Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "ligro"

Trio LIGRO, tambah edan di album kedua!

Tags: , , , ,


Konser peluncuran “Dictionary 2” oleh Trio LIGRO, Rolling Stone Café Jakarta, 25 Januari 2012.

Saat yang dinanti akhirnya datang juga. Rabu (25/1) malam bertempat di Rolling Stone Café, album kedua LIGRO berjudul Dictionary 2 pun rilis. Berjarak sekitar tiga tahun dari perdana Dictionary 1 (Inline Music, 2008), LIGRO (dibaca terbalik menjadi “orgil” – orang gila – red.) tampil makin gila, makin energik. Pelakunya ialah Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bas), dan Gusti Hendy (drum).

Trio LIGRO saat beraksi di Rolling Stone Cafe Jakarta (25/1)

Trio LIGRO saat beraksi di Rolling Stone Cafe Jakarta (25/1)

Dimulai selepas pukul sembilan malam, dihadiri para wartawan, rekan musisi, dan penggemar, ketiganya langsung menggetarkan panggung lewat komposisi “Bliker 3” yang terambil dari album gres tersebut.

Agam Hamzah

Agam Hamzah

Introduksi berupa progresi disonan berformat MIDI menjadi pembuka, berlanjut sayatan gitar distorsif Agam. Aura kegilaan mulai terasa waktu Hendy melancarkan pukulan-pukulan maut, daya ledak pula akselerasi tinggi bak orang kesurupan. Atensi kemudian beralih kepada Adi, ia membaringkan basnya, lalu mulai bertingkah dengan ramuan bunyi “alami” atas lembaran seng, martil, dan, paku dengan gaya teatrikal.

Ada pula sesi tanya-jawab, memberi kesempatan audiens untuk bertanya langsung pada ketiga personil LIGRO. Seorang wartawan bertanya soal genre musik apa yang diusung LIGRO, kemudian ditanggapi Agam, “Kami hanya bermusik, tidak mematok suatu genre tertentu, dan kami bertiga punya latar belakang yang berbeda-beda, saya campuran Aceh dan Sunda, Adi asal Madura, dan Hendy dari Kalimantan, preferensi musik kami juga sangat lebar, jazz, musik klasik, rock, bahkan etnik. Jadi soal genre, biarlah pendengar sendiri yang mendefinisikan,” ujarnya.

Gusti Hendy

Gusti Hendy

Pertanyaan lain seputar pengaturan drum set Hendy, mengapa ia menggunakan gondang Batak untuk menggantikan tom-tom, Hendy memaparkan,”Setting drum seperti ini memang sengaja saya terapkan di LIGRO, yang tentu berbeda ketika saya tampil bersama grup lain. Saya memang memakai instrumen tradisi Batak, gondang, tapi saya tidak serta merta memainkan dalam tradisi Batak, karena saya bukan orang Batak, tapi orang Kalimantan, maka dari itu saya menggunakan pola ritme Kalimantan ke dalam permainan gondang, dan itu yang membuatnya unik. Selain itu, dengan setting ini saya lebih bisa menyatu dengan bas maupun gitar dalam komposisi LIGRO,” jelas Hendy.

Giliran Adi, ditanya perihal aksi edan serta nyeleneh tadi, ia berkisah, “Saya terinspirasi waktu dulu, ketika kuliah, sempat menyaksikan sebuah happening art, dengan menggunakan alat-alat musik non-konvensional, ternyata bunyi yang dihasilkan menarik sekali,” tuturnya. Ia berkelakar, “Kalau  di sini ada yang butuh tukang untuk perbaiki rumah, hubungi saya,” selorohnya disambut tawa penonton.

Adi Darmawan

Adi Darmawan

Hadir pula Dwiki Dharmawan yang juga memberi selamat, menurutnya LIGRO berani untuk tampil beda lewat konsep musiknya, serta dapat mengisnpirasi musisi Indonesia untuk go international. “Saya yakin mulai tahun ini LIGRO akan keliling dunia untuk mempromosikan musik mereka,” tutupnya.

Acara launching berakhir lewat gubahan berjudul “Stravinsky,” yang merupakan adaptasi dari “Les Cinq doigts” (The 5 Fingers) milik komposer Rusia Igor Stravinsky. Berciri ketukan janggal, harmoni disonan, serta idiom-idiom hard rock yang energik.

Kabar gembira lainnya adalah bahwa Dictionary 2 akan segera dirilis oleh label rekaman asal Amerika Serikat, MoonJune Records. Itu berarti LIGRO satu payung dengan sesama grup dari tanah air; simakDialog, Tohpati Bertiga, Tohpati Ethnomission, dan pendatang baru I Know You Well Miss Clara.

LIGRO - Dictionary 2

LIGRO - Dictionary 2

Selamat dan sukses  untuk LIGRO, semoga kian gila dalam berkreasi. Proficiat!

Djarum Super MLD JazzTraffic ramaikan geliat jazz di Semarang

Tags: , , , , , , ,


Liputan konser Djarum Super MLD JazzTraffic, Semarang 19 November 2011.

Vakum menggelar pertunjukan jazz selama satu semester, komunitas Semarang Jazz Lovers akhirnya mengobati kerinduan para pecinta jazz kota itu dengan berlangsungnya Djarum Super MLD JazzTraffic Sabtu kemarin (19/11). Venue yang digunakan cukup unik, bertempat di Balai Kota Semarang, yang sehari-harinya didatangi para pegawai Pemda, namun malam itu dijejali oleh ribuan muda-mudi untuk menyaksikan penampil pujaan mereka.

Siang hari yang terik dan menyengat di kota Semarang, beralih gerimis waktu petang menjelang, untunglah tak menderas, acara pun dimulai sebelum jam lima sore. JazzTraffic memiliki dua panggung yang hampir berhadapan, dipandu oleh masing-masing sepasang MC yang saling berinteraksi untuk memeriahkan jalannya pertunjukan. Band pertama bernama Reunion, asal Semarang yang berlanjut grup lokal Poffertjes bawakan lagu-lagu aransemen jazzy, salah satunya tembang “I Heart You.”

Fariz RM

Fariz RM

Fariz RM

Fariz RM

Selepas rehat Maghrib, audiens menyambut meriah ketika musisi senior Fariz RM hadir. Bersama trio Rio Zee (synthesizer), Jantan (drum), dan Vian (bas), Fariz memberi suguhan lagu “Penari,” “Senam Kampung,” pula nostalgia era 1980-an lewat “Nada Kasih,” “Sakura,” dan “Sungguh.” Walikota Semarang, Soemarmo HS turut naik ke panggung dan memberi sambutan, berharap acara semacam ini dapat teragenda dalam program pariwisata Semarang. Tampil energik, Fariz RM mampu mengimbangi semangat para audiens maupun penampil lain yang berusia jauh di bawahnya. Malam itu dirinya juga sajikan lagu baru “Terindah” yang ditulis oleh Glen Fredly.

Sambutan oleh Walikota Semarang

Sambutan oleh Walikota Semarang

LIGRO

LIGRO

Beralih menuju panggung sebelah, telah siap tiga “orang gila” pendekar gitar Agam Hamzah, basis Adi Darmawan dan tukang pukul drum Gusti Hendy yang berkomplot dalam institusi bernama LIGRO mulai bertingkah. Dengan kekentalan jazz-rock-kontemporer semacam Mahavisnu Orchestra, LIGRO tampil distorsif, energik, cepat, dan berani disonan. Seperti aksi-aksi sebelumnya, Adi berlaga teatrikal sembari membawa serta pisau, paku, dan lempengan seng sebagai bagian dari pemuas hasrat bunyi. Komposisi yang dihadirkan antara lain “Bliker,” “Future,” pula “Don Juan.”

Balawan

Balawan

Penampil berikutnya adalah gitaris dengan jemari ajaib, I Wayan Balawan asal Pulau Dewata. Selain memukau penonton dengan teknik njelimet, ia membawa serta rekan-rekan musisi dengan gamelan Bali. Jadinya adalah sebuah fusi jazz-rock-etnik yang eksotis. Sayangnya penampilan Balawan malam itu tak didukung oleh tata suara yang baik, yang bermasalah hampir sepanjang acara. Toh ia tetap beraksi  menghibur para pendengarnya yang merespons dengan tepuk tangan seru.

Nita Aartsen

Nita Aartsen

Irama musik latin seperti bossa, samba, salsa, dan mambo menghiasi sajian atraktif pianis Nita Aartsen bersama grup kuartet bertajuk Nita Aartsen Quatro. Didukung oleh pemusik berpengalaman Adi Prasodjo (perkusi), Adi Darmawan (bas), juga drummer muda berbakat Sandy Winarta. Nita menggoyang arena JazzTraffic lewat aransemen jazz latin atas mahakarya komponis klasik, Bach atau Beethoven, di antaranya. Terdengar pula “Blue Rondo à la Turk” milik Dave Brubeck yang dimainkan dalam tempo lebih cepat ketimbang versi aslinya. Selain mahir mendenting piano, Nita pun pandai menyanyi.

Barry Likumahuwa Project

Barry Likumahuwa Project

Sebelum JazzTraffic Semarang diakhiri aksi band gaul RAN, pelataran Balai Kota lebih dulu heboh oleh Barry Likumahuwa Project (BLP). Dengan basis Barry Likumahuwa selaku leader, BLP tampak begitu digandrungi publik Semarang lewat nomor andalan “Mati Saja,” atau “Saat Kau Milikku” yang dinyanyikan oleh Matthew Sayersz, bersama jentik gitar Henry Budidharma serta ketukan drum Jonas Wang. Bermain dalam durasi lebih pendek ketimbang konser-konser BLP di tempat lain, mereka turut sajikan aransemen bergaya fusion atas introduksi “So What” kepunyaan Miles Davis.

Audiens JazzTraffic Semarang

Audiens JazzTraffic Semarang

Antusiasme publik Semarang terhadap JazzTraffic terbilang baik, terlihat dari ribuan audiens yang memadati venue hingga acara usai. Namun kemeriahan itu terasa timpang oleh gangguan tata suara yang kurang mumpuni, bising dan keruh. Semoga pada edisi selanjutnya pihak panitia mampu mengatasi sehingga menjadi sajian pertunjukan jazz yang lebih baik lagi.

Bagi penggandrung jazz yang tak sempat menyaksikan JazzTraffic Semarang, dapat menghadiri putaran selanjutnya pada Djarum Super MLD JazzTraffic di kota Surabaya, bertempat Grand City Convex Surabaya, Minggu 27 November 2011 dimulai pukul 12 siang.

Ligro di JazzTraffic Semarang: Kesempatan memperkenalkan Trio Orgil

Tags: , , , , , , , ,


Pujian untuk acara perdana bertajuk Jazztraffic Festival yang digelar di Balaikota Semarang, Sabtu 19 November 2011 datang dari mulut Gusti Hendy, penggebuk drum LIGRO – yang jika dibaca terbalik berarti Orgil – saat di hubungi Redaksi WartaJazz beberapa waktu yang lalu.

“Sebuah hal yg positif buat perkembangan musik di Indonesia , event ini menjadi suatu suguhan yg berbeda dari event-event  yang udah ada, menjadi sebuah alternatif tontonan yg sangat menarik untuk masyarakat pecinta musik”, demikian Gusti Hendy berkomentar.

Ide penyelenggaraan Semarang Jazz Festival dengan nama “Djarum Super Mld Jazz Traffic” ini datang dari  Rita Elizabeth Noya, penggagas acara. “Semarang para musisi itu memiliki penggemarnya cukup banyak. Itu alasan kami menampilkan para bintang jazz ini,” ungkapnya. Disamping itu adalah keinginan adaya kesetaraan dengan kota besar lain yang sudah menyelenggarakan acara festival jazz, jelasnya lebih lanjut.

JazzTraffic Festival digelar dengan dukungan dari Semarang Jazz Lovers (SJL) dan Sekolah Musik Purnomo, sebuah pusat pendidikan musik yang memiliki visi dan misi untuk mencetak calon-calon musisi berwawasan dan berkualitas serta WartaJazz.com

Kota lumpia Semarang mendapat kesempatan tontonan menarik dengan tampilan para  musisi jazz Indonesia baik yang datang dari Jakarta, Bali maupun dari Semarang sendiri antara lain Barry Likumahuwa Project (BLP), Fariz RM, RAN, Nita Aartsen Quatro, Ligro Trio, dan Balawan & Batuan Etnic Fusion.

 

Untuk hal ini, Gusti Hendy dari Ligro berujar, “Untuk di industri jazz sendiri juga mampu memberikan tontonan yg berbeda, karena ada band-band  atau musisi yg baru dan fresh yg akan perform, ini secara otomatis akan menawarkan warna-warna baru di event jazz tersebut, kalau buat LIGRO TRIO sendiri,ini sebuah pengalaman yg menarik, dan dengan ada event ini kita berkesempatan memperkenalkan musik kita ke khalayak umum, agar musik kita akan lebih familiar di masyarakat musik Indonesia, sukses terus Jazz Traffic”.

Panitia menetapkan harga tiket masuk sebesar IDR 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah). Hingga berita ini diturunkan terdengar kabar bahwa penjualan tiket Semarang JazzTraffic Festival sudah habis. Sebuah kabar yang menggembirakan, karena itu artinya antusiasme publik Semarang akan musik yang demokratis ini artinya cukup besar.

Anda yang telah membeli tiket, selamat menonton. Untuk panitia, semoga sukses dalam penyelenggaraannya!

Ngayogjazz 2011 undang penyanyi cantik Sierra Soetedjo

Tags: , , , , , , , ,


Sierra Soetedjo

Sierra Soetedjo

“Pastinya seneng bs ikut meramaikan ngayogjazz krn ini pertama kalinya saya ikut ngayogjazz festival, dan kedua kalinya tampil di kota jogja”, ini kalimat pembuka dari Amanda Sierra Soetedjo sewaktu ditanya WartaJazz soal rencana keterlibatannya dalam acara NgayogJazz – Nandur Jazzing Pakarti yang digelar Sabtu 12 November 2011 di Kota Gede, Jogja.

Dara kelahiran Jakarta, 26 Juni 1984 ini lulus dari Jurusan musik tepatnya Diploma of Contemporary Music tahun 2004 dan Bachelor of Music in Jazz Performance (S1) di Perth, Western Australia Academy of Performing Arts, lulus di thn 2007.

Sekembalinya ke Indonesia dari Australia tahun 2008, Sierra merilis album “Sierra  - The Only One” (silakan klik untuk membaca reviewnya) lewat label Platinum. Sebelumnya ia sempat berkolaborasi dengan Tompi berjudul ‘Love Letter’ di album ketiganya dan KLA Project album “Exellentia” menyanyikan lagu “Kau Pulihkan Luka”.

Kami bertemu dengannya di acara Jazz in Harmony yang digelar oleh Hotel Santika Jakarta bersama Idang Rasjidi Syndicate. Soal ini Sierra menjelaskan, “Saya ikut tour keliling Jawa bersama Idang Rasjidi untuk acara Medco Green Energy Jazz. Dr situ mulai mengikut banyak festivals spt JakJazz (2008), JavaJazz (2009-2011), dan sebagainya”.

Sierra rencananya akan tampil bersama keyboardis  Surabaya All Star, Yohanes Gondo didampingi Antonius Erwin Zubiyan (gitar) dan Punjul Wahyu Sarosa (bass) dan Faizal (drums).

“Saya akan tampil dengan konsep lagu-lagu Jazz Standards dan juga akan memainkan beberapa lagu dari album pertama saya Only One”, paparnya lebih lanjut.

Album ‘Only One’ merupakan album dengan materi berupa lagu-lagu dengan lirik berbahasa Inggris yang didaur ulang, berisikan hits dari tahun 80-90an yang di aransemen ulang lebih modern dan easy listening dengan nuansa pop jazzy bossa latin. “Salah satu lagu yang berjudul ‘The Only One’ adalah satu-satunya di album yg ditulis oleh artis Indonesia yakni karya Adi Bing Slamet yang menjadi single hits dan juga diambil sebagai judul album saya”, tambahnya lagi.

***

Ngayogjazz adalah tradisi musik tahunan dalam memainkan musik Jazz di yang tahun ini mengambil setting panggung di Pasar Kotagede Yogyakarta mulai pukul 14.00 wib – selesai.

Ngayogjazz adalah sebuah ruang dialog terbuka bagi siapapun untuk ikut reriungan dan guyub bersama. Sebab jazz tak melulu soal (jenis) musik, apapun yg bersahutan dan menjadi sebuah dialog yang bisa dinikmati itulah jazz. Kini cara bermain musik yang khas ini telah meluas ke seluruh dunia dan melibatkan lebih banyak orang; lebih beragam alat musik dan lebih bermacam unsur kebudayaan, sebanyak ragam kesenian dan bunyi di bumi ini.

Dalam falsafah Jawa, orang mengenal falsafah Ngunduh Wohing Pakarti (menuai apa yang telah kita kerjakan). Namun tak mungkin bisa ngunduh jika kita tak pernah nandur (menanam). Nandur wohing pakarti, Menanam buah perbuatan (baik). Begitulah harapan atas semua yang kita lakukan di Ngayogjazz 2011. Tetandur; bercocoktanam. Alangkah menyenangkan bila Ngayogjazz bisa menjadi lahan subur untuk bercocok tanam, tempat yang baik untuk persemaian, menempa diri dan berbagi. Berbagi untuk sesama saat ini maupun membuahkan kebaikan bagi generasi seterusnya.

Berbekal semangat itulah, Ngayogjazz 2011 mencoba memberikan tempat bagi para musisi muda untuk bisa mempresentasikan karya-karya mereka. Tak sedikit dari mereka, para musisi muda, memiliki kemampuan bermusik di atas rata-rata. Dengan kemampuan bermusik yang cukup mereka butuh lebih banyak untuk dikenalkan.

Selain Sierra Soetedjo, Ngayogjazz 2011 akan dimeriahkan para tamu musisi jazz Indonesia antara lain Rieka Roslan, Idang Rasjidi, Trie Utami, Ligro (Adi Dharmawan, Agam Hamzah, Gusti Hendy), Tesla Manaf feat. Mahagotra Ganesha (Bandung), Nano Tirta (Jogja).

Ngayogjazz Nandur Jazzing pakarti bakal hadir 12 November 2011

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Ngayogjazz 2011 - Nandoer Jazzing Pakarti

Ngayogjazz 2011 - Nandoer Jazzing Pakarti

Sebuah tradisi musik tahunan dalam memainkan musik Jazz di Yogyakarta bernama Ngayogjazz kembali hadir  Sabtu Wage, 12 November 2011 bertempat di Pasar Kotagede Yogyakarta mulai pukul 14.00 wib – selesai.

Ngayogjazz adalah sebuah ruang dialog terbuka bagi siapapun untuk ikut reriungan dan guyub bersama. Sebab jazz tak melulu soal (jenis) musik, apapun yg bersahutan dan menjadi sebuah dialog yang bisa dinikmati itulah jazz. Kini cara bermain musik yang khas ini telah meluas ke seluruh dunia dan melibatkan lebih banyak orang; lebih beragam alat musik dan lebih bermacam unsur kebudayaan, sebanyak ragam kesenian dan bunyi di bumi ini.

Dalam falsafah Jawa, orang mengenal falsafah Ngunduh Wohing Pakarti (menuai apa yang telah kita kerjakan). Namun tak mungkin bisa ngunduh jika kita tak pernah nandur (menanam). Nandur wohing pakarti, Menanam buah perbuatan (baik). Begitulah harapan atas semua yang kita lakukan di Ngayogjazz 2011. Tetandur; bercocoktanam. Alangkah menyenangkan bila Ngayogjazz bisa menjadi lahan subur untuk bercocok tanam, tempat yang baik untuk persemaian, menempa diri dan berbagi. Berbagi untuk sesama saat ini maupun membuahkan kebaikan bagi generasi seterusnya.

Berbekal semangat itulah, Ngayogjazz 2011 mencoba memberikan tempat bagi para musisi muda untuk bisa mempresentasikan karya-karya mereka. Tak sedikit dari mereka, para musisi muda, memiliki kemampuan bermusik di atas rata-rata. Dengan kemampuan bermusik yang cukup mereka butuh lebih banyak untuk dikenalkan.

Ngayogjazz 2011 akan dimeriahkan para tamu musisi jazz Indonesia antara lain Rieka Roslan, Idang Rasjidi, Trie Utami, Sierra Soetedjo, Ligro (Adi Dharmawan, Agam Hamzah, Gusti Hendy), Tesla Manaf feat. Mahagotra Ganesha (Bandung), Nano Tirta (Jogja).

Selain itu akan hadir kawan-kawan dari luar Jogjakarta seperti Gondo & Friends (Surabaya), Komunitas Gubug Jazz Pekanbaru (Gubug Jazz Project), Balikpapan Jazz Lovers, Pekalongan Jazz Community (Blue Batik Replica), Jazz Ngisor Ringin Semarang, Solo Jazz Society (Streamline Quartet feat. Dyah)

Komunitas Jazz Jogja sendiri akan menghadirkan sejumlah kelompok antara lain Muchi Choir, Orisinden, Everyday Band, Chick Yen, Blank ON, MmTD, plus penampilan KAMPAYO (Keluarga Musisi Penyanyi Artis Panggung Yogyakarta).

Dalam tradisi Ngayogjazz, maka Kesenian Tradisional selalu mendapat tempat yakni dengan kehadiran Ledek Gogik, Calung, Solawatan Mataram dan Drum band & Barisan XHW.

Para penonton yang bisa menikmati acara ini tanpa dipungut biaya juga bisa menikmati Pasar jazz dengan beragam cinderamata jazz-nya, sekaligus menikmati dan dapat membeli album kompilasi Komunitas Jazz Jogja – Ngayogjazz yang diluncurkan saat acara berlangsung. Dan ada pula pameran teman-teman Komunitas Foto GS Photography.

Tertarik menonton?. Pastikan anda membawa topi dan jas hujan. Pengalaman Ngayogjazz awal tahun 2011 – acara yang sedianya digelar di 2010 namun ditunda karena ada musibah Merapi – hujan lebat mengguyur lokasi. Rasanya seru juga menikmati Jazz sambil pakai Jas Hujan.

Sampai bertemu di Jogja!

North Sumatra Jazz Festival siap digelar awal Juli 2011

Tags: , , , , ,


Sebagai kota terbesar di luar Jawa, sudah selayaknyalah Medan pun memiliki sebuah perhelatan jazz besar, berkelas festival. Seolah tak mau ketinggalan dengan banyak kota-kota lain yang terlebih dahulu menggelar perhelatan jazz sebelumnya seperti Denpasar, Jogjakarta, Semarang, Bandung, Pekanbaru, Solo bahkan hingga gunung Bromo, Makassar dan Ambon.

Press Conference North Sumatra Jazz Festival 2011

Press Conference North Sumatra Jazz Festival 2011

North Sumatra Jazz Festival (NSJF) dijadwalkan akan hadir menghiasi kota Medan di awal bulan tepatnya tanggal 1-2 Juli 2011 mendatang.

Sejumlah penampil yang disiapkan oleh Erucakra Mahameru (Direktur Penyelenggara) dan Gideon Momongan (Direktur Festival) yaitu musisi-musisi terbaik dari negeri sendiri Indonesia yakni BEX-Project, LIGRO, Yovie Widianto, Donny Suhendra Project, Sruti Respati plus KSP. Tak lupa pula grup-grup atau musisi jazz lain yang telah lumayan dikenal publik musik Indonesia,tentu saja termasuk grup-grup muda berbakat asal Medan yang antara lain akan dicari melalui kontes pencarian bakat akan dihadirkan.

***

Menyimak lebih lanjut beberapa rencana line-up NSJF yang perdana ini berikut sedikit ulasan tentang mereka:

BEX-Project.
Kelompok yang sebenarnya adalah formasi perdana Emerald Band ini,di akhir 1980-an pernah Berjaya di ajang kontes band internasional di Hongkong dan Jepang. Keyboardist mereka, Iwang Noorsaid bahkan kini ditarik seorang produser eksekutif Malaysia untuk bermukim di Kuala Lumpur menjadi produser rekaman-rekaman pop di sana sejak setahun terakhir ini.

LIGRO.
Grup ini dimotori drummer dari grup pop-rock GIGI, Gusti Hendy. Rekaman album perdana mereka telah dilansir di pasar musik internasional oleh sebuah label independen yang berdomisili di New York dan mendapat tanggapan positif di banyak negara!

Sruti Respati
Pesinden sekaligus penyanyi dan presenter,yang belakangan menanjak namanya lewat acara-acara musik yang bagus-bagus di layar kaca. Ia juga kerap melakukan tur ke Korea, Jepang dan Eropa. Banyak fansnya di sana!

Donny Suhendra Project
Sebuah grup yang berisikan perpaduan musisi senior dan junior. Donny Suhendra adalah gitaris yang juga lumayan kenyang bermain di pentas musik internasional dan bersama vokalisnya, Ivan Nestorman yang juga memiliki banyak fans di luar negeri.

Juga direncanakan tampil, produser dan penulis lagu-lagu hits, Yovie Widianto. Ia akan bermain dengan kelompok fusion-nya bersama para musisi terbaik dan berpengalaman internasional pula.

***

Sebagai pergelaran perdana, NSJF menawarakan landasan konsep yang berbeda dari festival-festival sejenis lainnya. Macam mana perbedaannya? Sebagai tema pada pergelaran pertama ini dipilihlah “Discover Indonesia Experience”, dimana dikedepankan para musisi dan penyanyi jazz terbaik Indonesia yang nyatanya telah dikenal luas publik musik (jazz) internasional. Jam terbang mereka tinggi,di panggung-panggung musik jazz internasional di banyak negara.

Pemikiran paling mendasar, kalau lantas bukan kita lalu siapa lagi yang menghargai kemampuan berlebih mereka yang mumpuni itu? Yang sudah mereka buktikan selama ini dan membuat publik musik (jazz) internasional ternganga takjub dan memberi respon sangat positif. Naif rasanya, mereka malah bisa menjadi lebih dikagumi dan digila-gilai publik pencinta musik (jazz) luar negeri, dibanding di kampungnya sendiri!

Apalagi dengan trend yang makin ramai saja saat ini di negeri kita ini, berbondong-bondong band dan penyanyi ternama luar negeri datang untuk beraksi di depan publik pencinta musik Indonesia. Mana ada lagi tempat bagi para musisi dan penyanyi kita,yang kemampuannya sudah berkelas dunia? Ada gejala-gejala yang mulai “mengkhawatirkan” sebetulnya.

***

Untuk mendukung kegiatan NSJF, pada 19 Mei akan digelar sebuah pre-event yang juga akan menampilkan grup dan penyanyi serta musisi yang berpengalaman luas baik di dalam maupun di luar negeri, yang dimaksudkan sebagai arena pemanasan menjelang pergelaran festivalnya nanti. Selain akan memberikan tambahan pencerahan yang baik untuk pengembangan wawasan dan pengetahuan bagi para pemusik muda ataupun penikmat musik muda Medan dan Sumatra Utara.

Begitulah, dan Medan pun kini menerima Jazz. Menerima dan kelak bisa ikut berbicara! Setelah sebelumnya telah berbicara banyak di panggung musik pop,antara lain lewat para musisi dan penyanyi berdarah Sumatera Utara macam The Mercy’s dan Panbers misalnya. Lalu bahkan punya kewibawaan tersendiri di musik rock, pernah ada “idiom” belum sah dan sukses sebagai rocker kalau belum mampu menaklukkan publik pencinta musik rock Medan. Kemudian juga menghasilkan tokoh-tokoh musik kontemporer yang lulusan sekolah-sekolah musik ternama luar negeri,yang lantas menjadi etnomusikolog penting seperti antara lain Rizaldi Siagian dan alm.Ben Pasaribu.

Medan dan Sumatra Utara pun akhirnya “terjangkit” virus positif jazz. Yang kelak,tentu bagus untuk memberikan lebih banyak lagi warna musik bagi para pencinta musik untuk disimak dan dinikmati. Karena sejatinya musik itu begitu luas dan beragam,tak melulu hanya bentuk “bunyian” tertentu saja yang sering menggempur habis-habisan mata dan telinga lewat stasiun-stasiun televisi atau kebanyakan stasiun-stasiun radio kita.

 

Anasir Jazz rock yang pekat di Mostly Jazz bersama Ligro

Tags: , , , ,


Mostly Jazz bersama Ligro (Agam Hamzah, Adi Darmawan, Gusti Hendy)

Mostly Jazz bersama Ligro (Agam Hamzah, Adi Darmawan, Gusti Hendy)

Perkembangan musik Jazz di tanah air dirasakan positif oleh trio yang sebenarnya berarti Orgil – Orang Gila –  ini, memberikan semangat optimis kepada Ligro untuk terus mengembangkan kreatifitasnya. Mereka tampil pertama kali di Concert Practice yang diselenggarakan oleh Indra Lesmana dan Aksan Syjman di Art Studio Pondok Pinang. Lalu di beberapa konser seperti konser bulanan di Institut Musik Daya Jakarta, tampil di Java Jazz International Jazz Festival 2005,2006,dan 2008, Bandung Jazz Festival, Festival progresif musik Yamaha, Konser musik progresif di Institut Musik Indonesia (IMI).

Sebuah album yang menampilkan anasir jazz rock dengan pekat telah dirilis. Rekaman yang bertajuk “Ligro Dictionary I” itu dipersembahkan oleh sebuah trio bernama Ligro. Group yang terbentuk pada tahun 2004 terdiri dari Agam Hamzah (electric/acoustic guitar), Adi Darmawan (electric bass), Gusti Hendy (drum). Mereka menyebut, tujuan dari dibentuknya trio ini adalah untuk memperkaya khazanah musik Jazz Indonesia dimana pada era yang sama telah terbentuk beberapa kelompok musik jazz kontemporer seperti ; Java Jazz, simakDialog, Discuss.

Dan Ligro siap memperkaya nuansa akhir pekan anda dengan tampil di Mostly Jazz yang digagas oleh Indra Lesmana dan sang istri Honhon Lesmana. Ligro tampil di hari Minggu, 24 April 2011 mulai jam delapan malam bertempat di Red&White Lounge, Jl. Kemang Raya 16 B Jakarta Selatan.

Anda yang ingin menonton hanya cukup merogoh kocek sebesar IDR 50.000 (lima puluh ribu rupiah) dan mendapatkan gratis minuman pertama.

Selain penampilan LIGRO, seperti biasa akan ada Jam Session yang dimulai sekitar pukul 10.30 dan akan dipimpin oleh saxophonis/vokalis Indra Aziz.

 

New Friday Jazz Nite: Ligro dan Chaseiro hadir di Pasar Seni Ancol

Tags: , , , , , , ,


Anda yang kangen dengan penampilan Candra Darusman, Helmie Indrakesuma, Aswin Sastrowardoyo, Eddy Hudioro, Irwan Indrakesuma, Rizali Indrakesuma dan Omen Norman Soni Sontani yang dikenal dengan nama Chaseiro sebaiknya tidak melewatkan penampilan mereka nanti malam, Jumat 17 Desember 2010 mulai pukul delapan malam.

Bertempat di Pasar Seni Ancol, Chaseiro yang akan didampingi Ade Hamzah dan Disto akan hadir dalam acara New Friday Jazz Nite yang telah menjadi agenda rutin selama beberapa bulan terakhir.

Acara dipastikan jadi ajang temu kangenpara sahabat Chaseiro dan personilnya yang beberapa kali tidak berkesempatan gabung dalam konser-konser sebelumnya.

Tidak hanya Chaseiro, nanti malam kelompok trio Jazz, Ligro yang terdiri dari Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bass) dan Gusti Hendy (drums) juga akan menampilkan bintang tamu Sue Bonnington (vocal), Ade (piano).

Anda bahkan tidak perlu merogoh kocek, karena ajang New Friday Jazz Nite memang tidak dipungut biaya, kecuali biaya masuk Ancol.

Ada Jazz Hujan di Bandung (Bagian I)

Tags: , , , , , , ,


Bulan Desember di Indonesia pada umumnya sudah memasuki musim penghujan. Kemudian mengapa menyelenggarakan festival jazz yang salah satu panggungnya berada di luar gedung Sabuga Bandung, General Coordinator dari festival Bandung World Jazz 2009, Andar Manik menjawab ketika acara preskon, “Kita sengaja mengadakan acara ini di bulan Desember karena hujan, jadinya jazz hujan”.

Andar Manik, Jailani, Marintan Sirait dan Reza

Andar Manik, Jailani, Marintan Sirait dan Reza

Untungnya ramalan Andar Manik tersebut sampi selesai acara tidak terbukti, sehingga acara yang diselenggarakan tanggal 3 – 4 Desember 2009 berlangsung cukup meriah. Selama dua hari tersebut, dari jam 13.30 sampai tepat tengah malam dengan breaktime sekitar satu setengah jam, penonton disuguhi oleh 34 group musik dengan berbagai warna.

Perkiraan daya tampung penonton sekitar 1500 orang dengan setting venue terdiri dari 3 panggung. Panggung pertama berada di sisi kiri luar gedung, panggung kedua berada di koridor tembusan pintu masuk utama gedung dan panggung ketiga ada di tribune (ruang utama) gudung Sabuga. Sementara di bagian tribune, satu panggung yang cukup luas dibagi menjadi 3 bagian, sayap kanan, kiri, dan tengah yang hanya dibedakan dengan tinggi rendah level. Panggung pertama dan kedua dipakai dari siang sampai menjelang Maghrib, selanjutnya pertunjukan berlangsung di panggung ketiga.

Mendekati waktu tergelincirnya matahari, stage 1 dan 2 sudah mulai kesibukannya dengan persiapan Castavaria dan Nita Aartsen. Castavaria tampil dengan mengetengahkan 3 bassist, ditambah seorang drummer, yang menghibur penonton melalui percakapan dalam nada-nada rendah dengan balutan irama jazz-rock dan funky yang menghentak-hentak. Sementara Nita Aartsen menghibur para penonton dengan koleksi-koleksi musik latin, rhumba dan bossa nova. Agak lain dengan penampilannya di album “All Nite Out”, Nita lebih banyak menunjukkan kebolehannya dalam memainkan keyboardnya yang cukup memikat. Sudah barang tentu, lagu-lagu wajib dari Amerika bagian Selatan muncul satu persatu. Seperti ‘Masquenada’ atau pun ‘Girl From Ipanema’. Tidak ketinggalan salah satu hit dari albumnya, ‘Let’s Dance’.  Dalam kesempatan ini Nita mengajak teman lama yang bernama Steve Wilson untuk tampil sebagai vokalis. Penampilannya cukup komunikatif dengan para penonton. Musisi lain yang mendukung Nita adalah Adi Prasodjo (perkusi) dan Harry Toledo (bass).

bdgworldjazz-09-001

Nita Aartsen, Steve Wilson, Harry Toledo dan Adi Prasodjo

Beranjak ke panggung outdoor, suasana gayeng dan meriah langsung memenuhi telinga ini. Bagaimana tidak, sebuah band dengan warna fusion menghentak-hentak dengan kerasnya dengan reriuhan suara saxophone, bass, gitar, keyboards dengan beberapa instrumen musik tradisional Jawa. Mereka adalah Prabumi, sebuah band kolaboratif pimpinan Agus Bing, yang juga seorang wartawan sebuah surat kabar di Jogja. Hanya saja, saking semangatnya, suara saron, kendang, djembe dan bonangnya justru tertutup dengan instrumen musik modern lainnya. Atau memang ada semacam kanonisasi musik yang barangkali menghasilkan efek tertentu. Mereka menampilkan tembang klasik “Prahu Layar” ataupun komposisi ciptaan sendiri “Transit”.  Selain itu, ada 4 Peniti dari Bandung yang sudah mempunyai penggemarnya tersendiri ini memeriahkan acara ini dengan tembang-tembang segar dengan memadukan banyak jenis musik. Zaki (vokal & gitar), Ammy (violin & gitar), Rudy Zulkarnaen (bass) dan Ary Aru (drum) membentuk kelompok ini karena sama-sama menyukai Pat Metheny.

Persentuhan antara musik jazz dan khasanah musik lokal dari Indonesia masih tetap menjadi daya tarik yang sexy. Seperti halnya yang dilakukan oleh group dari Jakarta Archipelago maupun Karinding Collaborative,  Saratuspersen. Mereka sama-sama memadukan improvisasi jazz dengan musik Sunda. Seperti yang diungkapkan Andar Manik bahwa “Cita rasa musik lokal bisa memasuki ranah improvisasi jazz”. Hasilnya memang menarik, sambil membayangkan berada di hamparan sawah hijau sambil mendengarkan kecapi Cianjuran dan liukan suara saxophone.

Saratuspersen asal Bandung

Saratuspersen asal Bandung

Adapun kelompok serupa dari luar negeri adalah Taal Tantra. Di Stage 3 tengah mereka tampil dengan 10 orang musisi dengan menampilkan beberapa corak musik India dari bagian Utara, Selatan, Barat dan Timur yang dikombinasikan dengan jenis musik lain seperti jazz, rock maupun reggae. Penampilan memang mereka terasa hidup dan berhasil menghibur penonton. Apa lagi dengan kehadiran seperti seorang fakir dalam memainkan alat perkusi dari India, plus dengan jogetannya yang lucu.

bdgworldjazz-09-005

Taal Tantra

Salah satu bintang benderang sore itu adalah Ligro, kumpulan 3 orang gila (bermusik) yang terdiri dari Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bass) dan Gusti Hendy (drum). “Komposisi-komposisi di dalamnya bercerita tentang pola-pola musik yang sangat tidak umum. Sesuatu yang tidak umum biasanya diluar kenormalan. Dan itu disebut gila,” papar Agam dalam sebuah perbincangan dengan wartajazz.com. Group ini juga mempunyai energi yang luar biasa. Gaya jazz rock memang kental, yang mengingatkan kita kepada Mahavishnu Orchestra dengan semburat warna musik Indianya. Akord gitar yang dimainkan pun terasa liar dan seperti dalam dunia paralel dan aneh. Apalagi dengan penampilan Hendy, yang juga drummernya Gigi, “double temponya mau merontokkan tembok China”, kata seorang penonton yang terkagum-kagum. Ketika bersama Gigi pun malah jarang terdengar seperti itu.  Mereka menampilkan komposisi-komposisi yang ada dalam album “Ligro Dictionary I” seperti ‘Blinker 1′, ‘Radio Active’, ‘Green Powder’ maupun ‘Orgil’.

Di hari pertama, kelompok yang tampil paling ngejazz adalah David Manuhutu dan Pigalle44. David merupakan salah satu aset masa depan musisi jazz dari Indonesia yang saat ini belum genap 20 tahun usianya. Putra dari Venche Manuhutu ini sudah mulus sekali dalam memainkan pianonya dalam tembang-tambang bebop yang strukturnya komplek tersebut.

bdgworldjazz-09-004

Pigalle 44

Setelah seharian kita dihujani dengan letupan jazz yang menghentak-hentak dan keras, menikmati Pigalle44 seolah kita menikmati kopi hangat di sore hari setelah seharian bekerja keras. Berdiri sejak 10 tahun lalu, Pigalle44 dimotori oleh dua gitaris Reiner Voet dan Jan Brouwer. Mereka menampilkan aksen musik gipsi dalam sajian jazz. Masih terasa sentuhan tradisional jazz seperti swing meski tidak sepenuhnya mengekor kepada para pendahulu. Kalau dilihat gaya permainannya sendiri adalah gabungan antara tradisional dan modern. Memang ada kalanya gipsi jazz tampil ekspresif, banyak nada yang keluar, bertempo cepat namun kemarin mereka menampilkan gipsi jazz yang cool dan impresif. Kedatangannya ke acara ini mereka dibantu oleh Hermine Deurloo (harmonika & sopran saxophone) dan Jet Stevens (bass).

Pertunjukan hari pertama ini juga dimeriahkan oleh lebih dari 50 anak yang tampil ke panggung dengan bermain perkusi. Mereka semua adalah anggota dari Jendela Ide. Sebuah organisasi yang concern terhadap kreasi anak-anak. “Jelas bahwa anak-anak kita saat ini adalah investasi kebudayaan kita di masa mendatang”, ujar Festival Coordinator Marintan Sirait.

bdgworldjazz-09-006

Jendela Ide Percussions

Sepertinya, hari pertama dari Bandung World Jazz Festival 2009 ini cukup memuaskan sekitar penonton. Meski soundsystem di Stage 2 kurang enak dinikmati. Mengingat panggung tersebut berada di dalam koridor yang mempunyai ruang relatif sempit.

Jazz for West Java, bentuk kepedulian musisi jazz Indonesia pada gempa Jawa Barat

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,


logo jazz for westjavaTak pernah ada yang berharap musibah datang, termasuk para korban gempa  berkekuatan 7.3 skala Richter di Jawa Barat yang getarannya terasa mulai dari Jakarta hingga Bali.

Berangkat dari kepedulian para insan Jazz Indonesia, maka akan digelar konser Jazz for West Java sebagai wujud dari nyata kegiatan untuk menggalang dana, mengumpulkan donasi guna membantu saudara-saudara kita yang mengalami musibah gempa di Jawa Barat.

Kegiatan ini merupakan persembahan dan hasil kerjasama Dewan Kesenian Jakarta, Simpay Wargi Urang, WartaJazz.com, Palang Merah Indonesia dan Farabi Music.

“Insya Allah seperti halnya kepedulian kita pada korban Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta, kali ini kita menggelar konser amal untuk para korban gempa Jawa Barat”, demikian diungkapkan Dwiki Dharmawan pengagas acara saat melakukan pertemuan koordinasi panitia konser Jazz for West Java bersama Adang Daradjatun dari Simpay Wargi Urang, Muhammad Thoriq dari Palang Merah Indonesia, Agus Setiawan Basuni dari WartaJazz.com, Gideon Momongan dari Indiejazz Inc.

poster westjava web

Acara akan digelar pada hari Minggu, 13 September 2009 mulai pukul 19.00 wib hingga 23.00 wib bertempat di Graha Bakti Budaya – Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikin Raya 73 Jakarta Pusat. Anda yang tertarik menonton dan beramal, undangan sebesar IDR 100.000,- dapat diperoleh dengan menghubungi salah satu nomor telepon berikut:

DKJ 021-39899634 / 3162780 Ranti
Farabi Music 021-7226270 / 7224407 Dina
WartaJazz.com 021-8310769 Dewi
PMI 021-32084400 Indah / Winda
Simpay Wargi Urang 3100551 Yane

Para musisi jazz Indnesia yang berkenan hadir hingga berita ini diturunkan antara lain Benny Likumahuwa, Krakatau, B3, Rio Febrian, Dwiki Dharmawan, Fariz RM, Maya Hasan, Tompi, Idang Rasjidi, Andien, Budjana-Tohpati, World Peace Orchestra, Agam Hamzah,Adi Darmawan, Kulkul, Donny  Suhendra, Riza Arshad, Bintang Indrianto, Arief Setiadi, Yance Manusama, Tere, ES.QI.EF,Totong Wisaksono, Gerry Herb, Audiensi Band, Otti Jamalus Quartet, Clorophyl D’next Generation, Tompi, Yeppi Romero, Erik Sondhy, Barry Likumahuwa Project, Jilly Likumahuwa,Mahagenta, Oppie Andaresta, Bram,Aldhi,Gerald Trio, Notturno, Rio Moreno, SOL Project, Vodka, Ryo The Malay.
Farhan dan Denny P-Project akan bertindak selaku MC atau pembawa acara.

Selain itu panitia juga merilis merchandise khusus edisi Jazz for West Java dengan harga sebesar IDR 100.000,- (seratus ribu rupiah) dan tersedia dalam ukuran XXS, S, M, L, XL, 3L dan 4L. Anda bisa mengontak info@wartajazz.net untuk pembelian merchandise Jazz for West Java ini.

Jazz for West Java-031 - Maroon

Jazz for West Java-031 - Maroon

westjava-031 - white

Jazz for West Java-031 - white

westjava-031 - black

Jazz for West Java-031 - black


The outer space beings are my brothers. They sent me here. They already know my music. — Sun Ra


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<