Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "oele pattiselanno"

Jack Lesmana – Merpati Putih

Tags: , , , ,


Judul Album : Merpati Putih (Kaset)
Artis : Jack Lesmana
Label : Irama Tara
Tahun Rilis : 1978

Tracklist
Side A
1. Pelangi
2. Semua Bisda Bilang
3. Merpati Putih
4. Luka
5. Dari Lubuk Hati
6. Tidurlah Intan
7. Khayalanku

Side B
1. Bintang dan Bunga
2. Anamacore
3. The Hungry Years
4. My Cherie Amour
5. Bluesette
6. Emotion.

Dari paruh hingga akhir era 70-an Jack Lesmana termasuk produktif dalam merilis album-album jazz. Salah satunya adalah album “Merpati Putih” yang juga diberi tajuk “Instrumental Hits”. Mungkin karena album ini memang berupaya menata ulang serangkaian lagu-lagu hits pada berbagai era. Setidaknya dua lagu karya Eros Djarot dan Debby Nasution dari album soundtrack film ”Badai Pasti Berlalu” dihadirkan di album yang menyertakan Oele Pattiselanno (gitar), Alex Faraknimella (keyboards), Karim Suweileh (drums), Perry Pattiselanno (bass) dan Indra Lesmana yang baru berusia 12 tahun pada keyboards. Jack Lesmana sendiri selain bermain gitar juga menulis seluruh arransemen lagu di album ini.

Lagu lagu yang dikemas di album ini beratmosfer music lounge yang renyah. Tidak rumit dan terasa lebih mengalir. Pilihan terbanyak adalah menyelimutkan lagu-lagu di album ini dengan atmosfer bossanova seperti yang terdengar pada lagu The Mercy’s “Semua Bisa Bilang” (ciptaan Charles Hutagalung). 3 tahun sebelumnya lagu ini pernah dipopulerkan kembali dengan balutan jazz oleh Margie Segers lewat musik yang ditata pula oleh Jack Lesmana.

Simak pula sebuah lullaby yang melenakan lewat karya Soetedjo ”Tidurlah Intan” yang menampilkan duet gitar antara Jack Lesmana dan Oele Pattiselanno.

Tak ketinggalan Jack Lesmana kembali menyodorkan beberapa lagu karyanya di era 60-an seperti “Luka”,”Bintang dan Bunga” serta “Dari Lubuk Hati”. Indra Lesmana bahkan diberi kesempatan membawakan karya ciptanya bertajuk “Khayalanku”, sebuah komposisi yang lugas dan menarik . Bakat Indra sebagai player dan composer memang sudah terendus disini.

Sayangnya beberapa lagu lagu asing yang dimainkan di album ini justeru tak dicantumkan nama komposernya seperti “Bluesette”, ”Emotion”, ”My Cherrie Amour” hingga “The Hungry Years”.

Jika ingin menelusuri perjalanan musik jazz di era lampau, album ini patut disimak. Disayangkan album ini ternyata sangat sulit untuk didapatkan sekarang ini. Kebanyakan sudah menjadi milik para kolektor. Patut disayangkan memang.

Monita Tahalea – Dream, Hope & Faith

Tags: , , , ,


Album: Dream, Hope & Faith
Label : Inline Music/Demajors, 2010

1. Kisah Yang Indah
2. Ingatlah
3. Over the Rainbow
4. I Love You
5. Senja
6. God Bless the Child
7. Hope
8. Di Batas Mimpi

Monita - Dream, Hope & Faith

Monita - Dream, Hope & Faith

Biduan remaja bernama lengkap Monita Angelica Maharani Tahalea (Monita Tahalea, Monita, Momon) memang dikenal publik lewat kiprahnya dalam ajang Indonesian Idol kedua, sekitar lima tahun lalu. Waktu itu vokalnya sudah menunjukkan karakter jazzy, meskipun masih terasa nanggung dan gamang. Contohnya pada daur-ulang lagu “Keliru” milik Ruth Sahanaya dalam album Seri Cinta oleh Finalis Indonesian Idol 2 (Sony Indonesia, 2005). Entah kebetulan atau bukan, kala itu adalah Indra Lesmana selaku juri – sekarang menjadi produser dan penata musik album debut Monita bertajuk Dream, Hope & Faith. Pada album ini kentara bahwa Monita semakin dewasa mengolah vokal, dan beruntung ia mendapat dukungan musisi-musisi berpengalaman sehingga dirinya mampu tampil maksimal.

Hal pertama yang menarik adalah pada kemasan fisik album ini, bentuknya mirip sebuah undangan berhias senyum siput Monita. Bookletnya seukuran kertas A3 terlipat enam sama sisi, tercantum lengkap informasi dan lirik seluruh lagu yang total berjumlah delapan. Peran Indra Lesmana patut diacungi jempol, garapan musik di album ini terasa halus serta pas dengan suara Monita yang manis dan menyejukkan. Monita turut ambil bagian menulis lirik, simak pada trek pembuka “Kisah Yang Indah”, juga “Senja”, dan “Hope”. Dewa Budjana menyumbang permainan gitar akustik dalam nomor berirama catchy, “Ingatlah” sedangkan Aksan Sjuman memukul drum dengan santai pada tembang “I Love You” dan lagu pertama.

Penggemar jazz bolehlah menyimak interpretasi naratif pada komposisi “Over the Rainbow” karangan Harold Arlen/ E.G. Harburg serta “God Bless the Child”, besutan Arthur Herzog, Jr. dan Billie Holiday, salah satu figur panutan Monita. Meskipun kedua lagu tersebut sering dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi, namun Monita berhasil memberi sentuhan personal. Bait demi bait mengalun lembut penuh makna. Terima kasih untuk jentikan gitar Oele Pattiselanno yang juga ikut “bernyanyi” liris.

Dream, Hope & Faith adalah langkah awal yang cukup baik untuk Monita, ia bernyanyi sesuai kapasitasnya, tanpa perlu “gimnastik vokal” ataupun scat singing asal-asalan yang sering ditemui pada banyak penyanyi jazz(?) dalam negeri – dalam bahasa gaul: lebay. Lewat album ini, keindahan justru ditunjukkan dalam kesederhanaan. Manis!

Musisi pendukung

Indra Lesmana (kibor, programming)
Oele Pattiselanno, Dewa Budjana, Bernie (gitar)
Donny Sundjoyo (kontrabas)
Aksan Sjuman (drum)
Eki Puradireja (lirik untuk lagu “Di Batas Mimpi”)

2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010 siap digelar di Makassar

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010

2nd Annual Jazz @ Fort Rotterdam 2010

Sebagai bagian komitmen untuk turut mengembangkan khasanah musik jazz di tanah air serta mendukung promosi pariwisata Indonesia, One Note Entertainment (unit dari PT. One Note Indonesia) akan menggelar “2nd Annual Jazz @Fort Rotterdam(JFR)” tanggal 31 Juli – 1 Agustus 2010 bertempat di Benteng Fort Rotterdam, Makassar. JFR direncanakan untuk menjadi acara festival jazz tahunan yang memberikan tawaran baru penyelenggaraan festival jazz di Indonesia.

JFR kali ini masih menggunakan 2 panggung yang akan diisi oleh pendukung acara secara bergantian. Ada sekitar 8 grup jazz dari luar Makassar yang diundang untuk hadir di JFR 2010, yaitu Krakatau Band, Barry Likumahuwa Project feat. Benny Likumahuwa, Oele Pattiselanno Trio, Idang Rasjidi & Friends with Cendy Luntungan, Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra feat. Dira & Ivan Nestorman, Nikita Dompas & His Fellow Musicians feat Andien, Zarro & Mercy serta Balawan Trio. Sementara grup band dari Makassar yang akan tampil yaitu La’Biri Band, Rizcky & the Strangers, Pakarena N Jazz, Dakochang Jazz Junior Band, Sky Project dll.

Guna mensosialisasikan keberadaan JFR, One Note telah melaksanakan beberapa rangkaian event baik di Makassar, Jakarta dan di mancanegara yaitu di Den Haag, Belanda. Sosialisasi JFR di Makassar pada tanggal 25 Februari 2010 di Hotel Clarion di meriahkan oleh grup 3 Dunia yang terdiri dari Idang Rasjidi-Fariz RM-Eddy Syahroni.

Selanjutnya One Note menggelar “Indro Hardjodikoro Feels Free Concert” di Erasmus Huis, Jakarta dengan menampilkan Indro Hardjodikoro Trio, Tohpati dan Oele Pattiselanno.

Setelah itu, promosi JFR dilaksanakan di ajang Tong Tong Fair 2010 di Den Haag, Belanda pada tanggal 21 Mei 2010 dengan menampilkan Tohpati – Ethnomission. Kegiatan di Belanda tersebut didukung oleh Direktorat Jenderal Pemasaran Kemenbudpar dalam rangka Visit Indonesia.

Pihak panitia mengharapkan sekitar 2,500 penonton bakal menghadiri perlehatan jazz terbesar di pulau Sulawesi ini. Harga tiket dipatok sebesar Rp. 100,000/ harian dan Rp. 180.000 untuk terusan (2 hari). Pembukaan JFR 2010 akan dilaksanakan tanggal 31 Juli 2010 pkl. 16:00 dengan menampilkan atraksi kesenian tradisional dan juga bakal dimeriahkan oleh Paduan Suara Mahasiswa Universitas Hasanuddin, Makassar. JFR akan berlangsung pukul 17:00 – hingga selesai.

Pelaksanaan JFR 2010 juga merupakan salah satu event yang turut mempromosikan Taman Nasional Komodo sebagai “New 7 Wonders”. Program ini didukung oleh pihak Direktorat Jenderal Pemasaran Kemenbudpar yang akan menampilkan Dwiki Dharmawan – World Peace Orchestra yang menggarap nomor khusus dengan menampilkan Ivan Nestorman dan Dira. Selain itu JFR 2010 didukung pula oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam rangka mempromosikan Visit Sulsel 2012 dan Pemerintah Kota Makassar dalam rangka Visit Makassar 2011. JFR 2010 juga didukung oleh Ikatan Keluarga Alumni Netherland (Ikaned).

Pameran Foto Jazz Expression diperpanjang hingga akhir Agustus 2009

Tags: , , , , , , , , , , , ,


Atas permintaan beberapa pihak, pameran foto yang diselenggarakan oleh Wartajazz.com bertajuk “Jazz Expression”, yang digelar di Galeri Tembi, Jl. Gandaria I/47B Kebayoran Baru, Jakarta Selatan diperpanjang hingga 31 Agustus 2009.

JazzExpression-02

B.B. King saat tampil di North Sea Jazz Festival 2009, Den Haag Belanda

Ada 68 foto yang dipajang berukuran 17R (30 x 40 cm) yang merupakan hasil jepretan para fotografer WartaJazz.com dari berbagai acara yang digelar baik di Indonesia maupun mancanegara.

Beberapa koleksi yang dipamerkan sudah dipesan oleh beberapa pengunjung. Jika anda tertarik, silakan menghubungi petugas yang ada di Galeri Tembi, atau dapat menghubungi nomor telepon 021-8310769 untuk informasi lebih lanjut.

JazzExpression-01

Chick Corea & Gary Burton saat tampil di Mosaic Music Festival 2006

Setelah pameran di Galeri Tembi Art Jakarta, rencananya foto-foto tersebut akan dibawa ke kota gudeg Yogyakarta dan akan mulai dipamerkan setelah lebaran Idul Fitri nanti. Tunggu informasi lebih lengkapnya di WartaJazz.com

Fragmen 51 Tahun Bermusik Benny Likumahuwa

Tags: , , , , , , , , ,


dsc_0349.jpg

Sebuah paket acara dikemas untuk memperingati 51 tahun Benny Likumahuwa bermusik. Konser yang diselenggarakan Sabtu 7 Februari 2009 di Nusa Indah Theater, Balai Kartini Jakarta mengetengahkan beberapa fragmen perjalanan bermusik Benny Likumahuwa dalam format jam session. Benny Likumahuwa merangkul banyak teman-teman musisi seangkatannya. Ikut berpartisipasi juga beberapa nama pemain muda yang dua diantaranya adalah murid Benny Likumahuwa. Pertama adalah Barry Likumahuwa, putra kandung Benny Likumahuwa yang memainkan bass, tampil dengan kelompoknya Barry Likumahuwa Project (BPL). Satu lagi adalah Dennis Junio Gani, seorang remaja berusia 15 tahun yang berbakat memainkan saksofon. Kehadiran keduanya menjadi tanda karir bermusik Benny Likumahuwa yang akan terus berlanjut. Terus berkesinambungan. Interaksi lintas generasi ini yang kemudian ditasbihkan menjadi judul acara, Jazz Concert Continuously.

dsc_0114.jpg

Acara yang dipandu sangat cair oleh Farhan ini dibuka dengan penjelasan tujuan dan tema konser. Kemudian Farhan memperkenalkan Benny dengan canda sebagai, “… yang survive dari krisis moneter 10 tahun yang lalu, Benny Likumahuwa!” Pria Maluku kelahiran Kediri 18 Juni 1946 ini memulai pertunjukan dengan memperkenalkan musisi yang mendampinginya. “..Ini semua teman-teman saya. Teman lama. Kita selalu berkumpul main bersama. Paling sering kita (bermain) tanpa latihan. Karena kita sudah bicara yang sama di dalam jazz. Sehingga nggak latihan, karena yang satu sudah mengerti yang lain, otomatis jadi…” kata Benny Likumahuwa. Ya, memang konsep jam session yang menjadi kekuatan pertunjukan malam itu.

dsc_0326.jpg

Benny Likumahuwa membuka fragmen-fragmen awal dengan benang merah instrumen yang pernah dia mainkan. “Pada saat umur 11 tahun, pada saat saya mulai bermusik, alat pertama yang saya mainkan adalah bongo. Alat itu adalah (alat) yang paling mudah didapat karena kebetulan punya di rumah, murah meriah, bisa dimanfaatin,” kenang Benny. Bersama Oele Pattiselanno pada gitar, Jacky Pattiselanno (drums), Jeffrey Tahalele (bass), Sam Panuwun (keyboards), Benny Likumahuwa memainkan satu set perkusi yang terdiri dari bongo, conga dan dua timbalis di lagu “Cute” yang bernuansa latin jazz. “Dulu dengan lagu yang dipopulerkan Diane Shore tahun 50an itu saya dengan teman-teman lain dalam grup Red Cubana main di RRI Ambon,” cerita Benny lagi.

Lagu kedua, “Down Home”, adalah lagu dimana Benny Likumahuwa memainkan electric upright bass. “Ini alat kedua yang saya main,” katanya. “Sudah lama sekali saya tidak memainkan upright bass. Kurang lebih 30 tahun yang lalu. Karena saya mengalami kecelakaan sehingga jari saya ini kurang begitu kuat. Saya beralih ke fretless bass. Dan hari ini pertama kali saya (kembali) main (upright) bass ini. But that is music. Musik sebenarnya simple sekali. Bernyanyilah! Ini hanya medianya.” lanjut Benny Likumahuwa. (Mungkin Oom Benny maksud disini adalah memainkan bass secara rutin. Sebab WartaJazz sempat merekam penampilannya saat mengiri Nick Mamahit (alm) saat tampil di Hotel Dharmawangsa beberapa tahun lalu -red). Di lagu progresif jazz akhir 50an itu Benny Likumahuwa menunjukkan improvisasi permainan bass unison lantunan scat.

dsc_0052.jpg

Bermain Upright Elektrik Bass

Fragmen bermusik Benny Likumahuwa kemudian maju ke masa kini dengan tampilnya Barry Likumahuwa dan Dennis Junio Gani. “Makanya saya memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk lebih banyak berkarya. Karena mereka adalah penerus kita. Sesuai dengan judul, supaya tetap continuous.” jembatan Benny masuk ke fragmen itu setelah sebelumnya ia panjang bercerita tentang suka duka interaksinya di dunia jazz di Indonesia. Bertiga bersama Kedua “murid”nya itu Benny Likumahuwa menampilkan lagu “Naik Naik ke Puncak Gunung”. Tiupan Trombone Benny dan saksofon Dennis bergantian bernyanyi diiringi rhythm permainan bass Barry. Interprestasi yang menarik untuk lagu tadisional dari daerah Maluku. Setelah lagu yang aslinya berjudul “Naik Naik ke Gunung Nona” itu mereka membawakan “GodSpell” satu karya Barry Likumahuwa.

Penampilan Barry Likumahuwa dan Dennis Junio dilanjutkan bersama BPL. Kelompok “jazz anak muda” ini diperkuat oleh drummer Jonas Wang, Donny Jusran (keyboards), Hendry Budhidarma (gitar), dan vokalis Matthew Sayers. BLP juga mengikutkan sertakan gitaris Nikita Dompas. Mereka membawakan lagu dari album Barry, “My Prayers” yang dimedley dengan “Jazzy Crimes” milik saksofonis Joshua Redman. Bintang tamu BLP adalah penyanyi Glenn Friedly yang tampil dengan lagu “Dansa”. Project ini menuntaskan jeda fragmen tribute itu dengan lagu Barry, “Aku dan Hadirmu.”

dsc_0327.jpg

Kelompok Barry Likumahuwa yang lain juga ikut berpartisipasi. Grup ini terdiri dari 4 pemain bass (seharusnya 5 bassist) dan seorang drummer. Yup, Bazzatack kembali untuk memeriahkan Jazz Continuously! “Saya mendapat inspirasi untuk bikin grup ini gara-gara melihat papa dulu. Di tahun 1997 dia pernah bikin acara bulanan Jamz Matra Jazz. Banyak banget mereka bikin even-even, seperti 7 Pendekar Gitar, 7 Pendekar bass, dan pendekar-pendekar yang lain.” aku Barry. Maka “serangan nada-nada rendah” begitu istilah Barry pun menyapa penonton. Barry, Jawa (bassis Maliq & The Essentials), Handy Soulvibe, JMono Alexa, dikawal drummer Parkdrive Rayendra Sunito memainkan dua komposisi dalam format medley. Di lagu “Gosthbuster” tiap personel bergantian melakukan improvisasi sesuai gaya nge-bass masing-masing. Permainan JMono dengan efek bassnya me-metal-kan konser jazz malam itu.

Setelah BLP, fragmen kembali ke perjalanan bermusik Benny Likumahuwa di era awal 1966 dimana ia baru tiba di Bandung. Benny Likumahuwa memulai kisahnya dengan bagaimana duka-suka awal karirnya bersama grup Crescendo, yang antara lain juga terdiri dari Yong dan Budiman. Kemudian Benny Likumahuwa gabung dengan The Rollies, grup rock asal Bandung yang menggunakan horn section. “Saya gabung dengan grup rock tapi saya tetap main jazz. Saya tidak pernah meninggalkan jazz, karena that is my music.”

Konser menjadi istimewa dengan reuni personel The Rollies yang masih ada. Beberapa personel awal The Rollies yang telah tiada adalah Delly DJoko Alipin (vokal, keyboard), Iwan Kresnawan (drums), Deddy Sutansyah (vokal,bass), Bangun Sugito (vokal, trumpet), Raden Bonnie Nurdaya (vokal, gitar). The Rollies malam itu adalah Teuku Zulian Iskandar Madian, Benny Likumahuwa (trombone, flute), bassis Oetje F Tekol, drummer Jimmie Manoppo dan pemain tamu Herry pada trumpet (menggantikan Didiet Maruto yang berhalangan hadir), gitaris Masri, serta Abadi Soesman di papan kunci. Mereka membawakan “Make Me Smile” yang dinyanyikan oleh Iis, pemain saksofon/gitar The Rollies.

dsc_0384.jpg

Fragmen berikutnya adalah pengalaman Benny Likumahuwa saat berinteraksi dengan komunitas jazz Jack Lesmana. “Pada saat saya di Ambon, saya bermimpi bahwa pada suatu saat saya sampai di pulau Jawa ini mudah-mudahan paling tidak salaman dengan mereka (Bubi Chen, Jack Lemmers, Maryono, Benny Mustafa, pencipta lagu Sutedjo, Bill Amirsyah Saragih) dan menyatakan kekaguman saya.” Era itu merupakan masa dimana mimpi Benny muda menjadi kenyataan. Benny Likumahuwa tidak sekedar bersalaman, tapi malah diajak main dan bahkan membuat aransemen musik untuk mereka.

Salah satu dokumentasi era itu adalah lagu “Semua Bisa Bilang”. Lagu pop yang diaransemen dan dimainkan band dibawah pimpinan Alm Jack Lesmana ini direkam tahun 1975 dibawah label Hidayat, Bandung. Versi asli lagu karya Charles Hutagalung dan dinyanyikan Margie Segers ini menampilkan permainan Alm Didi Tjia pada electric piano, Trisno (tenor sax), Oele Pattiselanno (gitar), Alm Perry Pattiselanno (bass gitar), dan drummer Ucup. “Pada saat itu yang main bass di lagu itu adalah adik Oele Pattiselanno yang meninggal di Jordania. Namanya Perry Pattiselanno. Jadi saya pikir kita patut salut untuk Perry Pattiselanno juga.” kenang Benny kepada salah satu sahabatnya selain juga menyampaikan belasungkawa meninggal dunianya tokoh penggerak Jakarta Jazz Society, Firman “Leles” Soebardjo. Malam itu Margie Segers kembali membawakan lagu itu dengan diiringi Benny Likumahuwa & Friends.

dsc_0467.jpg

Instrumen berikut yang dimainkan Benny Likumahuwa adalah flute. Dia menyebutkan beberapa tokoh jazz yang mempengaruhi permainan flutenya. Pertama adalah Rahsaan Roland Kirk, multi-instrumentalis tuna netra yang memainkan tenor saksofon, flute dan instrumen lain. “Dia salah satu yang memberikan inspirasi. Sehingga saya main flute. Padahal di kampung (saat itu) saya main suling bambu. Suling bambu itulah yang membawa saya menguasai interval atau jarak nada secara naluri.” kata Benny. Kemudian ia sebut nama Ian anderson yang lagu-lagunya dari album Jetro Tull banyak dimainkan Benny Likumahuwa semasa dengan The Rollies. Di fragmen ini Benny Likumahuwa melakukan demo permainan flute tanpa iringan apa-apa.

dsc_0496.jpg

Tiupan flute juga menjadi intro lagu “Kulama Menanti” yang dinyanyikan Rien Djamain. Lagu yang ditulis oleh Chandra Darusman ini diaransemen Benny Likumahuwa dan direkam bersama Abadi Soesman Band di studio Jackson Record. Di kaset produksi Atlantic Records yang berjudul “Jazz Masa Kini” itu selain memainkan flute, Benny juga membetot dawai bass elektrik. “Kulama Menanti” versi 2009 merupakan reuni Abadi Soesman band dengan porsi bass dimainkan oleh Barry Likumahuwa. Di Ujung fragmen ini, Rien Djamain didaulat oleh Farhan untuk sedikit menyanyikan lagu “Api Asmara”. Hits penyanyi itu yang direkam semasa dengan lagu “Semua Bisa Bilang” Margie Segers.

Fragmen berikut adalah partisipasi Benny Likumahuwa di kelompok Ireng Maulana All Stars.  Seperti komentar Ireng Maulana tentang personelnya yang join sejak 1981, “Benny Likumahuwa ini adalah rekan saya di Ireng Maulana All Stars. OKE!” Penampilan Ireng Maulana tentu tidak lengkap tanpa lantunan Ermy Kullit, seperti celetuk Ermy sebelum menyanyikan “For Once In My Life”, “Ermy Kullit-Ireng!” Lagu itu kemudian dimedley dengan lagu wajib Ermy Kullit, “Kasih”. Popularitas lagu itu dengan mudah merangsang penonton ikut bernyanyi, “…Kasih/Dengarlah/Hatiku berkata/aku cinta kepada dirimu sayang/kasih/percayalah/kepada diriku/hidup matiku hanya untukmu…”

Galactic band adalah salah satu grup panggung yang menjadi rumah musikalitas Benny Likumahuwa. Reuni grup yang tahun 1986-87an rutin manggung di Tavern, di basement Hyatt-Arya Duta Hotel ini masih menyisakan Benny (saksofon), keybordis Idang Rasjidi yang menjadi pimpinan band ini, Jeffrey Tahalele (bassis), Oele Pattiselanno (gitar) dan Karim Suweileh (drums). Selain itu ada Didiet Maruto dan dua personil lain, Maryono (tenor) dan Dullah Suweileh (perkusi) telah meninggal dunia. Penampilan Karim Suweileh, seperti komentar Syaharani kepada Farhan, “Pak Karim itu permainannya begitu enaknya, sampai kita yang orang awam mendengar lagu yang begitu susah berasa enak.”

Salah satu suprise konser ini adalah kolaborasi Benny dan Ria Likumahuwa. “Teman dekat saya,” panggil Benny Likumahuwa kepada istrinya untuk menyanyikan sebuah lagu yang dipopulerkan Astrud Gilberto. Meski tiba-tiba dipanggil untuk nyanyi tanpa persiapan, Ria Likumahuwa masih menunjukan penguasaan teknik vokal yang masih prima. Lagu ini semakin istimewa karena rhythmnya dijaga oleh pemain drum kawan Benny Likumahuwa yang sudah lama tidak beredar di panggung jazz. Pemain drum itu adalah Hasan. Suprise pangkat dua!

Penyanyi yang tampil di fragmen berikut adalah Syaharani. Dia menyanyikan dua buah lagu secara medley dari yang tempo pelan “Crazy” ke tempo cepat dengan irama swing. “Crazy” adalah lagu yang diangkat dari album “Wonderful World” produksi Sangaji Music yang direkam Benny Likumahuwa & Friends di Lion Studios Singapura tahun 1998. selain album itu, Benny Likumahuwa juga merekam dua album lainnya di label Sangaji Music. Salah satunya adalah album “Jazz master”, dimana Benny Likumahuwa bermain bersama Bubi Chen, Indra Lesmana, Oele Pattiselanno, Trisno, dan Cendi Luntungan mengolah lagu-lagu standard ke dalam versi mereka.

dsc_0830.jpg

Bertha adalah penyanyi yang tampil berikut. “Big Mama” dengan vokal khasnya melantunkan lagu “What Are You Doing The Rest of Your Live” dengan nuansa ballad. Benny Likumahuwa memainkan harmonika di lagu ini. Di lagu kedua, “A Lady Be Good To Me” tempo meningkat drastis dimana permainan drum Taufan Goenarso mendapat porsi lebih untuk berimproviasi dan berunison dengan scat Bertha serta kemudian padu bertiga dengan scat Benny.

Bertha

Fragmen berikutnya adalah nostalgia panggung Jamz Matra Jazz. Lima pendekar gitar berkolaborasi memainkan lagu “Four Brothers”. Benny Likumahuwa menggodok aransemen lagu itu meniru gaya bigband tapi dimainkan dalam gitar. Para penggitar yang main di atas panggung adalah Nikita Dompas, Ireng Maulana, Oele Pattiselanno, Donny Suhendra, Kiboud Maulana. “Disini ada Tiga senior yang mengapit dua junior. Cita-cita saya sih, supaya senior dan junior bisa bersatu. Tidak ada gap diantara mereka.” harap Benny Likumahuwa.

dsc_0191.jpg

Penghujung acara kembali diisi oleh BLP. Termin kedua BLP menghadirkan Benny Likumahuwa pada trombone dan Dewi Sandra yang menyanyikan lagu “When I Fall in Love”. Lagu terakhir BLP kembali diangkat dari album Barry Likumahuwa, “Mati Saja”. Tentang penampilan BLP, Benny Likumahuwa memberikan ekspektasi dan komentarnya, “Saya lihat mereka bekerja keras. Dan energik banget, saya senang main sama mereka karena apapun ide kita bisa diwujudkan.”

Namun entah kenapa di konser ini Benny Likumahuwa tidak memainkan lagu-lagu buah idenya sendiri. Padahal sudah cukup banyak lagu yang ia tulis, baik semasa The Rollies seperti “Sign of Love”, “Wish My Baby Really”, “Pagi yang Cerah”, atau yang dia nyanyikan sendiri “Jangan Salahkan Kami”. Di masa Benny Likumahuwa bergabung dengan Jack Lesmana Combo pun ia banyak menulis lagu. Karyanya antara lain kemudian direkam di beberapa album, seperti komposisi instrumental “Sahabatku” di kaset Rien Djamain serta “Gairah” di kaset Margie Segers. Runtutan dokumentasi itu bisa ditambah dengan sebuah lagu yang dinyanyikan Mira Soesman, “Dia” yang direkam Benny bersama Abadi Soesman Band. Ini bisa menjadi pekerjaan rumah Benny Likumahuwa di konser yang akan datang.

dsc_0344.jpg

Kolaborasi (hampir) seluruh pengisi acara adalah akhir konser ini. Mereka membawakan lagu “Dansa yok Dansa” beramai-ramai diiringi BLP dan diakhiri dengan satu-persatu pemain turun panggung meninggalkan Benny Likumahuwa bermain trombone sendiri. Applaus penonton bersahutan menenggarai akhir acara yang durasinya menjadi lebih panjang dari rencana semula, total jendral menghabiskan waktu lebih dari 3.5 jam. Ruang Nusa Indah Theater yang terlihat penuh itu sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh penonton dengan rasa puas. Terima kasih kepada seluruh pengisi dan penyelenggara acara, seperti kata Farhan di akhir konser, “Kita adalah penikmat buah hasil kerja keras para perintis seperti Benny Likumahuwa.”

dsc_0298.jpg

Syaharani – Tersiksa Lagi

Tags: , , , , ,


Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan Syaharani. Penyanyi cantik ini telah merilis sejumlah album jazz dibawah label Sangaji Music yang mengkhususkan diri pada jalur Jazz.

Salah satu albumnya adalah Tersiksa Lagi yang memuat 8 lagu. Diantaranya adalah lagu Tersiksa lagi yang di ciptakan Christ Kaihatu dan George Lewakabessy. Lagu yang pernah dipopulerkan oleh Utha Likumahuwa ini dibawakan Syaharani dengan teknik vocal yang lebih matang dari album sebelumnya. Disusul oleh nomor lawas Nat King Cole, Unforgettable. Lagu selanjutnya adalah New York – New York. Sebuah lagu berbahasa Indonesia ciptaan Yessi Robot bertajuk DIA menyusul.

Diside B, Love dan You’ve got a Friend hadir dengan nuansa vocal khas Syaharani. Lagu ini pernah di rekam pula pada album perdana Syaharani, WONDERFULL WORLD. Album ini diakhiri nomor For Once in My Life dan For Sentimental Reasons.

Di album ini, Syaharani didukung musisi Jeremy Monteiro (Piano), Brian Benson (Bass), Tama Goh (drums), Trisno (Saxophone) dan Oele Pattiselanno (guitar). Album yang direkam Di Lions Studio, Singapura ini, masteringnya di lakukan oleh Studio Sangaji di Jakarta.

Ketika ditanya siapa orang yang berjasa dan banyak mempengaruhi perkembangan musik Syaharani, “Om Benny Likumahua adalah salah satu orang yang banyak mempengaruhi musik saya”, ujarnya tatkala diwawancarai di sela-sela peresmian Jakarta Jazz Society beberapa waktu lalu.

Album ini merupakan penyegar ditengah sulitnya mencari album jazz karya musisi Indonesia. Selamat Syaharani, maju terus musik Jazz Indonesia.


Jazz is music made by and for people who have chosen to feel good in spite of conditions. — Johnny Griffin


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<