Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "Nita Aartsen"

Skedul lengkap pertunjukan Djarum Super MLD JazzTraffic Surabaya

Tags: , , , , , , , , , , , , ,


JazzTraffic - Surabaya

JazzTraffic - Surabaya

Apakah anda telah memiliki tiket masuk Djarum Super MLD JazzTraffic Surabaya, Minggu 27 November 2011 nanti?. Ada baiknya anda menyimak jadwal berikut supaya bisa mempersiapkan waktu kedatangan jika anda tak bermaksud menonton dari awal atau hingga selesai.

Panitia menyediakan tiga panggung pertunjukan. Satu buah yang berada di outdoor sedang dua lagi berada didalam ruangan.

Mengingat jadwal pertunjukan yang berbarengan maka anda harus memilih salah satu, atau alternatifnya adalah memantau dari kedua panggung dan memutuskan menonton artis yang mana.

Berikut ini daftar lengkap jadwal pertunjukan Djarum Super MLD JazzTraffic Surabaya.

STAGE A

  • 12:30 BLP
  • 15:00 RAN
  • 18:30 LLW
  • 21:00 MALIQ AND D’ESSENTIAL

STAGE B

  • 14:00 SANDY WINARTA QUARTED
  • 16:45 IDANG RASJIDI
  • 19:50 BUBI CHEN
  • 22:45 TOMPI

STAGE C

  • 12:00 TERRO
  • 12:30 KOREK JAZZ
  • 13:10 BAGUS BAND
  • 13:50 SURABAYA ALL STAR
  • 14:45 VAN JAVA
  • 15:45 GONDO AND FRIENDS
  • 16:40 YUDI BARLEAN
  • 18:30 LIGRO
  • 19:30 NITA ARTSEN QUATRO
  • 21:30 ENDAH N RHESA
  • 22:45 BALAWAN
***
“DJARUM SUPER MLD JAZZ TRAFFIC” yang diselengarakan pada hari Minggu 27 November 2011 adalah bukti musik jazz akan terus berdenyut di Surabaya. Inilah sebuah miniatur jazz festival yang menampilkan banyak genre musik jazz. Acara itu berlangsung di Surabaya Grand City mulai pukul 12.00 – 24.00 WIB.
Acara ini merupakan yang terbesar dari semua penyelengaraan acara jazz di kota Surabaya selama ini. Seperti halnya sebuah festival jazz, acara ini akan menampilkan para band penampil secara bergantian, dengan dukungan tata suara masing-masing 40 ribu watt, dan kecanggihan tata lampu (lighting system).

JazzTraffic Surabaya merupakan buah kerjasama antara Suara Surabaya dan Rita Noya, promotor acara jazz asal Surabaya yang juga aktif dengan komunitas Jazz di Semarang dan Surabaya sendiri.

Panitia menjual tiket masuk dengan dua kategori yaitu:

  • Umum
    Tiket Terusan Rp 350.000,- (tiga ratus lima puluh ribu rupiah)
    Tiket Masuk Rp 125.000,- (seratus dua puluh lima ribu rupiah)
  • Mahasiswa/ Pelajar
    Tiket Terusan Rp 300.000,- (tiag ratus ribu rupiah)
    Tiket Masuk Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah)
Anda yang tertarik menonton bisa mendapatkan Tiket JazzTraffic Surabaya dengan menghubungi salah satu tiket box berikut:
  1. Suara Surabaya FM 100
    Kampung Media, Jl. Wonokitri Besar 40C
  2. Brew & Co,
    Surabaya Town Square (SUTOS) unit P52
    Jl. Adityawarman no. 55 Surabaya
  3. CIDO (Citra Document Solution)
    Jl. Klampis Jaya 15 D Surabaya
  4. TX-Travel Mayjend Sungkono
    Jl. Mayjend Sungkono No. 54 Surabaya,

 

Djarum Super MLD JazzTraffic ramaikan geliat jazz di Semarang

Tags: , , , , , , ,


Liputan konser Djarum Super MLD JazzTraffic, Semarang 19 November 2011.

Vakum menggelar pertunjukan jazz selama satu semester, komunitas Semarang Jazz Lovers akhirnya mengobati kerinduan para pecinta jazz kota itu dengan berlangsungnya Djarum Super MLD JazzTraffic Sabtu kemarin (19/11). Venue yang digunakan cukup unik, bertempat di Balai Kota Semarang, yang sehari-harinya didatangi para pegawai Pemda, namun malam itu dijejali oleh ribuan muda-mudi untuk menyaksikan penampil pujaan mereka.

Siang hari yang terik dan menyengat di kota Semarang, beralih gerimis waktu petang menjelang, untunglah tak menderas, acara pun dimulai sebelum jam lima sore. JazzTraffic memiliki dua panggung yang hampir berhadapan, dipandu oleh masing-masing sepasang MC yang saling berinteraksi untuk memeriahkan jalannya pertunjukan. Band pertama bernama Reunion, asal Semarang yang berlanjut grup lokal Poffertjes bawakan lagu-lagu aransemen jazzy, salah satunya tembang “I Heart You.”

Fariz RM

Fariz RM

Fariz RM

Fariz RM

Selepas rehat Maghrib, audiens menyambut meriah ketika musisi senior Fariz RM hadir. Bersama trio Rio Zee (synthesizer), Jantan (drum), dan Vian (bas), Fariz memberi suguhan lagu “Penari,” “Senam Kampung,” pula nostalgia era 1980-an lewat “Nada Kasih,” “Sakura,” dan “Sungguh.” Walikota Semarang, Soemarmo HS turut naik ke panggung dan memberi sambutan, berharap acara semacam ini dapat teragenda dalam program pariwisata Semarang. Tampil energik, Fariz RM mampu mengimbangi semangat para audiens maupun penampil lain yang berusia jauh di bawahnya. Malam itu dirinya juga sajikan lagu baru “Terindah” yang ditulis oleh Glen Fredly.

Sambutan oleh Walikota Semarang

Sambutan oleh Walikota Semarang

LIGRO

LIGRO

Beralih menuju panggung sebelah, telah siap tiga “orang gila” pendekar gitar Agam Hamzah, basis Adi Darmawan dan tukang pukul drum Gusti Hendy yang berkomplot dalam institusi bernama LIGRO mulai bertingkah. Dengan kekentalan jazz-rock-kontemporer semacam Mahavisnu Orchestra, LIGRO tampil distorsif, energik, cepat, dan berani disonan. Seperti aksi-aksi sebelumnya, Adi berlaga teatrikal sembari membawa serta pisau, paku, dan lempengan seng sebagai bagian dari pemuas hasrat bunyi. Komposisi yang dihadirkan antara lain “Bliker,” “Future,” pula “Don Juan.”

Balawan

Balawan

Penampil berikutnya adalah gitaris dengan jemari ajaib, I Wayan Balawan asal Pulau Dewata. Selain memukau penonton dengan teknik njelimet, ia membawa serta rekan-rekan musisi dengan gamelan Bali. Jadinya adalah sebuah fusi jazz-rock-etnik yang eksotis. Sayangnya penampilan Balawan malam itu tak didukung oleh tata suara yang baik, yang bermasalah hampir sepanjang acara. Toh ia tetap beraksi  menghibur para pendengarnya yang merespons dengan tepuk tangan seru.

Nita Aartsen

Nita Aartsen

Irama musik latin seperti bossa, samba, salsa, dan mambo menghiasi sajian atraktif pianis Nita Aartsen bersama grup kuartet bertajuk Nita Aartsen Quatro. Didukung oleh pemusik berpengalaman Adi Prasodjo (perkusi), Adi Darmawan (bas), juga drummer muda berbakat Sandy Winarta. Nita menggoyang arena JazzTraffic lewat aransemen jazz latin atas mahakarya komponis klasik, Bach atau Beethoven, di antaranya. Terdengar pula “Blue Rondo à la Turk” milik Dave Brubeck yang dimainkan dalam tempo lebih cepat ketimbang versi aslinya. Selain mahir mendenting piano, Nita pun pandai menyanyi.

Barry Likumahuwa Project

Barry Likumahuwa Project

Sebelum JazzTraffic Semarang diakhiri aksi band gaul RAN, pelataran Balai Kota lebih dulu heboh oleh Barry Likumahuwa Project (BLP). Dengan basis Barry Likumahuwa selaku leader, BLP tampak begitu digandrungi publik Semarang lewat nomor andalan “Mati Saja,” atau “Saat Kau Milikku” yang dinyanyikan oleh Matthew Sayersz, bersama jentik gitar Henry Budidharma serta ketukan drum Jonas Wang. Bermain dalam durasi lebih pendek ketimbang konser-konser BLP di tempat lain, mereka turut sajikan aransemen bergaya fusion atas introduksi “So What” kepunyaan Miles Davis.

Audiens JazzTraffic Semarang

Audiens JazzTraffic Semarang

Antusiasme publik Semarang terhadap JazzTraffic terbilang baik, terlihat dari ribuan audiens yang memadati venue hingga acara usai. Namun kemeriahan itu terasa timpang oleh gangguan tata suara yang kurang mumpuni, bising dan keruh. Semoga pada edisi selanjutnya pihak panitia mampu mengatasi sehingga menjadi sajian pertunjukan jazz yang lebih baik lagi.

Bagi penggandrung jazz yang tak sempat menyaksikan JazzTraffic Semarang, dapat menghadiri putaran selanjutnya pada Djarum Super MLD JazzTraffic di kota Surabaya, bertempat Grand City Convex Surabaya, Minggu 27 November 2011 dimulai pukul 12 siang.

Ada Jazz Hujan di Bandung (Bagian I)

Tags: , , , , , , ,


Bulan Desember di Indonesia pada umumnya sudah memasuki musim penghujan. Kemudian mengapa menyelenggarakan festival jazz yang salah satu panggungnya berada di luar gedung Sabuga Bandung, General Coordinator dari festival Bandung World Jazz 2009, Andar Manik menjawab ketika acara preskon, “Kita sengaja mengadakan acara ini di bulan Desember karena hujan, jadinya jazz hujan”.

Andar Manik, Jailani, Marintan Sirait dan Reza

Andar Manik, Jailani, Marintan Sirait dan Reza

Untungnya ramalan Andar Manik tersebut sampi selesai acara tidak terbukti, sehingga acara yang diselenggarakan tanggal 3 – 4 Desember 2009 berlangsung cukup meriah. Selama dua hari tersebut, dari jam 13.30 sampai tepat tengah malam dengan breaktime sekitar satu setengah jam, penonton disuguhi oleh 34 group musik dengan berbagai warna.

Perkiraan daya tampung penonton sekitar 1500 orang dengan setting venue terdiri dari 3 panggung. Panggung pertama berada di sisi kiri luar gedung, panggung kedua berada di koridor tembusan pintu masuk utama gedung dan panggung ketiga ada di tribune (ruang utama) gudung Sabuga. Sementara di bagian tribune, satu panggung yang cukup luas dibagi menjadi 3 bagian, sayap kanan, kiri, dan tengah yang hanya dibedakan dengan tinggi rendah level. Panggung pertama dan kedua dipakai dari siang sampai menjelang Maghrib, selanjutnya pertunjukan berlangsung di panggung ketiga.

Mendekati waktu tergelincirnya matahari, stage 1 dan 2 sudah mulai kesibukannya dengan persiapan Castavaria dan Nita Aartsen. Castavaria tampil dengan mengetengahkan 3 bassist, ditambah seorang drummer, yang menghibur penonton melalui percakapan dalam nada-nada rendah dengan balutan irama jazz-rock dan funky yang menghentak-hentak. Sementara Nita Aartsen menghibur para penonton dengan koleksi-koleksi musik latin, rhumba dan bossa nova. Agak lain dengan penampilannya di album “All Nite Out”, Nita lebih banyak menunjukkan kebolehannya dalam memainkan keyboardnya yang cukup memikat. Sudah barang tentu, lagu-lagu wajib dari Amerika bagian Selatan muncul satu persatu. Seperti ‘Masquenada’ atau pun ‘Girl From Ipanema’. Tidak ketinggalan salah satu hit dari albumnya, ‘Let’s Dance’.  Dalam kesempatan ini Nita mengajak teman lama yang bernama Steve Wilson untuk tampil sebagai vokalis. Penampilannya cukup komunikatif dengan para penonton. Musisi lain yang mendukung Nita adalah Adi Prasodjo (perkusi) dan Harry Toledo (bass).

bdgworldjazz-09-001

Nita Aartsen, Steve Wilson, Harry Toledo dan Adi Prasodjo

Beranjak ke panggung outdoor, suasana gayeng dan meriah langsung memenuhi telinga ini. Bagaimana tidak, sebuah band dengan warna fusion menghentak-hentak dengan kerasnya dengan reriuhan suara saxophone, bass, gitar, keyboards dengan beberapa instrumen musik tradisional Jawa. Mereka adalah Prabumi, sebuah band kolaboratif pimpinan Agus Bing, yang juga seorang wartawan sebuah surat kabar di Jogja. Hanya saja, saking semangatnya, suara saron, kendang, djembe dan bonangnya justru tertutup dengan instrumen musik modern lainnya. Atau memang ada semacam kanonisasi musik yang barangkali menghasilkan efek tertentu. Mereka menampilkan tembang klasik “Prahu Layar” ataupun komposisi ciptaan sendiri “Transit”.  Selain itu, ada 4 Peniti dari Bandung yang sudah mempunyai penggemarnya tersendiri ini memeriahkan acara ini dengan tembang-tembang segar dengan memadukan banyak jenis musik. Zaki (vokal & gitar), Ammy (violin & gitar), Rudy Zulkarnaen (bass) dan Ary Aru (drum) membentuk kelompok ini karena sama-sama menyukai Pat Metheny.

Persentuhan antara musik jazz dan khasanah musik lokal dari Indonesia masih tetap menjadi daya tarik yang sexy. Seperti halnya yang dilakukan oleh group dari Jakarta Archipelago maupun Karinding Collaborative,  Saratuspersen. Mereka sama-sama memadukan improvisasi jazz dengan musik Sunda. Seperti yang diungkapkan Andar Manik bahwa “Cita rasa musik lokal bisa memasuki ranah improvisasi jazz”. Hasilnya memang menarik, sambil membayangkan berada di hamparan sawah hijau sambil mendengarkan kecapi Cianjuran dan liukan suara saxophone.

Saratuspersen asal Bandung

Saratuspersen asal Bandung

Adapun kelompok serupa dari luar negeri adalah Taal Tantra. Di Stage 3 tengah mereka tampil dengan 10 orang musisi dengan menampilkan beberapa corak musik India dari bagian Utara, Selatan, Barat dan Timur yang dikombinasikan dengan jenis musik lain seperti jazz, rock maupun reggae. Penampilan memang mereka terasa hidup dan berhasil menghibur penonton. Apa lagi dengan kehadiran seperti seorang fakir dalam memainkan alat perkusi dari India, plus dengan jogetannya yang lucu.

bdgworldjazz-09-005

Taal Tantra

Salah satu bintang benderang sore itu adalah Ligro, kumpulan 3 orang gila (bermusik) yang terdiri dari Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bass) dan Gusti Hendy (drum). “Komposisi-komposisi di dalamnya bercerita tentang pola-pola musik yang sangat tidak umum. Sesuatu yang tidak umum biasanya diluar kenormalan. Dan itu disebut gila,” papar Agam dalam sebuah perbincangan dengan wartajazz.com. Group ini juga mempunyai energi yang luar biasa. Gaya jazz rock memang kental, yang mengingatkan kita kepada Mahavishnu Orchestra dengan semburat warna musik Indianya. Akord gitar yang dimainkan pun terasa liar dan seperti dalam dunia paralel dan aneh. Apalagi dengan penampilan Hendy, yang juga drummernya Gigi, “double temponya mau merontokkan tembok China”, kata seorang penonton yang terkagum-kagum. Ketika bersama Gigi pun malah jarang terdengar seperti itu.  Mereka menampilkan komposisi-komposisi yang ada dalam album “Ligro Dictionary I” seperti ‘Blinker 1′, ‘Radio Active’, ‘Green Powder’ maupun ‘Orgil’.

Di hari pertama, kelompok yang tampil paling ngejazz adalah David Manuhutu dan Pigalle44. David merupakan salah satu aset masa depan musisi jazz dari Indonesia yang saat ini belum genap 20 tahun usianya. Putra dari Venche Manuhutu ini sudah mulus sekali dalam memainkan pianonya dalam tembang-tambang bebop yang strukturnya komplek tersebut.

bdgworldjazz-09-004

Pigalle 44

Setelah seharian kita dihujani dengan letupan jazz yang menghentak-hentak dan keras, menikmati Pigalle44 seolah kita menikmati kopi hangat di sore hari setelah seharian bekerja keras. Berdiri sejak 10 tahun lalu, Pigalle44 dimotori oleh dua gitaris Reiner Voet dan Jan Brouwer. Mereka menampilkan aksen musik gipsi dalam sajian jazz. Masih terasa sentuhan tradisional jazz seperti swing meski tidak sepenuhnya mengekor kepada para pendahulu. Kalau dilihat gaya permainannya sendiri adalah gabungan antara tradisional dan modern. Memang ada kalanya gipsi jazz tampil ekspresif, banyak nada yang keluar, bertempo cepat namun kemarin mereka menampilkan gipsi jazz yang cool dan impresif. Kedatangannya ke acara ini mereka dibantu oleh Hermine Deurloo (harmonika & sopran saxophone) dan Jet Stevens (bass).

Pertunjukan hari pertama ini juga dimeriahkan oleh lebih dari 50 anak yang tampil ke panggung dengan bermain perkusi. Mereka semua adalah anggota dari Jendela Ide. Sebuah organisasi yang concern terhadap kreasi anak-anak. “Jelas bahwa anak-anak kita saat ini adalah investasi kebudayaan kita di masa mendatang”, ujar Festival Coordinator Marintan Sirait.

bdgworldjazz-09-006

Jendela Ide Percussions

Sepertinya, hari pertama dari Bandung World Jazz Festival 2009 ini cukup memuaskan sekitar penonton. Meski soundsystem di Stage 2 kurang enak dinikmati. Mengingat panggung tersebut berada di dalam koridor yang mempunyai ruang relatif sempit.

Romancing Teresa Teng bersama Nita Aartsen featuring Liza Gunawan

Tags: , ,


Romancing Teresa Teng

Romancing Teresa Teng

Shanghai Blue 1920 yang terletak dijalan Kebon Sirih Jakarta Pusat menyelenggarakan Romancing Teresa Teng – seorang diva mandarin tahun 70-an yang populer dikalangan komunitas warga tionghoa diseluruh dunia – dengan menghadirkan Nita Aartsen Quatro featuring Liza Gunawan.

Acara berbandrol tiket masuk IDR 120.000,- dengan satu gelas minuman berjenis wine ini akan diselenggarakan pada hari Jumat, 5 Juni 2009 mulai pukul delapan malam. Buat anda yang memiliki kartu kredit platinum BRI, tersedia diskon sebesar 20%.

Nita Aartsen adalah pianis yang baru saja merilis album All Nite Out. Album yang dirilis Platinum Records ini berisikan lagu-lagu klasik namun jadi lebih cair ditangannya. Album tersebut digarapnya bersama Bintang, Aldy, Kristian Dharma, Iwan Wiradz, Ian Ingram, Cecilia Ventura.

Tertarik menonton?, silakan kontak Ezter di 021-391 8690 atau email shanghai-blue@tuguhotels.com. Anda dapat pula datang langsung ke Shanghai Blue 1920 Jazz Lounge & Restaurant, Jl. Kebon Sirih Raya 77 – 79  Jakarta Pusat Tel. +62 21 391 8690, +62 21 392 0384 – Fax. +62 21 391 8675.

Nita Aartsen Project di Gedung Kesenian Jakarta

Tags: , ,


Kapan terakhir anda ke Gedung Kesenian Jakarta?. Mungkin anda sudah cukup lama tak menyaksikan Jazz di gedung dengan salah satu akustik terbaik di Jakarta ini. Anda kini punya alasan kenapa harus datang. Sejumlah musisi yang tergabung dalam Nita Aartsen Project akan hadir dalam sebuah pementasan musik pada Rabu, 22 April 2009, Pukul 20.00 wib.

Dynamic duo, trio & quartet akan membawa anda dalam sebuah perjalanan menyusuri Mesir, Brasil, Spanyol hingga Afrika lewat Rhythm & Harmony. Pertunjukan disajikan dalam musik jazz kontemporer berbentuk duo piano, duo gitar, trio dan kwartet.

Mereka yang akan tampil yaitu Nita Aartsen, Agam Hamzah, Bintang Indrianto, Marusya Nainggolan, Arnan Maming, Shinta, Feby Sukova, Dira Sugandi dan akan membawakan repertoar antara lain Windows,  Senor Mouse,  Spain (Chick Corea), Mediteranian Sundance – Al Di Meola, Ave Maria, Minute in G – JS Bach, Blue Rondo a la turk – Dave Brubeck dan Fantasy by Marusya Nainggolan.

Harga tiket masuk sebesar Rp 75.000,- & Rp50.000,-(balkon). Informasi dan Pemesanan tiket silakan hubungi Gedung Kesenian Jakarta, Jl. Gedung Kesenian No.1 Jakarta Pusat, Telp  (021-3808283/3441892)  atau Hp: 0811901380

***

Selain pertunjukan pada tanggal 22 April, Gedung Kesenian Jakarta juga akan menampilkan Riza Arshad dan kawan-kawan pada tanggal 15 Mei 2009.


Writing is like jazz. It can be learned, but it can’t be taught. — Paul Desmond


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<