Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "Enggar Widodo"

Ruth Sahanaya – Joyful Christmas

Tags: , , , , , , , , , , ,


Album: Joyful Christmas
Label: Aquarius Musikindo, 2006

01. Winter Wonderland
02. Frosty the Snowman
03. Santa Claus is Coming to Town
04. Have Yourself a Merry Little Christmas
05. O Holy Night
06. Joy to the World/Jingle Bells
07. Merry Christmas, Darling
08. It’s the Most Wonderful Time of the Year
09. The Christmas Song
10. Sleigh Ride

Ruth Sahanaya - Joyful Christmas

Ruth Sahanaya - Joyful Christmas

Seperti judulnya, album Joyful Christmas dari salah satu diva Indonesia, Ruth Sahanaya ini hadirkan semangat dan keceriaan Natal. Terkait dengan itu, album ini adalah proyek besar, dalam format big band dan tidak tanggung-tanggung, proses mixing pula mastering berlokasi di Capitol Studios, Hollywood, California, Amerika Serikat! Tempat di mana musisi-musisi ternama melakukan sesi rekaman, dan untuk Joyful Christmas, sebagai recording engineer ialah Al Schmitt yang telah meraih banyak penghargaan.

Deretan musisi yang berperan di album berisikan sepuluh trek ini terambil dari kalangan pemain jazz dalam negeri, membawa bendera  Opustre Big Band. Lebih dari 20 pemusik lintas generasi terlibat di rekaman ini, ada Bob Tutupoly bawakan “It’s the Most Wonderful Time of the Year” bersama Uthe, ditambah lincahnya solo trumpet Rio Sidik, terasa meriah dalam geliat swing. Riuh big band membuka “Winter Wonderland” yang energik, dengan aransemen oleh Ricky Lionardi dan Indra Aziz (pula bermain alto saksofon).

Geliat Afro-Cuban menghiasi “Frosty the Snowman,” tepukan perkusi Philippe Ciminato menjadi aksen bersama Rio yang hadir kembali lewat semburan muted trumpet. Gitaris Nikita Dompas ambil bagian solo pada “Santa Claus is Coming to Town,” sedangkan penyanyi Samuel Simorangkir turut nyanyikan “Have Yourself a Merry Little Christmas” yang bertempo santai. Desir saksofon sopran terdengar pada “O Holy Night,” berlanjut medley “Joy to the World/Jingle Bells” dengan sentuhan irama calypso.

Ballad bergaya bossa atas “Merry Christmas, Darling” dinyanyikan Uthe dengan halus, lengkap dengan solo piano Julian Abraham Marantika, bersama kontrabasis Indra Perkasa dan drummer Sri Aksan Sjuman. Terdapat garapan vokal tanpa iringan pada “The Christmas Song,” sebelum ditutup dengan “Sleigh Ride” yang kembali melaju berdetak swing, meriah dan penuh goyangan.

Album ini dapat menjadi pilihan untuk meramaikan suasana akhir tahun, menambah hangat serta ceria Natal bersama handai tolan dan sahabat. Merry Christmas!

Musisi

Ruth Sahanaya: vokal
Bob Tutupoly: vokal
Uci Nurul: vokal
Nadine & Amabel: vokal
Samuel Simorangkir: vokal
Irvan Nat: vokal

Philippe Ciminato: perkusi
Rio Sidik: trumpet (trek 2, 4, 8).

Opustre Big Band:

M. Marwan: trumpet
Harmoniadi: trumpet
Wisnu Arifin: trumpet
Happy Pretty: trumpet

Lunggo: trombon
Yohanes Suantara: trombon
Enggar Widodo: trombon
Tony TRB: trombon

Jimmy Tobing: saksofon alto
Indra Aziz: saksofon alto

Boyke Priyo Utomo: saksofon tenor, saksofon sopran (trek 5)
Bimo HP: saksofon tenor
Septa Suryoto: saksofon tenor (trek 7)

Widodo: saksofon bariton

Ali Akbar Sugiri: piano (trek 1, 2, 6, 7)
Julian Abraham Marantika: piano (trek 3, 4, 5, 9, 10)

Donny Sundjojo: kontrabas (trek 3, 4, 5, 9, 10)
Indra Perkasa: kontrabas (trek 1, 2, 6, 7)

Sri Aksan Sjuman: drum (trek 1, 2, 6, 7)
Titi Handayani Sjuman: drum (trek 3, 4, 5, 9, 10)

Nikita Dompas: gitar

Ratusan Simpatisan FPI Merazia GoetheHaus!

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Laporan Dari Serambi Jazz Edisi Agustus 2010 – Mery Kasiman Project.

Judul di atas tercetus gara-gara Deny Sakrie berulah pada Serambi Jazz malam Jumat lalu (12/8). Berdinas sebagai MC, ia menjuluki hadirin dengan sebutan FPI (Front Penikmat Improvisasi – red.) yang kontan membuat penonton terpingkal. Alih-alih melakukan penggeledahan secara rambang dan destruktif, FPI imbangan malam itu “merazia” dengan cara berbeda; duduk manis, mengangguk-angguk ikuti irama, serta bertepuk tangan seusai tiap lagu dimainkan. Adalah Mery Kasiman beserta belasan kroni tergabung dalam Mery Kasiman Project yang berperan selaku pengisi acara.

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Sudah sepatutnya publik jazz tanah air mencintai Mery. Bagaimana tidak, pianis-komposer-arranger jebolan Program Master Institut Musik Daya ini punya talenta luar biasa dalam urusan musik. Terlebih, wanita kelahiran Jakarta 28 tahun silam tersebut berani untuk menyambung kiprah pada ranah big band, yang di Indonesia jarang tersentuh bahkan oleh kaum adam sekalipun. Selain itu, Mery juga menuangkan bakatnya di teritori musik film, dengan menjadi copyist dan orkestrator bersama Aksan dan Titi Sjuman.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Konser malam itu terbagi menjadi dua sesi tanpa jeda, dengan repertoar lima komposisi orisinil Mery pada bagian pertama kemudian berlanjut empat aransemen buah musik John Coltrane dan Thelonious Monk. Regu yang dikomandani Mery merupakan konstelasi musikus-musikus berbakat tanah air, untuk seksi tiup ia menggandeng Harmoniadi dan Wisnu Fajar (trumpet), Enggar Widodo dan Widiyekso (trombone), Boyke Priyo Utomo (saksofon tenor, flute), Arief Setiadi (saksofon tenor), dan Eugen Bounty (saksofon alto, klarinet). Sementara pada rhythm section tampak Ali Akbar Sugiri (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Sandy Winarta (drum). Sesi kedua dimeriahkan oleh Riza Arshad (piano, akordeon), Barry Likumahuwa (bas elektrik), dan Dewa Budjana (gitar).  Mungkin inilah alasan mengapa ruangan GoetheHaus begitu sesak, kursi terisi penuh dan bahkan beberapa harus berdiri memenuhi anak tangga pada kedua sisi gedung. Faktor lainnya adalah pertunjukan tersebut gratis adanya.

Acara dimulai dengan komposisi “Floating” lewat introduksi denting piano Ali Akbar memberi kesan sejuk sebelum hembusan tema oleh klarinet memecah ambang kesunyian. Dihiasi pula solo kontrabas mengambil alih kerenggangan harmoni brass section yang mengalun lembut. Arief Setiadi menampilkan aksi solo pada nomor kedua, “Down By The River” yang ditimpali permainan flute Boyke. Sepintas, gaya komposisi Mery mengingatkan kepada garapan musik Amina Figarova yang naratif. Selanjutnya adalah “Waterfall”, komposisi ini memberi ruang lebar bagi Ali Akbar untuk menunjukkan kelincahan jemarinya dan untuk itu tepukan tangan spontan dari audiens dihadiahkan sewaktu ia memikat dengan frase-frase atraktif. Aksentuasi cepat one-two, one-two, one-two-three dalam sukat 7/8 dituangkan Mery pada “The Chat” yang cukup membuat para personil syak wasangka pada awalnya, terutama di seksi tiup. Penonton yang jeli pasti dapat merasakan kegamaman tersebut. Sesi pertama ditutup lewat “Lilac and Brown”, di nomor ini Mery menempatkan instrumen gitar dan trombone sebagai penggagas tema.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Gitaris lintas genre Dewa Budjana meramaikan babak kedua yang dibuka dengan “Moment’s Notice” dari John Coltrane berdetak dalam nuansa bebop. Pada nomor ini Budjana tampil kalem, tidak terlihat adanya aksi penarik perhatian, ia bermain santai saja bersama Arief dan Eugen yang juga diberi jatah solo. Namun Budjana justru menunjukkan daya pikatnya di komposisi Thelonious Monk yang beraroma mellow, “Monk’s Mood”. Melalui gitar birunya, ia membius penonton dengan pengolahan nada-nada manis penuh penjiwaan, didukung oleh goresan keindahan lewat bunyi sayu akordeon Riza Arshad. Atmosfer ruangan menghangat ketika basis idola remaja, Barry Likumahuwa naik ke atas panggung bertukar posisi dengan Indrawan. Saat itu juga Riza menanggalkan akordeon untuk duduk bermain piano pada “Monk’s Dream”. Nomor ini mengayun oleh cabikan bas Barry, audiens terhibur dengan pengolahan tema jenaka baik olehnya maupun Riza, keduanya terlihat berdialog seru sembari melempar senyum.

Repertoar terakhir adalah mahakarya John Coltrane, “Giant Steps” dengan segala kerumitannya dan kentara aransemen Mery yang menghindari resiko dengan tempo lebih lambat dari versi aslinya (260 BPM – beats per minute; konon membuat pianis Tommy Flanagan agak kelimpungan pada sesi rekaman tahun 1959). Setelah penantian cukup lama, akhirnya penabuh drum muda berbakat Sandy Winarta beraksi solo juga, pukulannya sungguh dahsyat – tegas, presisi, dan dinamis. Kecakapan teknis dan jam terbang ekstensif adalah alas an mengapa ia begitu mumpuni lewat selaput plastik, lempeng logam, dan tongkat pemukulnya itu. Barry kembali mencuri perhatian tatkala merepet dengan gila sewaktu giliran solo, performanya sangat mendebarkan!

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Tadinya konser tersebut akan berakhir seusai “Giant Steps”, namun berkat provokasi cerdik Denny Sakrie dan respon pemirsa yang seolah belum puas, mau tidak mau bonus berupa encore diberikan pula. Setelah rembuk alot antar pemain, akhirnya Mery yang awalnya ragu-ragu setuju untuk bermain piano, ditemani akordeon Riza, bas Barry, dan gitar Robert. Mereka tampil lewat “Stella By Starlight” karya Victor Young dengan nuansa serenade. Uniknya, Mery malah terlihat lebih menikmati permainan pianonya ketimbang saat ia menjadi kondakter semenjak permulaan acara. Beberapa birama musik mengalun, tiba-tiba sayup terdengar ketukan drum namun anehnya dimainkan oleh saksofonis Arief Setiadi. Buah keisengan itu justru semakin menambah semarak hingga acara benar-benar selesai.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Pagelaran berdurasi sekurangnya dua jam itu sangat berkesan, ekspresi takjub dan rasa puas tergambar jelas pada raut wajah para audiens setelah acara berakhir. Proyek Mery Kasiman tampaknya ditanggapi baik dan merupakan langkah awal positif untuk ekspansi cetak birunya ini. Secara teknik komposisi maupun aransemen sesungguhnya Mery telah memadai secara akademis, semoga di masa depan ia makin kreatif mengolah aspek non-akademis dan kekinian dengan gayanya yang distingtif. Sejumput catatan ditujukan kepada seksi tiup; entah karena pimpinan ansambel yang malu-malu dan kurang gamblang atau minimnya kesigapan pemain, jelasnya ketimpangan tersebut agak mengganggu kenikmatan estetis yang mestinya dapat tercapai bila rangkaian not di atas kertas dimainkan dengan baik.

Bagaimanapun, acara malam itu memuaskan, impresif, serta layak mendapat pujian. Sangat dinanti penampilan Mery Kasiman Project berikutnya. Salut!

Serambi Jazz edisi Desember sajikan Pitoelas Big Band

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,


pitoelasSebagai penutup rangkaian kegiatan di tahun 2009, Serambi Jazz kembali menyelenggarakan sebuah konser musik. Akan tampil Pitoelas Big Band, sebuah kelompok dalam formasi big band yang akan memberikan suguhan komposisi-komposisi jazz dari lagu tradisional Indonesia hingga modern jazz.

Acara digelar pada Kamis 3 Desember 2009 di Goethe Institut, Jl. Sam Ratulangi 9-15 Menteng Jakarta Pusat mulai pukul 19.30 dan tidak dipungut biaya alias Gratis.

Pitoelas Big Band lahir dari sebuah idealisme dan antusiasme dari setiap anggota pendirinya terhadap musik, terutama musik jazz dan big band. Diawali dengan sebuah obrolan, mengekplorasi ide-ide, untuk kemudian berlatihdan tampil bersama. Ini membuat Pitoelas Big Band menjadi sebuah grup yang kuat, terdiri dari para pemusik profesional muda terbaik.

Pemain saksofon dan komposer Dony Koeswinarno adalah salah seorang pendiri band ini. Saat ini Dony juga menjadi pemimpin band dan direktur musik Pitoelas. Dialah yang menulis dan menyusun aransemen musik, sekaligus bertindak sebagai kontraktor dan manajer band ini. Salah satu dari musik gubahan Dony dan band ini adalah “Ondel-ondel”, sebuah lagu tradisional Betawi yang disusun menjadi sebuah musik jazz bergaya big band. Anggota-anggota lainnya adalah pemain piano, aranjer dan komposer, Irsa Destiwi; pemain klarinet/saksofon, Eugen Bounty; pemain trombone, Enggar Widodo; dan beberapa nama lain yang sudah dikenal luas dalam komunitas musik jazz di Indonesia.

Pitoelas Big Band telah menjadi sebuah band profesional terbaik dengan pilihan daftar lagu yang beragam di Indonesia , dikenal memiliki fresh sounding, good looking dan swinging hard. Kini, Pitoelas Big Band sedang mempersiapkan debut album mereka.

Berikut ini daftar lengkap penampil Pitoelas Big Band:

  • Saxophone:
    Dony Koeswinarno (Leader/Music Director), Eugen Bounty, Donna Koeswinarso, Devian Zikri, Drio Pramono
  • Trumpet :
    Harmoniadi, Wisnu Fajar, Edi Junaedi, Syendy
  • Trombone :
    Enggar Widodo, Widiyekso, Toni Heriyanto, Yandri
  • Rhythm section :
    Irsa Destiwi, Sandy Winarta, Donny Sunjoyo, Tiyo Alibasjah
  • Vocal : Odi, Dira J Sugandi

My music is the spiritual expression of what I am — my faith, my knowledge, my being … When you begin to see the possibilities of music, you desire to do something really good for people, to help humanity free itself from its hangups … I want to speak to their souls — John Coltrane


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<