuansa Eropanya. Khusus untuk penampilan di Surabaya, mereka menggandeng solois handal: Dira J. Sugandi.

Dira adalah the next big thing yang mencuri perhatian Bluey dari band acid jazz legendaris Inggris Incognito. Dira telah merilis album solonya berjudul Something About a Girl. Ia juga terlibat di album Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra, selain Harmony – SCTV, Java Jazz Festival, Panggung @america hingga pentas musikal Laskar Pelangi.

Inilah daftar musisi (Jazz) Indonesia yang bakal tampil di Axis Java Jazz Festival 2011

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Axis Java Jazz Festival 2011

Axis Java Jazz Festival 2011

Apakah anda sudah mengantongi tiket pertunjukan Axis Jakarta International Java Jazz Festival 2011 yang akan digelar 4-5 Maret 2011 mendatang?. Kalau belum, masih ada kesempatan untuk mendapatkan tiket tersebut, plus beberapa pilihan spesial shows yang menarik bersama Santana, George Benson atau Kenny Loggins.

Berikut ini daftar paling update untuk musisi Jazz Indonesia yang bakal tampil di Java Jazz Festival 2011:

  • Abdul and The Coffee Theory
  • Ade & Brothers
  • Andien
  • Barry Likumahuwa Project
  • Benny Likumahuwa & Young Jazz Connection
  • Benny Mustafa
  • Bonita & The Husband
  • Bubi Chen Plays Pop
  • C-Man
  • Calvin Jeremy
  • Chairul Umam Quintet
  • David Manuhutu
  • Dira J. Sugandi
  • Donny Suhendra
  • Drew
  • Dwiki Dharmawan & Angklung Jazz Ensemble
  • Ello
  • Endah N Rhesa
  • Esqi:EF Feat Syaharani and The Queenfireworks
  • Farrah Di Bigband
  • Four On The Floor
  • Fraya
  • Gigi Big Band
  • Glen Dauna feat. Farrah Di
  • Glenn Fredly
  • Idang Rasjidi
  • Imam Pras Quartet
  • Indonesia Nu Progressive tribute to Harry Roesli
  • Indonesian Youth Regeneration
  • Indra Aryadi
  • Indra Aziz Quintet
  • Indro Hardjodikoro
  • Iwan Abdie
  • Iwan Hasan’s Chamber Jazz feat. Andien, Enggar, Metta
  • Jaya Suprana
  • Jopie Item
  • Kahitna
  • Kirana Big Band
  • Maliq & D’Essentials
  • Manna Band
  • Marcell
  • Mian Tiara & D’Organics
  • Minangapentagong Sawahlunto
  • Nial Djuliarso: The Jazz Soul of Ismail Marzuki
  • Nikita Dompas & His Fellow Musicians
  • Notturno
  • Oele Pattiselano
  • Pandji Pragiwaksono
  • Pitoelas Bigband
  • Raisa
  • RAN
  • Sandhy Sondoro
  • Sandy Winarta Quartet
  • Shadow Puppet
  • Simak Dialog
  • Sketsa
  • Soulvibe
  • Spero
  • The Groove Reunion
  • The Husband & Wife feat. Endah N Rhesa
  • The Jongens Jazz Quartet
  • The Police Project by Margo Rising
  • Tohpati Bertiga
  • Tribute to Elfa S. feat. Elfa’s Singers, Harvey Malaiholo, Andien
  • W/H/A/T Quartet
  • Zarro

Beberapa nama yang mesti mendapat perhatian antara lain WHAT Quartet, The Jongens Jazz Quartet, Shadow Puppet, karena kelompok ini para musisi Jazz Indonesia yang belakangan namanya mulai mencuri perhatian.

Selain itu tentu saja ada sejumlah nama seperti Tohpati Bertiga yang tak lain adalah Tohpati Ario Hutomo, Indro Hardjodikoro dan drummer Gugun Blues Shelter, Bowo yang memulai proyeknya di Ngayogjazz.

Dwiki Dharmawan gelar Sketches of Indonesia

Tags: , , , , , , ,


Dwiki Dharmawan – Sketches of Indonesia

Dwiki Dharmawan – Sketches of Indonesia

Disela-sela kesibukan tour Internasional dan proyek-proyek musikalnya, pianis Dwiki Dharmawan menyempatkan menyapa publik Jakarta dengan sebuah konser bertajuk “Sketches of Indonesia” dengan menampilkan sejumlah karya baru.

Acara digelar di Usmar Ismail Hall Gedung Pusat Perfilman PPHUI Jl. HR. Rasuna Said Kav C 22 Kuningan – Jakarta Selatan Rabu, 29 September 2010 pukul 19.30 wib.

Dwiki Dharmawan juga mengundang sejumlah rekan-rekannya seperti Guy Strazz dan Hugh Fraser dari Australia. Andy Suzuki dari Jerman, Philippe Ciminato dari Perancis dan musisi-musisi tanah air seperti Gerry Herb, Ivan Nestorman, Dira J. Sugandi.

***

Andy Suzuki dikenal sebagai saxophonis yang juga memainkan instrumen klarinet. Karirnya sekitar 25 tahun didunia Jazz dengan ragam genre mulai dari traditional, straight-ahead jazz, modern jazz hingga fusion. Andy kerap tampil mendampingi musisi top seperti David Benoit, Dave Brubeck, Al Jarreau dan lain-lain.

Datang dari benua kangguru Australia, Guy Strazz dideskripsikan sebagai virtuoso di bidang electro-acoustic classical guitar. Ia meracik paduan Afro-Brazilian, acoustic Jazz dan klasik India dan pernah mempertontonkannya mulai dari India, Jepang, Australia hingga Jakarta.

Sedang Hugh Fraser mahir memainkan elektrik dan acoustic bass. Pertautannya dengan Indonesia dimulai dari kerja professionalnya bersama alm Bill Saragih dan jam sessions setiap ‘weekend’ bersama Indra Lesmana dan ayahnya alm Jack Lesmana.

Ketiga musisi diatas pernah berkolaborasi dengan Dwiki lewat World Peace Orchestra-nya. Kini ditambah sejumlah musisi lain, menjadikan Sketches of Indonesia tontonan alternatif di penghujung bulan September ini.

Informasi undangan pertunjukan silakan mengontak Hotline 0878-8831-2353 dg sdri Dina.

***

Konser ini direncanakan menjadi karya kedua Dwiki Dharmawan dalam bentuk Live Concert DVD. Sebelumnya ia merilis Live at the Baked Potato, sebuah klab jazz bergengsi di LA, Amerika Serikat.

Saat ditanya soal konsep acara ia menjelaskan, “Konser kali ini agak berbeda dengan konser saya sebelumnya. Sejumlah lagu baru sudah saya siapkan seperti Lamalera’s Dream dengan lantunan vokal Dira J Sugandi. Lalu ada Songket dan Komodo. Ada isian vokal Ivan Nestorman pada lagu Kakorlalong dari Flores dan masih ada beberapa lagi. Format yang dipakai juga berbeda dengan World Peace Orchestra, kali ini saya lebih ke akustik dengan mengundang Guy Strazz dan Hugh Fraser”.

2nd Jazz @ Fort Rotterdam 2010: Ketika Jazz dan Etnik (Kembali) Bersua

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Acara jazz tahunan dipentaskan lagi di Makassar pada tanggal 31 Juli dan 1 Agustus lalu. Tema yang diusung tak berbeda dengan tahun sebelumnya, pihak panitia One Note Entertainment memberi tajuk “When Jazz Meets Ethnics” dengan misi untuk mengembangkan kekayaan musik tradisi setempat melalui jazz sebagai medium. Disamping itu, agenda lainnya adalah mempromosikan potensi wisata Makassar dan sekitarnya kepada publik internasional, seperti penuturan ketua panitia Jazz @ Fort Rotterdam (JFR) 2010 Hendra Sinadia yang juga mendapat dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Makassar serta Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dihadiri Sapta Nirwandar selaku Direktur.

Sapta Nirwandar, Dwiki Dharmawan dan Hendra Sinadia beserta panitia

Sapta Nirwandar, Dwiki Dharmawan dan Hendra Sinadia beserta panitia

Sejalan dengan pelaksanaan JFR 2010, Kemenbudpar turut berupaya untuk mensosialisaikan program Vote Komodo kepada masyarakat Makassar. Tentunya hal tersebut dilakukan untuk menyikapi lolosnya Taman Nasional Komodo sebagai salah satu dari 28 finalis untuk melanjutkan ke tahap akhir kampanye setelah menyisihkan 440 nomine lainnya dari 220 negara. New7Wonders Foundation menetapkan tanggal 11 November 2011 sebagai batas akhir pemungutan suara. Pengunjung JFR 2010 dapat memberikan suaranya pada gerai online voting yang tersedia selama acara berjalan dan terhubung langsung dengan situs www.new7wonders.com. Setelah voting, mereka langsung mendapatkan cinderamata berupa pin “Vote Komodo” sebagai tanda partisipasi.

Hari Pertama, Sabtu 31 Juli 2010

JFR 2010 baru dimulai sekitar pukul enam sore waktu setempat, ditandai dengan penampilan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Hasanuddin dilanjutkan Pakarena N Jazz serta atraksi tarian tradisional khas Makassar. Kepala Dinas Kebudayaan  dan Pariwisata Makassar, Rosmayani Madjid, diamanatkan untuk memukul gendang membuka jalannya festival.

Hari telah berganti malam, dan kini tiba saatnya band lokal Rizcky & The Strangers untuk tampil.  Beranggotakan lima personil dengan Rizcky Pradhana de Keizer sebagai vokalis utama sekaligus basis, band ini cukup bertenaga membawakan lagu-lagu bernuansa funk maupun fusion. Tembang “Good Times, Bad Times” milik Edie Brickell, “I Don’t Want to Miss a Thing” dari Aerosmith serta komposisi instrumental “Nightfall” mereka sajikan. Pengunjung JFR yang mayoritas anak muda nampak terkesima dengan vokal dan permainan bas Rizcky, terutama ketika “All At Sea” dari Jamie Cullum dinyanyikan.

Terdapat dua buah panggung pada acara ini. Sebuah terletak persis berhadapan dengan pintu masuk, dan satu lagi ditempatkan sekitar 50 meter ke dalam areal Fort Rotterdam sebagai panggung utama. Selepas Rizcky, penampil berikutnya adalah PSM Universitas Hasanuddin berjumlah delapan orang, dua pria dan enam wanita. Mereka mencoba untuk membawakan lagu tradisional populer seperti “Anging Mammiri” dan lagu pop dalam negeri serta mancanegara melalui harmonisasi vokal.

PSM Universitas Hasanuddin di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

PSM Universitas Hasanuddin di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Kemudian penonton berbondong-bondong ke panggung utama untuk menyaksikan band lokal lainnya, Groundstroke yang menghajar audiens dengan sajian jazz-rock sarat distorsi. Susana memanas tatkala ketiga personil melaju kencang lewat solo instrumen gitar, bas, dan drum secara bergantian. Menarik ketika band ini memainkan “Spain” karya Chick Corea yang sound gitarnya justru mengarah ke heavy metal.

Selanjutnya adalah pendingin suasana dengan tampilnya band D’Exclusive lewat lagu-lagu yang sebetulnya masuk kategori Top 40 semisal “She Will Be Loved” besutan Maroon 5, tampak sesuai dengan profil band ini yang personilnya masih remaja.

Balawan di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Balawan di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Salah satu bintang tamu di hari pertama adalah I Wayan Balawan yang begitu memesona lewat permainan gitar setang ganda lengkap dengan teknik two-handed tapping andalannya. Malam itu adalah konser perdana Balawan di tanah Makassar, ia tampil bersama Ketut Tarmadi (bas) dan Dion Subiakto (drum) yang tergabung menjadi Balawan Trio. Mereka mengusung musik yang energik bergaya campuran jazz, fusion, rock, hingga etnik. Tak hanya Balawan seorang, Ketut dan Dion pun menampilkan atraksi solo penuh greget. Grup ini sangat menghibur audiens sewaktu Balawan menyanyikan nomor “What a Wonderful World” dengan serakan khas Louis Armstrong. Irama reggae menutup penampilan Balawan sembari ia melagukan “Waiting in Vain” milik Bob Marley secara ekspresif.

Mercy Dumais di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Mercy Dumais di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Denyut bossa nova dan samba terdengar meriah waktu Zarro mulai angkat suara. Penampilannya waktu itu diramaikan pula lewat suguhan Capoeira (kesenian khas Afro-Brazilian memadukan unsur bela diri, tarian, dan musik) yang sinkron dengan irama Zarro. Atmosfer semakin hangat terasa ketika vokal Mercy Dumais memenuhi ruang dengar audiens dengan interpretasi bossa yang mumpuni, khusunya selagi ia membawakan “Anging Mammiri” dan “Tristeza”. Sedang berulang tahun, ketua panitia Hendra Sinadia diminta naik ke atas panggung dan akhirnya ia menyanyikan “Girl From Ipanema”. Lumayan.

Zarro di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Zarro di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Penampil terakhir untuk hari pertama JFR adalah sebuah kelompok musik visioner, seperempat abad usia, Krakatau namanya.  Dengan line up terkini yaitu Dwiki Dharmawan (keyboards, synthesizer), Pra Budhi Dharma (bas), Adhe Rudyana (kendang), Yoyon Dharsono (tarompet, rebab, suling), Zainal Arifin (gamelan, perkusi), Gerry Herb (drum), dan Nyak Ina Raseuki alias Ubiet (vokal), grup tersebut mewarnai JFR 2010 lewat garapan musik yang mengawinkan eksotika bunyi-bunyian tradisional dengan elemen jazz modern. Irama rampak world beat meriah terdengar sedari awal penampilan mereka, vokal Ubiet yang singular menjadi sebuah fenomena waktu ia ambil bagian dalam lagu “Bunga Tembaga”, “Spirit of Peace”, maupun “Rhythm of Reformation”.

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Aksen pertunjukan adalah sewaktu Krakatau mengundang dua personil La’ Biri yang memainkan instrumen tradisional gambus makassar dan pui-pui (bentuknya seperti terompet berukuran kecil). Seluruh perhatian terpusat ketika terjadi “duel” tarompet dan pui-pui secara insidental, atraksi dialogis-improvisasional yang ditampilkan keduanya membuat penonton maupun penghuni panggung berdecak kagum sekaligus tergelak. Tidak ketinggalan, aksi duet maut Adhe dan Zainal menyuguhkan pukulan-pukulan kanonik di atas selaput tamborin. Segar, cerdas, dan menghibur.

Yoyon Dharsono memainkan Tarompet berinteraksi dengan instrumen Pui-Pui

Yoyon Dharsono memainkan Tarompet berinteraksi dengan instrumen Pui-Pui

Serambi Jazz edisi Desember sajikan Pitoelas Big Band

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,


pitoelasSebagai penutup rangkaian kegiatan di tahun 2009, Serambi Jazz kembali menyelenggarakan sebuah konser musik. Akan tampil Pitoelas Big Band, sebuah kelompok dalam formasi big band yang akan memberikan suguhan komposisi-komposisi jazz dari lagu tradisional Indonesia hingga modern jazz.

Acara digelar pada Kamis 3 Desember 2009 di Goethe Institut, Jl. Sam Ratulangi 9-15 Menteng Jakarta Pusat mulai pukul 19.30 dan tidak dipungut biaya alias Gratis.

Pitoelas Big Band lahir dari sebuah idealisme dan antusiasme dari setiap anggota pendirinya terhadap musik, terutama musik jazz dan big band. Diawali dengan sebuah obrolan, mengekplorasi ide-ide, untuk kemudian berlatihdan tampil bersama. Ini membuat Pitoelas Big Band menjadi sebuah grup yang kuat, terdiri dari para pemusik profesional muda terbaik.

Pemain saksofon dan komposer Dony Koeswinarno adalah salah seorang pendiri band ini. Saat ini Dony juga menjadi pemimpin band dan direktur musik Pitoelas. Dialah yang menulis dan menyusun aransemen musik, sekaligus bertindak sebagai kontraktor dan manajer band ini. Salah satu dari musik gubahan Dony dan band ini adalah “Ondel-ondel”, sebuah lagu tradisional Betawi yang disusun menjadi sebuah musik jazz bergaya big band. Anggota-anggota lainnya adalah pemain piano, aranjer dan komposer, Irsa Destiwi; pemain klarinet/saksofon, Eugen Bounty; pemain trombone, Enggar Widodo; dan beberapa nama lain yang sudah dikenal luas dalam komunitas musik jazz di Indonesia.

Pitoelas Big Band telah menjadi sebuah band profesional terbaik dengan pilihan daftar lagu yang beragam di Indonesia , dikenal memiliki fresh sounding, good looking dan swinging hard. Kini, Pitoelas Big Band sedang mempersiapkan debut album mereka.

Berikut ini daftar lengkap penampil Pitoelas Big Band:

  • Saxophone:
    Dony Koeswinarno (Leader/Music Director), Eugen Bounty, Donna Koeswinarso, Devian Zikri, Drio Pramono
  • Trumpet :
    Harmoniadi, Wisnu Fajar, Edi Junaedi, Syendy
  • Trombone :
    Enggar Widodo, Widiyekso, Toni Heriyanto, Yandri
  • Rhythm section :
    Irsa Destiwi, Sandy Winarta, Donny Sunjoyo, Tiyo Alibasjah
  • Vocal : Odi, Dira J Sugandi

Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


1. The Spirit Of Peace
2. Benggong Banggong
3. IE (Sydney version)
4. Janger
5. Numfor
6. Paris Barantai
7. Island of God
8. Ana Ritin Teo
9. Arafura
10. Clarissa
11. Jazz for Freeport
12. IE (LA version)

Musisi:

Jimmy Haslip (bass), Russel Ferrante (keyboard), Walfredo Reyes Jr. (drums), Kamal Musallam (gitar), Steve Thornton (perkusi), Lewis Pragasm (drums), Michael Paulo (saksofon), Tollak Ollestad (harmonica), Andy Suzuki (saksofon/clarinet/flute), Guy Strazz (gitar), Rodrigo Galvao (perkusi), Hugh Fraser (bas), Andrew Oh (flute),
Indro Hardjodikoro (bas), Sandy Winarta (drum), Zainal Arifin (perkusi), Korem Sihombing (taganing), Yoyon Darsono (beluk), Marc Antoine (gitar akustik), China Philharmonic Orchestra, Rich Breen (Sound Engineer) Ivan Nestorman (vokal), Dira.J.Sugandi (vokal), Peni Candrarini (sinden)

Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra - Omega Pacific Production 2009

Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra - Omega Pacific Production 2009

Berbekal rekam jejak sebelumnya, kita bisa mengira-ngira preferensi seorang Dwiki Dharmawan untuk album barunya “World Peace Orchestra” (WPO). Tebakan kita kurang lebih adalah hadirnya warna tradisi. Lebih dari sekedar kegandrungan, musik tradisi (yang kemudian berpucuk di generalisasi world music) telah lama dijalani Dwiki sebagai misi yang berimplikasi serius. Menelusur sedikit ke belakang, pakem baru Krakatau di wilayah ini terlihat pada 1994 dengan Trie Utami melantunkan “Mystical Mist” disusul klip “Barala Duit” (2000) di jaringan televisi swasta sebagai konfirmasi. Sempat terdengar pula ia ikut mengubek-ngubek musik batu di Nias bersama Rizaldi Siagian dan Hikayat Manaö yang kemudian dipertunjukkan secara luas pada konser Megalitikum Kuantum (2005). Di lain waktu (2007) ia terlibat intens dalam “Meukondroe” bersama Rafly, seniman Aceh. Apabila bergeser sedikit saja dari wilayah garapan semacam Krakatau, maka porsi WPO lebih ke musik Barat. Porsi yang cukup lama absen sejak album solo “Nuansa” (2002). Tambahan isi WPO adalah tur membawa pesan perdamaian dengan cukup ambisius melibatkan musisi lima benua.

Jika harus menunjuk pilihan, rasanya urutan repertoar konser peluncuran WPO di GKJ (17/06/’09) bisa menjadi referensi playlist. Kredit harus kita berikan kepada Dewa Budjana untuk petikan gitar soprannya yang meditatif dan menjadikan “Island of God” tuturan yang bergema. Gema ini disambut intuisi solo Dwiki pada bridge yang sejuk, mengalir, jatuh menitik ikuti denyut perkusi yang renggang. Kidung Bali dan tiupan flute Andrew Oh menggenapi resolusi transedental nomer ini.

Menyusul pada daftar adalah “Paris Barantai” yang lebih rancak dan gempita. Head baru, dalam permainan minor kompak, khusus diciptakan untuk mengawal melodi lagu Kalimantan ini, menyertai modifikasi cantik ritmenya. Di nomer ini terlihat bahwa Dwiki giat juga mengeksplorasi vocoder, suatu detil lain (saat live bisa kita coba cari mikrofon yang diumpankan ke unit VP-550 misalnya) di luar hand keyboard yang disandang ataupun moog dan melodica. Mendiang Roger Burn yang besolo vibrafon pada nomer ini adalah kontak Dwiki yang kemudian memunculkan partisipasi bassist Jimmy Haslip (produser Burn di kelompok Shapes) serta kibordis Russel Ferrante untuk WPO.

Jimmy Haslip memproduseri “Clarissa”, yang juga merupakan nomer dedikasi Dwiki pada Haslip (dalam nama samaran), bahwa tidak semua orang beruntung dan ada yang harus bergantung pada orang lain sepanjang hidupnya. Dapat kita simak Tollak Ollestad (pentolan Shapes yang lain) mengisi harmonika dalam liuk sendu berpasangan dengan saksofonis Andy Suzuki.

Lagu rakyat berbahasa Flores dibawakan Ivan Nestorman dalam “Benggang Benggong”, “IE”, dan “Ana Ritin Teo” yang bernuansa pesisir sekaligus berwarna Afrika dalam sensibilitas musik Barat. Sementara itu yang betul-betul mewakili jati diri fusi-tradisi-jazz WPO adalah “Janger” (Bali). WPO yang dirilis Omega Pacific Production (dengan eksekutif produser Gita Wirjawan) ini memang bertabur bintang tamu. “Arafura” yang sering menjadi pilihan live Dwiki misalnya diisi spesialis sweep Frank Gambale (electric guitar). Gitaris akustik Marc Antoine juga muncul selain nama Guy Strazzullo (Australia) yang pernah mengisi album “Nuansa”.


I always think of music as interior decoration. So, if you have all kinds of music, you are fully decorated! — Wayne Shorter


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<