Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "gusti hendy"

Trio LIGRO, tambah edan di album kedua!

Tags: , , , ,


Konser peluncuran “Dictionary 2” oleh Trio LIGRO, Rolling Stone Café Jakarta, 25 Januari 2012.

Saat yang dinanti akhirnya datang juga. Rabu (25/1) malam bertempat di Rolling Stone Café, album kedua LIGRO berjudul Dictionary 2 pun rilis. Berjarak sekitar tiga tahun dari perdana Dictionary 1 (Inline Music, 2008), LIGRO (dibaca terbalik menjadi “orgil” – orang gila – red.) tampil makin gila, makin energik. Pelakunya ialah Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bas), dan Gusti Hendy (drum).

Trio LIGRO saat beraksi di Rolling Stone Cafe Jakarta (25/1)

Trio LIGRO saat beraksi di Rolling Stone Cafe Jakarta (25/1)

Dimulai selepas pukul sembilan malam, dihadiri para wartawan, rekan musisi, dan penggemar, ketiganya langsung menggetarkan panggung lewat komposisi “Bliker 3” yang terambil dari album gres tersebut.

Agam Hamzah

Agam Hamzah

Introduksi berupa progresi disonan berformat MIDI menjadi pembuka, berlanjut sayatan gitar distorsif Agam. Aura kegilaan mulai terasa waktu Hendy melancarkan pukulan-pukulan maut, daya ledak pula akselerasi tinggi bak orang kesurupan. Atensi kemudian beralih kepada Adi, ia membaringkan basnya, lalu mulai bertingkah dengan ramuan bunyi “alami” atas lembaran seng, martil, dan, paku dengan gaya teatrikal.

Ada pula sesi tanya-jawab, memberi kesempatan audiens untuk bertanya langsung pada ketiga personil LIGRO. Seorang wartawan bertanya soal genre musik apa yang diusung LIGRO, kemudian ditanggapi Agam, “Kami hanya bermusik, tidak mematok suatu genre tertentu, dan kami bertiga punya latar belakang yang berbeda-beda, saya campuran Aceh dan Sunda, Adi asal Madura, dan Hendy dari Kalimantan, preferensi musik kami juga sangat lebar, jazz, musik klasik, rock, bahkan etnik. Jadi soal genre, biarlah pendengar sendiri yang mendefinisikan,” ujarnya.

Gusti Hendy

Gusti Hendy

Pertanyaan lain seputar pengaturan drum set Hendy, mengapa ia menggunakan gondang Batak untuk menggantikan tom-tom, Hendy memaparkan,”Setting drum seperti ini memang sengaja saya terapkan di LIGRO, yang tentu berbeda ketika saya tampil bersama grup lain. Saya memang memakai instrumen tradisi Batak, gondang, tapi saya tidak serta merta memainkan dalam tradisi Batak, karena saya bukan orang Batak, tapi orang Kalimantan, maka dari itu saya menggunakan pola ritme Kalimantan ke dalam permainan gondang, dan itu yang membuatnya unik. Selain itu, dengan setting ini saya lebih bisa menyatu dengan bas maupun gitar dalam komposisi LIGRO,” jelas Hendy.

Giliran Adi, ditanya perihal aksi edan serta nyeleneh tadi, ia berkisah, “Saya terinspirasi waktu dulu, ketika kuliah, sempat menyaksikan sebuah happening art, dengan menggunakan alat-alat musik non-konvensional, ternyata bunyi yang dihasilkan menarik sekali,” tuturnya. Ia berkelakar, “Kalau  di sini ada yang butuh tukang untuk perbaiki rumah, hubungi saya,” selorohnya disambut tawa penonton.

Adi Darmawan

Adi Darmawan

Hadir pula Dwiki Dharmawan yang juga memberi selamat, menurutnya LIGRO berani untuk tampil beda lewat konsep musiknya, serta dapat mengisnpirasi musisi Indonesia untuk go international. “Saya yakin mulai tahun ini LIGRO akan keliling dunia untuk mempromosikan musik mereka,” tutupnya.

Acara launching berakhir lewat gubahan berjudul “Stravinsky,” yang merupakan adaptasi dari “Les Cinq doigts” (The 5 Fingers) milik komposer Rusia Igor Stravinsky. Berciri ketukan janggal, harmoni disonan, serta idiom-idiom hard rock yang energik.

Kabar gembira lainnya adalah bahwa Dictionary 2 akan segera dirilis oleh label rekaman asal Amerika Serikat, MoonJune Records. Itu berarti LIGRO satu payung dengan sesama grup dari tanah air; simakDialog, Tohpati Bertiga, Tohpati Ethnomission, dan pendatang baru I Know You Well Miss Clara.

LIGRO - Dictionary 2

LIGRO - Dictionary 2

Selamat dan sukses  untuk LIGRO, semoga kian gila dalam berkreasi. Proficiat!

Ngayogjazz 2011 undang penyanyi cantik Sierra Soetedjo

Tags: , , , , , , , ,


Sierra Soetedjo

Sierra Soetedjo

“Pastinya seneng bs ikut meramaikan ngayogjazz krn ini pertama kalinya saya ikut ngayogjazz festival, dan kedua kalinya tampil di kota jogja”, ini kalimat pembuka dari Amanda Sierra Soetedjo sewaktu ditanya WartaJazz soal rencana keterlibatannya dalam acara NgayogJazz – Nandur Jazzing Pakarti yang digelar Sabtu 12 November 2011 di Kota Gede, Jogja.

Dara kelahiran Jakarta, 26 Juni 1984 ini lulus dari Jurusan musik tepatnya Diploma of Contemporary Music tahun 2004 dan Bachelor of Music in Jazz Performance (S1) di Perth, Western Australia Academy of Performing Arts, lulus di thn 2007.

Sekembalinya ke Indonesia dari Australia tahun 2008, Sierra merilis album “Sierra  - The Only One” (silakan klik untuk membaca reviewnya) lewat label Platinum. Sebelumnya ia sempat berkolaborasi dengan Tompi berjudul ‘Love Letter’ di album ketiganya dan KLA Project album “Exellentia” menyanyikan lagu “Kau Pulihkan Luka”.

Kami bertemu dengannya di acara Jazz in Harmony yang digelar oleh Hotel Santika Jakarta bersama Idang Rasjidi Syndicate. Soal ini Sierra menjelaskan, “Saya ikut tour keliling Jawa bersama Idang Rasjidi untuk acara Medco Green Energy Jazz. Dr situ mulai mengikut banyak festivals spt JakJazz (2008), JavaJazz (2009-2011), dan sebagainya”.

Sierra rencananya akan tampil bersama keyboardis  Surabaya All Star, Yohanes Gondo didampingi Antonius Erwin Zubiyan (gitar) dan Punjul Wahyu Sarosa (bass) dan Faizal (drums).

“Saya akan tampil dengan konsep lagu-lagu Jazz Standards dan juga akan memainkan beberapa lagu dari album pertama saya Only One”, paparnya lebih lanjut.

Album ‘Only One’ merupakan album dengan materi berupa lagu-lagu dengan lirik berbahasa Inggris yang didaur ulang, berisikan hits dari tahun 80-90an yang di aransemen ulang lebih modern dan easy listening dengan nuansa pop jazzy bossa latin. “Salah satu lagu yang berjudul ‘The Only One’ adalah satu-satunya di album yg ditulis oleh artis Indonesia yakni karya Adi Bing Slamet yang menjadi single hits dan juga diambil sebagai judul album saya”, tambahnya lagi.

***

Ngayogjazz adalah tradisi musik tahunan dalam memainkan musik Jazz di yang tahun ini mengambil setting panggung di Pasar Kotagede Yogyakarta mulai pukul 14.00 wib – selesai.

Ngayogjazz adalah sebuah ruang dialog terbuka bagi siapapun untuk ikut reriungan dan guyub bersama. Sebab jazz tak melulu soal (jenis) musik, apapun yg bersahutan dan menjadi sebuah dialog yang bisa dinikmati itulah jazz. Kini cara bermain musik yang khas ini telah meluas ke seluruh dunia dan melibatkan lebih banyak orang; lebih beragam alat musik dan lebih bermacam unsur kebudayaan, sebanyak ragam kesenian dan bunyi di bumi ini.

Dalam falsafah Jawa, orang mengenal falsafah Ngunduh Wohing Pakarti (menuai apa yang telah kita kerjakan). Namun tak mungkin bisa ngunduh jika kita tak pernah nandur (menanam). Nandur wohing pakarti, Menanam buah perbuatan (baik). Begitulah harapan atas semua yang kita lakukan di Ngayogjazz 2011. Tetandur; bercocoktanam. Alangkah menyenangkan bila Ngayogjazz bisa menjadi lahan subur untuk bercocok tanam, tempat yang baik untuk persemaian, menempa diri dan berbagi. Berbagi untuk sesama saat ini maupun membuahkan kebaikan bagi generasi seterusnya.

Berbekal semangat itulah, Ngayogjazz 2011 mencoba memberikan tempat bagi para musisi muda untuk bisa mempresentasikan karya-karya mereka. Tak sedikit dari mereka, para musisi muda, memiliki kemampuan bermusik di atas rata-rata. Dengan kemampuan bermusik yang cukup mereka butuh lebih banyak untuk dikenalkan.

Selain Sierra Soetedjo, Ngayogjazz 2011 akan dimeriahkan para tamu musisi jazz Indonesia antara lain Rieka Roslan, Idang Rasjidi, Trie Utami, Ligro (Adi Dharmawan, Agam Hamzah, Gusti Hendy), Tesla Manaf feat. Mahagotra Ganesha (Bandung), Nano Tirta (Jogja).

Ngayogjazz Nandur Jazzing pakarti bakal hadir 12 November 2011

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Ngayogjazz 2011 - Nandoer Jazzing Pakarti

Ngayogjazz 2011 - Nandoer Jazzing Pakarti

Sebuah tradisi musik tahunan dalam memainkan musik Jazz di Yogyakarta bernama Ngayogjazz kembali hadir  Sabtu Wage, 12 November 2011 bertempat di Pasar Kotagede Yogyakarta mulai pukul 14.00 wib – selesai.

Ngayogjazz adalah sebuah ruang dialog terbuka bagi siapapun untuk ikut reriungan dan guyub bersama. Sebab jazz tak melulu soal (jenis) musik, apapun yg bersahutan dan menjadi sebuah dialog yang bisa dinikmati itulah jazz. Kini cara bermain musik yang khas ini telah meluas ke seluruh dunia dan melibatkan lebih banyak orang; lebih beragam alat musik dan lebih bermacam unsur kebudayaan, sebanyak ragam kesenian dan bunyi di bumi ini.

Dalam falsafah Jawa, orang mengenal falsafah Ngunduh Wohing Pakarti (menuai apa yang telah kita kerjakan). Namun tak mungkin bisa ngunduh jika kita tak pernah nandur (menanam). Nandur wohing pakarti, Menanam buah perbuatan (baik). Begitulah harapan atas semua yang kita lakukan di Ngayogjazz 2011. Tetandur; bercocoktanam. Alangkah menyenangkan bila Ngayogjazz bisa menjadi lahan subur untuk bercocok tanam, tempat yang baik untuk persemaian, menempa diri dan berbagi. Berbagi untuk sesama saat ini maupun membuahkan kebaikan bagi generasi seterusnya.

Berbekal semangat itulah, Ngayogjazz 2011 mencoba memberikan tempat bagi para musisi muda untuk bisa mempresentasikan karya-karya mereka. Tak sedikit dari mereka, para musisi muda, memiliki kemampuan bermusik di atas rata-rata. Dengan kemampuan bermusik yang cukup mereka butuh lebih banyak untuk dikenalkan.

Ngayogjazz 2011 akan dimeriahkan para tamu musisi jazz Indonesia antara lain Rieka Roslan, Idang Rasjidi, Trie Utami, Sierra Soetedjo, Ligro (Adi Dharmawan, Agam Hamzah, Gusti Hendy), Tesla Manaf feat. Mahagotra Ganesha (Bandung), Nano Tirta (Jogja).

Selain itu akan hadir kawan-kawan dari luar Jogjakarta seperti Gondo & Friends (Surabaya), Komunitas Gubug Jazz Pekanbaru (Gubug Jazz Project), Balikpapan Jazz Lovers, Pekalongan Jazz Community (Blue Batik Replica), Jazz Ngisor Ringin Semarang, Solo Jazz Society (Streamline Quartet feat. Dyah)

Komunitas Jazz Jogja sendiri akan menghadirkan sejumlah kelompok antara lain Muchi Choir, Orisinden, Everyday Band, Chick Yen, Blank ON, MmTD, plus penampilan KAMPAYO (Keluarga Musisi Penyanyi Artis Panggung Yogyakarta).

Dalam tradisi Ngayogjazz, maka Kesenian Tradisional selalu mendapat tempat yakni dengan kehadiran Ledek Gogik, Calung, Solawatan Mataram dan Drum band & Barisan XHW.

Para penonton yang bisa menikmati acara ini tanpa dipungut biaya juga bisa menikmati Pasar jazz dengan beragam cinderamata jazz-nya, sekaligus menikmati dan dapat membeli album kompilasi Komunitas Jazz Jogja – Ngayogjazz yang diluncurkan saat acara berlangsung. Dan ada pula pameran teman-teman Komunitas Foto GS Photography.

Tertarik menonton?. Pastikan anda membawa topi dan jas hujan. Pengalaman Ngayogjazz awal tahun 2011 – acara yang sedianya digelar di 2010 namun ditunda karena ada musibah Merapi – hujan lebat mengguyur lokasi. Rasanya seru juga menikmati Jazz sambil pakai Jas Hujan.

Sampai bertemu di Jogja!

Anasir Jazz rock yang pekat di Mostly Jazz bersama Ligro

Tags: , , , ,


Mostly Jazz bersama Ligro (Agam Hamzah, Adi Darmawan, Gusti Hendy)

Mostly Jazz bersama Ligro (Agam Hamzah, Adi Darmawan, Gusti Hendy)

Perkembangan musik Jazz di tanah air dirasakan positif oleh trio yang sebenarnya berarti Orgil – Orang Gila –  ini, memberikan semangat optimis kepada Ligro untuk terus mengembangkan kreatifitasnya. Mereka tampil pertama kali di Concert Practice yang diselenggarakan oleh Indra Lesmana dan Aksan Syjman di Art Studio Pondok Pinang. Lalu di beberapa konser seperti konser bulanan di Institut Musik Daya Jakarta, tampil di Java Jazz International Jazz Festival 2005,2006,dan 2008, Bandung Jazz Festival, Festival progresif musik Yamaha, Konser musik progresif di Institut Musik Indonesia (IMI).

Sebuah album yang menampilkan anasir jazz rock dengan pekat telah dirilis. Rekaman yang bertajuk “Ligro Dictionary I” itu dipersembahkan oleh sebuah trio bernama Ligro. Group yang terbentuk pada tahun 2004 terdiri dari Agam Hamzah (electric/acoustic guitar), Adi Darmawan (electric bass), Gusti Hendy (drum). Mereka menyebut, tujuan dari dibentuknya trio ini adalah untuk memperkaya khazanah musik Jazz Indonesia dimana pada era yang sama telah terbentuk beberapa kelompok musik jazz kontemporer seperti ; Java Jazz, simakDialog, Discuss.

Dan Ligro siap memperkaya nuansa akhir pekan anda dengan tampil di Mostly Jazz yang digagas oleh Indra Lesmana dan sang istri Honhon Lesmana. Ligro tampil di hari Minggu, 24 April 2011 mulai jam delapan malam bertempat di Red&White Lounge, Jl. Kemang Raya 16 B Jakarta Selatan.

Anda yang ingin menonton hanya cukup merogoh kocek sebesar IDR 50.000 (lima puluh ribu rupiah) dan mendapatkan gratis minuman pertama.

Selain penampilan LIGRO, seperti biasa akan ada Jam Session yang dimulai sekitar pukul 10.30 dan akan dipimpin oleh saxophonis/vokalis Indra Aziz.

 

New Friday Jazz Nite: Ligro dan Chaseiro hadir di Pasar Seni Ancol

Tags: , , , , , , ,


Anda yang kangen dengan penampilan Candra Darusman, Helmie Indrakesuma, Aswin Sastrowardoyo, Eddy Hudioro, Irwan Indrakesuma, Rizali Indrakesuma dan Omen Norman Soni Sontani yang dikenal dengan nama Chaseiro sebaiknya tidak melewatkan penampilan mereka nanti malam, Jumat 17 Desember 2010 mulai pukul delapan malam.

Bertempat di Pasar Seni Ancol, Chaseiro yang akan didampingi Ade Hamzah dan Disto akan hadir dalam acara New Friday Jazz Nite yang telah menjadi agenda rutin selama beberapa bulan terakhir.

Acara dipastikan jadi ajang temu kangenpara sahabat Chaseiro dan personilnya yang beberapa kali tidak berkesempatan gabung dalam konser-konser sebelumnya.

Tidak hanya Chaseiro, nanti malam kelompok trio Jazz, Ligro yang terdiri dari Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bass) dan Gusti Hendy (drums) juga akan menampilkan bintang tamu Sue Bonnington (vocal), Ade (piano).

Anda bahkan tidak perlu merogoh kocek, karena ajang New Friday Jazz Nite memang tidak dipungut biaya, kecuali biaya masuk Ancol.

Ada Jazz Hujan di Bandung (Bagian I)

Tags: , , , , , , ,


Bulan Desember di Indonesia pada umumnya sudah memasuki musim penghujan. Kemudian mengapa menyelenggarakan festival jazz yang salah satu panggungnya berada di luar gedung Sabuga Bandung, General Coordinator dari festival Bandung World Jazz 2009, Andar Manik menjawab ketika acara preskon, “Kita sengaja mengadakan acara ini di bulan Desember karena hujan, jadinya jazz hujan”.

Andar Manik, Jailani, Marintan Sirait dan Reza

Andar Manik, Jailani, Marintan Sirait dan Reza

Untungnya ramalan Andar Manik tersebut sampi selesai acara tidak terbukti, sehingga acara yang diselenggarakan tanggal 3 – 4 Desember 2009 berlangsung cukup meriah. Selama dua hari tersebut, dari jam 13.30 sampai tepat tengah malam dengan breaktime sekitar satu setengah jam, penonton disuguhi oleh 34 group musik dengan berbagai warna.

Perkiraan daya tampung penonton sekitar 1500 orang dengan setting venue terdiri dari 3 panggung. Panggung pertama berada di sisi kiri luar gedung, panggung kedua berada di koridor tembusan pintu masuk utama gedung dan panggung ketiga ada di tribune (ruang utama) gudung Sabuga. Sementara di bagian tribune, satu panggung yang cukup luas dibagi menjadi 3 bagian, sayap kanan, kiri, dan tengah yang hanya dibedakan dengan tinggi rendah level. Panggung pertama dan kedua dipakai dari siang sampai menjelang Maghrib, selanjutnya pertunjukan berlangsung di panggung ketiga.

Mendekati waktu tergelincirnya matahari, stage 1 dan 2 sudah mulai kesibukannya dengan persiapan Castavaria dan Nita Aartsen. Castavaria tampil dengan mengetengahkan 3 bassist, ditambah seorang drummer, yang menghibur penonton melalui percakapan dalam nada-nada rendah dengan balutan irama jazz-rock dan funky yang menghentak-hentak. Sementara Nita Aartsen menghibur para penonton dengan koleksi-koleksi musik latin, rhumba dan bossa nova. Agak lain dengan penampilannya di album “All Nite Out”, Nita lebih banyak menunjukkan kebolehannya dalam memainkan keyboardnya yang cukup memikat. Sudah barang tentu, lagu-lagu wajib dari Amerika bagian Selatan muncul satu persatu. Seperti ‘Masquenada’ atau pun ‘Girl From Ipanema’. Tidak ketinggalan salah satu hit dari albumnya, ‘Let’s Dance’.  Dalam kesempatan ini Nita mengajak teman lama yang bernama Steve Wilson untuk tampil sebagai vokalis. Penampilannya cukup komunikatif dengan para penonton. Musisi lain yang mendukung Nita adalah Adi Prasodjo (perkusi) dan Harry Toledo (bass).

bdgworldjazz-09-001

Nita Aartsen, Steve Wilson, Harry Toledo dan Adi Prasodjo

Beranjak ke panggung outdoor, suasana gayeng dan meriah langsung memenuhi telinga ini. Bagaimana tidak, sebuah band dengan warna fusion menghentak-hentak dengan kerasnya dengan reriuhan suara saxophone, bass, gitar, keyboards dengan beberapa instrumen musik tradisional Jawa. Mereka adalah Prabumi, sebuah band kolaboratif pimpinan Agus Bing, yang juga seorang wartawan sebuah surat kabar di Jogja. Hanya saja, saking semangatnya, suara saron, kendang, djembe dan bonangnya justru tertutup dengan instrumen musik modern lainnya. Atau memang ada semacam kanonisasi musik yang barangkali menghasilkan efek tertentu. Mereka menampilkan tembang klasik “Prahu Layar” ataupun komposisi ciptaan sendiri “Transit”.  Selain itu, ada 4 Peniti dari Bandung yang sudah mempunyai penggemarnya tersendiri ini memeriahkan acara ini dengan tembang-tembang segar dengan memadukan banyak jenis musik. Zaki (vokal & gitar), Ammy (violin & gitar), Rudy Zulkarnaen (bass) dan Ary Aru (drum) membentuk kelompok ini karena sama-sama menyukai Pat Metheny.

Persentuhan antara musik jazz dan khasanah musik lokal dari Indonesia masih tetap menjadi daya tarik yang sexy. Seperti halnya yang dilakukan oleh group dari Jakarta Archipelago maupun Karinding Collaborative,  Saratuspersen. Mereka sama-sama memadukan improvisasi jazz dengan musik Sunda. Seperti yang diungkapkan Andar Manik bahwa “Cita rasa musik lokal bisa memasuki ranah improvisasi jazz”. Hasilnya memang menarik, sambil membayangkan berada di hamparan sawah hijau sambil mendengarkan kecapi Cianjuran dan liukan suara saxophone.

Saratuspersen asal Bandung

Saratuspersen asal Bandung

Adapun kelompok serupa dari luar negeri adalah Taal Tantra. Di Stage 3 tengah mereka tampil dengan 10 orang musisi dengan menampilkan beberapa corak musik India dari bagian Utara, Selatan, Barat dan Timur yang dikombinasikan dengan jenis musik lain seperti jazz, rock maupun reggae. Penampilan memang mereka terasa hidup dan berhasil menghibur penonton. Apa lagi dengan kehadiran seperti seorang fakir dalam memainkan alat perkusi dari India, plus dengan jogetannya yang lucu.

bdgworldjazz-09-005

Taal Tantra

Salah satu bintang benderang sore itu adalah Ligro, kumpulan 3 orang gila (bermusik) yang terdiri dari Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bass) dan Gusti Hendy (drum). “Komposisi-komposisi di dalamnya bercerita tentang pola-pola musik yang sangat tidak umum. Sesuatu yang tidak umum biasanya diluar kenormalan. Dan itu disebut gila,” papar Agam dalam sebuah perbincangan dengan wartajazz.com. Group ini juga mempunyai energi yang luar biasa. Gaya jazz rock memang kental, yang mengingatkan kita kepada Mahavishnu Orchestra dengan semburat warna musik Indianya. Akord gitar yang dimainkan pun terasa liar dan seperti dalam dunia paralel dan aneh. Apalagi dengan penampilan Hendy, yang juga drummernya Gigi, “double temponya mau merontokkan tembok China”, kata seorang penonton yang terkagum-kagum. Ketika bersama Gigi pun malah jarang terdengar seperti itu.  Mereka menampilkan komposisi-komposisi yang ada dalam album “Ligro Dictionary I” seperti ‘Blinker 1′, ‘Radio Active’, ‘Green Powder’ maupun ‘Orgil’.

Di hari pertama, kelompok yang tampil paling ngejazz adalah David Manuhutu dan Pigalle44. David merupakan salah satu aset masa depan musisi jazz dari Indonesia yang saat ini belum genap 20 tahun usianya. Putra dari Venche Manuhutu ini sudah mulus sekali dalam memainkan pianonya dalam tembang-tambang bebop yang strukturnya komplek tersebut.

bdgworldjazz-09-004

Pigalle 44

Setelah seharian kita dihujani dengan letupan jazz yang menghentak-hentak dan keras, menikmati Pigalle44 seolah kita menikmati kopi hangat di sore hari setelah seharian bekerja keras. Berdiri sejak 10 tahun lalu, Pigalle44 dimotori oleh dua gitaris Reiner Voet dan Jan Brouwer. Mereka menampilkan aksen musik gipsi dalam sajian jazz. Masih terasa sentuhan tradisional jazz seperti swing meski tidak sepenuhnya mengekor kepada para pendahulu. Kalau dilihat gaya permainannya sendiri adalah gabungan antara tradisional dan modern. Memang ada kalanya gipsi jazz tampil ekspresif, banyak nada yang keluar, bertempo cepat namun kemarin mereka menampilkan gipsi jazz yang cool dan impresif. Kedatangannya ke acara ini mereka dibantu oleh Hermine Deurloo (harmonika & sopran saxophone) dan Jet Stevens (bass).

Pertunjukan hari pertama ini juga dimeriahkan oleh lebih dari 50 anak yang tampil ke panggung dengan bermain perkusi. Mereka semua adalah anggota dari Jendela Ide. Sebuah organisasi yang concern terhadap kreasi anak-anak. “Jelas bahwa anak-anak kita saat ini adalah investasi kebudayaan kita di masa mendatang”, ujar Festival Coordinator Marintan Sirait.

bdgworldjazz-09-006

Jendela Ide Percussions

Sepertinya, hari pertama dari Bandung World Jazz Festival 2009 ini cukup memuaskan sekitar penonton. Meski soundsystem di Stage 2 kurang enak dinikmati. Mengingat panggung tersebut berada di dalam koridor yang mempunyai ruang relatif sempit.

Serambi Jazz hadirkan Ligro Trio dan Donny Suhendra Quartet

Tags: , , , , , , , ,


Ligro Trio dan Donny Suhendra beserta Projectnya akan tampil di sebuah acara yang diberi tajuk Serambi Jazz. Ligro Trio adalah kelompok yang mengusung jazz rock terdiri dari Gusti Hendy (pemain drum yang juga bermain untuk band pop GIGI), Adi Dharmawan (bass), Agam Hamzah (guitar). Sedang pemain gitar Donny Suhendra akan hadir bersama Demas Narawangsa (drum), Kristian Dharma (bass), dan menampilkan seorang pemain keyboard yang lama bermain bersamanya di kelompok lawas d’Marszyo Bandung, Samuel A.Budiono. Donny Suhendra Project juga akan menampilkan potensi seorang vokalis baru, Hans Bartell. Kedua grup akan menampilkan komposisi-komposisi dari album baru mereka, repacked “Disini Ada Kehidupan” dan “Dictionary I” Ligro.

Serambi Jazz adalah sebuah serial konser jazz digagas oleh pianis dan komposer Riza Arshad berserta Goethe Institut Jakarta. Kegiatan ini merupakan usaha untuk menciptakan ruang yang terkontrol agar musik jazz dapat lebih masuk ke ruang publik. Akses ini menjembatani para pelaku, penikmat dan hubungan keduanya di dalam satu wadah yang terkonsentrasi agar daya serap terhadap musik jazz dan perkembangannya dapat berjalan dengan baik.

Negara Jerman sebagai salah satu negara di Eropa di mana jazz lama digauli, tumbuh dan berkembang dengan mengasimilasi akar budaya musik. Sehingga muncul istilah musik ECM – yang berasal dari sebuah perusahaan rekaman musik – yang melahirkan generasi musisi baru dan besar sumbangsihnya pada perkembangan musik jazz di Eropa dan dunia. Hal demikian terjadi juga di Indonesia, dimana musik ini dikenal dan berkembang melalui pergaulan antar generasi musisi. Meski belum banyak, tapi kesadaran untuk melakukan asimilasi itu mulai dikenal dan tumbuh.

Indonesia dan Jerman mempunyai pertalian sejarah musik jazz sejak pertengahan 1960-an. Saat itu kritikus jazz Jerman Joachim Berendt bertandang ke Jakarta dan bertemu dengan Sujoso Karsono, pemilik perusahaan rekaman Irama. Berendt lalu diperkenalkan dengan Jack Lesmana dan Bubi Chen. Sebelumnya Berendt telah mendengar nama kedua dedengkot jazz tersebut melalui Tony Scott, peniup klarinet jazz Amerika Serikat yang pernah berkunjung ke Indonesia.

Joachim Berendt tertarik melihat musikalitas pemusik jazz Indonesia dan mengusulkan kelompok Indonesia All Stars tampil di Berlin Jazz Festival. Bahkan kelompok Indonesian All Stars yang didukung Jack Lesmana (gitar), Maryono (seruling,saxophone), Bubi Chen (piano,zither), Yopie Chen (bass) dan Benny Mustafa van Diest (drums) serta Tony Scott (klarinet) membuat rekaman di Saba Studio pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967. Album Tony Scott with The Indonesia All Stars tersebut lalu diberi judul “Djanger Bali”.

Keutamaan progam Serambi Jazz adalah memelihara ketrampilan dan kreativitas musisinya – agar dapat berkembang dan memberikan suguhan kreasi yang dapat dipetik manfaatnya oleh masyarakat. Idealnya, musisi dapat mengolah musik jazz menjadi sebuah identitas. Melalui hubungan yang ada dengan rekan musisi Jerman – Serambi jazz menjadi ajang dan sarana berbagi disamping menggali lagi pengalaman dan hubungan yang pernah dimulai pada masa lalu, akan membuka harapan dan tekad untuk saling menghargai, menjaga, belajar dan bekerjasama.

Serial pertama Serambi Jazz akan diselenggatakan pada hari Kamis 26 Februari, 2009 pukul 7:30pm – 10:00pm di GoetheHaus, Jl.Sam Ratulangi 9-15 Jakarta. Tiket masuk sebesar IDR 25.000 dapat dipesan dengan Devi 08158811760 Email: info@jakarta.goethe.org


Sometimes I wish I could walk up to my music for the first time, as if I had never heard it before. Being so inescapably a part of it, I’ll never know what the listener gets, what the listener feels, and that’s too bad — John Coltrane


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<