Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "Irsa Destiwi"

“Strings Attached Concert Series,” Kado dari Shadow Puppets Quartet untuk DKI Jakarta

Tags: , , , ,


Laporan Konser Shadow Puppets Quartet dalam Rangkaian Jakarta Anniversary Festival IX – 2011.

Juni adalah bulan spesial untuk Jakarta, karena di tanggal 22 setiap tahunnya dirayakan sebagai peringatan hari lahirnya kota yang kini memasuki usia 484 tahun. Pun, dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun tersebut, sebuah festival bertema urban art diadakan untuk menyuguhkan aneka ragam kesenian mulai dari tradisi, klasik, alternatif hingga kontemporer. Semua terangkum dalam Jakarta Anniversary Festival (JAF) yang telah berlangsung untuk kali kesembilan. Sabtu malam (18/6), Shadow Puppets Quartet (SPQ) menggelar konser dengan format lain dari biasanya, bertajuk “Strings Attached Concert Series.”

Pertunjukan malam itu terbagi menjadi dua sesi; pertama dalam bentuk double quartet dan kedua menjadi format aslinya yaitu jazz quartet. Dimulai pukul delapan, SPQ yang biasanya tampil berempat dengan personil Irsa Destiwi (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Yusuf Shandy Satya (drum), menambah harmonisasi dengan menyertakan empat musisi pendukung dalam format kuartet gesek (dua violin, satu viola, dan sebuah cello). Ekstensi tersebut sangat beralasan karena di sesi pertama mereka menampilkan empat komposisi baru yang tercantum pada album kedua SPQ. Pembuka konser adalah “Juwita” milik Robert yang diawali dengan gesekan instrumen gesek kemudian temanya diambil alih oleh Irsa, mendentingkan piano sembari mendengung secara unison. Meskipun tampak beberapa selip nada pada birama depan, namun hal tersebut dapat segera teratasi dan kembali ke jalur yang benar.

Shadow Puppets Quartet, Gedung Kesenian Jakarta, 18 Juni 2011

Shadow Puppets Quartet, Gedung Kesenian Jakarta, 18 Juni 2011

Berlanjut ke gubahan kedua oleh Yusuf, “Our Own Little World” dengan awalan teknik petikan (pizzicato) di string section. Komposisinya serius namun jenaka, kemudian yang ketiga milik Indrawan berjudul “Pulang” di mana melodi-melodi indah mengalir dari gesekan juga betotan kontrabas secara ekspresif. Menjelang pukul sembilan, komposisi “Tree House” dari Irsa, yang malam itu juga menjadi juru bicara SPQ mengakhiri sesi pertama.

Selepas rehat dua puluh menit, SPQ hadir kembali dalam format orisinil kuartet jazz lewat nomor “Errands to Run” terambil dari album perdana mereka. Tema sekuensial sederhana diolah sedemikian rupa dengan kreatif sehingga menyenangkan untuk dinikmati. Pada “Sushi & Philosophy” milik sang drummer, kentara sekali hentakan beat jazz latin yang membuat malam itu tambah meriah dan dinamis. Kontras dengan itu, gubahan ketiga berjudul “21-41” membius audiens dengan pesona ballad. Sang komponis selaku pianis SPQ, Irsa, menerangkan, “sebenernya judul komposisi ini nggak ada artinya, 21-41 cuma nunjukin waktu karya ini selesai dibuat,” jelasnya. Puas dengan ballad yang mendayu-dayu, kini giliran Robert beraksi agak rumit lewat gubahannya, “Klangenfarben,” bahasa Jerman untuk “warna suara.” Terdapat pula selipan unison kontrabas dan piano yang berpadu pukulan rampak drum set.

Shadow Puppets Quartet, Gedung Kesenian Jakarta, 18 Juni 2011.

Shadow Puppets Quartet, Gedung Kesenian Jakarta, 18 Juni 2011.

Usai delapan komposisi dan penyerahan karangan bunga, penonton meminta aksi tambahan dari SPQ. Akhirnya empat sekawan itu memberi bonus  berupa encore “Yusuf Hamdani” kepunyaan Robert yang juga terdapat pada album pertama. Bedanya, malam itu ditampilkan dalam aransemen baru yang pastinya lain dengan versi rekaman. Setelah nomor kesembilan tersebut, konser itu barulah benar-benar tuntas. Sebuah pertunjukan yang menarik oleh Shadow Puppets Quartet dengan skill mumpuni serta kematangan komposisi empat anak muda berbakat yang konsisten bermain jazz tulen. Kado yang apik buat Jakarta!

Jazzin’ Chopin Bersama Shadow Puppets

Tags: , , , , ,


Liputan Konser Shadow Puppets dalam Rangkaian Acara “Shop in Chopin,” Gedung Kesenian Jakarta

Repertoar:

1. Waltz in A-flat major, Op. 69, No. 1 “Valse de l’adieu” (Robert Mulyarahardja, arr.)
2. Waltz in a minor, Op. 34, No. 2 “Valse Brillante” (Irsa Destiwi, arr.)
3. Prelude, Op. 28, No. 4 “Suffocation” (Yusuf Shandy Satya, arr.)
4. (19) Polish Songs, Op. 74, No. 19 “Dumka” (Indrawan Tjhin, arr.)

Dalam ranah musik klasik, khususnya piano, nama Chopin (FrĂ©dĂ©ric François Chopin (1810-1849)) pastilah melekat di kalangan musisi dan penikmatnya. Pianis-komposer blasteran Polandia/Perancis ini (andaikata ia adalah asli Polandia, mungkin namanya menjadi Chopinski!) begitu mendunia oleh gubahannya yang personal, indah, inovatif, pun virtuosik. Lebih dari 200 komposisi piano diciptakannya selama 39 tahun ia hidup, merekam Zeitgeist era Romantik dan membuat Chopin menjadi salah satu figur sentral di jamannya. Tahun 2010 adalah peringatan 200 tahun (bicentennial) kelahiran Chopin, seluruh dunia turut merayakannya, tak terkecuali di tanah air. Sejalan dengan itu, tercetuslah “Shop in Chopin” oleh Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta untuk menawarkan pilihan luas kepada publik dalam mengapresiasi musik Chopin.

Ragam pertunjukan musik mulai dari klasik sampai jazz turut memeriakan rangkaian acara “Shop in Chopin,” baik musisi senior maupun muda ikut serta dalam menafsirkan musik sang komposer menurut preferensi masing-masing. Senin malam lalu (13/12), empat musisi jazz tanah air yang tergabung dalam Shadow Puppets menuntaskan program tersebut dengan menyajikan aransemen memikat atas gubahan Chopin. Bagi yang malam itu tidak menonton, bolehlah untuk menyesal karena apa yang mereka tampilkan tidak dapat ditemukan dalam album dan benar-benar segar, ibarat roti yang baru saja keluar dari panggangan.

Shadow Puppets - "Shop in Chopin", Gedung Kesenian Jakarta

Shadow Puppets - "Shop in Chopin", Gedung Kesenian Jakarta

Konser dimulai pukul delapan, dengan audiens yang berjumlah sekitar seratus orang. Keempat personil Shadow Puppets yang merupakan muda-mudi berbakat; Irsa Destiwi (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Yusuf Shandy Satya (drum) langsung melaju berdenyut swing pada nomor pembuka “Farewell Waltz” secara meyakinkan. Lazimnya, sebuah komposisi waltz dimainkan 3/4 dengan aksentuasi one-two-three, namun  karena Robert mengaransir dalam irama swing, jadilah 4/4. Waltz ini adalah salah satu yang termanis dari Chopin, dan nuansa itu tetap terjaga lewat olahan melodi piano dan gitar.

Selain bermain drum, malam itu Yusuf pun berperan sebagai juru bicara, ia menjelaskan latar belakang tiap nomor yang dimainkan dengan santai. Pada aransemen kedua “Valse Brillante,” mood-nya berubah kontemplatif, mengalun lambat pada intro dengan jemari Irsa yang memberi aksen kord disonan untuk membuka permainan tema oleh gitar. Komposisi bertangga nada minor ini digarap Irsa lewat kompleksitas sukat ireguler dalam hitungan tujuh dan lima, serta terdengar pula beat Afro-Cuban yang mengacu kepada musik dari Ernesto Lecuona.

Pada nomor ketiga “Suffocation,” melodi pembukanya sepintas mirip dengan “Insensatez” (How Insensitive) milik Antonio Carlos Jobim. Kini Indrawan beraksi lewat gesekan kontrabas namun terdengar agak sengau dan kentara selip nada di beberapa frase. Pertunjukan diakhiri dengan “Dumka” yang aslinya merupakan lagu (lebih tepatnya lieder) Polandia yang dinyanyikan bersama iringan piano. Berbeda dengan versi Chopin, Indrawan mengolahnya menjadi kemeriahan khas bebop lewat tempo cepat dan meriah serta dirinya menampilkan solo kontrabas yang ekspresif. Dalam komposisi pamungkas ini, keempat pemain nampak jelas melakukan trading fours secara bergantian hingga birama terakhir. Konser malam itu adalah sebuah upaya artistik yang layak diacungi jempol, dan Shadow Puppets berhasil menjembatani kedua “daratan” yaitu Chopin dan Jazz – yang kerap terpisahkan oleh aliran sungai deras bernama sektarian.

Shadow Puppets – Extended Play

Tags: , , , , ,


Empat Pemain, Empat Trek, dan (Hampir) Empat Puluh Menit Melintas


Shadow Puppets - Extended Play

Shadow Puppets - Extended Play

Lebih banyak belum tentu lebih enak. Itulah impresi yang muncul setelah menikmati keseluruhan olah bunyi pada album ini. Isinya (hanya) empat buah trek, namun justru dalam keempat buah karya tersebut, integritas dan kesungguhan proses kreatif mereka tetap terjaga. Jauh lebih baik daripada jumlahnya banyak tetapi serampangan. Tidak percaya? Silakan buktikan dengan menyimak sedari awal hingga akhirnya.

Shadow Puppets dibentuk oleh empat pemusik muda berbakat, Irsa Destiwi (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Yusuf Shandy Satya (drum). Di album perdana bertajuk Extended Play mereka mencoba untuk berkreasi pada ranah straight-ahead jazz secara komprehensif. Interaksi musikal berupa improvisasi dialogis adalah kata kunci untuk menjelaskan daya pikat album ini.

Trek pembuka “Errands to Run” langsung membuat jatuh hati. Tema yang sangat sederhana pertama kali terucap lewat denting piano halus mengalun bersama petikan kontrabas dan detak ritmis drum dalam hitungan 5/4, mengawali gerak langkah bersahaja. Alur cerita kemudian diambil alih oleh gitar untuk selanjutnya masing-masing menyampaikan kalimat musik dalam bentuk improvisasi secara imbang dan elegan. Komposisi ini digubah oleh Irsa yang begitu cerdik menjalin untaian nada, irama, dan harmoni sehingga musiknya terasa naratif.

Idiosinkrasi seorang Thelonious Monk mengilhami Robert untuk mencipta “Monkisms”. Kentara bahwa ia mengadopsi tema “Blue Monk” dengan kreatif serta terasa sekali ciri khas Monk lewat harmoni disonan, akor tajam, dan frase-frase berliku. Nomor ini mengayun santai berkemas irama swing, durasi sebelas menit menampung percakapan interpersonal dengan santun.

Gubahan ketiga “Yusuf Hamdani” melaju kencang penuh greget serta tampak referensi Sufisme di dalamnya, mengingat Hadrat Abu Yaqub Yusuf Hamdani ialah Mahaguru sekaligus pemrakarsa gerakan Sufi di Asia Tengah abad ke-10. Musik Sufi yang repetitif diwakilkan oleh rentakkan drum Yusuf secara konstan memegang kendali ritme dengan presisi.

Irsa kembali menampilkan kecanggihan teknik komposisi pada trek penutup “Those Five Days” lewat pengolahan tema deskriptif. Nomor ini juga menunjukkan indahnya melodi sewaktu Indrawan mencuri atensi dengan gesekan kontrabas, didukung pula oleh landasan harmoni denting piano Irsa. Selanjutnya Robert angkat bicara dalam beberapa birama, hingga komposisi tersebut lambat laun memudar dengan pemulangan tema utama melalui permainan piano minimalis sampai musik benar-benar berhenti.

Anda yang tertarik membeli album ini silakan mengontak Redaksi WartaJazz di alamat info@wartajazz.net atau hubungi 021-8310769

Bandanaira: Dua Jelita & Pesona Abadi Indonesia

Tags: ,


Bandanaira – The Journey of Indonesia (R.P.M. Records – 2009)

1. Indonesia Pusaka
2. Cinta Indonesia
3. Sepasang Mata Bola
4. Maju Tak Gentar
5. Payung Fantasi
6. Di Bawah Sinar Bulan Purnama
7. Sersan Mayorku
8. Ibu Kita Kartini
9. Desaku
10. Hari Merdeka
11. Indonesia Raya

Melebihi jamannya, di balik bait muda-mudi patriotik, komponis Ismail Marzuki ternyata membuka luas peluang interpretasi musikal dari gubahan-gubahannya. Tidak diberikan dengan cuma-cuma, nalar kreasi yang matang menjadi syarat yang wajib disetor di muka. Album “The Journey of Indonesia” mencoba kesempatan emas itu menyertakan pula karya abadi L. Manik, Maladi, C. Simandjuntak, W.R. Supratman, H. Mutahar hingga Guruh Soekarno Putra.

***

Bandanaira

Duet Piano-Vokal Bandanaira

Ada kesan noir dari citra penyanyi solo yang bersanding anggun dengan pemain piano tunggal. Atribut minimalistik yang melambungkan ingatan kita pada crooning beriringkan piano stride dari Édith Piaf (legenda pemilik “La Vie En Rose”). Piaf menarasikan “Milord” dalam gestur monolog mendongak, menghayati drama rayuan lagu 1950-an tersebut. Saat kisah “Sersan Mayorku” meluncur, derap boom-chick klasik serupa itu dipercepat pianis Irsa Destiwi, bergegas-gegas temani gesekan country violin Tengku Ryo Riezqan. Maka, makin menjadilah drama tempo dulu menantu-pilot-gagah-idaman itu dibawakan gemas Lea Simanjuntak, komplit dengan latar riuh teatrikal bala-bantuan The Jakarta Broadway Singers.

Resep sedap Bandanaira rahasianya memang terletak di racikan groove Irsa dan cita suara tebal Lea. Pada hitungan baris-berbaris “Maju Tak Gentar” menyelinap imposisi ritme lain yang menjadikan senandung menghalau-rasa-gentar terdengar beda. Bayangan lenggak-lenggok gadis berlindung dari terik dalam “Payung Fantasi” pun jadi berubah setelah dibalut irama provokatif. Lea pun kerap meluncurkan aksen-aksen improvisasi bernaluri blues seperti juga dijajalnya pada “Indonesia Pusaka”.

Duet ini diperkuat permainan perkusif upright bass Doni Sundjoyo yang tampil solid bersama Philippe Ciminato. Mereka tekun membangun atmosfer “Sepasang Mata Bola”, seolah memindahkan kabut malam Bourbon Street ke tengah-tengah hampir-malam-di-Yogya, udu yang berpantulan dengan bass melebur serasi dengan lirih muted-trumpet Indra Artie Dauna. Ekspresi urban samba “Cinta Indonesia” pun mulus dihidupkan tim ritme ini.

Bandanaira, mengambil nama salah satu pulau perairan Maluku, bukan sekedar turut menamai diri dengan nama tapak geografis (yang pernah dilakukan Karimata, Krakatau atau Halmahera), dua jelita ini membawakan yang paling mungkin dari duet vokal-piano ketika menghidupkan pesona abadi para penggubah Indonesia.

Serambi Jazz edisi Desember sajikan Pitoelas Big Band

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,


pitoelasSebagai penutup rangkaian kegiatan di tahun 2009, Serambi Jazz kembali menyelenggarakan sebuah konser musik. Akan tampil Pitoelas Big Band, sebuah kelompok dalam formasi big band yang akan memberikan suguhan komposisi-komposisi jazz dari lagu tradisional Indonesia hingga modern jazz.

Acara digelar pada Kamis 3 Desember 2009 di Goethe Institut, Jl. Sam Ratulangi 9-15 Menteng Jakarta Pusat mulai pukul 19.30 dan tidak dipungut biaya alias Gratis.

Pitoelas Big Band lahir dari sebuah idealisme dan antusiasme dari setiap anggota pendirinya terhadap musik, terutama musik jazz dan big band. Diawali dengan sebuah obrolan, mengekplorasi ide-ide, untuk kemudian berlatihdan tampil bersama. Ini membuat Pitoelas Big Band menjadi sebuah grup yang kuat, terdiri dari para pemusik profesional muda terbaik.

Pemain saksofon dan komposer Dony Koeswinarno adalah salah seorang pendiri band ini. Saat ini Dony juga menjadi pemimpin band dan direktur musik Pitoelas. Dialah yang menulis dan menyusun aransemen musik, sekaligus bertindak sebagai kontraktor dan manajer band ini. Salah satu dari musik gubahan Dony dan band ini adalah “Ondel-ondel”, sebuah lagu tradisional Betawi yang disusun menjadi sebuah musik jazz bergaya big band. Anggota-anggota lainnya adalah pemain piano, aranjer dan komposer, Irsa Destiwi; pemain klarinet/saksofon, Eugen Bounty; pemain trombone, Enggar Widodo; dan beberapa nama lain yang sudah dikenal luas dalam komunitas musik jazz di Indonesia.

Pitoelas Big Band telah menjadi sebuah band profesional terbaik dengan pilihan daftar lagu yang beragam di Indonesia , dikenal memiliki fresh sounding, good looking dan swinging hard. Kini, Pitoelas Big Band sedang mempersiapkan debut album mereka.

Berikut ini daftar lengkap penampil Pitoelas Big Band:

  • Saxophone:
    Dony Koeswinarno (Leader/Music Director), Eugen Bounty, Donna Koeswinarso, Devian Zikri, Drio Pramono
  • Trumpet :
    Harmoniadi, Wisnu Fajar, Edi Junaedi, Syendy
  • Trombone :
    Enggar Widodo, Widiyekso, Toni Heriyanto, Yandri
  • Rhythm section :
    Irsa Destiwi, Sandy Winarta, Donny Sunjoyo, Tiyo Alibasjah
  • Vocal : Odi, Dira J Sugandi

Renjana kado cinta buat Jack Lesmana

Tags: , , , ,


Indra Lesmana & Gaby Indonesian Idol membawakan Renjana

Indra Lesmana & Gaby Indonesian Idol membawakan Renjana

Minggu 18 Oktober 2009 kemarin menjadi hari yang spesial. Indra Lesmana merilis sebuah album bertema “Kembali Satu” yang menampilkan delapan penyanyi jebolan Indonesian Idol yakni Nania, Micky, Monita, Glenn, Nobo, Teza, Gaby dan Marsya. Tanggal itu dipilih karena merupakan lahirnya musisi jazz legendaris Indonesia, Jack Lesmana.

Indra bahkan secara khusus menciptakan lagu “Renjana” dan memainkan melodica, sementara Gaby memainkan gitar akustik mendampingi. Di panggung Hard Rock Cafe Jakarta, ia mengungkapkan rasa cinta yang mendalam untuk sang Ayah.

Tampak hadir diantara para undangan gitaris Dewa Budjana yang turut mendukung album ini selain para musisi yang juga turut tampil antara lain Rejoz (percussions), Sandy Winarta (drums), Nikita Dompas (gitar), Bekti (bass) dan Irsa Destiwi (keyboards). Selain itu ada pula Mira Lesmana – kakak kandung Indra bersama suaminya Mathias Muchus.

indra-lesmana-launching-kembali-satu2

Indra Lesmana bersama Nania, Micky, Monita, Glenn, Nobo, Teza, Gaby dan Marsya.

Jack Lesmana yang lahir 18 Oktober 1930 di Jember merupakan salah satu gitaris yang sempat merekam proyek Djanger Bali di Jerman bersama Jopie Chen, Buci Chen, Maryono, Benny Mustapha van Diest dan Tony Scott. Pria yang aslinya bernama Jack Lemmers ini meninggal 17 Juli 1988 di Jakarta.

Indra Lesmana adalah wizard atau bocah ajaib dalam sejarah musik Jazz Indonesia. Bukti nyatanya bisa kita telusuri lewat jejak rekam berupa album Ayahku Sahabatku yang direlease saat Indra Lesmana masih berusia 12 tahun dan masih gemar bermain sepak bola.  Kedekatan itulah yang dikenang Indra Lesmana dalam Renjana.

Bandanaira hadir di Black Cat Senayan Jakarta

Tags: ,


Setelah hadir dalam konser di Halaman Jazz Bandung minggu lalu, nanti malam Bandanaira, yang terdiri dari Irsa Destiwi dan Lea Simanjuntak akan hadir dalam acara Jazz for Independence.

Black Cat Jazz Supper Club yang terletak di komplek Arcadia Plaza Senayan, menetapkan FDC sebesar IDR 100.000,- untuk anda yang berminat hadir dan menonton pertunjukan ini.

Kedua nama diatas adalah sahabat yang sama-sama kuliah di FKIP Universitas Atmajaya Jakarta. Bandanaira itu sendiri adalah nama sebuah pulau yang sangat indah di Kepulauan Maluku. Pemilihan nama Bandanaira ini mengartikan bahwa duo ini memiliki nama yang Indonesiana, serta keindahan dan misteri yang sama seperti cerita pulau itu sendiri.

Banyak sekali event atau acara yang telah mereka jalani berdua namun secara tidak disengaja. Berawal dari selera bermusik serta visi yang sama membawa dua anak negeri ini membentuk sebuah duo yang pada pertengahan tahun 2009 ini akan merilis album perdana mereka yang menyajikan lagu-lagu perjuangan Indonesia serta lagu-lagu cinta yang juga berasal dari era yang sama.

Karya-karya dari para komponis ternama diantaranya: Ismail Marzuki, Guruh Sukarno Putra, C. Simanjuntak, L. Manik, dll pun mereka bawakan dengan aransemen yang penuh warna baru yang dinamis dan modern sehingga dapat merangkul pemuda-pemudi Indonesia untuk lebih cinta tanah air lewat lagu-lagu perjuangan dengan sentuhan jazz akustik yang nikmat di kuping.

Mengiringi lagu-lagu di dalam album ini, disuguhkan pula performance handal dari para musisi yang karirnya sedang melambung dalam dunia musik bisnis saat ini, sebut saja Philippe Ciminatto (percussion), Donny Sundjoyo (bass), Indra Artie Dauna (trumphet) serta The Jakarta Broadway Singers.

Acara ini turut didukung oleh WartaJazz.com

‘Bandanaira merupakan wadah untuk menumpahkan rasa cinta terhadap Indonesia dalam karya musik’.


It’s like a language. You learn the alphabet, which are the scales. You learn sentences, which are the chords. And then you talk extemporaneously with the horn. It’s a wonderful thing to speak extemporaneously, which is something I’ve never gotten the hang of. But musically I love to talk just off the top of my head. And that’s what jazz music is all about. — Stan Getz


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<