Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "glenn fredly"

AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011: One Lovely Nation

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Axis Java Jazz Festival 2011

Axis Java Jazz Festival 2011

Remarkable Indonesia

Sebuah penyataan yang selalu ada di tag line AXIS Jakarta International Java Jazz Festival selama dua tahun terakhir ini. Bila pada 2010, tag line berbunyi “Jazzin’ Up Remarkable Indonesia”, maka di AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011 yang diselenggarakan pada tanggal 4, 5, 6 Maret 2011 di JIExpo Kemayoran, menggunakan tag line “Remarkable Indonesia, Harmony Under One Nation”. Salah satu hal yang menyebabkan Indonesia ‘remarkable’ adalah karena di negara yang bahkan jauh dari tanah kelahiran musik jazz, negara yang selama bertahun-tahun tidak terlalu dianggap di hingar bingar kiprah musik dunia (termasuk jazz), bisa menyelenggarakan sebuah festival jazz yang menjadi salah satu festival jazz terbaik dan terbesar di dunia. Beberapa musik ternama dunia menyebut Jakarta (Indonesia) telah menjelma jadi pusat jazz dunia, sejajar dengan New Orleans, New York, Chicago, yang telah lama dikenal sebagai pusat kehidupan jazz.

Remarkable Indonesia dalam jelmaannya sebagai destinasi musisi jazz bukan hanya merupakan kebanggaan, namun sekaligus menjadi tantangan buat industri musik, dan khususnya bagi musisi jazz Indonesia. AXIS Jakarta International Java Jazz Festival telah menjadi salah satu terbesar, setelah itu harus meningkat menjadi tempat pencinta jazz dari seluruh dunia dapat menyaksikan kehebatan musisi jazz Indonesia, sejajar dengan musisi internasional. Sehingga yang mendapat predikat ‘remarkable’ bukan hanya festivalnya, tapi juga musisinya, dan Indonesia secara keseluruhan.

Harmony Under One Nation

Musisi, penonton, manajer, artists’ agents, event organizer, penata panggung, sound engineer, penata lampu, penata artistik, jurnalis, pekerja booth, sales promotion girl, dan siapapun yang hadir di JIExpo Kemayoran pada tanggal 4, 5, 6 Maret 2011 untuk AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011 merupakan saudara sebangsa, bangsa yang mencintai musik (jazz).

Dengan perannya masing-masing secara bersama-sama membentuk keselarasan agar AXIS Jakarta International Java Jazz Festival sukses terselenggara, menjadi kegembiraan, dan meninggalkan kesan akan sebuah harmoni yang dirajut oleh musik jazz. Kesan inilah yang menjadi pesan yang ingin disebarkan ke seluruh dunia, “In a remarkable country like Indonesia, Jazz brings harmony under one nation”.

Mari Sebarkan Pesan Harmoni Berbangsa

Bila Java Festival Production (JFP), AXIS, BNI, Garuda Indonesia dan First Media membuat program penjualan karcis secara istimewa, serta program promosi dengan hadiah tiket menonton AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011, dan ada yang sudah dimulai sejak bulan Desember 2010, itu karena pihak penyelenggara dan sponsor ingin agar masyarakat mendapat kesempatan menonton penampilan musisi Indonesia dan internasional.

JFP mengundang musisi Indonesia, baik yang senior, sedang mencapai puncak karirnya, maupun yang baru merintis karir untuk menunjukan kehebatannya di depan pencintanya.

Nama seperti Benny Likumahuwa, Maliq ‘n D’Essentials, Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, Andien, Shadow Puppets, Notturno, Dira Sugandi, Dwiki Dharmawan, Simak Dialog, Fraya, Ade Irawan, Indonesia Nu Progressive, Idang Rasjidi,  Tohpati Bertiga, Indra Lesmana-Barry Likumahuwa-Sandy Winarta (LLW), GIGI Big Band, Chamber Jazz (Iwan Hasan, Andien, Enggar, Merry Kasiman), Jopie Item, Oele Pattiselanno, Nial Djuliarso, The Husbands & Wives feat. Endah N Rhesa, RAN, dan Nikita Dompas akan hadir memberikan yang terbaik di hadapan pengunjung AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011. Johanes Radianto, Dhani Syah, Elfa Zulham dan Sri Hanuraga yang baru menyelesaikan studi musiknya di Belanda juga bakal hadir. Magenta Orchestra pun akan tampil bersama George Benson dalam gelaran Special Show bertajuk “George Benson’s Tribute to Nat King Cole with Magenta Orchestra”.

Para artis berbagi waktu di 16 panggung, dengan musisi internasional, seperti George Benson, Santana, Corrine Bailey Rae, George Duke, Kenny Loggins, Charlie Haden, Joey DeFrancesco, grup Fourplay, Sondre Lerche, Rhoda Scott, Jamie Lidell, Kamal Musallam, Ernie Watts, Steve Smith, grup Acoustic Alchemy, Ed Motta, Jose James, Brian Culbertson, Kai Eckhart, grup Juan de Carlos Afro-Cuban All Stars, Maurice Brown, Roy Hargrove, Roberta Gambarini, grup Rasmus Faber & RaFa Orchestra, Vinny Valentino, dan Robert Glasper.

Diharapkan, lebih dari 100 ribu orang yang hadir di AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011 dapat menjadi agen komunikasi dalam menyebarkan pesan bahwa dunia akan lebih indah dalam sebuah harmoni bersatunya berbagai latar belakang, pandangan, budaya, dalam suatu hamparan rajutan musik jazz.

Pengen dapat daftar lengkap para musisi yang manggung berdasarkan hari mereka tampil?, simak disini jadwal lengkapnya.

Inilah daftar musisi (Jazz) Indonesia yang bakal tampil di Axis Java Jazz Festival 2011

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Axis Java Jazz Festival 2011

Axis Java Jazz Festival 2011

Apakah anda sudah mengantongi tiket pertunjukan Axis Jakarta International Java Jazz Festival 2011 yang akan digelar 4-5 Maret 2011 mendatang?. Kalau belum, masih ada kesempatan untuk mendapatkan tiket tersebut, plus beberapa pilihan spesial shows yang menarik bersama Santana, George Benson atau Kenny Loggins.

Berikut ini daftar paling update untuk musisi Jazz Indonesia yang bakal tampil di Java Jazz Festival 2011:

  • Abdul and The Coffee Theory
  • Ade & Brothers
  • Andien
  • Barry Likumahuwa Project
  • Benny Likumahuwa & Young Jazz Connection
  • Benny Mustafa
  • Bonita & The Husband
  • Bubi Chen Plays Pop
  • C-Man
  • Calvin Jeremy
  • Chairul Umam Quintet
  • David Manuhutu
  • Dira J. Sugandi
  • Donny Suhendra
  • Drew
  • Dwiki Dharmawan & Angklung Jazz Ensemble
  • Ello
  • Endah N Rhesa
  • Esqi:EF Feat Syaharani and The Queenfireworks
  • Farrah Di Bigband
  • Four On The Floor
  • Fraya
  • Gigi Big Band
  • Glen Dauna feat. Farrah Di
  • Glenn Fredly
  • Idang Rasjidi
  • Imam Pras Quartet
  • Indonesia Nu Progressive tribute to Harry Roesli
  • Indonesian Youth Regeneration
  • Indra Aryadi
  • Indra Aziz Quintet
  • Indro Hardjodikoro
  • Iwan Abdie
  • Iwan Hasan’s Chamber Jazz feat. Andien, Enggar, Metta
  • Jaya Suprana
  • Jopie Item
  • Kahitna
  • Kirana Big Band
  • Maliq & D’Essentials
  • Manna Band
  • Marcell
  • Mian Tiara & D’Organics
  • Minangapentagong Sawahlunto
  • Nial Djuliarso: The Jazz Soul of Ismail Marzuki
  • Nikita Dompas & His Fellow Musicians
  • Notturno
  • Oele Pattiselano
  • Pandji Pragiwaksono
  • Pitoelas Bigband
  • Raisa
  • RAN
  • Sandhy Sondoro
  • Sandy Winarta Quartet
  • Shadow Puppet
  • Simak Dialog
  • Sketsa
  • Soulvibe
  • Spero
  • The Groove Reunion
  • The Husband & Wife feat. Endah N Rhesa
  • The Jongens Jazz Quartet
  • The Police Project by Margo Rising
  • Tohpati Bertiga
  • Tribute to Elfa S. feat. Elfa’s Singers, Harvey Malaiholo, Andien
  • W/H/A/T Quartet
  • Zarro

Beberapa nama yang mesti mendapat perhatian antara lain WHAT Quartet, The Jongens Jazz Quartet, Shadow Puppet, karena kelompok ini para musisi Jazz Indonesia yang belakangan namanya mulai mencuri perhatian.

Selain itu tentu saja ada sejumlah nama seperti Tohpati Bertiga yang tak lain adalah Tohpati Ario Hutomo, Indro Hardjodikoro dan drummer Gugun Blues Shelter, Bowo yang memulai proyeknya di Ngayogjazz.

Ngayogjazz akhirnya digelar 15 Januari 2011

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Dalam mengekspresikan semangat berkumpul dan bekerja sama, orang jawa mempunyai ungkapan : Mangan ora mangan waton kumpul. Makan atau tidak, tetap saja bisa berkumpul (rukun). Inilah yang di adopsi oleh panitia ngayogjazz yang bergeser penyelenggaraannya di tahun 2011 karena adanya musibah meletusnya gunung Merapi yang hingga kini masih membuat tanggap darurat masih menjadi status buat kota-kota disekitar Merapi seperti Yogyakarta.

Ungkapan Ngayogjazz  menjadi “Mangan Ora Mangan….Ngejazz”. Sebuah ungkapan yang di maknai bahwa solidaritas bisa terwujud tanpa ikatan atau persoalan material (mangan). Bahkan semangat ini semakin terbukti ketika masa sulit sedang datang.

Inilah Jazz. Sebuah cara memainkan musik dengan asyik, spontan, interaktif, dan ekspresif. Hampir tanpa batas. Siapapun; alat musik apapun; dimanapun; kapanpun. Bahkan, dalam suasana apapun, karena jazz lahir juga karena sebuah keadaan sosial yang direspon dengan permainan-permainan musik. Jazz lahir untuk melepaskan kepenatan keadaan di Amerika Serikat pada suatu masa oleh orang-orang keturunan Afrika. Kini cara permainan musik itu telah meluas ke seluruh dunia dan melibatkan lebih banyak orang ; lebih beragam alat musik dan lebih bermacam unsur kebudayaan, sebanyak ragam kesenian, bunyi di bumi ini. Inilah Jazz!

Keriuhan Jazz itu akan dihibur dengan para penampil yang siap hadir pada tanggal 15 Januari 2011. Mereka adalah ESQI:EF aka Syaharani & Queenfireworks, Glenn Fredly, Iga Mawarni, simakDialog (Tohpati, Riza Arshad, dan kawan-kawan), Chaseiro (Chandra Darusman, Helmie Indrakusuma, Aswin Sastrowardoyo, Edie hudiro, Irwan Indrakesuma, Omen Sonisontani), Gugun Blues Shelter, Tohpati Bertiga (Tohpati, Indro Hardjodikoro, Bowie), Sujud Kendhang & Kesenian Tradisional plus Komunitas Jazz Jogja, Komunitas Jazz Bali dan Komunitas Jazz Ngisor Ringin, Semarang.

Acara di gelar di Pelataran Djoko Pekik, Desa Sembungan, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai dari jam 2 siang hingga dua belas malam pada hari Sabtu Pon tanggal 15 Januari 2011.

Dalam kesempatan Ngayogjazz kali ini akan di Launching Album Kompilasi Komunitas Jazz Jogja – Ngayogjazz yang kedua dengan Konsep Album : Sesarengan plus tentu saja Pasar Jazz dan Festival Foto Ngayogjazz (Pameran dan Pojok Foto).

Anda tertarik?, bersiaplah mengontak agen perjalanan anda. Tak perlu membeli tiket pertunjukan, karena acara berlangsung gratis.

Jazz in The City bersama Glenn Fredly di Le Grandeur Mangga Dua

Tags:


glenn-jazz-in-the-city

Mantan vokalis FunkSection, Glenn Fredly rencananya akan tampil dalam sebuah acara bertajuk Jazz in the City yang digelar di Hotel Le Grandeur Mangga Dua, Jakarta pada hari Jumat, 5 Juni 2009 pukul 20.00 wib.

Nama Glenn Fredly di blantika musik Indonesia tidak perlu diragukan lagu eksistensinya. Berbagai penghargaan diterimanya seperti ; AMI Award, MTV Award serta penghargaan internasional seperti Planet Music Award Singapura dan Anuegrah Industri Music Malaysia.

Penyanyi berdarah Ambon ini juga selalu hadir dalam pentas-pentas musik jazz seperti Java Jazz Festival. Oleh karenanya, pengelola The Lounge (Lounge dengan konsep musik jazz setiap harinya) optimis bahwa show bertajuk Jazz in the City yang akan menampilkan Glenn Fredly akan berlangsung sukses.

Harga tiket masuk Rp 250,000.- net, sudah termasuk 1 gelas soft drink atau pouring brand. Tunggu apalagi ? Segera ajak teman serta kerabat berkunjung ke The Lounge @ Le Grandeur Mangga dan saksikan penampilan Glenn Fredly.

Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi Anastasia, Manajer PR dan Komunikasi Hotel Le Grandeur Mangga Dua Jl. Mangga Dua Raya ,Jakarta 10730, Tel: 021 612 8811 / Fax: 021 612 7872 Email: prdmgd@legrandeurhotels.com

Fragmen 51 Tahun Bermusik Benny Likumahuwa

Tags: , , , , , , , , ,


dsc_0349.jpg

Sebuah paket acara dikemas untuk memperingati 51 tahun Benny Likumahuwa bermusik. Konser yang diselenggarakan Sabtu 7 Februari 2009 di Nusa Indah Theater, Balai Kartini Jakarta mengetengahkan beberapa fragmen perjalanan bermusik Benny Likumahuwa dalam format jam session. Benny Likumahuwa merangkul banyak teman-teman musisi seangkatannya. Ikut berpartisipasi juga beberapa nama pemain muda yang dua diantaranya adalah murid Benny Likumahuwa. Pertama adalah Barry Likumahuwa, putra kandung Benny Likumahuwa yang memainkan bass, tampil dengan kelompoknya Barry Likumahuwa Project (BPL). Satu lagi adalah Dennis Junio Gani, seorang remaja berusia 15 tahun yang berbakat memainkan saksofon. Kehadiran keduanya menjadi tanda karir bermusik Benny Likumahuwa yang akan terus berlanjut. Terus berkesinambungan. Interaksi lintas generasi ini yang kemudian ditasbihkan menjadi judul acara, Jazz Concert Continuously.

dsc_0114.jpg

Acara yang dipandu sangat cair oleh Farhan ini dibuka dengan penjelasan tujuan dan tema konser. Kemudian Farhan memperkenalkan Benny dengan canda sebagai, “… yang survive dari krisis moneter 10 tahun yang lalu, Benny Likumahuwa!” Pria Maluku kelahiran Kediri 18 Juni 1946 ini memulai pertunjukan dengan memperkenalkan musisi yang mendampinginya. “..Ini semua teman-teman saya. Teman lama. Kita selalu berkumpul main bersama. Paling sering kita (bermain) tanpa latihan. Karena kita sudah bicara yang sama di dalam jazz. Sehingga nggak latihan, karena yang satu sudah mengerti yang lain, otomatis jadi…” kata Benny Likumahuwa. Ya, memang konsep jam session yang menjadi kekuatan pertunjukan malam itu.

dsc_0326.jpg

Benny Likumahuwa membuka fragmen-fragmen awal dengan benang merah instrumen yang pernah dia mainkan. “Pada saat umur 11 tahun, pada saat saya mulai bermusik, alat pertama yang saya mainkan adalah bongo. Alat itu adalah (alat) yang paling mudah didapat karena kebetulan punya di rumah, murah meriah, bisa dimanfaatin,” kenang Benny. Bersama Oele Pattiselanno pada gitar, Jacky Pattiselanno (drums), Jeffrey Tahalele (bass), Sam Panuwun (keyboards), Benny Likumahuwa memainkan satu set perkusi yang terdiri dari bongo, conga dan dua timbalis di lagu “Cute” yang bernuansa latin jazz. “Dulu dengan lagu yang dipopulerkan Diane Shore tahun 50an itu saya dengan teman-teman lain dalam grup Red Cubana main di RRI Ambon,” cerita Benny lagi.

Lagu kedua, “Down Home”, adalah lagu dimana Benny Likumahuwa memainkan electric upright bass. “Ini alat kedua yang saya main,” katanya. “Sudah lama sekali saya tidak memainkan upright bass. Kurang lebih 30 tahun yang lalu. Karena saya mengalami kecelakaan sehingga jari saya ini kurang begitu kuat. Saya beralih ke fretless bass. Dan hari ini pertama kali saya (kembali) main (upright) bass ini. But that is music. Musik sebenarnya simple sekali. Bernyanyilah! Ini hanya medianya.” lanjut Benny Likumahuwa. (Mungkin Oom Benny maksud disini adalah memainkan bass secara rutin. Sebab WartaJazz sempat merekam penampilannya saat mengiri Nick Mamahit (alm) saat tampil di Hotel Dharmawangsa beberapa tahun lalu -red). Di lagu progresif jazz akhir 50an itu Benny Likumahuwa menunjukkan improvisasi permainan bass unison lantunan scat.

dsc_0052.jpg

Bermain Upright Elektrik Bass

Fragmen bermusik Benny Likumahuwa kemudian maju ke masa kini dengan tampilnya Barry Likumahuwa dan Dennis Junio Gani. “Makanya saya memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk lebih banyak berkarya. Karena mereka adalah penerus kita. Sesuai dengan judul, supaya tetap continuous.” jembatan Benny masuk ke fragmen itu setelah sebelumnya ia panjang bercerita tentang suka duka interaksinya di dunia jazz di Indonesia. Bertiga bersama Kedua “murid”nya itu Benny Likumahuwa menampilkan lagu “Naik Naik ke Puncak Gunung”. Tiupan Trombone Benny dan saksofon Dennis bergantian bernyanyi diiringi rhythm permainan bass Barry. Interprestasi yang menarik untuk lagu tadisional dari daerah Maluku. Setelah lagu yang aslinya berjudul “Naik Naik ke Gunung Nona” itu mereka membawakan “GodSpell” satu karya Barry Likumahuwa.

Penampilan Barry Likumahuwa dan Dennis Junio dilanjutkan bersama BPL. Kelompok “jazz anak muda” ini diperkuat oleh drummer Jonas Wang, Donny Jusran (keyboards), Hendry Budhidarma (gitar), dan vokalis Matthew Sayers. BLP juga mengikutkan sertakan gitaris Nikita Dompas. Mereka membawakan lagu dari album Barry, “My Prayers” yang dimedley dengan “Jazzy Crimes” milik saksofonis Joshua Redman. Bintang tamu BLP adalah penyanyi Glenn Friedly yang tampil dengan lagu “Dansa”. Project ini menuntaskan jeda fragmen tribute itu dengan lagu Barry, “Aku dan Hadirmu.”

dsc_0327.jpg

Kelompok Barry Likumahuwa yang lain juga ikut berpartisipasi. Grup ini terdiri dari 4 pemain bass (seharusnya 5 bassist) dan seorang drummer. Yup, Bazzatack kembali untuk memeriahkan Jazz Continuously! “Saya mendapat inspirasi untuk bikin grup ini gara-gara melihat papa dulu. Di tahun 1997 dia pernah bikin acara bulanan Jamz Matra Jazz. Banyak banget mereka bikin even-even, seperti 7 Pendekar Gitar, 7 Pendekar bass, dan pendekar-pendekar yang lain.” aku Barry. Maka “serangan nada-nada rendah” begitu istilah Barry pun menyapa penonton. Barry, Jawa (bassis Maliq & The Essentials), Handy Soulvibe, JMono Alexa, dikawal drummer Parkdrive Rayendra Sunito memainkan dua komposisi dalam format medley. Di lagu “Gosthbuster” tiap personel bergantian melakukan improvisasi sesuai gaya nge-bass masing-masing. Permainan JMono dengan efek bassnya me-metal-kan konser jazz malam itu.

Setelah BLP, fragmen kembali ke perjalanan bermusik Benny Likumahuwa di era awal 1966 dimana ia baru tiba di Bandung. Benny Likumahuwa memulai kisahnya dengan bagaimana duka-suka awal karirnya bersama grup Crescendo, yang antara lain juga terdiri dari Yong dan Budiman. Kemudian Benny Likumahuwa gabung dengan The Rollies, grup rock asal Bandung yang menggunakan horn section. “Saya gabung dengan grup rock tapi saya tetap main jazz. Saya tidak pernah meninggalkan jazz, karena that is my music.”

Konser menjadi istimewa dengan reuni personel The Rollies yang masih ada. Beberapa personel awal The Rollies yang telah tiada adalah Delly DJoko Alipin (vokal, keyboard), Iwan Kresnawan (drums), Deddy Sutansyah (vokal,bass), Bangun Sugito (vokal, trumpet), Raden Bonnie Nurdaya (vokal, gitar). The Rollies malam itu adalah Teuku Zulian Iskandar Madian, Benny Likumahuwa (trombone, flute), bassis Oetje F Tekol, drummer Jimmie Manoppo dan pemain tamu Herry pada trumpet (menggantikan Didiet Maruto yang berhalangan hadir), gitaris Masri, serta Abadi Soesman di papan kunci. Mereka membawakan “Make Me Smile” yang dinyanyikan oleh Iis, pemain saksofon/gitar The Rollies.

dsc_0384.jpg

Fragmen berikutnya adalah pengalaman Benny Likumahuwa saat berinteraksi dengan komunitas jazz Jack Lesmana. “Pada saat saya di Ambon, saya bermimpi bahwa pada suatu saat saya sampai di pulau Jawa ini mudah-mudahan paling tidak salaman dengan mereka (Bubi Chen, Jack Lemmers, Maryono, Benny Mustafa, pencipta lagu Sutedjo, Bill Amirsyah Saragih) dan menyatakan kekaguman saya.” Era itu merupakan masa dimana mimpi Benny muda menjadi kenyataan. Benny Likumahuwa tidak sekedar bersalaman, tapi malah diajak main dan bahkan membuat aransemen musik untuk mereka.

Salah satu dokumentasi era itu adalah lagu “Semua Bisa Bilang”. Lagu pop yang diaransemen dan dimainkan band dibawah pimpinan Alm Jack Lesmana ini direkam tahun 1975 dibawah label Hidayat, Bandung. Versi asli lagu karya Charles Hutagalung dan dinyanyikan Margie Segers ini menampilkan permainan Alm Didi Tjia pada electric piano, Trisno (tenor sax), Oele Pattiselanno (gitar), Alm Perry Pattiselanno (bass gitar), dan drummer Ucup. “Pada saat itu yang main bass di lagu itu adalah adik Oele Pattiselanno yang meninggal di Jordania. Namanya Perry Pattiselanno. Jadi saya pikir kita patut salut untuk Perry Pattiselanno juga.” kenang Benny kepada salah satu sahabatnya selain juga menyampaikan belasungkawa meninggal dunianya tokoh penggerak Jakarta Jazz Society, Firman “Leles” Soebardjo. Malam itu Margie Segers kembali membawakan lagu itu dengan diiringi Benny Likumahuwa & Friends.

dsc_0467.jpg

Instrumen berikut yang dimainkan Benny Likumahuwa adalah flute. Dia menyebutkan beberapa tokoh jazz yang mempengaruhi permainan flutenya. Pertama adalah Rahsaan Roland Kirk, multi-instrumentalis tuna netra yang memainkan tenor saksofon, flute dan instrumen lain. “Dia salah satu yang memberikan inspirasi. Sehingga saya main flute. Padahal di kampung (saat itu) saya main suling bambu. Suling bambu itulah yang membawa saya menguasai interval atau jarak nada secara naluri.” kata Benny. Kemudian ia sebut nama Ian anderson yang lagu-lagunya dari album Jetro Tull banyak dimainkan Benny Likumahuwa semasa dengan The Rollies. Di fragmen ini Benny Likumahuwa melakukan demo permainan flute tanpa iringan apa-apa.

dsc_0496.jpg

Tiupan flute juga menjadi intro lagu “Kulama Menanti” yang dinyanyikan Rien Djamain. Lagu yang ditulis oleh Chandra Darusman ini diaransemen Benny Likumahuwa dan direkam bersama Abadi Soesman Band di studio Jackson Record. Di kaset produksi Atlantic Records yang berjudul “Jazz Masa Kini” itu selain memainkan flute, Benny juga membetot dawai bass elektrik. “Kulama Menanti” versi 2009 merupakan reuni Abadi Soesman band dengan porsi bass dimainkan oleh Barry Likumahuwa. Di Ujung fragmen ini, Rien Djamain didaulat oleh Farhan untuk sedikit menyanyikan lagu “Api Asmara”. Hits penyanyi itu yang direkam semasa dengan lagu “Semua Bisa Bilang” Margie Segers.

Fragmen berikut adalah partisipasi Benny Likumahuwa di kelompok Ireng Maulana All Stars.  Seperti komentar Ireng Maulana tentang personelnya yang join sejak 1981, “Benny Likumahuwa ini adalah rekan saya di Ireng Maulana All Stars. OKE!” Penampilan Ireng Maulana tentu tidak lengkap tanpa lantunan Ermy Kullit, seperti celetuk Ermy sebelum menyanyikan “For Once In My Life”, “Ermy Kullit-Ireng!” Lagu itu kemudian dimedley dengan lagu wajib Ermy Kullit, “Kasih”. Popularitas lagu itu dengan mudah merangsang penonton ikut bernyanyi, “…Kasih/Dengarlah/Hatiku berkata/aku cinta kepada dirimu sayang/kasih/percayalah/kepada diriku/hidup matiku hanya untukmu…”

Galactic band adalah salah satu grup panggung yang menjadi rumah musikalitas Benny Likumahuwa. Reuni grup yang tahun 1986-87an rutin manggung di Tavern, di basement Hyatt-Arya Duta Hotel ini masih menyisakan Benny (saksofon), keybordis Idang Rasjidi yang menjadi pimpinan band ini, Jeffrey Tahalele (bassis), Oele Pattiselanno (gitar) dan Karim Suweileh (drums). Selain itu ada Didiet Maruto dan dua personil lain, Maryono (tenor) dan Dullah Suweileh (perkusi) telah meninggal dunia. Penampilan Karim Suweileh, seperti komentar Syaharani kepada Farhan, “Pak Karim itu permainannya begitu enaknya, sampai kita yang orang awam mendengar lagu yang begitu susah berasa enak.”

Salah satu suprise konser ini adalah kolaborasi Benny dan Ria Likumahuwa. “Teman dekat saya,” panggil Benny Likumahuwa kepada istrinya untuk menyanyikan sebuah lagu yang dipopulerkan Astrud Gilberto. Meski tiba-tiba dipanggil untuk nyanyi tanpa persiapan, Ria Likumahuwa masih menunjukan penguasaan teknik vokal yang masih prima. Lagu ini semakin istimewa karena rhythmnya dijaga oleh pemain drum kawan Benny Likumahuwa yang sudah lama tidak beredar di panggung jazz. Pemain drum itu adalah Hasan. Suprise pangkat dua!

Penyanyi yang tampil di fragmen berikut adalah Syaharani. Dia menyanyikan dua buah lagu secara medley dari yang tempo pelan “Crazy” ke tempo cepat dengan irama swing. “Crazy” adalah lagu yang diangkat dari album “Wonderful World” produksi Sangaji Music yang direkam Benny Likumahuwa & Friends di Lion Studios Singapura tahun 1998. selain album itu, Benny Likumahuwa juga merekam dua album lainnya di label Sangaji Music. Salah satunya adalah album “Jazz master”, dimana Benny Likumahuwa bermain bersama Bubi Chen, Indra Lesmana, Oele Pattiselanno, Trisno, dan Cendi Luntungan mengolah lagu-lagu standard ke dalam versi mereka.

dsc_0830.jpg

Bertha adalah penyanyi yang tampil berikut. “Big Mama” dengan vokal khasnya melantunkan lagu “What Are You Doing The Rest of Your Live” dengan nuansa ballad. Benny Likumahuwa memainkan harmonika di lagu ini. Di lagu kedua, “A Lady Be Good To Me” tempo meningkat drastis dimana permainan drum Taufan Goenarso mendapat porsi lebih untuk berimproviasi dan berunison dengan scat Bertha serta kemudian padu bertiga dengan scat Benny.

Bertha

Fragmen berikutnya adalah nostalgia panggung Jamz Matra Jazz. Lima pendekar gitar berkolaborasi memainkan lagu “Four Brothers”. Benny Likumahuwa menggodok aransemen lagu itu meniru gaya bigband tapi dimainkan dalam gitar. Para penggitar yang main di atas panggung adalah Nikita Dompas, Ireng Maulana, Oele Pattiselanno, Donny Suhendra, Kiboud Maulana. “Disini ada Tiga senior yang mengapit dua junior. Cita-cita saya sih, supaya senior dan junior bisa bersatu. Tidak ada gap diantara mereka.” harap Benny Likumahuwa.

dsc_0191.jpg

Penghujung acara kembali diisi oleh BLP. Termin kedua BLP menghadirkan Benny Likumahuwa pada trombone dan Dewi Sandra yang menyanyikan lagu “When I Fall in Love”. Lagu terakhir BLP kembali diangkat dari album Barry Likumahuwa, “Mati Saja”. Tentang penampilan BLP, Benny Likumahuwa memberikan ekspektasi dan komentarnya, “Saya lihat mereka bekerja keras. Dan energik banget, saya senang main sama mereka karena apapun ide kita bisa diwujudkan.”

Namun entah kenapa di konser ini Benny Likumahuwa tidak memainkan lagu-lagu buah idenya sendiri. Padahal sudah cukup banyak lagu yang ia tulis, baik semasa The Rollies seperti “Sign of Love”, “Wish My Baby Really”, “Pagi yang Cerah”, atau yang dia nyanyikan sendiri “Jangan Salahkan Kami”. Di masa Benny Likumahuwa bergabung dengan Jack Lesmana Combo pun ia banyak menulis lagu. Karyanya antara lain kemudian direkam di beberapa album, seperti komposisi instrumental “Sahabatku” di kaset Rien Djamain serta “Gairah” di kaset Margie Segers. Runtutan dokumentasi itu bisa ditambah dengan sebuah lagu yang dinyanyikan Mira Soesman, “Dia” yang direkam Benny bersama Abadi Soesman Band. Ini bisa menjadi pekerjaan rumah Benny Likumahuwa di konser yang akan datang.

dsc_0344.jpg

Kolaborasi (hampir) seluruh pengisi acara adalah akhir konser ini. Mereka membawakan lagu “Dansa yok Dansa” beramai-ramai diiringi BLP dan diakhiri dengan satu-persatu pemain turun panggung meninggalkan Benny Likumahuwa bermain trombone sendiri. Applaus penonton bersahutan menenggarai akhir acara yang durasinya menjadi lebih panjang dari rencana semula, total jendral menghabiskan waktu lebih dari 3.5 jam. Ruang Nusa Indah Theater yang terlihat penuh itu sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh penonton dengan rasa puas. Terima kasih kepada seluruh pengisi dan penyelenggara acara, seperti kata Farhan di akhir konser, “Kita adalah penikmat buah hasil kerja keras para perintis seperti Benny Likumahuwa.”

dsc_0298.jpg


Good jazz is when the leader jumps on the piano, waves his arms, and yells. Fine jazz is when a tenorman lifts his foot in the air. Great jazz is when he heaves a piercing note for 32 bars and collapses on his hands and knees. A pure genius of jazz is manifested when he and the rest of the orchestra runaround the room while the rhythm section grimaces and dances around their instruments. — Charles Mingus


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<