Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "# Eugen Bounty"

Matthew Sayersz – Quiet Christmas

Tags: , , , ,


Album: Quiet Christmas
Label: Coffee & Music, 2008

1. The Christmas Song
2. I Fall in Love in a Christmas Day
3. On a Green of Christmas Day
4. Quiet Christmas
5. Rudolph the Red-Nosed Reindeer
6. Santa Claus Telah Tiba
7. Senyumnya Natal
8. Silent Night

Matthew Sayersz - Quiet Christmas

Matthew Sayersz - Quiet Christmas

Dikenal sebagai penyanyi utama Barry Likumahuwa Project (BLP), Matthew Sayersz punya vokal yang khas. Lewat album bertajuk Quiet Christmas ini, Matthew tampilkan olah vokal pada rangkaian lagu-lagu Natal pilihan bernuansa R&B, soul, jazz, juga pop.

Turut mendukung ialah Idang Rasjidi selaku pianis dan bermain kibor, basis Sha’adu Rasjidi, drummer Edy Syakhroni, ditambah Eugen Bounty pada saksofon alto dan klarinet.

Lagu pertama adalah “The Christmas Song,” lagu “wajib” putar di masa Natal, dibawakan dengan halus. Berlanjut detak swing atas “I Fall in Love in a Christmas Day” terhias solo klarinet Eugen.

Beat groovy hiasi trek “On a Green of Christmas Day” yang berirama R&B. Ada pula tafsiran ballad pada nomor “Quiet Christmas” sebagai title track album ini.

Aransemen Matthew untuk lagu “Rudolph the Red-Nosed Reindeer” cukup menarik, aneka looping vokal perkusif bergaya nu jazz dalam beat latin cukup bikin goyang. Terdapat solo bas dari Sha’adu ditimpali Idang pada kibornya.

Tembang “Santa Claus Telah Tiba” dimainkan santai, sedikit berkesan doo-wop. Tiupan saksofon memberi warna pada nomor “Senyumnya Natal,” sebelum diakhiri “Silent Night” dalam irama teduh.

Personil

Matthew Sayersz: vokal
Idang Rasjidi: piano, kibor
Sha’adu Rasjidi: bas
Edy Syakhroni: drum
Eugen Bounty: saksofon alto, klarinet

Ratusan Simpatisan FPI Merazia GoetheHaus!

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Laporan Dari Serambi Jazz Edisi Agustus 2010 – Mery Kasiman Project.

Judul di atas tercetus gara-gara Deny Sakrie berulah pada Serambi Jazz malam Jumat lalu (12/8). Berdinas sebagai MC, ia menjuluki hadirin dengan sebutan FPI (Front Penikmat Improvisasi – red.) yang kontan membuat penonton terpingkal. Alih-alih melakukan penggeledahan secara rambang dan destruktif, FPI imbangan malam itu “merazia” dengan cara berbeda; duduk manis, mengangguk-angguk ikuti irama, serta bertepuk tangan seusai tiap lagu dimainkan. Adalah Mery Kasiman beserta belasan kroni tergabung dalam Mery Kasiman Project yang berperan selaku pengisi acara.

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Sudah sepatutnya publik jazz tanah air mencintai Mery. Bagaimana tidak, pianis-komposer-arranger jebolan Program Master Institut Musik Daya ini punya talenta luar biasa dalam urusan musik. Terlebih, wanita kelahiran Jakarta 28 tahun silam tersebut berani untuk menyambung kiprah pada ranah big band, yang di Indonesia jarang tersentuh bahkan oleh kaum adam sekalipun. Selain itu, Mery juga menuangkan bakatnya di teritori musik film, dengan menjadi copyist dan orkestrator bersama Aksan dan Titi Sjuman.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Konser malam itu terbagi menjadi dua sesi tanpa jeda, dengan repertoar lima komposisi orisinil Mery pada bagian pertama kemudian berlanjut empat aransemen buah musik John Coltrane dan Thelonious Monk. Regu yang dikomandani Mery merupakan konstelasi musikus-musikus berbakat tanah air, untuk seksi tiup ia menggandeng Harmoniadi dan Wisnu Fajar (trumpet), Enggar Widodo dan Widiyekso (trombone), Boyke Priyo Utomo (saksofon tenor, flute), Arief Setiadi (saksofon tenor), dan Eugen Bounty (saksofon alto, klarinet). Sementara pada rhythm section tampak Ali Akbar Sugiri (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Sandy Winarta (drum). Sesi kedua dimeriahkan oleh Riza Arshad (piano, akordeon), Barry Likumahuwa (bas elektrik), dan Dewa Budjana (gitar).  Mungkin inilah alasan mengapa ruangan GoetheHaus begitu sesak, kursi terisi penuh dan bahkan beberapa harus berdiri memenuhi anak tangga pada kedua sisi gedung. Faktor lainnya adalah pertunjukan tersebut gratis adanya.

Acara dimulai dengan komposisi “Floating” lewat introduksi denting piano Ali Akbar memberi kesan sejuk sebelum hembusan tema oleh klarinet memecah ambang kesunyian. Dihiasi pula solo kontrabas mengambil alih kerenggangan harmoni brass section yang mengalun lembut. Arief Setiadi menampilkan aksi solo pada nomor kedua, “Down By The River” yang ditimpali permainan flute Boyke. Sepintas, gaya komposisi Mery mengingatkan kepada garapan musik Amina Figarova yang naratif. Selanjutnya adalah “Waterfall”, komposisi ini memberi ruang lebar bagi Ali Akbar untuk menunjukkan kelincahan jemarinya dan untuk itu tepukan tangan spontan dari audiens dihadiahkan sewaktu ia memikat dengan frase-frase atraktif. Aksentuasi cepat one-two, one-two, one-two-three dalam sukat 7/8 dituangkan Mery pada “The Chat” yang cukup membuat para personil syak wasangka pada awalnya, terutama di seksi tiup. Penonton yang jeli pasti dapat merasakan kegamaman tersebut. Sesi pertama ditutup lewat “Lilac and Brown”, di nomor ini Mery menempatkan instrumen gitar dan trombone sebagai penggagas tema.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Gitaris lintas genre Dewa Budjana meramaikan babak kedua yang dibuka dengan “Moment’s Notice” dari John Coltrane berdetak dalam nuansa bebop. Pada nomor ini Budjana tampil kalem, tidak terlihat adanya aksi penarik perhatian, ia bermain santai saja bersama Arief dan Eugen yang juga diberi jatah solo. Namun Budjana justru menunjukkan daya pikatnya di komposisi Thelonious Monk yang beraroma mellow, “Monk’s Mood”. Melalui gitar birunya, ia membius penonton dengan pengolahan nada-nada manis penuh penjiwaan, didukung oleh goresan keindahan lewat bunyi sayu akordeon Riza Arshad. Atmosfer ruangan menghangat ketika basis idola remaja, Barry Likumahuwa naik ke atas panggung bertukar posisi dengan Indrawan. Saat itu juga Riza menanggalkan akordeon untuk duduk bermain piano pada “Monk’s Dream”. Nomor ini mengayun oleh cabikan bas Barry, audiens terhibur dengan pengolahan tema jenaka baik olehnya maupun Riza, keduanya terlihat berdialog seru sembari melempar senyum.

Repertoar terakhir adalah mahakarya John Coltrane, “Giant Steps” dengan segala kerumitannya dan kentara aransemen Mery yang menghindari resiko dengan tempo lebih lambat dari versi aslinya (260 BPM – beats per minute; konon membuat pianis Tommy Flanagan agak kelimpungan pada sesi rekaman tahun 1959). Setelah penantian cukup lama, akhirnya penabuh drum muda berbakat Sandy Winarta beraksi solo juga, pukulannya sungguh dahsyat – tegas, presisi, dan dinamis. Kecakapan teknis dan jam terbang ekstensif adalah alas an mengapa ia begitu mumpuni lewat selaput plastik, lempeng logam, dan tongkat pemukulnya itu. Barry kembali mencuri perhatian tatkala merepet dengan gila sewaktu giliran solo, performanya sangat mendebarkan!

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Tadinya konser tersebut akan berakhir seusai “Giant Steps”, namun berkat provokasi cerdik Denny Sakrie dan respon pemirsa yang seolah belum puas, mau tidak mau bonus berupa encore diberikan pula. Setelah rembuk alot antar pemain, akhirnya Mery yang awalnya ragu-ragu setuju untuk bermain piano, ditemani akordeon Riza, bas Barry, dan gitar Robert. Mereka tampil lewat “Stella By Starlight” karya Victor Young dengan nuansa serenade. Uniknya, Mery malah terlihat lebih menikmati permainan pianonya ketimbang saat ia menjadi kondakter semenjak permulaan acara. Beberapa birama musik mengalun, tiba-tiba sayup terdengar ketukan drum namun anehnya dimainkan oleh saksofonis Arief Setiadi. Buah keisengan itu justru semakin menambah semarak hingga acara benar-benar selesai.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Pagelaran berdurasi sekurangnya dua jam itu sangat berkesan, ekspresi takjub dan rasa puas tergambar jelas pada raut wajah para audiens setelah acara berakhir. Proyek Mery Kasiman tampaknya ditanggapi baik dan merupakan langkah awal positif untuk ekspansi cetak birunya ini. Secara teknik komposisi maupun aransemen sesungguhnya Mery telah memadai secara akademis, semoga di masa depan ia makin kreatif mengolah aspek non-akademis dan kekinian dengan gayanya yang distingtif. Sejumput catatan ditujukan kepada seksi tiup; entah karena pimpinan ansambel yang malu-malu dan kurang gamblang atau minimnya kesigapan pemain, jelasnya ketimpangan tersebut agak mengganggu kenikmatan estetis yang mestinya dapat tercapai bila rangkaian not di atas kertas dimainkan dengan baik.

Bagaimanapun, acara malam itu memuaskan, impresif, serta layak mendapat pujian. Sangat dinanti penampilan Mery Kasiman Project berikutnya. Salut!

2nd Jazz @ Fort Rotterdam 2010: Ketika Jazz dan Etnik (Kembali) Bersua

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Acara jazz tahunan dipentaskan lagi di Makassar pada tanggal 31 Juli dan 1 Agustus lalu. Tema yang diusung tak berbeda dengan tahun sebelumnya, pihak panitia One Note Entertainment memberi tajuk “When Jazz Meets Ethnics” dengan misi untuk mengembangkan kekayaan musik tradisi setempat melalui jazz sebagai medium. Disamping itu, agenda lainnya adalah mempromosikan potensi wisata Makassar dan sekitarnya kepada publik internasional, seperti penuturan ketua panitia Jazz @ Fort Rotterdam (JFR) 2010 Hendra Sinadia yang juga mendapat dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Makassar serta Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dihadiri Sapta Nirwandar selaku Direktur.

Sapta Nirwandar, Dwiki Dharmawan dan Hendra Sinadia beserta panitia

Sapta Nirwandar, Dwiki Dharmawan dan Hendra Sinadia beserta panitia

Sejalan dengan pelaksanaan JFR 2010, Kemenbudpar turut berupaya untuk mensosialisaikan program Vote Komodo kepada masyarakat Makassar. Tentunya hal tersebut dilakukan untuk menyikapi lolosnya Taman Nasional Komodo sebagai salah satu dari 28 finalis untuk melanjutkan ke tahap akhir kampanye setelah menyisihkan 440 nomine lainnya dari 220 negara. New7Wonders Foundation menetapkan tanggal 11 November 2011 sebagai batas akhir pemungutan suara. Pengunjung JFR 2010 dapat memberikan suaranya pada gerai online voting yang tersedia selama acara berjalan dan terhubung langsung dengan situs www.new7wonders.com. Setelah voting, mereka langsung mendapatkan cinderamata berupa pin “Vote Komodo” sebagai tanda partisipasi.

Hari Pertama, Sabtu 31 Juli 2010

JFR 2010 baru dimulai sekitar pukul enam sore waktu setempat, ditandai dengan penampilan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Hasanuddin dilanjutkan Pakarena N Jazz serta atraksi tarian tradisional khas Makassar. Kepala Dinas Kebudayaan  dan Pariwisata Makassar, Rosmayani Madjid, diamanatkan untuk memukul gendang membuka jalannya festival.

Hari telah berganti malam, dan kini tiba saatnya band lokal Rizcky & The Strangers untuk tampil.  Beranggotakan lima personil dengan Rizcky Pradhana de Keizer sebagai vokalis utama sekaligus basis, band ini cukup bertenaga membawakan lagu-lagu bernuansa funk maupun fusion. Tembang “Good Times, Bad Times” milik Edie Brickell, “I Don’t Want to Miss a Thing” dari Aerosmith serta komposisi instrumental “Nightfall” mereka sajikan. Pengunjung JFR yang mayoritas anak muda nampak terkesima dengan vokal dan permainan bas Rizcky, terutama ketika “All At Sea” dari Jamie Cullum dinyanyikan.

Terdapat dua buah panggung pada acara ini. Sebuah terletak persis berhadapan dengan pintu masuk, dan satu lagi ditempatkan sekitar 50 meter ke dalam areal Fort Rotterdam sebagai panggung utama. Selepas Rizcky, penampil berikutnya adalah PSM Universitas Hasanuddin berjumlah delapan orang, dua pria dan enam wanita. Mereka mencoba untuk membawakan lagu tradisional populer seperti “Anging Mammiri” dan lagu pop dalam negeri serta mancanegara melalui harmonisasi vokal.

PSM Universitas Hasanuddin di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

PSM Universitas Hasanuddin di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Kemudian penonton berbondong-bondong ke panggung utama untuk menyaksikan band lokal lainnya, Groundstroke yang menghajar audiens dengan sajian jazz-rock sarat distorsi. Susana memanas tatkala ketiga personil melaju kencang lewat solo instrumen gitar, bas, dan drum secara bergantian. Menarik ketika band ini memainkan “Spain” karya Chick Corea yang sound gitarnya justru mengarah ke heavy metal.

Selanjutnya adalah pendingin suasana dengan tampilnya band D’Exclusive lewat lagu-lagu yang sebetulnya masuk kategori Top 40 semisal “She Will Be Loved” besutan Maroon 5, tampak sesuai dengan profil band ini yang personilnya masih remaja.

Balawan di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Balawan di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Salah satu bintang tamu di hari pertama adalah I Wayan Balawan yang begitu memesona lewat permainan gitar setang ganda lengkap dengan teknik two-handed tapping andalannya. Malam itu adalah konser perdana Balawan di tanah Makassar, ia tampil bersama Ketut Tarmadi (bas) dan Dion Subiakto (drum) yang tergabung menjadi Balawan Trio. Mereka mengusung musik yang energik bergaya campuran jazz, fusion, rock, hingga etnik. Tak hanya Balawan seorang, Ketut dan Dion pun menampilkan atraksi solo penuh greget. Grup ini sangat menghibur audiens sewaktu Balawan menyanyikan nomor “What a Wonderful World” dengan serakan khas Louis Armstrong. Irama reggae menutup penampilan Balawan sembari ia melagukan “Waiting in Vain” milik Bob Marley secara ekspresif.

Mercy Dumais di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Mercy Dumais di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Denyut bossa nova dan samba terdengar meriah waktu Zarro mulai angkat suara. Penampilannya waktu itu diramaikan pula lewat suguhan Capoeira (kesenian khas Afro-Brazilian memadukan unsur bela diri, tarian, dan musik) yang sinkron dengan irama Zarro. Atmosfer semakin hangat terasa ketika vokal Mercy Dumais memenuhi ruang dengar audiens dengan interpretasi bossa yang mumpuni, khusunya selagi ia membawakan “Anging Mammiri” dan “Tristeza”. Sedang berulang tahun, ketua panitia Hendra Sinadia diminta naik ke atas panggung dan akhirnya ia menyanyikan “Girl From Ipanema”. Lumayan.

Zarro di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Zarro di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Penampil terakhir untuk hari pertama JFR adalah sebuah kelompok musik visioner, seperempat abad usia, Krakatau namanya.  Dengan line up terkini yaitu Dwiki Dharmawan (keyboards, synthesizer), Pra Budhi Dharma (bas), Adhe Rudyana (kendang), Yoyon Dharsono (tarompet, rebab, suling), Zainal Arifin (gamelan, perkusi), Gerry Herb (drum), dan Nyak Ina Raseuki alias Ubiet (vokal), grup tersebut mewarnai JFR 2010 lewat garapan musik yang mengawinkan eksotika bunyi-bunyian tradisional dengan elemen jazz modern. Irama rampak world beat meriah terdengar sedari awal penampilan mereka, vokal Ubiet yang singular menjadi sebuah fenomena waktu ia ambil bagian dalam lagu “Bunga Tembaga”, “Spirit of Peace”, maupun “Rhythm of Reformation”.

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Aksen pertunjukan adalah sewaktu Krakatau mengundang dua personil La’ Biri yang memainkan instrumen tradisional gambus makassar dan pui-pui (bentuknya seperti terompet berukuran kecil). Seluruh perhatian terpusat ketika terjadi “duel” tarompet dan pui-pui secara insidental, atraksi dialogis-improvisasional yang ditampilkan keduanya membuat penonton maupun penghuni panggung berdecak kagum sekaligus tergelak. Tidak ketinggalan, aksi duet maut Adhe dan Zainal menyuguhkan pukulan-pukulan kanonik di atas selaput tamborin. Segar, cerdas, dan menghibur.

Yoyon Dharsono memainkan Tarompet berinteraksi dengan instrumen Pui-Pui

Yoyon Dharsono memainkan Tarompet berinteraksi dengan instrumen Pui-Pui

Serambi Jazz edisi Desember sajikan Pitoelas Big Band

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,


pitoelasSebagai penutup rangkaian kegiatan di tahun 2009, Serambi Jazz kembali menyelenggarakan sebuah konser musik. Akan tampil Pitoelas Big Band, sebuah kelompok dalam formasi big band yang akan memberikan suguhan komposisi-komposisi jazz dari lagu tradisional Indonesia hingga modern jazz.

Acara digelar pada Kamis 3 Desember 2009 di Goethe Institut, Jl. Sam Ratulangi 9-15 Menteng Jakarta Pusat mulai pukul 19.30 dan tidak dipungut biaya alias Gratis.

Pitoelas Big Band lahir dari sebuah idealisme dan antusiasme dari setiap anggota pendirinya terhadap musik, terutama musik jazz dan big band. Diawali dengan sebuah obrolan, mengekplorasi ide-ide, untuk kemudian berlatihdan tampil bersama. Ini membuat Pitoelas Big Band menjadi sebuah grup yang kuat, terdiri dari para pemusik profesional muda terbaik.

Pemain saksofon dan komposer Dony Koeswinarno adalah salah seorang pendiri band ini. Saat ini Dony juga menjadi pemimpin band dan direktur musik Pitoelas. Dialah yang menulis dan menyusun aransemen musik, sekaligus bertindak sebagai kontraktor dan manajer band ini. Salah satu dari musik gubahan Dony dan band ini adalah “Ondel-ondel”, sebuah lagu tradisional Betawi yang disusun menjadi sebuah musik jazz bergaya big band. Anggota-anggota lainnya adalah pemain piano, aranjer dan komposer, Irsa Destiwi; pemain klarinet/saksofon, Eugen Bounty; pemain trombone, Enggar Widodo; dan beberapa nama lain yang sudah dikenal luas dalam komunitas musik jazz di Indonesia.

Pitoelas Big Band telah menjadi sebuah band profesional terbaik dengan pilihan daftar lagu yang beragam di Indonesia , dikenal memiliki fresh sounding, good looking dan swinging hard. Kini, Pitoelas Big Band sedang mempersiapkan debut album mereka.

Berikut ini daftar lengkap penampil Pitoelas Big Band:

  • Saxophone:
    Dony Koeswinarno (Leader/Music Director), Eugen Bounty, Donna Koeswinarso, Devian Zikri, Drio Pramono
  • Trumpet :
    Harmoniadi, Wisnu Fajar, Edi Junaedi, Syendy
  • Trombone :
    Enggar Widodo, Widiyekso, Toni Heriyanto, Yandri
  • Rhythm section :
    Irsa Destiwi, Sandy Winarta, Donny Sunjoyo, Tiyo Alibasjah
  • Vocal : Odi, Dira J Sugandi

. .this is my dilemma. I’m a guy who makes things up as I go along so nothing is ever finished-there are so many layers. So when you solo, yeah, you might get into one thing, but then, hey, everything has implications! You can hear the next level. And that’s how I feel about improvising-there’s always another level. — Sonny Rollins


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<