Konser peluncuran âDictionary 2â oleh Trio LIGRO, Rolling Stone CafĂ© Jakarta, 25 Januari 2012.
Saat yang dinanti akhirnya datang juga. Rabu (25/1) malam bertempat di Rolling Stone CafĂ©, album kedua LIGRO berjudul Dictionary 2 pun rilis. Berjarak sekitar tiga tahun dari perdana Dictionary 1 (Inline Music, 2008), LIGRO (dibaca terbalik menjadi âorgilâ â orang gila â red.) tampil makin gila, makin energik. Pelakunya ialah Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bas), dan Gusti Hendy (drum).
Dimulai selepas pukul sembilan malam, dihadiri para wartawan, rekan musisi, dan penggemar, ketiganya langsung menggetarkan panggung lewat komposisi âBliker 3â yang terambil dari album gres tersebut.
Introduksi berupa progresi disonan berformat MIDI menjadi pembuka, berlanjut sayatan gitar distorsif Agam. Aura kegilaan mulai terasa waktu Hendy melancarkan pukulan-pukulan maut, daya ledak pula akselerasi tinggi bak orang kesurupan. Atensi kemudian beralih kepada Adi, ia membaringkan basnya, lalu mulai bertingkah dengan ramuan bunyi âalamiâ atas lembaran seng, martil, dan, paku dengan gaya teatrikal.
Ada pula sesi tanya-jawab, memberi kesempatan audiens untuk bertanya langsung pada ketiga personil LIGRO. Seorang wartawan bertanya soal genre musik apa yang diusung LIGRO, kemudian ditanggapi Agam, âKami hanya bermusik, tidak mematok suatu genre tertentu, dan kami bertiga punya latar belakang yang berbeda-beda, saya campuran Aceh dan Sunda, Adi asal Madura, dan Hendy dari Kalimantan, preferensi musik kami juga sangat lebar, jazz, musik klasik, rock, bahkan etnik. Jadi soal genre, biarlah pendengar sendiri yang mendefinisikan,â ujarnya.
Pertanyaan lain seputar pengaturan drum set Hendy, mengapa ia menggunakan gondang Batak untuk menggantikan tom-tom, Hendy memaparkan,âSetting drum seperti ini memang sengaja saya terapkan di LIGRO, yang tentu berbeda ketika saya tampil bersama grup lain. Saya memang memakai instrumen tradisi Batak, gondang, tapi saya tidak serta merta memainkan dalam tradisi Batak, karena saya bukan orang Batak, tapi orang Kalimantan, maka dari itu saya menggunakan pola ritme Kalimantan ke dalam permainan gondang, dan itu yang membuatnya unik. Selain itu, dengan setting ini saya lebih bisa menyatu dengan bas maupun gitar dalam komposisi LIGRO,â jelas Hendy.
Giliran Adi, ditanya perihal aksi edan serta nyeleneh tadi, ia berkisah, âSaya terinspirasi waktu dulu, ketika kuliah, sempat menyaksikan sebuah happening art, dengan menggunakan alat-alat musik non-konvensional, ternyata bunyi yang dihasilkan menarik sekali,â tuturnya. Ia berkelakar, âKalau di sini ada yang butuh tukang untuk perbaiki rumah, hubungi saya,â selorohnya disambut tawa penonton.
Hadir pula Dwiki Dharmawan yang juga memberi selamat, menurutnya LIGRO berani untuk tampil beda lewat konsep musiknya, serta dapat mengisnpirasi musisi Indonesia untuk go international. âSaya yakin mulai tahun ini LIGRO akan keliling dunia untuk mempromosikan musik mereka,â tutupnya.
Acara launching berakhir lewat gubahan berjudul âStravinsky,â yang merupakan adaptasi dari âLes Cinq doigtsâ (The 5 Fingers) milik komposer Rusia Igor Stravinsky. Berciri ketukan janggal, harmoni disonan, serta idiom-idiom hard rock yang energik.
Kabar gembira lainnya adalah bahwa Dictionary 2 akan segera dirilis oleh label rekaman asal Amerika Serikat, MoonJune Records. Itu berarti LIGRO satu payung dengan sesama grup dari tanah air; simakDialog, Tohpati Bertiga, Tohpati Ethnomission, dan pendatang baru I Know You Well Miss Clara.
Selamat dan sukses untuk LIGRO, semoga kian gila dalam berkreasi. Proficiat!
























