Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "indro hardjodikoro"

Buzz Bros Band buai Jakarta lewat alunan “Burung Kakatua”

Tags: , , , , , ,


Liputan konser Buzz Bros Band, Erasmus Huis Jakarta, 17 Desember 2011

Setelah tampil lebih dulu di Surabaya dan Yogyakarta, Sabtu malam (17/11) akhirnya grup asal Belanda, Buzz Bros Band (BBB) sambangi ibukota. Pertunjukan digelar pada pelataran Erasmus Huis, di luar ruangan, tidak seperti biasanya yang bertempat di Auditorium. Angin malam ketika itu berhembus cukup kencang, menghiasi penampilan BBB yang menyertakan aransemen lagu “Burung Kakatua” yang melenakan.

The Fingers

The Fingers

Indro Hardjodikoro dan Fajar Adi Nugroho (The Fingers)

Indro Hardjodikoro dan Fajar Adi Nugroho (The Fingers)

Mendahului BBB adalah band tanah air, The Fingers, didaulat sebagai opening act. Grup yang digawangi dua basis, Indro Hardjodikoro dan Fajar Adi Nugroho, serta kibordis Andy Gomez dan drummer belia Yandi Andaputra. Nama “The Fingers” cocok untuk menggambarkan kelompok ini, dengan sajian lihai jemari penuh energi dalam balutan jazz-funk-rock nan kompleks.

The Fingers berhasil hangatkan suasana oleh komposisi semisal garapan “Ochi Chernye” yang dikenal sebagai “Panon Hideung,” “Slip Sometimes,” yang menurut penuturan Indro, “komposisi ini susah banget untuk dimainkan, pas latihan sering selip, makanya dikasih judul slip sometimes,” candanya. Atraksi berlanjut dengan “Drum n Bass” lalu diakhiri sebuah encore bertajuk “Titik Awal.”

Manix Busstra (Buzz Bros Band)

Manix Busstra (Buzz Bros Band)

Lepas jeda 15 menit, panggung mulai berbunyi oleh tampilnya BBB, grup yang dibentuk tahun 2001 oleh dua Busstra bersaudara – dengan moniker “Buzz Brothers” – yaitu Manix Busstra (gitar) dan Berthil Busstra (piano, kibor). Selain Manix dan Berthil, didukung pula oleh Thomas Pol (bas), dan Chris Strik (drum). Musiknya eklektik, paduan jazz fusion elektro-akustik, yang kerap bergoyang funk atau sendu irama ballad.

Buzz Bros Band

Buzz Bros Band

Audiens

Audiens

Malam itu Buzz Bros sajikan nomor “Buzz Battle,” “White Valley,” juga “Authentic Turtle.” Namun highlight penampilan mereka terdapat pada alunan “Burung Kakatua,” tema utama dibawakan oleh petikan bas dengan halus, kemudian disambut pemain lainnya hingga terdengar seperti ingin meninabobokan audiens. Konser pun berakhir lewat komposisi penutup “Well Done.”

Riot: Funk, Heavy Metal, dan Tohpati Bertiga

Tags: , ,


Tohpati Bertiga - Riot (2011) CD Cover

Tohpati Bertiga - Riot (2011)

Belum lama berselang seorang rekan terhenyak menyaksikan segerombolan remaja belasan tahun menenteng masing-masing lima laptop melintasi Croydon; sebuah adegan singkat penjarahan dari rentetan London Riot. Terpengaruh latar belakang, banyak yang salah menduga tentang potensi rusuh kumpulan orang dan skalanya. Lalu pembicaraan melenceng: jika konon seseorang adalah gitaris jazz, tertangkap kamera menahan riff berat dengan telapak tangannya dalam distorsi kasar, maka mewujudkannya sebagai proyek rekaman dengan drummer “anarkis” adalah cikal buyarnya semua praduga yang kemudian terbukti salah. Video yang diunggah dua tahun silam itu, kini berjudul “Upload“, mewakili daya “rusuh” album “Riot” (Tohpati Bertiga, 2011). Namun, dasar musisi bertanggung jawab, liarnya heavy metal pun harus tetap rapi dengan konsisten bermain bersih dalam suara cadas sekalipun, terlebih ini adalah pengambilan live yang merangkum semua atmosfer termasuk komentar-komentar usil para personil.

Sebenarnya tidak ada yang salah soal profil rock Tohpati Ario Hutomo di sini, jauh ke belakang ia juga membawakan lagu-lagu Led Zeppelin. Bahkan mungkin sebagai tribute, segmen ke tiga “Rock Camp“, semacam semester pendek rock di musim panas, yang membuka rilis ini diambil dari potongan “Immigrant Song” lengkap dengan ciri lengking ratapan Robert Plant (vokalis Led Zeppelin) dalam permainan gitar di atas ciri lainnya, ulangan riff gitar patah-patah. Nomer pembuka ini memang punya setidaknya tiga bagian progresif dengan bagian ke dua di tengahnya adalah rock and roll ceria, two beat dengan strumming khas yang populer di masa itu.

Adalah drummer Aditya Wibowo (Bowie), simpul-yang-hilang bagi senyawa rock ini. Saat pentas di Java Jazz Festival 2011 lalu ia sempat merendah dengan menyebut bahwa dirinya minder menjadi drummer Tohpati setelah nama-nama seperti Demas Narawangsa dan Echa Soemantri. Nyatanya komposisi semacam “Bertiga” menjadi utuh berkat perannya memperkaya ritme. Berpasangan dengan pemain sesi senior Indro Hardjodikoro, sohib Tohpati sejak awak karir, denyut funk dominan di album kelompok yang notabene mengandalkan hanya tiga kepala ini sukses dihantarkan. Hentak janggal “Middle East” hingga kontrasnya kontemplasi “Lost In Space” dengan banyak ruang kosong tak membuatnya kalah dari tuntutan, dua seniornya pun bisa diimbangi. Bicara “Riot“, bukankan rusuh pun urung meledak tanpa provokator?

Inilah daftar musisi (Jazz) Indonesia yang bakal tampil di Axis Java Jazz Festival 2011

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Axis Java Jazz Festival 2011

Axis Java Jazz Festival 2011

Apakah anda sudah mengantongi tiket pertunjukan Axis Jakarta International Java Jazz Festival 2011 yang akan digelar 4-5 Maret 2011 mendatang?. Kalau belum, masih ada kesempatan untuk mendapatkan tiket tersebut, plus beberapa pilihan spesial shows yang menarik bersama Santana, George Benson atau Kenny Loggins.

Berikut ini daftar paling update untuk musisi Jazz Indonesia yang bakal tampil di Java Jazz Festival 2011:

  • Abdul and The Coffee Theory
  • Ade & Brothers
  • Andien
  • Barry Likumahuwa Project
  • Benny Likumahuwa & Young Jazz Connection
  • Benny Mustafa
  • Bonita & The Husband
  • Bubi Chen Plays Pop
  • C-Man
  • Calvin Jeremy
  • Chairul Umam Quintet
  • David Manuhutu
  • Dira J. Sugandi
  • Donny Suhendra
  • Drew
  • Dwiki Dharmawan & Angklung Jazz Ensemble
  • Ello
  • Endah N Rhesa
  • Esqi:EF Feat Syaharani and The Queenfireworks
  • Farrah Di Bigband
  • Four On The Floor
  • Fraya
  • Gigi Big Band
  • Glen Dauna feat. Farrah Di
  • Glenn Fredly
  • Idang Rasjidi
  • Imam Pras Quartet
  • Indonesia Nu Progressive tribute to Harry Roesli
  • Indonesian Youth Regeneration
  • Indra Aryadi
  • Indra Aziz Quintet
  • Indro Hardjodikoro
  • Iwan Abdie
  • Iwan Hasan’s Chamber Jazz feat. Andien, Enggar, Metta
  • Jaya Suprana
  • Jopie Item
  • Kahitna
  • Kirana Big Band
  • Maliq & D’Essentials
  • Manna Band
  • Marcell
  • Mian Tiara & D’Organics
  • Minangapentagong Sawahlunto
  • Nial Djuliarso: The Jazz Soul of Ismail Marzuki
  • Nikita Dompas & His Fellow Musicians
  • Notturno
  • Oele Pattiselano
  • Pandji Pragiwaksono
  • Pitoelas Bigband
  • Raisa
  • RAN
  • Sandhy Sondoro
  • Sandy Winarta Quartet
  • Shadow Puppet
  • Simak Dialog
  • Sketsa
  • Soulvibe
  • Spero
  • The Groove Reunion
  • The Husband & Wife feat. Endah N Rhesa
  • The Jongens Jazz Quartet
  • The Police Project by Margo Rising
  • Tohpati Bertiga
  • Tribute to Elfa S. feat. Elfa’s Singers, Harvey Malaiholo, Andien
  • W/H/A/T Quartet
  • Zarro

Beberapa nama yang mesti mendapat perhatian antara lain WHAT Quartet, The Jongens Jazz Quartet, Shadow Puppet, karena kelompok ini para musisi Jazz Indonesia yang belakangan namanya mulai mencuri perhatian.

Selain itu tentu saja ada sejumlah nama seperti Tohpati Bertiga yang tak lain adalah Tohpati Ario Hutomo, Indro Hardjodikoro dan drummer Gugun Blues Shelter, Bowo yang memulai proyeknya di Ngayogjazz.

Dira Sugandhi tentang album Something about the Girl

Tags: , , , , , , , , , , , ,


Cover album Dira Sugandhi - Something about the Girl

Cover album Dira Sugandhi - Something about the Girl

Dira Sugandhi, mojang asal Bandung ini memukau pecinta musik (Jazz) Indonesia karena penampilannya bersama Bluey dan Incognito-nya beberapa tahun lalu. Kini bekerjasama dengan musisi asal Inggris itu ia meluncurkan Dira – Something about the Girl. WartaJazz mewawancarai seputar album perdananya tersebut. Berikut petikannya:

WartaJazz (WJ): Apa konsep album Something about the Girl?

Dira Sugandhi (DS): Konsepnya ya Dira…judulnya juga kan Something About The Girl (SATG) :)

WJ: Jadi Dira banget gitu?
Dira Sugandhi:Bukan Dira banget…tapi maksudnya sifatnya personal semua lagu yang ada di album Something About The Girl kecuali yang covers khusus ditulis untuk saya based on my personal experience.
WartaJazz: Gimana prosesnya?
Dira Sugandhi: Prosesnya cukup panjang dan seru karena bolak balik London-Jakarta-Bandung-Bali-London :) . Aku ke London 2x, Bluey ke Jakarta 2x sisanya kita bareng ke Bandung dan Bali utk rekaman lagu Kami Cinta Indonesia cipt Alm Harry Roesli. Ya kurang lebih 2 tahunan.
WartaJazz: Koq cukup lama baru masuk pasar Indonesia?
Dira Sugandhi: Butuh proses untuk mencari label di sini, mentransfer semua data dari Inggris ke Indonesia, dan menyesuaikan artwork album. Menunggu moment yang tepat juga siih…
WartaJazz: Gimana ceritanya bisa kerja bareng dg Bluey (Pentolan Incognito – red)?
Dira Sugandhi:Aku kenal Bluey udah lama dari tahun 2001. Butuh proses sampai akhirnya dia memproduseri albumku. It all started from friendship. Kita juga nunggu sampe aku beres kuliah.
WartaJazz: Ada dua lagu berbahasa Indonesia. Bisa diceritakan soal itu?
Dira Sugandhi: Untuk yang beredar di Indonesia ada 2 lagu Indonesia: Kami Cinta Indonesia cipt Alm Harry Roesli, almarhum sahabat papa saya hubungan keluarga kami sangat dekat. Sebelum dia meninggal dia pernah suruh saya pilih lagu almarhum, pilihan saya jatuh pada lagu itu. Lalu Kucemburu cipt Rieka Roslan, lagu itu khusus Teh Rieka ciptain buat saya based on my personal experience
WartaJazz: Apa ada lagu yg diselipkan untuk pasar internasional? Beredar dimana aja sih?
Dira Sugandhi: Untuk pasar international cuma ada 11 tracks ga ada lagu berbahasa Indonesia. Di UK dan Jepang. Sementara [publik] di Amerika sama Eropa masih imported

WartaJazz: Gmn rasanya menjadi next ‘big thing’ setelah Jocelyn dan Maysa Leak?
Dira Sugandhi: Wow! The next ‘big thing’ terdengar berat yah! Yang pasti aku selalu bersyukur akan apa yg aku dapatkan dalam hidup dgn berusaha menjadi lebih baik lagi…it is a total bless to be able to work with Bluey and all other great musicians!

Agus Setiawan Basuni: Di album ini track mana yg paling spesial menurutmu?
Dira Sugandhi: Semua punya arti sendiri buat aku, tp Inside Love liriknya sangat dalam setiap aku menyanyikan lagu itu aku selalu ingat Bluey and how close we are, juga ingat akan perjalanan suka duka yang telah kita lewati bersama dlm proses pembuatan album SATG
Sama lagu Kami Cinta Indonesia…I’m very proud of the song and the arrangement. Setiap orang yang denger pasti muji termasuk musisi-musisi di luar. Also reminds me a lot of Harry Roesli dan keadaan negara [ini, red]

Agus Setiawan Basuni: Gimana kamu mendeskripsikan Dira ?
Dira Sugandhi:  I’m very passionate about life…and I’m also a very determined person. I have ambitions but I’m not ambitious, I just go with the flow. Everything I do, I do it with love and passion.

Agus Setiawan Basuni: Are you romantic type of person?
Neng Dira: I’m desperately romantic!!

Agus Setiawan Basuni: Balik soal album SATG. Siapa aja yang bermain di album ini?
Dira Sugandhi: Untuk musisi luar ada Matthew Cooper, Jim Mullen, Ski Oakenfull, Richard Bull, Randy Hope-Taylor, Karl Vandenbosche, Incognito brass section: Sid Gauld, Trevor Mires, Finn Peters, London strings conducted by Simon Hale and of course Bluey!. Untuk musisi dalam ada Tohpati, Indro Hardjodikoro, Barry Likumahuwa, Imam Pras, Ari dan Rudi ‘Aru, Rio Sidik, backing vocals: Mila, Bowo dan Ade ‘Soulmate’ .
Oh dan ada track duet sama Omar Lyefook di lagu ‘Let’s Go Back’

WartaJazz: Dira sekolah dimana?
Neng Dira: S1 Musik majoring Vocal Performance, di Universitas Pelita Harapan
WartaJazz: Musik seperti apa yang Dira suka dengerin dari kecil?
Dira Sugandhi: Mama Papa suka nyetel Stevie Wonder, Earth Wind And Fire, Frank Sinatra, Nat King Cole dan Michael Jackson.
WartaJazz: Waktu menggarap album apakah ada tantangan yang dihadapi?
Dira Sugandhi: Banyak karena aku arrange semua sendiri spt studio, booking musisi, akomodasi dan transportasi utk bluey dll. Sama waktu pertama kali take vocal di studio besar agak susah dapetin emosinya…tp untungnya Bluey sabar sekali

WartaJazz:  Emang ada bedanya dengan studio kecil?
Dira Sugandhi: Ya jelas dr ukurannya saja udah beda…hehe…
Sebelum2nya saya hanya suka mengisi di home studio itupun utk proyek orang lain sbg featuring saja

WartaJazz:  Maksudnya dari sisi teknis? Atau hal lain? Yg bikin jadi susah?
Dira Sugandhi: Tp ini kan buat album sendiri di studio professional yg ukurannya sangat besar. Otomatis pressure itu pasti ada

WartaJazz:  Jd semacam stage fever tp distudio gt?
Dira Sugandhi: Yep

WartaJazz: Waktu kerja bareng dengan Bluey ada ekspektasi ga sih? Bakal gini gitu?
Dira Sugandhi: Adaa… pastinya bakal seru, dan memang seru! Aku banyak dapat pelajaran berharga dr dia bukan ttg musik saja tp juga ttg kehidupan.

WartaJazz: Kita bicara soal lain. Dira terlibat dengan Dwiki WPO dan sekarang ikutan juga di LLW [Indra Lesmana, Barry Likumahuwa & Sandy Winarta red) ?
Dira Sugandhi: Iya betul

WartaJazz: Sejauh apa keterlibatannya pada dua proyek tsb?
Dira Sugandhi: Hanya sebagai featured singer saja

WartaJazz: Selain itu apa ada proyek lain?
Dira Sugandhi: Sekarang lagi persiapan untuk peform di Konser Masterpiece Erwin Gutawa tgl 26 Februari dan bermain di Musikal Laskar Pelangi.

Ngayogjazz akhirnya digelar 15 Januari 2011

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Dalam mengekspresikan semangat berkumpul dan bekerja sama, orang jawa mempunyai ungkapan : Mangan ora mangan waton kumpul. Makan atau tidak, tetap saja bisa berkumpul (rukun). Inilah yang di adopsi oleh panitia ngayogjazz yang bergeser penyelenggaraannya di tahun 2011 karena adanya musibah meletusnya gunung Merapi yang hingga kini masih membuat tanggap darurat masih menjadi status buat kota-kota disekitar Merapi seperti Yogyakarta.

Ungkapan Ngayogjazz  menjadi “Mangan Ora Mangan….Ngejazz”. Sebuah ungkapan yang di maknai bahwa solidaritas bisa terwujud tanpa ikatan atau persoalan material (mangan). Bahkan semangat ini semakin terbukti ketika masa sulit sedang datang.

Inilah Jazz. Sebuah cara memainkan musik dengan asyik, spontan, interaktif, dan ekspresif. Hampir tanpa batas. Siapapun; alat musik apapun; dimanapun; kapanpun. Bahkan, dalam suasana apapun, karena jazz lahir juga karena sebuah keadaan sosial yang direspon dengan permainan-permainan musik. Jazz lahir untuk melepaskan kepenatan keadaan di Amerika Serikat pada suatu masa oleh orang-orang keturunan Afrika. Kini cara permainan musik itu telah meluas ke seluruh dunia dan melibatkan lebih banyak orang ; lebih beragam alat musik dan lebih bermacam unsur kebudayaan, sebanyak ragam kesenian, bunyi di bumi ini. Inilah Jazz!

Keriuhan Jazz itu akan dihibur dengan para penampil yang siap hadir pada tanggal 15 Januari 2011. Mereka adalah ESQI:EF aka Syaharani & Queenfireworks, Glenn Fredly, Iga Mawarni, simakDialog (Tohpati, Riza Arshad, dan kawan-kawan), Chaseiro (Chandra Darusman, Helmie Indrakusuma, Aswin Sastrowardoyo, Edie hudiro, Irwan Indrakesuma, Omen Sonisontani), Gugun Blues Shelter, Tohpati Bertiga (Tohpati, Indro Hardjodikoro, Bowie), Sujud Kendhang & Kesenian Tradisional plus Komunitas Jazz Jogja, Komunitas Jazz Bali dan Komunitas Jazz Ngisor Ringin, Semarang.

Acara di gelar di Pelataran Djoko Pekik, Desa Sembungan, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai dari jam 2 siang hingga dua belas malam pada hari Sabtu Pon tanggal 15 Januari 2011.

Dalam kesempatan Ngayogjazz kali ini akan di Launching Album Kompilasi Komunitas Jazz Jogja – Ngayogjazz yang kedua dengan Konsep Album : Sesarengan plus tentu saja Pasar Jazz dan Festival Foto Ngayogjazz (Pameran dan Pojok Foto).

Anda tertarik?, bersiaplah mengontak agen perjalanan anda. Tak perlu membeli tiket pertunjukan, karena acara berlangsung gratis.

Tohpati Ethnomission Save the Planet dirilis di Amerika Serikat

Tags: , , , , ,


Tohpati Ethnomission – Save The Planet

Semenjak album simakDialog – Patahan dan Demi Masa dirilis oleh Moonjune Records yang berbasis di New York, Amerika Serikat maka sepertinya jalan terbuka mulus bagi kelompok lain seperti Tohpati Ethnomission. Walaupun Tohpati sebenarnya bukan “orang lain” karena ia juga adalah gitaris simakDialog – kelompok yang digagasnya bersama Riza Arshad.

Leonardo Pavkovic sang pemilik label yang pernah ditemui oleh WartaJazz beberapa tahun silam mengirimkan rilisan MoonJune seraya membubuhkan keterangan bahwa album Tohpati Ethnomission – Save the Planet versi mereka berbeda.

Sepintas jika anda mengamati covernya memang tidak ada perbedaan dengan yang didistribusikan oleh demajors untuk pasar Indonesia. Namun kalau ditelaah lebih dalam dari susunan lagu, terlihat perbedaannya. Begitupula gambar pada cakram padatnya yang memperlihatkan siluet hutan – berkesesuaian dengan titelnya Save the Planet.

Berikut ini daftar track yang termuat dalam album Tohpati Ethnomission – Save The Planet rilisan MoonJune Records:
1. Selamatkan Bumi (Save The Planet) 9:07
2. Bedhaya Ketawang (Sacred Dance) 8:31
3. Drama 1:47
4. Ethno Funk 8:38
5. Gegunungan (Gateway Of Life) 2:56
6. Hutan Hujan (Rain Forest) 8:42
7. Biarkan Burung Bernyanyi (Let The Birds Sing) 7:27
8. Inspirasi Baru (New Inspiration) 4:13
9. Perang Tanding (Battle Between Good & Evil) 8:16
10. Pesta Rakyat (Festive People) 5:10
11. Amarah (Anger) 2:34

Lagu bertitel Amarah merupakan track yang berbeda dalam album ini. Tembang East West pada rilisan Indonesia tidak disertakan. Diakui oleh Bontot alias Tohpati saat dihubungi WartaJazz Sabtu malam (21/08) bahwa lagu East West memang dirasakan paling ‘ringan’ jika dibandingkan dengan komposisi lain dan Leonardo sepertinya juga mengamini hal itu.

Tohpati Ethnomission terdiri dari gitaris Tohpati, bassis Indro Hardjodikoro, Demas Narawangsa (drums), Endang Ramdan (kendang), Diki Suwarjiki (suling). Penyanyi pada Bedhaya Ketawang adalah Lestari.

Jika kita menelaah album ini maka akan mendapati sejumlah pengaruh mulai dari Terje Rypdal, John McLaughlin, Robert Fripp sampai King Crimson. Album ini dibandrol $14 untuk pasar US/Canada (FREE shipping) dan $16 untuk negara lainnya (termasuk Indonesia). Harga tersebut sudah termasuk ongkos kirim.

Diluar musiknya hanya satu hal menurut Redaksi agak kurang yaitu tidak adanya liner notes yang menjelaskan lebih jauh tentang Tohpati Ethnomission dan musiknya. Terkecuali kalau anda membaca disitus MoonJune. “Dia pengennya simpel aja”, ujar Tohpati menjelaskan.

So anda mengaku penggemar Tohpati tulen?. Sepertinya harus mengoleksi pula rekaman ini!.

Halmahera – Kuyakini

Tags: ,


Halmahera - Kuyakini

Halmahera - Kuyakini

Judul Album : Kuyakini
Artis          : Halmahera
Tahun Produksi : 1995
Produser           : Halmahera
Produksi           : Ceepee Production

Track List
1. T’RUS KUCOBA
2. KUYAKINI
3. ITULAH ENGKAU
4. GUNDAH
5. TAKKAN MUNGKIN BERUBAH
6. SABTU MALAM
7. MUNGKIN ADA SAATNYA
8. KEMBALILAH KASIHKU
Halmahera adalah band jazz fusion yang memulai langkah awalnya dari ajang kompetisi band yang digelar sebuah perusahaan instrumen musik Jepang “Light Music Contest” atau “Band Explosion” dan menetaskan beberapa band fusion seperti Krakatau, Black Fantasy,Emerald,Indonesia Enam,Canizarro ,Modulus,Kahitna dan masih banyak lagi.
Halmahera memang tak berhasil menjuarai ajang musik bergengsi itu. Namun musikalitas Halmahera mulai banyak dibidik penikmat musik jazz fusion.
Terdiri atas Tohpati Ario Hutomo (gitar),Indro Hardjodikoro (bass) ,Ari Darmawan Soemantri (keyboards,piano) dan Feber Manalu (drums). Saat itu mereka memang banyak terpengaruh grup fusion Jepang Casiopea maupun Uzeb dari Kanada.
Corak permainan gitar elektrik Tohpati memang mengarah ke gaya fusion melodius tapi berkesan gagah. Indro Hardjodikoro sendiri sebagaimana galibnya para pencabik bass genre jazz rock atau fusion banyak bersandar pada pola funk yang dinamis dan agresif. Setidaknya jika menyimak album ini kita bisa menangkap harmoni pop yang berbaur dengan aksentuasi jazzy dan terkadang banyak mengimbuhkan sinkopasi. Tohpati, Indro dan Ari bahkan telah memperlihatkan kemahiran menulis komposisi sendiri.
Di album yang diberi judul Kuyakini ini, Halmahera menyajikan sebanyak 8 komposisi yang mereka tulis sendiri.Namun untuk divisi lirik Halmahera masih membutuhkan bantuan dari luar seperti Dian Savitri dan Adelansyah.Yang disebut terakhir adalah penulis lirik yang kerap membantu album grup fusion lainnya Modulus.
Tema lirik yang disuguhkan Halmahera memang tak terlalu istimewa. Bertutur tentang asmara dan segala pernak perniknya. Tapi yang menonjol adalah kreativitas menulis lagu. Itu diperlihatkan secara pasti oleh Halmahera yang juga didukung oleh penyanyi tamu Diana Anyes Sudardi. Terdapat pula beberapa pemusik tamu seperti Krisna Balagita (piano elektrik),Didiet Maruto (trumpet) dan Pramono (trombone) serta dua penyanyi latar Pitta Lopies dan Laksmi Nurulsuci.
Saat itu lagu “Kuyakini” dan “Kembalilah Kasihku” kerap diudarakan beberapa radio swasta di Jakarta,Bandung dan kota kota besar lainnya.

Indro Hardjodikoro – Feels Free

Tags: , ,


Indro Hardjodikoro - Feels Free

Indro Hardjodikoro - Feels Free

Nama Indro Hardjodikoro adalah sebuah nama yang cukup dikenal di dunia musik tanah air sebagai seorang bassis papan atas negeri ini. Sebagai yang cukup lama  malang melintang di Industri musik tanah air ini  Indro kerap sekali terlibat  di album milik musisisi di Indonesia selain itu  indro juga pernah terlibat dengan Halmahera yang bernuansa fusion dan simakDialog, sebuah band Jazz dengan nuansa etnis yang cukup kental.

Setelah sekian lama sebagai section player bagi musisisi-musisi lain akhirnya dengan dibantu Demas Narawangsa (drums), Lal Intje Makkah (keyboard), Irfan Chasmala (keyboards) juga Tohpati (guitar) dan Oele Pattiselanno (guitar)oleh di awal tahun ini Indro meluncurkan album perdananya yang bertajuk “Feels Fre”.

Album “Feels Free” ini menghadirkan sepuluh lagu dalam format instrumental yang semuanya ditulis oleh Indro Hardjodikoro. Di Album perdananya ini ia memunculkan nuansa fusion yang cukup kental baik pada lagu yang berirama rancak maupun beberapa buah tembang bernuansa ballad di album ini. Titik awal sebagai lagu pembuka di album ini tampil menghentak seolah memberikan tanda  titik awal pada album ini, pada lagu pembuka ini Indro hadir dengan nuansa fusion 80-90an yang cukup kental. Di lagu ini dialog terjadi antara Demas dan Indro yang cukup menarik. Selain pada lagu titik awal nuansa fusion bertempo cepat juga dihadirkan Indro di beberapa buah lagu di album ini sepert “I like Surprise”, ”Greenland”, “Psycopath” dan “Lost City” dan “Drum & Bass”, di lagu ini terjadi semacam dialog yang cukup intens antara Indro dan Demas yang kadang-kadang terasa rumit karena ketika keduanya bermain secara tutti dalam lagu ini, tapi lagu ini tetap terasa ringan dan asik untuk dinikmati.

Indro juga menyuguhkan beberapa buah lagu berirama ballad di album ini, My Angels, Feels Free, Menyapa pagiku dan Senja.

Pada lagu “My Angels”, Feels Free  Indro tampil bersama dengan Tohpati dengan nuansa yang manis begitu pula ketika berduat dengan gitaris dari generasi yang berbeda ‘Oele Patiselano” dalam lagu “Senja” dan “Menyapa Pagiku” keduanya tampil dengan nada-nada yang manis untuk dindengar. Suatu kesan yang timbul ketika selesai mendengarkan lagu tersebut terasa sekali ingatan kita diajak untuk tertuju pada album Metheny-Haden “Missoury Sky”

Serambi Jazz persembahkan Indro Hardjodikoro & Zarro

Tags: ,


Goethe Institut kembali menyelenggarakan Serambi Jazz, program dua bulanan yang menampilkan musisi-musisi terbaik dalam negeri dan Jerman dalam format konser berdurasi kurang lebih dua jam.

Kali ini Indro Hardjodikoro Trio yang akan tampil bersama Zarro & His Kaili-Bossanova Project pada tanggal Kamis, 8 April 2010 mulai pukul 19.00 wib bertempat di Goethe Institut, Jl. Sam Ratulangi 9-15 Menteng, Jakarta Pusat.

Anda yang berminat menonton tak perlu merogoh kocek, namun anda dapat mengambil undangan gratis di 021-23550208 ext 116.

***

Nama Zarro sudah lama terdengar di area jazz populer tanah air. Bersama kelompoknya, Clorophyl, penyanyi ini telah merilis beberapa album sejak tahun 2000. Zarro kemudian memilih berpisah dari grup yang telah membesarkannya itu dan membuat keputusan akan karir dan musik pilihannya sendiri. Kini Ia lebih menggali musik Brazillian, salah satu cabang dari genre musik jazz. Uniknya, Zarro mengadopsi bahasa ibunya, bahasa Kaili (Palu – Sulawesi Tengah) ke dalam komposisi-komposisi yang ia tulis. Karyanya telah ia rekam dalam dua album, “Ananta” dan “Sentuhan Nada”.

Indro Hardjodikoro adalah salah seorang musisi senior yang terkenal di jazz scene tanah air. Indro yang pernah memperkuat kelompok simakDialog ini merupakan brandmark pemain bass-elektrik di Indonesia. Ia telah main di berbagai kesempatan dengan beragam format orkes. Indro baru saja merilis album debutnya, “Indro Hardjodikoro – Feels Free” yang ia launching di Java Jazz Festival 2010. Serambi Jazz adalah kesempatan berikut Indro bersama Demas Narawangsa dan Lal Intje Makkah menampilkan karya-karya dari album itu. Di acara dua bulanan ini Indro Hardjodikoro trio dibantu oleh Aditya Bayu, gitaris muda yang namanya sedang hangat dibicarakan.

Melalui pertunjukan kedua kelompok ini diharapkan Serambi Jazz menjadi wadah pembelajaran budaya dan wadah apresiasi musik jazz yang bermanfaat – melengkapi semua kegiatan pertunjukan musik jazz di Tanah Air khususnya di Jakarta.

Tohpati hibur publik Jazz di Makassar lewat Pakarena in Jazz

Tags: , , , , ,


One Note Entertainment, promotor acara Jazz @ Fort of Rotterdam, kembali menggelar acara dengan menggandeng Surya 16 Exclusive mempersembahkan penampilan Jazzer dari Jakarta yakni Tohpati Quartet yang terdiri dari Tohpati ‘Bontot’ Ario Hutomo (gitar), Edwin Saladin (keyboards),  Demas Nerawangsa (percussion) dan Indro Hardjodikoro (bass).

Selain itu akan tampil pula drummer kawakan Gilang Ramadhan, feat Dg Serang with Pakarena in Jazz Group Makassar La’Biri, Andrie Tidie & Friends, Rizcky de Keizer & friends dan lain-lain.

pakarena-in-jazz

Hendra Sinadia dari One Note Entertainment dalam pesan pendeknya ke meja redaksi pada Kamis (19/20) mengungkapkan bahwa acara yang digelar pada hari Jumat, 20 November 2009 ini merupakan agenda untuk melaunching acara Jazz @ Fort of Rotterdam yang dijadwalkan akan digelar pada 30 Juli hingga 1 Agustus 2010 yang akan datang.

“Kami juga menggelar acara khusus pada Sabtu sore 21 November 2009. Yaitu penyerahan Rekor Muri untuk Strya, drummer jazz termuda berusia 5 tahun yang berasal dari Makassar. Rekor tersebut diperoleh saat penampilannya di ajang Jazz @ Fort Rotterdam bulan Juli 2009 yang lalu”, ungkap Hendra Sinadia.

Acara Pakarena in Jazz akan digelar di D’liquid yang berlokasi dikawasan hotel Clarion Makassar. Acara akan dimulai pada pukul delapan malam waktu Makassar dan sekitarnya.

Informasi lebih lanjut mengenai tiket pertunjukan silakan hubungi Niken 0813 4237 6778 atau Radio Mercurius, Radio Bharata, Warung kopi Boots.


What is music to you? What would you be without music? Music is everything. Nature is music (cicadas in the tropical night). The sea is music, the wind is music. The rain drumming on the roof and the storm raging in the sky are music. Music is the oldest entity. The scope of music is immense and infinite. It is the ‘esperanto’ of the world. — Duke Ellington


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<