Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "Gerry Herb"

Goresan Sketsa Indonesia oleh Dwiki Dharmawan

Tags: , , , , , , ,


Liputan Konser “Sketches of Indonesia” di Usmar Ismail Hall, 29 September 2010

Ada yang berbeda pada  Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail Rabu malam lalu. Lorong menuju pintu masuk ruangan konser dipenuhi komodo. Namun bukan komodo betulan, melainkan dalam bentuk dua dimensi berupa poster ukuran besar – sebagai atribut kampanye “Vote Komodo” –  yang dewasa ini digiatkan oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Republik Indonesia. Di koridor itu nampak sebuah gerai bertuliskan “Vote Komodo” yang dilengkapi komputer jinjing terhubung dengan internet, sehingga pengunjung dapat langsung mendaftar dan memberi dukungan pada Taman Nasional Komodo untuk menjadi salah satu dari tujuh keajaiban (alam) dunia (New 7 Wonders of Nature). Pemandangan tersebut kerap dijumpai pada gelaran acara yang menampilkan Dwiki Dharmawan, figur yang intens berkampanye soal komodo sejak tahun lalu.

Pertunjukan malam itu dimulai pukul setengah sembilan, di atas panggung tampak para pemain telah menempati posisi masing-masing. Dilihat dari bangku penonton, susunannya adalah grand piano di pojok kiri dan drum pada sisi kanan, mengapit perkusi, gitar, saksofon dan kontrabas. Penampilnya adalah Dwiki Dharmawan (piano, synthesizer, melodeon), Gerry Herb (drum), Dira J. Sugandi dan Ivan Nestorman (vokal) serta empat pemusik bule berseragam batik, Guy Strazz (gitar), Hugh Fraser (kontrabas), Andy Suzuki (saksofon tenor & alto, flute), dan Philippe Ciminato (perkusi). Repertoar pertama adalah instrumentalia atas “Paris Barantai”, lagu (berbahasa) daerah Banjar, Kalimantan Selatan. Intronya dimainkan piano tunggal oleh Dwiki secara resitatif, sebelum tema utama (liriknya berbunyi, “kotabaru gunungnya ba’ mega, ba’ mega umbak manampur di sala karang…”) terdengar sinkopatik. Melodi berlaras minor asli itu kemudian diambil alih oleh tiupan saksofon tenor Andy bersama iringan pemain lain. Dwiki kembali beraksi pada nomor kedua, “Janger” asal Pulau Dewata.

Dwiki Dharmawan

Dwiki Dharmawan

Indonesia sejatinya adalah negara berbasis gugusan pulau, maka dari itu disebut juga dengan “Nusantara”. Selepas Kalimantan dan Bali, konser bertajuk Bahasa Inggris “Sketches of Indonesia” beralih ke Sulawesi dengan lagu khas Ujung Pandang “Anging Mamiri”. Tembang itu dilafalkan oleh Dira yang berjalan menuju panggung dari arah penonton, sementara musiknya sayup terdengar bossa. Vokal Dira yang empuk serta jelas artikulasinya terdengar nyaman di telinga, ia melanjutkan performa lewat nyanyian “Mai Fali e” (marilah pulang – red.) dari Rote, Nusa Tenggara Timur berirama samba. Laras slendro yang njawani turut pula disematkan Dwiki dalam aransemen “Lir-Ilir” bercampur nuansa Sunda lewat selipan melodi “Tokecang” secara kanonik.

Andy Suzuki

Andy Suzuki

Ada pula Ivan, sang empunya rambut gimbal ikut meramaikan acara. Dreadlocks sering diasosiasikan dengan reggae, tetapi malam itu Ivan hadir bukan untuk bernyanyi ala Bob Marley, melainkan tampil lewat lagu kampung halamannya (ia berasal dari kawasan Ruteng, Manggarai, NTT). Dirinya menjadi pusat perhatian waktu menampilkan “Ie”, “…lagu ini ceritanya tentang seekor burung yang punya suara merdu, namun hanya didengar oleh pohon-pohon, dia kesepian,” paparnya. Selain tarik suara, Ivan juga bisa main gitar sambil nyanyi, terlihat ketika ia membawakan “Benggong Banggong” dan “Kakorlalong” yang energik serta “ditemani” Dwiki pada melodeon (sejenis pianika) juga Phillipe lewat tepukan cajón.

Ivan Nestorman

Ivan Nestorman

Dira kembali naik panggung, kali ini ia bawakan tembang berjudul “Lamalera’s Dream”, gubahan Dwiki yang terilhami Lefa dan Ola Nue (perburuan ikan paus secara tradisonal masyarakat Lefa Lamalera – red.). Lain dengan kedua lagu sebelumnya yang ia nyanyikan santai, Dira nampak serius pada nomor ini. Sejalan dengan iringan musik yang monumental, suaranya bertenaga besar dan prima serta iapun mampu untuk mengekspresikan emosi atas lagu tersebut. Sempat tertangkap oleh kamera, saat air mata Dira berlinang di pipi kanannya.

Dira J. Sugandi

Dira J. Sugandi

Komposisi berikutnya adalah “Arafura” dengan awalan solo piano bergemuruh yang ditampilkan melalui teknik arpeggio naik-turun. Untuk menambah efek dramatis dilakukan sinkronisasi bunyi piano dengan gambar bergerak pada layar raksasa sebagai latar panggung, berupa citra kelautan lewat sinematografi bergaya aerial landscape yang melaju cepat. Jelas maksud bahwa komposisi ini menggambarkan pesona Laut Arafura dengan segala ritme alamnya.

Gerry Herb

Gerry Herb

Philippe Ciminato-Guy Strazz-Hugh Fraser

Philippe Ciminato-Guy Strazz-Hugh Fraser

Pelbagai elemen musik dunia terangkai pada nomor instrumental “Spirit of Peace”, sekaligus ajang unjuk kebolehan para pemain. Guy ambil bagian solo, menjentikkan jemari atas gitarnya dengan gaya flamenco serta ditimpali dentuman kontrabas Hugh. Aksi “adu pukul” teatrikal “drum vs. perkusi” oleh Gery dan Philippe membuat penonton tertawa pun kagum. Andy dan Dwiki meramaikan lewat aksen unison saksofon sopran dan piano. Usai komposisi tersebut dibawakan, audiens merespons dengan tepuk tangan semarak. Melihat tanggapan seperti itu, para penampil memberi bonus sebuah lagu encore “Dzikir (Tak Putus-putusnya)”, pada liriknya tersirat pesan agar manusia menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta melalui pelestarian alam. Tembang pamungkas bernuansa religi tersebut dinyanyikan oleh Dira. Konserpun gentas.

Dwiki Dharmawan gelar Sketches of Indonesia

Tags: , , , , , , ,


Dwiki Dharmawan – Sketches of Indonesia

Dwiki Dharmawan – Sketches of Indonesia

Disela-sela kesibukan tour Internasional dan proyek-proyek musikalnya, pianis Dwiki Dharmawan menyempatkan menyapa publik Jakarta dengan sebuah konser bertajuk “Sketches of Indonesia” dengan menampilkan sejumlah karya baru.

Acara digelar di Usmar Ismail Hall Gedung Pusat Perfilman PPHUI Jl. HR. Rasuna Said Kav C 22 Kuningan – Jakarta Selatan Rabu, 29 September 2010 pukul 19.30 wib.

Dwiki Dharmawan juga mengundang sejumlah rekan-rekannya seperti Guy Strazz dan Hugh Fraser dari Australia. Andy Suzuki dari Jerman, Philippe Ciminato dari Perancis dan musisi-musisi tanah air seperti Gerry Herb, Ivan Nestorman, Dira J. Sugandi.

***

Andy Suzuki dikenal sebagai saxophonis yang juga memainkan instrumen klarinet. Karirnya sekitar 25 tahun didunia Jazz dengan ragam genre mulai dari traditional, straight-ahead jazz, modern jazz hingga fusion. Andy kerap tampil mendampingi musisi top seperti David Benoit, Dave Brubeck, Al Jarreau dan lain-lain.

Datang dari benua kangguru Australia, Guy Strazz dideskripsikan sebagai virtuoso di bidang electro-acoustic classical guitar. Ia meracik paduan Afro-Brazilian, acoustic Jazz dan klasik India dan pernah mempertontonkannya mulai dari India, Jepang, Australia hingga Jakarta.

Sedang Hugh Fraser mahir memainkan elektrik dan acoustic bass. Pertautannya dengan Indonesia dimulai dari kerja professionalnya bersama alm Bill Saragih dan jam sessions setiap ‘weekend’ bersama Indra Lesmana dan ayahnya alm Jack Lesmana.

Ketiga musisi diatas pernah berkolaborasi dengan Dwiki lewat World Peace Orchestra-nya. Kini ditambah sejumlah musisi lain, menjadikan Sketches of Indonesia tontonan alternatif di penghujung bulan September ini.

Informasi undangan pertunjukan silakan mengontak Hotline 0878-8831-2353 dg sdri Dina.

***

Konser ini direncanakan menjadi karya kedua Dwiki Dharmawan dalam bentuk Live Concert DVD. Sebelumnya ia merilis Live at the Baked Potato, sebuah klab jazz bergengsi di LA, Amerika Serikat.

Saat ditanya soal konsep acara ia menjelaskan, “Konser kali ini agak berbeda dengan konser saya sebelumnya. Sejumlah lagu baru sudah saya siapkan seperti Lamalera’s Dream dengan lantunan vokal Dira J Sugandi. Lalu ada Songket dan Komodo. Ada isian vokal Ivan Nestorman pada lagu Kakorlalong dari Flores dan masih ada beberapa lagi. Format yang dipakai juga berbeda dengan World Peace Orchestra, kali ini saya lebih ke akustik dengan mengundang Guy Strazz dan Hugh Fraser”.

2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010 siap digelar di Makassar

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010

2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010

Sebagai bagian komitmen untuk turut mengembangkan khasanah musik jazz di tanah air serta mendukung promosi pariwisata Indonesia, One Note Entertainment (unit dari PT. One Note Indonesia) akan menggelar “2nd Annual Jazz @Fort Rotterdam(JFR)” tanggal 31 Juli – 1 Agustus 2010 bertempat di Benteng Fort Rotterdam, Makassar. JFR direncanakan untuk menjadi acara festival jazz tahunan yang memberikan tawaran baru penyelenggaraan festival jazz di Indonesia.

JFR kali ini masih menggunakan 2 panggung yang akan diisi oleh pendukung acara secara bergantian. Ada sekitar 8 grup jazz dari luar Makassar yang diundang untuk hadir di JFR 2010, yaitu Krakatau Band, Barry Likumahuwa Project feat. Benny Likumahuwa, Oele Pattiselanno Trio, Idang Rasjidi & Friends with Cendy Luntungan, Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra feat. Dira & Ivan Nestorman, Nikita Dompas & His Fellow Musicians feat Andien, Zarro & Mercy serta Balawan Trio. Sementara grup band dari Makassar yang akan tampil yaitu La’Biri Band, Rizcky & the Strangers, Pakarena N Jazz, Dakochang Jazz Junior Band, Sky Project dll.

Guna mensosialisasikan keberadaan JFR, One Note telah melaksanakan beberapa rangkaian event baik di Makassar, Jakarta dan di mancanegara yaitu di Den Haag, Belanda. Sosialisasi JFR di Makassar pada tanggal 25 Februari 2010 di Hotel Clarion di meriahkan oleh grup 3 Dunia yang terdiri dari Idang Rasjidi-Fariz RM-Eddy Syahroni.

Selanjutnya One Note menggelar “Indro Hardjodikoro Feels Free Concert” di Erasmus Huis, Jakarta dengan menampilkan Indro Hardjodikoro Trio, Tohpati dan Oele Pattiselanno.

Setelah itu, promosi JFR dilaksanakan di ajang Tong Tong Fair 2010 di Den Haag, Belanda pada tanggal 21 Mei 2010 dengan menampilkan Tohpati – Ethnomission. Kegiatan di Belanda tersebut didukung oleh Direktorat Jenderal Pemasaran Kemenbudpar dalam rangka Visit Indonesia.

Pihak panitia mengharapkan sekitar 2,500 penonton bakal menghadiri perlehatan jazz terbesar di pulau Sulawesi ini. Harga tiket dipatok sebesar Rp. 100,000/ harian dan Rp. 180.000 untuk terusan (2 hari). Pembukaan JFR 2010 akan dilaksanakan tanggal 31 Juli 2010 pkl. 16:00 dengan menampilkan atraksi kesenian tradisional dan juga bakal dimeriahkan oleh Paduan Suara Mahasiswa Universitas Hasanuddin, Makassar. JFR akan berlangsung pukul 17:00 – hingga selesai.

Pelaksanaan JFR 2010 juga merupakan salah satu event yang turut mempromosikan Taman Nasional Komodo sebagai “New 7 Wonders”. Program ini didukung oleh pihak Direktorat Jenderal Pemasaran Kemenbudpar yang akan menampilkan Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra yang menggarap nomor khusus dengan menampilkan Ivan Nestorman dan Dira. Selain itu JFR 2010 didukung pula oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam rangka mempromosikan Visit Sulsel 2012 dan Pemerintah Kota Makassar dalam rangka Visit Makassar 2011. JFR 2010 juga didukung oleh Ikatan Keluarga Alumni Netherland (Ikaned).

Dwiki & Fariz RM – Jazz debur ombak di Pantai Parai Bangka

Tags: , , , , , , , ,


Musik Jazz punya sejarah yang panjang. Meski ‘jazz’ diimpor dari benua Amerika, kini ia bermetamorfosa. Jazz menemukan persinggahan barunya, menyapa mereka yang tinggal di gunung hingga di tepi pantai.

Pantai Parai yang terletak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menjadi saksi digelarnya Jazz On The Beach pada 12 Juni 2010 lalu. Sejumlah musisi Jazz seperti Dwiki Dharmawan (keyboard), Gerry Herb (drums), Adi Darmawan (bass), Zainal ‘Ipin’ Arifin (perkusi), Agam Hamzah (gitar), Didit (violin) plus penyanyi kenamaan Fariz RM turut ambil bagian. Plus tiga penyanyi Iwan Abdie, Hani Firiawan dan Ita Purnamasari turut pula memeriahkan.

Dwiki Dharmawan menjelaskan Jazz on the Beach

Dwiki Dharmawan menjelaskan Jazz on the Beach

Keindahan tepi pantai dengan debur ombaknya menjadi latar musik Jazz yang awal pertunjukannya sempat dikejutkan oleh hujan, namun tak menyurutkan para pendukung acara maupun penonton untuk menikmati musik yang sangat dinamis ini.

Zainal Arifin dan Rampak Gendang dari Bangka

Zainal Arifin dan Rampak Gendang dari Bangka

Dwiki Dharmawan membuka pertunjukan dengan Spirit of Peace, nomor yang diambil dari albumnya World Peace Orchestra, dengan mempersilakan kelompok perkusi asal pulau Bangka yang terdiri dari anak-anak muda menyapa penonton yang sebagian besar berasal dari Jakarta dengan tetabuhan perkusi bersama Jembe yang dimaikan ‘Ipin’.

Dalam konferensi pers yang digelar beberapa jam sebelumnya Dwiki Dharmawan menjelaskan bahwa kolaborasi ini dilakukan dengan Rampak Gendang dari Pulau Bangka karena yang paling mudah dilakukan ketimbang misalnya menggabungkannya dengan musik Zapin Melayu. “Kita tidak bisa sembarangan berkolaborasi. Saya tak ingin musik tradisi hanya menjadi tempelan dengan sekedar ada, lagipula ada perpedaan scale music”, ujar keyboardis yang baru saja tampil di Rusia ini.

Preskon Jazz on the Beach, Parai Beach Resort Bangka

Preskon Jazz on the Beach, Parai Beach Resort Bangka

Meski demikian sebuah lagu melayu Seroja dilantunkan oleh Iwan Abdie – vokalis Bali Lounge – dihadapan penonton yang tetap setia di kursi mereka sementara gerimis tak kunjung berhenti. Iwan sempat menyanyikan lagu milik Grover Washington Jr, Just the Two of Us.

Iwan Abdie

Iwan Abdie

Sementara Hani Firiawan membawakan tiga nomor yaitu Sweetest Taboo, True Colours dan sebuah nomor duetnya bersama Iwan yaitu That’s What Friends Are For.

Hani Firiawan didampingi Dwiki Dharmawan, Adi Darmawan, Didit dan Gerry Herb

Hani Firiawan didampingi Dwiki Dharmawan, Adi Darmawan, Didit dan Gerry Herb

Pertunjukan Jazz on The Beach juga dimeriahkan oleh Ita Purnamasari yang membawakan lagu Nada Kasih berduet dengan Fariz RM. Penyanyi yang dikenal luas lewat ‘Penari Ular’-nya ini menyanyikan lagu milik Air Supply – Making Love Out of Nothing At All sambil memainkan keyboard. “Yang ini bukan lagu jazz ya, tapi gak apa-apa kan?”, ujar penyanyi bertahi lalat ini.

Ita Purnamasari & Fariz RM

Ita Purnamasari & Fariz RM

Meskipun pertunjukan malam itu sejatinya adalah milik Dwiki Dharmawan dengan semi-WPO lineup, tapi terselip pula kejutan dengan penampilan Trio “Ligro” minus Gusti Hendi tentu saja. Gerry Herb yang juga punya jam terbang lumayan lama di dunia musik pop/rock mengawal Adi Darmawan yang bersenandung bak BollyJazz alias Bollywood dan Jazz. Seorang kawan berkelakar, “wah bhiksu kita lagi beraksi”.

Adi Darmawan

Adi Darmawan

Tentu saja pertunjukan yang paling ditunggu-tunggu adalah lantunan vokal Fariz RM dengan ‘Barcelona’-nya. Fathul Bahri dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Bupati Bangka Yusroni Yazid dan putri Pariwisata Indonesia 2009 Andara Riyani Ayundini bertepuk tangan.

Fariz RM saat membawakan Barcelona

Fariz RM saat membawakan Barcelona

Sebagai penutup kembali Dwiki dan kawan-kawan berkolaborasi dengan Rampak Gendang membawakan nomor Rintak Rebana. Nomor perkusif yang menjadi klimaks pertunjukan malam itu.

***

Dalam perjalanan dari Cengkareng Jakarta, penulis duduk bersebelahan tamu yang memang khusus datang berlibur ke Parai Beach Resort – tempat acara diselenggarakan – bersama keluarga. Rupanya meski acara ini masih digarap dalam waktu lumayan singkat, gaungnya tersebar cukup luas. Tak heran, sebab ada nama Johny Sugiarto – Praktisi Pariwisata yang memiliki visi. Ia rupanya sudah mengantisipasi dan memberikan sinyal bahwa Jazz on the Beach akan dikembangkan lebih besar berskala festival tahun depan.

Tak hanya acara, penerbangan langsung dari Singapura – sebagai syarat membuka diri pada pelancong internasional juga dijadwalkan akan segera dibuka tahun ini. Hadirnya pengunjung dari berbagai tempat akan memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat di Pulau Bangka, khususnya pelaku industri pariwisata.

Dukungan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata mulai dan Dinas Pariwisata Bangka Belitung diharapkan menjadi semangat untuk penyelenggaraan acara berskala lebih besar ditahun mendatang.

Philosophy ABG (Arief – Bintang – Gerry)

Tags: , ,


philosophy-abg1. Marco/Martha/Ulthor
2. Gambir
3. Table For Three
4. Fretted, Fretless, EWI, and Cymbals
5. Cough
6. Sad Sad Sad
7. Gerry’s Mood
8. Rheva JoBum
9. Wong Ayu Sukmowicoro

Philosophy: Apakah ini filsafat dengan pendekatan yang bersandar pada kekuatan nalar? Dalam pikiran awam, bisa jadi njlimet kalau begitu. Akan tetapi, di awal malah mengalir “Marco/Martha/Ulthor” dalam gaya cool jazz, mengayun tersusun-terencana, disisipi kur brass-section orkestral dalam aransemen berkelas. Ini malah disusul “Gambir”, yang sama tak tergesanya, seringan 8-beat-pop. Suasana stasiun kereta yang terekam di latarnya tak sedikitpun meninggalkan kesan sibuk, apalagi tak karuan.

Kontras baru diperkenalkan pada “Table For Three”. Arief Setiadi sedikit mendesak batas vertikal dengan tiupan paksanya saat klimaks solo perlahan tercapai. Namun, solo Bintang Indrianto berbalik kalem saja saat iringan meredup pada putaran berikutnya. Barulah pada “Fretted, Fretless, EWI, and Cymbals” ruang interaksi dibuka bebas. Gerry Herb cermat mengolah aneka simbal di daerah lonceng hingga tepi crash menanti datangnya tiap momentum. Dengan EWI, Arief dilontarkan trampolin dari batas horizon dengan hanya dimodali sedikit prakiraan. Sementara Bintang jadi raja sehari, merepet, menekuk-nekuk nada pada fretless-nya. Tergoda juga ia untuk membunyikan harmonik di penghujung.

Loop bernafas digital di awal “Gerry’s Mood” langsung memberi stempel genre electronica pada nomer ini. Jenis musik yang merasuki pendengarnya secara bertahap menuju trance. Kanal kanan dan kiri bergantian diisi potongan solo drum yang menabrak keteraturan-kaku loop. Di belakangnya menyusul, nomer reggae “Rheva JoBum” yang punya kesan antik (nomer ini disebut sebagai ”Klepon” saat Bintang tampil pada Jazz 15 Mei).

Trio ini diperkenalkan albumnya pada acara Fusion Trio Explosion di TIM awal 2009. Dari sekedar menyimak, tidak jernih betul maksud yang ditangkap dari filosofi Arief-Bintang-Gerry (ABG). Mungkin karena sulit memisahkan serius dengan canda (bisa-bisa dapat canda yang serius). Toh, namanya tetap “bermain” musik. Pada cover album Philosophy ABG pun ada potongan foto VW kodok berplat “D” yang biasa dikendarai Arief. Mungkin memang ABG sedang puber.

Bintang Indrianto, Arief Setiadi dan Gerry Herb hiasi Ngayogjazz 2009

Tags: , , ,


ngayogjazz-2009Bintang Indrianto (bass), Arief Setiadi (sax) dan Gerry Herb (drums) memastikan diri hadir dalam acara Ngayogjazz 2009 yang akan diselenggarakan di Pasar Seni Gabusan, Bantul Yogyakarta pada Sabtu, 21 November 2009.

Kepastian ini diutarakan Bintang lewat jaringan social Facebook yang diamini Arief Setiadi dan Gerry Herb. Mereka bertiga hadir dalam format Philosophy, sesuai dengan album yang mereka rilis bertiga beberapa bulan lalu.

Ngayogjazz yang memiliki konsep mendekatkan musik jazz ke publik, mengetengahkan konsep unik yakni jazz masuk desa. Acara festival yang terbuka untuk umum alias tanpa dipungut bayaran digelar diberbagai tempat yang selalu berpindah-pindah, sehingga memunculkan nuansa yang selalu berbeda saban tahun.

Pertama kali digelar tahun 2007 di padepokan Bagong Kussudiardjo, yang merupakan desa tempat tinggal Djaduk Ferianto, pentolan grup Kua Etnika yang tersohor itu. Ngayogjazz 2008 lalu acara digelar di Desa Tembi, tak jauh dari kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan tema Njajazz desa milang kori. Tahun 2009 ini panitia mengambil tema Jazz basuki mawa beya.

Penasaran seperti apa musik yang akan disajikan trio Philosophy nanti?. Jika anda tinggal diluar Yogya, maka pastikan segera mempersiapkan tiket perjalanan plus dengan penginapannya!.

YWF Band – Yovie Widianto Fusion Progressive Edition di Bentara Budaya Jakarta

Tags: , ,


Yovie

Yovie Widianto Fusion Progressive Edition

Grup Kahitna, Yovie & Nuno, atau The Indonesian Harmony Orchestra, adalah sebagian dari jejak musikYovie Widianto. Ia juga aktif sebagai produser maupun perancang lagu untuk Glenn Fredly, Ruth Sahanaya, Chrisye, dan banyak lainnya.

Kini muncullah sisi lain wajahnya yang diujudkan lewat kelompok fusion jazz. Konser perdananya dilakukan di Bentara Budaya Jakarta Kamis 18 Juni 2009 pukul 19.30 wib dan tidak dipungut biaya.

Para penonton bakal menyaksikan kepenuhan semangat Yovie sebagai musisi dengan rekam jejak yang panjang –prestasinya yang terbaru antara lain album terbaik AMI 2009 untuk “The Special One dari Yovie & Nuno dan produser terbaik AMI 2009.

Yovie mengajak beberapa rekannya Gerry Herb (drum), Adi Dharmawan (bass), Kadek Rihardika (guitar), Bambang (Keyboard), Yoyok (Trompet), Baron (guitar), Yunika (vocal layer).

Seperti apa penampilan Yovie nanti?, Gerry Herb yang dihubungi lewat jejaring sosial berkomentar, “Konsep musiknya jazz fusion, kaya tribal tech, the players, mirip2 indonesia 6 gt deh..”. Penasaran?, pastikan anda datang lebih awal, sebab belajar dari pengalaman konser duo Tohpati-Budjana beberapa waktu lalu, penonton hanya bisa menyaksikan dari layar televisi diluar ruangan.


Let my children have music! Let them hear live music. Not noise. My children! You do what you want with your own! — Charles Mingus


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<