Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "kua etnika"

…Dan Penonton Pun Dibuat Tertawa Oleh “DJ Aduk”, “Miss Pitch Control”, Serta Kua Etnika

Tags: , , ,


Kua Etnika @ Salihara

Kua Etnika @ Salihara

Rangkuman Konser Musik Djaduk Ferianto & Kua Etnika di Teater Salihara, 25 Agustus 2010.

“…ladies and gentlemen, DJ Aduk!”, celoteh Trie Utami waktu ia memperkenalkan seorang dengan postur tinggi besar, berbaju putih dan berkacamata gelap. Yang dimaksud tidak lain adalah Djaduk Ferianto, pentolan grup Kua Etnika yang berdiri sejak tahun 1995. Ulah Iie (panggilan akrab Trie Utami) tersebut kontan bikin seisi Teater Salihara ngakak. Terlihat mimik kepuasan luar biasa di wajahnya, seolah berhasil “balas dendam” kepada Djaduk yang lebih dulu meledek Iie lewat komentar seputar pitch control (tanda khas Iie sewaktu menjadi juri AFI – red.) maupun perawakan mungilnya.

Adegan tadi hanyalah satu dari bermacam polah antar personil Kua Etnika yang malam itu sukses mengocok perut audiens lewat aksi teatrikal dalam kemasan musik eklektik. Pertunjukan tersebut juga merupakan paket luncuran album gres Nusa Swara. Selain Djaduk dan Iie, Kua Etnika beranggotakan Purwanto (bonang), Wibowo (saron), Sukoco (kendang), Indra Gunawan (kibor), Sony Suprapto (saron), Agus Wahyudi (kibor), Benny Fuad (drum), Arie Senjayanto (gitar), dan Danny Eriawan (bas).

Konser dibuka dengan pukulan kendang dan triangle untuk memanggil Iie, dan benar saja, vokalis bertubuh alit itu menyambut dengan berjoget bersama iringan musik rancak seperti Jaipongan. Setelah menyapa penonton, lagu pertama “Tresnaning Tiyang” mulai dibawakan. Musiknya terasa operatik, kental bernuansa tradisi Jawa lewat olah vokal Iie yang mengacu pada tangga nada pelog dan slendro serta kerap berbunyi serempak dengan instrumen-instrumen lain. Iapun menunjukkan performa bernyanyi lepas (ad libitum) secara energik, sontak iringannya beralih distorsif layaknya musik rock. Seusai lagu tersebut, Djaduk mengusili dengan komentar “Wah, kowe ki, awake cilik ning tenagane gedhi!” (Wah, kamu ini, badannya kecil tapi tenaganya besar) yang ditanggapi Iie dengan senyuman simpul.

Predikat “DJ Aduk” gagasan Iie betul adanya, sinkron dengan aksi Djaduk yang sepanjang acara nampak repot “mengaduk-aduk” (mengeksplorasi) bunyi namun berbeda dengan Deejay pada umumnya, ia tidak menggunakan turntable, melainkan seperangkat instrumen tradisional dari bermacam etnis. Malam itu Djaduk pun berulah “mengaduk” perut hadirin lewat kelakarnya, semisal waktu ia angkat bicara menjelang komposisi “Bromo”, “…Di Indonesia ada tiga tempat tujuan pariwisata berawalan huruf B, yaitu Bromo, Bali, dan Bantul…”, ujarnya yang dibalas ledakan tawa ruangan berkapasitas sekitar 250 orang tersebut. Pada nomor itu, awalannya berupa permainan kibor bersuara piano dengan gaya jazz secara resitatif kemudian disambut tiupan suling bambu oleh Djaduk. Terdengar pula repetan kendang Bali melaju bersama bunyi akordeon sintetis mengarah ke musik khas Melayu.

Suasana mencekam tercipta manakala komposisi “Merapi Horeg” dibawakan. Terinspirasi dari amarah Gunung Merapi yang ingin meletus, rentakkan instrumen perkusi berpadu olah bunyi sintetis mengimitasi bumi yang bergetar akibat aktivitas Merapi. Semakin dramatis lewat proyeksi tata cahaya merah. Denyut irama funk menghiasi alunan suara Iie dalam nomor “Matahari” dengan introduksi tiruan bunyi glockenspiel. Terjadi insiden lucu ketika seorang pemain bersolo kibor bersuara Fender Rhodes, kesepuluh personil lain bergerak mendekati sang kibordis sambil berlaku ibarat penonton yang terperangah oleh aksinya. Kebingungan pemain kibor itu menjadi pemicu gelak audiens yang kembali terpecah.

Kegilaan Kua Etnika semakin menjadi-jadi pada komposisi “Cilik”, tiba-tiba mereka serempak duduk lesehan berjajar di tengah panggung, dan yang membuat penonton cekikikan adalah aksi mereka memainkan kendang bonang, dan saron dalam ukuran mini! Diluar dugaan, instrumen-instrumen cilik (lebih cocok sebagai cinderamata ketimbang alat musik) tersebut nyatanya mampu untuk melontarkan bunyi-bunyian unik dilengkapi sajian interaksi responsorial antar pemain. Seru dan melipur.

Aura hening terasa lembut di telinga pada lagu “Kennanemi”, didendangkan Iie lewat senandung tanpa syair dengan dukungan petikan balalaika Djaduk. Sepintas terdengar seperti tembang Jawa untuk pengantar tidur. Menjelang akhir lagu, berubah lagi nuansanya menjadi musik bluegrass. Sementara di nomor “Sintren”, aksi teatrikal kembali ditampilkan “DJ Aduk” dan ”Miss Pitch Control”. Bak seorang pesulap, Djaduk menggiring Iie untuk masuk ke dalam sebuah kurungan berbalut kain putih dihiasi rangkaian melati. Biduan mungil itu terpaksa harus menyanyi di dalamnya, diiringi dentuman musik seperti Koes Plus ketika membawakan tembang Jawa, namun dengan tempo dan sound ngerock. Tak lama berselang, kurungan itu dibuka lalu terlihat Iie sudah memakai kacamata hitam dan ronce melati menjuntai dari kepalanya. Komposisi tersebut memang diilhami tradisi Sintren asal Cirebon.

Djaduk tak ketinggalan unjuk suara di lagu “Nirwana” yang merupakan impresi atas pengalaman surgawi ketika berada di Bromo. Terdapat selipan irama swing di dalamnya. Panggung kembali ramai ketika sepasang penari Reog “menjajah” lewat atraksi tarian akrobatik diiringi tiupan slompret Djaduk yang melengking dan cempreng. Lambat laun tensi pertunjukan meningkat hingga terasa sengkarut. Iie turut serta berpadu gerak bersama kedua penari dengan lincahnya. Itulah yang terjadi pada komposisi “Reog”. Selepas nomor tersebut, satu-persatu pemain meninggalkan panggung namun penonton belum merasa puas, mereka kompak meneriakkan “lagi!, lagi!, lagi!” untuk meminta encore. Akhirnya konser ditutup dengan lagu pamungkas “Ronggeng to Latinos” yang memadukan unsur kesenian Ronggeng (tanpa saweran) dan denyut irama Latin penuh gairah.

Konser Musik Djaduk Ferianto dan Kua Etnika “NUSA SWARA”

Tags: ,


Kua Etnika 2010

Djaduk Ferianto dan Kua Etnika Yogyakarta, kembali menggelar konser musik, yang diberi tajuk Nusa Swara. Konser itu akan berlangsung di Teater Salihara, Jakarta, Rabu, 25 Agustus 2010, jam 20.00 WIB. Dan kemudian dipentaskan juga di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 31 Agustus 2010, pkl 20.30 WIB.

“Konser ini merupakan bagian dari launching album terbaru Kua Etnika, yang juga berjudul sama, Nusa Swara,” kata Djaduk menjelaskan. “Nusa Swara boleh dibilang sebuah upaya kreatif kami, untuk kembali menafsir dan memaknai apa yang dulu kerap digembar-gemborkan sebagai ‘wawasan nusantara’. Nusa Swara, sebagai judul sesungguhnya mengacu pada ‘nusa’ sebagai sebagai entitas kebangsaan, dan ‘swara’ atau suara yang mencoba membunyikan semangat dari ke-nusa-an itu. Dengan begitu, ia sesungguhnya mengacu atau bermain-main dengan idiom Nusantara sebagai sebuah wawasan dan kawasan itu.”

Semua komposisi dalam Nusa Swara sudah dipersiapkan sejak sekitar setahun lalu. “Selama proses pengerjaan komposisi itulah, kami merasakan ada sesuatu yang urgen dan mendesak untuk direfleksikan kembali, yakni soal Nusantara. Baik sebagai gagasan, semangat, bahkan impian. Dengan Nusa Swara inilah kami ingin membentangkan kembali kawasan kebudayaan  Nusantara yang multikultural, beragam, luas dan besar. Karena yang dibutuhkan adalah semangat yang toleran, saling berdialog atar beudaya itu. Itulah yang kami oolah dalam komposisi-komposisi kami: semacam dialog berbagai bunyi dan sura yang dating dari berbagai penjuru budaya di Nusantara ini. Sangat eman-eman, amat sayang, kalau semua itu tidak menjadi kesadaran kita.  Karwena menurut saya, ‘kedaulatan kebudayaan’ juga perlu, agar kita bisa makin sejajar dengan bangsa-bangsa dunia. Agar kita tak dilecehkan Negara tetangga, misalnya. Nusa Swara, mencoba “menyuarakan” kegelisahan kami itu melalui tetabuhan dan bunyi, memalui musih kami,” kata Djaduk Ferianto lagi.

Nomor-nomor komposisi yang akan dimainkan adalah Tresnaning Tiyang, Bromo, Merapi Horeg, Matahari, Cilik, Kennanemi, Sintren, Kembang Boreh,  Nirwana, Reog, Ronggeng to Latinos.

Dalam komposisi, Bromo, Reog, Sintren, misalnya, terasa sekali keragaman “suara-suara Nusantara” itu. Komposisi itu bagai sebuah prnyatan bahwa setiap suara mesti diberi tempat dan ruang untuk memperoleh haknya dan kesempatan yang sejajar untuk saling bersanding dan bertanding, untuk saling memunculkan diri dan berbunyi dalam bangunan komposisi. Dalam Tresnaning Tiyan, suara-suara bertanding sekaligus bersanding, sebagai bentuk percakapan bebunyian yang harmonis dan dialogis, semangat saling menghargai itu terasa sekali. Nomor ini bahan terasa menjadi sebuah ajakan yang kompletatif melalui komposisi musik, agar kesadaran saling menghargai bisa tumbuh, sebagaimana terasa dalam harmoni bunyi yang saling melengkapi.

Beberapa komposisi repertoar yang lain, seperti Nirwana, Ronggeng to Latinos, Ken Nanemmi, memperlihatkan eksplorasi gagasan musik Kuat Etnika mengenai wawasan kebudayaan Nusantara yang mereka yakini dan hayati: bahwa Nusantara adalah sebuah kawasan multi budaya, di mana segala suara datang dari penjuru dunia. Nusantara adalah sebuah proses pertemuan dari banyak budaya, dari banyak suara.

Sejak berdiri tahun 1995, Kua Etnika telah menempatkan diri sebagai salah satu kelompok musi yang tekun mengolah khasanah musik etnis dengan semangat  kontemprer. Kua Etnika sudah menghasilkan beberapa album, antara lain Nang Ning Nong Orkes Sumpeg, Ritus Swara, Unen Unen. Kua Etnikla juga telah menghasilkan album hasil kolaborasi dengan pemusik-pemusik manca negara, antara lain dengan para pemusik Malaysia yang menghasilkan konser Many Skin. Dan tahun 2003 lalu berproses dengan grup Pata Masters dari Jerman dan menghasilkan Pata Java. Kua Etnika juga banyakterlibat dalam pentas-pentas musik di banyak negara, seperti Swiss, Australia, Jerman, Belanda, Ceko dll.

Pada konser Nusa Swara ini, Kua Etnika akan tampil full team, termasuk Trie Utami, yang menjadi vokalis atau penyanyi utama di Kua Etnika. Sementara swelain Djaduk Ferianto, para musisi para musisi Kua Etnika yang lain adalah Purwanto, Indra Gunawan, Agus Wahyudi, Benny Fuad, Dhanny Eriawan, Arie Senjayanto, Sukoco, Sony Suprapto dan Wibowo.

Melalui konser Nusa Swara ini, pada akhirnya, Kua Etnika ingin kembali memperluas cakrawala kesadaran dalam memahami warisan kekayaan kebudaan Nusantara yang melimpah dan menyediakan banyak ruang tafsir bagi dialog yang kreatif dan cerdas. Betapa yang disebut dengan “Nusantara” sesungguhnya adalah proses panjang (yang nyaris tak pernah berhenti) dari pelbagai suara-suara yang kemudian menjadi orkestrasi bangsa kita.

DATA KONSER:
Jakarta,  25 Agustus 2010, Pkl 20.00 WIB
Teater Salihara
Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520.
Tel: 021-789-1202.
HTM: Umum Rp 50.000,- Mahasiswa Rp 25.000,-
Tiket dapat dipesan melalui 021-789-1202, 0817-077-1913, 0857-193-111-50, 0812-8184-5500, 021-9974-5934, dita@salihara.org, atau secara on-line melalui www.salihara.org.

Yogyakarta, 31 Agustus 2010, Pkl 20.30 WIB.
Concert Hall – Taman Budaya Yogyakarta
HTM : VVIP Rp 75.000,- VIP Rp 50.000,- Lesehan Rp 30.000,- dan Festival Rp 25.000,-

Jazz dan Jeep Hardtop – Laporan Pandangan Mata dari Jazz Gunung (Mountain Jazz) 2009

Tags: , ,


jazz-gunung-bromo-2009-0039-edit

Jazz Gunung 2009

Suasana Desa Wonotoro, Sukapura, Probolinggo ketika menjelang sore hari Sabtu (25/7) kemarin masih cukup bersahabat. Meski  suhu udara dan angin dingin mulai menembus sweeter dan jaket jean saya, kabut yang mulai merayap turun Pegunungan Pananjakan untungnya tidak sampai ke tempat pagelaran Jazz Gunung di Java Banana Bromo Lodge, Cafe & Gallery. Sehingga masih menyisakan kehangatan matahari sore dan sambil berharap agar kondisi cuacanya mendukung untuk mengoperasikan kamera dan lensa.

Sembari menunggu pentas pertama Jazz Gunung, saya sempat berkeliling di sekitar venue. Panggungnya ditata secara artistik dan tidak banyak merubah kondisi aslinya. Menurut penggagas acara ini, Sigit Pramono, “Rumput di sini sudah dipersiapkan 2 bulan sebelum acara berlangsung”. Tidak ada rigging maupun tenda besar, outdoor bahkan tidak memakai level. Peralatan soundsystem-nya pun relatif sederhana. Penampilannya pun tidak begitu menyolok. Misalnya bagian speaker monitor di panggung, sebagian ditutupi dengan daun bambu, sehingga dari arah penonton hanya terlihat secara samar. Sedangkan para usher yang berblankon tak lain adalah anak dan keponakan Sigit sendiri

Pertunjukan Jazz Gunung meniscayakan bahwa pertunjukan jazz tidak melulu harus diadakan didalam ruangan atau indoor. Keyakinan itu juga yang dimiliki Sigit Pramono, seorang jazz afficionados yang juga penggemar fotografi.

jazz-gunung-bromo-2009-0073-edit

Jazz Gunung 2009

Untuk pembatas antara panggung dan area penonton hanya kontur tanah yang lebih tinggi. Posisinya menyerupai sebuah bentuk panggung palladium namun alami. Di depan panggung ditata bangku kayu membentang yang membentuk setengah oval. Pemandangan langsung latar belakang panggungnya adalah Pegunungan Pananjakan serta ditambahi ornamen beberapa baris batang bambu yang menjulang cukup tinggi membuat suasananya semakin segar saja. Sementara warna yang terlihat dominannya tetap hijau. Tidak ketinggalan pula, di sebelah kanan panggung terdapat icon Bromo yang berupa jeep Toyota hardtop dan sepasang kuda.

Acara ini memang tidak dikemas secara kolosal seperti hanya berbagai festival jazz yang digelar di Indonesia. Untuk edisi pertama, Jazz Gunung kali ini menampilkan 2 group saja. Hadir rombongan Djaduk Ferianto bersama Kua Etnikanya dan rekan – rekan dari C.TwoSix Jazz Community Surabaya yang diwakili oleh group D’Art, sebuah band yang terdiri dari tujuh pelajar SMA kelas 1 dan 3. Sebagai MC dalam acara kemarin adalah Butet Kartaredjasa.

Jazz Gunung 2009 0026D’Art tampil sebagai group pembuka yang mengetengahkan beberapa tembang jazzy. Mereka sudah merintis kelompok ini lebih dari tiga tahun lalu. Group ini mungkin bisa sebagai gambaran kancah perjazzan di Surabaya saat ini yang terus tumbuh, regenerasi dan berkembang sesuai dengan jamannya. Di mana pada masa lalu Kota Pahlawan tersebut sudah melahirkan puluhan musisi jazz terkemuka di Indonesia.

Setelah D’Art selesai, Bupati Probolinggo Drs. Hasan Aminuddin M.Si yang datang beberapa saat setelah pertunjukan dimulai didaulat untuk menyampaikan beberapa hal diatas panggung. Sambutannya yang juga membuat para hadirin tertawa adalah tatkala ia berujar merespon pertanyaan Butet yang mengatakan agar izin pertunjukan jangan dipersulit, “Asalkan Gunung Bromo tidak dipindahkan ke Jogjakarta saja”, ujarnya.

Kua Etnika tampil ketika kursi penonton sudah mulai penuh. Seperti biasa, mereka mengangkut berbagai instrumen musik baik yang tradisional dan modern ke atas panggung serta tidak ketinggalan, senapan mainan tradisional. Dalam kesempatan tersebut, kelompok yang baru saja tampil di Jazz Fest Wien 2009 ini tampil dengan formasi Djaduk Ferianto (vokal, suling, flute), Purwanto (bonang, reong, pamade), Indra Gunawan (keyboard), Agus Wahyudi (keyboard), Sony Suprapto & I Nyoman Cau (saron, pamade), Sukoco (kendang, reong), Beny Fuad Herawan (drum), Dhanny Eriawan Wibowo (bass), Arie Senjayanto (gitar), Gian Afrisando (saxophone) serta tidak ketinggalan Trie Utami (vokalis utama).

Ketika awal permainan, mood mereka barangkali belum terbangun dengan baik. Seperti masih kurang greget. Namun seiring dengan waktu, ternyata mood dan spiritnya semakin terbangun dan memanas. Ada beberapa komposisi lama maupun baru mereka tampilkan. ‘Nirwana’, ‘Danube’, ‘Gandekan’, ‘Bromo’, ‘Pananjakan’, ‘Cublak – Cublak Suweng’, sampai lagu wajibnya yang diambil dari theme song-nya film Mission Impossible.

Jazz Gunung 2009 0104Masing – masing komposisi tersebut bisa merepresentasikan semacam revitalisasi dan terobosan kreatif dalam mengolah musik etnis. Terobosan tersebut bisa berupa upaya dialog antar tradisi dan budaya. Baik yang bersifat lokal, regional dan internasional.

Salah satu bagian menariknya adalah ketika group kesenian lokal yang terdiri dari 6 orang ber-jam session bersama Kua Etnika. Sebelumnya mereka tidak mempersiapkan secara khusus. Dialog yang dalam musik jazz sering disebut call and respond ini pun bisa berjalan secara spontan. Terutama ketika Gian masuk ke dalam percakapan tersebut.

Jazz Gunung Bromo 2009 0213Kua Etnika memang lihai dalam berfusion ria.  Dalam cuaca yang semakin dingin, mereka masih didaulat penonton untuk encore sampai 2 lagu lagi dan dipenghujung acara para penonton tumpleg bleg maju ke depan panggung untuk berjoged bersama. Termasuk Yenny Wahid (salah satu puteri Gus Dur) yang telah hadir sejak awal.

Terlebih lagi ketika Butet sebagai pemandu acara, berhasil membangun jembatan komunikasi antara para personil Kua Etnika dengan penonton disela-sela jeda lagu. Bahkan ia sempat berkelakar menyebut para penikmat musik jazz sebagai jamaah Al Jazziah.

Jazz Gunung edisi perdana ini dihadiri kurang lebih 300 penonton yang datang dari berbagai kota antara lain Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang dan Probolinggo. Bahkan ada pula yang khusus datang dari Kualalumpur Malaysia. Beberapa pengunjung hotel berkewarganegaraan Perancis dan Amerika juga tampak antusias menikmati sajian jazz dengan suhu rata-rata 16 derajat celcius tersebut.

Tujuannya selain sebagai bentuk apresiasi pada musik ‘ethnic jazz’, Jazz Gunung juga untuk memberikan nuansa baru pada pariwisata Indonesia, khususnya di mata internasional. Diharapkan, dengan adanya pertunjukan ‘jazz etnik’ di pegunungan ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara. Diharapkan setelah beberapa kali digelar, Jazz Gunung ini akan menjadi salah satu agenda utama yang dipertimbangkan oleh para wisatawan mancanegara dalam mengunjungi Indonesia.

Kua Etnika bersiap tampil di Vienna Jazz Festival 2009

Tags: , ,


d

Kua Etnika

Kelompok musik asal kota gudeg Yogyakarta, Kua Etnika akan keliling di Eropa dan dijadwalkan mampir dan tampil di salah satu festival Jazz terbaik yaitu Vienna Jazz Festival di Austria. Kepastian penampilan di Eropa tersebut dibenarkan Djaduk Ferianto, komposer sekaligus leader grup ini saat ditemui WartaJazz.com beberapa waktu lalu usai penampilannya bersama teater Gandrik di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

“Kami akan tampil pada tanggal 7 Juli 2009 di Wina”, ujar Djaduk sembari menjelaskan bahwa ia baru saja kembali dari Eropa dalam sebuah proyek berjudul Rhythms Meeting bersama Francois Lindemann.

Kua Etnika akan manggung di Wiener Rathaus/Arkadenhof mulai pukul delapan malam waktu setempat. Seperti yang termuat disitus Vienna Jazz Festival. Selain Kua Etnika, penyanyi Trie Utami juga dipastikan akan turut ambil bagian.

Grup Indonesia pertama di Vienna Jazz Festival

Menarik sekali menyimak Kua Etnika dalam tour Eropanya kali ini. Sebab mereka adalah kelompok pertama dari Indonesia yang manggung di festival jazz Vienna. Pada tahun 2005 sempat tersiar kabar rencana Krakatau manggung disana, namun karena skedul yang padat, pertunjukan itu urung masuk dalam agenda karena harus mengejar penampilan di Montreux Jazz Festival di Swiss.

kua-etnika-01

Kua Etnika

Buat Kua Etnika sendiri, penampilan kali ini akan menambah panjang daftar pengalaman mereka manggung di Eropa. Tahun 2004 mereka sempat berkeliling Eropa timur dalam pementasan yang bertajuk “Everlasting Kretek Heritage”. Kala itu mereka tampil di Budapest, Krakow, Graz, Vienna, Utrecht, Amsterdam dan Praha.

Saat ditanya mengapa tak mampir ke North Sea Jazz Festival yang kini sudah berpindah dari Den Haag ke Rotterdam, Butet Kertaredjasa, manager Kua Etnika yang tak lain kakak kandung Djaduk mengungkapkan, “Sebenarnya kami ingin mampir, tetapi jadwal yang kami punya terlalu mepet, mungkin tahun depan akan kami agendakan [kesana -red]“.

Kua Etnika juga pernah tampil di Pesta Raya, sebuah festival yang digelar di gedung durian Esplanade Singapura, Hitam Putih World Music Festival di Riau dan World Music Satu Bumi Beribu Bunyi  di Jakarta pada bulan Desember 2006.

Kua Etnika pernah terlibat dalam sebuah proyek Pata Java yang merupakan kolaborasi dengan kelompok Pata Masters dari Jerman pada tahun 2003. Proyek yang berujung pada konser di tiga kota, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta itu berujung manis dengan dirilisnya album Pata Java yang memiliki dua edisi, Indonesian dan Eropa. Tak ada yang berbeda dari dua edisi itu, hanya covernya saja yang membedakan.

Cover album Pata Java - Kolaborasi Pata Masters dan Kua Etnika

Cover album Pata Java - Kolaborasi Pata Masters dan Kua Etnika

Saat ditanya apa rencana Kua Etnika selanjutnya, Djaduk menjawab, “Sepulangnya kami dari tur Eropa kali ini, akan bersiap untuk tampil dalam acara Jazz Gunung di Gunung Bromo. Ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan”, pungkasnya.


There’s nothing wrong with it. It’s only a word. What’s in a name? Nothing! Cats say, “Call me Muhammed so-and-so.” But what’s the difference? A name doesn’t make the music. It’s just called that to differentiate it from other types of music. Jazz is known all over the world as an American musical art form and that’s it. No America, no jazz. I’ve seen people try to connect it to other countries, for instance to Africa, but it doesn’t have a damn thing to do with Africa. — Art Blakey


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<