Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "margie segers"

Lintas Generasi Seru DjakSphere: Endah N Rhesa – Margie Segers

Tags: , ,


Sengat instan yang tak mungkin kita lolos darinya! Blok pendek milik advokat funk kulit putih Red Hot Chili Peppers (RHCP), “Around The World“, ternyata cukup pedas dibunyikan gitar dan bass belaka. Sepotong pun memadai karena bagian itu adalah tribute sisipan untuk “I Don’t Remember” nomer hip milik mereka sendiri. Endah Widiastuti memang suka John Frusciante, sementara Rhesa Aditya menggemari Flea-nya RHCP. Acuan luas menjadikan duet Endah N Rhesa punya spektrum penggemar yang lebar yang ingin penyegaran atas selera monoton yang ditawarkan industri. Dengan pondasi lagu folk (utamanya Amerika), suara-suara yang dipopulerkan Norah Jones kini atau generasi Joni Mitchel dan Elvis Costello jadi punya ruh jazz berkat profil kedua pasangan suami-istri ini. Pasutri ini pernah didapuk Java Jazz Festival dalam tema “Husbands and Wifes” berbagi panggung dengan Otti Jamalus dan Yance Manusama. Bicara pasangan jazz lagi, di garis waktu ada Carla Bley dan Steve Swallow (piano-bass) yang interplay-nya di atas panggung menyiratkan romansa suami-istri.

Endah N Rhesa berkonnakol

Endah N Rhesa ber-konnakol kompak di intro lagu

Lagu-lagu duet yang cocok jadi soundtrack kehidupan berlanjut dengan kejutan intro kompak keduanya ber-konnakol dalam silabel-silabel perkusif pukulan tabla India yang ternyata membuka “Tuimbe (Let’s Sing)“. Kentalnya pola permainan kalimba (kotak berbilah-bilah simetris yang dimainkan dengan jempol; piano jempol Sahara yang kini juga jadi suvenir Malioboro) yang ditransfer jadi lagu bergitar bawa warna-warni Afrika, semakin hidup dengan selipan “Yamko Rambe Yamko“, memanggil dari Papua.

Margie Segers dan Nanda untuk imbangi duet

Margie Segers dan Nanda untuk imbangi duet

“Membagi pengalaman bisa lewat kuliah, bertukar catatan. Musisi caranya dengan main bareng. Musik bisa jadi sarana komunikasi untuk ungkapkan kemarahan, cinta,” Endah lalu memanggil Margie Segers setelah sebelumnya gitaris Achmad Ananda (Nanda) muncul dari sisi kanan panggung. Inilah sesi bagi pengalaman lintas generasi yang konsisten jadi paten Djakarta Artmosphere (DjakSphere). Terpaut jauh dari sisi usia, Margie tak kalah hidup lewat “Enggo Lari“, segera saja cerah pantai Maluku muncul di benak (atau malah Trinidad di Karibia?). Nanda beratraksi dalam kilat flamenco yang mengundang interaksi penonton.

Lintas generasi seru DjakSphere 2011

Margie lalu mengingat mendiang Jack Lesmana dengan meluncurkan “Semua Bisa Bilang”, nomer band kombo yang malam itu (22/10/’11) dipentaskan dalam format kompak. Tampil akustik tak lengkap tanpa saling-menimpali solo, pasnya adalah delta blues “Give Me One Reason“, dan Margie adalah penutur cerita yang paling tepat untuk itu.

***

DjakSphere 2011 adalah suksesi dari dua tahun penyelenggaraan sebelumnya. Kini terdapat panggung outdoor, konsep berjudul Joyland, yang menjadikan suasana festival lebih terasa. Layaknya festival, durasi penuh tiap-tiap penampil untuk dapat membawakan setlist lengkap, membangun cerita lewat repertoar, layak jadi tujuan datang. Khusus tahun ini beberapa legenda unik naik di panggung kolaborasi, yaitu Keenan Nasution (dengan Sarasvati), Yockie Suryo Prayogo (dengan Pure Saturday), dan Koes Plus (dengan The Brandals).

Jenggala Jazz Night bersama Xiong Trio plus Idang Rasjidi & Margie Segers

Tags: ,


Jenggala Jazz - Xiong, Norman & Aylwin

Jenggala Jazz - Xiong, Norman & Aylwin

Jumat (21/05) lalu bertempat di Griya Jenggala milik pengusaha Arifin Panigoro digelar sebuah konser menampilkan trio asal Malaysia Xiong Trio yang terdiri dari Xiong (guitar, vokal), Norman Rahman (bass), dan Aylwin Kathuravarathunam (cajon box drum).

Konser dihadiri sejumlah mantan menteri seperti Siswono Yudohusodo juga dihadiri sejumlah seniman seperti Franky Sahilatua dan Eros Djarot. Hadir pula owner No Black Tie, sebuah klab jazz di Kuala Lumpur Malaysia, Evelyn Hii. Tampak pula Ida Baharson Malaon, adik dari tokoh jazz Indra Malaon yang dikenal aktivitasnya di Jakarta Jazz Society bersama almarhum Firman L. Soebardjo.

Konser malam itu dibagian dalam dua bagian. Pada sesi pertama Xiong membawakan karya-karya musisi Brasil seperti Tom Jobim maupun Joao Gilberto. Ia juga ‘mendongeng’ bagaimana lagu-lagu tersebut dibuat dan dimainkan. Meluncurlah ‘Garota de Ipanema’ seraya ia meminta para audiens yang hadir untuk menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan keras. Seolah seperti mitos cerita tentang Gadis dari Ipanema yang setiap hari berjalan menuju pantai dan menarik perhatian Jobim dan Moraes.

Jenggala Jazz - Xiong (gitar)

Jenggala Jazz - Xiong (gitar)

Xiong lalu melihat jam tangannya dan berkata. “Wow, anda disini sudah tiga puluh menit dan mendengarkan saya bernanyi dalam bahasa portugis, meski anda tak tahu apa artinya, anda masih disini. Mari bertepuk tangan untuk apresiasi anda”, diikuti dengan tepukan tangan para hadirin.

Lagu berikutnya adalah Carioca karya Joao Gilberto. Xiong kembali bercerita, “Biasanya lagu-lagu yang diciptakan selalu menandai suatu tempat seperti Copacabana, Ipanema. Orang-orang seberang biasanya diejek karena hanya bisa melihat dari kejauhan”.

Berikutnya Xiong bercerita tentang sebuah bukit setinggi 710 meter yang terletak di Rio deJaneiro. Sebuah patung Jesus berdiri tegak ditempat yang bernama Corcovado. Ia memanggil pianis Idang Rasjidi yang membuka permainan dengan solo pada piano dan berlanjut pada lagu berikutnya Aqua de Beber yang artinya meminum air.

Jenggala Jazz - Idang Rasjidi

Jenggala Jazz - Idang Rasjidi

Usai jeda pertunjukan sekitar 15 menit sambil menikmati sajian hidangan santap malam yang memikat selera, Xiong memanggil diva jazz Indonesia Margie Segers. Lewat suaranya yang khas dan hingga kini belum ada yang menandingi Margie yang tampil prima membawakan One not Samba. Unison vocal dan piano dibawakan secara apik oleh Idang Rasjidi lalu disahut permainan solo cajon oleh Aylwin.  Jawaban atas lagu pertama yaitu The Boy from Ipanema yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris lalu disusul Fragile milik Sting. Dilagu ini terjadi call-and-response antara Idang dan Aylwin, bersahut-sahutan. Ini rupanya akhir dari pertunjukan. Tapi penonton bertepuk tangan meminta encore, sehingga Margie Segers berduet bersama Idang menyajikan lagu berikut,

Langit yang biru cemerlang / tertutup awan yang kelabu / Tiada sinar yang terang / membuat cerah di hatiku
Hatiku kini yang ragu /  sejak ditinggalkan olehmu dulu/ Meragukan cintamu kepadaku / maafkan sayangku
Dosakah aku / bila dicumbu oleh teman lamamu……

Jenggala Jazz - Margie Segers

Jenggala Jazz - Margie Segers

Pada bagian Dosakah aku, Margie melirik Idang yang tersipu-sipu. “Koq demen banget sih bagian itu…”, ujar Idang dan penonton pun tertawa sambil ikut bernyanyi hingga lagu usai.

Margie Segers – Jazz

Tags:


Margie Segers - Jazz

Margie Segers - Jazz

Judul Album    : Jazz
Artis                  : Margie Segers
Label                : Granada Record
Tahun               : 1982

Tracklist

1. Kerinduan
2. Citra
3. Semua Bisa Bilang
4. Tabah Selalu
5. Kesepian
6. Layu Sebelum Berkembang
7. Medley Lembe Lembe Panggayo
8. Hanya Untukmu
9. Sehari Semalam
10. Kelopak Cinta
11. Simfoni Yang Indah
12. Mimpi

Margie Segers adalah salah satu penyanyi yang mampu menafsirkan jazz dengan atmosfer yang pas. Berbekal ketrampilan menyenandungkan nada-nada blues, setidaknya merupakan modal utama Margie Segers dalam menyajikan suguhan jazz.

Catatan lain tentang Margie adalah kearifannya dalam melakukan maneuver improvisasi. Margie selalu tampak bisa mengendalikan diri dalam berimprovisasi. Dia tak terjebak dalam gaya improvisasi yang berlebihan yang terkadang membuat pendengar merasa terganggu.

Begitupula dalam berekspresi, Margie rasanya berada dideretan terdepan dalam upaya menghidupkan atmosfer lagu. Tak berlebih jika kita menyematkan pujian bahwa Margie mampu menghidupkan kata per kata yang disenandungkannya.

Album yang musiknya digarap oleh Ireng Maulana ini justeru beranjak dari upaya menginterpretasikan sederet khazanah musik pop Indonesia dari era 60-an, 70-an dan 80-an. Ada 3 karya pop A. Riyanto yang dinyanyikan Margie di album ini yakni “Layu Sebelum Berkembang”, ”Kesepian” dan “Hanya Untukmu”. Rasa jazzy pada akhirnya memang mencuat dari mulut Margie yang diiringi sederet pemusik terpilih seperti Ireng Maulana (gitar), Udin Zach (saxophone), Dullah Suweileh (perkusi), Benny Mustapha van diest (drums) maupun Pramono (trombone).

Ke-12 lagu yang termaktub di album ini dikemas dalam berbagai ragam beat. Ada Bossanova, samba termasuk dixieland yang segar. Lagu “Mimpi” karya Donny Gagola dan Theodore KS yang aslinya berbasis gaya pop country diubah oleh Ireng Maulana dalam gaya Dixieland.

Menyimak album ini kita seolah tengah berada di sebuah pub atau kafe. Menikmati sajian jazz pop dengan menyeruput secangkir kopi.

Fragmen 51 Tahun Bermusik Benny Likumahuwa

Tags: , , , , , , , , ,


dsc_0349.jpg

Sebuah paket acara dikemas untuk memperingati 51 tahun Benny Likumahuwa bermusik. Konser yang diselenggarakan Sabtu 7 Februari 2009 di Nusa Indah Theater, Balai Kartini Jakarta mengetengahkan beberapa fragmen perjalanan bermusik Benny Likumahuwa dalam format jam session. Benny Likumahuwa merangkul banyak teman-teman musisi seangkatannya. Ikut berpartisipasi juga beberapa nama pemain muda yang dua diantaranya adalah murid Benny Likumahuwa. Pertama adalah Barry Likumahuwa, putra kandung Benny Likumahuwa yang memainkan bass, tampil dengan kelompoknya Barry Likumahuwa Project (BPL). Satu lagi adalah Dennis Junio Gani, seorang remaja berusia 15 tahun yang berbakat memainkan saksofon. Kehadiran keduanya menjadi tanda karir bermusik Benny Likumahuwa yang akan terus berlanjut. Terus berkesinambungan. Interaksi lintas generasi ini yang kemudian ditasbihkan menjadi judul acara, Jazz Concert Continuously.

dsc_0114.jpg

Acara yang dipandu sangat cair oleh Farhan ini dibuka dengan penjelasan tujuan dan tema konser. Kemudian Farhan memperkenalkan Benny dengan canda sebagai, “… yang survive dari krisis moneter 10 tahun yang lalu, Benny Likumahuwa!” Pria Maluku kelahiran Kediri 18 Juni 1946 ini memulai pertunjukan dengan memperkenalkan musisi yang mendampinginya. “..Ini semua teman-teman saya. Teman lama. Kita selalu berkumpul main bersama. Paling sering kita (bermain) tanpa latihan. Karena kita sudah bicara yang sama di dalam jazz. Sehingga nggak latihan, karena yang satu sudah mengerti yang lain, otomatis jadi…” kata Benny Likumahuwa. Ya, memang konsep jam session yang menjadi kekuatan pertunjukan malam itu.

dsc_0326.jpg

Benny Likumahuwa membuka fragmen-fragmen awal dengan benang merah instrumen yang pernah dia mainkan. “Pada saat umur 11 tahun, pada saat saya mulai bermusik, alat pertama yang saya mainkan adalah bongo. Alat itu adalah (alat) yang paling mudah didapat karena kebetulan punya di rumah, murah meriah, bisa dimanfaatin,” kenang Benny. Bersama Oele Pattiselanno pada gitar, Jacky Pattiselanno (drums), Jeffrey Tahalele (bass), Sam Panuwun (keyboards), Benny Likumahuwa memainkan satu set perkusi yang terdiri dari bongo, conga dan dua timbalis di lagu “Cute” yang bernuansa latin jazz. “Dulu dengan lagu yang dipopulerkan Diane Shore tahun 50an itu saya dengan teman-teman lain dalam grup Red Cubana main di RRI Ambon,” cerita Benny lagi.

Lagu kedua, “Down Home”, adalah lagu dimana Benny Likumahuwa memainkan electric upright bass. “Ini alat kedua yang saya main,” katanya. “Sudah lama sekali saya tidak memainkan upright bass. Kurang lebih 30 tahun yang lalu. Karena saya mengalami kecelakaan sehingga jari saya ini kurang begitu kuat. Saya beralih ke fretless bass. Dan hari ini pertama kali saya (kembali) main (upright) bass ini. But that is music. Musik sebenarnya simple sekali. Bernyanyilah! Ini hanya medianya.” lanjut Benny Likumahuwa. (Mungkin Oom Benny maksud disini adalah memainkan bass secara rutin. Sebab WartaJazz sempat merekam penampilannya saat mengiri Nick Mamahit (alm) saat tampil di Hotel Dharmawangsa beberapa tahun lalu -red). Di lagu progresif jazz akhir 50an itu Benny Likumahuwa menunjukkan improvisasi permainan bass unison lantunan scat.

dsc_0052.jpg

Bermain Upright Elektrik Bass

Fragmen bermusik Benny Likumahuwa kemudian maju ke masa kini dengan tampilnya Barry Likumahuwa dan Dennis Junio Gani. “Makanya saya memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk lebih banyak berkarya. Karena mereka adalah penerus kita. Sesuai dengan judul, supaya tetap continuous.” jembatan Benny masuk ke fragmen itu setelah sebelumnya ia panjang bercerita tentang suka duka interaksinya di dunia jazz di Indonesia. Bertiga bersama Kedua “murid”nya itu Benny Likumahuwa menampilkan lagu “Naik Naik ke Puncak Gunung”. Tiupan Trombone Benny dan saksofon Dennis bergantian bernyanyi diiringi rhythm permainan bass Barry. Interprestasi yang menarik untuk lagu tadisional dari daerah Maluku. Setelah lagu yang aslinya berjudul “Naik Naik ke Gunung Nona” itu mereka membawakan “GodSpell” satu karya Barry Likumahuwa.

Penampilan Barry Likumahuwa dan Dennis Junio dilanjutkan bersama BPL. Kelompok “jazz anak muda” ini diperkuat oleh drummer Jonas Wang, Donny Jusran (keyboards), Hendry Budhidarma (gitar), dan vokalis Matthew Sayers. BLP juga mengikutkan sertakan gitaris Nikita Dompas. Mereka membawakan lagu dari album Barry, “My Prayers” yang dimedley dengan “Jazzy Crimes” milik saksofonis Joshua Redman. Bintang tamu BLP adalah penyanyi Glenn Friedly yang tampil dengan lagu “Dansa”. Project ini menuntaskan jeda fragmen tribute itu dengan lagu Barry, “Aku dan Hadirmu.”

dsc_0327.jpg

Kelompok Barry Likumahuwa yang lain juga ikut berpartisipasi. Grup ini terdiri dari 4 pemain bass (seharusnya 5 bassist) dan seorang drummer. Yup, Bazzatack kembali untuk memeriahkan Jazz Continuously! “Saya mendapat inspirasi untuk bikin grup ini gara-gara melihat papa dulu. Di tahun 1997 dia pernah bikin acara bulanan Jamz Matra Jazz. Banyak banget mereka bikin even-even, seperti 7 Pendekar Gitar, 7 Pendekar bass, dan pendekar-pendekar yang lain.” aku Barry. Maka “serangan nada-nada rendah” begitu istilah Barry pun menyapa penonton. Barry, Jawa (bassis Maliq & The Essentials), Handy Soulvibe, JMono Alexa, dikawal drummer Parkdrive Rayendra Sunito memainkan dua komposisi dalam format medley. Di lagu “Gosthbuster” tiap personel bergantian melakukan improvisasi sesuai gaya nge-bass masing-masing. Permainan JMono dengan efek bassnya me-metal-kan konser jazz malam itu.

Setelah BLP, fragmen kembali ke perjalanan bermusik Benny Likumahuwa di era awal 1966 dimana ia baru tiba di Bandung. Benny Likumahuwa memulai kisahnya dengan bagaimana duka-suka awal karirnya bersama grup Crescendo, yang antara lain juga terdiri dari Yong dan Budiman. Kemudian Benny Likumahuwa gabung dengan The Rollies, grup rock asal Bandung yang menggunakan horn section. “Saya gabung dengan grup rock tapi saya tetap main jazz. Saya tidak pernah meninggalkan jazz, karena that is my music.”

Konser menjadi istimewa dengan reuni personel The Rollies yang masih ada. Beberapa personel awal The Rollies yang telah tiada adalah Delly DJoko Alipin (vokal, keyboard), Iwan Kresnawan (drums), Deddy Sutansyah (vokal,bass), Bangun Sugito (vokal, trumpet), Raden Bonnie Nurdaya (vokal, gitar). The Rollies malam itu adalah Teuku Zulian Iskandar Madian, Benny Likumahuwa (trombone, flute), bassis Oetje F Tekol, drummer Jimmie Manoppo dan pemain tamu Herry pada trumpet (menggantikan Didiet Maruto yang berhalangan hadir), gitaris Masri, serta Abadi Soesman di papan kunci. Mereka membawakan “Make Me Smile” yang dinyanyikan oleh Iis, pemain saksofon/gitar The Rollies.

dsc_0384.jpg

Fragmen berikutnya adalah pengalaman Benny Likumahuwa saat berinteraksi dengan komunitas jazz Jack Lesmana. “Pada saat saya di Ambon, saya bermimpi bahwa pada suatu saat saya sampai di pulau Jawa ini mudah-mudahan paling tidak salaman dengan mereka (Bubi Chen, Jack Lemmers, Maryono, Benny Mustafa, pencipta lagu Sutedjo, Bill Amirsyah Saragih) dan menyatakan kekaguman saya.” Era itu merupakan masa dimana mimpi Benny muda menjadi kenyataan. Benny Likumahuwa tidak sekedar bersalaman, tapi malah diajak main dan bahkan membuat aransemen musik untuk mereka.

Salah satu dokumentasi era itu adalah lagu “Semua Bisa Bilang”. Lagu pop yang diaransemen dan dimainkan band dibawah pimpinan Alm Jack Lesmana ini direkam tahun 1975 dibawah label Hidayat, Bandung. Versi asli lagu karya Charles Hutagalung dan dinyanyikan Margie Segers ini menampilkan permainan Alm Didi Tjia pada electric piano, Trisno (tenor sax), Oele Pattiselanno (gitar), Alm Perry Pattiselanno (bass gitar), dan drummer Ucup. “Pada saat itu yang main bass di lagu itu adalah adik Oele Pattiselanno yang meninggal di Jordania. Namanya Perry Pattiselanno. Jadi saya pikir kita patut salut untuk Perry Pattiselanno juga.” kenang Benny kepada salah satu sahabatnya selain juga menyampaikan belasungkawa meninggal dunianya tokoh penggerak Jakarta Jazz Society, Firman “Leles” Soebardjo. Malam itu Margie Segers kembali membawakan lagu itu dengan diiringi Benny Likumahuwa & Friends.

dsc_0467.jpg

Instrumen berikut yang dimainkan Benny Likumahuwa adalah flute. Dia menyebutkan beberapa tokoh jazz yang mempengaruhi permainan flutenya. Pertama adalah Rahsaan Roland Kirk, multi-instrumentalis tuna netra yang memainkan tenor saksofon, flute dan instrumen lain. “Dia salah satu yang memberikan inspirasi. Sehingga saya main flute. Padahal di kampung (saat itu) saya main suling bambu. Suling bambu itulah yang membawa saya menguasai interval atau jarak nada secara naluri.” kata Benny. Kemudian ia sebut nama Ian anderson yang lagu-lagunya dari album Jetro Tull banyak dimainkan Benny Likumahuwa semasa dengan The Rollies. Di fragmen ini Benny Likumahuwa melakukan demo permainan flute tanpa iringan apa-apa.

dsc_0496.jpg

Tiupan flute juga menjadi intro lagu “Kulama Menanti” yang dinyanyikan Rien Djamain. Lagu yang ditulis oleh Chandra Darusman ini diaransemen Benny Likumahuwa dan direkam bersama Abadi Soesman Band di studio Jackson Record. Di kaset produksi Atlantic Records yang berjudul “Jazz Masa Kini” itu selain memainkan flute, Benny juga membetot dawai bass elektrik. “Kulama Menanti” versi 2009 merupakan reuni Abadi Soesman band dengan porsi bass dimainkan oleh Barry Likumahuwa. Di Ujung fragmen ini, Rien Djamain didaulat oleh Farhan untuk sedikit menyanyikan lagu “Api Asmara”. Hits penyanyi itu yang direkam semasa dengan lagu “Semua Bisa Bilang” Margie Segers.

Fragmen berikut adalah partisipasi Benny Likumahuwa di kelompok Ireng Maulana All Stars.  Seperti komentar Ireng Maulana tentang personelnya yang join sejak 1981, “Benny Likumahuwa ini adalah rekan saya di Ireng Maulana All Stars. OKE!” Penampilan Ireng Maulana tentu tidak lengkap tanpa lantunan Ermy Kullit, seperti celetuk Ermy sebelum menyanyikan “For Once In My Life”, “Ermy Kullit-Ireng!” Lagu itu kemudian dimedley dengan lagu wajib Ermy Kullit, “Kasih”. Popularitas lagu itu dengan mudah merangsang penonton ikut bernyanyi, “…Kasih/Dengarlah/Hatiku berkata/aku cinta kepada dirimu sayang/kasih/percayalah/kepada diriku/hidup matiku hanya untukmu…”

Galactic band adalah salah satu grup panggung yang menjadi rumah musikalitas Benny Likumahuwa. Reuni grup yang tahun 1986-87an rutin manggung di Tavern, di basement Hyatt-Arya Duta Hotel ini masih menyisakan Benny (saksofon), keybordis Idang Rasjidi yang menjadi pimpinan band ini, Jeffrey Tahalele (bassis), Oele Pattiselanno (gitar) dan Karim Suweileh (drums). Selain itu ada Didiet Maruto dan dua personil lain, Maryono (tenor) dan Dullah Suweileh (perkusi) telah meninggal dunia. Penampilan Karim Suweileh, seperti komentar Syaharani kepada Farhan, “Pak Karim itu permainannya begitu enaknya, sampai kita yang orang awam mendengar lagu yang begitu susah berasa enak.”

Salah satu suprise konser ini adalah kolaborasi Benny dan Ria Likumahuwa. “Teman dekat saya,” panggil Benny Likumahuwa kepada istrinya untuk menyanyikan sebuah lagu yang dipopulerkan Astrud Gilberto. Meski tiba-tiba dipanggil untuk nyanyi tanpa persiapan, Ria Likumahuwa masih menunjukan penguasaan teknik vokal yang masih prima. Lagu ini semakin istimewa karena rhythmnya dijaga oleh pemain drum kawan Benny Likumahuwa yang sudah lama tidak beredar di panggung jazz. Pemain drum itu adalah Hasan. Suprise pangkat dua!

Penyanyi yang tampil di fragmen berikut adalah Syaharani. Dia menyanyikan dua buah lagu secara medley dari yang tempo pelan “Crazy” ke tempo cepat dengan irama swing. “Crazy” adalah lagu yang diangkat dari album “Wonderful World” produksi Sangaji Music yang direkam Benny Likumahuwa & Friends di Lion Studios Singapura tahun 1998. selain album itu, Benny Likumahuwa juga merekam dua album lainnya di label Sangaji Music. Salah satunya adalah album “Jazz master”, dimana Benny Likumahuwa bermain bersama Bubi Chen, Indra Lesmana, Oele Pattiselanno, Trisno, dan Cendi Luntungan mengolah lagu-lagu standard ke dalam versi mereka.

dsc_0830.jpg

Bertha adalah penyanyi yang tampil berikut. “Big Mama” dengan vokal khasnya melantunkan lagu “What Are You Doing The Rest of Your Live” dengan nuansa ballad. Benny Likumahuwa memainkan harmonika di lagu ini. Di lagu kedua, “A Lady Be Good To Me” tempo meningkat drastis dimana permainan drum Taufan Goenarso mendapat porsi lebih untuk berimproviasi dan berunison dengan scat Bertha serta kemudian padu bertiga dengan scat Benny.

Bertha

Fragmen berikutnya adalah nostalgia panggung Jamz Matra Jazz. Lima pendekar gitar berkolaborasi memainkan lagu “Four Brothers”. Benny Likumahuwa menggodok aransemen lagu itu meniru gaya bigband tapi dimainkan dalam gitar. Para penggitar yang main di atas panggung adalah Nikita Dompas, Ireng Maulana, Oele Pattiselanno, Donny Suhendra, Kiboud Maulana. “Disini ada Tiga senior yang mengapit dua junior. Cita-cita saya sih, supaya senior dan junior bisa bersatu. Tidak ada gap diantara mereka.” harap Benny Likumahuwa.

dsc_0191.jpg

Penghujung acara kembali diisi oleh BLP. Termin kedua BLP menghadirkan Benny Likumahuwa pada trombone dan Dewi Sandra yang menyanyikan lagu “When I Fall in Love”. Lagu terakhir BLP kembali diangkat dari album Barry Likumahuwa, “Mati Saja”. Tentang penampilan BLP, Benny Likumahuwa memberikan ekspektasi dan komentarnya, “Saya lihat mereka bekerja keras. Dan energik banget, saya senang main sama mereka karena apapun ide kita bisa diwujudkan.”

Namun entah kenapa di konser ini Benny Likumahuwa tidak memainkan lagu-lagu buah idenya sendiri. Padahal sudah cukup banyak lagu yang ia tulis, baik semasa The Rollies seperti “Sign of Love”, “Wish My Baby Really”, “Pagi yang Cerah”, atau yang dia nyanyikan sendiri “Jangan Salahkan Kami”. Di masa Benny Likumahuwa bergabung dengan Jack Lesmana Combo pun ia banyak menulis lagu. Karyanya antara lain kemudian direkam di beberapa album, seperti komposisi instrumental “Sahabatku” di kaset Rien Djamain serta “Gairah” di kaset Margie Segers. Runtutan dokumentasi itu bisa ditambah dengan sebuah lagu yang dinyanyikan Mira Soesman, “Dia” yang direkam Benny bersama Abadi Soesman Band. Ini bisa menjadi pekerjaan rumah Benny Likumahuwa di konser yang akan datang.

dsc_0344.jpg

Kolaborasi (hampir) seluruh pengisi acara adalah akhir konser ini. Mereka membawakan lagu “Dansa yok Dansa” beramai-ramai diiringi BLP dan diakhiri dengan satu-persatu pemain turun panggung meninggalkan Benny Likumahuwa bermain trombone sendiri. Applaus penonton bersahutan menenggarai akhir acara yang durasinya menjadi lebih panjang dari rencana semula, total jendral menghabiskan waktu lebih dari 3.5 jam. Ruang Nusa Indah Theater yang terlihat penuh itu sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh penonton dengan rasa puas. Terima kasih kepada seluruh pengisi dan penyelenggara acara, seperti kata Farhan di akhir konser, “Kita adalah penikmat buah hasil kerja keras para perintis seperti Benny Likumahuwa.”

dsc_0298.jpg


Where’s jazz going? I don’t know? Maybe it’s going to hell. You can’t make anything go anywhere. It just happens — Thelonious Monk


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<