Posted on 05 September 2011
Tags: Franky Sadikin, Heaven on Earth, Ossa Sungkar, Tedjo Bhayu Adjie
Album: Metamorphosis
Label: Demajors, 2011
1. Buenos Dias Mi Cielo (Ossa Sungkar)
2. Drum Overture (Tedjo Bhayu Adjie)
3. Song For Revina (Franky Sadikin)
4. Cheer Tear and Fear (Tedjo Bhayu Adjie)
5. Camel Rider (Tedjo Bhayu Adjie)
6. Dark Cloud (Franky Sadikin)

Heaven on Earth - Metamorphosis
Sejak berdiri awal tahun 2000-an berlanjut rilis album pertama Musical Journey (Demajors, 2006), grup Heaven on Earth mengalami pasang surut eksistensi pada dunia industri musik tanah air. Formasi pertama digawangi oleh enam personil yang sebagian besar adalah instruktur Lembaga Pendidikan Musik Chic’s di Jakarta.
Fase baru Heaven on Earth bermula secara tak terduga. Pada sebuah acara gathering Komunitas Jazz Chic’s, pemrakarsa band ini, penabuh drum Ossa Sungkar dan pianis Tedjo Bhayu Adjie bertemu dengan basis Franky Sadikin. Setelah ketiganya melakukan jam session bebas, mereka merasa cocok satu sama lain. Tak mau menyia-nyiakan waktu, mereka kemudian memutuskan untuk menggarap proyek yang terwujud lewat album Metamorphosis ini.
Enam buah trek di dalamnya memaparkan kemahiran olah komposisi serta teknik bermain instrumen tingkat tinggi yang semakin matang. Grup ini menawarkan ide-ide segar dalam preferensi fusion progresif. Simak irama berlekuk dalam pola ritme ganjil, memadukan sound alami marimba dengan bebunyian sintetis pada trek pertama “Buenos Dias Mi Cielo” gubahan sang drummer. Berlanjut menuju “Drum Overture” yang digubah oleh Tedjo dan ia dedikasikan untuk Ossa. Pukulan drum energik dan variatif menjadi pembuka “pertarungan” seru antara drum-kibor-bas.
Sebagai pendingin suasana adalah “Song for Revina” karya Franky. Komposisi yang mengalun lembut serta melodius. Ini merupakan bentuk curahan rasa sayang Franky kepada sang buah hati. Dapat pula dinikmati sentuhan halus rangkaian nada-nada manis lewat instrumen bas elektrik. Nomor berikutnya diberi judul “Cheer, Tear and Fear”oleh si pemain kibor. Menampilkan denting piano atraktif yang didukung rapat jalinan ritmis drum dan bas. Trek kelima “Camel Rider” adalah yang terpanjang, berdurasi lebih dari 10 menit. Di bagian ini, ketiganya bereksplorasi habis-habisan, menularkan energi dengan performa prima.
Album ini ditutup lewat aksi solo Franky, terekam dalam “Dark Cloud.” Bercerita tentang awan hitam yang akan segera membasahi bumi dengan deras hujan. Menurut kedua rekannya, komposisi ini merupakan sebuah masterpiece dari Franky yang eksploratif.
Posted on 27 May 2010
Tags: Heaven on Earth, Notturno
Tak terasa sudah tiga tahun Komunitas Jazz Chic’s di Rawamangun hadir memberikan alternatif tujuan bersosialisasi dan berkumpul dan menikmati musik utamanya bagi penggemar musik Jazz di kawasan timur Jakarta.
Dalam rangka memperingati tiga tahun perjalanan Komunitas Jazz Chics akan digelar sebuah acara yang akan dimeriahkan sejumlah grup dan musisi jazz antara lain Heaven on Earth, Notturno dan diselenggarakan pada hari Kamis, 27 Mei 2010 bertempat di halaman parkir Sekolah Musik Chic’s Jalan Pemuda 65 Rawamangun Jakarta Timur mulai pukul 15.00 sore.
Komunitas ini berawal dari kesamaan hobi mendengar dan memainkan musik Jazz, beberapa instruktur Chic’s Musik Rawamangun Jakarta Timur diantaranya Erick (Gitar), Tino (Biola), Alex Kuple (Bass), Bhayu (Piano), Herman (Drum), Bobby (Drum), Sonny (Piano), dll sepakat untuk mengadakan sebuah acara jazz bulanan bertempat di pelataran parkir Chic’s Musik.
Gathering pertama berlangsung tanggal 24 Mei 2007. Selain instruktur dan murid Chic’s Musik, Komunitas Jazz Chic’s juga mengundang beberapa musisi baik dari kalangan jazz maupun non-jazz untuk turut mengisi acara. Diantaranya yang pernah tampil adalah Beben (Komunitas Jazz Kemayoran), Harry Toledo, Baim (Vokalis ex ADA Band), Krishna Siregar, Agus Takari, dll.
Posted on 27 November 2009
Tags: agam hamzah, Agus Bing, Andien, Bintang Indrianto, Clorophyl & the New-Generation, Deddy Dhukun, Dian PP, Donny Koeswinarno, donny suhendra, Heaven on Earth, I Wayan Sadra, ivan nestorman, Maya Hasan, Notturno, Sono Seni Ensemble, Yovie Widianto Fusion
Tanggal 4-5 Desember 2009 dipilih menjadi penyelenggaraan Solo City Jazz Festival yang pertama dengan mengambil setting panggung di halaman pasar Windujenar Koridor Ngarsopuro kota Solo, Jawa Tengah.
Sejumlah bintang akan menghiasi line-up festival dua hari bertema Jazz up batik yang tidak dipungut biaya ini.
Mereka yang akan hadir antara lain Notturno, Maya Hasan Quartet bersama Deddy Dhukun & Dian PP. Lalu ada kelompok Akordeon yang terdiri dari Bintang Indrianto, Rindra ‘Padi’ Risyanto, Roedyanto ‘Emerald’ Warsito & Sruti Respati, Magnificent – duo bersama gitaris Agam Hamzah dan Donny Suhendra, Ivan Nestorman dan Andien.
Masih ada Heaven on Earth, Agus Bing & Prabumi dari Yogyakarta, Donny Koeswinarno Jazz-Quartet, Clorophyl & the New-Generation dan Yovie Widianto Fusion
Solo sendiri menurunkan I Wayan Sadra dengan Sono Seni Ensemble dan Solo Jazz Society band.
Kegiatan festival ini sendiri turut didukung Teh Botol Sosro. Menurut Aria Wahyudi, Deputice Vice Marketing Direktur Sosro saat ditemui WartaJazz.com di Joglo Kemang (23/11), Solo City Jazz memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan kota-kota lain. Sosro sendiri melihat kesamaan perspektif yang sejalan dengan strategi komunikasi dan pemasarannya dengan Solo City Jazz.
Dukungan Pemerintah Kota Solo juga sangat besar sehingga terselenggaranya acara ini. Sudah barang tentu sebagai pecinta jazz kita berharap makin banyak perusahaan dan pemerintah kota lain yang juga memberikan support atau dukungan bagi terselenggaranya acara-acara jazz baik yang berskala konser maupun festival.