Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "dwiki dharmawan"

Trio LIGRO, tambah edan di album kedua!

Tags: , , , ,


Konser peluncuran “Dictionary 2” oleh Trio LIGRO, Rolling Stone CafĂ© Jakarta, 25 Januari 2012.

Saat yang dinanti akhirnya datang juga. Rabu (25/1) malam bertempat di Rolling Stone CafĂ©, album kedua LIGRO berjudul Dictionary 2 pun rilis. Berjarak sekitar tiga tahun dari perdana Dictionary 1 (Inline Music, 2008), LIGRO (dibaca terbalik menjadi “orgil” – orang gila – red.) tampil makin gila, makin energik. Pelakunya ialah Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bas), dan Gusti Hendy (drum).

Trio LIGRO saat beraksi di Rolling Stone Cafe Jakarta (25/1)

Trio LIGRO saat beraksi di Rolling Stone Cafe Jakarta (25/1)

Dimulai selepas pukul sembilan malam, dihadiri para wartawan, rekan musisi, dan penggemar, ketiganya langsung menggetarkan panggung lewat komposisi “Bliker 3” yang terambil dari album gres tersebut.

Agam Hamzah

Agam Hamzah

Introduksi berupa progresi disonan berformat MIDI menjadi pembuka, berlanjut sayatan gitar distorsif Agam. Aura kegilaan mulai terasa waktu Hendy melancarkan pukulan-pukulan maut, daya ledak pula akselerasi tinggi bak orang kesurupan. Atensi kemudian beralih kepada Adi, ia membaringkan basnya, lalu mulai bertingkah dengan ramuan bunyi “alami” atas lembaran seng, martil, dan, paku dengan gaya teatrikal.

Ada pula sesi tanya-jawab, memberi kesempatan audiens untuk bertanya langsung pada ketiga personil LIGRO. Seorang wartawan bertanya soal genre musik apa yang diusung LIGRO, kemudian ditanggapi Agam, “Kami hanya bermusik, tidak mematok suatu genre tertentu, dan kami bertiga punya latar belakang yang berbeda-beda, saya campuran Aceh dan Sunda, Adi asal Madura, dan Hendy dari Kalimantan, preferensi musik kami juga sangat lebar, jazz, musik klasik, rock, bahkan etnik. Jadi soal genre, biarlah pendengar sendiri yang mendefinisikan,” ujarnya.

Gusti Hendy

Gusti Hendy

Pertanyaan lain seputar pengaturan drum set Hendy, mengapa ia menggunakan gondang Batak untuk menggantikan tom-tom, Hendy memaparkan,”Setting drum seperti ini memang sengaja saya terapkan di LIGRO, yang tentu berbeda ketika saya tampil bersama grup lain. Saya memang memakai instrumen tradisi Batak, gondang, tapi saya tidak serta merta memainkan dalam tradisi Batak, karena saya bukan orang Batak, tapi orang Kalimantan, maka dari itu saya menggunakan pola ritme Kalimantan ke dalam permainan gondang, dan itu yang membuatnya unik. Selain itu, dengan setting ini saya lebih bisa menyatu dengan bas maupun gitar dalam komposisi LIGRO,” jelas Hendy.

Giliran Adi, ditanya perihal aksi edan serta nyeleneh tadi, ia berkisah, “Saya terinspirasi waktu dulu, ketika kuliah, sempat menyaksikan sebuah happening art, dengan menggunakan alat-alat musik non-konvensional, ternyata bunyi yang dihasilkan menarik sekali,” tuturnya. Ia berkelakar, “Kalau  di sini ada yang butuh tukang untuk perbaiki rumah, hubungi saya,” selorohnya disambut tawa penonton.

Adi Darmawan

Adi Darmawan

Hadir pula Dwiki Dharmawan yang juga memberi selamat, menurutnya LIGRO berani untuk tampil beda lewat konsep musiknya, serta dapat mengisnpirasi musisi Indonesia untuk go international. “Saya yakin mulai tahun ini LIGRO akan keliling dunia untuk mempromosikan musik mereka,” tutupnya.

Acara launching berakhir lewat gubahan berjudul “Stravinsky,” yang merupakan adaptasi dari “Les Cinq doigts” (The 5 Fingers) milik komposer Rusia Igor Stravinsky. Berciri ketukan janggal, harmoni disonan, serta idiom-idiom hard rock yang energik.

Kabar gembira lainnya adalah bahwa Dictionary 2 akan segera dirilis oleh label rekaman asal Amerika Serikat, MoonJune Records. Itu berarti LIGRO satu payung dengan sesama grup dari tanah air; simakDialog, Tohpati Bertiga, Tohpati Ethnomission, dan pendatang baru I Know You Well Miss Clara.

LIGRO - Dictionary 2

LIGRO - Dictionary 2

Selamat dan sukses  untuk LIGRO, semoga kian gila dalam berkreasi. Proficiat!

Perayaan Musik: Bambu Nusantara 5 World Music Festival

Tags: , , , , , ,


Alat musik bambu kontemporer (Grup Ozenk Percussion)

Alat musik bambu kontemporer (Grup Ozenk Percussion)

Bambu Nusantara World Music Festival yang telah mencapai tahun ke limanya kembali mengambil tempat Sabuga ITB pada 1 – 2 Oktober 2011 lalu. Program Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata ini mengundang banyak seniman bambu termasuk para musisi yang membuat juga instrumen kontemporer berbahan bambu yang kental ruh nusantaranya. Tidak melulu bambu, bobot world music dari festival ini juga layak dapat sorotan istimewa.

Sebagai highlight hari pertama, Rafly WaSAJA tampil bawa ragam khazanah musik dari barat Indonesia. Warna terang darabukka bertalu-talu pancarkan seri dari pojok Jalu G Pratidina saat Rafly melantunkan kegembiraan “Shalawat Damai Abadi” dalam liuk tinggi-bertenaga serupa pelantun qawwali yang rindukan syafaat lewat puji-pujian. “Perahu” yang menyusul berikutnya pun sarat nasehat, alat berlayar yang jadi tamsil hidup dengan akhirat jua tempat berlabuh yang kekal. Agam Hamzah mengurai gaya flamenco pada refrain yang nyaris jadi progresi standar berkat kepopuleran Al Di Meola bertrio gitar dengan para soloisnya bergantian mengiringi sapuan rancak rasgueado. Adi Darmawan pun pilih memetik kasar seolah flat picking gitar saat unjuk improvisasi ketimbang slap yang jamak dilakukan bassist yang mencoba menarik interaksi penonton.

Rafly WaSAJA

Rafly WaSAJA bersama Dwiki Dharmawan

Malam itu Rafly WaSAJA tampil minus akronim “S”-nya, Saat Syah “Borneo”, yang meniup suling dengan sugesti menyepi. Ia digantikan gesek violin Hendri Lamiri. Di jalur cepat “Haro Hara Kiamat” meluncur diawali ragam vokalisasi perkusif Rafly yang deras aliran silabelnya mengingatkan kita akan kepiawaian Scatman John. Di akhir penampilannya, Dwiki Dharmawan didaulat naik ke atas pentas. “Tanpanya saya masih akan berada di hutan,” puji Rafly sebelum “Meukondre” yang diambil dari rilis label Musikita milik Dwiki dimainkan.

Sruti Respati

Sruti Respati

Menyusul rombongan Aceh, ikon Solo International Performing Art 2010 naik pentas. Tali yang diputar berbaling-baling oleh masing-masing Adi Prasojo (perkusi), Bintang Indriyanto (bass), dan Denny Chasmala (gitar) memecah halus udara saat “Tak Lelo Ledhung” dilaras khidmat Sruti Respati. Sinden yang sedang naik daun inipun tak canggung menggoda untuk melantai lewat “Cublek Cublek Suweng” hingga adaptasi mentah “Colibri” dari prominen acid jazz Incognito. Reuni Samba Sunda mengakhiri malam pertama dengan sisipkan mengheningkan cipta lewat lagu dedikasi bagi almarhum Wawan Juanda yang berjasa atas kelahiran festival ini.

Punklung

Pada hari kedua Ozenk Percussion mengedepankan denyut bambu dalam duel perkusi yang dijuduli “Tarung”. Bentuk lodong yang biasa dipakai untuk membawa air di panggung ini jadi perkusi dengan bunyi khas pampatan udara dari tutup-buka lubangnya menggunakan pemukul (Blue Man Group menjadikan bunyi-bunyian itu populer pakai pipa PVC lewat iklan Intel Pentium). Pupuhu kelompok ini yang juga pernah main di Krakatau, Ozenk, punya pesan peduli lingkungan lewat musik bambu kontemporer, “Mudah-mudahan kita anak-cucunya di kemudian hari bisa menjaga hutan, semakin hijau.” World music yang lebar spektrumnya memang buka peluang macam-macam misi dan pesan. Balawan dalam format Gamelan Mastro Project juga ungkapkan alasannya memboyong I Made Subandi dan I Ketut Lanusya, “Perkenalan maestro Bali secara individual karena umumnya mereka bermain dalam sanggarnya.” Punklung yang beratribut serba antikemapanan pun ikut bawa pesan bersifat kritik sosial. Tanpa anarkis betulan, penggemar dalam niche-nya pun ikut bernyanyi, ternyata hafal lirik pedas kelompok punk bermusik bambu tanpa distorsi ini. Sarasvati dengan vokalis mistik Risa Saraswati yang sempat jadi topik khas Bandung saat mundur dari Homogenic dahulu juga jadi incaran beberapa pembeli tiket panggung utama. Kolaborasi dengan angklung SMA Pasundan 2 menyesuaikan tema, menjadikan panggung Bambu Nusantara yang mengundang artis dari katalog lokal seperti ini jadi punya atmosfer fanatik Bandung.

Balawan Gamelan Maestro Project

Balawan Gamelan Maestro Project

Secara keseluruhan festival ini berjalan cukup tepat waktu dan kualitas tata suara yang nyaman dan mampu perkuat daya tanpa hilang detail jadi poin plus. Walaupun sebagian penampil hanya dapat ditonton menggunakan tiket, streaming festival ini masih bisa kita akses di internet usai festival. Sebagai gelaran yang terdokumentasi dengan baik video tahun inipun harusnya bisa masuk daftar video pertunjukan musik bambu yang sudah ada sebelumnya dan dijual di lokasi.

Bambu Nusantara World Music Festival hadir di Sabuga Bandung

Tags: , , , , , , , , , , , ,


Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia kembali menggelar Bambu Nusantara World Music Festival (BNWMF) pada tanggal 1 – 2 Oktober 2011 yang bertempat di Sasana Budaya Ganesha Bandung.
Gelaran kelima ini akan menjadi titik awal dari regenerasi talent/pengisi acara. Kami mengundang lebih banyak talent muda di bidang musik bambu yang dikategorikan sebagai generasi penerus kalangan senior yang sudah masuk ke ranah internasional, dan potensi anak muda ini sudah pantas untuk melanjutkan musik bambu yang tentunya dalam perspektif mereka sendiri.
Kelompok muda ini tumbuh di sekolah-sekolah. Mereka membentuk komunitas musik bambu. Hal ini menjadi fenomena yang menarik, karena dalam komunitas akan terbangun kreativitas yang menjadi sarana regenerasi.
Perhelatan kali ini tetap menyajikan bambu sebagai alat musik utama, sesuai dengan judul pagelaran. Kombinasi beberapa alat musik lain dan bentuk alat musik bambu modifikasi terbaru juga akan tampil di sini.
Selain itu, ada pameran produk kreatif dari kampus. Para mahasiswa akan menampilkan karya seni dari bambu yang jarang ditampilkan ke publik. Tahun ini yang mendapatkan kesempatan adalah Fakultas Seni Rupa & Desain Institut Teknologi Bandung, Desain Produk Itenas & Bengkel Kostum STSI Bandung.
Kehadiran kaum muda ini memang berkaitan dengan segmen pengunjung yang kami tuju. Hal ini akan menjadi daya tarik anak muda yang lainnya untuk datang. Ruang untuk kalangan muda ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan kreativitas yang saat ini dimotori oleh anak muda. Hal lain yang berubah adalah panggung utama akan menggunakan tiket. Sedangkan 2 panggung lainnya tetap gratis. Upaya ini sebagai langkah awal untuk menangkap segmen baru penonton yang memang berminat menikmati musik bambu berkelas dunia.

Siapa sajakah yang akan ambil bagian dalam BNWMF kali ini?. Mereka antara lain Rafli WaSaJa, Sruti Respati, Bambu Wukir, Sawung Jabo, Sarasvati feat SMA Pas 2, Wallaki, Trah project, Punklung, JAF feat. Ary Juliant, Babendjo, Balawan & Gamelan Maestro Project, Sisca & friends, Dwiki Dharmawan, Sambasunda, Jendela Ide, Ozenk Percussion, Europe in de troppen dll yang masuk dalam kategori Kontemporer.

Sementara kategori lain indigenous menghadirkan Melodi manis, Sora Awi & Anggrek (Jepang), Komunitas Hong, Galengan, Suling Sorgawi, Angklung SMAN 2, Angklung SMAN  8, Angklung SMPN 2, Angklung Smaluchi, Angklung SMPN 44 dan ada beberapa utusan daerah seperti Pompang Satorayan Provinsi Sulsel, Provinsi Jawa Tengah, Jambi, Kalteng, Jatim, Banten.

Akan tampil pula Karinding Movement yang merupakan gabungan komunitas Karinding.

Digelar Medan Jazz Nation, Sumatera International Music Festival 2011

Tags: , , , , ,


Jika Jazz tumbuh diberbagai daerah di Indonesia bisa jadi karena jenis musik yang kaya improvisasi ini kembali menghiasi ruang publik masyarakat kita. Tak kenal maka tidak tahu, begitu barangkali kuncinya.

Sebagai salah satu kota besar dibagian barat Indonesia “Demam” jazz juga sampai di kota Medan. Pelan namun pasti bakat-bakat terpendam di aliran musik ini semakin berani menampilkan diri.

Medan memiliki sebuah komunitas bernama Medan Jazz Community, mereka mencoba mengakulturasikan aliran musik Jazz dengan musik etnis/tradional daerah dari berbagai etnis lokal yaitu Batak (Toba, Karo, Simalungun, FakFak Dairi, Mandailing) dan Melayu. Kelompok ini sempat tampil di Java Jazz Festival 2009 lalu. Mereka telah merilis dua album dan masuk dalam salah satu band favorit dari sepuluh band yang terpilih di Music Road Rhythm Program oleh US Dept. Of Foreign Affairs.

Potensi diatas dibaca oleh Dimardi Abas, pecinta musik jazz dan pendiri dari KISS Group FM, bersama teman-temannya yang menggandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Medan lalu berinsiatif untuk mengadakan Medan Jazz Nation, Sumatera International Music Festival 2011, sebuah acara yang akan diadakan di Plaza Medan Fair dan The View Music Lounge and Bar, Grand Swiss-bel Hotel Medan pada hari Jumat 27 hingga Sabtu 28 Mei 2011.

Selain menampilkan Medan Jazz Community, sejumlah musisi dijadwalkan akan tampil, mereka antara lain Yeppy Romero P, Nita Aartsen Quattro, Tengku Ryo, Dwiki Dharmawan World Peace Ensemble, Idang Rasjidi.

Sebagai bagian dari program Medan Jazz Nation, Sumatera International Music Festival 2011, akan digelar pula audisi pencarian bakat band jazz akan dilakukan di beberapa kampus universitas di kota Medan. Tiga band finalis akan diadu kepiawaiannya dalam memainkan musik jazz. Band terbaik akan mendapat kesempatan tampil bersama Dwiki Dharmawan Band saat kegiatan festival berlangsung.

Untuk menandai pembukaan Medan Jazz Nation, Sumatera International Music Festival 2011, pada tanggal 27 Mei 2011 sejumlah pengusaha kota Medan akan menyumbangkan beberapa pohon yang digunakan untuk menggalakkan penghijauan di kota Medan. Bersama dengan walikota, para artis yang ikut tampil di festival akan melakukan penanaman pohon bersama.

Dwiki Dharmawan World Peace Trio Padukan Musik Lokal dan Internasional

Tags: , ,


Dwiki Dharmawan World Peace Trio

Dwiki Dharmawan World Peace Trio

Dwiki Dharmawan World Peace Trio memadukan musik lokal dan internasional secara apik di acara Cultural Performance, tadi malam (15/4). Pertunjukan yang diselenggarakan di @america ini juga menampilkan pemain terompet kawakan, Ian Ingram, dan penyanyi jazz cilik, Farah Di.

Dwiki Dharmawan World Peace Trio yang terdiri atas Dwiki Dharmawan pada keyboard, Donny Sundjojo pada kontrabas, dan Elfa Zulhamsyah pada drum, memainkan beberapa lagu beraliran American Jazz yang dipadukan dengan musik tradisional Indonesia. Kombinasi musik tersebut terdengar di lagu-lagu yang mereka bawakan, seperti Tribal Dance, Paris Barantai, Jazz from Freeport, Janger, The Spirit of Peace, Arafura, dan beberapa lagu lain.

Ian Ingram, Donny Sundjojo, Farah Di, Zulham, Dwiki Dharmawan

Ian Ingram, Donny Sundjojo, Farah Di, Zulham, Dwiki Dharmawan

Pemain trumpet yang sudah 25 tahun bermukim di Indonesia, Ian Ingram, diajak berkolaborasi oleh Dwiki Dharmawan World Peace Trio di beberapa lagu, seperti Tribal Dance dan Fly Me to The Moon. Pada lagu You’ve Got A Friend, trio yang sering melakukan rangkaian tur di Amerika Serikat ini, juga mengajak Farah Di unjuk kebolehan di atas panggung.

Kehadiran trio yang masing-masing personilnya sering tampil di berbagai festival jazz internasional ini amat menghibur penonton. Pasalnya, penonton tak hanya disuguhi musik, namun juga diajak mendengarkan pengalaman karir musik Dwiki Dharmawan bersama grup musiknya di negeri Paman Sam.

Di sela-sela penampilannya, Dwiki berbagi cerita tentang perjalanannya. Suami Ita Purnamasari ini pertama kali menginjakkan kaki di Amerika Serikat sebagai turis. Ia sempat pula diajak bekerja sama oleh Januari Christie dan Garin Nugroho untuk mengerjakan proyek video klip namun urung dilaksanakan. Meskipun rencana video klip gagal dilakukan, pianis asal Bandung tersebut justru sering melakukan jam session di berbagai tempat. Jejaring hubungan yang terbangun dengan banyak musisi internasional memberikannya kesempatan untuk tampil di gedung pertunjukan legendaris, seperti Lincoln Center.

Dwiki bercerita soal perjalanannya ke Amerika

Dwiki bercerita soal perjalanannya ke Amerika

Sekitar pukul 21.30 WIB, Dwiki Dharmawan World Peace Trio menutup penampilannya dengan lagu Arafura. Cultural performance yang berlangsung selama dua jam ini merupakan gelaran @america untuk memperingati bulan April sebagai Jazz Appreciation Month.

Eastmania, Gandrung Eksplorasi Ketimuran

Tags: , , , , , ,


AXIS Java Jazz Festival 2011

Meskipun bertempat di ruangan dengan tata suara dan akustik yang kurang mumpuni, toh penampilan band ini tetap berkesan. Bukan hanya karena personilnya yang dahsyat, namun terutama oleh sajian musik eksploratif bervisi global, dengan menitikberatkan pada unsur ketimuran yang eksotis. Berlangsung di hari kedua Java Jazz Festival 2011, Eastmania yang tercetus oleh gitaris/komposer Kamal Musallam dan membawa serta musisi legendaris Billy Cobham (drum) dan Kai Eckhardt (bas) juga vokalis Rasha Rizk, kibordis Dwiki Dharmawan, pun Nasser Salameh (perkusi), memberi nuansa bunyi yang menyegarkan.

Eastmania

Eastmania

Enam musisi yang tergabung dalam Eastmania punya preferensi musik dengan latar belakang yang berbeda pula serta menjadi ciri khas masing-masing. Kamal yang hobi mengeksplorasi keragaman budaya dari tempat-tempat yang ia kunjungi, Billy dengan kiprahnya di supergrup Mahavisnu Orchestra dan ranah world music, Kai dengan segala inovasi selama tiga dekade hingga kini, Dwiki lewat proyek kolaborasi musik Nusantara, serta idiosinkrasi Timur Tengah atas diri Rasha dan Nasser. Segala unsur tersebut melebur jadi satu dalam olah bunyi berkelir jazz-rock-fusion.

Malam itu Eastmania hadir dengan garapan segar lewat unison modus-modus Persia dan belahan dunia lainnya, dalam ketukan ireguler dan kompleks. Makin seru tatkala berbalut energi rock distorsif. Tambah kentara geliat ketimuran itu waktu Kamal memainkan al-ÊżĆ«d (gambus) yang berpadu apik dengan vokal Rasha dan gertakan perkusi Nasser. Jelasnya, pertunjukan Eastmania meninggalkan kesan bahwa masih banyak teritori musik yang belum tergarap, seperti disuarakan lewat situs resminya, “
menorehkan perspektif baru dalam kultur musik yang sehat dan berpengaruh, untuk generasi mendatang serta menyatukan jiwa manusia, yang kini hilang termakan kebuntuan modernitas, tenggelam dalam komersialisasi bernama industri musik.”

Eastmania rocks!

Karir Dwiki Dharmawan di Amerika dalam Talkshow ‘My American Story’

Tags:


Perjalanan karir pianis jazz kebanggaan Indonesia, Dwiki Dharmawan, dipaparkan pada talkshow berjudul My American Story with Dwiki Dharmawan. Tak hanya sesi bincang-bincang, terdapat pula pemutaran film independen yang bertajuk ‘Ray’. Gelaran tersebut diselenggarakan di @america, Pusat Kebudayaan Amerika pertama di dunia, kemarin (6/2).

Diskusi ini dimoderatori oleh founder Wartajazz.com, Agus Setiawan Basuni. Talkshow interaktif yang berlangsung selama dua jam tersebut berisi penuturan pengalaman bermusik Dwiki Dharmawan di negeri Paman Sam. Peserta juga dapat mendengarkan kisah Dwiki bersama Krakatau, World Peace Orchestra, dan East Mania.

Pianis yang mulai belajar piano klasik saat 7 tahun ini sempat ‘banting setir’ untuk mengubah genre musik yang diusung grupnya, Krakatau. Eksplorasi gamelan dan menuangkannya ke dalam musik Krakatau, tak disangka membawanya ke Amerika Serikat untuk melakukan serangkaian tur di tahun 2004.

Selain sering diundang untuk menampilkan kebolehan bermusik jazznya, Dwiki pun acap kali diminta untuk mengunjungi berbagai universitas dan sekolah di Amerika Serikat untuk memberikan workshop, visiting lecture, dan klinik musik. Terjalinnya persahabatan Dwiki dengan banyak musisi Amerika juga memberikan kesempatan bagi tempat kursus musik miliknya, Farabi, untuk menjadi tuan rumah workshop Chicago Jazz Quartet.

Sambil menyimak perjalanan karir musisi asal Bandung tersebut, penonton juga menyaksikan tiga video penampilan Dwiki di Amerika tahun 2008. Bersama lima musisi lain, Dwiki menampilkan tiga lagu yang bertajuk Jazz for Freeport, Janger, dan Arafura. Peserta talkshow pun disuguhi penampilan langsung pianis yang sudah tampil di berbagai konser dan festival jazz internasional.

Sebelum talkshow dimulai, terdapat pemutaran film ‘Ray’. Film ini menceritakan perjalanan hidup musisi blues, Ray Charles. Pianis Afro-Amerika yang juga penyandang tunanetra tersebut meraih sukses lewat berbagai karya-karyanya. Kategori Best Actor di penghargaan bergengsi Academy Award berhasil disabet oleh Jamie Foxx yang menjadi pemeran utama film ‘Ray’.

Bincang-bincang dan pemutaran film tersebut termasuk dalam rangkaian acara yang digelar guna memperingati bulan Februari yang dikenang sebagai Black History Month bagi rakyat Amerika Serikat. Untuk merayakan momen tersebut, @america menampilkan delapan film yang bercerita tentang kisah inspiratif masyarakat Afro-Amerika. Selain itu, dilaksanakan pula speaking opportunities, pertunjukan demonstrasi, juga pengumuman pemenang lomba e-Poster.

Talk Show My American Story bersama Dwiki Dharmawan di @america

Tags: ,


Talk Show My American Story with Dwiki Dharmawan di @atamerica Minggu 6 Feb 2011

Talk Show My American Story with Dwiki Dharmawan di @atamerica Minggu 6 Feb 2011

Pusat Kebudayaan Amerika yang pertama di dunia, @America yang terletak di pusat perbelanjaan Pacific Place lantai 3, Jakarta Selatan akan mengadakan sebuah Talkshow bertajuk My American Story with Dwiki Dharmawan pada hari Minggu, 6 Februari 2011 mulai pukul 2 siang. Acara ini tidak dipungut biaya.

Sebelum Talkshow dimulai, akan dilakukan pemutaran film “Ray” yang bercerita tentang sepak terjang pianis blues Ray Charles selama kurang lebih tiga puluh tahun. Film independen yang di sutradarai Taylor Hackford dan dibintangi Jamie Foxx diganjar penghargaan Academy Award utuk kategori Best Actor.

Talk show ini akan membagikan pengalaman pianis leader dari kelompok Krakatau mengenai perjalanan karir bermusiknya di Amerika. Simak pula bagaimana kolaborasi yang dilakukan oleh Dwiki baik secara individu maupun bersama kelompoknya (Krakatau atau World Peace Orchestra) dengan para musisi (Jazz) di Amerika.

Kegiatan Talkshow My American Story akan dimoderatori founder WartaJazz, Agus Setiawan Basuni.

Sebelum, selama dan sesudah kegiatan berlangsung anda juga bisa menyaksikan video rekaman penampilan Dwiki Dharmawan di Amerika yang di proyeksikan ke screen yang tersebar merata hampir disetiap dinding @America. Dan yang tak kalah pentingnya untuk para musisi, penulis, pecinta, akademisi, pemerhati atau peneliti khususnya dalam musik adalah bagaimana membaca peluang, tantangan dalam musik (Jazz) di Amerika.

***

Sebagai pusat kebudayaan Amerika Serikat yang pertama di dunia, @america menonjolkan penggunaan teknologi canggih seperti yang terlihat dari beberapa unit komputer berlayar sentuh yang menyediakan informasi, kuis, bahkan permainan untuk para pengunjung.

Sejumlah proyektor berlayar raksasa yang menayangkan hasil foto satelit dari Google Earth yang memudahkan para pengunjung untuk melihat-lihat perkotaan di AS ataupun di seluruh dunia.

Setiap bulannya ada tema besar yang menjadi benang merah setiap kegiatan yang dilakukan di @america.

Untuk bulan Februari 2011, @America memiliki tema Black History Month yang akan memutar sejumlah film diantaranya Ray yang akan disajikan pada tanggal 6 Februari 2011.

Monju West Java World Music Festival akan digelar di Bandung

Tags: , , , ,


Sebuah perhelatan musik dunia, akan digelar di kota Bandung, dalam sebuah perayaan bertajuk MONJU WEST JAVA WORLD MUSIC FESTIVAL 2010 dengan tajuk Kemasan Musik Untuk Kekinian Dan Pesta Musik Nusantara. Acara ini digelar pada 19 dan 20 November 2010, di Monumen Juang Rakyat Jawa Barat Jl. Dipatiukur Bandung tanpa dipungut biaya.

Musisi yang akan tampil dalam perhelatan tersebut adalah mereka yang telah berkaliber dunia dan memiliki karya-karya yang berbasis tradisional seperti Patrick Shaw Iversen & Rune Broendbo ( Norwegia), Colin Bass dan Jenny Weisgerber (Germany), Kamal Musallam (Dubai), Ron Reeves/ Warogus (Australia-Indonesia), Sarah & Maika Gomez T’Tukunak (Spanyol), dan sejumlah musisi tanah air seperti Krakatau, Samba Sunda, Balawan & Batuan Etnik, Dwiki Dharmawan & WPO, Vicky Sianipar, Empat Peniti, Namin D’bajidor, Malire, Rengkong Itenas, dan seorang seniman fenomenal, Darso.

Demikian yang terungkap dari jumpa wartawan yang digelar di Galeri Kita, Kantor Dinas Pariwisata Jl. Martadinata Bandung, Senin (1/11) lalu. Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Barat, Herdiwan yang didampingi musisi Dwiki Dharmawan dan Ismet Ruchimat dari kelompok Samba Sunda yang bertindak selaku penata artistik festival.

Ini merupakan kemasan musik kekinian dan pesta musik nusantara, sebuah perhelatan musik tradisional dunia yang ditempa sebagai sebuah karya yang telah mengalami proses eksplorasi dan akulturasi. Perhelatan yang berskala internasional ini menyajikan materi utama pertunjukan musik dunia yang di dukung oleh kegiatan lainnya seperti workshop, diskusi, bazaar dan pertunjukan happening art.

Saat ditanya WartaJazz tentang alasan kenapa acara ini digelar Herdiwan berkomentar, “Banyak musisi dari Jawa Barat yang justru menggelar karya atau membantu festival musik ditempat lain dan berkibar. Ini merupakan kesempatan berkarya dikampung sendiri. Acara ini juga memberikan kesempatan musisi untuk berkreasi”.

Dwiki Dharmawan - Herdiwan - Ismet

Dwiki Dharmawan - Herdiwan - Ismet

Dinas Pariwisata dan Budaya Jabar yang menjadi penyandang dana sebagai wujud dari turut membantu memberikan ruang pada seniman dalam menampilkan karya-karya yang lebih berpijak pada realitas kulturalnya, dengan harapan terjadi dinamisasi kultural dan dapat diterima kembali oleh masyarakat, setelah nampak gejala seni musik tradisional mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Tentu saja musik yang akan ditampilkan adalah musik tradisional yang telah dikemas dengan memperhitungka nilai global

Sementara Dwiki mengungkapkan, “Bandung memerlukan Quality Tourism. Acara Monju West Java World Music bisa menjadi salah satu magnet agar orang-orang yang datang ke Bandung mendapatkan sajian berkualitas”. Hal ini rupanya diamini oleh Pemerintah Daerah sehingga diharapkan memang acara ini bisa menjadi agenda tahunan agar para pelaku pariwisata dan masyarakat umum khususnya seniman dapat memperoleh manfaat.

Melalui MONJU WEST JAVA WORLD MUSIC FESTIVAL 2010, Kemasan Musik Untuk Kekinian Dan Pesta Musik Nusantara, diharapkan mampu membuka ruang dialog dan apresiasi antara musisi dunia, musisi Jawa Barat dan masyarakat pada umumnya, meningkatkan peran aktif komunitas seni tradisional agar terus berkarya dan berinovasi. Lebih jauhnya, dapat mengembangkan relasi kultural dan sosial antara Pemprov jabar, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Barat dengan komunitas seni budaya tradisonal serta masyarakat pada umumnya.

Ismet yang bertugas mengatur para artis yang akan tampil menyatakan “Penting sekali meletakkan peta Monju West Java World Music Festival dalam agenda World Music Festival dunia. Acara ini juga merupakan santapan pendidikan “. Dan hal itu disadarinya secara penuh dengan mengundang sejumlah musisi internasional yang memang memiliki jaringan didunia World Music khususnya.

Konsep kemasan musik dalam acara ini adalah konsep “pasar”. Sebuah kata yang cocok untuk kegiatan yang berbasis seni-budaya tradisional, tidak selalu resmi, namun meriah, spontan, apa adanya serta jujur. Konsep “pasar” pun sejalan dengan digelarnya bazaar dan workshop. Dalam bazaar transaksi yang terjadi adalah transaksi barang atau benda, sedangkan dalam workshop transaksi yang terjadi adalah transaksi pengetahuan, pemahaman, pengalaman dan kreatifitas.

Kegiatan ini akan memunculkan idiom-idiom lokal yang ada dalam seni-budaya tradisional dalam konteks musik dunia, sehingga kekuatan lokal dan lokalitas mampu menjadi daya magnetis bagi para musisi dunia untuk kemudian menjadi bahan olahan kreatifnya.

Tertarik mengetahui acara lebih lanjut?, silakan menghubungi

Panca Tan Matra tampilkan Toninho Horta dan Dwiki Dharmawan di Bali

Tags: , , , , , , , ,


Tak banyak publikasi yang disebarluaskan mengenai acara ini. Memang waktu persiapannya pun terbilang singkat. Acara yang digelar di Museum Rudana Ubud Bali, Rabu 13 Oktober 2010 ini tapi tetap digarap serius. Tak kurang sejumlah artis berkolaborasi kreatif menggabungkan Suara, Rupa dan Kata dalam konser bertajuk Panca Tan Matra.

Putu Rudana, Toninho Horta dan Dwiki Dharmawan saat menandatangani Prasasti

Putu Rudana, Toninho Horta dan Dwiki Dharmawan saat menandatangani Prasasti

Putu Supadma Rudana, direktur museum memaparkan bahwa konser tersebut digagas karena kesadaran bahwa belakangan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan negara Indonesia sedikit terlupakan akibat banyaknya benih-benih perpecahan yang timbul karena sejumlah kepentingan, ketegangan mayoritas versus minoritas, prasangka dan praduga yang berujung pada kesalahpahaman tak berkesudahan.

Diundanglah Dwiki Dharmawan, pianis pentolan Krakatau dan penggagas World Peace Orchestra bersama Nyoman Windha, musisi asal Bali yang merintis JES (Jegog dan Semar Penggulingan) Gamelan Fusion yang mengkolaborasikan jegog dengan instrumen musik modern. Diajak pula I Nyoman Sura, penari sekaligus koreografer yang kini menjadi pengajar di Institut Seni Indonesia, Denpasar. Bergabung Warih Wisatsana, penyair yang pernah meraih Bung Hatta Award dan sejumlah penghargaan lain. Kolaborasi diatas dipercantik dengan hadirnya Brazillian Guitarist Ambassador, Toninho Horta yang tiba sehari sebelumnya dari sebuah pertunjukan di Jepang.

***

Penampilan Dwiki Dharmawan turut dibackup sejumlah musisi berbakat negeri ini. Diantaranya Demas Narawangsa (drums), Barry Likumahuwa (bass), Ivan Nestorman (vokal) dan Dira J. Sugandhi (vokal) serta Rio Sidik (trumpet). Philippe Ciminato, perkusionis asal Perancis yang sedang bertandang ke Bali turut melengkapi line-up ini. Meski tanpa latihan permainan mereka membuat tepuk tangan tak pernah berhenti seusai mereka memainkan komposisi-demi-komposisi.

Toninho Horta saat tampil di Panca Tan Matra

Toninho Horta saat tampil di Panca Tan Matra

Toninho Horta yang belum pernah bertemu dengan Dwiki Dharmawan sebelumnya pun merasa gembira dengan line-up yang disodorkan oleh panitia. Terbukti line-up ini pula yang ditampilkan di 3rd Asean Jazz Festival dua hari setelah pertunjukan Panca Tan Matra.

Mereka membawakan sejumlah lagu antara lain Spirit of Peace, Benggong, Lamalera yang diambil dari album terakhir Dwiki Dharmawan WPO. Sementara saat tampil bersama Toninho Horta, mereka tampil membawakan beberapa lagu standard seperti Mas Que Nada. Lagu Aquelas Coisas Todas dan For my Children menjadi penutup konser yang berlangsung sekitar satu setengah jam tersebut.

Seusai acara, Toninho Horta, Dwiki Dharmawan dan Putu Supadma Rudana menandatangani Prasasti berupa sebuah batu besar yang berada tepat dibagian depan Museum Rudana, sehingga jika anda berkesempatan mampir ke museum yang terletak di Ubud ini anda akan melihat prasasti tersebut.


It’s the group sound that’s important, even when you’re playing a solo. You not only have to know your own instrument, you must know the others and how to back them up at all times. That’s jazz. — Oscar Peterson


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<