Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "Indra Lesmana"

The Asia Academy of Music Arts & Sciences menunjuk Quincy Jones sebagai Ketua Dewan Pembina

Tags: , , ,


Organisasi  The Asia Academy of Music Arts & Sciences (AAMAS) yang bermarkas di Singapura, diresmikan Juni lalu, telah menunjuk Quincy Jones selaku Ketua Dewan Pembina. Di dalamnya termasuk wakil dari Indonesia, musisi jazz Indra Lesmana dan Jeremy Monteiro (Singapura).

“Saya telah menjalin hubungan erat dengan dunia music serta komunitas bisnis di kawasan ini,” ujar Quincy yang telah berkunjung ke Asia dan Pasifik sejak akhir 1950-an.

Quincy Jones

Quincy Jones

“Waktu saya diminta untuk bergabung pada AAMAS, merupakan suatu kesempatan emas untuk melanjutkan kerjasama dengan komunitas seni dan memberikan penyuluhan kepada para musisi muda di kawasan tersebut,” imbuh Quincy, yang telah memenangkan Grammy Award sebanyak 27 kali serta menjadi konsultan artistik untuk Olimpiade Musim Panas 2008 di Beijing bersama sutradara Ang Lee, juga dengan komposer Tan Dun menggarap theme song World Expo di Shanghai baru-baru ini.

Quincy pula sebagai produser eksekutif gelaran perdana AAMAS, Come Together, untuk mengumpulkan bakat-bakat terbaik dari berbagai negara Asia yang nantinya akan ditampilkan bersama-sama dan disiarkan langsung dari Hainan, China di bulan April tahun mendatang.

Robert Farina, salah satu pendiri AAMAS mengatakan, “Musik dan talenta Quincy Jones telah dikenal lintas generasi, baik musisi pun penggemar di seluruh dunia. Kepemimpinan dan anjurannya pada Dewan Pembina sangatlah berharga dan kami merasa terhormat atas komitmen dan hasratnya untuk perkembangan industri musik di kawasan Asia.”

AAMAS yang terdiri dari sedikitnya 11.000 artis rekaman, komponis, produser, pengusaha label, dan teknisi, mendefinisikan diri sebagai “Akademi berbasis rekanan pertama di Asia yang didirikan untuk mengapresiasi keunggulan seni dan sains atas musik, serta mendorong kerjasama di berbagai sektor industri musik di seluruh kawasan Asia dan dunia.”

Berpusat di Singapura, AAMAS meliputi Australia, China, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Macau, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Taiwan, dan Vietnam.

Kunjungi situs resmi AAMAS: http://www.asiaacademyofmusic.com/en/ untuk info selengkapnya.

Indra Lesmana Quintet membuka launching Red White [Jazz] Lounge

Tags: , , , , , , , , , , ,


“Ayah saya, Jack Lesmana (alm.) punya dua impian, pertama, punya sekolah musik jazz, yang kedua adalah sebuah jazz club,” tutur Indra Lesmana memberi sambutan di acara launching Red White Jazz Lounge di bilangan Kemang, Jakarta, Minggu malam (2/11).

Dahulu bernama Red & White Lounge dan sebagai wadah berkumpul para musisi jazz lokal dalam rangkaian acara Mostly Jazz sejak akhir tahun lalu, kini lounge tersebut akan meramaikan geliat jazz ibukota dengan program jazz yang semakin padat. Mulai bulan Oktober tahun ini, hari Rabu hingga Minggu, telah terisi penuh oleh musisi-musisi jazz beken yang penampilannya menarik untuk disaksikan.

Necis berbusana setelan jas, Indra menambahkan, “Di sini saya akan menjadi host untuk tiap program, khusus hari Jumat kita bakal muterin rekaman jazz, the real jazz, lewat piringan hitam, experience-nya akan beda dengan dengerin CD,” ujarnya bersemangat.

Selepas kalimat pembuka, Indra memanggil keempat rekan yang siap tampil bersamanya, grup ini diberi nama Indra Lesmana Quintet dengan line-up Indra Lesmana (piano, kibor), Indra Aziz (saksofon alto), Donny Sundjojo (kontrabas), Indra Artie Dauna (trumpet), dan partnernya bersama LLW, Sandy Winarta (drum). Kelimanya kompak mengenakan setelan jas, dan mengawali pertunjukan lewat sebuah nomor dari Thelonious Monk.

Indra Lesmana Quintet saat tampil di Red White Jazz Lounge, Jakarta

Indra Lesmana Quintet saat tampil di Red White Jazz Lounge, Jakarta

Sederet nomor jazz standar mereka tampilkan, semisal laju bebop atas “Groovin’ High” milik Dizzy Gillespie, atau serunya blues di nomor bergaya hardbop “Moanin’” yang dibawakan secara energik. Setelah rehat, kuintet itu hadir kembali lewat hentakan medium funk “Butterfly” dari Herbie Hancock, juga sesi trading fours atraktif dalam komposisi John Coltrane, “Giant Steps.”

Acara berlanjut dengan jam session, Indra mengundang pemain bas Barry Likumahuwa, pianis muda Sri Hanuraga, penggitar Johanes Radianto, sedangkan kursi drum masih diduduki Sandy Winarta. Saksofonis tenor asal Jerman yang Jumat lalu menggelar konser pada Serambi Jazz bersama grup max.bab, Max von Mosch, turut serta menghangatkan malam yang semakin larut.

Berganti hari, saksofonis Indra Aziz mendapat kejutan. Ternyata ia sedang berulang tahun! Tampak Honhon Lesmana memberikan kue ulang tahun yang disambut Indra Aziz dengan sumringah sembari mengucapkan terima kasih teriring tepuk tangan audiens. Ia kemudian menanggalkan saksofonnya lalu beratraksi vokal dalam nyanyian “Bye Bye Blackbird.”

Ketika ditanya perihal acara malam itu, Indra Lesmana menjawab singkat, “… [to be] The first ever jazz club in Jakarta,” tandasnya.

Proficiat!

Info lengkap rangkaian program Red White Jazz Lounge dapat disimak pada:
http://redwhitelounge.com/home/welcome.html

Silakan follow akun twitter Red White Jazz Lounge @RWLounge

Locafore digelar 23-25 September 2011 di Kota Baru Parahyangan

Tags: , , , , , ,


Sebuah acara yang menggabungkan seni, desain dan jazz festival akan digelar pada tanggal 23-25 September 2011 di Bale Pare, Kota Baru Parahyangan Bandung dan tidak dipungut biaya. Acara ini sebenarnya memasuki tahun penyelenggaraan kedua, namun namanya mengalami perubahan meski tetap diadakan ditempat yang sama.

Dalam tiga hari jazz festival, akan ditampilkan musisi-musisi jazz terbaik Indonesia seperti LLW, Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, Syaharani, Bubi Chen, Dira Sugandi, Benny Likumahuwa, Shadow Puppets, Sandy Winarta,  The Jongens dan lain-lain.

Pada hari Jumat, 23 September 2011 acara akan dimulai pada pukul 14.30 dengan menampilkan kelompok Starlite yang disusul dengan Newcitylife, Sister Duke. Usai adzan magrib acara akan dilanjutkan dengan menampilkan Maya Hasan The Sound of Light, Jubing Kristianto dan Lala Suwages.

Pada hari Sabtu, 24 September 2011 akan dibuka oleh Hemiola yang dilanjut dengan The Tripp, 4Sixteenth, Julian Abraham Marantika dan The Jongens. Usai adzan magrib The Musical Troops, Margie Segers, Andien dan Benny Likumahuwa serta LLW (Indra Lesmana, Barry Likumahuwa dan Sandy Winarta) akan menghangatkan suasana Malam Minggu.

Dihari ketiga Minggu, 25 September 2011 akan tampil IMDI Ensemble, Shadow Puppets Quartet, ESQI:EF Syaharani & Queenifireworks, Ade Irawan, Dira Sugandi, Bubi Chen dan Maliq & D’essentials.

Anda yang membutuhkan jadwal lengkap kegiatan selama tiga hari silakan mengklik link berikut ini.
Jadwal acara hari Jumat, Sabtu dan Minggu.

Seri Seru Peluncuran “Love Life Wisdom” (Kotamu Kapan?)

Tags: , , , , ,


Setelah membuka dengan sapaan, Indra Lesmana iseng bertanya, “Gimana rasanya dengerin jazz di Hard Rock?” Sambil senyum-senyum pikirkan jawaban, kita boleh serius coba merangkai puzzle sosok ini. Niscaya ada pojok-pojok yang didekasikannya pada grup-grup bersemangat terobosan. Debut LLW (Double L Double U) di wilayah modern cukup masuk akal menilik riwayat Reborn di tahun 2000. Asyiknya adalah, ketimbang pesta rombongan besar, paket ini datang lebih kompak sebagai trio. Dalam cetak tebal trio Indra, kita bisa sebut jelajah abstrak PIG dan hardbop akustik-etnikal Kayon sebelum LLW lahir lewat embrio jam band. Namun, LLW tumbuh tidak dalam potret generik intensitas pola jam semacam Medeski Martin & Wood (MMW), alun lirikal memecah groove berat dari baris rendah piano yang kerap simultan imbangi bass.

Morning Spirit” yang dipilih malam itu pun punya jeda santai menyamarkan trik sukar ritme menyambut solo. Porsi pertama untuk piano adalah beda dengan porsi untuk bass, bak merayakan pagi dengan dua nyawa. Barry Likumahuwa, magnet penggemar belia, memang diberi peluang seimbang untuk tampil di depan, jikapun warna bassnya sudah cukup kental mencirikan trio ini.

Di sudut lain bangun trio ini, Sandy Winarta mengawal ketat dengan permainan rapat dan kaya ragam aksen. Slot improvisasi drum “Back Into Sumthin” pun diimposisi tegas, membuat yang janggal terdengar alami.

Keseluruhan gairah live bisa didengarkan lewat rekaman bertajuk “Love Life Wisdom” yang rilis perdana secara digital via internet disambung cakram padat edisi Twitter yang bisa dibeli secara fisik sejak 10 Juli lalu. Namun, kita akan melewatkan siklus-terlahir-kembalinya klasik “Bulan di Atas Asia” ataupun versi funkReborn” (yang menghapus ingatan ekor latinnya) jika tak menonton konsernya. Belakangan bahkan Indra gandrung memboyong piano elektrik Wurlitzer vintage 70-an ketimbang Rhodes. The beast, begitu kira-kira ia sempat dijuluki Indra, ternyata jinak dan lebih anggun bunyikan harmoni. Kesempatan yang sayang pula jika terlewat adalah merasakan lenting ekspresif talk box (yang sering saru dengan vocoder) gabung solo Moog dalam tolakan gravitasi saat tajuk album diluncurkan vokal tebal Dira Sugandhi ke atmosfer lantai dansa berlabel acid jazz.

Masih haus? Dahaga urban bersilangan jalan kembali temukan oase saat tutur rap ditingkahi decit turntable dieksekusi tangguh Kyriz Boogieman dan DJ Cream pada tributeStretch N Pause” yang bernafas blues. Kali ini bagian voice adalah komplemen Indra Aziz.

***

Pentas Hard Rock Cafe adalah bagian dari peluncuran album LLW yang kali ini dituanrumahi Magnetic Brava, sebuah program yang membidik target pendengar radio Brava 103.8 FM (Brava Listeners) untuk lebih mengenal dekat stasiun favoritnya secara off air. Jadwal padat, menunggu konfirmasi, dan tuan rumah berbeda tampaknya bakal menyusulkan panggung-panggung berikutnya. Kotamu kapan?

Anasir Jazz rock yang pekat di Mostly Jazz bersama Ligro

Tags: , , , ,


Mostly Jazz bersama Ligro (Agam Hamzah, Adi Darmawan, Gusti Hendy)

Mostly Jazz bersama Ligro (Agam Hamzah, Adi Darmawan, Gusti Hendy)

Perkembangan musik Jazz di tanah air dirasakan positif oleh trio yang sebenarnya berarti Orgil – Orang Gila –  ini, memberikan semangat optimis kepada Ligro untuk terus mengembangkan kreatifitasnya. Mereka tampil pertama kali di Concert Practice yang diselenggarakan oleh Indra Lesmana dan Aksan Syjman di Art Studio Pondok Pinang. Lalu di beberapa konser seperti konser bulanan di Institut Musik Daya Jakarta, tampil di Java Jazz International Jazz Festival 2005,2006,dan 2008, Bandung Jazz Festival, Festival progresif musik Yamaha, Konser musik progresif di Institut Musik Indonesia (IMI).

Sebuah album yang menampilkan anasir jazz rock dengan pekat telah dirilis. Rekaman yang bertajuk “Ligro Dictionary I” itu dipersembahkan oleh sebuah trio bernama Ligro. Group yang terbentuk pada tahun 2004 terdiri dari Agam Hamzah (electric/acoustic guitar), Adi Darmawan (electric bass), Gusti Hendy (drum). Mereka menyebut, tujuan dari dibentuknya trio ini adalah untuk memperkaya khazanah musik Jazz Indonesia dimana pada era yang sama telah terbentuk beberapa kelompok musik jazz kontemporer seperti ; Java Jazz, simakDialog, Discuss.

Dan Ligro siap memperkaya nuansa akhir pekan anda dengan tampil di Mostly Jazz yang digagas oleh Indra Lesmana dan sang istri Honhon Lesmana. Ligro tampil di hari Minggu, 24 April 2011 mulai jam delapan malam bertempat di Red&White Lounge, Jl. Kemang Raya 16 B Jakarta Selatan.

Anda yang ingin menonton hanya cukup merogoh kocek sebesar IDR 50.000 (lima puluh ribu rupiah) dan mendapatkan gratis minuman pertama.

Selain penampilan LIGRO, seperti biasa akan ada Jam Session yang dimulai sekitar pukul 10.30 dan akan dipimpin oleh saxophonis/vokalis Indra Aziz.

 

Jack Lesmana – Merpati Putih

Tags: , , , ,


Judul Album : Merpati Putih (Kaset)
Artis : Jack Lesmana
Label : Irama Tara
Tahun Rilis : 1978

Tracklist
Side A
1. Pelangi
2. Semua Bisda Bilang
3. Merpati Putih
4. Luka
5. Dari Lubuk Hati
6. Tidurlah Intan
7. Khayalanku

Side B
1. Bintang dan Bunga
2. Anamacore
3. The Hungry Years
4. My Cherie Amour
5. Bluesette
6. Emotion.

Dari paruh hingga akhir era 70-an Jack Lesmana termasuk produktif dalam merilis album-album jazz. Salah satunya adalah album “Merpati Putih” yang juga diberi tajuk “Instrumental Hits”. Mungkin karena album ini memang berupaya menata ulang serangkaian lagu-lagu hits pada berbagai era. Setidaknya dua lagu karya Eros Djarot dan Debby Nasution dari album soundtrack film ”Badai Pasti Berlalu” dihadirkan di album yang menyertakan Oele Pattiselanno (gitar), Alex Faraknimella (keyboards), Karim Suweileh (drums), Perry Pattiselanno (bass) dan Indra Lesmana yang baru berusia 12 tahun pada keyboards. Jack Lesmana sendiri selain bermain gitar juga menulis seluruh arransemen lagu di album ini.

Lagu lagu yang dikemas di album ini beratmosfer music lounge yang renyah. Tidak rumit dan terasa lebih mengalir. Pilihan terbanyak adalah menyelimutkan lagu-lagu di album ini dengan atmosfer bossanova seperti yang terdengar pada lagu The Mercy’s “Semua Bisa Bilang” (ciptaan Charles Hutagalung). 3 tahun sebelumnya lagu ini pernah dipopulerkan kembali dengan balutan jazz oleh Margie Segers lewat musik yang ditata pula oleh Jack Lesmana.

Simak pula sebuah lullaby yang melenakan lewat karya Soetedjo ”Tidurlah Intan” yang menampilkan duet gitar antara Jack Lesmana dan Oele Pattiselanno.

Tak ketinggalan Jack Lesmana kembali menyodorkan beberapa lagu karyanya di era 60-an seperti “Luka”,”Bintang dan Bunga” serta “Dari Lubuk Hati”. Indra Lesmana bahkan diberi kesempatan membawakan karya ciptanya bertajuk “Khayalanku”, sebuah komposisi yang lugas dan menarik . Bakat Indra sebagai player dan composer memang sudah terendus disini.

Sayangnya beberapa lagu lagu asing yang dimainkan di album ini justeru tak dicantumkan nama komposernya seperti “Bluesette”, ”Emotion”, ”My Cherrie Amour” hingga “The Hungry Years”.

Jika ingin menelusuri perjalanan musik jazz di era lampau, album ini patut disimak. Disayangkan album ini ternyata sangat sulit untuk didapatkan sekarang ini. Kebanyakan sudah menjadi milik para kolektor. Patut disayangkan memang.

Mostly Jazz IV tampilkan Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, Sandy Winarta

Tags: , , , , ,


Indra Lesmana memang memiliki talenta luar biasa. Setelah merilis album Java Jazz – JOY JOY JOY bersama Dewa Budjana, Donny Suhendra, Gilang Ramadhan dan Ananda Mates, kini bersiaplah menanti album terbaru dari Trio LLW yang mengambil nama belakang dari masing-masing personil yaitu Indra Lesmana, Barry Likumahuwa dan Sandy Winarta.

Penampilan LLW dapat anda nikmati Minggu, 9 Januari 2010 mulai pukul delapan malam wib bertempat di Red and White Lounge, Jl Kemang raya 16 B Jakarta Selatan dengan first drink charge sebesar IDR 50.000,- Selain LLW, bakal tampil pula penyanyi Dira Sugandi, DJ Cream, saxophonis Indra Aziz dan musisi lainnya. Anda yang tertarik menonton dan ingin memesan tempat silakan menghubungi +62 21 71792252.

Kegiatan Mostly Jazz memang sudah beberapa kali dilakukan. Sebuah inisiatif dari pergerakan Indonesian Jazz Movement yang digagas Indra Lesmana dan sang istri Honhon Lesmana. Kegiatan Mostly Jazz di adakah pertama kali 21 April 2010 lalu.

Putra mendiang gitaris kesohor Jack Lesmana ini memang memiliki pesona panggung luar biasa maupun kemampuan menciptakan karya dengan ide dan skill yang melampaui kebanyakan musisi-musisi Indonesia. Jadi tak heran kalau Trio besutannya ini bakal menjadi salah satu penampil yang ditunggu-tunggu di Java Jazz Festival 2011 mendatang.

Sementara bassis Barry Likumahuwa dan drummer Sandy Winarta adalah dua musisi muda yang bersinar karirnya dalam blantika Jazz Indonesia.

Drummer Sandy Winarta pernah menjadi drummer Dwiki Dharmawan, Trisum, Nita Aartsen, dan lain-lain. Sementara Barry yang juga putra trombonis kawakan Benny Likumahuwa merupakan bassis yang energik. Lewat kelompok BLP, demikian nama grup yang diusungnya, mereka langganan event jazz bahkan ke pensi-pensi yang kerap diadakan di sekolah.

Monita Tahalea – Dream, Hope & Faith

Tags: , , , ,


Album: Dream, Hope & Faith
Label : Inline Music/Demajors, 2010

1. Kisah Yang Indah
2. Ingatlah
3. Over the Rainbow
4. I Love You
5. Senja
6. God Bless the Child
7. Hope
8. Di Batas Mimpi

Monita - Dream, Hope & Faith

Monita - Dream, Hope & Faith

Biduan remaja bernama lengkap Monita Angelica Maharani Tahalea (Monita Tahalea, Monita, Momon) memang dikenal publik lewat kiprahnya dalam ajang Indonesian Idol kedua, sekitar lima tahun lalu. Waktu itu vokalnya sudah menunjukkan karakter jazzy, meskipun masih terasa nanggung dan gamang. Contohnya pada daur-ulang lagu “Keliru” milik Ruth Sahanaya dalam album Seri Cinta oleh Finalis Indonesian Idol 2 (Sony Indonesia, 2005). Entah kebetulan atau bukan, kala itu adalah Indra Lesmana selaku juri – sekarang menjadi produser dan penata musik album debut Monita bertajuk Dream, Hope & Faith. Pada album ini kentara bahwa Monita semakin dewasa mengolah vokal, dan beruntung ia mendapat dukungan musisi-musisi berpengalaman sehingga dirinya mampu tampil maksimal.

Hal pertama yang menarik adalah pada kemasan fisik album ini, bentuknya mirip sebuah undangan berhias senyum siput Monita. Bookletnya seukuran kertas A3 terlipat enam sama sisi, tercantum lengkap informasi dan lirik seluruh lagu yang total berjumlah delapan. Peran Indra Lesmana patut diacungi jempol, garapan musik di album ini terasa halus serta pas dengan suara Monita yang manis dan menyejukkan. Monita turut ambil bagian menulis lirik, simak pada trek pembuka “Kisah Yang Indah”, juga “Senja”, dan “Hope”. Dewa Budjana menyumbang permainan gitar akustik dalam nomor berirama catchy, “Ingatlah” sedangkan Aksan Sjuman memukul drum dengan santai pada tembang “I Love You” dan lagu pertama.

Penggemar jazz bolehlah menyimak interpretasi naratif pada komposisi “Over the Rainbow” karangan Harold Arlen/ E.G. Harburg serta “God Bless the Child”, besutan Arthur Herzog, Jr. dan Billie Holiday, salah satu figur panutan Monita. Meskipun kedua lagu tersebut sering dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi, namun Monita berhasil memberi sentuhan personal. Bait demi bait mengalun lembut penuh makna. Terima kasih untuk jentikan gitar Oele Pattiselanno yang juga ikut “bernyanyi” liris.

Dream, Hope & Faith adalah langkah awal yang cukup baik untuk Monita, ia bernyanyi sesuai kapasitasnya, tanpa perlu “gimnastik vokal” ataupun scat singing asal-asalan yang sering ditemui pada banyak penyanyi jazz(?) dalam negeri – dalam bahasa gaul: lebay. Lewat album ini, keindahan justru ditunjukkan dalam kesederhanaan. Manis!

Musisi pendukung

Indra Lesmana (kibor, programming)
Oele Pattiselanno, Dewa Budjana, Bernie (gitar)
Donny Sundjoyo (kontrabas)
Aksan Sjuman (drum)
Eki Puradireja (lirik untuk lagu “Di Batas Mimpi”)

JavaJazz Joy Joy Joy kini tersedia di WartaJazz

Tags: , , , , , , ,


javajazz-joyjoyjoy
Cover album JavaJazz – Joy Joy Joy

Buat anda yang menanti kehadiran Java Jazz selama kurang lebih 11 tahun, kini dapat memuaskan diri dengan album terbaru “Joy Joy Joy” yang dipaket dalam dua buat keping CD sekaligus.

Formasi Java Jazz sepeninggal almarhum Embong Rahardjo dalam album bersampul cantik ini – sebuah gambar dari lukisan karya pelukis asal Jogjakarta, Erica Hestu Wahyuni – adalah Indra Lesmana (keyboards, grand piano), Dewa Budjana (guitar), Gilang Ramadhan (drums), Donny Suhendra (guitar), dan Ananda Mates (bass).

CD yang diproduksi oleh Inline Music dan dipatok dengan harga jual IDR 100.000,- sudah dapat dipesan lewat WartaJazz CD Store.

Tinggal kirimkan Nama Lengkap dan Alamat pengiriman beserta nomor handphone ke email sales@wartajazz.net dengan Subject Pembelian CD JavaJazz – Joy Joy Joy, atau dapat pula mengisi form yang tersedia dibagian bawah halaman ini.

***

Di album Java Jazz terbaru ini, Indra dan kawan-kawan menjanjikan nostalgia bagi para diehard JavaJazz dengan sekaligus menyuntikkan kesegaran lewat cita suara baru. CD pertama memuat semua materi baru sementara CD kedua memuat karya-karya lama yang menjadi jembatan bagi penggemar baru yang mungkin belum sempat berkenalanan dengan JavaJazz.

Meski tanpa sang saxophonis, “Embong masih bersama JavaJazz dalam spirit,” ungkap Indra. Posisi Dewa Budjana memang tidak dimaksudkan sebagai pengganti, namun setidaknya permainan membangun nafas baru.

Album ini direkam di Inline Studio Jakarta (2009) dan Kantong Studio (1998) terkecuali lagu Crystal Sky yang direkam live oleh Larry Mah at Mad Hatter Studio, Los Angeles (1991). Penulis Jazz kawakan, wartawan Kompas Frans Sartono, menulis linear notesnya.

CD yang pertama berisikan 6 buah lagu hasil rekaman terbaru dari JavaJazz yakni : Exit Permit, Border Line, I Wish, Joy Joy, Joy, Going Home ( dedicated to Embong Rahardjo ) dan Java!s Weather ( dedicated to Joe Zawinul ). CD yang kedua berisikan 6 buah lagu yang merupakan kumpulan beberapa rekaman yang pernah beredar sebelumnya yakni : The Seeker, Lembah, Bulan Di Atas Asia, Violation, Drama, Crystal Sky.

javajazz-joyjoyjoy-insideYang menarik dalam booklet yang disertakan dalam packaging yang agak berbeda dengan cd-cd jazz Indonesia yang kebanyakan dirilis dipasaran, masing-masing personil mengomentari satu sama lain, sehingga setidaknya para penggemar JavaJazz dapat mengetahui apa yang ada dibenak masing-masing personil.

***

Cara Pemesanan Merchandise Wartajazz.com

  1. Kirimkan pesanan anda lewat email ke sales@wartajazz.net dengan subject “Pembelian CD JavaJazz – Joy Joy Joy”
  2. Jangan lupa menyertakan Nama Lengkap dan Alamat pengiriman barang.
  3. Untuk Biaya pengirimanJakarta & Depok dikenakan biaya kirim Rp. 15.000,-,
    Pulau Jawa Rp 25.000
    Pulau Kalimantan Rp 35.000
    Kota lain mohon konfirmasi dengan Redaksi.
  4. Pembayaran dapat dilakukan transfer via ATM BCA ke rekening 627-006-3339 a.n Agus SB atau menggunakan internet Banking KlikBCA.com

    atau dapat pula menggunakan form pemesanan berikut:

Kilas Balik JavaJazz: Bulan di Asia

Tags: ,


Indra Lesmana JavaJazz - Bulan di Asia (double cassettes)

Indra Lesmana JavaJazz - Bulan di Asia

Bulan di Asia (Boulevard/Jamz – 1994)

1. Bulan di Asia
2. Lembah
3. Mataharimu
4. The Seeker
5. Drama
6. I Wish
7. Crystal Sky
8. Mencari Yang Tiada
9. Home Sweet Home
10. Kehidupan

“Bulan di Asia” (judul asli album pertama yang terlanjur populer sebagai “Bulan di Atas Asia”) adalah masterpiece, rohnya selalu siap untuk terjaga kembali dalam nafas baru setiap kalinya. Pesona melodi piccolo mendiang Embong Rahardjo mengabadikan komposisi ini sebagai signature JavaJazz. Indra Lesmana memang ingin mewujudkan konsep mengoleksi laras pentatonik berbagai belahan Asia. Dalam rekaman pertamanya, tiupan piccolo Embong diimbuhi banjo (terdengar seperti kecapi Gu Qin) yang mengentalkan nuansa mandarin. Tiongkok berbagi dengan Sunda, sementara dengan adil, kesan kotekan Bali mengiringi langkah penari juga tertangkap saat Indra memblok piano untuk ulangan terakhir fragmen pentatonik tersebut.

Gendang-gendut perkusi Ron Reeves menggenapi detil “Bulan di Asia” versi awal ini. Lanskap solo dihamparkan dengan memainkan nyala-redupnya iringan di atas ritme ride-cymbal rapat, berlapis, bersilang-denyut dari kedua tangan bebas Cendi Luntungan. Drummer akrobatik ini memang tak bakal menemui kesulitan mengeksekusi pola beraksen intensif seperti itu yang juga terdengar pada nomer-nomer lainnya. Namun, saat lagu ini beroleh kesempatan kedua (album “Sabda Prana” – 1998), kualitas seorang Gilang Ramadhan sukses mempertajam genderang tom-tom (yang sama-sama membantu mencirikan lagu ini) ke dalam gagasan akan tetabuhan suku-suku primordial. Selain dua drummer, dua gitaris juga pernah diberi kesempatan memberi nafas komposisi ini. Kesempatan pertama diambil solo elektrik Dewa Budjana. Donny Suhendra menyusul berikutnya secara akustik tetapi tidak pada ruang yang sama, bahkan pada bridge yang sama sekali baru untuk lagu yang telah menjadi di-atas-Asia pada 1998.

Dalam “The Seeker”, tiupan flute Embong meramu lompatan intervalik yang menggugah nyala riang pendengarnya, sementara Indra menyajikan permainan bergelombang seperti yang ditemukan juga dalam “Matahari” yang dibuka getar didgeridoo. Agaknya voicing bertema big-sound semacam itu menjadi pilihan yang dominan pada diskografi perdana JavaJazz ini. Coba tengok saja “Mencari Yang Tiada“, yang menyisipkan narasi musikal Indra Lesmana dalam bunyi sintetik bercita berat, ataupun persembahan epik untuk Jack Lesmana dalam himne “Crystal Sky”.

Kontribusi Ron Reeves dalam JavaJazz sangat masuk akal mengingat pertalian keduanya (Ron dan Indra) pada periode itu di kelompok gamelan (plus pemain jazz), Warogus, yang kemudian bertransformasi menjadi Earth Music dan merilis “Metamorfosa” (1998). Sementara itu, pilihan Jeffrey Tahalele (bass akustik) dalam karakter peritme yang low-profile pas menyeimbangkan simetri gemintang personil-personil grup ini.

Watak Budjana di rekaman ini diwakili oleh solo “keluar-tempo” pada swing “I Wish”, lengkap dengan manipulasi ekspresi volume dan lekak-lekuk fals tremolo. Aroma progresif dan free seperti penggalan tadi malah direproduksi secara kolektif pada “Drama”. Di situ, Budjana segera dihadang alto Embong dan piano Indra yang menjaga trek. Walaupun begitu, permainan balada cantik maupun jurus bebop tetap hadir simultan di album double-cassettes ini seperti halnya diperagakan anggota JavaJazz lainnya secara seimbang. Karena jazz, musik tradisi Amerika, adalah rumah mereka sebagaimana “Home Sweet Home” mendeskripsikan hangat dan nyamannya berbahasa ibu (jazz klasik).


The outer space beings are my brothers. They sent me here. They already know my music. — Sun Ra


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<