Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "kamal musallam"

Bahasa di Perbatasan: Israel Varela – Border People

Tags: , , , , , , , , , , ,


Selalu menyenangkan untuk menemukan musik-musik apik dari artis yang namanya agak tak terdeteksi radar. Penabuh drum kelahiran Meksiko, Israel Varela, adalah salah satu yang menyimpan kilau untuk kita sibak pendarnya dalam rekaman “Border People” (Double Stroke Records, 2010). Namanya pernah disandingkan berbagi slot improvisasi dengan Pat Metheny atau Charlie Haden. Latar hispanik dalam warna-warni kaya kehidupan perbatasan adalah suara kuat album ini. Di dalamnya ada sayat perih, seperti dipotret oleh nomer tajuk yang makin dalam dengan gores petikan minor oud Kamal Musallam (pada Java Jazz Festival 2011 silam, Varela seharusnya dijadwalkan main dengannya dalam formasi Eastmania, tetapi urung hadir).

Israel Varela - Border People

Israel Varela - Border People

Ada juga pengharapan, dari tangan dingin komponis Vince Mendoza, “Esperanza” (berarti harapan) berhasil memperkuat sinyal positif itu lewat melodi piano Claudio Filippini yang mengalir terang, seolah denting-dentingnya berasal dari putaran silinder kotak musik. Varela pun berimprovisasi seimbang di ujungnya dengan beberapa putaran pukulan lihai pada tepi drum dengan bunyi kayu diadu.

Warga Tijuana yang kini aktif di lingkar jazz Italia ini ternyata juga memiliki vokal halus yang memukau, mimik semu jangkauan sopran perempuan yang lembut. Ini dominan dipertunjukkannya dalam baris-baris tanpa lirik “Huapango Roads” (menyamai melodi soprano sax), “Hexachordal Morning”, pun pada “Cancion Del Nino” yang dibuka gesek selo berbayang-bayang neoklasik. Varela khusus menyelipkan nyanyian berkisah seorang gadis pada lanskap perjalanan pada “Amelia” (Joni Mitchel). Ada suara lain dari guru konseptualnya, pianis flamenco Diego Amador, parau berseru seperti rapal mantra seorang shaman dilatari tepukan tangan khas flamenco membuka “Liguita Song“.

israel-varela-alex-acuna-playing-with-my-teacher

Israel Varela (kiri) bermain bersama gurunya, Alex Acuna (kanan)

Penutup “To Neciosup” adalah fiesta sebenar-benarnya yang kerinciannya dinikmati dalam gerak lambat. Ornamen tabuhan cajon (sumbangan guru yang temukan bakatnya, perkusionis Alex Acuna yang bernama tengah Neciosup), rumus bass orkes mariachi tulen, plus keriangannya membawa nostalgia masa kanak-kanak yang di Meksiko adalah saat pesta ultah menggebuk pinata dengan mata tertutup. Pada album ini maqam Arab, mĂșsica criolla Afrika-Peru, dan flamenco Andalusia yang telah lama berpencar muara, kembali bicara dalam bahasa yang sama di perbatasan.

Daftar Lagu “Border People” (Double Stroke Records, 2010)

1. Border People
2. Huapango Roads
3. Hexachordal Morning
4. Liguita Song
5. Cancion del Nino
6. Esperanza
7. Amelia
8. To Neciosup

Israel Varela – drum, vokal
Kamal Musallam – oud
Diego Amador – vokal, piano, gitar, tepuk tangan
Claudio Filippini – piano
Angelo Trabucco – piano
Capuchin Daniel – bass
Maurizio Rolli – bass
Tino Quaff – saksofon
Paolo Damiani – selo
Julian Heredia – bass
Alfredo Paixao – bass
Alex Acuna – cajon

Kamal Musallam – Songs for Seung-eun

Tags:


Album: Songs for Seung-eun
Label: K&G, 2011

01. Libertango (Astor  Piazzolla)
02. Song For My Lost Horse (Kamal Musallam)
03. ManhĂŁ de Carnaval (Luiz BonfĂĄ)
04. Lamma Bada (Andalusian)
05. Eu nĂŁo existo sem vocĂȘ (Antonio Carlos Jobim)
06. Besame Mucho (Consuelo VelĂĄzquez)
07. Blue Bossa (Kenny Dorham)
08. Souvenir (Kamal Musallam)
09. When I Remember You (Ernest Saca)
10. A Noita Do Meu Bem (Dolores Duran)
11. The Wish (Dan Trammell)

Kamal Musallam - Songs for Seung-eun

Kamal Musallam - Songs for Seung-eun

Andaikata Kamal Musallam tak galau hatinya karena putus cinta, besar kemungkinan album ini tak akan pernah lahir. Ialah Seung-eun, wanita Korea sang mantan kekasih, yang menjadi sumber inspirasi terciptanya Songs for Seung-eun. Alih-alih hanya depresi dan gundah gulana, Kamal justru mencurahkan segala rasa dalam sebuah proses kreatif berwujud rangkaian trek yang memadukan jazz latin dan Arabic fusion. Bersama rekan-rekan musisi lintas negara, sebelas nomor cantik tergarap apik dan syahdu.

Sentuhan khas Kamal adalah permainan oud bersanding dengan gitar yang menghiasi deretan tembang jazz latin populer juga beberapa komposisi orisinil. Pembukanya adalah “Libertango” milik komposer Argentina, Astor Piazzolla. Irama tango yang identik dengan instrumen bandoneon, diambil alih oleh oud bersama gesekan cello Clara Asuaje. Dua nomor gubahan Kamal, “Song For My Lost Horse” dan “Souvenir” kental bernuansa jazz latin, boleh disimak tepukan cajón atraktif Israel Varela serta Fabiano Giovannelli dengan perkusinya.

Irama bossa terdengar pada “ManhĂŁ de Carnaval” kepunyaan Luiz BonfĂĄ, sedangkan  karya Tom Jobim “Eu nĂŁo existo sem vocĂȘ” didominasi petikan oud yang terasa lirih. Bersama Israel dan Paola Repele, Kamal turut sumbang suara dalam tembang “Besame Mucho” terhias hembusan saksofon alto Jino Kim yang juga ambil bagian di nomor “Blue Bossa.” Trumpetis Daniel Trammell beraksi dalam alunan lembut “The Wish” sebagai penutup.

Kamal menulis,

“To the most wonderful woman
whom every man dreams to meet
who opened my eyes to beauty
and my soul to happiness
and turned my heart into love
Thank you
”

Eastmania, Gandrung Eksplorasi Ketimuran

Tags: , , , , , ,


AXIS Java Jazz Festival 2011

Meskipun bertempat di ruangan dengan tata suara dan akustik yang kurang mumpuni, toh penampilan band ini tetap berkesan. Bukan hanya karena personilnya yang dahsyat, namun terutama oleh sajian musik eksploratif bervisi global, dengan menitikberatkan pada unsur ketimuran yang eksotis. Berlangsung di hari kedua Java Jazz Festival 2011, Eastmania yang tercetus oleh gitaris/komposer Kamal Musallam dan membawa serta musisi legendaris Billy Cobham (drum) dan Kai Eckhardt (bas) juga vokalis Rasha Rizk, kibordis Dwiki Dharmawan, pun Nasser Salameh (perkusi), memberi nuansa bunyi yang menyegarkan.

Eastmania

Eastmania

Enam musisi yang tergabung dalam Eastmania punya preferensi musik dengan latar belakang yang berbeda pula serta menjadi ciri khas masing-masing. Kamal yang hobi mengeksplorasi keragaman budaya dari tempat-tempat yang ia kunjungi, Billy dengan kiprahnya di supergrup Mahavisnu Orchestra dan ranah world music, Kai dengan segala inovasi selama tiga dekade hingga kini, Dwiki lewat proyek kolaborasi musik Nusantara, serta idiosinkrasi Timur Tengah atas diri Rasha dan Nasser. Segala unsur tersebut melebur jadi satu dalam olah bunyi berkelir jazz-rock-fusion.

Malam itu Eastmania hadir dengan garapan segar lewat unison modus-modus Persia dan belahan dunia lainnya, dalam ketukan ireguler dan kompleks. Makin seru tatkala berbalut energi rock distorsif. Tambah kentara geliat ketimuran itu waktu Kamal memainkan al-ÊżĆ«d (gambus) yang berpadu apik dengan vokal Rasha dan gertakan perkusi Nasser. Jelasnya, pertunjukan Eastmania meninggalkan kesan bahwa masih banyak teritori musik yang belum tergarap, seperti disuarakan lewat situs resminya, “
menorehkan perspektif baru dalam kultur musik yang sehat dan berpengaruh, untuk generasi mendatang serta menyatukan jiwa manusia, yang kini hilang termakan kebuntuan modernitas, tenggelam dalam komersialisasi bernama industri musik.”

Eastmania rocks!

AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011: One Lovely Nation

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Axis Java Jazz Festival 2011

Axis Java Jazz Festival 2011

Remarkable Indonesia

Sebuah penyataan yang selalu ada di tag line AXIS Jakarta International Java Jazz Festival selama dua tahun terakhir ini. Bila pada 2010, tag line berbunyi “Jazzin’ Up Remarkable Indonesia”, maka di AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011 yang diselenggarakan pada tanggal 4, 5, 6 Maret 2011 di JIExpo Kemayoran, menggunakan tag line “Remarkable Indonesia, Harmony Under One Nation”. Salah satu hal yang menyebabkan Indonesia ‘remarkable’ adalah karena di negara yang bahkan jauh dari tanah kelahiran musik jazz, negara yang selama bertahun-tahun tidak terlalu dianggap di hingar bingar kiprah musik dunia (termasuk jazz), bisa menyelenggarakan sebuah festival jazz yang menjadi salah satu festival jazz terbaik dan terbesar di dunia. Beberapa musik ternama dunia menyebut Jakarta (Indonesia) telah menjelma jadi pusat jazz dunia, sejajar dengan New Orleans, New York, Chicago, yang telah lama dikenal sebagai pusat kehidupan jazz.

Remarkable Indonesia dalam jelmaannya sebagai destinasi musisi jazz bukan hanya merupakan kebanggaan, namun sekaligus menjadi tantangan buat industri musik, dan khususnya bagi musisi jazz Indonesia. AXIS Jakarta International Java Jazz Festival telah menjadi salah satu terbesar, setelah itu harus meningkat menjadi tempat pencinta jazz dari seluruh dunia dapat menyaksikan kehebatan musisi jazz Indonesia, sejajar dengan musisi internasional. Sehingga yang mendapat predikat ‘remarkable’ bukan hanya festivalnya, tapi juga musisinya, dan Indonesia secara keseluruhan.

Harmony Under One Nation

Musisi, penonton, manajer, artists’ agents, event organizer, penata panggung, sound engineer, penata lampu, penata artistik, jurnalis, pekerja booth, sales promotion girl, dan siapapun yang hadir di JIExpo Kemayoran pada tanggal 4, 5, 6 Maret 2011 untuk AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011 merupakan saudara sebangsa, bangsa yang mencintai musik (jazz).

Dengan perannya masing-masing secara bersama-sama membentuk keselarasan agar AXIS Jakarta International Java Jazz Festival sukses terselenggara, menjadi kegembiraan, dan meninggalkan kesan akan sebuah harmoni yang dirajut oleh musik jazz. Kesan inilah yang menjadi pesan yang ingin disebarkan ke seluruh dunia, “In a remarkable country like Indonesia, Jazz brings harmony under one nation”.

Mari Sebarkan Pesan Harmoni Berbangsa

Bila Java Festival Production (JFP), AXIS, BNI, Garuda Indonesia dan First Media membuat program penjualan karcis secara istimewa, serta program promosi dengan hadiah tiket menonton AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011, dan ada yang sudah dimulai sejak bulan Desember 2010, itu karena pihak penyelenggara dan sponsor ingin agar masyarakat mendapat kesempatan menonton penampilan musisi Indonesia dan internasional.

JFP mengundang musisi Indonesia, baik yang senior, sedang mencapai puncak karirnya, maupun yang baru merintis karir untuk menunjukan kehebatannya di depan pencintanya.

Nama seperti Benny Likumahuwa, Maliq ‘n D’Essentials, Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, Andien, Shadow Puppets, Notturno, Dira Sugandi, Dwiki Dharmawan, Simak Dialog, Fraya, Ade Irawan, Indonesia Nu Progressive, Idang Rasjidi,  Tohpati Bertiga, Indra Lesmana-Barry Likumahuwa-Sandy Winarta (LLW), GIGI Big Band, Chamber Jazz (Iwan Hasan, Andien, Enggar, Merry Kasiman), Jopie Item, Oele Pattiselanno, Nial Djuliarso, The Husbands & Wives feat. Endah N Rhesa, RAN, dan Nikita Dompas akan hadir memberikan yang terbaik di hadapan pengunjung AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011. Johanes Radianto, Dhani Syah, Elfa Zulham dan Sri Hanuraga yang baru menyelesaikan studi musiknya di Belanda juga bakal hadir. Magenta Orchestra pun akan tampil bersama George Benson dalam gelaran Special Show bertajuk “George Benson’s Tribute to Nat King Cole with Magenta Orchestra”.

Para artis berbagi waktu di 16 panggung, dengan musisi internasional, seperti George Benson, Santana, Corrine Bailey Rae, George Duke, Kenny Loggins, Charlie Haden, Joey DeFrancesco, grup Fourplay, Sondre Lerche, Rhoda Scott, Jamie Lidell, Kamal Musallam, Ernie Watts, Steve Smith, grup Acoustic Alchemy, Ed Motta, Jose James, Brian Culbertson, Kai Eckhart, grup Juan de Carlos Afro-Cuban All Stars, Maurice Brown, Roy Hargrove, Roberta Gambarini, grup Rasmus Faber & RaFa Orchestra, Vinny Valentino, dan Robert Glasper.

Diharapkan, lebih dari 100 ribu orang yang hadir di AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011 dapat menjadi agen komunikasi dalam menyebarkan pesan bahwa dunia akan lebih indah dalam sebuah harmoni bersatunya berbagai latar belakang, pandangan, budaya, dalam suatu hamparan rajutan musik jazz.

Pengen dapat daftar lengkap para musisi yang manggung berdasarkan hari mereka tampil?, simak disini jadwal lengkapnya.

Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


1. The Spirit Of Peace
2. Benggong Banggong
3. IE (Sydney version)
4. Janger
5. Numfor
6. Paris Barantai
7. Island of God
8. Ana Ritin Teo
9. Arafura
10. Clarissa
11. Jazz for Freeport
12. IE (LA version)

Musisi:

Jimmy Haslip (bass), Russel Ferrante (keyboard), Walfredo Reyes Jr. (drums), Kamal Musallam (gitar), Steve Thornton (perkusi), Lewis Pragasm (drums), Michael Paulo (saksofon), Tollak Ollestad (harmonica), Andy Suzuki (saksofon/clarinet/flute), Guy Strazz (gitar), Rodrigo Galvao (perkusi), Hugh Fraser (bas), Andrew Oh (flute),
Indro Hardjodikoro (bas), Sandy Winarta (drum), Zainal Arifin (perkusi), Korem Sihombing (taganing), Yoyon Darsono (beluk), Marc Antoine (gitar akustik), China Philharmonic Orchestra, Rich Breen (Sound Engineer) Ivan Nestorman (vokal), Dira.J.Sugandi (vokal), Peni Candrarini (sinden)

Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra - Omega Pacific Production 2009

Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra - Omega Pacific Production 2009

Berbekal rekam jejak sebelumnya, kita bisa mengira-ngira preferensi seorang Dwiki Dharmawan untuk album barunya “World Peace Orchestra” (WPO). Tebakan kita kurang lebih adalah hadirnya warna tradisi. Lebih dari sekedar kegandrungan, musik tradisi (yang kemudian berpucuk di generalisasi world music) telah lama dijalani Dwiki sebagai misi yang berimplikasi serius. Menelusur sedikit ke belakang, pakem baru Krakatau di wilayah ini terlihat pada 1994 dengan Trie Utami melantunkan “Mystical Mist” disusul klip “Barala Duit” (2000) di jaringan televisi swasta sebagai konfirmasi. Sempat terdengar pula ia ikut mengubek-ngubek musik batu di Nias bersama Rizaldi Siagian dan Hikayat Manaö yang kemudian dipertunjukkan secara luas pada konser Megalitikum Kuantum (2005). Di lain waktu (2007) ia terlibat intens dalam “Meukondroe” bersama Rafly, seniman Aceh. Apabila bergeser sedikit saja dari wilayah garapan semacam Krakatau, maka porsi WPO lebih ke musik Barat. Porsi yang cukup lama absen sejak album solo “Nuansa” (2002). Tambahan isi WPO adalah tur membawa pesan perdamaian dengan cukup ambisius melibatkan musisi lima benua.

Jika harus menunjuk pilihan, rasanya urutan repertoar konser peluncuran WPO di GKJ (17/06/’09) bisa menjadi referensi playlist. Kredit harus kita berikan kepada Dewa Budjana untuk petikan gitar soprannya yang meditatif dan menjadikan “Island of God” tuturan yang bergema. Gema ini disambut intuisi solo Dwiki pada bridge yang sejuk, mengalir, jatuh menitik ikuti denyut perkusi yang renggang. Kidung Bali dan tiupan flute Andrew Oh menggenapi resolusi transedental nomer ini.

Menyusul pada daftar adalah “Paris Barantai” yang lebih rancak dan gempita. Head baru, dalam permainan minor kompak, khusus diciptakan untuk mengawal melodi lagu Kalimantan ini, menyertai modifikasi cantik ritmenya. Di nomer ini terlihat bahwa Dwiki giat juga mengeksplorasi vocoder, suatu detil lain (saat live bisa kita coba cari mikrofon yang diumpankan ke unit VP-550 misalnya) di luar hand keyboard yang disandang ataupun moog dan melodica. Mendiang Roger Burn yang besolo vibrafon pada nomer ini adalah kontak Dwiki yang kemudian memunculkan partisipasi bassist Jimmy Haslip (produser Burn di kelompok Shapes) serta kibordis Russel Ferrante untuk WPO.

Jimmy Haslip memproduseri “Clarissa”, yang juga merupakan nomer dedikasi Dwiki pada Haslip (dalam nama samaran), bahwa tidak semua orang beruntung dan ada yang harus bergantung pada orang lain sepanjang hidupnya. Dapat kita simak Tollak Ollestad (pentolan Shapes yang lain) mengisi harmonika dalam liuk sendu berpasangan dengan saksofonis Andy Suzuki.

Lagu rakyat berbahasa Flores dibawakan Ivan Nestorman dalam “Benggang Benggong”, “IE”, dan “Ana Ritin Teo” yang bernuansa pesisir sekaligus berwarna Afrika dalam sensibilitas musik Barat. Sementara itu yang betul-betul mewakili jati diri fusi-tradisi-jazz WPO adalah “Janger” (Bali). WPO yang dirilis Omega Pacific Production (dengan eksekutif produser Gita Wirjawan) ini memang bertabur bintang tamu. “Arafura” yang sering menjadi pilihan live Dwiki misalnya diisi spesialis sweep Frank Gambale (electric guitar). Gitaris akustik Marc Antoine juga muncul selain nama Guy Strazzullo (Australia) yang pernah mengisi album “Nuansa”.

Konser launching album Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra di GKJ

Tags: , , , , , , , ,


wpo-gkj-2009

Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra

Dwiki Dharmawan, pianis sekaligus leader Krakatau Band, akan merilis album terbaru dari proyek World Peace Orchestra-nya di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu 17 Juni 2009 pukul 19.30 mendatang. Turut mendukung Steve Thornton, perkusionis yang pernah bermain bersama Miles Davis, lalu pemain oud Kamal Musallam dan drummer kenamaan asal Malaysia Lewis Pragasam.

Selain itu turut tampil pula Dewa Budjana (gitar), Sandy Winarta (drums), Philipe Ciminato (perkusi), Indro Hardjodikoro (bass), Eugen Bonty (saxophone). Penyanyi Dira Sugandhi, Peni Candrarini dan Ivan Nestorman akan tampil bersama dengan string section yang dipimpin Oni Krisnerwinto.

Album Dwiki Dharmawan dirilis oleh Omega Pacific berbandrol IDR 89.000,- (delapan puluh sembilan ribu rupiah) yang kini juga dapat dibeli di WartaJazz.com Store atau menghubungi 021-8310769

Anda yang tertarik menonton dapat menghubungi info@wartajazz.net untuk informasi lebih lanjut.


Some people try to get very philosophical and cerebral about what they’re trying to say with jazz. You don’t need any prologues, you just play. If you have something to say of any worth then people will listen to you. — Oscar Peterson


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<