Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "Krakatau"

Monju West Java World Music Festival akan digelar di Bandung

Tags: , , , ,


Sebuah perhelatan musik dunia, akan digelar di kota Bandung, dalam sebuah perayaan bertajuk MONJU WEST JAVA WORLD MUSIC FESTIVAL 2010 dengan tajuk Kemasan Musik Untuk Kekinian Dan Pesta Musik Nusantara. Acara ini digelar pada 19 dan 20 November 2010, di Monumen Juang Rakyat Jawa Barat Jl. Dipatiukur Bandung tanpa dipungut biaya.

Musisi yang akan tampil dalam perhelatan tersebut adalah mereka yang telah berkaliber dunia dan memiliki karya-karya yang berbasis tradisional seperti Patrick Shaw Iversen & Rune Broendbo ( Norwegia), Colin Bass dan Jenny Weisgerber (Germany), Kamal Musallam (Dubai), Ron Reeves/ Warogus (Australia-Indonesia), Sarah & Maika Gomez T’Tukunak (Spanyol), dan sejumlah musisi tanah air seperti Krakatau, Samba Sunda, Balawan & Batuan Etnik, Dwiki Dharmawan & WPO, Vicky Sianipar, Empat Peniti, Namin D’bajidor, Malire, Rengkong Itenas, dan seorang seniman fenomenal, Darso.

Demikian yang terungkap dari jumpa wartawan yang digelar di Galeri Kita, Kantor Dinas Pariwisata Jl. Martadinata Bandung, Senin (1/11) lalu. Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Barat, Herdiwan yang didampingi musisi Dwiki Dharmawan dan Ismet Ruchimat dari kelompok Samba Sunda yang bertindak selaku penata artistik festival.

Ini merupakan kemasan musik kekinian dan pesta musik nusantara, sebuah perhelatan musik tradisional dunia yang ditempa sebagai sebuah karya yang telah mengalami proses eksplorasi dan akulturasi. Perhelatan yang berskala internasional ini menyajikan materi utama pertunjukan musik dunia yang di dukung oleh kegiatan lainnya seperti workshop, diskusi, bazaar dan pertunjukan happening art.

Saat ditanya WartaJazz tentang alasan kenapa acara ini digelar Herdiwan berkomentar, “Banyak musisi dari Jawa Barat yang justru menggelar karya atau membantu festival musik ditempat lain dan berkibar. Ini merupakan kesempatan berkarya dikampung sendiri. Acara ini juga memberikan kesempatan musisi untuk berkreasi”.

Dwiki Dharmawan - Herdiwan - Ismet

Dwiki Dharmawan - Herdiwan - Ismet

Dinas Pariwisata dan Budaya Jabar yang menjadi penyandang dana sebagai wujud dari turut membantu memberikan ruang pada seniman dalam menampilkan karya-karya yang lebih berpijak pada realitas kulturalnya, dengan harapan terjadi dinamisasi kultural dan dapat diterima kembali oleh masyarakat, setelah nampak gejala seni musik tradisional mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Tentu saja musik yang akan ditampilkan adalah musik tradisional yang telah dikemas dengan memperhitungka nilai global

Sementara Dwiki mengungkapkan, “Bandung memerlukan Quality Tourism. Acara Monju West Java World Music bisa menjadi salah satu magnet agar orang-orang yang datang ke Bandung mendapatkan sajian berkualitas”. Hal ini rupanya diamini oleh Pemerintah Daerah sehingga diharapkan memang acara ini bisa menjadi agenda tahunan agar para pelaku pariwisata dan masyarakat umum khususnya seniman dapat memperoleh manfaat.

Melalui MONJU WEST JAVA WORLD MUSIC FESTIVAL 2010, Kemasan Musik Untuk Kekinian Dan Pesta Musik Nusantara, diharapkan mampu membuka ruang dialog dan apresiasi antara musisi dunia, musisi Jawa Barat dan masyarakat pada umumnya, meningkatkan peran aktif komunitas seni tradisional agar terus berkarya dan berinovasi. Lebih jauhnya, dapat mengembangkan relasi kultural dan sosial antara Pemprov jabar, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Barat dengan komunitas seni budaya tradisonal serta masyarakat pada umumnya.

Ismet yang bertugas mengatur para artis yang akan tampil menyatakan “Penting sekali meletakkan peta Monju West Java World Music Festival dalam agenda World Music Festival dunia. Acara ini juga merupakan santapan pendidikan “. Dan hal itu disadarinya secara penuh dengan mengundang sejumlah musisi internasional yang memang memiliki jaringan didunia World Music khususnya.

Konsep kemasan musik dalam acara ini adalah konsep “pasar”. Sebuah kata yang cocok untuk kegiatan yang berbasis seni-budaya tradisional, tidak selalu resmi, namun meriah, spontan, apa adanya serta jujur. Konsep “pasar” pun sejalan dengan digelarnya bazaar dan workshop. Dalam bazaar transaksi yang terjadi adalah transaksi barang atau benda, sedangkan dalam workshop transaksi yang terjadi adalah transaksi pengetahuan, pemahaman, pengalaman dan kreatifitas.

Kegiatan ini akan memunculkan idiom-idiom lokal yang ada dalam seni-budaya tradisional dalam konteks musik dunia, sehingga kekuatan lokal dan lokalitas mampu menjadi daya magnetis bagi para musisi dunia untuk kemudian menjadi bahan olahan kreatifnya.

Tertarik mengetahui acara lebih lanjut?, silakan menghubungi

ï»ż3rd Asean Jazz Festival kembali digelar

Tags: , , , , , , , , , ,


Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia kembali menggelar 3rd Asean Jazz Festival di Pulau Batam, Jumat-Sabtu 15-16 Oktober 2010 mulai pukul 19.00 bertempat di Harbour Bay Batam.
Acara yang tidak dipungut biaya selama dua hari ini akan dimeriahkan sejumlah artis dari Indonesia seperti Krakatau, Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra, Syaharani, Barry Likumahuwa Project feat Benny Likumahuwa, simakDialog (Riza Arshad & Tohpati dkk), Pra Budi Dharma, Dira J. Sugandi, Ivan Nestorman, Agam Hamzah, Rio Sidik, Gerry Herb, Demas Narawangsa, Bandanaira feat Irsa Destiwi & Lea Simanjuntak plus dua band dari Batam, Mangrove dan Cheppy N Friends.

Sejumlah artis mewakili negara masing-masing yaitu Bassgroove (Malaysia), Natasha Patamapongs (Thailand), Eugene Ang (Singapore) dan Luisa SantaMaria (Philippines).
3rd Asean Jazz Festival juga dimeriahkan dengan penampilan spesial dari Brazilian Jazz Ambassador, gitaris Toninho Horta untuk tampil selama dua hari berturut-turut.
***
Acara Asean Jazz Festival yang diadakan di Batam dimaksudkan sebagai agenda tahunan untuk menarik minat wisatawan dari mancanegara khususnya Singapura dan Malaysia. Letaknya yang strategis diharapkan menjadi pendongkrak kunjungan lintas batas atau cross border visitor.
3rd ASEAN Jazz Festival kali ini diadakan di kawasan bisnis terpadu sekaligus pelabuhan Ferry dari dan ke Singapura – yang dapat ditempuh sekitar 45 menit – Harbour Bay Batam. Penonton akan diberikan suasana festival yang berbeda karena terletak ditepi laut dan pemandangan cantik lampu-lampu kapal pada malam hari.
Dalam acara 3rd Asean Jazz Festival tahun ini panitia melakukan kombinasi antara Jazz sebagai Hiburan, Edukasi dan Appresiasi, oleh karenanya susunan penampil mencerminkan tiga hal tersebut.
Pada bagian akhir Festival di hari kedua, akan ada “Jam Session” sebagai tradisi Jazz yang tetap dipertahankan dan merupakan kesempatan bagi para musisi muda untuk berbagi panggung atau “share stage” dengan legenda musik dunia Toninho Horta.
Akan ada pula kolaborasi ASEAN Jazz Band yang menjadi perekat hubungan antar musisi di negara-negara Asia Tenggara.
Acara ini terselenggara berkat kerjasama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia yang didukung oleh Visit Batam, Batam Tourism Board, Harbour Bay, WartaJazz, Sing FM Batam dan KEI FM Batam.

Krakatau rencanakan syuting di Makassar untuk Live DVD

Tags:


Pentolan supergrup Jazz Indonesia Krakatau, pianis Dwiki Dharmawan menyatakan bahwa setelah beberapa hari di Makassar bersama Pra Budi Dharma, Ubiet dan kawan-kawan terinspirasi untuk membuat Live DVD di Makassar.

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Pernyataan itu disampaikan Dwiki disela-sela konferensi pers Jazz @ Fort Rotterdam 2010 yang digelar di Hotel Singgasana Makassar (Minggu, 1 Agustus 2010) yang dihadiri oleh Sapta Nirwandar, Dirjen Marketing Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Dalam kesempatan lain Dwiki juga menegaskan bahwa dukungan dari Pemerintah Kota dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga sudah didapat.

Meski demikian ia tidak merinci lebih lanjut kapan rencana ini akan diwujudkan. Hanya sembari bercanda ia mengatakan, “Sepertinya sudah menjadi tradisi Krakatau merilis album setiap lima tahun sekali”. Terakhir Krakatau merilis double album 2 Worlds dan Rhythm of Reformation usai melakukan tour Amerika Utara dan Eropa Barat pada tahun 2004-2005.

Saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam 2010, Krakatau mengundang dua personil La’ Biri yang memainkan instrumen tradisional gambus makassar dan pui-pui (bentuknya seperti terompet berukuran kecil). Seluruh perhatian terpusat ketika terjadi “duel” tarompet dan pui-pui secara insidental, atraksi dialogis-improvisasional yang ditampilkan keduanya membuat penonton maupun penghuni panggung berdecak kagum sekaligus tergelak. Dan sepertinya ini yang menjadi titik totak rencana syuting Krakatau di Makassar.

Kita tunggu saja realisasinya.

2nd Jazz @ Fort Rotterdam 2010: Ketika Jazz dan Etnik (Kembali) Bersua

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Acara jazz tahunan dipentaskan lagi di Makassar pada tanggal 31 Juli dan 1 Agustus lalu. Tema yang diusung tak berbeda dengan tahun sebelumnya, pihak panitia One Note Entertainment memberi tajuk “When Jazz Meets Ethnics” dengan misi untuk mengembangkan kekayaan musik tradisi setempat melalui jazz sebagai medium. Disamping itu, agenda lainnya adalah mempromosikan potensi wisata Makassar dan sekitarnya kepada publik internasional, seperti penuturan ketua panitia Jazz @ Fort Rotterdam (JFR) 2010 Hendra Sinadia yang juga mendapat dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Makassar serta Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dihadiri Sapta Nirwandar selaku Direktur.

Sapta Nirwandar, Dwiki Dharmawan dan Hendra Sinadia beserta panitia

Sapta Nirwandar, Dwiki Dharmawan dan Hendra Sinadia beserta panitia

Sejalan dengan pelaksanaan JFR 2010, Kemenbudpar turut berupaya untuk mensosialisaikan program Vote Komodo kepada masyarakat Makassar. Tentunya hal tersebut dilakukan untuk menyikapi lolosnya Taman Nasional Komodo sebagai salah satu dari 28 finalis untuk melanjutkan ke tahap akhir kampanye setelah menyisihkan 440 nomine lainnya dari 220 negara. New7Wonders Foundation menetapkan tanggal 11 November 2011 sebagai batas akhir pemungutan suara. Pengunjung JFR 2010 dapat memberikan suaranya pada gerai online voting yang tersedia selama acara berjalan dan terhubung langsung dengan situs www.new7wonders.com. Setelah voting, mereka langsung mendapatkan cinderamata berupa pin “Vote Komodo” sebagai tanda partisipasi.

Hari Pertama, Sabtu 31 Juli 2010

JFR 2010 baru dimulai sekitar pukul enam sore waktu setempat, ditandai dengan penampilan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Hasanuddin dilanjutkan Pakarena N Jazz serta atraksi tarian tradisional khas Makassar. Kepala Dinas Kebudayaan  dan Pariwisata Makassar, Rosmayani Madjid, diamanatkan untuk memukul gendang membuka jalannya festival.

Hari telah berganti malam, dan kini tiba saatnya band lokal Rizcky & The Strangers untuk tampil.  Beranggotakan lima personil dengan Rizcky Pradhana de Keizer sebagai vokalis utama sekaligus basis, band ini cukup bertenaga membawakan lagu-lagu bernuansa funk maupun fusion. Tembang “Good Times, Bad Times” milik Edie Brickell, “I Don’t Want to Miss a Thing” dari Aerosmith serta komposisi instrumental “Nightfall” mereka sajikan. Pengunjung JFR yang mayoritas anak muda nampak terkesima dengan vokal dan permainan bas Rizcky, terutama ketika “All At Sea” dari Jamie Cullum dinyanyikan.

Terdapat dua buah panggung pada acara ini. Sebuah terletak persis berhadapan dengan pintu masuk, dan satu lagi ditempatkan sekitar 50 meter ke dalam areal Fort Rotterdam sebagai panggung utama. Selepas Rizcky, penampil berikutnya adalah PSM Universitas Hasanuddin berjumlah delapan orang, dua pria dan enam wanita. Mereka mencoba untuk membawakan lagu tradisional populer seperti “Anging Mammiri” dan lagu pop dalam negeri serta mancanegara melalui harmonisasi vokal.

PSM Universitas Hasanuddin di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

PSM Universitas Hasanuddin di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Kemudian penonton berbondong-bondong ke panggung utama untuk menyaksikan band lokal lainnya, Groundstroke yang menghajar audiens dengan sajian jazz-rock sarat distorsi. Susana memanas tatkala ketiga personil melaju kencang lewat solo instrumen gitar, bas, dan drum secara bergantian. Menarik ketika band ini memainkan “Spain” karya Chick Corea yang sound gitarnya justru mengarah ke heavy metal.

Selanjutnya adalah pendingin suasana dengan tampilnya band D’Exclusive lewat lagu-lagu yang sebetulnya masuk kategori Top 40 semisal “She Will Be Loved” besutan Maroon 5, tampak sesuai dengan profil band ini yang personilnya masih remaja.

Balawan di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Balawan di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Salah satu bintang tamu di hari pertama adalah I Wayan Balawan yang begitu memesona lewat permainan gitar setang ganda lengkap dengan teknik two-handed tapping andalannya. Malam itu adalah konser perdana Balawan di tanah Makassar, ia tampil bersama Ketut Tarmadi (bas) dan Dion Subiakto (drum) yang tergabung menjadi Balawan Trio. Mereka mengusung musik yang energik bergaya campuran jazz, fusion, rock, hingga etnik. Tak hanya Balawan seorang, Ketut dan Dion pun menampilkan atraksi solo penuh greget. Grup ini sangat menghibur audiens sewaktu Balawan menyanyikan nomor “What a Wonderful World” dengan serakan khas Louis Armstrong. Irama reggae menutup penampilan Balawan sembari ia melagukan “Waiting in Vain” milik Bob Marley secara ekspresif.

Mercy Dumais di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Mercy Dumais di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Denyut bossa nova dan samba terdengar meriah waktu Zarro mulai angkat suara. Penampilannya waktu itu diramaikan pula lewat suguhan Capoeira (kesenian khas Afro-Brazilian memadukan unsur bela diri, tarian, dan musik) yang sinkron dengan irama Zarro. Atmosfer semakin hangat terasa ketika vokal Mercy Dumais memenuhi ruang dengar audiens dengan interpretasi bossa yang mumpuni, khusunya selagi ia membawakan “Anging Mammiri” dan “Tristeza”. Sedang berulang tahun, ketua panitia Hendra Sinadia diminta naik ke atas panggung dan akhirnya ia menyanyikan “Girl From Ipanema”. Lumayan.

Zarro di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Zarro di Jazz @ Fort Rotterdam 2010 - Makassar

Penampil terakhir untuk hari pertama JFR adalah sebuah kelompok musik visioner, seperempat abad usia, Krakatau namanya.  Dengan line up terkini yaitu Dwiki Dharmawan (keyboards, synthesizer), Pra Budhi Dharma (bas), Adhe Rudyana (kendang), Yoyon Dharsono (tarompet, rebab, suling), Zainal Arifin (gamelan, perkusi), Gerry Herb (drum), dan Nyak Ina Raseuki alias Ubiet (vokal), grup tersebut mewarnai JFR 2010 lewat garapan musik yang mengawinkan eksotika bunyi-bunyian tradisional dengan elemen jazz modern. Irama rampak world beat meriah terdengar sedari awal penampilan mereka, vokal Ubiet yang singular menjadi sebuah fenomena waktu ia ambil bagian dalam lagu “Bunga Tembaga”, “Spirit of Peace”, maupun “Rhythm of Reformation”.

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma & Ubiet saat tampil di Jazz @ Fort Rotterdam

Aksen pertunjukan adalah sewaktu Krakatau mengundang dua personil La’ Biri yang memainkan instrumen tradisional gambus makassar dan pui-pui (bentuknya seperti terompet berukuran kecil). Seluruh perhatian terpusat ketika terjadi “duel” tarompet dan pui-pui secara insidental, atraksi dialogis-improvisasional yang ditampilkan keduanya membuat penonton maupun penghuni panggung berdecak kagum sekaligus tergelak. Tidak ketinggalan, aksi duet maut Adhe dan Zainal menyuguhkan pukulan-pukulan kanonik di atas selaput tamborin. Segar, cerdas, dan menghibur.

Yoyon Dharsono memainkan Tarompet berinteraksi dengan instrumen Pui-Pui

Yoyon Dharsono memainkan Tarompet berinteraksi dengan instrumen Pui-Pui

Paten Etnik Krakatau di Ultah Perak

Tags: ,


Usai hujan yang mengguyur, basmalah tentu utama agar berkah terus mengalir saat beralih membuka urusan berikutnya. Demikian Dwiki Dharmawan melafadzkannya dalam “Bubuka” yang mengemas perayaan ulang tahun ke-25 dalam nuansa syukur (22/10/09). Wajar saja ada keistimewaan dari mencapai tahun perak. Ini karena langgeng mencapai usia segitu tidak pernah dibayang-bayangkan sebelumnya, dijalankan saja hingga kesampaian juga. Jam session Donny Suhendra, Budhy Haryono, Pra Budidharma, dan Dwiki di Bumi Sangkuriang (Bandung) medio 80-an ternyata berbuah paten identitas Krakatau di telinga penikmat musik.

krakatau-bentara-budaya

Ade Rudhiana sedang memainkan kendang sunda, sementara Dwiki Dharmawan memainkan gamelan dan Budhi Haryono memainkan taganing

Sempat terlintas di benak bahwa bakal ada reuni, nih. Tidak tepat begitu jadinya. Reuni memang iya, mengingat formasi sekarang cukup lama vakum tampil bareng (kecuali insidental, saat konser amal Jazz For West Java lalu). Akan tetapi, malam itu tidak ada nostalgia era fusion lampau Yamaha Light Music Contest s.d. Band Explosions (1985) atau jaman “Kembali Satu” (1989) misalnya. Yang jadi ultah adalah Krakatau yang mapan dengan pencapaian artistik etniknya. “Etnik” adalah label yang kini dominan melekat. Ini berkat penjelajahan berliku yang dijejak album persimpangan “Mystical Mist” (1994). Namun, berkaitan dengan reuni, Dwiki sempat mencetuskan bahwa tema Krakatau pasts-and-presents akan digarap tahun 2010. Toh, ulang tahun seperempat abad tidak harus dirayakan bersuasana nostalgia. Tetap ada bonus, sih. Budhy (lama juga tidak kelihatan) beradu solo dengan kendang dalam dolanan “Tugu Hegar “ dan menabuh taganing di “Tareek Pukat”.

“Two Worlds” (2006) menjadi milestone identitas baru Krakatau. Selain perkara tumbuh-dewasa, besar pula pengaruh ekspos pergaulan intens dengan beragam jazzer dunia selama tur keliling bagian utara Benua Amerika pada musim panas 2004. Groove funk, ketuk tilu, straight-ahead, didong, tembang, kidung dan atraksi solo saling baur, luwes membuka-tutup sekatnya. Dua dunia ini kadang menapaki jalan yang sama (suatu kebetulan yang direkayasa), kadang terpisah enharmonis, kadang benar-benar egois berada di sudut masing-masing (biasanya karena menangnya si karakter kuat: musik Sunda).

Pameran foto dan memorabilia turut menjadi bagian perayaan yang digelar Bentara Budaya Jakarta ini. Sebuah gitar dekatonal (dengan peletakan fret-nya yang khusus, sekilas seperti jejak cakar ayam) yang dipamerkan menjadi jejak keseriusan Pra mengambil peran arsitek khazanah Sunda dalam wujud kontemporer. Ia pun turut merancang perangkat bonang yang dimainkan Zainal Arifin. Tiga kompleks bonang tersebut memuat sekaligus dua skala tradisi, yaitu Pelog dan Slendro. Perubahan skala ini terdengar saat permainan bergeser ke kompleks sisi kiri. Krakatau juga makin mumpuni sejak dipersenjatai ornamentasi vokal Ubiet dan permainan rapat Gerry Herb. Sementara itu, gawang musik tradisi grup ini masih dikawal ketat kreatifitas Yoyon Dharsono dan Ade Rudhiana yang terbuka terhadap pakem-pakem lain.

Merchandise 25th Krakatau Anniversary kini tersedia

Tags:


Dalam rangka 25th Anniversary kelompok musik Krakatau band yang telah merilis sejumlah album maka Wartajazz.com mempersembahkan merchandise khusus yang tersedia dalam dua warna coklat dan hitam.

Dibagian depan desain menampilkan logo Krakatau dengan taglinenya “Karawitan music within the progression of modern sound” sementara pada bagian belakang tercantum 25th Anniversary dan daftar diskografi mulai tahun 1987 hingga 2006.

Krakatau-036 Brown

Krakatau-036 Brown

Kode: Krakatau-036 Brown
SIZE AVAILABLE: XS, S, M, L, XL, XXL, XXXL(4L)
HARGA: IDR 60.000,-

Krakatau-036 Black

Krakatau-036 Black

Kode: Krakatau-036 Black
SIZE AVAILABLE: XS, S, M, L, XL, XXL, XXXL(4L)
HARGA: IDR 60.000,-

Anda tertarik membeli? silakan pesan via sales@wartajazz.net

Konser 25 tahun Krakatau di Bentara Budaya Jakarta

Tags:


Bentara Budaya Jakarta memprsembahkan sebuah konser dalam rangka 25 tahun  kelompok musik Krakatau yang dikomandani Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma dan kawan-kawan pada hari Kamis, 22 Oktober 2009 mulai pukul 19.00 wib. GRATIS.krakatau

Grup musik yang didirikan di Bandung tahun 1984 merupakan salah satu grup yang masih aktif dan tak pernah lelah berkarya dalam blantika musik Jazz Indonesia.

25 tahun perjalanan panjang kelompok yang awalnya digawangi Dwiki Dharmawan, Pra B Dharma, Budhy Haryono dan Donny Suhendra ini telah menjadi bagian penting dari sejarah musik di Indoesia.

Sejumlah artis yang pernah bergabung antara lain Harry Moekti, Ruth Sahanya, Gilang Ramadhan, Indra Lesmana dan Trie Utami.

Perubahan yang cukup frontal terjadi di tahun 1992 ketika formasi kembali menjadi Dwiki, Pra dan Budhy Haryono bersama Trie Utami yang melakukan eksplorasi terhadap musik tradisi terutama Sunda. Perubahan tersebut akhirnya mengawali debut mereka ke arena Internasional.

Setelah perubahan tersebut lahirlah karya-karya seperti album Mystical Mist, Magical Match, 2 Worlds dan Rhythm of Reformation yang membuat Krakatau melanglang buana dan tampil di ajang Jazz Festival internasional yang bergengsi.

Diantaranya North Sea Jazz Festival, Pesta Raya – Malay Festival of Arts di Singapura, Montreux Jazz Festival, Sziget Festival, Toronto Downtown Jazz Festival, Vancouver Jazz, Guanajuato Festival, Lincoln Center for The Performing Arts, Cervantiono festival di Meksiko.

Kini formasi terakhir Krakatau adalah

Krakatau dipilih oleh Pemerintah menjadi salah satu Duta ‘VisiIndonesia Year 2008’ dan ‘Visit Indonesia Year 2009’ dengan misi kebudayaan keberbagai negara.

Untuk menandai perjalanan panjang kiprahnya akan dipamerkan pula memorabilia 25 tahun Krakatau yang akan berlangsung selama 4 hari mulai dari tanggal 22 hingga 25 Oktober 2009.

Jazz for West Java, bentuk kepedulian musisi jazz Indonesia pada gempa Jawa Barat

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,


logo jazz for westjavaTak pernah ada yang berharap musibah datang, termasuk para korban gempa  berkekuatan 7.3 skala Richter di Jawa Barat yang getarannya terasa mulai dari Jakarta hingga Bali.

Berangkat dari kepedulian para insan Jazz Indonesia, maka akan digelar konser Jazz for West Java sebagai wujud dari nyata kegiatan untuk menggalang dana, mengumpulkan donasi guna membantu saudara-saudara kita yang mengalami musibah gempa di Jawa Barat.

Kegiatan ini merupakan persembahan dan hasil kerjasama Dewan Kesenian Jakarta, Simpay Wargi Urang, WartaJazz.com, Palang Merah Indonesia dan Farabi Music.

“Insya Allah seperti halnya kepedulian kita pada korban Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta, kali ini kita menggelar konser amal untuk para korban gempa Jawa Barat”, demikian diungkapkan Dwiki Dharmawan pengagas acara saat melakukan pertemuan koordinasi panitia konser Jazz for West Java bersama Adang Daradjatun dari Simpay Wargi Urang, Muhammad Thoriq dari Palang Merah Indonesia, Agus Setiawan Basuni dari WartaJazz.com, Gideon Momongan dari Indiejazz Inc.

poster westjava web

Acara akan digelar pada hari Minggu, 13 September 2009 mulai pukul 19.00 wib hingga 23.00 wib bertempat di Graha Bakti Budaya – Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikin Raya 73 Jakarta Pusat. Anda yang tertarik menonton dan beramal, undangan sebesar IDR 100.000,- dapat diperoleh dengan menghubungi salah satu nomor telepon berikut:

DKJ 021-39899634 / 3162780 Ranti
Farabi Music 021-7226270 / 7224407 Dina
WartaJazz.com 021-8310769 Dewi
PMI 021-32084400 Indah / Winda
Simpay Wargi Urang 3100551 Yane

Para musisi jazz Indnesia yang berkenan hadir hingga berita ini diturunkan antara lain Benny Likumahuwa, Krakatau, B3, Rio Febrian, Dwiki Dharmawan, Fariz RM, Maya Hasan, Tompi, Idang Rasjidi, Andien, Budjana-Tohpati, World Peace Orchestra, Agam Hamzah,Adi Darmawan, Kulkul, Donny  Suhendra, Riza Arshad, Bintang Indrianto, Arief Setiadi, Yance Manusama, Tere, ES.QI.EF,Totong Wisaksono, Gerry Herb, Audiensi Band, Otti Jamalus Quartet, Clorophyl D’next Generation, Tompi, Yeppi Romero, Erik Sondhy, Barry Likumahuwa Project, Jilly Likumahuwa,Mahagenta, Oppie Andaresta, Bram,Aldhi,Gerald Trio, Notturno, Rio Moreno, SOL Project, Vodka, Ryo The Malay.
Farhan dan Denny P-Project akan bertindak selaku MC atau pembawa acara.

Selain itu panitia juga merilis merchandise khusus edisi Jazz for West Java dengan harga sebesar IDR 100.000,- (seratus ribu rupiah) dan tersedia dalam ukuran XXS, S, M, L, XL, 3L dan 4L. Anda bisa mengontak info@wartajazz.net untuk pembelian merchandise Jazz for West Java ini.

Jazz for West Java-031 - Maroon

Jazz for West Java-031 - Maroon

westjava-031 - white

Jazz for West Java-031 - white

westjava-031 - black

Jazz for West Java-031 - black


I have to admit that more and more lately, the whole idea of jazz as an idiom is one that I’ve completely rejected. I just don’t see it as an idiomatic thing any more
To me, if jazz is anything, it’s a process, and maybe a verb, but it’s not a thing. It’s a form that demands that you bring to it things athat are valuable to you, that are personal to you. That, for me, is a pretty serious distinction that doesn’t have anything to do with blues, or swing, or any of these other things that tend to be listed as essentials in order for music to be jazz with a capital J. — Pat Metheny


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<