Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "ivan nestorman"

Jazz Kambang Iwak & Jazz Night di gelar di Palembang

Tags: , , ,


Palembang Jazz Community dan Radio Trijaya 87.6 FM Palembang kembali mengadakan event pertemuan rutin untuk musisi dan pecinta jazz di Palembang. Acara berlangsung selama 2 hari di tempat yang berbeda.

Untuk hari pertama akan dilaksanakan pada hari Kamis, 21 April 2011 di Kambang Iwak sehingga diberi nama JAZZ KAMBANG IWAK, kambang iwak sendiri adalah boleh dibilang miniatur pusat kota Palembang yang biasa untuk tempat anak muda mangkal. Dengan Setting panggung di tengah-tengah taman dikelilingi danau buatan.

Beberapa grup musik dari palembang akan tampil diantaranya Celeste Voice, Acoustic Blend, Arlodjie dan The Swet Girl. Sedangkan sebagai guest akan tampil BEBEN JAZZ dari Komunitas Jazz Kemayoran, Beben akan ditemani Ratna Sari Juwita, Alnair Oesman, Donny Prasetyo dan Taufan Oktofebio.

Sedangkan untuk Jumat, 22 April 2011 acara kami beri label JAZZ NIGHT dan akan berlangsung di PIM-Palembang Indah Mall Lantai 1. Untuk hari ke-2 ini grup yang akan tampil adalah D’I ,Tobeseino dan Purwacaraka Music School Palembang.

Untuk bintang tamunya akan tampil DONNY & PARA SAHABAT BERMUSIK, adapun personilnya adalah Donny Suhendra, Ivan Nestorman, Adi Darmawan dan Adityo Wibowo. Selain live perfomance dari musisi-musisi jazz palembang dan bintang tamu, acara seperti biasa juga akan diselingi clinic musik dan jam session. Untuk clinic musik terbuka untuk siapapun .Semua acara diatas berlangsung gratis tanpa dipungut biaya apapun baik peserta maupun penonton.

” Kami masih ingin terus sosialisasi jazz dengan mengundang musisi-musisi jazz jakarta untuk memotivasi musisi dan pecinta jazz lokal Palembang ” ini dikatakan oleh Ketua Palembang Jazz Community Zaenal Hanani.

Sementara itu Adji dari Trijaya Palembang mengatakan bahwa selama ini Radio Trijaya Palembang terus selalu peduli terhadap event-event yang diadakan Palembang Jazz Community dan selalu mendukung.

Acara ini dapat terselenggara berkat dukungan dari Bank Sumsel Babel yang membantu menyediakan soud system dan alat band lengkap. Selain itu juga dukungan dari PIM-Palembang Indah Mall yang selama ini sudah identik bahwa kalo acara jazz di Mall pasti ada di PIM yang setia menyediakan tempatnya dan tentu saja WartaJazz.com

Masih terbuka kesempatan untuk grup band lokal palembang untuk tampil.  Segera daftar dan dapatkan info lengkap dengan menghubungi 0711 8409898 / 0818296859

Panca Tan Matra tampilkan Toninho Horta dan Dwiki Dharmawan di Bali

Tags: , , , , , , , ,


Tak banyak publikasi yang disebarluaskan mengenai acara ini. Memang waktu persiapannya pun terbilang singkat. Acara yang digelar di Museum Rudana Ubud Bali, Rabu 13 Oktober 2010 ini tapi tetap digarap serius. Tak kurang sejumlah artis berkolaborasi kreatif menggabungkan Suara, Rupa dan Kata dalam konser bertajuk Panca Tan Matra.

Putu Rudana, Toninho Horta dan Dwiki Dharmawan saat menandatangani Prasasti

Putu Rudana, Toninho Horta dan Dwiki Dharmawan saat menandatangani Prasasti

Putu Supadma Rudana, direktur museum memaparkan bahwa konser tersebut digagas karena kesadaran bahwa belakangan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan negara Indonesia sedikit terlupakan akibat banyaknya benih-benih perpecahan yang timbul karena sejumlah kepentingan, ketegangan mayoritas versus minoritas, prasangka dan praduga yang berujung pada kesalahpahaman tak berkesudahan.

Diundanglah Dwiki Dharmawan, pianis pentolan Krakatau dan penggagas World Peace Orchestra bersama Nyoman Windha, musisi asal Bali yang merintis JES (Jegog dan Semar Penggulingan) Gamelan Fusion yang mengkolaborasikan jegog dengan instrumen musik modern. Diajak pula I Nyoman Sura, penari sekaligus koreografer yang kini menjadi pengajar di Institut Seni Indonesia, Denpasar. Bergabung Warih Wisatsana, penyair yang pernah meraih Bung Hatta Award dan sejumlah penghargaan lain. Kolaborasi diatas dipercantik dengan hadirnya Brazillian Guitarist Ambassador, Toninho Horta yang tiba sehari sebelumnya dari sebuah pertunjukan di Jepang.

***

Penampilan Dwiki Dharmawan turut dibackup sejumlah musisi berbakat negeri ini. Diantaranya Demas Narawangsa (drums), Barry Likumahuwa (bass), Ivan Nestorman (vokal) dan Dira J. Sugandhi (vokal) serta Rio Sidik (trumpet). Philippe Ciminato, perkusionis asal Perancis yang sedang bertandang ke Bali turut melengkapi line-up ini. Meski tanpa latihan permainan mereka membuat tepuk tangan tak pernah berhenti seusai mereka memainkan komposisi-demi-komposisi.

Toninho Horta saat tampil di Panca Tan Matra

Toninho Horta saat tampil di Panca Tan Matra

Toninho Horta yang belum pernah bertemu dengan Dwiki Dharmawan sebelumnya pun merasa gembira dengan line-up yang disodorkan oleh panitia. Terbukti line-up ini pula yang ditampilkan di 3rd Asean Jazz Festival dua hari setelah pertunjukan Panca Tan Matra.

Mereka membawakan sejumlah lagu antara lain Spirit of Peace, Benggong, Lamalera yang diambil dari album terakhir Dwiki Dharmawan WPO. Sementara saat tampil bersama Toninho Horta, mereka tampil membawakan beberapa lagu standard seperti Mas Que Nada. Lagu Aquelas Coisas Todas dan For my Children menjadi penutup konser yang berlangsung sekitar satu setengah jam tersebut.

Seusai acara, Toninho Horta, Dwiki Dharmawan dan Putu Supadma Rudana menandatangani Prasasti berupa sebuah batu besar yang berada tepat dibagian depan Museum Rudana, sehingga jika anda berkesempatan mampir ke museum yang terletak di Ubud ini anda akan melihat prasasti tersebut.

Goresan Sketsa Indonesia oleh Dwiki Dharmawan

Tags: , , , , , , ,


Liputan Konser “Sketches of Indonesia” di Usmar Ismail Hall, 29 September 2010

Ada yang berbeda pada  Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail Rabu malam lalu. Lorong menuju pintu masuk ruangan konser dipenuhi komodo. Namun bukan komodo betulan, melainkan dalam bentuk dua dimensi berupa poster ukuran besar – sebagai atribut kampanye “Vote Komodo” –  yang dewasa ini digiatkan oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Republik Indonesia. Di koridor itu nampak sebuah gerai bertuliskan “Vote Komodo” yang dilengkapi komputer jinjing terhubung dengan internet, sehingga pengunjung dapat langsung mendaftar dan memberi dukungan pada Taman Nasional Komodo untuk menjadi salah satu dari tujuh keajaiban (alam) dunia (New 7 Wonders of Nature). Pemandangan tersebut kerap dijumpai pada gelaran acara yang menampilkan Dwiki Dharmawan, figur yang intens berkampanye soal komodo sejak tahun lalu.

Pertunjukan malam itu dimulai pukul setengah sembilan, di atas panggung tampak para pemain telah menempati posisi masing-masing. Dilihat dari bangku penonton, susunannya adalah grand piano di pojok kiri dan drum pada sisi kanan, mengapit perkusi, gitar, saksofon dan kontrabas. Penampilnya adalah Dwiki Dharmawan (piano, synthesizer, melodeon), Gerry Herb (drum), Dira J. Sugandi dan Ivan Nestorman (vokal) serta empat pemusik bule berseragam batik, Guy Strazz (gitar), Hugh Fraser (kontrabas), Andy Suzuki (saksofon tenor & alto, flute), dan Philippe Ciminato (perkusi). Repertoar pertama adalah instrumentalia atas “Paris Barantai”, lagu (berbahasa) daerah Banjar, Kalimantan Selatan. Intronya dimainkan piano tunggal oleh Dwiki secara resitatif, sebelum tema utama (liriknya berbunyi, “kotabaru gunungnya ba’ mega, ba’ mega umbak manampur di sala karang…”) terdengar sinkopatik. Melodi berlaras minor asli itu kemudian diambil alih oleh tiupan saksofon tenor Andy bersama iringan pemain lain. Dwiki kembali beraksi pada nomor kedua, “Janger” asal Pulau Dewata.

Dwiki Dharmawan

Dwiki Dharmawan

Indonesia sejatinya adalah negara berbasis gugusan pulau, maka dari itu disebut juga dengan “Nusantara”. Selepas Kalimantan dan Bali, konser bertajuk Bahasa Inggris “Sketches of Indonesia” beralih ke Sulawesi dengan lagu khas Ujung Pandang “Anging Mamiri”. Tembang itu dilafalkan oleh Dira yang berjalan menuju panggung dari arah penonton, sementara musiknya sayup terdengar bossa. Vokal Dira yang empuk serta jelas artikulasinya terdengar nyaman di telinga, ia melanjutkan performa lewat nyanyian “Mai Fali e” (marilah pulang – red.) dari Rote, Nusa Tenggara Timur berirama samba. Laras slendro yang njawani turut pula disematkan Dwiki dalam aransemen “Lir-Ilir” bercampur nuansa Sunda lewat selipan melodi “Tokecang” secara kanonik.

Andy Suzuki

Andy Suzuki

Ada pula Ivan, sang empunya rambut gimbal ikut meramaikan acara. Dreadlocks sering diasosiasikan dengan reggae, tetapi malam itu Ivan hadir bukan untuk bernyanyi ala Bob Marley, melainkan tampil lewat lagu kampung halamannya (ia berasal dari kawasan Ruteng, Manggarai, NTT). Dirinya menjadi pusat perhatian waktu menampilkan “Ie”, “…lagu ini ceritanya tentang seekor burung yang punya suara merdu, namun hanya didengar oleh pohon-pohon, dia kesepian,” paparnya. Selain tarik suara, Ivan juga bisa main gitar sambil nyanyi, terlihat ketika ia membawakan “Benggong Banggong” dan “Kakorlalong” yang energik serta “ditemani” Dwiki pada melodeon (sejenis pianika) juga Phillipe lewat tepukan cajón.

Ivan Nestorman

Ivan Nestorman

Dira kembali naik panggung, kali ini ia bawakan tembang berjudul “Lamalera’s Dream”, gubahan Dwiki yang terilhami Lefa dan Ola Nue (perburuan ikan paus secara tradisonal masyarakat Lefa Lamalera – red.). Lain dengan kedua lagu sebelumnya yang ia nyanyikan santai, Dira nampak serius pada nomor ini. Sejalan dengan iringan musik yang monumental, suaranya bertenaga besar dan prima serta iapun mampu untuk mengekspresikan emosi atas lagu tersebut. Sempat tertangkap oleh kamera, saat air mata Dira berlinang di pipi kanannya.

Dira J. Sugandi

Dira J. Sugandi

Komposisi berikutnya adalah “Arafura” dengan awalan solo piano bergemuruh yang ditampilkan melalui teknik arpeggio naik-turun. Untuk menambah efek dramatis dilakukan sinkronisasi bunyi piano dengan gambar bergerak pada layar raksasa sebagai latar panggung, berupa citra kelautan lewat sinematografi bergaya aerial landscape yang melaju cepat. Jelas maksud bahwa komposisi ini menggambarkan pesona Laut Arafura dengan segala ritme alamnya.

Gerry Herb

Gerry Herb

Philippe Ciminato-Guy Strazz-Hugh Fraser

Philippe Ciminato-Guy Strazz-Hugh Fraser

Pelbagai elemen musik dunia terangkai pada nomor instrumental “Spirit of Peace”, sekaligus ajang unjuk kebolehan para pemain. Guy ambil bagian solo, menjentikkan jemari atas gitarnya dengan gaya flamenco serta ditimpali dentuman kontrabas Hugh. Aksi “adu pukul” teatrikal “drum vs. perkusi” oleh Gery dan Philippe membuat penonton tertawa pun kagum. Andy dan Dwiki meramaikan lewat aksen unison saksofon sopran dan piano. Usai komposisi tersebut dibawakan, audiens merespons dengan tepuk tangan semarak. Melihat tanggapan seperti itu, para penampil memberi bonus sebuah lagu encore “Dzikir (Tak Putus-putusnya)”, pada liriknya tersirat pesan agar manusia menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta melalui pelestarian alam. Tembang pamungkas bernuansa religi tersebut dinyanyikan oleh Dira. Konserpun gentas.

Dwiki Dharmawan gelar Sketches of Indonesia

Tags: , , , , , , ,


Dwiki Dharmawan – Sketches of Indonesia

Dwiki Dharmawan – Sketches of Indonesia

Disela-sela kesibukan tour Internasional dan proyek-proyek musikalnya, pianis Dwiki Dharmawan menyempatkan menyapa publik Jakarta dengan sebuah konser bertajuk “Sketches of Indonesia” dengan menampilkan sejumlah karya baru.

Acara digelar di Usmar Ismail Hall Gedung Pusat Perfilman PPHUI Jl. HR. Rasuna Said Kav C 22 Kuningan – Jakarta Selatan Rabu, 29 September 2010 pukul 19.30 wib.

Dwiki Dharmawan juga mengundang sejumlah rekan-rekannya seperti Guy Strazz dan Hugh Fraser dari Australia. Andy Suzuki dari Jerman, Philippe Ciminato dari Perancis dan musisi-musisi tanah air seperti Gerry Herb, Ivan Nestorman, Dira J. Sugandi.

***

Andy Suzuki dikenal sebagai saxophonis yang juga memainkan instrumen klarinet. Karirnya sekitar 25 tahun didunia Jazz dengan ragam genre mulai dari traditional, straight-ahead jazz, modern jazz hingga fusion. Andy kerap tampil mendampingi musisi top seperti David Benoit, Dave Brubeck, Al Jarreau dan lain-lain.

Datang dari benua kangguru Australia, Guy Strazz dideskripsikan sebagai virtuoso di bidang electro-acoustic classical guitar. Ia meracik paduan Afro-Brazilian, acoustic Jazz dan klasik India dan pernah mempertontonkannya mulai dari India, Jepang, Australia hingga Jakarta.

Sedang Hugh Fraser mahir memainkan elektrik dan acoustic bass. Pertautannya dengan Indonesia dimulai dari kerja professionalnya bersama alm Bill Saragih dan jam sessions setiap ‘weekend’ bersama Indra Lesmana dan ayahnya alm Jack Lesmana.

Ketiga musisi diatas pernah berkolaborasi dengan Dwiki lewat World Peace Orchestra-nya. Kini ditambah sejumlah musisi lain, menjadikan Sketches of Indonesia tontonan alternatif di penghujung bulan September ini.

Informasi undangan pertunjukan silakan mengontak Hotline 0878-8831-2353 dg sdri Dina.

***

Konser ini direncanakan menjadi karya kedua Dwiki Dharmawan dalam bentuk Live Concert DVD. Sebelumnya ia merilis Live at the Baked Potato, sebuah klab jazz bergengsi di LA, Amerika Serikat.

Saat ditanya soal konsep acara ia menjelaskan, “Konser kali ini agak berbeda dengan konser saya sebelumnya. Sejumlah lagu baru sudah saya siapkan seperti Lamalera’s Dream dengan lantunan vokal Dira J Sugandi. Lalu ada Songket dan Komodo. Ada isian vokal Ivan Nestorman pada lagu Kakorlalong dari Flores dan masih ada beberapa lagi. Format yang dipakai juga berbeda dengan World Peace Orchestra, kali ini saya lebih ke akustik dengan mengundang Guy Strazz dan Hugh Fraser”.

2nd Jazz @ Fort Rotterdam 2010: Ketika Jazz dan Etnik (Kembali) Bersua

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Acara jazz tahunan dipentaskan lagi di Makassar pada tanggal 31 Juli dan 1 Agustus lalu. Tema yang diusung tak berbeda dengan tahun sebelumnya, pihak panitia One Note Entertainment memberi tajuk “When Jazz Meets Ethnics” dengan misi untuk mengembangkan kekayaan musik tradisi setempat melalui jazz sebagai medium. Disamping itu, agenda lainnya adalah mempromosikan potensi wisata Makassar dan sekitarnya kepada publik internasional, seperti penuturan ketua panitia Jazz @ Fort Rotterdam (JFR) 2010 Hendra Sinadia yang juga mendapat dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Makassar serta Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dihadiri Sapta Nirwandar selaku Direktur.

Sapta Nirwandar, Dwiki Dharmawan dan Hendra Sinadia beserta panitia

Sapta Nirwandar, Dwiki Dharmawan dan Hendra Sinadia beserta panitia

Sejalan dengan pelaksanaan JFR 2010, Kemenbudpar turut berupaya untuk mensosialisaikan program Vote Komodo kepada masyarakat Makassar. Tentunya hal tersebut dilakukan untuk menyikapi lolosnya Taman Nasional Komodo sebagai salah satu dari 28 finalis untuk melanjutkan ke tahap akhir kampanye setelah menyisihkan 440 nomine lainnya dari 220 negara. New7Wonders Foundation menetapkan tanggal 11 November 2011 sebagai batas akhir pemungutan suara. Pengunjung JFR 2010 dapat memberikan suaranya pada gerai online voting yang tersedia selama acara berjalan dan terhubung langsung dengan situs www.new7wonders.com. Setelah voting, mereka langsung mendapatkan cinderamata berupa pin “Vote Komodo” sebagai tanda partisipasi.

Hari Pertama, Sabtu 31 Juli 2010

JFR 2010 baru dimulai sekitar pukul enam sore waktu setempat, ditandai dengan penampilan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Hasanuddin dilanjutkan Pakarena N Jazz serta atraksi tarian tradisional khas Makassar. Kepala Dinas Kebudayaan  dan Pariwisata Makassar, Rosmayani Madjid, diamanatkan untuk memukul gendang membuka jalannya festival.

Hari telah berganti malam, dan kini tiba saatnya band lokal Rizcky & The Strangers untuk tampil.  Beranggotakan lima personil dengan Rizcky Pradhana de Keizer sebagai vokalis utama sekaligus basis, band ini cukup bertenaga membawakan lagu-lagu bernuansa funk maupun fusion. Tembang “Good Times, Bad Times” milik Edie Brickell, “I Don’t Want to Miss a Thing” dari Aerosmith serta komposisi instrumental “Nightfall” mereka sajikan. Pengunjung JFR yang mayoritas anak muda nampak terkesima dengan vokal dan permainan bas Rizcky, terutama ketika “All At Sea” dari Jamie Cullum dinyanyikan.

Terdapat dua buah panggung pada acara ini. Sebuah terletak persis berhadapan dengan pintu masuk, dan satu lagi ditempatkan sekitar 50 meter ke dalam areal Fort Rotterdam sebagai panggung utama. Selepas Rizcky, penampil berikutnya adalah PSM Universitas Hasanuddin berjumlah delapan orang, dua pria dan enam wanita. Mereka mencoba untuk membawakan lagu tradisional populer seperti “Anging Mammiri” dan lagu pop dalam negeri serta mancanegara melalui harmonisasi vokal.

PSM Universitas Hasanuddin di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

PSM Universitas Hasanuddin di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Kemudian penonton berbondong-bondong ke panggung utama untuk menyaksikan band lokal lainnya, Groundstroke yang menghajar audiens dengan sajian jazz-rock sarat distorsi. Susana memanas tatkala ketiga personil melaju kencang lewat solo instrumen gitar, bas, dan drum secara bergantian. Menarik ketika band ini memainkan “Spain” karya Chick Corea yang sound gitarnya justru mengarah ke heavy metal.

Selanjutnya adalah pendingin suasana dengan tampilnya band D’Exclusive lewat lagu-lagu yang sebetulnya masuk kategori Top 40 semisal “She Will Be Loved” besutan Maroon 5, tampak sesuai dengan profil band ini yang personilnya masih remaja.

Balawan di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Balawan di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Salah satu bintang tamu di hari pertama adalah I Wayan Balawan yang begitu memesona lewat permainan gitar setang ganda lengkap dengan teknik two-handed tapping andalannya. Malam itu adalah konser perdana Balawan di tanah Makassar, ia tampil bersama Ketut Tarmadi (bas) dan Dion Subiakto (drum) yang tergabung menjadi Balawan Trio. Mereka mengusung musik yang energik bergaya campuran jazz, fusion, rock, hingga etnik. Tak hanya Balawan seorang, Ketut dan Dion pun menampilkan atraksi solo penuh greget. Grup ini sangat menghibur audiens sewaktu Balawan menyanyikan nomor “What a Wonderful World” dengan serakan khas Louis Armstrong. Irama reggae menutup penampilan Balawan sembari ia melagukan “Waiting in Vain” milik Bob Marley secara ekspresif.

Mercy Dumais di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Mercy Dumais di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Denyut bossa nova dan samba terdengar meriah waktu Zarro mulai angkat suara. Penampilannya waktu itu diramaikan pula lewat suguhan Capoeira (kesenian khas Afro-Brazilian memadukan unsur bela diri, tarian, dan musik) yang sinkron dengan irama Zarro. Atmosfer semakin hangat terasa ketika vokal Mercy Dumais memenuhi ruang dengar audiens dengan interpretasi bossa yang mumpuni, khusunya selagi ia membawakan “Anging Mammiri” dan “Tristeza”. Sedang berulang tahun, ketua panitia Hendra Sinadia diminta naik ke atas panggung dan akhirnya ia menyanyikan “Girl From Ipanema”. Lumayan.

Zarro di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Zarro di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Penampil terakhir untuk hari pertama JFR adalah sebuah kelompok musik visioner, seperempat abad usia, Krakatau namanya.  Dengan line up terkini yaitu Dwiki Dharmawan (keyboards, synthesizer), Pra Budhi Dharma (bas), Adhe Rudyana (kendang), Yoyon Dharsono (tarompet, rebab, suling), Zainal Arifin (gamelan, perkusi), Gerry Herb (drum), dan Nyak Ina Raseuki alias Ubiet (vokal), grup tersebut mewarnai JFR 2010 lewat garapan musik yang mengawinkan eksotika bunyi-bunyian tradisional dengan elemen jazz modern. Irama rampak world beat meriah terdengar sedari awal penampilan mereka, vokal Ubiet yang singular menjadi sebuah fenomena waktu ia ambil bagian dalam lagu “Bunga Tembaga”, “Spirit of Peace”, maupun “Rhythm of Reformation”.

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Aksen pertunjukan adalah sewaktu Krakatau mengundang dua personil La’ Biri yang memainkan instrumen tradisional gambus makassar dan pui-pui (bentuknya seperti terompet berukuran kecil). Seluruh perhatian terpusat ketika terjadi “duel” tarompet dan pui-pui secara insidental, atraksi dialogis-improvisasional yang ditampilkan keduanya membuat penonton maupun penghuni panggung berdecak kagum sekaligus tergelak. Tidak ketinggalan, aksi duet maut Adhe dan Zainal menyuguhkan pukulan-pukulan kanonik di atas selaput tamborin. Segar, cerdas, dan menghibur.

Yoyon Dharsono memainkan Tarompet berinteraksi dengan instrumen Pui-Pui

Yoyon Dharsono memainkan Tarompet berinteraksi dengan instrumen Pui-Pui

2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010 siap digelar di Makassar

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010

2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010

Sebagai bagian komitmen untuk turut mengembangkan khasanah musik jazz di tanah air serta mendukung promosi pariwisata Indonesia, One Note Entertainment (unit dari PT. One Note Indonesia) akan menggelar “2nd Annual Jazz @Fort Rotterdam(JFR)” tanggal 31 Juli – 1 Agustus 2010 bertempat di Benteng Fort Rotterdam, Makassar. JFR direncanakan untuk menjadi acara festival jazz tahunan yang memberikan tawaran baru penyelenggaraan festival jazz di Indonesia.

JFR kali ini masih menggunakan 2 panggung yang akan diisi oleh pendukung acara secara bergantian. Ada sekitar 8 grup jazz dari luar Makassar yang diundang untuk hadir di JFR 2010, yaitu Krakatau Band, Barry Likumahuwa Project feat. Benny Likumahuwa, Oele Pattiselanno Trio, Idang Rasjidi & Friends with Cendy Luntungan, Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra feat. Dira & Ivan Nestorman, Nikita Dompas & His Fellow Musicians feat Andien, Zarro & Mercy serta Balawan Trio. Sementara grup band dari Makassar yang akan tampil yaitu La’Biri Band, Rizcky & the Strangers, Pakarena N Jazz, Dakochang Jazz Junior Band, Sky Project dll.

Guna mensosialisasikan keberadaan JFR, One Note telah melaksanakan beberapa rangkaian event baik di Makassar, Jakarta dan di mancanegara yaitu di Den Haag, Belanda. Sosialisasi JFR di Makassar pada tanggal 25 Februari 2010 di Hotel Clarion di meriahkan oleh grup 3 Dunia yang terdiri dari Idang Rasjidi-Fariz RM-Eddy Syahroni.

Selanjutnya One Note menggelar “Indro Hardjodikoro Feels Free Concert” di Erasmus Huis, Jakarta dengan menampilkan Indro Hardjodikoro Trio, Tohpati dan Oele Pattiselanno.

Setelah itu, promosi JFR dilaksanakan di ajang Tong Tong Fair 2010 di Den Haag, Belanda pada tanggal 21 Mei 2010 dengan menampilkan Tohpati – Ethnomission. Kegiatan di Belanda tersebut didukung oleh Direktorat Jenderal Pemasaran Kemenbudpar dalam rangka Visit Indonesia.

Pihak panitia mengharapkan sekitar 2,500 penonton bakal menghadiri perlehatan jazz terbesar di pulau Sulawesi ini. Harga tiket dipatok sebesar Rp. 100,000/ harian dan Rp. 180.000 untuk terusan (2 hari). Pembukaan JFR 2010 akan dilaksanakan tanggal 31 Juli 2010 pkl. 16:00 dengan menampilkan atraksi kesenian tradisional dan juga bakal dimeriahkan oleh Paduan Suara Mahasiswa Universitas Hasanuddin, Makassar. JFR akan berlangsung pukul 17:00 – hingga selesai.

Pelaksanaan JFR 2010 juga merupakan salah satu event yang turut mempromosikan Taman Nasional Komodo sebagai “New 7 Wonders”. Program ini didukung oleh pihak Direktorat Jenderal Pemasaran Kemenbudpar yang akan menampilkan Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra yang menggarap nomor khusus dengan menampilkan Ivan Nestorman dan Dira. Selain itu JFR 2010 didukung pula oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam rangka mempromosikan Visit Sulsel 2012 dan Pemerintah Kota Makassar dalam rangka Visit Makassar 2011. JFR 2010 juga didukung oleh Ikatan Keluarga Alumni Netherland (Ikaned).

Solo City Jazz 2009 ambil tema Jazz up batik

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,


solo city jazz - icon 01Tanggal 4-5 Desember 2009 dipilih menjadi penyelenggaraan Solo City Jazz Festival yang pertama dengan mengambil setting panggung di halaman pasar Windujenar Koridor Ngarsopuro kota Solo, Jawa Tengah.

Sejumlah bintang akan menghiasi line-up festival dua hari bertema Jazz up batik yang tidak dipungut biaya ini.

Mereka yang akan hadir antara lain Notturno, Maya Hasan Quartet bersama Deddy Dhukun & Dian PP. Lalu ada kelompok Akordeon yang terdiri dari Bintang Indrianto, Rindra ‘Padi’ Risyanto, Roedyanto ‘Emerald’ Warsito & Sruti Respati, Magnificent – duo bersama gitaris Agam Hamzah dan Donny Suhendra, Ivan Nestorman dan Andien.

Masih ada Heaven on Earth, Agus Bing & Prabumi dari Yogyakarta, Donny Koeswinarno Jazz-Quartet, Clorophyl & the New-Generation dan Yovie Widianto Fusion

Solo sendiri menurunkan I Wayan Sadra dengan Sono Seni Ensemble dan Solo Jazz Society band.

Kegiatan festival ini sendiri turut didukung Teh Botol Sosro. Menurut Aria Wahyudi, Deputice Vice Marketing Direktur Sosro saat ditemui WartaJazz.com di Joglo Kemang (23/11), Solo City Jazz  memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan kota-kota lain. Sosro sendiri melihat kesamaan perspektif yang sejalan dengan strategi komunikasi dan pemasarannya dengan Solo City Jazz.

Dukungan Pemerintah Kota Solo juga sangat besar sehingga terselenggaranya acara ini. Sudah barang tentu sebagai pecinta jazz kita berharap makin banyak perusahaan dan pemerintah kota lain yang juga memberikan support atau dukungan bagi terselenggaranya acara-acara jazz baik yang berskala konser maupun festival.

Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


1. The Spirit Of Peace
2. Benggong Banggong
3. IE (Sydney version)
4. Janger
5. Numfor
6. Paris Barantai
7. Island of God
8. Ana Ritin Teo
9. Arafura
10. Clarissa
11. Jazz for Freeport
12. IE (LA version)

Musisi:

Jimmy Haslip (bass), Russel Ferrante (keyboard), Walfredo Reyes Jr. (drums), Kamal Musallam (gitar), Steve Thornton (perkusi), Lewis Pragasm (drums), Michael Paulo (saksofon), Tollak Ollestad (harmonica), Andy Suzuki (saksofon/clarinet/flute), Guy Strazz (gitar), Rodrigo Galvao (perkusi), Hugh Fraser (bas), Andrew Oh (flute),
Indro Hardjodikoro (bas), Sandy Winarta (drum), Zainal Arifin (perkusi), Korem Sihombing (taganing), Yoyon Darsono (beluk), Marc Antoine (gitar akustik), China Philharmonic Orchestra, Rich Breen (Sound Engineer) Ivan Nestorman (vokal), Dira.J.Sugandi (vokal), Peni Candrarini (sinden)

Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra - Omega Pacific Production 2009

Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra - Omega Pacific Production 2009

Berbekal rekam jejak sebelumnya, kita bisa mengira-ngira preferensi seorang Dwiki Dharmawan untuk album barunya “World Peace Orchestra” (WPO). Tebakan kita kurang lebih adalah hadirnya warna tradisi. Lebih dari sekedar kegandrungan, musik tradisi (yang kemudian berpucuk di generalisasi world music) telah lama dijalani Dwiki sebagai misi yang berimplikasi serius. Menelusur sedikit ke belakang, pakem baru Krakatau di wilayah ini terlihat pada 1994 dengan Trie Utami melantunkan “Mystical Mist” disusul klip “Barala Duit” (2000) di jaringan televisi swasta sebagai konfirmasi. Sempat terdengar pula ia ikut mengubek-ngubek musik batu di Nias bersama Rizaldi Siagian dan Hikayat Manaö yang kemudian dipertunjukkan secara luas pada konser Megalitikum Kuantum (2005). Di lain waktu (2007) ia terlibat intens dalam “Meukondroe” bersama Rafly, seniman Aceh. Apabila bergeser sedikit saja dari wilayah garapan semacam Krakatau, maka porsi WPO lebih ke musik Barat. Porsi yang cukup lama absen sejak album solo “Nuansa” (2002). Tambahan isi WPO adalah tur membawa pesan perdamaian dengan cukup ambisius melibatkan musisi lima benua.

Jika harus menunjuk pilihan, rasanya urutan repertoar konser peluncuran WPO di GKJ (17/06/’09) bisa menjadi referensi playlist. Kredit harus kita berikan kepada Dewa Budjana untuk petikan gitar soprannya yang meditatif dan menjadikan “Island of God” tuturan yang bergema. Gema ini disambut intuisi solo Dwiki pada bridge yang sejuk, mengalir, jatuh menitik ikuti denyut perkusi yang renggang. Kidung Bali dan tiupan flute Andrew Oh menggenapi resolusi transedental nomer ini.

Menyusul pada daftar adalah “Paris Barantai” yang lebih rancak dan gempita. Head baru, dalam permainan minor kompak, khusus diciptakan untuk mengawal melodi lagu Kalimantan ini, menyertai modifikasi cantik ritmenya. Di nomer ini terlihat bahwa Dwiki giat juga mengeksplorasi vocoder, suatu detil lain (saat live bisa kita coba cari mikrofon yang diumpankan ke unit VP-550 misalnya) di luar hand keyboard yang disandang ataupun moog dan melodica. Mendiang Roger Burn yang besolo vibrafon pada nomer ini adalah kontak Dwiki yang kemudian memunculkan partisipasi bassist Jimmy Haslip (produser Burn di kelompok Shapes) serta kibordis Russel Ferrante untuk WPO.

Jimmy Haslip memproduseri “Clarissa”, yang juga merupakan nomer dedikasi Dwiki pada Haslip (dalam nama samaran), bahwa tidak semua orang beruntung dan ada yang harus bergantung pada orang lain sepanjang hidupnya. Dapat kita simak Tollak Ollestad (pentolan Shapes yang lain) mengisi harmonika dalam liuk sendu berpasangan dengan saksofonis Andy Suzuki.

Lagu rakyat berbahasa Flores dibawakan Ivan Nestorman dalam “Benggang Benggong”, “IE”, dan “Ana Ritin Teo” yang bernuansa pesisir sekaligus berwarna Afrika dalam sensibilitas musik Barat. Sementara itu yang betul-betul mewakili jati diri fusi-tradisi-jazz WPO adalah “Janger” (Bali). WPO yang dirilis Omega Pacific Production (dengan eksekutif produser Gita Wirjawan) ini memang bertabur bintang tamu. “Arafura” yang sering menjadi pilihan live Dwiki misalnya diisi spesialis sweep Frank Gambale (electric guitar). Gitaris akustik Marc Antoine juga muncul selain nama Guy Strazzullo (Australia) yang pernah mengisi album “Nuansa”.

Konser launching album Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra di GKJ

Tags: , , , , , , , ,


wpo-gkj-2009

Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra

Dwiki Dharmawan, pianis sekaligus leader Krakatau Band, akan merilis album terbaru dari proyek World Peace Orchestra-nya di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu 17 Juni 2009 pukul 19.30 mendatang. Turut mendukung Steve Thornton, perkusionis yang pernah bermain bersama Miles Davis, lalu pemain oud Kamal Musallam dan drummer kenamaan asal Malaysia Lewis Pragasam.

Selain itu turut tampil pula Dewa Budjana (gitar), Sandy Winarta (drums), Philipe Ciminato (perkusi), Indro Hardjodikoro (bass), Eugen Bonty (saxophone). Penyanyi Dira Sugandhi, Peni Candrarini dan Ivan Nestorman akan tampil bersama dengan string section yang dipimpin Oni Krisnerwinto.

Album Dwiki Dharmawan dirilis oleh Omega Pacific berbandrol IDR 89.000,- (delapan puluh sembilan ribu rupiah) yang kini juga dapat dibeli di WartaJazz.com Store atau menghubungi 021-8310769

Anda yang tertarik menonton dapat menghubungi info@wartajazz.net untuk informasi lebih lanjut.


The outer space beings are my brothers. They sent me here. They already know my music. — Sun Ra


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<