Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "djaduk ferianto"

Gedung Kesenian Jakarta persembahkan Festival Musik Indonesia

Tags: , , , , , , ,


Selama bulan Desember 2010, Gedung Kesenian Jakarta yang berlokasi di Pasar Baru Jakarta Pusat, akan mempersembahkan sebuah program menarik bertajuk Festival Musik Indonesia. Program ini menyajikan penampilan beragam grup dengan genre World Music, hingga klasik dan akan berlangsung dari tanggal 2 hingga 17 Desember 2010.

Program akan diawali sajian musik dari Gondang Orchestra for the World yang dikonduktori Tigor Situmorang, pada Kamis dan Jumat, 2 & 3 Desember 2010 – 20.00 WIB. Tigor Situmorang memetakan lima nuansa perjalanan dalam musik Batak dari Sumatera Utara Indonesia. Pertama, Gondang Sabangunan atau yang disebut dengan Gondang Bolon. Kedua, Gondang Uning-uningan. Ketiga, Gondang Kontemporer. Keempat, Gondang World Music dan Kelima, Gondang Orchestra.Tigor Situmorang, telah meluncurkan album: “Gondang for Christmas” dan Gondang Orchestra to God. Kali ini Tigor Situmorang akan memperkenalkan ”Gondang Orchestra for The World”, yang berfokus pada perkusi Batak (Gondang) yang dikombinasikan dengan musik tradisional Indonesia dan musik Dunia lainnya yang digubah dalam suatu musik Gondang Orchestra yang dinamis dan dramatik, serta terinspirasi dari nuansa Musik Batak daerah sekitar Danau Toba Sumatera Utara Indonesia. Anda akan menikmati  betapa musik Gondang bisa menjangkau wilayah tradisional, maupun kontemporer, bahkan bisa dengan nuansa jazz.

Selanjutnya Cilay Ensemble mempersembahkan Sebuah Perjalanan Perjuangan Tuanku Imam Bonjol ”1821 – 1837” pada Sabtu, 4 Desember 2010 – 20.00 WIB. Mohammad Ichlas (Cilay) – lulusan STSI Padang Panjang – yang mengkomposisi dan menjadi koreografi karya musik yang diungkapkan secara visualisasi tentang perjalanan Tuanku Imam Bonjol dalam menghadapi penjajah Belanda hingga merenggut nyawa istri dan anaknya. Perjuangan Tuanku Imam Bonjol dan pengikutnya dalam menghadapi gempuran secara terus – menerus dari Belanda. Cerita ini mengilhami Cilay untuk melahirkannya kedalam bentuk sebuah karya musik dengan nuansa Minangkabau. Pertunjukan ini akan didukung oleh Paduan Suara Mahasiswa Syarif Hidayahtullah atau Universitas Islam Negeri (PSM-UIN) Ciputat.

Pada minggu, 5 Desember 2010 – 20.00 WIB,  World Music Arafat Ensemble akan menyajikan musik bernuansa Gorontalo dan Betawi. Gambang Kromong yang merupakan alat musik yang terbuat dari kayu dan mempunyai nada Pentatonik lalu Rebana, Gambus, Teh Yan, dan Tanjidor (Brass Musik) dan komposisi kesenian Gorontalo. Kesenian tradisional Gorontalo pada dasarnya dapat digolongkan dalam bentuk multikultural, di mana mendapat pengaruh dari beberapa unsur budaya seperti Arab, India, Eropa dan Indonesia maupun budaya Gorontalo itu sendiri, menyatu dalam bentuk seni Palo-palo.
Palo-palo yaitu alat musik dari bambu yang mempunyai nada diatonik serta pentatonik, dipadukan dengan vokal. Kedua komposisi tersebut diaransir secara ritmik dan dinamik yang ditampilkan dalam bentuk World Music dan Kontemporer. Yaseer Arafat sendiri mulai berkesenian dari SMP hingga akhirnya ia mendapat gelar Ahli Madia Musik dari STSI Padang Panjang, sejak itu karir berkeseniannya mulai terbentang dari Festival Band Jazz kampus, tutor musik di British International School Jakarta, hingga ikut membantu beberapa karya dari para seniman Indonesia baik di dalam maupun di luar negeri

Sebuah kolaborasi musik persembahan MAHAGENTA akan disajikan pada Senin dan Selasa, 6 & 7 Desember 2010 – 20.00 bertajuk ”Opera Negeri Fantasi”. Begitu banyak kekayaan bunyi-bunyian di wilayah nusantara ini yang menginspirasikan penciptaan karya kreatif Mahagenta, dengan mengkolaborasikan beberapa instrument tradisional Indonesia dan beberapa dari mancanegara. Opera Negeri Fantasi adalah sebuah pertunjukan musik yang menggambarkan keindahan dan kekayaan bangsa kita melalui karya-karya terbaik Mahagenta.
Uyung, sang komposer dengan nama lengkap Henry Surya Panguji, mendirikan kelompok musik Mahagenta yang bernuansakan etnis Indonesia pada tahun 1996 aktif hingga sekarang. Ia telah membuat beberapa ilustrasi musik untuk teater & film. Bersama Mahagenta telah mementaskan “The Panthom of the ‘traditional’ Opera” pada tahun 2008, dan beberapa waktu yang lalu baru saja mementaskan pentas musik “Les Miserables”. Album Mahagenta yang berjudul “Biru Negeri Fantasi” telah beredar secara indie di beberapa negara.

Pada Rabu dan Kamis, 8 dan 9 Desember 2010 – 20.00 WIB KiaiKanjeng & Novia Kolopaking mempersembahkan ”KONSER DELAPAN”. Menyebut nama KiaiKanjeng mengantar ingatan segera tertuju pada, pertama, Cak Nun (Emha Ainun Najib), dan kedua, gamelan. Komposisi KiaiKanjeng – Cak Nun merupakan suatu gumpalan kekuatan fenomenal. Komposisi ini membuat KiaiKanjeng lebih dari sekadar kelompok musik. Tahun 1996, bersama Cak Nun, KiaiKanjeng meluncurkan album Kado Muhammad. Hit dalam album itu adalah Tombo Ati yang dilantunkan Cak Nun diawali dengan bait-bait puisi. Shalawat dan syiir-syiir khasanah masyarakat Islam mendapat perhatian secara nasional.

Peminat musik klasik dapat hadir pada hari Sabtu, 11 Desember 2010 – 20.00 WIB dengan penampilan komponis kelas dunia Ananda Sukarlan yang akan dibantu para mahasiswa dan dosen Universitas Pelita Harapan. Sang Maestro akan membawakan sebuah “Rapsodia Nusantara” yang terbaru dan virtuosik, kali ini berdasarkan lagu-lagu anak-anak tradisional dari Jawa, diikuti permainan oleh para dosen dan mahasiswa Universitas  Pelita Harapan, juga DR Kazuha Nakahara dan pemain harpa Maria Pratiwi. Dua nomor dari “Vega dan Altair” yang beberapa waktu yang lalu di perdanakan di Esplanade (Singapura) juga akan dimainkan di sini.

Kelompok asal Bandung, Sambasunda akan tampil pada Minggu, 12 Desember 2010 – 20.00 WIB. Sajian mereka adalah pertunjukan musik etnik tradisional, yang dikemas dengan format baru dengan mengangkat lagu-lagu Cianjuran serta Kiliningan dalam sebuah kolaborasi unik antara Gamelan dengan Gamelan Sunda. Walaupun cenderung berkonotasi latin, kata “samba” dalam Sambasunda berasal dari kosakata Sunda, merujuk pada karakter topeng Cirebon yaitu tokoh pewayangan putera Kresna , dengan karakternya yang muda dan dinamis, Sedangkan kata “sunda” merujuk pada sebuah kultur dimana Sambasunda lahir, terinspirasi, termotivasi, berinteraksi, bereksplorasi, berkreasi, membangun, berjuang, berkembang, dan beraktualisasi.

Di penghujung program Festival Musik Indonesia, di hari Kamis dan Jumat, 16 & 17 Desember 2010 – 20.00 WIB akan tampil kelompok asal Jogja, Kua Etnika yang dikomandani Djaduk Ferianto. Komunitas Seni Kua Etnika, didirikan antara lain oleh Djaduk Ferianto, Butet Kartaredjasa, dan Purwanto pada tahun 1995, merupakan  medan inter aksi dari sejumlah pekerja seni: pemusik, penyair dan pemain teater. Sejak awal, para pendukung yang terhimpun di sini pada umumnya lahir dan tumbuh dalam latar tradisi (Jawa dan Bali) yang kental, secara temporal dan sporadis telah melakukan interaksi kreatif dalam berbagai kesempatan. Dan itulah musik “kua etnika” garapan Djaduk Ferianto yang merupakan penggalian atas musik etnik, perkusif dengan pendekatan modern dengan memadukannya dengan instrumen elektrik. Kelompok musik Kua Etnika merasa perlu menciptakan revitalisasi musik etnik dengan terobosan budaya, terobosan kreatif dalam mengolah musik etnik, melalui pendekatan dan penafsiran yang berbeda (baru) dari yang selama ini ada. Itu artinya, mengolah musik etnik dengan sentuhan modern, tanpa harus kehilangan spirit dasarnya/spirit tradisi.

Djaduk Ferianto, disamping sebagai penari, pantomimer, pemusik, ia juga berstudi formal seni lukis di Falkutas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta, dan meraih beberaoa penghargaan di dalam dan luar negeri,  menjelajahi pergaulan kreatif dengan beragam  kalangan seniman  baik  tradisional sampai  yang kontemporer.
Bersama Kuaetnika ia menghasilkan beberapa album Nang Ning Nong “Orkes Sumpeg”, Ritus Swara, Unen-Unen,  Many Skyn One Rhtym,  Pata Jawa, Raised from the roots, breaking through borders , juga telah menghasilkan single albumQuintessence dan  musik Rohani ”Tuhan Sumber Gembiraku” yang di produksi secara indie.
Djaduk salah satu pemusik yang selalu gelisah  dan mengisi dalam setiap perubahan di Indonesia ini lewat karyanya.

Disamping kegiatan berupa konser pada hari Sabtu hingga Rabu, 11 – 15 Desember 2010, mulai pkl. 10.00 wib dipamerkan pula Alat Musik Tradisional Dawai ”Organologi 2”, antara lain:

1.Alat Musik ”Sasando” oleh Nicodemus Tenis
2.Alat Musik ”Rebi” oleh Anusirwan SSn, MSn
3.Alat Musik ”Kacapi” oleh Riskonda

Anda yang tertarik menonton atau membutuhkan informasi silakan menghubungi Dewan Kesenian Jakarta: Ranti 021 – 398 99634 atau bisa langsung datang ke Gedung Kesenian Jakarta, Jl. Gedung Kesenian No. 1 Jakarta 10710.

…Dan Penonton Pun Dibuat Tertawa Oleh “DJ Aduk”, “Miss Pitch Control”, Serta Kua Etnika

Tags: , , ,


Kua Etnika @ Salihara

Kua Etnika @ Salihara

Rangkuman Konser Musik Djaduk Ferianto & Kua Etnika di Teater Salihara, 25 Agustus 2010.

“…ladies and gentlemen, DJ Aduk!”, celoteh Trie Utami waktu ia memperkenalkan seorang dengan postur tinggi besar, berbaju putih dan berkacamata gelap. Yang dimaksud tidak lain adalah Djaduk Ferianto, pentolan grup Kua Etnika yang berdiri sejak tahun 1995. Ulah Iie (panggilan akrab Trie Utami) tersebut kontan bikin seisi Teater Salihara ngakak. Terlihat mimik kepuasan luar biasa di wajahnya, seolah berhasil “balas dendam” kepada Djaduk yang lebih dulu meledek Iie lewat komentar seputar pitch control (tanda khas Iie sewaktu menjadi juri AFI – red.) maupun perawakan mungilnya.

Adegan tadi hanyalah satu dari bermacam polah antar personil Kua Etnika yang malam itu sukses mengocok perut audiens lewat aksi teatrikal dalam kemasan musik eklektik. Pertunjukan tersebut juga merupakan paket luncuran album gres Nusa Swara. Selain Djaduk dan Iie, Kua Etnika beranggotakan Purwanto (bonang), Wibowo (saron), Sukoco (kendang), Indra Gunawan (kibor), Sony Suprapto (saron), Agus Wahyudi (kibor), Benny Fuad (drum), Arie Senjayanto (gitar), dan Danny Eriawan (bas).

Konser dibuka dengan pukulan kendang dan triangle untuk memanggil Iie, dan benar saja, vokalis bertubuh alit itu menyambut dengan berjoget bersama iringan musik rancak seperti Jaipongan. Setelah menyapa penonton, lagu pertama “Tresnaning Tiyang” mulai dibawakan. Musiknya terasa operatik, kental bernuansa tradisi Jawa lewat olah vokal Iie yang mengacu pada tangga nada pelog dan slendro serta kerap berbunyi serempak dengan instrumen-instrumen lain. Iapun menunjukkan performa bernyanyi lepas (ad libitum) secara energik, sontak iringannya beralih distorsif layaknya musik rock. Seusai lagu tersebut, Djaduk mengusili dengan komentar “Wah, kowe ki, awake cilik ning tenagane gedhi!” (Wah, kamu ini, badannya kecil tapi tenaganya besar) yang ditanggapi Iie dengan senyuman simpul.

Predikat “DJ Aduk” gagasan Iie betul adanya, sinkron dengan aksi Djaduk yang sepanjang acara nampak repot “mengaduk-aduk” (mengeksplorasi) bunyi namun berbeda dengan Deejay pada umumnya, ia tidak menggunakan turntable, melainkan seperangkat instrumen tradisional dari bermacam etnis. Malam itu Djaduk pun berulah “mengaduk” perut hadirin lewat kelakarnya, semisal waktu ia angkat bicara menjelang komposisi “Bromo”, “…Di Indonesia ada tiga tempat tujuan pariwisata berawalan huruf B, yaitu Bromo, Bali, dan Bantul…”, ujarnya yang dibalas ledakan tawa ruangan berkapasitas sekitar 250 orang tersebut. Pada nomor itu, awalannya berupa permainan kibor bersuara piano dengan gaya jazz secara resitatif kemudian disambut tiupan suling bambu oleh Djaduk. Terdengar pula repetan kendang Bali melaju bersama bunyi akordeon sintetis mengarah ke musik khas Melayu.

Suasana mencekam tercipta manakala komposisi “Merapi Horeg” dibawakan. Terinspirasi dari amarah Gunung Merapi yang ingin meletus, rentakkan instrumen perkusi berpadu olah bunyi sintetis mengimitasi bumi yang bergetar akibat aktivitas Merapi. Semakin dramatis lewat proyeksi tata cahaya merah. Denyut irama funk menghiasi alunan suara Iie dalam nomor “Matahari” dengan introduksi tiruan bunyi glockenspiel. Terjadi insiden lucu ketika seorang pemain bersolo kibor bersuara Fender Rhodes, kesepuluh personil lain bergerak mendekati sang kibordis sambil berlaku ibarat penonton yang terperangah oleh aksinya. Kebingungan pemain kibor itu menjadi pemicu gelak audiens yang kembali terpecah.

Kegilaan Kua Etnika semakin menjadi-jadi pada komposisi “Cilik”, tiba-tiba mereka serempak duduk lesehan berjajar di tengah panggung, dan yang membuat penonton cekikikan adalah aksi mereka memainkan kendang bonang, dan saron dalam ukuran mini! Diluar dugaan, instrumen-instrumen cilik (lebih cocok sebagai cinderamata ketimbang alat musik) tersebut nyatanya mampu untuk melontarkan bunyi-bunyian unik dilengkapi sajian interaksi responsorial antar pemain. Seru dan melipur.

Aura hening terasa lembut di telinga pada lagu “Kennanemi”, didendangkan Iie lewat senandung tanpa syair dengan dukungan petikan balalaika Djaduk. Sepintas terdengar seperti tembang Jawa untuk pengantar tidur. Menjelang akhir lagu, berubah lagi nuansanya menjadi musik bluegrass. Sementara di nomor “Sintren”, aksi teatrikal kembali ditampilkan “DJ Aduk” dan ”Miss Pitch Control”. Bak seorang pesulap, Djaduk menggiring Iie untuk masuk ke dalam sebuah kurungan berbalut kain putih dihiasi rangkaian melati. Biduan mungil itu terpaksa harus menyanyi di dalamnya, diiringi dentuman musik seperti Koes Plus ketika membawakan tembang Jawa, namun dengan tempo dan sound ngerock. Tak lama berselang, kurungan itu dibuka lalu terlihat Iie sudah memakai kacamata hitam dan ronce melati menjuntai dari kepalanya. Komposisi tersebut memang diilhami tradisi Sintren asal Cirebon.

Djaduk tak ketinggalan unjuk suara di lagu “Nirwana” yang merupakan impresi atas pengalaman surgawi ketika berada di Bromo. Terdapat selipan irama swing di dalamnya. Panggung kembali ramai ketika sepasang penari Reog “menjajah” lewat atraksi tarian akrobatik diiringi tiupan slompret Djaduk yang melengking dan cempreng. Lambat laun tensi pertunjukan meningkat hingga terasa sengkarut. Iie turut serta berpadu gerak bersama kedua penari dengan lincahnya. Itulah yang terjadi pada komposisi “Reog”. Selepas nomor tersebut, satu-persatu pemain meninggalkan panggung namun penonton belum merasa puas, mereka kompak meneriakkan “lagi!, lagi!, lagi!” untuk meminta encore. Akhirnya konser ditutup dengan lagu pamungkas “Ronggeng to Latinos” yang memadukan unsur kesenian Ronggeng (tanpa saweran) dan denyut irama Latin penuh gairah.

Konser Musik Djaduk Ferianto dan Kua Etnika “NUSA SWARA”

Tags: ,


Kua Etnika 2010

Djaduk Ferianto dan Kua Etnika Yogyakarta, kembali menggelar konser musik, yang diberi tajuk Nusa Swara. Konser itu akan berlangsung di Teater Salihara, Jakarta, Rabu, 25 Agustus 2010, jam 20.00 WIB. Dan kemudian dipentaskan juga di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 31 Agustus 2010, pkl 20.30 WIB.

“Konser ini merupakan bagian dari launching album terbaru Kua Etnika, yang juga berjudul sama, Nusa Swara,” kata Djaduk menjelaskan. “Nusa Swara boleh dibilang sebuah upaya kreatif kami, untuk kembali menafsir dan memaknai apa yang dulu kerap digembar-gemborkan sebagai ‘wawasan nusantara’. Nusa Swara, sebagai judul sesungguhnya mengacu pada ‘nusa’ sebagai sebagai entitas kebangsaan, dan ‘swara’ atau suara yang mencoba membunyikan semangat dari ke-nusa-an itu. Dengan begitu, ia sesungguhnya mengacu atau bermain-main dengan idiom Nusantara sebagai sebuah wawasan dan kawasan itu.”

Semua komposisi dalam Nusa Swara sudah dipersiapkan sejak sekitar setahun lalu. “Selama proses pengerjaan komposisi itulah, kami merasakan ada sesuatu yang urgen dan mendesak untuk direfleksikan kembali, yakni soal Nusantara. Baik sebagai gagasan, semangat, bahkan impian. Dengan Nusa Swara inilah kami ingin membentangkan kembali kawasan kebudayaan  Nusantara yang multikultural, beragam, luas dan besar. Karena yang dibutuhkan adalah semangat yang toleran, saling berdialog atar beudaya itu. Itulah yang kami oolah dalam komposisi-komposisi kami: semacam dialog berbagai bunyi dan sura yang dating dari berbagai penjuru budaya di Nusantara ini. Sangat eman-eman, amat sayang, kalau semua itu tidak menjadi kesadaran kita.  Karwena menurut saya, ‘kedaulatan kebudayaan’ juga perlu, agar kita bisa makin sejajar dengan bangsa-bangsa dunia. Agar kita tak dilecehkan Negara tetangga, misalnya. Nusa Swara, mencoba “menyuarakan” kegelisahan kami itu melalui tetabuhan dan bunyi, memalui musih kami,” kata Djaduk Ferianto lagi.

Nomor-nomor komposisi yang akan dimainkan adalah Tresnaning Tiyang, Bromo, Merapi Horeg, Matahari, Cilik, Kennanemi, Sintren, Kembang Boreh,  Nirwana, Reog, Ronggeng to Latinos.

Dalam komposisi, Bromo, Reog, Sintren, misalnya, terasa sekali keragaman “suara-suara Nusantara” itu. Komposisi itu bagai sebuah prnyatan bahwa setiap suara mesti diberi tempat dan ruang untuk memperoleh haknya dan kesempatan yang sejajar untuk saling bersanding dan bertanding, untuk saling memunculkan diri dan berbunyi dalam bangunan komposisi. Dalam Tresnaning Tiyan, suara-suara bertanding sekaligus bersanding, sebagai bentuk percakapan bebunyian yang harmonis dan dialogis, semangat saling menghargai itu terasa sekali. Nomor ini bahan terasa menjadi sebuah ajakan yang kompletatif melalui komposisi musik, agar kesadaran saling menghargai bisa tumbuh, sebagaimana terasa dalam harmoni bunyi yang saling melengkapi.

Beberapa komposisi repertoar yang lain, seperti Nirwana, Ronggeng to Latinos, Ken Nanemmi, memperlihatkan eksplorasi gagasan musik Kuat Etnika mengenai wawasan kebudayaan Nusantara yang mereka yakini dan hayati: bahwa Nusantara adalah sebuah kawasan multi budaya, di mana segala suara datang dari penjuru dunia. Nusantara adalah sebuah proses pertemuan dari banyak budaya, dari banyak suara.

Sejak berdiri tahun 1995, Kua Etnika telah menempatkan diri sebagai salah satu kelompok musi yang tekun mengolah khasanah musik etnis dengan semangat  kontemprer. Kua Etnika sudah menghasilkan beberapa album, antara lain Nang Ning Nong Orkes Sumpeg, Ritus Swara, Unen Unen. Kua Etnikla juga telah menghasilkan album hasil kolaborasi dengan pemusik-pemusik manca negara, antara lain dengan para pemusik Malaysia yang menghasilkan konser Many Skin. Dan tahun 2003 lalu berproses dengan grup Pata Masters dari Jerman dan menghasilkan Pata Java. Kua Etnika juga banyakterlibat dalam pentas-pentas musik di banyak negara, seperti Swiss, Australia, Jerman, Belanda, Ceko dll.

Pada konser Nusa Swara ini, Kua Etnika akan tampil full team, termasuk Trie Utami, yang menjadi vokalis atau penyanyi utama di Kua Etnika. Sementara swelain Djaduk Ferianto, para musisi para musisi Kua Etnika yang lain adalah Purwanto, Indra Gunawan, Agus Wahyudi, Benny Fuad, Dhanny Eriawan, Arie Senjayanto, Sukoco, Sony Suprapto dan Wibowo.

Melalui konser Nusa Swara ini, pada akhirnya, Kua Etnika ingin kembali memperluas cakrawala kesadaran dalam memahami warisan kekayaan kebudaan Nusantara yang melimpah dan menyediakan banyak ruang tafsir bagi dialog yang kreatif dan cerdas. Betapa yang disebut dengan “Nusantara” sesungguhnya adalah proses panjang (yang nyaris tak pernah berhenti) dari pelbagai suara-suara yang kemudian menjadi orkestrasi bangsa kita.

DATA KONSER:
Jakarta,  25 Agustus 2010, Pkl 20.00 WIB
Teater Salihara
Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520.
Tel: 021-789-1202.
HTM: Umum Rp 50.000,- Mahasiswa Rp 25.000,-
Tiket dapat dipesan melalui 021-789-1202, 0817-077-1913, 0857-193-111-50, 0812-8184-5500, 021-9974-5934, dita@salihara.org, atau secara on-line melalui www.salihara.org.

Yogyakarta, 31 Agustus 2010, Pkl 20.30 WIB.
Concert Hall – Taman Budaya Yogyakarta
HTM : VVIP Rp 75.000,- VIP Rp 50.000,- Lesehan Rp 30.000,- dan Festival Rp 25.000,-

Jazz Gunung kembali hadir 3 Juli 2010 di Java Banana Bromo Jawa Timur

Tags: , , ,


iklan paket jazz gunung 2010

iklan paket jazz gunung 2010

Setelah sukses dengan penyelenggaraan Jazz Gunung tahun 2009 lalu, kini siap menyambut anda, Jazz Gunung 2010 yang akan kembali diselenggarakan pada hari Sabtu, 3 Juli 2010 bertempat di Java Banana, Bromo – Jawa Timur (silakan lihat website www.javabanana.com).

Jika tahun lalu hanya menampilkan dua performer, kali ini panitia mempersembahkan 5 kelompok sekaligus. Mereka yang akan hadir dalam pertunjukan yang dijadwalkan dimulai pukul dua siang hingga sembilan malam adalah :

  • ESQI:EF feat Syaharani & Donny Suhendra
  • I Wayan Balawan & Batuan Ethnic Fusion
  • C Two Six – Komunitas Jazz C26 Surabaya
  • Androginn – Malang Jazz Forum
  • Monday Night Band – Yogyakarta

Dengan host seniman Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto.

Kelompok musik tradisi setempat akan tampil pula berkolaborasi dengan Djaduk Ferianto’ dan Kesenian Jathilan-Reog setempat akan ikut sebagai pembuka acara Jazz Gunung’, ini dimaksudkan supaya Jazz Gunung juga menyatu dengan nafas kehidupan masyarakat setempat.

***

Penyelenggaraan Jazz Gunung 2010 tidak lepas dari visi seorang Sigit Pramono, seorang penggemar musik jazz dan pehobi fotografi, yang sedang melakukan upaya “rebranding” kawasan wisata Bromo agar tak hanya dikenal karena keindahan matahari terbitnya saja.

Jazz Gunung merupakan kombinasi sajian musik Jazz yang apik dengan panorama alam yang luar biasa. Dikelilingi oleh pegunungan Tengger dan berada diketinggian 2000m diatas permukaan laut.

Para penampil seperti ESQI:EF yang digawangi oleh penyanyi Syaharani dan gitaris kawakan Donny Suhendra menyambut antusias diselenggarakannya Jazz Gunung. ”Saya sudah punya imajinasi super asyik buat Jazz Gunung. Suasana yang tidak akan terlupakan. ESQI:EF tidak sabar menunggu…bermusik dan bertemu teman-teman di Jazz Gunung” ujar Syaharani. Kelompok ini sedang mempersiapkan album baru mereka, dan anda bisa menikmati karya-karya tersebut di Jazz Gunung 2010.

Sementara gitaris Wayan Balawan dengan kelompok Batuan Ethnic Fusionnya akan membius para pengunjung dengan penampilan tapping technique – teknik memainkan gitar laksana memencet tuts-tuts piano – dikawinkan dengan musik gamelan Bali nan eksotis.

Plus tiga band dari komunitas di tiga kota yaitu Yogya, Surabaya dan Malang. Sebagai wujud dari dukungan Jazz Gunung bagi perkembangan musik Jazz khususnya bagi generasi muda.

Panitia Jazz Gunung 2010 bekerjasama dengan WartaJazz Travel Experience juga menyediakan paket akomodasi tiga hari dua malam (3D2N) untuk para pelancong Jazz. Silakan menghubungi 021-8310769 atau 0274-512561 atau email info@wartajazz.net

Tiket pertunjukan sebesar IDR 100.000,- juga dapat dipesan dengan lewat kontak diatas.

Kua Etnika bersiap tampil di Vienna Jazz Festival 2009

Tags: , ,


d

Kua Etnika

Kelompok musik asal kota gudeg Yogyakarta, Kua Etnika akan keliling di Eropa dan dijadwalkan mampir dan tampil di salah satu festival Jazz terbaik yaitu Vienna Jazz Festival di Austria. Kepastian penampilan di Eropa tersebut dibenarkan Djaduk Ferianto, komposer sekaligus leader grup ini saat ditemui WartaJazz.com beberapa waktu lalu usai penampilannya bersama teater Gandrik di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

“Kami akan tampil pada tanggal 7 Juli 2009 di Wina”, ujar Djaduk sembari menjelaskan bahwa ia baru saja kembali dari Eropa dalam sebuah proyek berjudul Rhythms Meeting bersama Francois Lindemann.

Kua Etnika akan manggung di Wiener Rathaus/Arkadenhof mulai pukul delapan malam waktu setempat. Seperti yang termuat disitus Vienna Jazz Festival. Selain Kua Etnika, penyanyi Trie Utami juga dipastikan akan turut ambil bagian.

Grup Indonesia pertama di Vienna Jazz Festival

Menarik sekali menyimak Kua Etnika dalam tour Eropanya kali ini. Sebab mereka adalah kelompok pertama dari Indonesia yang manggung di festival jazz Vienna. Pada tahun 2005 sempat tersiar kabar rencana Krakatau manggung disana, namun karena skedul yang padat, pertunjukan itu urung masuk dalam agenda karena harus mengejar penampilan di Montreux Jazz Festival di Swiss.

kua-etnika-01

Kua Etnika

Buat Kua Etnika sendiri, penampilan kali ini akan menambah panjang daftar pengalaman mereka manggung di Eropa. Tahun 2004 mereka sempat berkeliling Eropa timur dalam pementasan yang bertajuk “Everlasting Kretek Heritage”. Kala itu mereka tampil di Budapest, Krakow, Graz, Vienna, Utrecht, Amsterdam dan Praha.

Saat ditanya mengapa tak mampir ke North Sea Jazz Festival yang kini sudah berpindah dari Den Haag ke Rotterdam, Butet Kertaredjasa, manager Kua Etnika yang tak lain kakak kandung Djaduk mengungkapkan, “Sebenarnya kami ingin mampir, tetapi jadwal yang kami punya terlalu mepet, mungkin tahun depan akan kami agendakan [kesana -red]“.

Kua Etnika juga pernah tampil di Pesta Raya, sebuah festival yang digelar di gedung durian Esplanade Singapura, Hitam Putih World Music Festival di Riau dan World Music Satu Bumi Beribu Bunyi  di Jakarta pada bulan Desember 2006.

Kua Etnika pernah terlibat dalam sebuah proyek Pata Java yang merupakan kolaborasi dengan kelompok Pata Masters dari Jerman pada tahun 2003. Proyek yang berujung pada konser di tiga kota, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta itu berujung manis dengan dirilisnya album Pata Java yang memiliki dua edisi, Indonesian dan Eropa. Tak ada yang berbeda dari dua edisi itu, hanya covernya saja yang membedakan.

Cover album Pata Java - Kolaborasi Pata Masters dan Kua Etnika

Cover album Pata Java - Kolaborasi Pata Masters dan Kua Etnika

Saat ditanya apa rencana Kua Etnika selanjutnya, Djaduk menjawab, “Sepulangnya kami dari tur Eropa kali ini, akan bersiap untuk tampil dalam acara Jazz Gunung di Gunung Bromo. Ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan”, pungkasnya.


The trouble with most musicians today is that they are copycats. Of course you have to start out playing like someone else. You have a model, or a teacher, and you learn all that he can show you. But then you start playing for yourself. Show them that you’re an individual. And I can count those who are doing that today on the fingers of one hand. — Lester Young


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<