Album: The Jazz Soul of Ismail Marzuki
Label: Omega Pacific Production Records, 2011
01. Indonesia Pusaka
02. Aryati
03. Halo – Halo Bandung
04. Saputangan Dari Bandung Selatan
05. Selendang Sutra
06. Bandung Selatan Di Waktu Malam
07. Kopral Jono
08. Rayuan Pulau Kelapa
09. Jangan Ditanya
10. Kunang – Kunang
11. Sepasang Mata Bola
Bagi masyarakat Indonesia, nama Ismail Marzuki (1914-1958) selalu terkait dengan sejarah perjuangan, terutama dalam kerangka waktu masa kemerdekaan. Nyata, pada lagu-lagu ciptaanya, Bang Maing banyak memuat lirik bertendensi nasionalis, patriotik, kisah cinta yang unik, hingga kejadian sehari-hari. Gubahan Bang Maing lebih sering dijumpai dalam aransemen keroncong, seriosa, ataupun orkes, alih-alih jazz. Hanya sedikit musisi jazz Indonesia yang pernah membawakan tembang Ismail Marzuki, namun setidaknya mendiang Bill Saragih pernah memainkan âSelendang Sutra,â berirama swing dalam album Bill Saragih Sings ân Plays (Suryanada Indah Pratama, 1997). Sedangkan Nial Djuliarso pun sempat menampilkan karya Ismail Marzuki pada kedua album terdahulu, âJuwita Malamâ (Nial Djuliarso at Juilliard, 2006), dan âSabda Alamâ (New Day New Hope, 2008).
Kecintaan Nial atas komposisi Ismail Marzuki â yang menurutnya sebangun dengan âThe Great American Songbookâ, secara struktur â terwujud pada album ketiganya ini, The Jazz Soul of Ismail Marzuki yang mendaftar sebelas tembang Ismail Marzuki dalam aransemen segar dan variatif. Pada sampul belakang pula tertulis sub-judul tiap trek tentang nada dasar dan gaya musiknya. Album ini digarap di Lofish Studio, New York oleh Reed Taylor, dengan musisi pendukung Joonsam Lee (kontrabas), Othman Djuliarso (drum), serta saksofonis tenor Ken Fowser (khusus trek pertama).
Nomor pembuka adalah âIndonesia Pusakaâ yang berdenyut shuffle (swing), melodi utama dimainkan lewat tiupan saksofon tenor Ken Fowser. Tidak melulu swing, Nial juga menyertakan irama latin dalam âAryati,â santai bergaya rhumba dan terdengar seperti musik dansa. Riuh samba nampak pada âJangan Ditanyaâ yang mengalir kencang, sedangkan irama bolero membuat melodi âBandung Selatan di Waktu Malamâ makin terasa indah. Aroma bebop tercium kuat dalam sajian âHalo – Halo Bandungâ dan âKopral Jonoâ yang ditampilkan lewat kecepatan tinggi secara cekatan dan presisisi. Hitungan tiga terdapat di trek âSaputangan Dari Bandung Selatanâ juga âKunang – Kunangâ dengan indikasi waltz.
Canggihnya Nial bermain piano terekam jelas pada trek penutup âSepasang Mata Bolaâ yang ditampilkan solo tanpa iringan terhias beat rhumba serta banyak menggunakan teknik arpeggio. Dalam nomor pamungkas ini, kentara betul bahwa ia adalah pianis jazz kawakan dengan permainan rapi pun tafsiran yang intuitif. Tentang Ismail Marzuki, Nial menuturkan, âIa turut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia lewat lagu dan liriknya, dan menginspirasi banyak orang untuk tetap berjuang dan tidak menyerah,â ujarnya. Terlebih, ia menegaskan, âSebagai orang Indonesia, patutlah kita bangga memiliki seseorang macam Ismail Marzuki!â tukasnya.
Sepakat, Nial!







